Anda di halaman 1dari 16

A.

ANATOMI GIGI SULUNG


Pulpa gigi merupakan struktur jaringan lunak hidup yang terletak dalam kamar pulpa dan
saluran akar gigi sulung dan gigi permanen. Pulpa gigi berasal dari jaringan mesenkim dan
mempunyai banyak fungsi. Fungsi permulaan dari pulpa gigi ialah untuk meletakkan dentin yang
membentuk struktur dasar gigi, menentukan morfologinya secara umum, dan memberikan
kekuatan dan kekerasan mekanis. Sistem sensori yang kompleks dari pulpa gigi ialah mengontrol
peredaran darah dan sensasi rasa sakit (4,5). Gigi-gigi sulung berbeda morfologinya dengan gigi
permanen penggantinya baik ukuran maupun bentuknya. Mahkota gigi sulung lebih cembung
dan lebih pendek, serta jauh lebih kecil di bagian cementoenamel junction (CEJ) dibandingkan
gigi permanen. Dentin dan email gigi sulung lebih tipis sedangkan kandungan mineral pada gigi
sulung dan permanen hampir sama. Email gigi sulung hanya setengah tebal email gigi permanen.
Warna gigi sulung lebih terang. Tanduk pulpa bagian mesial mendekati oklusal, lebih tinggi dari
pada gigi permanen. Ruang pulpa lebih besar dan tanduk pulpanya lebih dekat dengan
permukaan luar gigi dibandingkan gigi permanen. Ruang pulpa gigi molar bawah lebih besar
daripada gigi molar atas pada gigi sulung. Pulpa gigi molar sulung mengikuti alur yang pipih,
berbelit dan bercabang. Daerah kontak diantara gigi-gigi molar sulung lebih luas, lebih rata dan
terletak lebih jauh ke arah gingiva dari pada kontak antara molar permanen (8,9,10).
Gambar 2. Perbandingan anatomi gigi sulung dan permanen
B. PERAWATAN PULPA GIGI SULUNG
Diagnosa patologi pulpa sangat sulit ditentukan pada pasien muda karena tidak jarang
mereka tidak mengajukan gejala yang jelas. Penilaian sebelum perawatan penting untuk
menentukan indikasi perawatan pulpa atau pencabutan. Penilaian status pulpa yang dapat
dilakukan yaitu riwayat pasien, pemeriksaan klinis untuk melihat adanya pembengkakan dan
mobilitas, perkusi, dan tes vitalitas pulpa. Tes dilakukan dengan tester pulpa elektrik yang
memberikan hasil sebanding bila digunakan untuk gigi sulung atau permanen muda.
Pemeriksaan histologi dari gigi geligi sulung yang sudah dicabut membuktikan bahwa
penyebaran radang yang cepat dapat dianggap sebagai respon umum terhadap karies yang dalam.
(4,10)

Pemeriksaan radiografis juga merupakan syarat penting untuk suatu perawatan pulpa
pada gigi sulung. Radiografi praoperatif diperlukan untuk menghilangkan kontraindikasi lokal
dari terapi saluran akar, seperti kerusakan koronal yang besar, resorbsi akar internal atau
eksternal tahap lanjut, dan kerusakan tulang alveolar yang besar, yang berhubungan dengan
goyangnya gigi. Kontraindikasi umum dari perawatan pulpa mencakup kooperatif pasien yang
buruk, kurangnya kerja sama pihak orangtua, dan riwayat gangguan jantung atau ginjal, untuk
menghindari infeksi, pada pasien dengan gangguan kapasitas pemberi respons terhadap infeksi
seperti pada penderita gangguan sistem imun (10).
C. INSTRUMEN UNTUK PREPARASI DAN PENGISIAN SALURAN AKAR
1. Instrumen Untuk Preparasi Saluran Akar
Instrumen yang digunakan untuk preparasi saluran akar, antara lain sebagai berikut: (2)
a. Jarum miller
Jarum miller merupakan instrumen yang mempunyai dua penampang melintang, yaitu
bulat dan segitiga, terbuat dari baja yang halus dan runcing. Miller digunakan untuk:
Eksplorasi untuk mendapatkan orifisium dan saluran akar.
Instrumen pembantu dalam pengukuran panjang kerja.
Mempunyai fungsi tambahan, yaitu sebagai instrument pembersih saluran akar dengan
melingkarkan kapas pada blade.
b. Jarum Eksterpasi
Jarum eksterpasi adalah instrument yang mempunyai kait-kait yang beriklinasi kearah
pegangannya. Jarum eksterpasi berguna untuk:
Instrumen pengait dalam pengambilan jaringan pulpa dan jaringan nekrotik dari sluran

akar.
Mengambil pecahan tambalan, instrumen, kapas, paper point yang ada di dalam saluran

akar.
c. Reamer
Reamer adalah suatu instrumen perawatan saluran akar yang mempunyai penampang
segitiga yang diplintir dengan pangkal yang tertahan sehingga membentuk spiral yang
semakin ke ujung semakin kecil dan runcing. Berguna untuk melebarkan saluran akar dan
untuk pengisian saluran akar sebagai pengganti lentulo. Cara penggunaannya yaitu
dimasukkan ke dalam saluran akar, lalu di putar searah dengan jarum jam, seperempat
sampai setengan putaran dengan memasukkan bilahnya ke dentin, kemudian ditarik. Proses
ini dilakukan berulang-ulang sehingga penetrasi bertambah dalam ke dalam saluran akar.
Jika panjang kerja sudah dicapai, ganti instrumen dengan ukuran berikutnya, demikian
seterusnya.

d. File
File terdiri atas bermacam-macam bentuk yang pada umumnya digunakan untuk
menghaluskan dan membersihkan dinding saluran akar. Ada beberapa jenis file, diantaranya
adalah:
File Hedstrom
File Hedstrom berbentuk seperti kerucut, yang tersusun semakin ke ujung semakin kecil.
Gunanya untuk mengikis permukaan dinding saluran akar, tetapi akan meninggalkan

permukaan yang kasar.


File Tipe Kerr
File tipe Kerr mempunyai penampang segiempat yang kemudian diputar dengan
ujungnya ditahan sehingga berbentuk spiral. Gunanya untuk menghaluskan permukaan
dinding saluran akar, melebarkan saluran akar yang sempit dan bengkok dengan gerakan

naik turun, dan membawa semen saluran akar ke dalam saluran akar.
File Rat Tail
Bentuk file rat tail hampir sama dengan barbed broaches, tetapi kaitnya lebih pendek dan

lebih banyak.
2. Instrumen Pengisian Saluran Akar
Instrumen yang biasa digunakan untuk mengisi saluran akar adalah sebagai berikut: (2)
a) Root Canal Spreader
Instrumen ini dibagi atas:
Long handle spreader yaitu instrumen yang mempunyai pegangan panjang dan berujung

runcing serta panjang. Biasanya digunakan untuk gigi anterior.


Finger short spreader merupakan instrumen yang mempunyai pegangan pendek serta
bilah dan diameternya lebih kecil. Instrumen ini sangat baik digunakan untuk gigi
posterior. Secara umum fungsinya dipakai untuk menguakkan poin gutta-perca ke

dinding saluran akar.


b. Root Canal Plugger
Instrumen ini mempunyai ujung yang tumpul dan rata, yang terdiri atas pegangan pendek
yang berguna untuk menekan bahan pengisi saluran akar di dalam saluran akar. Cara
penggunaannya yaitu, mula-mula pemampat dipanaskan, kemudian ditekan ke dalam saluran
akar yang sebelumnya telah diisi dengan gutta-perca. Penekanan yang kedua dilakukan
dengan membasahi ujung penguak menggunakan alkohol. Penekanan ini dilakukan
berulang-ulang sampai diperkirakan semua gutta-perca sudah hermetis di dalam saluran
akar.
c. Lentulo

Lentulo merupakan instrumen yang berbentuk spiral, yang berukuran sama seperti file
atau reamer. Penggunaannya dapat dilakukan dengan tangan atau mesin putaran lambat,
dimasukkan dengan putaran berlawanan dengan arah jarum jam, kemudian dikeluarkan
searah dengan jarum jam. Apabila terjadi hambatan, sebaiknya pemutarannya jangan
dipaksakan karena alat bisa patah dalam saluran akar.
D. BAHAN PENGISI SALURAN AKAR DN FIKSASI JARINGAN PADA GIGI SULUNG
1. Bahan Pengisi Saluran Akar Pada Gigi Sulung
Bahan pengisi saluran akar pada gigi sulung berbeda dengan gigi permanen. Hal tersebut
dikarenakan pertumbuhan dan perkembangan gigi-geligi, perbedaan anatomi dan fisiologi
gigi, adanya resorbsi akar, dan kesulitan memperoleh gambaran radiologi yang memadai di

sekitar apeks gigi sulung.(7,11)


Kriteria ideal untuk bahan pengisi saluran akar pada gigi sulung adalah:(7,11)
Bahan tersebut harus dapat diresorbsi seiring dengan resorbsi fisiologi akar gigi sulung;
Tidak berbahaya bagi jaringan periapikal dan benih gigi permanen;
Melekat dengan baik pada dinding saluran akar dan tidak mengkerut;
Mudah diaplikasikan dan dapat dibuang dengan mudah bila diperlukan;
Memiliki sifat antiseptik, radioopak serta tidak menyebabkan perubahan warna gigi;
Bahan tersebut juga harus dapat diresorbsi dengan cepat bila terdorong masuk melampaui
panjang akar gigi;
Dapat mengeras dalam waktu yang lama.
Akan tetapi, hingga saat ini masih belum ditemukan bahan pengisi saluran akar gigi
sulung yang memenuhi persyaratan. Beberapa bahan pengisi saluran akar untuk gigi sulung
dan permanen muda yang umum digunakan adalah zinc oksida eugenol, kalsium hidroksida,
dan iodoform.(3,7)
Bahan pengisi saluran akar pada gigi sulung yang digunakan adalah sebagai berikut :
a) Zinc Oksida Eugenol
Pasta zinc oksida eugenol merupakan bahan pengisi saluran akar yang paling banyak
digunakan. Tingkat keberhasilan bahan ini cukup tinggi, baik digunakan sendiri atau
ditambahkan dengan bahan fiksatif lain. Bahan tersebut diaduk hingga mencapai konsistensi
yang cukup encer untuk bisa masuk ke dalam saluran akar, namun harus berhati-hati agar
tidak terjadi overfilling. Sebaliknya, pasta yang terlalu kental menyulitkan obturasi dan
menyebabkan underfilling.
Campuran bahan zinc oksida eugenol untuk pengisian saluran akar telah menghasilkan
bentuk yang cukup keras sehingga memungkinkan terjadinya perubahan arah pada gigi
permanen pengganti, dan dapat pula terjadi keterlambatan erupsi atau bahkan erupsi yang

lebih dini. Barker dan Locket juga mensinyalir bahwa apabila bahan tersebut ditekan terlalu
dalam dan keluar melampaui akar gigi, maka bahan tersebut tidak akan diresorbsi dan
menimbulkan reaksi tubuh terhadap adanya benda asing. Namun Woods dan Kildea
menyatakan bahwa bahan tersebut masih dapat diresorbsi hanya saja memerlukan waktu
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Pasta zinc oksida eugenol tidak memiliki kemampuan
bakterisid kecuali bila dicampur dengan bahan lain misalnya formokresol. Namun efek dari
pemakaian formokresol masih dipertanyakan terlebih bila terjadi overfiling. Dikhawatirkan
efek formaldehid bahan tersebut akan difus pada organisme makhluk hidup.(7)
b. Iodoform
Iodoform merupakan bahan yang dicampurkan dengan camphor, parachlorophenol, dan
menthol membentuk pasta. Pemakaian pasta tersebut dianjurkan karena secara klinis dan
radiografis perawatan pulpektomi dengan bahan tersebut memperlihatkan hasil yang baik.
Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa pemakaian pasta iodoform efektif sebagai bahan
pengisi saluran akar pada gigi sulung yang terinfeksi dan disertai dengan pembentukan abses.
Pasta iodiform memiliki efek bakterisid yang cukup baik dan mampu berpenetrasi ke
dalam jaringan dan mengontrol infeksi. Potensi bakterisid ini bahkan dikatakan hanya hilang
sebesar 20% selama 10 tahun. Kemampuan ini sangat menguntungkan bagi perawatan
pulpektomi gigi sulung, mengingat bahwa pembersihan maksimal saluran akar sulit dilakukan
karena kompleksitas dari akar gigi sulung. Oleh karena itu, efek tersebut dapat
mengkompensasi adanya kemungkinan mikroorganisme yang tertinggal.
Iodoform diresorbsi dengan baik dan cepat oleh tubuh. Keuntungan lain adalah pasta
tersebut tidak mengeras sehingga mudah untuk dibersihkan bila diperlukan. Pasta ini
memberikan

gambaran

radioopak

yang

memudahkan

untuk

evaluasi

pengisian.

Kekurangannya adalah ditemukannya perubahan warna gigi pada beberapa kasus. Perubahan
warna tersebut berupa bercak putih kecil hingga kuning kecoklatan. Mengatasi hal tersebut,
maka dianjurkan untuk melakukan pengisian hanya sampai saluran akar, terutama untuk gigi
anterior. Kamar pulpa dibersihkan dengan seksama untuk mencegah kelebihan pasta iodoform
kemudian mengisinya dengan pasta lain.
c. Kalsium Hidroksida [Ca(OH)2]
Berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa kalsium hidroksida merupakan bahan
pengisi saluran akar gigi sulung yang paling baik. Kalsium hidroksida sering digunakan dalam
perawatan resorbsi dan perforasi akar. Kelebihannya yang berhubungan dengan kerapatan
penutupan apeks adalah mudahnya cara penggunaan dan baik adaptasinya. Penggunaan pasta

kalsium hidroksida dapat beradaptasi dengan baik pada dentin maupun permukaan guttap
point. Kelebihan lain penggunaannya dalam proses pengisian saluran akar dapat mengurangi
kebocoran foramen apikal.(7,17)
Kekurangan utama kalsium hidroksida adalah tidak dapat menutup permukaan fraktur
pada kasus injuri traumatik pada gigi vital. Oleh karena itu dibutuhkan pemakaian bahan
tambahan yang dapat menjamin pulpa tidak terkontaminasi oleh bakteri terutama pada fase
kritis penyembuhan. Pasta ini juga tidak terlihat secara radiografi dan tidak tahan lama,
namun hal tersebut tidak menjadi masalah, mengingat masa retensi gigi sulung yang relatif
pendek. Selain itu harganya relatif mahal dan pemakaiannya yang kurang praktis
dibandingkan dengan dressing lainnya karena pasta harus melapisi dinding saluran akar
dimasukkan sesuai panjang kerja.(7,18)
Kalsium hidroksida mempunyai pH 12,5 serta memiliki efek antibakteri dan mampu
memperbaiki kondisi patologis lesi periapikal. Kalsium hidroksida juga mempunyai sifat
alkalin yang dapat berperan sebagai iritan, dengan merusak sel pada daerah yang berkontak
kemudian menstimulasi sel-sel yang berdekatan untuk memacu terbentuknya jaringan
terkalsifikasi. Sifat fisis kalsium hidroksida adalah daya larutnya yang tinggi di dalam air dan
gliserol, tidak larut dalam alkohol, dan tidak berbau. Mekanisme kerja kalsium hidroksida di
dalam saluran akar belum diketahui secara pasti, tetapi difusi ion kalsium dan hidroksil ke
tubuli dentin sudah terbukti.(7,18,19)
Indikasi penggunaan kalsium hidroksida adalah sebagai bahan dressing pada sebagian
besar kasus perawatan saluran akar baik pada gigi vital maupun non vital. Peletakan kalsium
hidroksida di antara waktu kunjungan dianjurkan pada gigi dengan pembersihan dan
pembentukan saluran akar yang belum sempurna, simptomatis, waktu antar kunjungan lama,
ada infeksi periapikal, juga pada kasus injuri traumatik. Pemakaian kalsium hidroksida
sebagai dressing awal tidak diindikasikan pada keadaan dimana dibutuhkan penghambatan
inflamasi atau inflamasi resorbsi akar aktif, atau bila ada rasa sakit. Karena pada keadaan
tersebut pasta ini dapat merupakan iritan yang dapat menyebabkan eksaserbase simptom atau
inflamasi yang sebelumnya sudah ada.(18)
2. Obat-obat Untuk Fiksasi Jaringan (Mumifikasi) Pada Gigi Sulung
Bahan-bahan medikamen yang dipakai dalam perawatan saluran akar diantaranya adalah
formokresol, glutaraldehid, solutie formaldehid 37% (formalin), kresol, N2 dan krestatin
(metakresil asetat).(6)

a) Formokresol
Formokresol merupakan agen bakterisidal yang mematikan. Formokresol mematikan
enzim-enzim oksidatif didalam pulpa berdekatan pada daerah yang diamputasi. Ini
mempunyai efek aksi hialurondasi, sehingga sifat pengikatan dari protein dan hambatan
enzim dapat memutuskan jaringan pulpa gigi dan menghasilkan fiksasi dari jaringan pulpa.
Formokresol dapat diresorbsi lebih cepat kedalam tubuh sebagai akibat pengikatan jaringan.
(6)
b) Glutaraldehid
Bahan cairan glutaraldehid 2% mempunyai bahan fiksasi yang lebih baik dan ringan,
tetapi daya toksik kurang, karena mempunyai dua kelompok aldehid yang berfungsi aktif.
Sifat glutaraldehid adalah kurang antigenik dan mudah dimetabolis oleh tubuh.
c) Formaldehid 37% (Formalin)
Meskipun banyak keberhasilannya telah dibuktikan, bahan pulpotomi pada gigi
sulung ini belum banyak diterima dan dipakai oleh dokter gigi. Penelitian yang pernah
dilakukan membandingkan formaldehid dengan glutaraldehid menyimpulkan bahwa
glutaraldehid adalah bahan fiksasi yang lebih baik dan dapat dipakai dengan konsentrasi
lebih rendah.(6)
E. PERAWATAN SALURAN AKAR PADA GIGI SULUNG
1. Pulpotomi
Pulpotomi adalah pengambilan jaringan pulpa pada bagian koronal gigi yang telah
mengalami infeksi, sedangkan jaringan pulpa yang terdapat dalam saluran akar ditinggalkan.
Pulpotomi bertujuan untuk mempertahankan vitalitas pulpa radikular dan membebaskan rasa
sakit pada pasien dengan pulpagia akut. Kalsium hidroksida pada pulpotomi vital gigi sulung
dapat menyebabkan resorpsi interna. Metode pulpotomi untuk gigi-gigi molar sulung yaitu
vital pulpotomi dengan menggunakan formokresol atau glutaraldehid, dan devitalisasi
pulpotomi.(3,15,20)
mbar 6. Pulpotomi pada gigi sulung
a) Pulpotomi Vital
Pulpotomi vital tindakan pengambilan jaringan pulpa bagian koronal yang mengalami
inflamasi dengan melakukan anestesi, kemudian memberikan medikamen di atas pulpa yang
diamputasi agar pulpa bagian radikular tetap vital. Pulpotomi vital dapat dilakukan pada gigi
sulung dan permanen muda. Pulpotomi gigi sulung tidak menggunakan kalsium hidroksida,

sebab dapat menyebabkan resorbsi interna. Oleh karena itu, pulpotomi vital pada gigi sulung
umumnya menggunakan formokresol atau glutaradehid. Reaksi formokresol terhadap
jaringan pulpa yaitu membentuk area yang terfiksasi dan pulpa di bawahnya tetap dalam
keadaan vital. Pulpotomi vital dengan formokresol dilakukan pada gigi sulung dengan
singkat dan bertujuan untuk mendapat sterilisasi yang baik pada kamar pulpa.(23)
Indikasi pulpotomi vital pada gigi sulung adalah: (6,20)
Gigi tanpa rasa sakit spontan atau persistensi,
Karies yang luas dan masih tertinggal 2/3 panjang akar gigi sulung,
Jika gigi diamputasi tidak terlihat perdarahan yang berlebihan, berwarna merah pucat serta

mudah dikontrol;
Tidak ada abses, fistula, dan tanda resorbsi interna;
Tidak kehilangan tulang intraradikular karena akan menunjukkan kerusakan yang luas dan

memerlukan perawatan pulpektomi;


Pulpa terbuka karena faktor mekanis selama preparasi kavitas yang kurang hati-hati, atau
pulpa terbuka karena trauma tetapi tidak lebih dari 24 jam dan infeksi periapikal belum

ada;
Pada gigi posterior di mana eksterpasi pulpa sulit dilakukan;
Apeks akar belum tertutup sempurna

Kontraindikasi pulpotomi vital adalah: (1,6,23)


Pada gigi yang tidak dapat direstorasi;
Adanya abses atau blackening di bifurkasi;
Resorbsi patologis eksterna akar dan interna akar;
Pembengkakan dari asal pulpa dan fistula;
Gigi permanen pengganti sudah dekat erupsi;
Adanya radiolusen pada daerah periapikal atau interradikuler;
Mobilitas patologik;
Adanya pus pada pulpa yang terbuka.
Rasa sakit spontan atau rasa sakit bila diperkusi maupun palpasi.
Keadaan umum yang kurang baik, di mana daya tahan tubuh terhadap infeksi sangat

rendah.
Perdarahan yang berlebihan setelah amputasi pulpa.
Keuntungan perawatan pulpotomi vital adalah perawatan dapat diselesaikan dalam waktu

singkat, hanya satu sampai dua kali kunjungan; pengambilan pulpa hanya di bagian korona,
hal ini menguntungkan karena pengambilan jaringan pulpa bagian saluran akar sulit karena
adanya mumifikasi; iritasi instrumen atau obat-obatan terhadap jaringan periapikal dapat

dihindari, dan; bila perawatan pulpotomi gagal, maka dapat dilakukan pulpektomi atau
pulpotomi devital.(20)
Tahapan perawatan pulpotomi vital adalah sebagai berikut: (4,6,18,19,23)
1) Rontgen foto, pemberian anestesi lokal, kemudian gigi yang hendak di pulpotomi diberi
isolasi rubber dam;
2) Pengambilan seluruh jaringan karies sebelum membuka kamar pulpa, tujuannya agar tidak
menyulitkan pandangan dalam membedakan jaringan yang sudah mengalami karies bila
terjadi perdarahan pada pulpa dan juga mengurangi kontaminasi bekteri;
3) Membuka atap pulpa bagian mahkota dan menghapus semua jaringan pulpa koronal yang
terkontaminasi dengan ekskavator atau bur bulat dengan kecepatan rendah;
4) Pulpa dipotong sampai muara saluran akar;
5) Ruang pulpa diirigasi dengan aquades untuk menghindari terdorongnya potongan dentin ke
bagian pulpa radikuler;
6) Mengaplikasikan formokresol selama tiga sampai lima menit pada muara saluran akar;
7) Di atas potongan pulpa diletakkan pasta campuran zinc fosfat dan zinc oksida eugenol yang
cepat mengeras, lalu ditumpat dengan tumpatan permanen atau dibuatkan mahkota logam
tahan karat, dan;
8) Gigi yang telah dilakukan perawatan pulpotomi harus diperiksa berulang, baik secara klinis
dan radiografis pada kunjungan berikutnya, yaitu setiap enam bulan sekali;
Gambar 7. Langkah-langkah perawatan pulpotomi vital formokresol satu kali
kunjungan. (1). Ekskavasi karies, (2). Buang atap kamar pulpa, (3). Buang pulpa di kamar
pulpa dengan ekskavator, (4). Pemotongan pulpa di orifis dengan bur bulat kecepatan
rendah, (5). Pemberian formokresol selama 5 menit, (6). Pengisian kamar pulpa dengan
campuran zinc oksida dengan formokresol dan eugenol, (7). Gigi yang telah di restorasi.
2. Pulpotomi Devital (Mumifikasi)
Pulpotomi devital (mumifikasi) adalah pengambilan jaringan pulpa yang terdapat dalam
kamar pulpa yang sebelumnya telah didevitalisasi, kemudian dengan pemberian obat-obatan,
jaringan pulpa dalam saluran akar ditinggalkan dalam keadaan aseptik dan diawetkan.
Pulpotomi devital dilakukan hanya terbatas pada ruang pulpa. Dalam perawatan pulpotomi
devital, dilakukan devitalisasi gigi (gigi dimatikan) dengan memasukkan bahan tertentu ke
dalam ruang pulpa, kemudian disertai dengan sterilisasi pulpa. Minimal dilakukan dua kali
penggantian obat untuk sterilisasi, bila pada kunjungan berikut sudah tidak ada rasa sakit,

maka ruang pulpa diberi obat mumifikasi dan pada kunjungan berikutnya lagi bisa ditumpat
permanen.(20,25)
Indikasi untuk perawatan pulpotomi devital yaitu: (20)
Gigi sulung dengan pulpa vital yang terbuka karena karies atau trauma;
Pasien dengan perdarahan yang abnormal, misalnya hemofili;
Kesulitan dalam membuang semua jaringan pulpa pada perawatan pulpektomi terutama

pada gigi posterior;


Bila pulpotomi vital sulit dilakukan, misalnya kesulitan untuk melakukan anestesi lokal,

dan;
Gigi yang akarnya bengkok, atau lokasi gigi sukar untuk dilakukan pulpektomi.

Kontra indikasi perawatan pulpotomi devital adalah: (23)


Kerusakan gigi bagian koronal yang besar sehingga restorasi tidak mungkin dilakukan;
Infeksi periapikal, apeks masih terbuka, dan;
Adanya kelainan patologis pulpa secara klinis maupun rontgenologis.
Tahapan perawatan pulpotomi devital adalah sebagai berikut: (23)
Kunjungan pertama :
1)Rontgen foto;
2)Isolasi daerah kerja dengan rubber dam;
3)Karies disingkirkan kemudian pasta devital paraformaldehid dengan kapas kecil diletakkan
di atas pulpa;
4)Tutup dengan tambalan sementara, hindarkan tekanan pada pulpa, dan;

5)Orang tua diberitahu untuk memberikan analagesik sewaktu waktu jika timbul rasa sakit;
1)
2)
3)
4)
5)

Kunjungan kedua (setelah 7 10 hari) :


Diperiksa tidak ada keluhan rasa sakit atau pembengkakan;
Diperiksa apakah gigi goyang;
Gigi diisolasi dengan rubber dam;
Tambalan sementara dibuka, kapas dan pasta paraformaldehid dilepas;
Membuka atap pulpa, kemudian menghilangkan jaringan yang nekrosis dalam kamar

pulpa;
6) Bagian yang diamputasi ditutup dengan campuran zinc oksida eugenol pasta atau
formokresol, dan;
7) Tutup ruang pulpa dengan semen fosfat, kemudian di restorasi.
Gambar 8. Tahap-tahap pulpotomi devital (Mumifikasi)
2. Pulpektomi
Pulpektomi adalah suatu tindakan pembuangan jaringan nekrotik dan saluran akar gigi
sulung yang pulpanya nonvital atau mengalami radang kronis. Tujuannya adalah untuk
menghilangkan infeksi dan mempertahankan fungsi gigi sulung hingga waktunya tanggal
tanpa membahayakan benih gigi permanen dan kesehatan anak.(4,7)
Indikasi perawatan pulpektomi adalah: (4,27)
Gigi sulung dengan pulpitis ireversibel, atau gigi yang semula akan dilakukan pulpotomi
tapi ternyata pulpa menunjukkan tanda-tanda pulpitis ireversibel (misalnya, perdarahan
berlebihan yang tidak dapat dikendalikan dengan kapas dalam beberapa menit, sehingga

harus dilakukan pulpektomi);


Inflamasi kronis atau nekrosis pulpa (misalnya, suppration, purulence);
Tidak ada resorpsi internal, resorbsi eksternal masih terbatas;
Kegoyangan gigi minimal, dan;
Tidak ada gigi permanen pengganti.

Kontraindikasi pulpektomi gigi sulung yaitu: (4,7)


Pada gigi dengan kerusakan yang luas dan tidak dapat direstorasi;
Panjang akar kurang dari 2/4 disertai resorbsi internal atau eksternal;

Kelainan pada pulpa yang menyebabkan dasar pulpa terbuka ke arah furkasi;

Infeksi periapikal yang melibatkan benih gigi pengganti, dan;

Pasien dengan penyakit kronis.

Ada dua macam pulpektomi gigi sulung yaitu: pulpektomi parsial dan pulpektomi
menyeluruh.
1. Pulpektomi parsial
Pulpektomi parsial dilakukan pada gigi sulung bila jaringan pulpa bagian koronal dan dalam
saluran akar masih vital tetapi menunjukkan gejala klinis hiperemia, atau bila perdarahan pada
pemotongan pulpa yang tidak dapat dikontrol. Prosedur ini dapat dilakukan dalam satu kali
kunjungan.(4)
Teknik perawatan pulpektomi parsial yaitu: (4)
a. Rontgen foto;
b. Pemberian anestesi lokal, lalu gigi diisolasi dengan rubber dam;
c. Membuang semua jaringan karies dan seluruh atap pulpa, lalu jaringan pulpa bagian koronal
diambil dengan eskavator atau bur bulat;
d. Sisa jaringan dibersihkan dan diirigasi, lalu dikeringkan;
e. Jaringan pulpa dalam saluran akar diambil dengan jarum eksterpasi yang dimasukkan dengan
perlahan-lahan sampai dirasakan adanya hambatan untuk masuk lebih dalam;
f. Saluran akar dilebarkan dengan file untuk memudahkan pengisian saluran akar, dan didirigasi
berulang-ulang dengan larutan NaOCL agar sisa debris hilang;
g. Saluran akar dikeringkan dengan paper point, dan diisi dengan bahan pengisian yang dapat
mengalami resorbsi dengan menggunakan jarum lentulo, pressure syringe, file, atau kondensor
amalgam, dan;
h. Di atas bahan pengisi saluran akar diletakkan dasar semen, lalu gigi direstorasi permanen.
2. Pulpektomi Lengkap
Pulpektomi lengkap atau menyeluruh dilakukan untuk merawat gigi sulung nonvital, dan
dilakukan dalam beberapa kali kunjungan. Bila gigi goyang, terdapat pembengkakan atau fistula,
terdapat pus pada saluran akar, atau instrumetasi saluran akar tidak boleh dilakukan pada
kunjungan pertama.(4)
Teknik perawatan pulpektomi menyeluruh adalah sebagai berikut: (4,28)
a. Pada kunjungan pertama, dilakukan perkusi pada gigi yang akan dirawat, bila terdapat abses,
fistula, atau reaksi positif terhadap perkusi, pulpa segera harus dibuka untuk drainase dan
meredakan rasa sakit;
b. Abses yang berfluktuasi diinsisi dan fistula yang menonjol dieksisi;
c. Pada kunjungan berikutnya gigi diisolasi dengan rubber dam, lalu semua jaringan karies
dibuang;
d. Jaringan pulpa pada mahkota diambil dan jaringan nekrotik dibersihkan,
e. Kavitas diirigasi dengan aquades, kemudian ruang pulpa diisi dengan kapas yang dibasahi
dengan obat antibakteri, seperti CHKM, kresofen, lalu ditutup dengan tumpatan sementara;

f. Pada kunjungan berikutnya, setelah ruang pulpa kering dan semua gejala hilang, tumpatan
sementara dibuka, kemudian saluran akar diisi dengan pasta seperti pada pulpektomi parsial,
untuk mengetahui apakah pengisian saluran akar sudah baik, digunakan radiogram, dan;
g. Di atas bahan pengisi saluran akar diletakkan lapisan dasar semen, lalu direstorasi permanen.