Anda di halaman 1dari 2

Peran Iklim Bagi Kemajuan Bangsa

Saya adalah seorang klimatologis yang bekerja di Balai Besar wilayah III BMKG di Denpasar
sebelumnya. Setelah lulus seleksi fit and proper test dosen Sekolah Tinggi Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika (STMKG), saya pindah ke Tangerang Selatan sebagai calon dosen
STMKG di bidang Klimatologi. Bagi sebagian orang ini adalah keputusan yang mengejutkan.
Banyak orang yang berharap bisa pindah ke kampung halaman mereka namun saya malah
meninggalkan
tempat
saya
lahir
dan
dibesarkan.
Generasi baru adalah tunas-tunas yang akan menggantikan ranting-ranting yang mengering.
Menjaga mereka agar tetap bertahan dan tumbuh menjadi batang yang rimbun membutuhkan
kesabaran, keuletan, dan ketekunan. Seorang guru saya pernah berkata bahwa seorang pendidik
yang berhasil adalah pendidik yang mampu membuat anak didiknya jauh lebih berhasil daripada
dirinya. Ketika dia gagal memenuhi hal ini, maka generasi berikutnya akan mundur dan
tertinggal dari generasi sebelumnya. Menjadikan seseorang lebih hebat daripada diri kita benarbenar bertentangan dengan ego manusia. Namun begitulah seorang pendidik, menjaga,
menumbuhkan, agar tunas yang baru lebih baik daripada tunas sebelumnya termasuk lebih baik
dari pendidiknya. Saya pun berharap dapat menjadi pendidik seperti itu.
Selama menjadi bagian BMKG sebagai klimatologis, saya semakin memahami bahwa informasi
cuaca dan iklim merupakan informasi penting yang dapat membantu orang banyak. Salah satu
contohnya adalah pengurangan dampak bencana. Di Indonesia, kebanyakan bencana yang terjadi
ternyata adalah bencana hidrologis (banjir, tanah longsor, kekeringan, putting beliung, dll).
Selain mempelajari mengenai hal ini saya juga sempat memberikan sosialisasi mengenai hal ini
ke sekolah-sekolah bersama dengan badan lainnya (BPBD, SAR, dll). Mereka sangat antusias
mendengarkan apa yang disampaikan. Di bidang keselamatan pariwisata, saya sempat ikut
melakukan audit kesiapsiagaan bencana di hotel-hotel besar di Bali.
Saya juga sempat melakukan penelitian bersama mengenai perkembangan dan perubahan
keadaan iklim di Indonesia khususnya provinsi Bali. Di dalam penelitian tersebut terlihat bahwa
ke depannya kota Tabanan, Denpasar, Badung, dan Gianyar akan mengalami semakin banyak
hujan ekstrim namun kejadian hujan yang semakin sedikit. Hal ini memberikan pemahaman
bahwa hujan semakin jarang namun ketika turun, hujan akan jauh lebih deras daripada rata-rata
keadaan sebelumnya. Wilayah tersebut memiliki kecenderungan semakin rentan terhadap banjir
dan tanah longsor sekaligus kekeringan. Penelitian saya yang lain mengenai penjalaran awal
monsun di Indonesia dan analisa kejadian kebakaran hutan di provinsi Bali tahun 2012. Dengan
melakukan beberapa penelitian ini saya memahami bahwa resiko bencana dapat diperkirakan
sehingga masyarakat dapat siap menghadapinya ketika bencana itu datang.
Di samping kebencanaan, ilmu iklim juga memberikan informasi mengenai pengembangan
pertanian, perkebunan, transportasi, serta perekonomian. Informasi dengan kualitas baik akan
membantu masyarakat bahkan membantu pemerintah untuk merancang kebijaksanaan di
berbagai sektor rill. Isu perubahan iklim yang kini sudah mendunia juga menjadi bagian dari
tantangan masyarakat dewasa ini. Berhasil atau tidaknya masyarakat melakukan mitigasi dan
adaptasi perubahan iklim bergantung dari informasi iklim yang diberikan kepada mereka.

Sayangnya di balik peran ini, ilmu iklim merupakan ilmu yang langka di Indonesia. Sejauh ini
iklim terapan hanya diajarkan di IPB dan STMKG. Saya berharap di masa depan saya dapat
mendidik ahli-ahli iklim yang akan menjadi bagian dari BMKG dalam melaksanakan tugas
pentingnya bagi masyarakat melalui STMKG. Kualitas pendidikan yang baik saya harapkan
didapatkan oleh calon-calon ahli iklim di Indonesia. Yang lebih penting adalah usaha untuk
mengembangkan ahli-ahli iklim ini menjadi ahli iklim yang lebih baik daripada generasi
sebelumnya. Mereka akan dididik menjadi professional yang mampu untuk menghadapi
tuntutan-tuntutan di bidang iklim.