Anda di halaman 1dari 8

Makalah Terapi Komplementer Pada Hipertermia

Nama :
1. Yusuf Al Farisi (20110320125)
2. Eka Saputra (20110320170)

Program Studi Pendidikan Ners


Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
2015

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Terapi Komplementer dalam tugas Keperawatan Gadar II ini
dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka
menambah wawasan serta pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Yogyakarta, Juni 2015

Penyusun

A. Tinjauan Teori
1. Hipertermi
Hipertermi merupakan keadaan ketika individu mengalami atau berisiko
mengalami kenaikan suhu tubuh <37,8oC (100oF) per oral atau 38,8oC (101oF) per
rektal yang sifatnya

menetap karena faktor eksternal (Lynda Juall, 2012)

sedangkan, menurut buku diagnosa keperawatan NANDA (2012) hipertermi


adalah peningkatan suhu tubuh di atas kisaran normal. Hipertermi dapat
disebabkan karena gangguan otak atau akibat bahan toksik yang mempengaruhi
pusat pengaturan suhu. Zat yang dapat menyebabkan efek perangsangan terhadap
pusat pengaturan suhu sehingga menyebabkan demam yang disebut pirogen. Zat
pirogen ini dapat berupa protein, pecahan protein, dan zat lain. Terutama toksin
polisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksi/ pirogen yang dihasilkan dari
degenerasi jaringan tubuh dapat menyebabkan demam selama keadaan sakit.
Faktor penyebabnya :

Proses

Dehidrasi
Penyakit atau trauma
Ketidakmampuan atau menurunnya kemampuan untuk berkeringat
Pakaian yang tidak layak
Kecepatan metabolisme meningkat
Pengobatan/ anesthesia
Terpajan pada lingkungan yang panas (jangka panjang)
Aktivitas yang berlebihan
terjadinya

hipertermi

sendiri

dikarenakan

substansi

yang

menyebabkan demam disebut pirogen dan berasal baik dari oksigen maupun
endogen. Mayoritas pirogen endogen adalah mikroorganisme atau toksik, pirogen
endogen adalah polipeptida yang dihasilkan oleh jenis sel penjamu terutama
monosit, makrofag, pirogen memasuki sirkulasi dan menyebabkan demam pada
tingkat termoregulasi di hipotalamus.
Peningkatan kecepatan dan pireksi atau demam akan mengarah pada
meningkatnya kehilangan cairan dan elektrolit, padahal cairan dan elektrolit

dibutuhkan

dalam

metabolisme

di

otak

untuk

menjaga

keseimbangan

termoregulasi di hipotalamus anterior.


Apabila seseorang kehilangan cairan dan elektrolit (dehidrasi), maka
elektrolit-elektrolit yang ada pada pembuluh darah berkurang padahal dalam
proses metabolisme di hipotalamus anterior membutuhkan elektrolit tersebut,
sehingga kekurangan cairan dan elektrolit mempengaruhi fungsi hipotalamus
anterior dalam mempertahankan keseimbangan termoregulasi dan akhirnya
menyebabkan peningkatan suhu tubuh. Manifestasi klinisnya sendiri berupa :

Suhu tinggi 37,8oC (100oF) per oral atau 38,8oC (101oF)

Takikardia

Hangat pada sentuhan

Menggigil

Dehidrasi

Kehilangan nafsu makan

2. Terapi Komplementer
Istilah terapi modalitas dalam ilmu keperawatan lebih dikenal dengan
terapi komplementer, terapi alternativ, terapi holistis, terapi nonbiomedis,
pengobatan integratif atau perawatan kesehatan, perawatan nanalopati, dan
perawatan nontradisional. Terapi modalitas merupakan metode pemberian terapi
yang menggunakan kemampuan fisik atau elektrik. Terapi modalitas bertujuan
untuk membantu proses penyembuhan dan mengurangi keluhan yang dialami
klien ( lundy dan jenes , 2009). Terapi komplementer adalah istilah untuk terapi
yang bukan bagian dari tepi medis kofensional.
Terapi komplementer atau terapi modalitas di akui sebagai upaya
kesehatan nasional oleh nasional center for complementary/ alternative medicine
(NCCAM) di amerika. Penggunaan istilah komplementer disebabkan karena

pemakaian bersama terapi lain, bukan sebagai pengganti dan pengobatan


biomedis. Terapi komplementer juga digunakan dalam praktik keperawatan
profesional sebagai terapi alternativ di beberapi klinik keperawatan, misalnya
latihan relaksasi oto progesif pada penanganan klien dengan epilepsi yang
menyertai penggunaan obat antiepilepsi. Study menunjukkan bahwa penggunaan
relaksasi otot progesif dapat meningkatkan kontrol kejang ( whaitma dkk., 1990).
Namun demikian, tera[i komplkementer dapat digunakan mandiri atau tidak
berhubungan dengan terapi biomedis karena di posisikan sebagai upaya promosi
kesehatan, misalnya klien dpijat secara rutin untuk mencegah munculnya stres.
Terapi komplementer merupakan terapi holistis atau terapi nonbiomedis.
Hasil penelitian tentang psikoneuroimunologi mengungkapkan bahwa proses
interaktif pada manusia dengan tubuh, pikiran, dan interaksi sosial mempengaruhi
kesejahteraan seseorang. NCCAM. Menetapkan bahwa terapi komplementer
secara garis besar di dasarkan sebagai kategori terapi pikiran penghubung tubuh
(mind body terapies) sementara terapi biomedis lebih banyak mempengaruhi
seluruh tubuh dan berfokus pada dampak terapi terhadap pengibatan atau
penanganan masalah fisik. Sebagai contoh, pada terapi biomedis, evaluasi efek
obat antihipertensi hanya ditentukan melalui tekanan darah dan tidak
memperhatikan bagaimana obat mempengaruhi alam rohani dan psikologis.
NCCAM mendefinisikan terapi komplementer adalah suatu penyembuhan
yang mencakup sistem kesehatan, modalis, praktik dan teori serta keyakinana dari
masyarakat atau budaya dalam periode secara tertentu . CAM mencakup semua
praktik serta ide ide yang dimaknai sebagai upaya mencegah atau mengobati
penyakit atau mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan .

B. Pembahasan Jurnal

Hipertermi merupakan peningkatan suhu tubuh melebihi set poin (suhu


tubuh normal) 37 celcius. Suhu tubuh keseimbangan antara produksi panas oleh
tubuh dan pelepasan panas dari tubuh . Hipertermi biasanya disebabkan oleh
faktor eksogen berupa proses infeksi penyakit yang berbeda. Kompres
menggunakan air merupakan metode pemeliharaan suhu tubuh yang bermanfaat
untuk

menurunkan suhu tubuh memaksimalkan pengeluaran panas secara

konduksi,konveksi maupun evaporasi. Beberapa referensi penelitian terdahulu


menunjukkan efektifitas dari kompres itu sendiri, namun di masyarakat masih
terjadi kebingungan informasi mengenai penggunaan air untuk mengompres yang
lebih efektif.
Dalam

jurnal

Efekfitas

Kompres

Dingin

dan

Hangat

Pada

Penatalaksanaan Demam membandingkan perbedaan kompres air hangat dan air


dingin. Dari hasil penelitian bahwa melakukan kompres dengan air dingin lebih
efektif pada pasien dengan hipertermi. Pada pasien hipetermia tubuh melakukan
penurunan produksi panas dengan vasodilatasi, berkeringat, dan usaha
peningkatan pengeluaran panas , pada kondisi air dingin dengan cepat membantu
menurunkan suhu pada area kulit dan tidak bertentangan dengan cara kerja tubuh.
Berkebalikan bagi pasien demam, kompres air dingin berlawanan dengan
sistem tubuh saat demam tubuh akan terjadi peningkatan set poin dikarenakan
adanya infeksi bakteri/virus yang merangsang sel PMN untuk menghasilkan
pirogen endogen. Pirogen merupakan substansi yang menyebabkan terjadinya
demam. Kompres dingin menghalangi pengeluaran panas dan meningkatkan
produksi panas (menggigil, vasokontriksi). Pada pasien dengan demam lebih
cocok digunakan kompres air hangat, kompres hangat akan menghambat
terjadinya

proses menggigil, menginduksi vasodilatasi perifer, sehingga

meningkatkan pengeluaran panas tubuh. Hal ini sesuai dengan proses mekanisme
tubuh saat terjadi demam.

C. Kesimpulan

Dari Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan terapi


kompres dingin akan sangat efektif bagi pasien hipertermia karena tidak
bertentangan dengan mekanisme tubuh saat terjadi hipertermia dalam usaha
meningkatkan pengeluaran panas. Sebaliknya, kompres dingin tidak cocok bagi
pasien

demam

karena

pada

pasien

demam

tubuh

akan

mempertahankan/menurunkan suhu dalam batas normal sesuai dengan kondisi


lingkungan, sedangkan kompres dingin akan meningkatkan panas dan
menghambat terjadinya pengeluaran panas. Pada pasien demam, kompres air
hangat lebih dianjurkan. Yang perlu dipahami bahwa hipertermi dan demam
berlawanan cara kerja mekanisme termoregulasinya, hipertermi tidak diikuti
dengan demam sedangkan demam selalu diikuti dengan hipertermi.

Daftar Pustaka

Asmadi. 2008. Tehnik Prosedural Keperawatan: Konsep Aplikasi


Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta : Salemba Medika.
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8.
Definisi dan Klasifikasi. Jakarta : EGC.
Doengoes, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman
untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta
: EGC.
Herlman, T. Heather.2012. NANDA International Diagnosis
Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC.
Susanti,Nurlaili,. 2012.Efekfitas Kompres Dingin dan Hangat Pada
Penatalaksanaan Demam. Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki
Malang.