Anda di halaman 1dari 14

ASKEP Pneumonia

Keperawatan Anak II
Dosen MK: 1. Ns. Fatmawati S.Kep.

Asuhan Keperawatan Anak

Pneumonia
Kelompok V
Kelas B & C

Syawir
Dana Warsita
Nur Azmi Maapawati
Musdalifa
Harmi
Mardiana S.
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR
MAKASSAR
2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. karena berkat rahmat dan inayahNyalah sehingga kami masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan tugas
asuhan keperawatan mata kuliah Keperawatan Anak II yang mengenail Pneumonia.
Tidak lupa pula kami mengucapkan terimakasih kepada dosen mata kuliah Keperawatan
Anak II yang tiada henti-hentinya membimbing kami dan memberikan waktu untuk
menyelesaikan tugas ini.

Kami menyadari bahwa asuhan keperawatan anak ini masih memiliki kekurangan, maka
dari itu kami mengharapkan kepada pembaca untuk memberikan sarannya agar kami dapat
menutupi kekurangan dalam menyusun asuhan keperawatan berikutnya.
Makassar, Mei 2011
Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
I. 1. Latar Belakang
Infeksi saluran napas bawah akut (ISNBA) menimbulkan angka kesakitan dan kematian
yang tinggi serta kerugian produktivitas kerja. ISNBA dapat dijumpai dalam berbagai bentuk dan
yang tersering adalah pneumonia. Pneumonia dapat terjadi secara primer atau merupakan tahap
lanjutan manifestasi ISNBA lainnya.
Dengan penggunaan antibiotik yang tepat dan adekuat, mortalitas dapat diturunkan
sampai kurang dari 1%. Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein menunjukkan mortalitas
yang tinggi.
I. 2. Permasalahan
Permasalahan yang timbul sehingga disusunnya asuuhan keperawatan ini adalah
bagaimana seharusnya tindakan asuhan keperawatan anak pada kasus Pneumonia?
I. 3. Tujuan
Tujuan disusunnya asuhan keperawatan ini adalah:
A. Tujuan Umum
Untuk memenuhi kegiatan belajar mengajar dari mata kuliah Keperawatan Anak II.
B. Tujuan Khusus
1. Memperoleh gambaran mengenai Pneumonia.
2. Dapat memahami tentang konsep asuhan keperawatan pasien dengan Pneumonia.

I. 4. Manfaat
Manfaat dari penyusunan asuhan keperawatan ini, yaitu:
A. Kegunaan Ilmiah
1. Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa
2. Sebagai salah satu tugas akademik

B. Kegunaan Praktis
Bermanfaat bagi tenaga perawat dalam penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan Pneumonia

BAB II
KONSEP MEDIS
II. 1. Pengertian
Pneumonia merupakan peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus
terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi
jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat, yang disebabkan oleh bermacam-macam
etiologi, seperti bakteri, virus, jamur, dan benda asing.
Pneumonia adalah penyakit paru-paru dan sistem pernafasan dimana alveoli (kantung
udara penuh mikroskopik paru-paru bertanggung jawab untuk mengambil oksigen dari
lingkungan) menjadi bengkak dan dibanjiri dengan cairan.
Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada
bronkus (biasa disebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas
sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan
sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40
kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada anak dibawah
usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pnemonia. Pneumonia pada anak-anak paling sering
disebabkan oleh virus pernafasan, dan puncaknya terjadi pada umur 2-3 tahun. Pada usia
sekolah, pneumonia paling sering disebabkan oleh bakteri Mycoplasma pneumoniae.
Pneumonia Berat ditandai dengan adanya batuk atau (juga disertai) kesukaran bernapas,
napas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam (severe chest indrawing) pada
anak usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga Pneumonia
sangat berat, dengan gejala batuk, kesukaran bernapas disertai gejala sianosis sentral dan tidak
dapat minum. Sementara untuk anak dibawah 2 bulan, pnemonia berat ditandai dengan frekuensi

pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih atau (juga disertai) penarikan kuat pada dinding
dada sebelah bawah ke dalam.
Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada sejumlah
penyebab noninfeksi yang kadang-kadang perlu dipertimbangkan. Penyebab noninfeksi tersebut
meliputi aspirasi makanan dan/atau asam lambung, benda asing, hidrokarbon, bahan lipoid, serta
akibat obat maupun radiasi.

a.
b.
c.
d.
e.
a.
b.
c.

II. 2. Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya, pneumonia dapat dibagi menjadi:
Pneumonia bakteri.
Pneumonia virus.
Pneumonia Jamur.
Pneumonia aspirasi.
Pneumonia hipostatik.
Berdasarkan letak antomi, pneumonia dapat dibagi menjadi:
Pneumonia lobaris adalah radang paru-paru yang mengenai sebagian besar/seluruh lobus paruparu.
Pneumonia lobularis (bronchopneumonia) adalah radang pada paru-paru yang mengenai
satu/beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate.
Pneumonia interstitialis (bronkhiolitis) adalah radang pada dinding alveoli (interstitium) dan
peribronkhial dan jaringan interlobular.
II. 3. Etiologi
Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti :
1.
Bakteri: stapilokokus, streplokokus, aeruginosa, eneterobacter
2.
Virus: virus influenza, adenovirus.
3.
Micoplasma pneumonia
4.
Jamur: candida albicans
5.
Aspirasi: lambung
Etiologi pneumonia berbeda-beda pada berbagai tipe dari pneumonia, dengan cara
penularan yang berbeda, dan hal ini berdampak kepada obat yang diberikan. Berdasarkan
pembagian etiologisnya, pneumonia dibedakan menjadi : pneumonia bakteri, pneumonia virus,
mycoplasma pneumoniae, pneumonia akibat jamur, pneumonia aspirasi, pneumonia hipostatik,
dan sindrom Loeffler.
Bakteri merupakan penyebab utama pneumonia. Pneumonia bakteri itu sendiri bisa
diakibatkan Diplococcus pneumoniae, Pneumococcus, Streptococcus hemolyticus, Streptococcus
aureus, Haemophilus influenzae, Bacillus Friedlander, Staphilococcus aureus, Pseudomonas
aeruginosa, E.coli. penyebab pneumonia bakteri yang paling lazim pada anak normal adalah
Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan S.pyogens.
Streptococcus pneumoniae (Pneumonia pneumokokus) penyebab paling sering dari
pneumonia bakteri, baik yang didapat dari masyarakat maupun dari rumah sakit. Biasanya
ditularkan melalui droplet (percikan mucus atau saliva). Staphilococcus aureus (kokus gram
positif) dan basil aerobic gram negatif, termasuk Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella
pneumoniae, dan E.coli, menyebabkan sebagian besar pneumonia nosokomial, dimana
pneumonia ini menyebabkan kerusakan yang luas pada parenkim paru dan sering menimbulkan
komplikasi seperti emfisema dan abses paru. Pneumonia yang disebabkan oleh organisme

Pseudomonas paling sering ditemukan pada pasien yang sakit berat yang dirawat di RS, atau
yang mengalami supresi sistem pertahanan tubuh, dan seringkali diakibatkan kontaminasi
peralatan ventilasi. Staphilococcus aureus biasanya menular melalui slang infus pada pasien
rawat inap yang lemah.
Virus pernapasan merupakan penyebab pneumonia yang paling sering selama usia
beberapa tahun pertama. Pneumonia virus bisa diakibatkan Respiratory syncytial virus (RSV),
virus influenza, adenovirus, dan cytomegalovirus. RSV merupakan virus yang paling sering
menyebabkan pneumonia, terutama selama masa bayi.
Pneumonia bisa juga disebabkan jamur, antara lain Histoplasma capsulatum,
Cryptococcus neoformans, Blastomycosis dermatitides, Coccidioides immitis, Aspergillus, dan
Candida albicans. Pneumonia aspirasi disebabkan oleh makanan, kerosin, cairan amnion, dan
benda asing.
Penyebab pneumonia yang didapat dalam masyarakat dengan pneumonia yang didapat di
RS tentunya berbeda. Infeksi nosokomial lebih sering disebabkan oleh bakteri gram negatif.
II. 4. Patofisiologi
Agen-agen mikroba yang menyebabkan pneumonia memiliki tiga bentuk transmisi
primer, yaitu (1) aspirasi sekret yang berisi mikroorganisme pathogen yang telah berkolonisasi
pada orofaring, (2) inhalasi aerosol yang infeksius, dan (3) penyebaran hematogen dari bagian
ekstrapulmonal. Aspirasi dan inhalasi agen infeksius merupakan cara tersering yang
menyebabkan pneumonia, sementara penyebaran hematogen jarang terjadi.
1. Pneumonia pneumokokus
Pneumococcus masuk ke dalam paru melalui jalan pernapasan secara droplet
(percikan). Proses radang pneumonia dapat dibagi atas 4 stadium, yaitu :
a. Stadium kongesti (4-12 jam pertama)
Kapiler melebar dan kongesti
Eksudat jernih, bakteri dalam jumlah banyak, beberapa neutrofil dan makrofag masuk ke dalam
alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor
b. Stadium hepatisasi merah (48 jam berikutnya)
Lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat dan tidak mengandung udara dan perabaan seperti
hepar
Warna menjadi merah dan bergranula karena terdapat fibrin, leukosit neutrofil, eksudat dan
banyak sekali eritrosit dan kuman yang mengisi alveoli
c. stadium hepatisasi kelabu (3-8 hari)
lobus masih tetap padat dan warna merah menjadi pucat kelabu karena leukosit dan fibrin
mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang terserang
permukaan pleura suram karena diliputi fibrin
kapiler tidak kongestif lagi
d. Resolusi (7-11 hari)
Eksudat mengalami lisis dan direabsorpsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali pada
strukturnya semula
2. Pneumonia aspirasi
Pneumonia aspirasi mengarah kepada konsekuensi patologis akibat sekret orofaringeal,
nanah, atau isi lambung yang masuk ke saluran napas bagian bawah. Kebanyakan individu
mengaspirasi sedikit sekret orofaringeal selama tidur, dan sekret tersebut akan dibersihkan secara
normal tanpa gejala sisa melalui mekanisme pertahanan normal.

3. Pneumonia mikoplasma
Mikoplasma adalah agen terkecil di alam bebas yang menyebabkan penyakit pada
manusia. Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri, meski memiliki
karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya berderajat ringan dan tersebar luas.
Mikoplasma menyerang segala jenis usia. Tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia
muda. Angka kematian sangat rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati.
4. Pneumonia hipostatik
Pneumonia yang sering timbul pada dasar paru dan disebabkan oleh napas yang dangkal,
dan terus-menerus berada dalam posisi yang sama. Gaya gravitasi menyebabkan darah tertimbun
pada bagian bawah paru, dan infeksi membentuktimbulnya pneumonia yang sesungguhnya.
5. Pneumonia bakteri
Pneumonia pneumokokus mungkin ditemukan pada anak yang lebih tua, tetapi jarang
diamati pada bayi dan anak muda. Riwayat klasik dingin menggigil yang disertai dengan demam
tinggi, batuk, dan nyeri dada. Pada stadium permulaan sukar dibuat diagnosis untuk pemeriksaan
fisik, tetapi dengan adanya napas cepat dan dangkal disertai pernapasan cuping hidung dan
sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang disertai muntah dan diare. Batuk biasanya tidak
ditemukan pada permulaan penyakit, tetapi setelah beberapa hari dapat ditemukan batuk yang
mula-mula kering kemudian menjadi produktif.
Pada bayi, infeksi saluran pernapasan atas mendahului pneumonia, yang ditandai dengan
hidung tersumbat, rewel, dan nafsu makan berkurang. Sakit ringan ini yang berakhir beberapa
hari lamanya dengan mulainya mendadak demam 39 C atau lebih tinggi, gelisah, ketakutan, dan
distress respirasi. Penderita tampak sakit dengan megap-megap sedang sampai berat dan sering
sianosis. Distres pernapasan ditampakkan dengan mendengkur/grunting; pelebaran cuping
hidung; retraksi daerah supraklavikuler, interkostal, dan subkostal; takipneu; takikardi.
Pada anak, tanda-tanda dan gejalanya serupa dengan orang dewasa. Sesudah infeksi
pernapasan atas ringan, sering merasa dingin menggigil yang disertai dengan demam setinggi
40,5 C. Demam ini disertai dengan perasaan mengantuk, dengan sebentar-sebentar gelisah;
pernapasan cepat; batuk kering pendek, tidak produktif; cemas;dan kadang-kadang delirium atau
mengigau. Terdapat kelainan dada, termasuk retraksi, pelebaran cuping hidung, perkusi redup,
hilangnya fremitus palpasi dan vokal, suara pernapasan hilang dan ronki halus serta krepitasi
pada sisi yang terkena.
6. Pneumokokus virus
Biasanya ditemukan demam, tetapi suhu biasanya lebih rendah daripada pneumonia
bakteri. Takipneu, yang disertai dengan retraksi interkostal, subkostal, dan suprasternal;
pelebaran cuping hidung; dan penggunaan otot tambahan sering ada. Infeksi berat dapat disertai
sianosis dan kelelahan pernapasan. Auskultasi dada dapat menampakkan ronki dan mengi yang
luas dengan dada hipersonor.
Pneumonia mikoplasma
Gejala yang paling sering adalah batuk berat, namun dengan sedikit lendir.Demam dan
menggigil hanya muncul di awal, dan pada beberapa pasien bisa mual dan muntah. Rasa lemah
baru hilang dalam waktu lama.

II. 5. Faktor Resiko


Berikut ini adalah faktor-faktor yang meningkatkan resiko berjangkitnya Pneumonia:
Umur dibawah 2 bulan
Jenis kelamin laki-laki

Gizi kurang
Berat badan lahir rendah
Tidak mendapat ASI memadai
Polusi udara
Kepadatan tempat tinggal
Imunisasi yang tidak memadai
Membedong bayi
Defisiensi vitamin A
Faktor-faktor yang meningkatkan resiko kematian akibat Pnemonia :
Umur dibawah 2 bulan
Tingkat sosio ekonomi rendah
Gizi kurang
Berat badan lahir rendah
Tingkat pendidikan ibu rendah
Tingkat pelayanan (jangkauan) pelayanan kesehatan rendah
Kepadatan tempat tinggal
Imunisasi yang tidak memadai
Menderita penyakit kronis

II. 6. Manifestasi Klinik


Biasanya didahului infeksi saluran pernafasan bagian atas akut selama beberapa hari. Suhu dapat
naik secara mendadak (38 40 C), dapat disertai menggigil kejang (karena demam tinggi).
b. Gejala khas :
Sianosis pada mulut dan hidung.
Sesak nafas, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung.
Gelisah, cepat lelah.
c. Batuk, mula-mula kering hingga produktif dengan dahak kental,terkadang dapat berwarna
kuning hinggga hijau..
d. Kadang-kadang muntah dan diare, anoreksia.
e. Pemeriksaan laboratorium = lekositosis.
f. Foto thorak = bercak infiltrate pada satu lobus/beberapa lobus.
g. Ingus (nasal discharge)
h. Suara napas lemah
i. Retraksi intercosta
j. Ronchii
k. Berkeringat
l. Lelah.
m. Pada sebagian penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, kulit
lembab dan sakit kepala.
a.

II. 7. Pemeriksaan Diagnostik


Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan untuk menegakkan diagnosa pneumonia, yaitu:
a. Pemeriksaan Radiologis
Pola radiologis dapat berupa pneumonia alveolar dengan gambaran air bronchogram
(airspace disease) misalnya oleh Streptococcus pneumoniae; bronkopneumonia (segmental
disease) oleh antara lain staphylococcus, virus atau mikoplasma; dan pneumonia interstisial

(interstitial disease) oleh virus dan mikoplasma. Distribusi infiltrat pada segmen apikal lobus
bawah atau inferior lobus atas sugestif untuk kuman aspirasi. Tetapi pada pasien yang tidak
sadar, lokasi ini bisa dimana saja. Infiltrat di lobus atas sering ditimbulkan Klebsiella,
tuberkulosis atau amiloidosis. Pada lobus bawah dapat terjadi infiltrat akibat Staphylococcus atau
bakteriemia.
b. Pemeriksaan Laboratorium
Leukositosis umumnya menandai adanya infeksi bakteri; leukosit normal/rendah dapat
disebabkan oleh infeksi virus/mikoplasma atau pada infeksi yang berat sehingga tidak terjadi
respons leukosit, orang tua atau lemah. Leukopenia menunjukkan depresi imunitas, misalnya
neutropenia pada infeksi kuman Gram negatif atau S. aureus pada pasien dengan keganasan dan
gangguan kekebalan. Faal hati mungkin terganggu
c. Pemeriksaan Bakteriologis
Bahan berasal dari sputum, darah, aspirasi nasotrakeal/transtrakeal, aspirasi jarum
transtorakal, torakosentesis, bronkoskopi, atau biopsi. Untuk tujuan terapi empiris dilakukan
pemeriksaan apus Gram, Burri Gin, Quellung test dan Z. Nielsen.
d. Pemeriksaan Khusus
Titer antibodi terhadap virus, legionela, dan mikoplasma. Nilai diagnostik bila titer tinggi
atau ada kenaikan titer 4 kali. Analisis gas darah dilakukan untuk menilai tingkat hipoksia dan
kebutuhan oksigen.
II. 8. Penatalaksanaan
PENGOBATAN
Pengobatan terdiri atas antibiotik dan pengobatan suportif. Pemberian antibiptik pada
penderita Pneumonia sebaiknya berdasarkan data mikroorganisme dan hasil uji kepekaannya,
akan tetapi karena beberapa alasan yaitu:
a. Penyakit yang berat dapat mengancam jiwa
b. Bakteri patogen yang berhasil diisolasi belum tentu sebagai penyebab Pneumonia
c. Hasil pebiakan bakteri memerlukan waktu
Maka pada penderita Pneumonia dapat diberikan terapi secara empiris.
Secara umum pemilihan antibiotik berdasarkan bakteri penyebab Pneumonia dapat dilihat
sebagai berikut:
a. Penisilin Sensitif Streptococcus Pneumoniae (PSSP)
Golongan Penisilin (100.000 unit/kg/24jam)
TMP-SMZ
Makrolid
b. Penisilin Resisten Streptococcus Pneumoniae (PRSP)
Betalaktam oral dosis tinggi (untuk rawat jalan)
Sefotaksim, Seftriakson dosis tinggi
Makrolid baru dosis Tinggi
Fluorokuinolon respirasi
c. Pseudomonas aeruginosa
Aminoglikosida
Seftazidin, Sefoperason, Sefepim
Tikarsilin, Piperasilin
Karbapenem: Meropenem, Imipenem
Siprofloksasin, Levofloksasin

d. Methicillin Resisten Staphylococcus aureus (MRSA)


Vankomisin
Teikoplanin
Linezolid
e. Hemophilus Influenzae
TMP-SMZ
Azitromisin
Sefalosporin generasi II atau III
Fluorokuinolon Respirasi
f. Legionella
Makrolida
Fluorokuinolon
Rifampisin
g. Mycoplasma Pneumoniae
Doksisiklin
Makrolida
Fluorokuinolon
h. Chlamydia Pneumoniae
Doksisiklin
Makrolida
Fluorokuinolon
TERAPI NONMEDIKAMENTOSA

Pemberian oksigen harus diberikan sebelum penderita menjadi sianotik

Pemberian cairan secara intravena : dekstrose 10% dan NaCl 0,9% dengan perbandingan
3 : 1, ditambah KCl 10 mEq/500 ml cairan. Pemberian cairan sesuai dengan berat badan,
kenaikan suhu, dan status hidrasi.

Jika sesak napas terlalu hebat, dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui selang
nasogastrik dengan feeding drip

Untuk pneumonia yang telah mengalami komplikasi, dilakukan drainase dengan


torakosintesis jarum ataupun dengan memasukkan kateter ke dalam ruang pleura

Koreksi gangguan keseimbangan asam basa untuk mencegah terjadinya sianosis, karena
paru merupakan salah satu bagian terpenting dalam mekanisme buffer dalam darah.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

II. 9. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi, yaitu:
Otitis media akut (OMA) terjadi bila tidak diobati, maka sputum yang berlebihan akan masuk
ke dalam tuba eustachius, sehingga menghalangi masuknya udara ke telinga tengah dan
mengakibatkan hampa udara, kemudian gendang telinga akan tertarik ke dalam dan timbul efusi.
Efusi pleura.
Emfisema.
Meningitis.
Abses otak.
Endokarditis.
Osteomielitis.
Pneumotoraks.
PENGOBATAN TERHADAP KOMPLIKASI

Penderita dengan pneumonia yang disertai dengan efusi pleura dan empiema harus
dirawat inap di rumah sakit. Pemberian oksigen segera pada penderita dengan distres pernapasan
sangat mengurangi kebutuhan pada sedatif dan analgesik; oksigen ini harus diberikan sebelum
penderita menjadi sianosis. Efusi dianjurkan untuk melakukan drainase, meskipun hanya ada
sedikit efusi atau empiema, agar mengurangi peluang terjadinya fistula bronkopleura.
Thorakosintesis jarum sering cukup untuk drainase efusi, tetapi prosedur ini kadang-kadang
mungkin harus diulangi. Biasanya nanah (pus) mengumpul lagi dengan cepat dan begitu kental
atau terlokulasi sehingga menutup drainase, sehingga pipa dada kaliber yang paling besar
mungkin diperlukan. Drainage dada tertutup mungkin diperlukan jika cairan pleura purulen ada,
tetapi drainase terbuka jarang diperlukan. Jika respons inisial terhadap antibiotik baik,
pengobatan oral dapat diberikan untuk menyempurnakan perjalan 10-14 hari. Peragaan
roentgenografi, penyembuhan total dapat tertunda selama beberapa hari.
Munculnya pneumothoraks merupakan indikasi untuk memasukkan kateter segera ke
dalam ruang pleura, sering juga menggunakan pipa dada bila terjadi lokulasi. Bila bayi mulai
membaik dan paru-paru telah mengembang kembali, pipa dapat diambil, walaupun mereka
masih mengalirkan sejumlah kecil nanah. Pada umunya pipa tidak harus tetap di dada lebih lama
dari 5-7 hari.

BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
1.
a.
b.
2.

3.

III. 1. Pengkajian
Data Umum Pasien (identitas)
Umur : Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus dibanding dewasa Mycoplasma terjadi
pada anak yang relatif besar.
Tempat tinggal : Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar.
Keluhan Utama
Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas, cyanosis atau batuk-batuk
disertai dengan demam tinggi. Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk dengan
disertai riwayat kejang demam (seizure).
Riwayat Kesehatan yang Lalu

4.
a.
b.
c.

Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA, influenza sering terjadi dalam
rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia. Penyakit paru, jantung
serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis penderita.
Pemeriksaan Fisik
Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.
Sirkulasi
Gejala : riwayat adanya.
Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat.
Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes mellitus.
Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan kakeksia (malnutrisi).

d. Neurosensori
Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)
Tanda : perusakan mental (bingung)
e. Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia, artralgia.
Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan)
f. Pernafasan
Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea.
Tanda :
sputum: merah muda, berkarat
perpusi: pekak datar area yang konsolidasi
premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi
Bunyi nafas menurun
Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku
g. Keamanan
Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan steroid, demam.
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar
h. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis
Tanda
:
DRG
menunjukkan
rerata
lama
dirawat
6

8
Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah.
5. Faktor Psikososial/Perkembangan :
a. Usia, tingkat perkembangan.
b. Toleransi/kemampuan memahami tindakan.
c. Koping.
d. Pengalaman berpisah dengan keluarga/orang tua.
e. Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya.
6. Pengetahuan Keluarga, Psikososial :
a. Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit broncho pneumonia.
b. Pengalaman keluarga dalam menangani penyakit saluran pernafasan.
c. Kesiapan/kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya.
d. Koping keluarga.

hari

e.

Tingkat kecemasan.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

III. 2. Diagnosa
Diagnosa keperawatan untuk pneumonia, yaitu:
Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan, penumpukan secret.
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus.
Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, demam, takipnea.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah.
Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi.
Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit.
Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi.

III. 3. Intervensi
1. Dx. : Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan, penumpukan secret.
Tujuan : Jalan nafas efektif, ventilasi paru adekuat dan tidak ada penumpukan secret.
Rencana tindakan :
a. Monitor status respiratori setiap 2 jam, kaji adanya peningkatan status pernafasan dan bunyi
nafas abnormal.
b. Lakukan perkusi, vibrasi dan postural drainage setiap 4 6 jam.
c. Beri therapy oksigen sesuai program.
d. Bantu membatukkan sekresi/pengisapan lender.
e. Beri posisi yang nyaman yang memudahkan pasien bernafas.
f. Ciptakan lingkungan yang nyaman sehingga pasien dapat tidur tenang.
g. Monitor analisa gas darah untuk mengkaji status pernafasan.
h. Beri minum yang cukup.
i. Sediakan sputum untuk kultur/test sensitifitas.
j. Keloborasi pemberian antibiotic dan obat lain sesuai program.
2. Dx. : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus.
Tujuan : Pasien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas secara optimal dan
oksigenasi jaringan secara adekuat.
Rencana Tindakan :
a. Observasi tingkat kesadaran, status pernafasan, tanda-tanda sianosis setiap 2 jam.
b. Beri posisi fowler/semi fowler.
c. Beri oksigen sesuai program.
d. Monitor analisa gas darah.
e. Ciptakan lingkungan yang tenang dan kenyamanan pasien.
f. Cegah terjadinya kelelahan pada pasien.
3. Dx. : Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, demam,
takipnea.
Tujuan : Pasien akan mempertahankan cairan tubuh yang normal.
Rencana Tindakan :
a. Catat intake dan out put cairan. Anjurkan ibu untuk tetaap memberi cairan peroral dan hindari
milk yang kental/minum yang dingin atau merangsang batuk.
b. Monitor keseimbangan cairan pada membrane mukosa, turgor kulit, nadi cepat, kesadaran
menurun, tanda-tyanda vital.
c. Pertahankan keakuratan tetesan infuse sesuai program.

d. Lakukan oral hygiene.


4. Dx. : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah.
Tujuan : Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kondisi.
Rencana Tindakan :
a. Kaji toleransi fisik pasien.
b. Bantu pasien dalam aktifitas dari kegiatan sehari-hari.
c. Sediakan permainan yang sesuai usia pasien dengan aktivitas yang tidak mengeluarkan energi
banyak atau sesuaikan aktifitas dengan kondisinya.
d. Beri O2 sesuai program.
e. Beri pemenuhan kebutuhan energi.
5. Dx. : Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.
Tujuan : Pasien akan memperlihatkan sesak dan keluhan nyeri berkurang, dapat batuk efektif
dan suhu normal.
Rencana Tindakan :
a. Cek suhu setiap 4 jam, jika suhu naik beri kompres dingin.
b. Kelola pemberian antipiretik dan anlgesik serta antibiotic sesuai program.
c. Bantu pasien pada posisi yang nyaman baginya.
d. Bantu menekan dada pakai bantal saat batuk.
e. Usahakan pasien dapat istirahat/tidur yang cukup.
6. Dx. : Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi.
Tujuan : Suhu tubuh dalam batas normal.
Rencana Tindakan :
a. Observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam.
b. Beri kompres dingin.
c. Kelola pemberian antipiretik dan antibiotic.
d. Beri minum peroral secara hati-hati, monitor keakuratan tetesan infuse.
7. Dx. : Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit.
Tujuan : Anak dapat beraktifitas secara normal dan orang tua tahu tahap-tahap yang harus
diambil bila infeksi terjadi lagi.
Rencana Tindakan :
a. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang perawatan anak dengan bronchopneumonia.
b. Bantu orang tua untuk mengembangkan rencana asuhan di rumah ; keseimbangan diit, istirahat
dan aktifitas yang sesuai.
c. Tekankan perlunya melindungi anak kontak dengan anak lain sampai dengan status RR kembali
normal.
d. Ajarkan pemberian antibiotic sesuai program.
e. Ajarkan cara mendeteksi kambuhnya penyakit.
f. Beritahu tempat yang harus dihubungi bila kambuh.
g. Beri reinforcement untuk perilaku yang positif.
8. Dx. : Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi.
Tujuan : Kecemasan teratasi.
Rencana Tindakan :
a. Kaji tingkat kecemasan anak.
b. Fasilitasi rasa aman dengan cara ibu berperan serta merawat anaknya.
c. Dorong ibu untuk selalu mensupport anaknya dengan cara ibu selalu berada di dekat anaknya.

d. Jelaskan dengan bahasa sederhana tentang tindakan yang dilakukan tujuan, manfaat,
bagaimana dia merasakannya.
e. Beri reinforcement untuk perilaku yang positif.

1.
2.
3.
4.
5.
6.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

III. 4. Implementasi
Prinsip implementasi :
Observasi status pernafasan seperti bunyi nafas dan frekuensi setiap 2 jam, lakukan fisioterapi
dada setiap 4 6 jam dan lakukan pengeluaran secret melalui batuk atau pengisapan, beri
O2 sesuai program.
Observasi status hidrasi untuk mengetahui keseimbangan intake dan out put.
Monitor suhu tubuh.
Tingkatkan istirahat pasien dan aktifitas disesuaikan dengan kondisi pasien.
Perlu partisipasi orang tua dalam merawat anaknya di RS.
Beri pengetahuan pada orang tua tentang bagaimana merawat anaknya dengan
bronchopneumonia.
III. 5. Evaluasi
Hasil evaluasi yang ingin dicaapai :
Jalan napas paten dengan bunyi napas bersih, tak ada dispnea, sianosis.
Analisa gas darah normal.
Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal
dan tak ada gejala distres pernapasan.
Melaporkan/menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak
adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tanda vital dalam rentang normal.
Menunjukkan rileks, istirahat/tidur, dan peningkatan aktivitas yang tepat.
Menunjukkan peningkatan masukan makanan, mempertahankan/ meningkatkan berat badan,
menyatakan perasaan sejahtera.
Menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat, mis:
membran mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat, tanda vital stabil.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 Vol 1. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Charles, J.Reeves, dkk. 2001. Buku 1 Keperawatan Medikal Bedah Ed. I. Jakarta: Salemba Medika.
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakitEd. 6 Vol 2. Jakarta:
EGC.
Sukandar, Elin Yulinah. 2008. ISO Farmakoterapi. Jakarta: PT. ISFI Penerbitan