Anda di halaman 1dari 73

+

Imunisas
i

Definisi

Imunisasi pasif adalah suatu pemindahan atau transfer


antibodi secara pasif

Vaksinasi adalah imunisasi aktif dengan pemberian


vaksin (antigen) yang dapat merangsang pembentukan
imunitas (antibodi) oleh sistem imun di dalam tubuh

Keuntungan vaksinasi:
Pertahanan tubuh dimiliki seumur hidup
Cost-effective
tidak berbahaya

+
Imunoglobulin
nonspesifik
(gammaglobulin)

Anak dengan def.


Imunoglobulin

Imunoglobulin
spesifik

Anak yang belum


pernah
mendapatkan
vaksinasi, kemudian
terserang penyakit

Memberikan
paparan antigen
dari suatu agen
biologis (ex.
virus)

Infeksi ringan

Imunitas secara
pasif

Vaksinasi

Perlindungan segera
dan cepat, tidak
permanen, hanya
beberapa minggu

Produksi antibodi
dan sel memori

Tujuan
Mendapatkan atau meningkatkan imunitas tubuh

Imunitas

Pasif

Alami

Dari Ibu
Campak,
tetanus

Aktif

Didapat

Alami

Didapat

ATS, ADS

Pasca sakit
Campak,
cacar air

Imunisasi /
vaksinasi

+
Jadwal Imunisasi Menurut IDAI

BCG
(Bacillus Calmette Guerin)

Manfaat: mencegah TBC

Kuman hidup yang dilemahkan (life attenuated vaccine)

Tidak menimbulkan demam

Pemberian:

Suntikan intrakutan: 0,05 mL

Lokasi: pangkal lengan atas kanan

Reaksi lokal: setelah 6-8 minggu luka sembuhnya lama


sikatriks parut (scar)

Reaksi lokal sangat awal beberapa hari

DPT
(Difteri-Pertusis-Tetanus)

Manfaat: mencegah tiga penyakit tersebut

Suntikan intramuskular dalam, 0,5 mL di lengan atas


(deltoid) atau paha

Reaksi umum: kadang-kadang demam (o.k pertusis)


baik DPT maupun DPaT.

Polio

Manfaat: mencegah Poliomielitis

Macam:
a.

Virus hidup yang dilemahkan (sabin) diberikan secara oral 2


tetes

b.

Virus mati (salk) diberikan intramuskular

Campak/Measles/Rubeola

Manfaat: mencegah penyakit campak (virus hidup yang


dilemahkan)

Subkutan 0,5 mL di lengan kiri atas

Reaksi umum: kadang demam ringan 5-7 hari setelah


imunisasi, kadang timbul ruam ringan

Untuk anak yang terlambat/belum mendapat imunisasi


campak, bila saat itu anak berusia 9-12 bulan, berikan
kapan pun saat bertemu. Bila anak berusia > 1 tahun,
berikan MMR. Jika sudah diberi MMR usia 15 bulan,
tidak perlu campak di usia 24 bulan.

Hepatitis B

Manfaat: mencegah hepatitis B (purified surface virus)

Suntikan intramuskular; 0,5 mL

Tidak menimbulkan demam

TIPA

Manfaat: mencegah penyakit demam tifoid dan demam


paratifoid

Umur pemberian:
awal: umur 2 tahun atau lebih
ulang: setiap 3 tahun

Suntikan intramuskular atau subkutan dalam pada


daerah deltoid atau paha

MMR
(Measles-Mumps-Rubella)

Manfaat: mencegah penyakit campak, gondong,


campak jerman

Suntikan intramuskular atau subkutan dalam

Kontroversi kejadian autisme

HIB
(conjugate)

Manfaat: mencegah penyakit infeksi E.C. Hemophilus


influenzae tipe B (meningitis, septisemia, selulitis,
artritis)

Suntikan intramuskular

Varicella
(cacar air)

Manfaat: mencegah infeksi varisela

Suntikan subkutan

Imunisasi Wajib
(DEPKES)

+
Imunisasi
Bakteri

Hidup
Dilemahka
n

Inaktif

BCG
Typhoid Oral

DPT
Pneumokokus
HiB
Typhoid Vi

Virus
Campak
Varicella
Rotavirus
OPV Guerin
Bacillus Calmette
Pemberian:
1X saat lahir
MMR

Optimal: 2-3 bulan


Tidak perlu diulang
Mencegah
komplikasi TBC
Influenza

IPV
Hepatitis
Hepatitis

B
A

+
Imunisasi
Bakteri

Virus

Pemberian: 0x saat lahir


Berisi virus hidup
Hidup
Dilemahka
n

BCG

Typhoid Oral

Inaktif

DPT
Pneumokokus
HiB
Typhoid Vi

Campak
Varicella
Rotavirus
OPV
Pemberian:
ke-1 umur 2
MMR

bulan
Pemberian ke-2 dan 3
selang
minimal 4
Influenza
minggu
IPV
Pemberian ke-4 umur
Hepatitis
B
18 bulan-24
bulan
Pemberian
ke-5 saat
Hepatitis
A
masuk sekolah

+
Imunisasi
Bakteri

Hidup
Dilemahka
n

Virus

Campak
BCG
Varicella
Pemberian: Ke-1
12 jam
Rotavirus
setelah lahir
Typhoid Oral
OPV
Ke-2 1 bulan setelah pertama
MMR kedua
Ke-3 3-5 bulan setelah
Ke-4 Booster setelah 5 tahun

Inaktif

DPT
Pneumokokus
HiB
Typhoid Vi

Influenza
IPV
Hepatitis B
Hepatitis A

+
Imunisasi
Bakteri

Hidup
Dilemahka
n

Virus

Campak
BCG Pemberian: Ke-1Varicella
2 bulan
Ke-2 1-2 bulan
setelah
Rotavirus
pertama
Typhoid Oral Ke-3 umur 6 OPV
bulan
Ke-4 1 tahun dariMMR
pemberian
ketiga
Ke-5 Booster umur lima
Influenza
tahun

Inaktif

DPT
Pneumokokus
HiB
Typhoid Vi

IPV
Hepatitis
Hepatitis

B
A

+
Imunisasi
Bakteri

Hidup
Dilemahka
n

Inaktif

BCG
Typhoid Oral

DPT
Pneumokokus
HiB
Typhoid Vi

Virus
Campak
Varicella
Rotavirus
OPV
Pemberian:
Ke-1 9 bulan
MMR
Ke-2 1-5 tahun

Ke-2 1-5 tahun


Note: Kalau sudah dapat MMR
pemberian
ke 2 tidak usah
Influenza

IPV
Hepatitis
Hepatitis

B
A

Imunisasi Anjuran
Pemerintah
Indonesia

+
Imunisasi
Bakteri

Hidup
Dilemahka
n

Inaktif

BCG
Typhoid Oral

DPT
Pneumokokus
HiB
Typhoid Vi

Virus
Campak
Varicella
Rotavirus
OPV
MMR
Influenza
IPV
Hepatitis B
Hepatitis A

+
Imunisasi
Bakteri

Hidup
Dilemahka
n

Inaktif

BCG
Typhoid Oral

DPT
Pneumokokus
HiB
Typhoid Vi

Virus
Campak
Varicella
Rotavirus
OPV
MMR
Influenza
IPV
Hepatitis B
Hepatitis A

+
Imunisasi
Bakteri

Hidup
Dilemahka
n

Inaktif

BCG
Typhoid Oral

DPT
Pneumokokus
HiB
Typhoid Vi

Virus
Campak
Varicella
Rotavirus
OPV
MMR
Influenza
IPV
Hepatitis B
Hepatitis A

+
Imunisasi
Bakteri

Hidup
Dilemahka
n

Inaktif

BCG
Typhoid Oral

DPT
Pneumokokus
HiB
Typhoid Vi

Virus
Campak
Varicella
Rotavirus
OPV
MMR
Influenza
IPV
Hepatitis B
Hepatitis A

+
Imunisasi
Bakteri

Hidup
Dilemahka
n

Inaktif

BCG
Typhoid Oral

DPT
Pneumokokus
HiB
Typhoid Vi

Virus
Campak
Varicella
Rotavirus
OPV
MMR
Influenza
IPV
Hepatitis B
Hepatitis A

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi


(KIPI)
Klasifikasi
KIPI

Induksi
vaksin

Provokasi
vaksin

Contoh:
Seorang anak
menderita
poliomielitis
setelah mendapat
vaksin polio oral

Contoh:
Contoh:
Kejang demam
pasca imunisasi
yang terjadi pada
anak yang
mempunyai
predisposisi kejang

Kesalahan

Contoh:
Contoh:
Indurasi
Indurasi pada
pada bekas
bekas
suntikan
suntikan disebabkan
disebabkan
vaksin
vaksin yang
yang
seharusnya
seharusnya diberikan
diberikan
secara
secara i.m
i.m diberikan
diberikan
secara
secara s.k
s.k

Koinsidensi

Contoh:
Bayi yang
menderita
penyakit jantung
bawaan mendadak
sianosis setelah
diimunisasi

Jenis Vaksin

Gejala Klinis KIPI

Saat timbul
KIPI

Toxoid (DPT, DT, TT)

a.
b.
c.

Syok anafilaksis
Neuritis brakial
Komplikasi akut termasuk kecacatan dan
kematian

4 jam
2-28 hari
Tidak tercatat

Pertusis whole-cell (DPT, DTP-HB)

a.
b.
c.

Syok anafilaksis
Ensefalopati
Komplikasi akut termasuk kecacatan dan
kematian

4 jam
72 jam
Tidak tercatat

Campak, gondongan, rubella


(MMR atau salah satu komponen)

a.
b.
c.

Syok anafilaksis
Ensefalopati
Komplikasi akut termasuk kecacatan dan
kematian

4 jam
5-15 hari
Tidak tercatat

Rubella

a.
b.

Artritis
Komplikasi akut termasuk kecacatan dan
kematian

7-42 hari
Tidak tercatat

Campak

a.
b.
c.

Trombositopenia
Klinis campak pada resipien imunokompromais
Komplikasi akut termasuk kecacatan dan
kematian

7-30 hari
6 bulan
Tidak tercatat

Polio hidup (OPV)

a.
b.
c.

Polio paralisis
Polio paralisis pada resipien imunokompromais
Komplikasi akut termasuk kecacatan dan
kematian

30 hari
6 bulan
Tidak tercatat

Vaksin berisi polio yang diinaktifasi (IPV)

a.
b.

Syok anafilaksis
Komplikasi akut termasuk kecacatan dan
kematian

4 jam
Tidak tercatat

Hepatitis B

a.
b.

Syok anafilaksis
Komplikasi akut termasuk kecacatan dan
kematian

4 jam
Tidak tercatat

Hib (unconjugated, PRP)

a.
b.

Klinis infeksi Hib


Komplikasi akut termasuk kecacatan dan

7 hari

+
Pengembangan Program
Imunisasi (PPI)

Eradikasi polio (ERAPO)

Eliminasi tetanus maternal dan neonatal (maternal and


neonatal tetanus elimination MNTE)

Reduksi Campak (RECAM)

Peningkatan mutu pelayanan imunisasi

Menetapkan standar pemberian suntikan yang aman


(safe injection practices)

Keamanan pengelolahan limbah tajam (safe waste


disposal management)

+
Eradikasi Polio (ERAPO)

Mencapai cakupan imunisasi rutin yang tinggi dan


merata

Melaksanakan imunisasi tambahan (PIN) minimal 3


tahun berturut-turut.

Surveilans acute flaccid paralysis

Melaksanakan mopping up

Sertifikasi Polio

27 Maret 2014 Indonesia Bebas Polio oleh WHO

+
Eliminasi Tetanus Neonatorum

Tujuan : membebaskan Indonesia dari penyakit tetanus


neonatorum

Meningkatkan
status imunisasi TT ibu hamil,
pertolongan persalinan, dan perawatan tali pusat

Imunisasi TT pada anak SD kelas VI, calon pengantin


wanita, dan ibu hamil.

Pelatihan dan pembinaan dukun bayi.

+
Reduksi Campak

Target : penurunan 90% kasus dan 90% kematian


akibat campak dibandingkan dengan keadaan sebelum
imunisasi campak

Kendala:

Cakupan imunisasi sudah 80%


kesakitan campak masih tinggi

Pemberian imunisasi campak rutin 1 dosis ternyata


tidak cukup diperlukan imunisasi campak ke 2.

namun

angka

+
Reduksi Campak (2)
Strategi Kementrian Kesehatan:

Cakupan imunisasi harus 90% + Vitamin A 100.000 IU


(9 11 bulan) dan 200.000 IU (1-5 tahun)

Sweeping di desa dengan cakupan rendah

Crash program campak untuk mencegah KLB

Melakukan ring vaksinasi pada setiap KLB campak pada


sekitar desa KLB

Melakukan catch-up campaign pada anak sekolah


tingkat dasar (Kelas I) di seluruh Indonesia.

Cool Box
Untuk Menyimpan Vaksin

Penyimpanan vaksin
Di Tingkat Propinsi : kmr dingin & kmr
beku
Suhu kamar dingin: +2 s/d +8 C
Suhu kamar beku: -15 s/d -25 C
Di Kabupaten dan Pelayanan Primer
Jarak lemari es dengan dinding belakang
15 cm
Lemari es tidak terkena sinar matahari
langsung
Sirkulasi ruangan cukup
Penyusunan vaksin
Jarak menyusun dos vaksin 1-2 cm atau
satu jari antar dos vaksin

Plastik penetes (dropper) Polio


JANGAN disimpan di lemari es
krn jadi rapuh, mudah robek

Masa simpan vaksin belum dipakai


Vademicum Bio Farma Jan.2002

Jenis Vaksin

Suhu Penyimpanan

Umur Vaksin

BCG

+2 s/d +8C
-15s/d -25C

1 tahun
1 tahun

DPT

+2 s/d +8C

2 tahun

Hepatitis B

+2 s/d +8C

26 bulan

TT

+2 s/d +8C

2 tahun

DT

+2 s/d +8C

2 tahun

OPV

+2 s/d +8C
-15 s/d -25C

6 bulan
2 tahun

Campak

+2 s/d +8C
-15 s/d -25C

2 tahun
2 tahun

Penyediaan vaksin dan alatalat


Vaksin

+ pelarut khusus

termos,

ice-packed, es batu

peralatan

vaksinasi (alat cuci tangan,


pemotong ampul, alat suntik sekali
pakai, kapas alkohol, plester, kotak
limbah)

Alat

penanganan kedaruratan
(adrenalin, kortikosteroid, selang dan
cairan infus, oksigen),

Pencatatan

vaksinasi

: Buku KIA, KMS, blangko

Uji Kocok (Shake


Vaksin pernah beku
Vaksin tidak pernah beku Test)

Setelah dikocok

Setelah 15 menit

Setelah 30 menit

Setelah 60 menit
Boleh digunakan

Jangan digunakan

Anamnesis / KIE
Cek

identitas, vaksinasi yang telah


didapat
Umur, jarak dgn vaksinasi
sebelumnya
Informed consent : manfaat dan KIPI
Indikasi kontra, perhatian khusus,
penyakit, obat
KIPI vaksinasi sebelumnya
Penanggulangan KIPI seandainya
terjadi
Rutin pediatrik

Asupan nutrisi, miksi, defekasi, tidur


Pertumbuhan dan perkembangan

Jadwal

vaksinasi berikutnya

+
Informed consent (1)
Di

Amerika, Australia : belum ada


ketentuan pasien atau keluarganya harus
menanda tangani pernyataan mengerti
dan menyetujui

Di

Indonesia (Permenkes no. 585 /1989


ttg Persetujuan Tindakan Medik)
pernyataan tertulis hanya untuk
tindakan diagnostik atau terapeutik ,
vaksinasi belum perlu pernyataan tertulis

Boleh

meminta tanda tangan dari


orangtua atau pengasuh bahwa telah
diberikan informasi, dimengerti dan
menyetujui vaksinasi

+
Informed Consent (2)

Penjelasan tentang manfaat dan risiko vaksinasi


disampaikan dengan empathy

Bukan dengan cara menghakimi (non-judgmental


approach)

Gunakan istilah awam dan sederhana

Indikasi Kontra Vaksin


Umum

(untuk semua vaksin)

Reaksi

anafilaksis
Sakit sedang atau berat
Khusus
DTP

/ DTPa : ensefalopati dalam 7 hari


pasca vaksinasi DPT/DTPa
OPV dan varisela: anafilaksis terhadap
neomisin atau gelatin, kehamilan,
imunodefisiensi (keganasan,tumor
padat, kongenital, terapi
imunosupresan, infeksi HIV)
Hepatitis B : anafilaksis terhadap ragi

+
Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan umum

Pemeriksaan khusus

Mencari indikasi kontra atau hal-hal yang perlu diperhatikan

bekas vaksinasi terdahulu

Lokasi vaksinasi yang akan dikerjakan

Persiapan pemberian vaksin


Cuci

tangan dengan antiseptik

Baca

nama vaksin, tanggal kadaluwarsa,

Teliti

kondisi vaksin apakah masih layak : warna


indikator VVM,

Kocok
Alat

: penggumpalan, perubahan warna

suntik : sekali pakai

Encerkan
Ukuran
Pasang

dan ambil vaksin sebanyak dosis

jarum : ketebalan otot bayi / anak

dropper polio dengan benar

Vaksin Vial Monitor

Pemantau vaksin berupa label bergambar yang


dilekatkan pada botol vaksin untuk mencatat paparan
panas kumulatif yang berlebihan.

Pengaruh gabungan dari waktu dan suhu


menyebabkan monitor berubah warna secara
berangsur-angsur dan tidak akan berubah lagi pada
suhu tinggi.

A vaksin ini dapat digunakan


B vaksin ini harus segera
digunakan
C vaksin ini jangan digunakan lagi
D vaksin ini jangan digunakan lagi

Batch Number Dicatat dibuku imunisasi anak

Masa Pemakaian Vaksin

IPV

Penempatan alat
untuk memudahkan vaksinasi
Kotak
pembuangan jarum
bekas
Form R&R

Kotak
pembawa
vaksin

Kursi pasien

Air & sabun


untuk cuci
tangan

Tempat
sampah
Kursi vaksinator
Gambar Alur Kerja Vaksinator

Ukuran jarum
Intramuskular di paha mid-anterolateral
Neonatus
kurang

bulan / BBLR
: 5/8 inch (15,8 mm)
cukup bulan
: 7/8 inch (22,2 mm)

1 24 bulan

: 7/8 1 inch

(22,2-25,4 mm)

Intramuskular di deltoid

> 2 thn (tergantung ketebalan otot)


7/8 1,25 inch (22,2 -31,75 mm)

Usia

sekolah dan remaja : 1,5 inch

(38,1mm)

+ Mengatasi ketakutan dan


nyeri
Jangan menakut-nakuti anak
Empati,
Diajak
Bayi

jangan dipaksa dengan dipegang kuat

bicara, dielus-elus, ditenangkan

baru lahir : diberi sukrosa dilidahnya

Tekan

10 detik sebelum disuntik

Spray

pendingin (etil klorid) =EMLA

Tempel

es batu 1 2 detik tidak direkomendasikan

Krim

EMLA (Eutetic Mixture of Local Anesthesia) 1 jam


sebelum penyuntikan, efek sampai 24 jam

Lidocaine

topikal : 10 menit sebelum disuntik

Anak

: bernafas dalam, tiup baling-baling, ajak bicara,


bacakan cerita, musik

Dipijat

atau digoyang-goyang sesudah vaksinasi

Penyuntikan dan penetesan


vaksin
Bicara

pada bayi dan anak

Tentukan
Posisi

lokasi penyuntikan : paha, lengan

bayi / anak : nyaman dan aman

Desinfeksi
Pegang;

peregangan kulit, cubitan

Penyuntikan:
Tetesan:

dosis, sudut, cara

dosis, hati-hati dimuntahkan

Penekanan

bekas suntikan

Membuang

alat suntik bekas

Penulisan

disediakan

tanggal vaksinasi di kolom yang sudah

Teknik dan posisi


penyuntikan
Bayi digendong pengasuh,
Anak

dipeluk menghadap pengasuh (chest


to chest)

Otot

yang akan disuntik : lemas (relaks)

Tungkai

: sedikit rotasi ke dalam

Lengan

: sedikit fleksi pada sendi siku

Anak

dipersilahkan memilih lokasi suntikan

Metode

Z tract : sebelum jarum disuntikkan


geser kulit dan subkutis ke samping, setelah
disuntik kemudian lepaskan

Jarum
Bila

disuntikan dengan cepat

suntikan lebih dari 1 kali, disuntikan


bersamaan

Posisi anak ketika divaksinasi


Lengan yg satu
dijepit ketiak ibu

Tungkai anak
dijepit paha ibu

Tangan yg lain
dipegang ibu,
Kemudian anak
dipeluk

+
Posisi anak ketika di vaksinasi
Tangan kiri
Dijepit ketiak ibu

Tangan dipegang

suntik

Posisi Anak kurang aman

Tangan bebas
Bisa meraih jarum

suntik

suntik
Kaki bebas
Bisa berontak

Posisi bayi dalam


pelukan ibu pada
penyuntikan BCG

+
Penetesan vaksin polio

Teknik Penyuntikan dan


Penetesan
Intramuscular
e.g. hepatitis A and B,
DTP

Subcutaneous
e.g. measles, mumps,
rubella, varicella

Intradermal
Oral
e.g. polio

BCG

+
Pencatatan

Nama dagang, produsen,

No. lot / seri vaksin,

Tgl penyuntikan

Bagian tubuh yang disuntik (deltoid kiri, paha kanan


mis)

Sisa vaksin
BCG
setelah

dilarutkan harus segera diberikan


dalam 3 jam (simpan dalam suhu 2 8 C)

Polio
Setelah

dibuka harus segera diberikan dalam


7 hari (simpan dlm suhu 2 8 C)

DPT
Bila

ada penggumpalan atau partikel yang


tidak hilang setelah dikocok jangan dipakai

Campak
Setelah

dilarutkan harus diberikan dlm 8 jam


(simpan dlm suhu 2 8 C)

+
Pemantauan setelah
vaksinasi

Perhatikan keadaan umum

Tunggu 30 menit di ruang tunggu

Safe injection : mengapa perlu ?

Estimasi WHO : 30 % suntikan imunisasi tidak aman (WHO


bull. Oktober, 1999)

Imunisasi rutin (Soewarta,1999: 4 propinsi):


tidak disterilkan : spuit 38%, jarum 23 %
alat suntik pakai ulang :krn tidak ada jarum (18%), tidak
ada spuit (4%)

Bulan Imunisasi Anak Sekolah (Soewarta,1999)


45 % alat suntik tidak disterilkan
alat suntik pakai ulang : krn tidak ada sterilisator (39%),
tidak ada jarum (28 %) tidak ada alat suntik (6%)

Suntikan dapat menularkan : hepatitis B, Hepatitis


C, HIV, jamur, parasit, bakteri, menyebabkan abses

Penyebaran melalui suntikan lebih cepat daripada


melalui udara, mulut atau seks

Safe injection

Aman bagi

yang disuntik
penyuntik
lingkungan

+ Tidak aman bagi yang


disuntik (1)
Vaksin
Suhu

> 8 C, atau VVM telah terpapar


panas
Botol vaksin bocor, retak, atau
terpasang jarum
Ada partikel dalam larutan
Telah dilarutkan lebih dari 6 jam
Beku : DPT, DT, TT, HepB, Hib (tidak
boleh beku)
Uji kocok tetap menggumpal (kecuali
HepB atau Hib)

+ Tidak aman bagi yang


disuntik (2)

Alat suntik

Spuit disposable dipakai ulang

Hanya mengganti jarum

Tidak dibersihkan dulu langsung disterilkan

Hanya dengan desinfektan

Membakar jarum di api

Merebus dalam panci terbuka

Menyentuh ujung jarum

Tidak aman bagi yang


disuntik (3)
Cara

melarutkan / pengambilan
vaksin
Cairan pelarut untuk vaksin lain atau >
8C
1 spuit diisi beberapa dosis sekaligus
jarum ditinggalkan menancap di vial
Mencampur isi 2 vial

Lokasi,

posisi , kedalaman
penyuntikan

Tidak

ada alat / obat gawat -

+ Tidak aman bagi penyuntik


Menekan

luka berdarah dengan jari

(semua cairan tubuh dapat menularkan kuman)


Membawa

atau meletakkan alat suntik bekas


sembarangan (tidak langsung membuang ke kotak
limbah)

Menyentuh
Menutup

atau mencabut jarum suntik

kembali (recapping) jarum suntik

Mengasah

jarum bekas

Memilah-milah
Tidak

tumpukan jarum bekas

ada alat / obat gawat darurat


Tidak aman bagi lingkungan :

Meninggalkan alat suntik bekas sembarangan

Tempat Pembuangan
Limbah

+ Pemusnahan Kotak + Isi


limbah
Dibakar

1100 C)

dalam insinerator khusus (suhu 600 -

risiko pencemaran kecil


Rp. 10 30 juta, BBM / kayu bakar

Dibakar

dalam lubang atau drum

Digiling

Milling atau shreeding


Serbuk masih infeksius
375-750 alat suntik / jam
listrik 750 w

Polio

Tahun 2018 Semua vaksin polio di Indonesia harus


injeksi (sesuai dengan program WHO/WHA tentang
eradikasi vaksin polio injeksi

Kerugian vaksin oral berisi virus hidup yang


dilemahkan, bisa mutasi malah menyebar ke orang
lain

Kenapa di Indonesia belum dilakukan?

Alasan Geografis

Belum diproduksi (masih impor) : PT. Bio Farma