Anda di halaman 1dari 3

Meluruskan Miskonsepsi Mata Pelajaran Kimia

Oleh Yunita Kusumawardani


Mahasiswa Pendidikan Kimia FKIP Universitas Tanjungpura
Kimia merupakan salah satu mata pelajaran
yang harus diajarkan atau dipelajari dari usia
dini sampai tua. Mengapa demikian? Karena
kimia selalu berdekatan dengan kehidupan dan
kita adalah bagian darinya, contoh kecilnya
adalah bernafas. Kita menghirup oksigen dan
menghembuskan karbon dioksida selama
hidup.
Di dalam ruang lingkup sekolah, kimia lebih
dikenal dengan mata pelajaran yang
mempelajari unsur-unsur dalam tabel sistem
periodiknya. Unsur itu dipelajari dari karakteristik kimia dan fisiknya, keterkaitan
satu unsur dengan lainnya, sampai pada matematisnya. Contohnya, masakan Ibu
tidak akan enak jika bumbunya tidak sesuai takaran. Dalam hal ini, Ibu melakukan
pola yang diajarkan kimia secara tidak langsung. Ibu akan menambahkan garam
secukupnya ke dalam suatu masakan agar konsentrasi garam tidak terlalu pekat
dalam masakan dan mempengaruhi cita rasa suatu makanan. Walaupun kimia
sangat dekat dengan kehidupan, tapi miskonsepsi dalam memahami kimia sering
kali terjadi. Hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan kita akan ruang lingkup
kimia. Menurut Euwe Van den Berg miskonsepsi merupakan pertentangan atau
ketidakcocokan konsep yang dipahami seseorang dengan konsep yang dipakai
pakar ilmu yang bersangkutan. Miskonsepsi itu biasa dialami siswa bahkan guru.
Di dalam dunia pendidikan, kimia sudah dikelompokkan menjadi sub-sub bab agar
materinya lebih mudah dipahami. Namun, hal ini tidak berjalan sesuai harapan
sampai pemerintah memutuskan perubahan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan) menjadi kurikulum 2013 yang bersifat tematik integratif dimana kimia
akan diintegrasikan ke bidang studi tertentu. Kurikulum dahulu dirasa membatasi
kemampuan observasi dan menghambat daya nalar siswa, misalnya siswa

diajarkan materi hidrokarbon. Hidrokarbon mempelajari suatu senyawa yang


terdiri dari unsur karbon (C) dan Hidrogen (H). Di dalamnya menyajikan reaksi
bagaimana proses pembakaran senyawa hidrokarbon, persamaan reaksinya adalah
sebagai berikut :
CH4 + 2 O2 2 H2O + CO2 + Energi ......... (1)
Jika pendidik hanya mengikuti pola kurikulum yang menuntut sesuai dengan
tujuan sub materi yang diajarkan maka akan mengurangi tingkat efisiensi nalar
seorang siswa. Padahal jika sekaligus dijelaskan bahwa ada materi redoks maupun
stoikiometri di dalamnya, siswa menjadi individu yang lebih observatif. Di dalam
persamaan (1), perubahan bilangan oksidasi atom C dari -4 menjadi +4 dan
perubahan bilangan osidasi atom O dari 0 menjadi -2 merupakan materi redoks dan
jumlah energi yang dihasilkan merupakan stoikiometri.
Memang benar pendapat para ahli pendidikan yang memaparkan bahwa hal
terpenting yang dibawa ke ruang kelas oleh setiap siswa sebelum memulai
pelajaran adalah konsep-konsep yang telah mereka miliki dan kuasai sebelumnya.
Miskonsepsi yang terjadi di dalam ruang lingkup kimia dapat terjadi akibat konsep
dalam kimia bersifat abstrak atau tidak tampak bahkan buku yang menjadi sumber
belajar atau literatur menyajikan pembahasan yang keliru. Tidak jarang ditemukan
lembar kegiatan siswa yang lebih dikenal dengan LKS memaparkan materi
pergeseran kesetimbangan yang keliru. Sehingga persoalan seperti penambahan
gas CS2 ke sistem kesetimbangan CS2 (g) + 4H2 (g) CH4 (g) + 2H2S (g) pada
tekanan dan suhu konstan mengalami pergeseran kesetimbangan ke reaktan
ataukah produk? Banyak siswa yang terbalik dalam memahaminya. Seharusnya
mengalami pergeseran ke arah produk justru siswa memahaminya ke arah reaktan.
Materi eksoterm dan endoterm juga mengalami hal yang demikian.
Persoalan tadi masih mudah diluruskan. Namun, beberapa cara menyesatkan guna
mempermudah pemahaman siswa dirasa sangat miris dalam dunia pendidikan
seperti teori atom yakni atom memiliki elektron yang mengelilinginya layaknya
planet mengelilingi matahari, padahal elektron tidak memiliki pola melingkar yang
sederhana untuk mengelilingi inti. Memang siswa akan diberitahu keadaan atom
sebenarnya pada tingkatan kelas yang lebih tinggi, namun adakah manfaat
menunda memahami kebenaran? Padahal, siswa harus mengikuti informasi
perkembangan ilmu pengetahuan secara terkini dan aktual.

Selanjutnya, konsep-konsep kimia yang abstrak dengan memanfaatkan kekhasan


dan logika memang dapat menimbulkan miskonsepsi yang sangat nyata. Karena
abstrak lantas diabaikan? Tidak, jangan demikian. Memahami kimia yang bersifat
abstrak ibarat mempercayai bahwa Tuhan itu ada walau kita tidak dapat melihatNya namun kita merasakan kehadirat-Nya.
Kimia sebagai mata pelajaran dengan karakteristik yang lebih banyak pada dunia
mikroskopis, berupa mempelajari atom-atom sebagai unit terkecil penyusun materi
sebenarnya memberikan sumbangan bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia.
Banyak sekali bidang-bidang yang ditekuni oleh manusia yang berkaitan dengan
kimia, seperti industri makanan memerlukan pekerja lab untuk memastikan
kelayakan makanan produksinya. Apakah memenuhi kebutuhan kalori maupun gizi
konsumennya.
Kita sadari bahwa miskonsepsi kimia menyebabkan kesulitan siswa dalam
mempelajarinya, untuk itu perlu diterapkan beberapa cara guna mengatasinya.
Dengan memperkenalkan bagaimana kimia begitu berpengaruh dalam hidup
siswa setidaknya dapat menjadi bekal untuk memahami konsep dasar sebelum
masuk ke dalam kelas dengan mata pelajaran kimia. Melalui pendekatan itu juga
diharapkan siswa tidak menganggap kimia sebagai mata pelajaran yang disegani
tapi sebagai mata pelajaran yang dikagumi. Pendekatan atau interaksi antara
siswa dengan guru juga merupakan cara terbaik untuk meluruskan miskonsepsi
siswa. Tanpa interaksi guru tidak akan mengetahui miskonsepsi siswa.
Yang tidak kalah crusial mengenai miskonsepsi kimia adalah guru kimia sebagai
pelaku utama harus mengintropeksi pengetahuan kimianya, membandingkan
dengan beberapa sumber, dan membuat kesimpulan. Dengan kata lain, guru harus
mempersiapkan sajian penjelasan sebelum masuk ke kelas agar mengurangi
miskonsepsi yang dialami siswa akibat pengalamannya yang minim akan ruang
lingkup kimia