Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan terus berkembangnya Kota Jakarta, maka

harus

diimbangi pula dengan Sumber Daya Manusia dalam mengatasi bencana


kebakaran. Oleh sebab itu, Dinas Damkar PB Provinsi DKI Jakarta melalui
Bidang Pusat Pendidikan dan Latihan Pemadam Kebakaran perlu
memberikan pelatihan kepada seluruh jajaran di Dinas Damkar PB di
lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Dengan bertambahnya SDM di lingkungan Dinas Pemadam
Kebakaran PB Perlu fasilitas yang memadai dalam mencetak sumber
daya manusia yang handal yaitu dengan merevitalisasi Gedung Pudsiklat
yang ada saat ini, karena gedung pusdiklat yang ada saat ini sudah tidak
memadai / representative. seiring dengan berkembangnya pertumbuhan
Kota Jakarta serta Sumber Daya Manusia Dinas Pemadam Kebakaran
dan Penanggulangan Bencana Provinsi DKI Jakarta.

1.2 Data Proyek


Berikut adalah gambaran umum data pada proyek Pembangunan
Kantor Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan
Provinsi DKI Jakarta:
Owner

Dinas Pemadam Kebakaran dan


Penanggulangan Bencana Provinsi DKI
Jakarta

Jenis Proyek

Gedung Pelatihan

Lokasi Proyek

Jl. Ciracas Raya, Jakarta Timur

Luas Lahan Total

432 m2

Jumlah Lantai

8 Lantai

Konsultan Perencana

PT. Granitindo Cipta Sejati

Kontraktor

PT. Karya Bisa Jasa Utama, JO

Jenis Kontrak

Harga Satuan (Unit Price)

Jangka Waktu Pelaksanaan :

217hari kalender

Jangka Waktu Perawatan

180hari kalender

Cara Pembayaran

Termin

Gambar 1.1.Gambar Tampak Pembangunan Kantor Pusdiklatkar Dinas


Pemadam
Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta
1.3 Lokasi Proyek
Pembangunan Kantor Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran dan
Penyelamatan Provinsi DKI Jakartaberalamat di Jl. Ciracas Raya, Jakarta

Timuryang dapat dilihat pada Gambar 1.1.Bangunan ini diperuntukan

sebagai pusat pelatihan Pemadam Kebakaran.


Gambar 1.2.LokasiKantor Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran dan
Penyelamatan

Lokasi Pembangunan Kantor Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran


dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta: Jl. Ciracas Raya, Jakarta Timur
Batas lokasi proyek :
a. Sebelah Utara

: Jl Raya Ciracas

b. Sebelah Timur

: Jl. Kaja II B

c. Sebelah Selatan : Tanah Kosong


d. Sebelah Barat

: Bank CIMB Niaga cabang Mikro Laju

1.4 Pekerjaan yang diikuti


Pada pelaksanaan Kerja Praktek pada Proyek Pembangunan Kantor
Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI
Jakarta, kegiatan yang diikuti dan cermati hanya berfokus pada pekerjaan
struktur yang meliputi :
3

1. Pekerjaan Tower Crane


2. Pekerjaan Tanah
3. Pekerjaan Pondasi Rakit
4. Pekerjaan Shearwall
5. Pekerjaan Kolom
1.5 Sistematika Penulisan Laporan
Sub bab ini menjelaskan sistematika pembahasan yang menjadi
pedoman dalam penyusunan laporan kerjapraktek dalam proyek ini yang
terdiri dari :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisi penjelasan tentang uraian umum proyek.
BAB II : PERSIAPAN LELANG DAN KONTRAK
Bab ini menjelaskan tentang proses lelang sampai dengan proyek
dikerjakan oleh pelaksana.
BAB III : STRUKTUR ORGANISASI
Bab ini menjelaskan tentang alur tugas dan tanggung jawab staff proyek
sesuai dengan posisi dan jabatannya pada suatu proyek.
BAB IV : METODE PELAKSANAAN DI LAPANGAN
Bab ini menjelaskan tentang proses pelaksanaan itempengerjaan di
proyek dari pekerjaan pemancangan sampai pekerjaan penggalian tanah.
BAB V :PENGAWASAN PELAKSANAAN DI LAPANGAN
Bab ini menjelaskan tentang pengawasan pelaksanaan di lapangan dan
pengujian mutu pekerjaan.
BAB VI : PENUTUP DAN LAMPIRAN
Berisi kesimpulan yang telah didapat setelah melakukan kegiatan kerja
praktek .

BAB II
PERSIAPAN LELANG DAN KONTRAK
2.1. Sistem Pelelangan
Sebelum proses pembangunan suatu proyek, terlebih dahulu owner
akan mengadakan pelelangan, sehinggan melalui pelelangan ini, owner
mendapatkan beberapa calon kontraktor. Setelah melalui beberapa
proses pelelangan, maka owner akan menunjuk salah satu kontraktor
sebagai pemenang pelelangan.
Dalam

proses

pelelangan

terbaru

pemerintahan,

umumnya

menggunakan pelelangan berbasis elektronik atau SPSE (Sistem


Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik) dimana semua proses lelang
mulai dari pengumuman pelelangan, aanwijzing, pemasukan dokumen,
evaluasi dokumen serta pengumuman pemenang akan di sampaikan
secara elektronik.
2.1.1.

Jenis Pelelangan
Jenis pelelangan berdasarkan kepemilikan dapat dibedakan atas:
a. Pelelangan proyek pemerintah, adalah jenis pelelangan proyek
yang

mengikuti

Pedoman

Pelaksanaan.

Pengadaan

Barang/Jasa Pemerintah yang diatur dalam Keputusan Presiden


Nomor 80 tahun 2003. Keputusan Presiden tersebut selanjutnya
disertai dengan perubahan-perubahannya, yaitu:

Keputusan

Presiden

Nomor

61

tahun

2004

tentang

perubahan atas keputusan presiden nomor 80 tahun 2003.

Keputusan

Presiden

Nomor

32

tahun

2005

tentang

perubahan kedua atas keputusan presiden nomor 80 tahun


2003.

Keputusan

Presiden

Nomor

70

tahun

2005

tentang

perubahan ketiga atas keputusan presiden nomor 80 tahun


2003.

Keputusan

Presiden

Nomor

tahun

2006

tentang

perubahan keempat atas keputusan presiden nomor 80


tahun 2003.

Keputusan

Presiden

Nomor

79

tahun

2006

tentang

perubahan kelima atas keputusan presiden nomor 80 tahun


2003.

Keputusan

Presiden

Nomor

85

tahun

2006

tentang

perubahan keenam atas keputusan presiden nomor 80


tahun 2003
b. Pelelangan
barang/jasa

umum,
yang

adalah

metode

dilakukan

secara

pemilihan

penyedia

terbuka

dengan

pengumuman secara luas melalui media massa dan papan


pengumuman resmi sehingga masyarakat luas dan dunia usaha
dapat mengikutinya.
c. Pelelangan

terbatas,adalah

metode

pemilihan

penyedia

barang/jasa dimana jumlah penyedia barang/jasa diyakini


terbatas yaitu untuk pekerjaan yang kompleks.
d. Pemilihan langsung,adalah pemilihan penyedia barang/jasa
yang dilakukan dengan membandingkan sebanyak-banyaknya
penawaran, dan sekurang-kurangnya 3 (tiga) penawaran.
e. Penunjukan langsung,adalah pemilihan penyedia barang/jasa
dengan cara penunjukkan langsung terhadap 1 (satu) penyedia
barang/jasa dengan cara melakukan negosiasi baik teknis
maupun

biaya

dengan

harga

yang

wajar

dan

dapat

dipertanggungjawabkan secara teknis.

Ditinjau dari sumber pendanaanya, tender dapat dilaksanakan


melalui:

a. International Competitive Bidding (ICB), pelelangan yang


melibatkan kontraktor internasional, biasanya untuk proyek yang
didanai pinjaman luar negeri (loan).
b. Local Competitive Bidding (LCB), pelelangan proyek-proyek
yang didanai loan luar negeri tetapi hanya melibatkan kontraktor
local.
c. Pelelangan untuk proyek-proyek yang dibiayai dana APBN,
APBD, maupun instansi-instansi BUMN.
2.1.2.

Pelelangan proyekproyek swasta


Ketentuan tender proyek swasta biasanya diatur sendiri oleh
masing-masing pemilik dengan tetap mengacu pada standar kontrak
tertentu seperti standar internasional.
2.2. Proses Pelelangan
Prosedur dan kegiatan dalam pelelangan Pembangunan Kantor

Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI


Jakarta adalah sebagai berikut :
2.2.1. Pendaftaran melalui LPSE
LPSE adalah Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Secara
Elektronik. Untuk dapan Log in pada LPSE, Penyedia Barang/Jasa
harus mempunyai user id dan password terlebih dahulu, setelah itu
PT. Jasa Utama Prima mendaftar pada paket pekerjaan yang
sedang di umumkan pada LPSE. PT. Jasa Utama Prima mendaftar
pada paket Pembangunan Kantor Pusdiklatkar Dinas Pemadam
Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta.
2.2.2. Dokumen tender
Setelah mendaftar, kita dapat mendownload dokumen
pengadaan pada link yang telah di sediakan. Dalam dokumen
tender terdapat persyaratan-persyaratan bagi penyedia barang/jasa
agar dapat mempelajari dan mengikuti proses pelelangan ini.
7

2.2.3. Aanwijzing
Kegiatan aanwijzing dalam sistem LPSE adalah tanya jawab
antara Panitia Pengadaan Barang/Jasa dengan semua Penyedia
Barang/Jasa yang telah mendaftar pada paket ini. Setelah
mempelajari dokumen pengadaan, Penyedia Barang/Jasa dapat
melakukan

sesi

tanya

jawab

dengan

Pantia

Pengadaan

Barang/Jasa sesuai dengan jadwal yang telah di tetapkan.


2.2.4. Pemasukan Dokumen Penawaran (Upload Dokumen)
Dalam Sistem LPSE tertera jadwal untuk setiap paket
pekerjaan. Termasuk jadwal pemasukan dokumen penawaran.
Penyedia

Barang/Jasa

setelah

melengkapi

persyaratan

Administrasi, Teknis dan Harga, wajib menyiapkan data dalam


bentuk softcopy untuk kemudian di upload dalam system LPSE.
2.2.5. Pembukaan Dokumen Penawaran
Dalam proses ini, yang dapat mengetahui jumlah Penyedia
yang

memasukkan

dokumen

penawaran

hanyalah

Pantia

Pengadaan Barang/Jasa.
2.2.6. Evaluasi Dokumen Penawaran
Panitia melakukan evaluasi tertutup tentang kelengkapan
dokumen

dari

Penyedia

Barang/Jasa

yang

memasukkan

penawaran. Melakukan koreksi aritmatik, evaluasi administrasi,


teknis dan harga. Panitia akan mengumumkan urutan harga dari
para Penyedia Barang/Jasa setelah dilakukan koreksi aritmatik.

2.2.7. Pembuktian Kualifikasi


Setelah mendapatkan calon pemenang yang lolos pada tahap
evaluasi, Panitia Barang/Jasa mengundang calon pemenang untuk
melakukan pembuktian kualifikasi sesuai dengan tempat dan waktu
yang telah di tetapkan oleh Panitia Pengadaan Barang/Jasa. Dalam
8

hal ini, calon pemenang harus dapat membuktikan kelengkapan


dan keaslian dokumen administrasi, teknis serta harga yang telah di
upload.
2.2.8. Pengumuman Pemenang
Setelah

rapat

dan

menetapkan

pemenang,

Panitia

Pengadaan Barang/Jasa akan mengumumkan pemenang paket


pekerjaan pada sistem LPSE. Di lampiri dengan Berita Acara Hasil
Pelelangan.
2.2.9 Masa Sanggah Hasil Lelang
Setelah pemenang diumumkan, maka para Penyedia
Barang/Jasa di berikan jeda 5 hari sebagai masa sanggah hasil
lelang. Apabila terdapat kerancuan dalam penunjukkan pemenang,
Penyedia Barang/Jasa dapat menyampaikan alasannya melalui
sistem LPSE.
2.2.10 SPPBJ (Surat Penunjukkan Penyedia Barang dan Jasa)
Setelah masa sanggah selesai, maka Panitia akan mengupload
dalam sistem LPSE atau mengirimkan via email kepada pemenang
berupa

SPPBJ

agar

Penyedia

Barang/Jasa

dapat

segera

menerbitkan Jaminan Pelaksanaan Pekerjaan.


2.3. Kontrak
Kontrak adalah pernyataan tertulis kedua belah pihak untuk saling
mengikat mengerjakan suatu hal dengan aturan-aturan yang disepakati
bersama. Secara umum dikenal beberapa tipe kontrak antara lain :

2.3.1. Jenis-jenis Kontrak


a. Berdasarkan bentuk imbalan :
1) Kontrak lumpsum, adalah kontrak pengadaan barang/jasa
untuk penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu
tertentu, dengan jumlah harga kontrak yang pasti dan tetap,
serta semua resiko yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan
pekerjaan

sepenuhnya

ditanggung

oleh

penyedia

barang/jasa atau kontraktor pelaksana.

2) Kontrak

unit

pengadaan

price

(Harga

barang/jasa

Satuan),

atas

adalah

penyelesaian

kontrak
seluruh

pekerjaan dalam batas waktu tertentu berdasarkan harga


satuan yang pasti dan tetap untuk setiap satuan pekerjaan
dengan

spesifikasi

pekerjaannya

masih

teknis

tertentu,

bersifat

yang

perkiraan

volume

sementara.

Pembayaran kepada penyedia jasa/kontraktor pelaksanaan


berdasarkan hasil pengukuran bersama terhadap volume
pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan.
3) Kontrak

cost

and

fee,

adalah

kontrak

pelaksanaan

pengadaan barang/jasa pemborongan dimana kontraktor


yang bersangkutan menerima imbalan jasa yang nilainya
tetap disepakati oleh kedua belah pihak.
4) Kontrak design and built, adalah kontrak pelaksanaan jasa
pemborongan mulai dari proses perencanaan sampai
dengan pelaksanaan konstruksi fisik yang dilaksanakan oleh
penyedia jasa satu kontrak yang sama.
b. Berdasarkan jumlah pengguna barang/jasa :
1) Kontrak pengadaan tunggal, adalah kontrak antara satu unit
kerja atau satu proyek dengan penyedia barang/jasa tertentu
untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dalam waktu
tertentu.
2) Kontrak

pengadaan

bersama,

adalah

kontrak

antara

beberapa unit kerja atau beberapa proyek dengan penyedia


barang/jasa tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu
dalam waktu tertentu sesuai dengan kegiatan bersama yang
jelas dari masing-masing unit kerja dan pendanaan bersama
yang dituangkan dalam kesepakatan bersama.
2.3.2. Ketentuan Umum Kontrak

10

Ketentuan umum kontrak adalah pasal-pasal yang berisi


tentang definisi-definisi dan penjelasan-penjelasan umum yang
akan diikat dalam kontrak setelah diterbitkannya SPMK (Surat
Perintah Mulai kerja) yang antara lain menjelaskan :
1. Definisi dan Penafsiran;
2. Lingkup Tugas dan Lingkup Pekerjaan;
3. Nilai Kontrak;
4. Jangka Waktu Pelaksanaan Pekerjaan;
5. Perpajakan;
6. Peristiwa Kompensasi;
7. Jaminan-jaminan;
8. Uang Muka dan Cara Pembayaran;
9. Asuransi;
10. Program Mutu;
11. Mobilisasi;
12. Pemeriksaan Bersama;
13. Subkontrak;
14. Asal Material/bahan;
15. Keadaan Memaksa (Force Majeure);
16. Hak dan Kewajiban Para Pihak;
17. Kegagalan Bangunan;
18. Perubahan Kontrak;
19. Perubahan Lingkup Pekerjaan;
20. Perubahan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan;
21. Penanggungan dan Resiko;
22. Penyelesaian Perselisihan;
23. Itikad Baik;
24. Penghentian dan Pemutusan Kontrak;
25. Pengawasan Pelaksanaan Pekerjaan;
26. Cacat Mutu;
27. Pengujian;
28. Perbaikan Cacat Mutu;
29. Personil Inti dan Peralatan;
30. Perlindungan Tenaga Kerja;
31. Pemeliharaan Lingkungan;
32. Laporan Hasil Pekerjaan;
33. Penutup.
2.3.3. Sistem Kontrak yang Digunakan
Pada Pembangunan Kantor Pusdiklatkar Dinas Pemadam
Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta, sistem kontrak
yang digunakan adalah Unit Price (harga satuan), dimana jenis

11

pekerjaan borongan dan perhitungan volume berdasarkan hasil


perhitungan bersama untuk masing-masing unsur/jenis item
pekerjaan sudah diketahui dengan pasti berdasarkan gambar
rencana & speksifikasi teknisnya.
Pekerjaan tambah/kurang terhadap nilai kontrak yang ada
hanya boleh dilakukan apabila :
a. Permintaan dari owner

untuk

menambah/mengurangi

pekerjaan yang instruksinya dilakukan secara tertulis.


b. Adanya perubahan gambar/spesifikasi teknis dari Perencana
yang sudah disetujui oleh owner.
c. Adanya instruksi tertulis dari owner untuk menyempurnakan
suatu jenis pekerjaan tertentu dimana hal tersebut sebelumnya
belum dinyatakan dalam spesifikasi teknik.

12

BAB III
STRUKTUR ORGANISASI
3.1.

Manajemen Proyek

3.1.1.

Struktur Organisasi Proyek (Organization Chart)


Struktur

organisasi

pekerjaan

yang

sesuai

dengan

perencanaan pada setiap pekerjaan suatu proyek perlu dibentuk


suatu susunan organisasi yang berfungsi mengatur management
kerja, sehingga setiap bagian pekerjaan dapat terkoordinir dengan
baik. Dengan demikian unsur-unsur yang terlibat dalam organisasi
tersebut akan memiliki rasa tanggung jawab.
Hubungan antara satu unsur dengan unsur-unsur yang
lainnya harus selalu baik dan tidak melampaui batas wewenang dan
kedudukannya sehingga semua pekerjaan dapat selesai tepat pada
waktu yang telah direncanakan, pengelolaan manjemen yang baik
juga sangat berpengaruh terhadap kelangsungan proyek yang
sedang dilaksanakan.
Untuk memperlancar pengawasan terhadap pekerjaan proyek
pembangunan proyek ini diperlukan suatu susunan organisasi yang
teratur dan jelas. Dalam struktur organisasi tersebut ada empat pihak
yang saling terlibat dan memegang peranan penting dalam

13

menangani pelaksanaan pekerjaan di lapangan, sehingga pekerjaan


di lapangan dapat terlaksana dengan lancar.
Secara hukum dan fungsional bagian organisasi ini terkait dan
bekerja sama sesuai dengan fungsinya baik secara administrasi
maupun dalam pelaksanaan di lapangan.
Pihak yang terlibat dalam Pembangunan Kantor Pusdiklatkar
Dinas Pemadam kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta,
dimulai dari hirarki yang paling atas yaitu owner dengan semua pihak
pembantu owner untuk kesuksesan suatu proyek yang direncanakan
sampai pelaksana lapangan yang disebut dengan kontraktor atau
pemborong. Di bawah ini diterangkan secara singkat pihak-pihak
yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam
penanganan suatu proyek .
3.1.2.

Pemilik Proyek (Owner)


Owner adalah seseorang atau instansi atau badan hukum

yang memiliki proyek atau pekerjaan serta mendanai seluruh


kegiatan yang berjalan dalam suatu proyek. Memberikannya kepada
pihak lain yang mampu melaksanakanya sesuai dengan perjanjian
kontrak kerja untuk merealisasikan proyek.
Tugas dan wewenang ownerpada proyek ini antara lain :
a. Menyediakan biaya perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan
proyek.
b. Mengadakan kegiatan administrasi.
c. Memberikan tugas kepada kontraktor untuk melaksanakan
pekerjaan proyek.
d. Menerima proyek yang sudah selesai dikerjakan oleh kontraktor.
e. Mengeluarkan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) kepada
kontraktor.
f. Mendanai seluruh kegiatan proyek.

14

g. Memerintahkan pekerjaan tambah/kurang (additional/deductional


works).
h. Mengevaluasi hasil pekerjaan dari kontraktor
i. Memutus kontrak kerja atau hubungan kerja dengan kontraktor
atas dasar pertimbangan dari berbagai pihak apabila kontaktor
ditenggarai melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan dalam
kontrak atau melanggar kesepakatan dalam kontrak kerja atau
tindakan perbuatan melawan hukum sesuai dengan rekomendasi
dari pemerintah dan pihak pengadilan.
Pada proyek yang ini pihak yang bertindak sebagai owner
adalah Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Provinsi
DKI Jakarta di Jl. Taman Jatibaru No. 1, Jakarta.
3.1.3.

KonsultanPerencana
Konsultan perencana mempunyai tugas merencanakan dan

menganalisa Pembangunan Kantor Pusdiklatkar Dinas Pemadam


Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta. Tugasnya
mencakup semua tipe perencanaan, dimulai dari perencanaan
struktur bangunan, arsitektur dan mekanikal elektrikal dan semua hal
yang menyangkut hal perencanaan termasuk landscaping.
Perencanaan dari konsultan perencana ini harus mengacu
kepada kaidah teknis dari berbagai disiplin ilmu dan harus sesuai
dengan

peraturan

yang

berlaku

di

tempat

dimana

hasil

perencanaannya akan dibangun.


Semua hasil perencanaan harus dapat dipertanggungjawabkan secara teknis atau peraturan yang berlaku di tempat atau
negara dimana proyek tersebut akan dibangun dan juga dari sisi
estetika dan budaya setempat.
Konsultan

perencana

akan

menyarankan

semua

hasil

perencanaannya kepada owner sebagai kepanjangan tangan dari


owner. Konsultan perencana

pada proyek ini meliputi perencana

15

arsitektur, struktur, mekanikal elektrikal, manajemen konstruksi, dan


quantity surveyor yang memiliki tugas dan wewenang antara lain :
a. Konsultan Arsitektur
Konsultan Arsitektur mempunyai tugas untuk merencanakan
struktur bangunan yang diinginkan oleh owner dalam bentuk
gambar berdasarkan pertimbangan arsitektur dan unsur-unsur
estetika baik interior maupun eksterior bangunan tersebut yang
tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku dan budaya
setempat pada lokasi proyek yang akan dibangun.
b. Konsultan Struktur
Konsultan Struktur mempunyai tugas untuk merencanakan
struktur suatu bangunan sesuai spesifikasi yang diinginkan oleh
owner dalam bentuk gambar, kemudian menganalisa bangunan
tersebut sesuai peraturan-peraturan yang berlaku, meninjau
lapangan secara berkala untuk melakukan pengawasan terhadap
kualitas

pelaksanaan

pekerjaan

yang

dilaksanakan

oleh

kontraktor, dan memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada


owner mengenai struktur dari bangunan tersebut.
c. Konsultan M/E (Mekanikal/Elektrikal)
Konsultan ME mempunyai tugas untuk merencanakan mekanikal
dan elektrikal pada konstruksi bangunan tersebut sesuai
spesifikasi yang diinginkan oleh pihak owner dan spesifikasi
standar dari aturan yang berlaku secara berkala ikut mengawasi
proses pelaksanaan mekanikal dan elektrikal yang dikerjakan
oleh kontraktor, ikut memberikan pertimbangan kepada owner
mengenai pekerjaan mekanikal dan elektrikal yang perlu
ditambah atau dikurangi.
d. Konsultan MK (Manajemen Konstruksi)
Konsultan MK adalah pihak yang ditunjuk langsung oleh
owneruntuk mengawasi dan membuat laporan kepada owner

16

selama proyek berjalan. Konsultan MK mempunyai tugas, hak,


kewajiban dan wewenang antara lain :

Bekerja sama dengan owner untuk melakukan perencanaan

mulai dari pra perencanaan proyek hingga final.


Pada tahap desain, Manajemen Konstruksi (MK) membuat
rekomendasi untuk perbaikan desain, teknologi konstruksi yang
terbaik dan bagaimana cara membuat konstruksi yang efisien
dan efektif. Hal ini tercantum dalam RKS yang telah dibuat.
Melakukan proses pengawasan produktivitas terhadap aspek
waktu

dan

biaya

proyek,

termasuk

juga

dampak

yang

ditumbulkan.
Memberikan peringatan dan pengarahan kepada kontraktor
apabila terdapat penyimpangan dari rencana kerja dan syarat-

syarat (RKS).
Memberikan penilaian dan menyetujui surat berita acara
perkembangan pelaksanaan dan kemajuan pekerjaan dalam
setiap pelaporan hasil pekerjaan.

e. Konsultan QS (Quantity Surveyor)


Konsultan QS mempunyai tugas untuk memberikan gambaran
nilai proyek yang mendekati dengan implementasinya. Antara lain
penyusunan bill of quantity yang distandarkan akan memudahkan
kontraktor peserta tender memiliki kepastian dalam memberikan
biaya penawaran proyek sehingga memiliki daya saing tinggi dan
menguntungkan owner dalam menetapkan pemenang. Selain itu
dalam tahap implementasi, Konsultan QS mempunyai tugas
untuk

mengimplementasikan

progress

pekerjaan

kontraktor

menjadi final payment yang harus dibayarkan owner, Konsultan


QS juga memberikan masukan mengenai Cost Management dan
Value Management.
3.1.4.

Kontraktor

17

Kontraktor adalah suatu badan hukum atau perusahaan atau


pihak yang diserahi tugas untuk melaksanakan pembangunan
proyek oleh owner melalui prosedur pelelangan. Pekerjaan yang
dilaksanakan harus sesuai dengan kontrak (Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat serta Gambar-Gambar Kerja) dengan biaya yang telah
disepakati.
Kontraktor mempunyai tugas, hak, kewajiban dan wewenang
antara lain :
a. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan peraturan dan syaratsyarat yang telah ditetapkan dalam dokumen kontrak.
b. Membuat gambar kerja (shop drawing) sebelum memulai
pelaksanaan pekerjaan.
c. Membuat dokumen tentang pekerjaan yang telah dilaksanakan
dan diserahkan kepada owner
d. Membuat hasil pekerjaan berupa laporan kemajuan proyek.
e. Mengasuransi pekerjaan dan kecelakaan kerja bagi tenaga kerja.
f. Melakukan perbaikan atas kerusakan atau kekurangan pekerjaan
akibat kelalaian selama pelaksanaan dengan menanggung
seluruh biayanya.
g. Menyerahkan hasil pekerjaan setelah pekerjaan proyek selesai.
h. Menerima upah pembayaran secara bekala atau seluruhnya
sesuai dengan cara pembayaran telah disepakati dalam kontrak.
i. Memberikan garansi terhadap gedung yang dibangun selama
waktu yang telah di tentukan di dalam kontrak kesepakatan kerja
(218 hari kalender) dan kemudian menyerahkan semua hasil
pekerjaan sesuai dengan kontrak dan bangunan dapat digunakan
sesuai dengan fungsinya.
3.2 Hubungan Kerja Antara Unsur-Unsur Pelaksana
Untuk memperoleh hasil pekerjaan yang sesuai dengan ketentuanketentuan yang teleh ditetapkan. Maka perlu adanya hubungan kerja yang

18

cukup baik antara keempat unsur organisasi yang berperan dalam


pekerjaan tersebut.
Hubungan antara unsur-unsur pelaksana ini diperlihatkan atas kedua
kedudukan antara lain :
1.Kedudukan masing-masing pihak secara teknis.
2.Kedudukan masing-masing pihak secara hukum.

3.3.

Struktur Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan


Untuk

menunjang

keberhasilan

pada

Pembangunan

Kantor

Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI


Jakarta,di perlukanmenyusun struktur organisasi (organization chart)
sesuai dengan persyaratan Dokumen Pengadaan.
Dalam struktur organisasi ini diatur jabatan apa saja yang
diperlukan dalam pelaksanaan proyek dan juga orang yang pantas
memegang jabatan tersebut sesuai dengan kemampuannya seperti pada
Gambar 3.1 di bawah ini.
PROJECT MANAGER

SITE MANAGER

QUANTITY SURVEYOR

AHLI M/E

AHLI K3 KONSTRUKSI

AHLI STRUKTUR

AHLI ARSITEKTUR

PELAKSANA M/E

PELAKSANA STRUKTUR

PELAKSANA ARSITEKTUR

PELAKSANA M/E

PELAKSANA BANGUNAN

DRAFTER

TUKANG

19

Gambar 3.1.Stuktur Organisasi Pelaksanaan


Dengan struktur organisasi masing-masing tingkatan penanggung
jawab pekerjaan mengetahui alur tugas yang harus dikerjakan serta
berkonsultasi atau bertanggung jawab kepada siapa, sehingga proses
kerja sama menuju pencapaian tujuan akhir proyek dapat terwujud sesuai
dengan perencanaan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Kejelasan

gambaran

struktur

organisasi

akan

memberikan

kemudahan bagi pimpinan untuk mendistribusikan jabatan kepada


seseorang yang tepat, sehingga daya guna dan hasil guna dapat
terwujud.
3.3.1. Project Manager
Project Managerdalampelaksanaan Pembangunan Kantor
Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan
Provinsi

DKI

Jakarta,

dipegang

oleh

Sisriyadi,

ST.

Tim

leaderbertanggung jawab langsung kepada Site Manager, Tenaga


Ahli, Pelaksana, Drafter dan Tukang. Project Manager bertanggung
jawab atas pengorganisasian dan pengawasan suatu proyek
dilapangan agar sesuai dengan mutu,waktu dan biaya yang telah
ditetapkan untukdipertanggungjawabkan kepada direksi. Pekerjaan
ini atas nama pemilik guna tercapainya pelaksanaan suatu proyek
sehingga memuaskan bagi owner, pemakai, maupun lingkungan,
dalam arti tepat dalam hal desain, waktu pelaksanaan, jumlah
pembiayaan maupun tepat dalam segi penanaman modal dan cara
pemeliharaan di kemudian hari. Seorang Project Manager dituntut
untuk mengkoordinasikan seluruh bagian pembangunan dan
memberikan

informasi

lengkap

yang

berhubungan

dengan

kemajuan proyek.
Tugas dan tanggung jawab Project Managerantara lain:

Memimpin dan bertanggung jawab sepenuhnya atas jalannya


proyek dengan cara mengatur semua aspek yang mendukung
20

jalannya proyek seperti sumber daya manusia, alat, material /


bahan, hubungan lingkungan serta hal-hal lain yang berkaitan
dengan kegiatan proyek sehingga bisa didapatkan kualitas hasil
pekerjaan yang baik serta dalam waktu secepat mungkin.

Berkoordinasi dengan Site Managermengenai perkembangan


administrasi yang terjadi di proyek.

Berkoordinasi dengan tenaga ahlimengenai hal teknis yang


perlu untuk diklarifikasi dan ditindak lanjuti.

Melaksanakan dan mengontrol operasional proyek sehingga


operasi proyek dapat berjalan sesuai rencana (on track).

Mengidentifikasi dan menyelesaikan potensi masalah yang akan


timbul agar dapat diantisipasi secara dini.

3.3.2. Site Manager


Site manager bertanggung jawab langsung kepada Project
Manager. Site Manager merupakan wakil dari Project Manager
yang dituntut untuk bisa memahami dan menguasai rencana kerja
proyek secara keseluruhan dan mendetail. Selain itu Site Manager
juga dituntut memiliki keterampilan manajemen serta mampu
menguasai seluruh sumber daya manusia yang dibebankan
kepadanya secara efisien dan produktif.
Site Manager dalam Pelaksanaan Pembangunan Kantor
Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan
Provinsi DKI Jakarta dipegang oleh Ir. Nova Fitriana.
Tugas dan tanggung jawab Site Manager antara lain :

Menerima tugas dari Project Manager untuk mengatur

jalannya proyek dari awal hingga selesai.


Melakukan koordinasi dengan Ahli

Sipil,

Arsitek,

Mekanikal/Elektrikal dalam pembuatan shop drawing dan

mengecek hasilnya.
Melakukan kontrol dan pengecekan pekerjaan agar sesuai
dengan shop drawing.

21

Melaporkan setiap pekerjaan dan kejadian kepada Project


Manager.

3.3.3. Tenaga Ahli (Struktur,Arsitektur, M/E dan K3 Konstruksi)


Tenaga ahli (arsitektur, struktur,M/E dan K3 Konstruksi)
bertanggung jawab langsung kepada tim leader. Tenaga Ahli
(arsitektur, struktur, M/E dan K3 Konstruksi) adalah pembantu tim
leader dalam memeriksa secara detailpekerjan engineering dalam
perencanaan maupunpelaksanaan di lapangan.
Tenaga

Ahlidalam

Pekerjaan

Pembangunan

Kantor

Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan


Provinsi DKI Jakartadipegang oleh 4 (empat) orang yaitu :
Tenaga

Ahli

Manurung,Tenaga

Struktur
Ahli

di

Arsitektur

pegang
dipegang

oleh
oleh

Ir.

Budiman

Ir. Lintong

Simanjuntak, Tenaga Ahli Mekanikal/Elektrikal dipegang oleh Ir.


Posmin Napitupulu, dan Tenaga Ahli K3 Konstruksi dipegang oleh
Ir. Muhammad Ridwan Bya.
Tugas dan tanggung jawab tenaga ahli antara lain :

Membuat kerangka umum/konsep rencana pekerjaan, dan


pengembangan desainnya.

Melakukan analisa yang berkenaan dengan perencanaan


teknis (DED) gedung / bangunan.

Melakukan koordinasi dengan tenaga ahli yang lain dan


tenaga pendukung yang ada.

Melakukan tahapan konsultasi dengan owner dan atau


instansi terkait dengan proyek.

Bertanggung

jawab

atas

perencanaan

teknis

dan

pengendalian operasionalnya,

Pengembangan rancangan dan gambar kerja

Mengkoordinir dengan pengawas mengenai hal teknis yang


ada di lapangan untuk diklarifikasi dan ditindak lanjuti.

22

3.3.4. Pengawas
Pengawasdalam

Pekerjaan

Pembangunan

Kantor

Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan


Provinsi DKI Jakarta bertanggung jawab langsung kepada tenaga
Ahli.Pengawasadalah pembantu tenaga ahli dalam memeriksa
secara detail pekerjan pelaksaan yang ada di lapangan.
Tugas dan tanggung jawab pengawas antara lain :

Memimpin

dan

mengendalikan

pelaksanaan

pekerjaan

dilapangan sesuai dengan persyaratan waktu, mutu dan

biaya yang telah ditetapkan.


Membuat program kerja mingguan

pengarahan kegiatan harian kepada pelaksana pekerjaan.


Menerapkan program keselamatan kerja dan kebersihan di

lapangan.
Mengadakan

pelaksanaan pekerjaan dilapangan.


Membuat program penyesuaian dan tindakan turun tangan,

evaluasi

dan

dan

membuat

mengadakan

laporan

hasil

apabila terjadi keterlambatan dan penyimpangan pekerjaan

di lapangan.
Melakukan pemeriksaan dan memproses berita acara

kemajuan pekerjaan dilapangan.


Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan program kerja

mingguan, metode kerja, gambar kerja dan spesifikasi teknik.


Membuat laporan harian tentang pelaksanaan dan

pengukuran hasil pekerjaan dilapangan.


Mengadakan pemeriksaan dan pengukuran hasil pekerjaan

dilapangan.
Membuat laporan harian tentang pelaksanaan pekerjaan,
agar selalu sesuai dengan metode konstruksi dan instruksi
kerja yang telah ditetapkan.

3.4.

Sistem Koordinasi dan Laporan Pekerjaan

23

Untuk mengetahui kemajuan suatu proyek perlu diadakan rapat


koordinasi dan prestasi pekerjaan (reporting).
3.4.1. Rapat Koordinasi
Rapat koordinasi membahas permasalahan yang ada yaitu
permasalahan

yang

dapat

menghambat

berlangsungnya

pelaksanaan pekerjaan proyek. Rapat koordinasi yang dilakukan


bersifat insidentil, yaitu rapat diadakan jika timbul masalah dalam
pelaksanaan proyek dan harus segera dipecahkan.
3.4.2.
3.4.3. Reporting
Laporan prestasi kerja (reporting) yang dilakukan dalam
proyek ini adalah laporan harian, laporan mingguan dan laporan
bulanan.
a. Laporan harian merupakan segala kegiatan pekerjaan yang
dilakukan pada hari tersebut.
b. Laporan mingguan berisi kegiatan harian selama satu minggu
dan masalah-masalah atau hambatan yang terjadi.
c. Laporan

bulanan

merupakan

rekapitulasi

dari

Laporan

mingguan yang disertai laporan visual yang berupa foto-foto


proyek
Dari laporan tersebut bisa didapatkan data lapangan
mengenai penyimpangan yang terjadi seperti kemajuan pekerjaan
atau kemunduran pekerjaan.
Kemajuan pekerjaan terjadi bila pelaksanaan pekerjaan bisa
sesuai atau bahkan lebih cepat dari jadwal yang direncanakan.
Kemunduran pekerjaan terjadi bila pelaksanaan pekerjaan lebih
lambat dari jadwal yang direncanakan.

24

Gambar 3.2. Waktu Pelaksanaan Kerja Praktek

25

BAB IV
METODE PELAKSANAAN DILAPANGAN
4.1

Bahan dan peralatan kerja


26

Bahan bangunan merupakan salah satu bagian terpenting yang


harus mendapatkan perhatian khusus.
Bahan bangunan yang dipergunakan harus dipilih dengan benar
dan teliti, yaitu bahan yang mempunyai kualitas yang baik, bermutu, dan
memenuhi pedoman serta peraturan-peraturan standar yang berlaku.
Standarisasi bahan bangunan tersebut mengikuti yang telah
disebutkan dan diuraikan dalam dokumen rencana kerja dan dokumen
data teknis/umum. Semua bahan bangunan yang dipergunakan dalam
pekerjaan pelaksanaan proyek pambangunan ini harus mendapatkan izin
terlebih dahulu dari pihak owner.
4.1.1. Bahan Bangunan yang Digunakan
Bahan

bangunan

yang

gunakan

dalam

pekerjaan

pelaksanaan Proyek Pembangunan Kantor Pusdiklatkar Dinas


Pemadam Kebakaran Dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta,
yaitu dijabarkan sebagai berikut :
a. Beton (concrete), mutu beton K-350dengan fc = 29,05 MPa.
b. Besi

tulangan, mutu tulangan fy=400 MPa (BJTD-40) untuk

>D10, dan mutu tulangan fy= 240 MPa (BJTD-24) untuk >8.
c. Kayu, digunakan untuk berbagai macam keperluan,seperti
konstruksi bangunan sementara dan pembuatan bekisting.
d. Bahan lain-lain seperti mortar, bata merah, keramik, sanitary,
gypsum, cat interior&exterior.

27

4.1.2. Air Kerja yang Digunakan


Air adalah salah satu bahan bangunan yang sangat penting
dalam pekerjaan suatu proyek bangunan. Selain sebagai bahan
campuran untuk membuat beton dan plesteran, air dipakai untuk
mencuci bahan bangunan seperti pasir dan kerikil dan juga untuk
perawatan beton setelah pengecoran.
Air kerja yang digunakan untuk campuran adukan beton

Sekarang
menggunak
an SNI, cek
SNI beton

maupun campuran bahan lainnya harus sesuai dengan syaratsyarat yang telah ditetapkan dalam PBI 1971 antara lain, air yang
tidak mengandung unsur minyak, asam alkali, garam-garaman,
bahan-bahan organis, atau bahan-bahan lain yang dapat merusak
atau menurunkan mutu pekerjaan.
4.1.3. Peralatan kerja
Peralatan kerja merupakan salah satu faktor penentu
kecepatan penyelesaian pekerjaan dan juga merupakan sarana
terpenting yang mutlak keberadaannya.
Dalam

sebuah

proyek

bangunan

gedung

bertingkat

kebutuhan, alat kerja sangat menunjang sekali. Pekerjaan proyek


gedung bertingkat memiliki banyak resiko dan kendala yang
kompleks dibanding dengan proyek rumah tinggal.
Penggunaan peralatan kerja ini dipilih agar hasil pekerjaan di
lapangandapat terlaksana dengan baik dan memenuhi persyaratan
serta aman bagi yang mengoperasikannya.
Penggunaan, pemeliharaan dan jenis serta jumlahnya
disesuaikan dengan :

Keadaan lokasi

Volume pekerjaan

Jenis pekerjaan

Tinggi rendahnya bangunan yang akan dikerjakan

28

Peralatan yang digunakan dalam Proyek Pembangunan


Kantor Pusdiklat Dinas Pemadam Kebakaran Dan Penanggulangan
Bencana Provinsi DKI Jakarta ini dibagi dalam dua kriteria yaitu
peralatan berat dan peralatan ringan, antara lain:
a. Peralatan ringan

Waterpass, digunakan untuk menentukan elevasi/peil lantai,


balok, dan lain-lain yang membutuhkan elevasi berdasarkan
ketinggian titik yang diketahui. Alat ini digunakan untuk
mengecek ketinggian penulangan agar tidak melebihi tinggi
rencana dan mengecek ketebalan lantai saat pengecoran,
sehingga lantai yang dihasilkan dapat datar. Selain itu juga
dapat digunakan untuk pembuatan tanda/marking pada
kolom/dinding sebagai acuan pekerjaan lain, seperti acuan
untuk

pekerjaan

dinding

panel

precast,

serta

dapat

digunakan dalam pengecekan settlement bangunan.

Theodolite, alat ini biasa digunakan untuk menentukan titik


as

bangunan,

ketegaklurusan

bangunan,

menentukan

elevasi bangunan, dan membuat sudut-sudut bangunan.

Air compressor, digunakan untuk membersihkan lokasi yang


akan dicor dari kotoran-kotoran kecil seperti debu, serbuk
gergaji dan kotoran-kotoran lainnya.

Stamper, untuk memadatkan permukaan tanah, pemadatan


ini berguna untuk membuat lantai dasar agar lebih keras dan
rata.

Pompa air (water pump), digunakan untuk membuang air


dalam basement yang disebut dewatering. Dewatering dapat
menstabilkan penurunan tanah akibat beban gedung yang
sedang dibangun sehingga penurunannya dapat kontrol.

Vibrator, sebagai alat penggetar guna memadatkan adukan


beton pada proses pengecoran agar memperoleh beton

29

yang padat dan semua celah pada bekisting dapat terisi oleh
adukan beton.

Bar cutter, untuk memotong baja tulangan polos maupun


baja ulir dengan ukuran yang sesuai dengan perencanaan.

Bar

bender,

adalah

alat

yang

digunakan

untuk

membengkokkan baja tulangan dalam berbagai macam


sudut sesuai dengan perencanaan.

Alat penerangan, sebagai penerangan pekerjaan terutama


malam hari, dan terutama pekerjaan pengecoran yang tidak
bisa ditunda sampai esok hari.

Perancah (scaffolding), adalah alat bantu pada proses


pelaksanaan konstruksi sebagai struktur sementara untuk
menahan beton yang belum mampu memikul beratnya
sendiri (pada pelaksanaan pengecoran) atau sebagai
struktur pijakan dan akses sementara pada pelaksanaan
pemasangan bata, plesteran, dan pengecatan.

b. Peralatan Berat

Generator set (genset), alat pembangkit tenaga listrik yang


dibutuhkan untuk menjalankan alat-alat yang memakai
energi listrik sebagai sumber tenaga. Alat ini menggunakan
mesin diesel dengan bahan bakar solar.

Concrete pump, berfungsi sebagai alat bantu dalam


pelaksanaan pengecoran dan digerakkan oleh tenaga mesin
sebagai alat pendorong untuk mengeluarkan adukan beton
melalui pipa-pipa ke lokasi pengecoran yang sulit dijangkau.

Truck mixer, alat pengaduk beton yang membawa lokasi


proyek.

30

Excavator,alat/mesin untuk mengeruk tanahdalam jumlah


yang cukup besar dan dapat membuat galian dengan mudah
sesuai yang diinginkan.

Dump truck, untuk mengangkut tanah hasil galian dari lokasi


proyek menuju luar lokasi proyek dan sebaliknya.

Vibro roller, alat ini berfungsi untuk memadatkan lapisan sub


grade dan sub base.

Tower crane, alat ini berfungsi sebagai unloading material


formwork, besi beton, scaffolding dan erection steel
structure.

Gambar 4.1Alat Theodolite


Gambar 4.2Alat excavator
31

Gambar 4.3Truck Mixer

Gambar 4.4Tower Crane


Pengoperasian alat-alat pada Proyek Pembangunan Kantor
Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran Dan Penyelamatan
Provinsi DKI Jakarta ini dilakukan oleh para tenaga ahli dan
berpengalaman di bidangnya. Pemakaian alat-alat ini harus
disesuaikan dengan jadwal pemakaian yang sudah direncanakan,
dan penggunaannya haruslah sesuai dengan spesifikasi teknis dari

32

alat-alat yang dipergunakan, sehingga resiko kerusakan alat dapat


dikurangi dan dihindari semaksimal mungkin.
Pemeliharaan

(maintenance)

peralatan

kerja

yang

dimaksudkan adalah agar usia pemakaian alat alat tersebut dapat


lebih panjang. Bila alat tersebut tidak digunakan, maka cukup
disimpan pada tempat yang aman dari gangguan. Dalam
penggunaannya juga harus diperhatikan, apakah sudah sesuai
dengan GEDUNG
petunjukSIMULASI
penggunaan atau belum. Untuk peralatan yang
rusak harus segera diperbaiki atau dibawa ketempat service,
sehingga aktifitas proyek tidak terganggu dan dapat berjalan
sebagaimana mestinya.
4.2

Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan


Pada Fisik Proyek Pembangunan Kantor Pusdiklatkar Dinas
Pemadam Kebakaran Dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta ini
terdiri dari 8 lantai.

GEDUNG SIMULASI

Gambar 4.5 Penempatan Gedung Kantor Pusdiklatkar Dinas Pemadam


Kebakaran Dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta

33

Tampak Depan

Tampak Samping Kiri

Tampak Belakang

Tampak Samping Kanan

Gambar 4.6 Tampak Gedung Kantor Pusdiklatkar Dinas Pemadam


Kebakaran Dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta

34

4.2.1 Pekerjaan Tower Crane


Pada Pelaksanaan Fisik Pembangunan Kantor Pusdiklatkar
Dinas Pemadam Kebakaran Dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta
ini menggunakan tower crane sebagai alat bantu pendistribusian
material secara vertikal untuk gedung simulasi. Tower crane yang
digunakan memiliki kapasitas 2,4 ton dan jangkauan service 50 m.
Gambar

4.7

Ilustrasi

Bagian

Bagian Tower

Crane

Tower

crane

ditempatkan

pada

posisi

dimana

jangkauan

Tower

Crane dapat menjangkau seluruh wilayah pendistribusian material


proyek pada gedung simulasi

Gambar 4.8 Rencana Penempatan Tower Crane

4.2.2 Pekerjaan Tanah

35

Pada setiap operasional pekerjaan penggalian tanah, selain


perlu mengetahui pemakaian peralatannya, harus pula diketahui cara
pemindahan/pengangkutannya ketempat lain. Perlu dipertimbangkan
pula apakah bekas galian akan ditimbun kembali dan dipadatkan.
Dengan mengetahui cara pemindahan tanah galian tersebut, dapat
ditentukan jenis peralatan yang sesuai untuk menangani pekerjaan
tanah sesuai dengan jadwal pelaksanaan pekerjaan.
Pekerjaan

tanah

pada

ProyekPembangunan

Kantor

Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran Dan Penyelamatan


Provinsi DKI Jakarta ini, meliputi pekerjaan galian tanah untuk
pekerjaan raft foundation dan tie beam.Tanah bekas galian
(excavation soil) akan dibuang ke area pembuangan (disposal soil)
yang sudah ditentukandengan menggunakan

excavator dan

disposal bekas excavation dipindahkan dengan menggunakan


dump truck.

Gambar 4.9 Galian Tanah

Metode penggalian tanah galian seperti pada Gambar 4.9. ini berdasarkan
kondisi tanah di areal Gedung Simulasi yaitu:

36

- Penggalian dilakukan dengan menggunakan open cut


- Jarak dari batas dinding dengan dinding penahan tanah sebesar
200mm
- Jarak dari dasar galian ke batas galian sebesar 4000 mm
- Mempunyai sudut 15 dari dasar penggalian.
4.2.3

Pekerjaan Pondasi Rakit (Raft Foundation)


ProyekPembangunan Kantor Pusdiklatkar Dinas Pemadam
Kebakaran

Dan

Penyelamatan

Provinsi

DKI

Jakarta

ini

menggunakan pondasi Pondasi Rakit (Raft Foundation) dengan


mutu beton K-350dan kedalaman 900 mm.
4.2.3.1

Tahapan Pekerjaan Pelaksanaan Pondasi Rakit

(Raft

Foundation)
1. Persiapan Peralatan
a. Menentukan peralatan apa saja yang akan digunakan dalam
pekerjaan pengecoran, peralatan tersebut harus memiliki daya
jangkau dan daya angkut yang memadai.
b. Semua peralatan harus telah diperiksa dan diinspeksi secara
rutin dan ketika akan melakukan pengecoran.
c. Pipa penghubung harus dipasang dengan jarak 2 meter dengan
spesi 1 meter terhadap tumpuan.
d. Menyediakan penerangan yang baik di lokasi pengecoran apabila
pekerjaan dilakukan di malam hari.
e. Menyiapkan terpal (tarpaulin) penutup untuk mengantisipasi bila
terjadi hujan dan mengarahkan air hujan ke luar lokasi
pengecoran.
f.Pompa beton harus berada dekat dengan lokasi pengecoran untuk
menghindari terlalu banyaknya sambungan pipa.
2. Persiapan Pengecoran Beton
a. Sebelum memulai pekerjaan, persetujuan dan izin kerja harus
diberikan oleh Sub Kontraktor dan semua inspeksi harus sudah
dilaksanakan dan disetujui oleh Supervisor Sub Konsultan.

37

b. Ketinggian beton yang akan dituangkan harus diberi tanda


dengan jelas di sekitar formwork.
c. Lokasi pengecoran selanjutnya dibersihkan menggunakan udara
terkompresi dan membuang sisa-sisa kawat pengikat serta
disiram dengan air bersih yang kemudian dialirkan keluar lokasi
pengecoran.
d. Pagar pengaman atau barikade pengaman harus sudah
terpasang agar proses pengecoran tidak mengganggu pekerjaan
yang lain.
e. Untuk pemesanan beton, jumlah beton dihitung berdasarkan
shop drawing yang telah disetujui. Untuk pengecoran skala kecil,
pemesanan dilakukan sesuai perhitungan. Untuk pengecoran
skala besar, jumlah pemesanan ditambah 3% dari total beton
yang dibutuhkan dan harus dikalkulasi berulang kali untuk

Konsultan
Pengawas

mencegah pemesanan berlebih.


f. Peralatan cadangan harus siap di posisi yang ditentukan dan
telah diperiksa serta telah disetujui oleh Sub Konsultan sebelum
pengecoran berlangsung.
3. Pengecekan Beton
a. Surat pengantaran beton harus dicek untuk memastikan mix

design, kuantitas, dan slump tepat.


b. Waktu pembuatan beton harus dicek dan dipastikan pengecoran Silender
sebelum 2 jam setelah pembuatan.
c. Tes slump harus dikerjakan menurut sampel kubus yang diambil.
d. Metode pengambilan sampel :
Pondasi rakit, pelat lantai dan balok = setiap 25m3 harus diambil 1
set sampel (3 silinder). Bila jumlah beton melebihi 100m3 1 set
sampel diambil setiap 100m3.
Kolom dan dinding = setiap truk mixer harus diambil 1 set sampel. 1
set sampel berisi 3 silinder. 1 silinder untuk pengujian kuat tekan
beton 7 hari, 1 silinder untuk pengujian kuat tekan beton 28 hari, dan
1 silinder untuk cadangan.
4. Pelaksanaan Pengecoran Pondasi Rakit
a. Tidak boleh ada penambahan air pada beton.

38

b. Memastikan semua platform dan jalan pekerja telah terpasang di


sekitar lokasi pengecoran.
c. Pengecoran harus dikerjakan sedemikian rupa sehingga tidak
terjadi pengecoran tidak rata, segregasi, terbuangnya material,
serta rusaknya formwork.
d. Beton haruslah terbentuk sedekat mungkin dengan hasil akhir
sehingga tidak membutuhkan pekerjaan lain setelahnya.
e. Beton haruslah dicor secara berlapis sesuai ukuran vibrator,
kecuali untuk area basemen yang dicor langsung hingga level
final.
f. Beton tidak boleh digerakkan secara lateral oleh vibrator.
g. Beton harus digetarkan sesuai pola yang ditentukan untuk
memastikan kepadatan beton.
h. Ketukan ataupun getaran lain dari luar tidak diperbolehkan.
i. Beton tidak boleh jatuh bebas, lebih dari 1,5m untuk pekerjaan
tertutup dan 0,9m untuk pekerjaan terbuka.
j. Lapisan beton horizontal yang telah dipadatkan tidak boleh
melebihi 0.3m spasi harus diatur agar tidak terjadi segregasi.
k. Setelah ketinggian beton mencapai batas yang diinginkan,
dilakukan pengukuran level dan finish dibuat sesuai standar
desain.
l. Bila beton akan dituang ke lokasi yang bersinggungan dengan
beton yang sudah ada sebelumnya, tembok beton yang telah ada
akan disiram air atau dilapisi cairan pengikat yang telah disetujui.
m. Setelah beton mengeras dan formwork telah dilepas, beton
diselimuti dengan karung goni basah dengan overlap 100mm dan
tidak dibuka setidaknya selama 7 hari.

39

Gambar 4.10 Metode Raft Foundatio

40

4.2.4

Pekerjaan Shear Wall

4.2.4.1

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Shearwall


Berikut ini adalah metoda kerja pekerjaan pembangunan
Shear Wall :
1. Melakukan marking untuk posisi balok dan pelat lantai
ground yang ada pada wall tersebut.
2. Pekerjaan pemasangan stek besi untuk pelat lantai
ground sesuai marking yang ada.
3. Melakukan checklist pembesian terpasangpada Shear
Wall.

Gambar 4.11 Pemasangan Besi Wall

4. Melakukan pemasangan bekisting wall.

41

Gambar 4.12 Pemasangan Bekisting Wall

5. Melakukan pengecoran beton.

Gambar 4.13 Pengecoran Menggunakan Bucket

6. Melakukan pembongkaran bekisting


7. Curing untuk Shear Wall.

Gambar 4.14 Curing Shear Wall

42

Dilakukan

perawatan

beton

setelah

pembongkaran

bekisting pada Shear Wall dengan cara menyemprotkan zat


kimia khusus untuk perawatan beton.Perawatan beton ini
dalam dunia proyek dikenal dengan istilah curing beton
kemudian untuk zat kimia yang digunakan adalah curing
compound (Antisol-E(WP))
Pada pekerjaan pemasangan bekisting untuk Shear Wall
menggunakan metoda Bekisting Sistim. Bekisting Sistim ini
sering disebut juga metoda investasi karena BekistingSistim ini
pada awal pembuatannya memakan biaya yang lumayan cukup
besar.Bahan dasar dalam pembuatan Bekisting Sistim adalah
besi holo dan besi baja, bahan dasar inilah yang memakan
biaya

yang

lumayan

besar

kemudian

juga

dalam

hal

pengerjaan Bekisting Sistim yang menggunakan metode las


untuk perancangan bekisting yang diperuntukan Shear Wall.

Gambar 4.15 Bekising

Keuntungan dalam menggunakan metode bekisting sistim


ini adalah dapat terpakai hingga beberapa kali pekerjaan
proyek atau sama dengan 8 tahun. Berbeda dengan bekisting
yang biasa digunakan yaitu bekisting kayu atau papan yang

43

hanya dapat digunakan sekali saja artinya jetika proyek telah


selesai bekisting kayu atau papan terbuang dengan percuma.
Serti nama lain dari bekisting sistim itu sendiri yakni metoda
investasi, mengeluarkan biaya besar untuk awal pembuatan
untuk 8 tahun kedepan.
4.2.5

Pekerjaan Kolom

4.2.5.1

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Kolom Struktur


Berikut ini adalah metoda kerja pekerjaan kolom struktur:
1. Melakukan marking untuk menetukan posisi kolom.
2. Pekerjaan pemasangan besi.

Gambar 4.16 Pemasangan Besi Kolom

3. Melakukan checklist pembesian terpasangpada kolom.


4. Melakukan pemasangan bekisting kolom

Gambar 4.17 Pemasangan Bekisting Kolom

5. Melakukan pengecoran beton.

44

Gambar 4.18 Pengecoran Menggunakan Bucket

6. Melakukan pembongkaran bekisting


Untuk menentukan berapa lama bekisting dapat
dibongkar tanpa menimbulkan crack atau lendut pada
konstruksi beton tentunya harus melalui prosedur ijin
bongkar dari konsultan serta hasil analisa statik
terhadap umur beton. Waktu yang tepat untuk
melakukan bongkaran bekisting tentunya tergantung
pada bagian struktur beton dan kelas beton yang
digunakan serta metode bongkar yang digunakan.
Contohnya

bongkaran

pada

kolom

beton

bisa

dilakukan 8-12 jam. Pada intinya semua itu perlu


dilakukan analisa static, dengan memasukan umur
beton pada saat bongkaran akan dilakukan.
7. Curing untuk kolom.

BAB V
45

PENGAWASAN PELAKSANAAN DI LAPANGAN


5.1.

Manajemen Kualitas
Bahan atau pengerjaan yang disyaratkan oleh spesifikasi
dalam pelaksanaan Proyek Pembangunan Kantor Pusdiklatkar Dinas
Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta ini
harus memenuhi atau melebihi peraturan atau standar yang
disebutkan.Penyedia

jasa

harus

bertanggung

jawab

untuk

menyediakan bahan dan melakukan pekerjaan yang tertulis dalam


Rencana Kerja & Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur.
Peraturan dan standar yang disebutkan akan menetapkan
ketentuan mutuuntuk berbagai jenis pekerjaan. Ketentuan mutu
dilakukan dengan cara pengujian untuk memenuhi mutu yang telah
disyaratkan dalam peraturan dan standar.
Standar rujukan yang diacu dalam spesifikasi adalah SNI
(Standar Nasional Indonesia).Pedoman atau petunjuk teknis dan
standar dari badan-badan dan organisasi lain dapat digunakan atas
persetujuan Direksi Pekerjaan, seperti :
a. AASHTO
: American Association of State Highway and
Transportation Officials
b. ACI
: American Concrete Institute
c. AISC
: American Institute of Steel Construction
d. ANSI
: American National Standard Institute
e. ASTM
: American Society of Testing Materials
f. AWS
: American Welding Society Inc
g. BS
: British Standard
h. CRSI
: Concrete Reinforcing Steel Institute
i. JIS
: Japan International Standard
j. NEC
: National Electrical Code
Manajemen Kualitas (Mutu) adalah aspek-aspek dari fungsi
manajemen

keseluruhan

yang

menetapkan

dan

menjalankan

kebijakan mutu suatu perusahaan/organisasi. Dalam suatu pekerjaan


proyek terdapat enam lingkup yang harus diuji kualitasnya yaitu :
a. Kualitas dari penerangan dan keputusan dari klien
b. Kualitas dari proses disain
c. Kualitas material dan komponen
d. Kualitas dari kumpulan proyek
46

e. Kualitas dari kegiatan manajemen proyek


f. Manajemen proyek sebagai rata rata dari peningkatan
kualitas proyek
5.2.

Pengontrolan Kualitas
Pengawasan terhadap kualitas dari bahan yang digunakan
dilakukan secara berkala untuk mengetahui pencapaian kualitas dari
bahan yang diinginkan.
5.2.1. Beton
Pekerjaan yang disyaratkan dalam seksi ini mencakup
pelaksanaan seluruh struktur beton bertulang, beton tanpa tulangan,
beton prategang, beton pracetak dan beton untuk struktur baja
komposit, sesuai dengan spesifiksi dan gambar kerja yang disetujui
oleh direksi pekerjaan.
Mutu beton yang digunakan pada masing-masing kegiatan struktur
beton harus sesuai dengan gambar rencana.
Adapun acuan yang menjadi standar rujukan dalam
pelaksanaan dan pengawasan pada pekerjaan beton ini adalah
peraturan SNI, ASTM, dan AASTHO.
a. Prosedur slump test

Gambar. 5.1 Tahapan slump test

47

Rekomendasi slump untuk variasi beton konstruksi pada


keadaan atau kondisi normal dapat dilihat pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1 Tabel slump
Slump pada (cm)
Konstruksi Beton
Dinding, pelat pondasi
telapak bertulang

dan

Maksimum Minimum
pondasi

12.50

10.00

Pondasi telapak tidak bertulang, kaison


dan konstruksi di bawah tanah.

9.00

7.50

Pelat, balok, kolom dan dinding.

15.00

12.50

Pembetonan massal.

7.50

7.50

Pondasi tiang bor

15.00

13.00

Untuk beton dengan bahan tambahan plasticizer, slump


dapat dinaikkan sampai 1,5 cm.
b.

Tes Tekan Beton :


Ambil beda uji yang akan ditentukan kekuatan tekanannya
dari bak perendam, kemudian bersihkan dari kotoran yang
menempel dengan kain. Benda uji dapat berbentuk silinder
atau kubus.
Tentukan berat dan ukuran benda uji.
Letakkan benda uji pada mesin secara sentris, sesuai
dengan tempat yang tepat pada mesin test kuat tekan
beton.
Jalankan benda uji atau mesin tekan dengan penambahan
beban konstan.
Lakukan pembebanan sampai benda uji hancur dan catat
benda maksimum yang terjadi selama pemeriksaan benda
uji beton.
Pengujian kuat tekan beton ini dilakukan pada saat beton
berumur 3, 7, 14, dan 28 hari lalu diambil rata-rata.

48

Gambar 5.2 Sampel untuk pengujian kuat tekan betondi Jayamix

Evaluasi hasil pengujian.


Evaluasi hasil pengujian dilakukan dari hasil kuat tekan
beton. Berdasarkan Gambar 5.3 dapat dilihat hasil kuat
tekan beton lalu dicatatkan hasil dalam sebuah report pada
Gambar 5.4.

Gambar 5.3 Hasil kuat uji tekan beton

49

Gambar 5.4 Report hasil kuat uji tekan beton

50

5.3.

Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L)


Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) pada
Proyek

Pembangunan

Kantor

Pusdiklatkar

Dinas

Pemadam

Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta ini mengikuti


berdasarkan petunjuk pelaksanaan dan ketentuan dalam K3L di unit
realty dan konstruksi. Di dalam petunjuk itu terdiri dari berbagai
persyaratan dalam melaksanakan proyek pembangunan yang
dijabarkan sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.

Ketentuan umum
Perlengkapan pelindung tubuh
Kebersihan dan kerapihan (house keeping)
Rambu-rambu peringatan
Tata cara penanganan kecelakaan, sakit dan meninggal
Pencegahan bahaya kebakaran
Penggalian, pondasi dan parit
Tangga, perancah, dan bekerja pada ketinggian
Alat-alat angkat dan pengoperasian alat-alat berat
Alat kendaraan bermotor
Bekerja yang berhubungan dengan listrik
Pengelesan, pemotongan dan gerinda
Pekerjaan dengan lalu lintas padat
Kondisi malam hari dan tempat gelap
Kecelakaan dalam pekerjaan tidak dapat dihilangkan namun

bisa dikurangi dengan analisa dalam pengendalian resiko. Analisa ini


harus dijelaskan setiap pekerjaan yang akan dilaksanakan seperti
pekerjaan pemancangan, pekerjaan hal-hal rutin dan non rutin,
pekerjaan kantor, dan lain-lain. Dalam analisa juga dijelaskan
merujuk ke peraturan dan undang-undang di setiap kegiatan suatu
pekerjaan yang dilaksanakan. Beberapa pekerjaan yang akan
dianalisa pengendalian resiko K3L dapat dilihat pada Lampiran K3L.
Dalam melaksanakan suatu kegiatan diberikan instruksi oleh
koordinator SHE (Safety, Health, and Environment) dari pihak
kontraktor agar sesuai jadwal dan terkendali . Instruksi dari
koordinator SHE kepada pekerja dapat dilihat pada Gambar 5.5 dan
Gambar 5.6 di bawah ini.

51

Gambar 5.5 Instruksi koordinator SHE-1

Gambar 5.6 Instruksi koordinator SHE-2

Rambu-rambu

pada

proyek

sangat

diperlukan

untuk

memperingatkan kepada setiap pekerja proyek maupun pengunjung


yang datang agar selalu memakai peralatan K3 dan berhati-hati.
Pembuatan dan pemasangan

rambu-rambu dapat dilihat pada

Gambar 5.7 dan 5.8 di bawah ini.

52

Gambar 5.7Pembuatan rambu-rambu K3

Gambar 5.8Pemasangan rambu-rambu K3

5.4.

Time schedule
Time

schedule

adalah

rencana

alokasi

waktu

untuk

menyelesaikan masing-masing item pekerjaan proyek yang secara


keseluruhan

adalah

rentang

waktu

yang

ditetapkan

untuk

melaksanakan sebuah proyek.

53

Tujuan atau manfaat pembuatan time schedule pada sebuah


proyek konstruksi antara lain:

Pedoman waktu untuk pengadaan sumber daya manusia yang


dibutuhkan.

Pedoman waktu untuk pendatangan material yang sesuai


dengan item pekerjaan yang akan dilaksanakan.

Pedoman waktu untuk pengadaan alat-alat kerja.

Time schedule juga berfungsi sebagai alat untuk mengendalikan


waktu pelaksanaan proyek.

Sebagai tolok ukur pencapaian target waktu pelaksanaan


pekerjaan

Time schedule sebagai acuan untuk memulai dan mengakhiri


sebuah kontrak kerja proyek konstruksi

Sebagai pedoman pencapaian progress pekerjaan setiap waktu


tertentu

Sebagai pedoman untuk penentuan batas waktu denda

atas

keterlambatan proyek atau bonus atas percepatan proyek

Sebagai pedoman untuk mengukur nilai suatu investasi


Untuk

dapat

menyusun

time

schedule

atau

jadwal

pelaksanaan proyek yang baik dibutuhkan:

Gambar kerja proyek

Rencana anggaran biaya pelaksanaan proyek

Bill of Quantity (BQ) atau daftar volume pekerjaan

Data lokasi proyek berada

Data sumberdaya meliputi material, peralatan, sub kontraktor


yang tersedia disekitar lokasi pekerjaan proyek berlangsung.

Data sumber daya material, peralatan, sub kontraktor yang harus


didatangkan ke lokasi proyek.

Data kebutuhan tenaga kerja dan ketersediaan tenaga kerja


yang di butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Data cuaca atau musim di lokasi pekerjaan proyek.


54

Data jenis transportasi yang dapat digunakan disekitar lokasi


proyek.

Metode kerja yang digunakan untuk melaksanakan masingmasing item pekerjaan.

Data kapasitas prosduksi meliputi peralatan, tenaga kerja, sub


kontraktor, material.

Data keuangan proyek meliputi arus kas, cara pembayaran


pekerjaan, tenggang waktu pembayaran progress dll.
Dari time schedule telah dijadwalkan pekerjaan pada Proyek

Pembangunan Kantor Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran dan


Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta. Pekerjaan konstruksi dimulai
dari pekerjaan persiapan hingga pekerjaan pemeliharaan yaitu dari
tanggal 27 Agustus 2015 sampai dengan tanggal 31 Maret 2016.
Pekerjaan yang diamati dalam kerja praktek dari bulan
Oktober hingga bulan Desember 2015 yaitu untuk pekerjaan pondasi
(3 Oktober 2015 18 Nov 2015) dan pekerjaan tanah (27 Agustus
2015).
Di dalam time schedule direncanakan bahwa pekerjaan
tanah yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 Agustus 2015, tetapi
pada aplikasi di proyek mengalami keterlambatan. Keterlambatan
terjadi dikarenakan cuaca yang sering hujan pada siang hari
sehingga pekerjaan pondasi dihentikan beberapa jam dan dilanjutkan
kembali setelah hujan berhenti.
Pekerjaan pondasi yang direncanakan selesai 3 Oktober
2015 yaitu baru selesai pada tanggal 17 Oktober 2015. Setelah
pekerjaan pondasi selesai maka dilaksanakan pekerjaan struktur plat
lantai, shear wall, dan kolom.

BAB VI
PENUTUP DAN KESIMPULAN

55

6.1 Uraian Umum


Dengan adanya pelaksanaan kerja praktek di proyek
Pembangunan Kantor Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran
dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakartaselama 3 bulan telah cukup
banyak memberikan informasi dan ilmu bagi penulis. Selama
menjalani kerja pratek, penulis banyak memperoleh pengalaman,
ilmu, dan metode kerja yang nyata dan berbagai macam
pengetahuan baru tentang segala pekerjaan di proyek dan
bagaimana caranya berkomunikasi dan bekerjasama dengan staff
yang terlibat didalam proyek.
Meskipun

penulis

merupakan

salah

satu

mahasiswa

program perkuliahan karyawan (P2K) yang sudah bekerja, tetapi


dengan adanya kerja praktek ini sangat membantu penulis untuk
lebih mengetahui kondisi proyek secara langsung.
6.2 Kesimpulan
Setelah

mengamati

dan

memperhatikan

proyek

Pembangunan Kantor Pusdiklatkar Dinas Pemadam Kebakaran


dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakartaselama pelaksanaan kerja
praktek, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Dalam dunia konstruksi banyak pihak-pihak yang terkait dalam
proses pembangunan suatu konstruksi tersebut dan semua
pihak mempunyai tujuan yang sama yaitu terlaksananya
pekerjaan sesuai yang direncanakan.
2. Tahapan pelaksanaan pekerjaan dimulai dengan pekerjaan
tower crane yang berfungsi sebagai alat bantu pendistribusian
material secara vertical. Dilanjutkan dengan Pekerjaan tanah
yang meliputi pekerjaan untuk pondasi rakit (raft foundation).
Kemudian dilanjutkan dengan pekerjaan Shear wall dan kolom.

56

3. Pada pekerjaan pemasangan bekisting menggunakan metoda


Bekisting Sistim.
4. Penggunaan besi tulangan pada proyek ini digunakan baja
tulangan ulir dari D10 s/d D22 dan sesuai ketentuan SNI.
5. Penggunaan beton menggunakan mutu beton K-350.
6. Pekerjaan

dilapangan

harus

berdasarkan

gambar

for

constractiondari konsultan, tetapi kontraktor harus membuat


shop

drawingsebagai

gambar

kerja

yang

disetujui

oleh

pengawas.
7. Pada setiap proyek pasti terjadi suatu masalah baik masalah
teknis maupun non teknis, maka dengan adanya koordinasi
antara pihak yang terkait diharapkan dapat meminimalkan
masalah yang sudah atau akan timbul dalam proyek tersebut.
6.3 Penutup
Demikianlah beberapa kesimpulan yang dapat penulis
sampaikan berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lapangan.
Sebagai penutup, kami mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak atas bantuan, bimbingan, bahan, keterangan, dan kritik yang
kami terima selama pelaksanaan kerja praktek dan selama
penyusunan laporan ini.

57