Anda di halaman 1dari 7

TAMBAHAN METODE ANALISIS

F. Metode Analisis Peta


Analisis peta yang paling mendasar digunakan dalam analisis
perencanaan tata ruang adalah Metode overlapping untuk berbagai peta
tematik yang dibutuhan sesuai dengan tujuan analisis. Metode analisis
peta / spasial dilakukan dengan mengolah data spasial sistem informasi
geografi (SIG). Karakteristik utama SIG adalah kemampuan menganalisis
sistem seperti analisa statistik dan overlay yang disebut analisa spasial.
Analisa dengan menggunakan SIG yang sering digunakan dengan istilah
analisis spasial, tidak seperti sistem informasi yang lain yaitu dengan
menambahkan dimensi ruang atau geografi. Kombinasi ini
menggambarkan atribut-atribut pada bermacam fenomena (Keele, 1997).
G. Metode Analisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL)
Metode analisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL) terdiri atas SKL
Morfologi, SKL Kemudahan Dikerjakan, SKL Kestabilan Lereng, SKL
Kestabilan Fondasi, SKL Ketersediaan Air, SKL untuk Drainase, SKL
terhadap Erosi, SKL Pembuangan Limbah, dan SKL terhadap Bencana
Alam.
1. SKL Morfologi
Morfologi berarti bentang alam. SKL morfologi dilakukan dengan
tujuan memilah bentuk betang alam/morfologi pada wilayah dan/atau
kawasan perencanaan yang mampu untuk dikembangkan sesuai
dengan fungsinya. Pada analisis SKL morfologi dibutuhkan data peta
morfologi dan peta kemiringan lereng. Keluaran dari SKL ini adalah
peta SKL morfologi potensi dan kendala untuk tiap kelas morfologi.
Kemampuan lahan dari morfologi tinggi berarti kondisi morfologis
suatu kawasan kompleks. Morfologi kompleks berarti bentang alamnya
berupa gunung, pegunungan, dan bergelombang. Akibatnya,
kemampuan pengembangannnya sangat rendah sehingga sulit
dikembangkan dan atau tidak layak dikembangkan. Lahan seperti ini
sebaiknya direkomendasikan sebagai wilayah lindung atau budi daya
yang tak berkaitan dengan manusia, contohnya untuk wisata alam.
Morfologi tinggi tidak bisa digunakan untuk peruntukan ladang dan
sawah. Sedangkan kemampuan lahan dari morfologi rendah berarti
kondisi morfologis tidak kompleks. Ini berarti tanahnya datar dan
mudah dikembangkan sebagai tempat permukiman dan budidaya.

Analisis SKL Morfologi


MORFOLOGI
Gunung/Pegunungan dan
Bukit/Perbukitan
Gunung/Pegunungan dan
Bukit/Perbukitan
Bukit/Perbukitan
Datar
Datar

LERENG
>40%

SKL
Kemampuan lahan dari morfologi
tinggi
24-40%
Kemampuan lahan dari morfologi
cukup
15-25%
Kemampuan lahan dari morfologi
sedang
2-15%
Kemampuan lahan dari morfologi
kurang
0-2%
Kemampuan lahan dari morfologi
rendah
Sumber: Pemen PU No. 20 Tahun 2007

NILAI
1
2
3
4
5

2. SKL Kemudahan Dikerjakan


Bertujuan mengetahui tingkat kemudahan lahan di wilayah dan/atau
kawasan untuk digali/dimatangkan dalam proses
pembangunan/pengembangan kawasan. Pembuatan SKL ini
membutuhkan peta topografi, morfologi, kemiringan lereng, geologi,
geologi permukaan, dan guna lahan eksisting. Keluaran dari SKL ini
adalah peta SKL kemudahan dikerjakan, potensi dan kendala
pengerjaan untuk setiap SKL dan metode pengerjaan yang sesuai
untuk tiap SKL.
3. SKL Kestabilan Lereng
Bertujuan mengetahui tingkat kemantapan lereng di wilayah/kawasan
pengembangan dalam menerima beban. Dibutuhkan peta topografi,
morfologi, kemiringan lereng, gelogi, geologi permukaan, guna lahan
eksisting, curah hujan, karakteristik air tanah, dan data bencana alam
dalam menyusun SKL kestabilan lereng. Keluaran dari SKL ini adalah
peta SKL kestabilan lereng, daerah yang aman untuk dikembangkan
sesuai dengan fungsi kawasan, dan batasan pengembangan pada
tingkat kestabilan lereng.
Kestabilan lereng artinya wilayah tersebut dapat dikatakan stabil atau
tidak kondisi lahannya dengan melihat kemiringan lereng di lahan
tersebut. Bila suatu kawasan disebut kestabilan lerengnya rendah,
maka kondisi wilayahnya tidak stabil. Tidak stabil artinya mudah
longsor, mudah bergerak yang artinya tidak aman dikembangkan
untuk bangunan atau permukiman dan budi daya. Kawasan ini bisa
digunakan untuk hutan, perkebunan dan resapan air. Sebenarnya, satu
SKL saja tidak bisa menentukan peruntukan lahan apakah itu untuk
pertanian, permukiman, dll. Peruntukan lahan didapatkan setelah
semua SKL ditampalkan (overlay) lagi.

Analisis SKL Kestabilan Lereng


GUNA
LAHAN

SKL

NILAI

Tinggi

(sama)

Semak,
belukar,
ladang

Kestabilan
Lereng
Rendah

24-40%

Cukup
Tinggi

(sama)

Kestabilan
Lereng Kurang

15-25%

Sedang

(sama)

Kebun,
hutan
hutan
belukar
Semua

2-15%
0-2%

Rendah
Sangat
Rendah

(sama)
(sama)

Semua
Semua

Kestabilan
Lereng
Sedang
Kestabilan
Lereng Tinggi

LERENG

TINGGI

Gunung/Pegu
nungan dan
Bukit/Perbukit
an
Gunung/Pegu
nungan dan
Bukit/Perbukit
an
Bukit/Perbukit
an

>40%

Datar
Datar

AIR
TANAH
DANGKAL

CURAH
HUJAN

MORFOLOGI

GEOLOGI

Sumber: Pemen PU No. 20 Tahun 2007

4. SKL Kestabilan Pondasi


Kestabilan pondasi artinya kondisi lahan/wilayah yang mendukung
stabil atau tidaknya suatu bangunan atau kawasan terbangun. SKL ini
diperlukan untuk memperkirakan jenis pondasi wilayah terbangun.
Kestabilan pondasi tinggi artinya wilayah tersebut akan stabil untuk
pondasi bangunan apa saja atau untuk segala jenis pondasi.
Kestabilan pondasi rendah berarti wilayah tersebut kurang stabil untuk
berbagai bangunan. Kestabilan pondasi kurang berarti wilayah
tersebut kurang stabil, namun mungkin untuk jenis pondasi tertentu,
bisa lebih stabil, misalnya pondasi cakar ayam.
5. SKL Ketersediaan Air
Bertujuan mengetahui tingkat ketersediaan air dan kemampuan
penyediaan air pada masing-masing tingkatan dan guna
pengembangan kawasan. Data yang dibutuhkan adalah peta
morfologi, kemiringan lereng, geologi, geologi permukaan, guna lahan
eksisting, curah hujan, dan data klimatologi serta hidrologi. Keluaran
SKL ini adalah peta SKL ketersediaan air dan deskripsi tiap tingkatan,
perkiraan kapasitas air permukaan dan air tanah, metode pengolahan
sederhana untuk air yang mutunya tidak memenuhi persyaratan
kesehatan, serta sumber-sumber air yang bisa dimanfaatkan sebagai
sumber air bersih.
Geohidrologi sudah memperlihatkan ketersediaan air. Geohidrologi
sudah ada kelasnya yaitu tinggi, sedang, hingga rendah. Untuk

4
5

melihat ketersediaan air seharusnya menggunakan data primer, tetapi


karena keterbatasan waktu dan dana biasanya pengambilan data
primer tidak dapat dilakukan. Ketersediaan air sangat tinggi artinya
ketersediaan air tanah dalam dan dangkal cukup banyak. Sementara
ketersediaan air sedang artinya air tanah dangkal tak cukup banyak,
tapi air tanah dalamnya banyak.
Analisis SKL Ketersediaan Air
LEREN
G
>40%

Gunung/Pegunungan
dan Bukit/Perbukitan

24-40%

Bukit/Perbukitan

15-25%

GUNA
LAHAN
Semak,
belukar,
ladang
Kebun,
hutan
hutan
belukar
Semua

Datar
Datar

2-15%
0-2%

Semua
Semua

MORFOLOGI
Gunung/Pegunungan
dan Bukit/Perbukitan

GEOLOGI/
GEOHIDROLOGI

HIDROLOGI &
KLIMATOLOGI

SKL

NILAI

Ketersediaan
air sangat
rendah
Ketersediaan
air rendah

Ketersediaan
air sedang
Ketersediaan
air tinggi

4
5

Sumber: Pemen PU No. 20 Tahun 2007

6. SKL Drainase
Bertujuan Mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam mematuskan
air hujan secara alami, sehingga kemungkinan genangan baik bersifat
lokal ataupun meluas dapat dihindari. Data yang dibutuhkan adalah
peta morfologi, kemiringan lereng, topografi, geologi, geologi
permukaan, guna lahan eksisting, curah hujan, dan data klimatologi
serta hidrologi. Keluaran dari SKL ini adalah peta SKL drainase, tingkat
kemampuan lahan dalam proses pematusan, dan daerah-daerah yang
cenderung tergenang di musim hujan. Drainase berkaitan dengan
aliran air, serta mudah tidaknya air mengalir. Drainase tinggi artinya
aliran air mudah mengalir atau mengalir lancar. Drainase rendah
berarti aliran air sulit dan mudah tergenang.
Analisis SKL Drainase
MORFOLOGI

LERENG

TINGGI

Gunung/Pegununga
n dan
Bukit/Perbukitan
Gunung/Pegununga
n dan
Bukit/Perbukitan

>40%

Tinggi

24-40%

Cukup
Tinggi

15-25%

Sedang

Bukit/Perbukitan

GEOLOGI

HIDROLOGI &
KLIMATOLOGI

GUNA
LAHAN
Semak,
belukar,
ladang
Kebun,
hutan
hutan
belukar
Semua

SKL

NILAI

Drainase
Tinggi

Drainase

Datar
Datar

2-15%
0-2%

Rendah
Sangat
Rendah
Sumber: Pemen PU No. 20 Tahun 2007

Semua
Semua

Cukup
Drainase
Kurang

2
1

7. SKL Terhadap Erosi


Bertujuan Mengetahui daerahdaerah yang mengalami keterkikisan
tanah, sehingga dapat diketahui tingkat ketahanan lahan terhadap
erosi serta antisipasi dampaknya pada daerah yang lebih hilir. Data
yang dibutuhkan adalah peta morfologi, kemiringan lereng, geologi,
geologi permukaan, guna lahan eksisting, data hidrologi, dan data
klimatologi. Keluarab SKL ini adalah peta SKL terhadap erosi, deskripsi
batasan pada tiap tingkat kemampuan lahan terhadap erosi, dan
daerah yang peka terhadap erosi serta prakiraan arah pengendapan
hasil erosi pada bagian hilir. Erosi berarti mudah atau tidaknya lapisan
tanah terbawa air atau angin. Erosi tinggi berarti lapisan tanah mudah
terkelupas dan terbawa oleh angin dan air. Erosi rendah berarti lapisan
tanah sedikit terbawa oleh angin dan air. Tidak ada erosi berarti tidak
ada pengelupasan lapisan tanah.
Analisis SKL Erosi
MORFOLOGI

LERENG

Gunung/Pegununga
n dan
Bukit/Perbukitan
Gunung/Pegununga
n dan
Bukit/Perbukitan
Bukit/Perbukitan

>40%

24-40%

15-25%

GUNA
LAHAN
Semak,
belukar,
ladang
Kebun,
hutan hutan
belukar
Semua

Datar

2-15%

Semua

Datar

0-2%

Semua

GEOLOGI

HIDROLOGI &
KLIMATOLOGI

SKL

NILAI

Erosi Tinggi

Erosi
Cukup
Tinggi
Erosi
Sedang
Erosi
Sangat
Rendah
Tidak Ada
Erosi

3
4

Sumber: Pemen PU No. 20 Tahun 2007

8. SKL Pembuangan Limbah


Bertujuan Mengetahui daerahdaerah yang mampu untuk ditempati
sebagai lokasi penampungan akhir dan pengolahan limbah, baik
limbah padat maupun limbah cair. Data yang dibutuhkan adalah peta
morfologi, kemiringan lereng, topografi, geologi, geologi permukaan,
guna lahan eksisting, curah hujan, data hidrologi, dan data klimatologi.
Keluaran dari SKL ini adalah peta SKL pembuangan limbah dan

prioritas lokasi penampungan akhir sampah dan pengelolaan limbah


serta daya tampungnya. SKL pembuangan limbah adalah tingkatan
untuk memperlihatkan wilayah tersebut cocok atau tidak sebagai
lokasi pembuangan. Analisa ini menggunakan peta hidrologi dan
klimatologi. Kedua peta ini penting, tetapi biasanya tidak ada data
rinci yanng tersedia. SKL pembuangan limbah kurang berarti wilayah
tersebut kurang/tidak mendukung sebagai tempat pembuangan
limbah.
Analisis SKL Pembuangan Limbah
GEOLOGI

HIDROLOGI &
KLIMATOLOGI

GUNA
LAHAN
Semak,
belukar,
ladang
Kebun,
hutan
hutan
belukar
Semua

MORFOLOGI

LERENG

TINGGI

Gunung/Pegunungan
dan Bukit/Perbukitan

>40%

Tinggi

Gunung/Pegunungan
dan Bukit/Perbukitan

24-40%

Cukup
Tinggi

Bukit/Perbukitan

15-25%

Sedang

Datar
Datar

2-15%
0-2%

Rendah
Semua
Sangat
Semua
Rendah
Sumber: Pemen PU No. 20 Tahun 2007

SKL

NILAI

Potensi
Bencana Alam
Tiggi

Potensi
Bencana Alam
Cukup
Potensi
Bencana Alam
Kurang

9. SKL Terhadap Bencana Alam


Bertujuan Mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam menerima
bencana alam khususnya dari sisi geologi, untuk
menghindari/mengurangi kerugian dan korban akibat bencana
tersebut. Data yang dibutuhkan adalah peta morfologi, kemiringan
lereng, topogradi, geologi, geologi permukaan, guna lahan eksisting,
data hidrologi, klimatologi, dan bencana alam. Keluaran dari SKL ini
adalah peta SKL terhadap bencana, deskripsi tiap tingkat kemampuan
lahan terhadap bencana alam, dan batasan pengembangan pada
setiap tingkat kemampuan lahan terhadap bencana alam. SKL
bencana alam merupakan pertampalan (overlay) dari lima peta
bencana alam, yaitu:
-

Rawan gunung berapi dan aliran lava


Kawasan rawan gempa bumi dan kawasan zona patahan/sesar
Kawasan rawan longsor dan gerakan tanah
Kawasan rawan gelombang pasang dan abrasi pantai
Kawasan rawan banjir

4
5

Jadi, morfologi gunung dan perbukitan dinilai tinggi pada peta rawan
bencana gunung api dan longsor. Sedangkan lereng datar yang dialiri
sungai dinilai tinggi pada rawan bencana banjir. Penentuan kelas pada
rawan bencana ini ada lima. Kelas 1 artinya rawan bencana alam dan
kelas 5 artinya tidak rawan bencana alam.
Analisis SKL Bencana Alam
GEOLOGI

HIDROLOGI &
KLIMATOLOGI

GUNA
LAHAN
Semak,
belukar,
ladang
Kebun,
hutan
hutan
belukar
Semua

MORFOLOGI

LERENG

TINGGI

Gunung/Pegunungan
dan Bukit/Perbukitan

>40%

Tinggi

Gunung/Pegunungan
dan Bukit/Perbukitan

24-40%

Cukup
Tinggi

Bukit/Perbukitan

15-25%

Sedang

Datar
Datar

2-15%
0-2%

Rendah
Semua
Sangat
Semua
Rendah
Sumber: Pemen PU No. 20 Tahun 2007

SKL

NILAI

Potensi
Bencana Alam
Tiggi

Potensi
Bencana Alam
Cukup
Potensi
Bencana Alam
Kurang

H. Metode Pembobotan
Metode overlay pada analisis spasial tidak begitu saja dapat dilakukan.
Untuk menghasilkan analisis lahan yang akurat dan tepat sesuai dengan
fungsi pemanfaatan, setelah dilakukan overlay diperlukan pembobotan
dari setiap variabel/karakteristik lahan yang dimiliki. Pembobotan ini
bertujuan untuk memberikan proporsi pada masing-masing variabel data
sesuai urgensi dan pengaruhnya, sehingga selanjutnya dihasilkan
klasifikasi lahan berdasarkan konteks analisis dan jenis SKL yang
dibutuhkan.

2
1