Anda di halaman 1dari 44

BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini tanggal 05 Desember 2015 telah dipresentasikan portofolio oleh:
Nama Peserta

: dr. Annisa Avicenna Ayudiyusraa

Dengan judul/topik : Episode Depresif Sedang


Nama Pendamping : dr.Siti Rahmaniah
Nama Wahana

No.

: RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh / Kota Banjarmasin

Nama Peserta Presentasi

No.

10

10

11

11

Tanda Tangan

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.
Pendamping

( dr. Siti Rahmaniah )

Borang Portofolio
Nama Presentan : dr. Annisa Avicenna Ayudiyusraa
Nama Wahana: RSUD Dr.H.Moch.Ansari Saleh, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Topik: Kasus Jiwa
Tanggal (kasus): 17 November 2015
Nama Pasien: Ny. NA

No. RM : -

Tanggal Presentasi: 05 Desember 2015

Nama Pendamping: dr.Siti Rahmaniah

Tempat Presentasi: Ruang Komite Medik


Obyektif Presentasi:
Keilmuan
Diagnostik
Neonatus

Keterampilan
Manajemen

Penyegaran
Masalah

Bayi

Tinjauan Pustaka
Istimewa

Anak

Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Deskripsi: Seorang perempuan 40 tahun dengan keluhan gelisah, tidak bisa tidur, susah makan, marah-marah sejak 4 hari
Tujuan: Mengetahui diagnosis pasien dengan gangguan jiwa dan melakukan tatalaksana secara cepat dan tepat.
Bahan bahasan:

Tinjauan Pustaka

Riset

Kasus

Audit

Cara membahas:
Data pasien:

Diskusi

Presentasi dan diskusi

Nama: Ny. NA

Nama Klinik: RSUD Dr.H.Moch.Ansari

Saleh

Email

Pos

Nomor Registrasi: Telp: -

Terdaftar sejak: 17 November 2015

Data utama untuk bahan diskusi :


1. Diagnosis/Gambaran Klinis : Seorang perempuan 40 tahun diantar keluarganya dengan keluhan gelisah, tidak bisa tidur,susah makan,

sering marah-marah sejak 4 hari SMRS


2. Riwayat Pengobatan : pasien belum pernah berobat untuk keluhan saat ini

3. Riwayat Penyakit Dahulu : pasien belum pernah mengalami hal seperti ini

4. Riwayat Keluarga : tidak ada riwayat keluarga yang seperti ini

5. Riwayat Pekerjaan : pasien tidak bekerja

6. Riwayat kebiasaan dan psikososial: pasien tinggal bersama dengan suami dan anaknya, pasien biasa merokok 2 bungkus per hari, pasien

jarang bergaul dengan tetangga karena terlalu sensitif.

4. Riwayat imunisasi: -

RIWAYAT PSIKIATRI
Berdasarkan

Alloanamnesis : 16 Mei 2014, Pukul 10.55 WITA (dengan ibu kandung pasien)
Autoanamnesis : 18 Mei 2014, Pukul 11.45 WITA (dengan pasien)
Keluhan Utama : Menurut ibu pasien, pasien sering gelisah sejak 4 hari SMRS
Keluhan Tambahan : Gelisah, curiga terhadap orang lain

RIWAYAT GANGGUAN SEKARANG


Pasien diantar oleh ibu pasien ke poli Jiwa RS. Ansari Saleh dengan keluhan pasien gelisah, susah makan, susah tidur sejak 4 hari SMRS.
Pasien juga sering marah-marah tanpa sebab yang jelas dan sering berdiam di dalam kamar. Pasien seperti mendengar bisikan yang selalu
mengejek dirinya karena sering berbicara sendiri. Pasien terkadang sulit diajak berbicara karena terlalu sensitif terkadang pasien ingin
mengamuk. Pasien tidak mau bergaul dengan orang lain.

RIWAYAT GANGGUAN SEBELUMNYA


a. Riwayat Psikiatri
Pasien tidak pernah mengalami gangguan jiwa sebelumnya yang mengharuskan pasien dirawat di rumah sakit.
b. Riwayat Gangguan Medik
Pasien pernah mengalami kecelakaan lalu lintas 2 tahun yang lalu, namun dari hasil pemeriksaan tidak didapatkan kelainan organ.
c. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif
Pasien pernah menggunakan atau menyalahgunakan obat-obat terlarang (zenit dan dextro) dan minum-minuman beralkohol selama 6 tahun (sejak usia
17 tahun). Pasien menelan lebih dari 10 butir obat-obatan terlarang, namun pasien tidak menyebutkan apa nama minuman yang beralkohol.

IWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI


a. Masa Prenatal
Menurut ibu, pasien merupakan anak ke 1 dari 2 bersaudara yang lahir dari pernikahan yang sah dan dikehendaki oleh kedua orang tua
Pasien lahir cukup bulan dengan berat 3000 gram, spontan dan dibantu oleh bidan (sungai Trantang). Saat proses kelahiran, tidak ada
kelainan pada diri pasien. Ibu pasien tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan maupun jamu-jamuan selama kehamilan.
b. Masa Kanak-kanak Dini (0-3 tahun)
Menurut ibu pasien, pasien diasuh langsung oleh kedua orang tuanya. Tumbuh kembang pasien normal sesuai dengan usianya. Pasien bisa
tengkurap usia 9 bulan, duduk usia 12 bulan, berjalan 18 bulan, bicara belum lengkap 18 bulan, bicara lengkap 24 bulan. Pasien tidak
mempunyai kebiasaan menggigit kuku.
c. Masa Kanak-Kanak Pertengahan ( 4 11 tahun)
Menurut ibu pasien, tumbuh kembang pasien normal seperti anak seusia lainnya. Pasien memiliki sifat pendiam dan tertutup. Pasien tidak memiliki
teman akrab. Pasien tidak pernah menyakiti binatang dan pasien tidak ketakutan terhadap sesuatu. Pasien tidak pernah ada masalah dengan kakak
perempuannya.
2. Masa Pubertas dan Dewasa
Hubungan Sosial
Hubungan pasien dengan saudara pasien cukup baik, meskipun pernah sesekali pasien bertengkar dengan saudaranya (kakak perempuan pasien), namun
setelah itu baik kembali. Pasien cukup baik dengan lingkungan yang sudah dikenalnya. Pasien tergolong orang yang tertutup, jarang menceritakan
masalah pribadinya kepada keluarga.
Riwayat Pendidikan Formal
Menurut ibu pasien, pendidikan terakhir pasien adalah TK (usia 4 tahun). Pasien melanjutkan ke Sekolah Dasar namun hanya sampai kelas 5 karena
keadaan ekonomi yang sulit. Selama masa sekolah tidak ada perilaku pasien yang melanggar norma-norma sekolah.

Perkembangan Motorik dan Kognitif


Dalam perkembangan motorik dan kognitif pasien tidak mengalami gangguan. Pasien tidak dapat menyelesaikan SD tepat waktu. Selama
sekolah pasien tidak mengalami kesulitan dalam belajar.
Gangguan Emosi dan Fisik
Menurut ibu pasien, pasien termasuk orang yang mudah bergaul dan mudah terpengaruh dengan lingkungan yang sudah ia kenal, tapi
cenderung tertutup dengan masalah pribadinya. Dalam perkembangan fisik pasien terlihat sesuai dengan usianya. Perkembangan emosi pasien
pada masa dewasa cenderung labil dan terkadang berselisih dengan saudaranya. Kalau pun terjadi perselisihan dengan anggota keluarga itu
pun hanya ucapan saja dan tidak ada rasa dendam. Pasien selalu merasa keinginannya harus selalu terpenuhi.
Riwayat Hukum
Pasien pernah melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum seperti menggunakan obat terlarang dan minum-minuman beralkohol.
Riwayat Psikoseksual
Pasien mengaku tidak pernah mengalami masalah seksual. Sikap terhadap lawan jenis baik. Pasien pun tidak pernah menceritakan
ke ibu pasien sehingga ibu tidak tahu tentang riwayat psikoseksual dari pasien.
Riwayat Keagamaan
Pasien mengikuti agama yang dianut oleh orang tua pasien yaitu seorang muslim. Pasien tidak terlalu taat dalam beribadah. Pasien tidak
sepenuhnya mengerjakan shalat lima waktu dan mengaji di rumah. Pasien dibesarkan dalam keluarga yang pendidikan terhadap agamanya
tidak terlalu baik. Anggota keluarga pasien tidak cukup taat beragama.

Masa Dewasa
a. Riwayat Pekerjaan
Pasien pernah bekerja di warung sebagai pengupas kelapa selama satu tahun, namun pasien memiliki masalah terhadap teman kerjanya hingga pasien
memutuskan untuk berhenti bekerja.
b. Riwayat Aktivitas Sosial dan Situasi Kehidupan Sekarang
Hubungan pasien dengan tetangga tidak cukup baik. Pasien tinggal bersama istrinya di rumah kontrakan. Pasien tidak bekerja sehingga kehidupannya
ditanggung oleh istri pasien. Sehari-hari pasien hanya melakukan kegiatan rutin membantu istrinya seperti pekerjaan rumah tangga dan hanya
merokok 2 bungkus per hari.
c. Riwayat Pernikahan
Di usia 20 tahun, pasien sudah menikah namun pasien belum memiliki anak.
Riwayat Keluarga
Pasien adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakak pasien perempuan sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Kakak perempuan
pasien tinggal bersama suami dan dua orang anak. Pasien juga sudah tinggal bersama istrinya. Pasien jarang menceritakan permasalahanpermasalahan yang sedang dihadapi kepada keluarga. Hubungan pasien dengan ibu, ayah, dan kakak perempuannya cukup harmonis. Namun
karena ada suatu hal ibu dan ayah pasien bercerai berlangsung 2 tahun Di keluarga pasien tidak pernah ada yang memiliki riwayat
gangguan jiwa.
Skema Keluarga
Perempuan
Keterangan :

Laki-laki
Pasien

Mimpi, Khayalan dan Sistem Penilaian


a. Mimpi

: tidak ada

b. Khayalan

: tidak ada

c. Sistem Penilaian

: Pasien dapat membedakan hal yang baik dan buruk

STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum
Penampilan
Pasien adalah seorang laki-laki, postur tubuh kurus dengan perawakan sedang, dengan berat badan kurang lebih 50 kg dan tinggi badan kurang lebih
157 cm, tampak sehat, penampilan sesuai dengan usia, kulit sawo matang dan rambut lurus. Pada saat wawancara pasien mengenakan kaos berwarna
hitam lengan pendek dan celana pendek (sebatas lutut) berwarna hitam serta memakai sendal jepit. Cara berjalan pasien biasa, posisi tubuh tegak dan
gerakan tubuh terlihat aktif.
Perilaku dan Aktivitas Motorik
Aktivitas motorik pasien cukup baik, tampak sedikit gelisah. Saat wawancara pasien pada posisi jongkok sambil merokok, perilaku pasien sopan, tidak
menunjukkan rasa permusuhan. Pasien terlihat datar, bicara tidak terlalu cepat, menjawab pertanyaan seperlunya, namun konsentrasi kadang
teralihkan,volume suara sedang. Pasien dapat melakukan kontak mata (dapat dipertahankan) dengan dokter.

Pembicaraan
Volume

: Sedang

Irama

: Teratur

Kelancaran

: Lancar

Kecepatan

: Sedang

Gangguan bicara

: Tidak ada

Sikap Terhadap Pemeriksa


Saat wawancara pasien terlihat sopan, kurang aktif, tidak menggertak atau berbicara kasar. Pasien bicara dan menjawab dengan jawaban yang
seperlunya. Secara umum, pasien kooperatif dan dapat menjawab pertanyaan yang diajukan dokter dengan perhatian cukup, terkadang
konsentrasi mudah teralihkan.

Afek dan Ekspresi Afektif


a)

Mood

: hipotim

b)

Afek

: datar

c)

Keserasian

: serasi

Gangguan Persepsi
1. Halusinasi
1. Riwayat halusinasi auditorik

: Ada (mendengarkan bisikan-bisikan yang selalu mengejek dirinya namun pasien tidak
mengenali suara tersebut)

2. Visual

: Tidak ada

3. Riwayat halusinasi olfaktorius

: Tidak ada

4. Gustatorik

: Tidak ada

5. Taktil

: Tidak ada

2. Ilusi

: Tidak ada

3. Depersonalisasi

: Tidak ada

4. Derealisasi

: Tidak ada

Proses Pikir
1. Produktivitas

: Cukup ide

2. Kontinuitas
- Blocking

:
: Tidak ada

- Asosiasi longgar

- Inkoherensia

: Tidak ada

- Word Salad: Tidak ada

- Neologisme

: Tidak ada

- Flight of Idea

: Tidak ada

- Sirkumstansial

: Tidak ada

- Tangensialitas

: Tidak ada

3. Hendaya bahasa

: Tidak ada

Isi Pikiran

: Tidak ada

Preokupasi

: Tidak (pasien tidak ingin bekerja lagi)

Gangguan isi pikir

Riwayat waham persekutorik : Ada (pasien merasa keluarga dan orang sekitar mengawasi dirinya)
Waham kebesaran

: Tidak ada

Waham referensi

: Tidak ada

Delution of control

: Tidak ada

thought echo

: Tidak ada

thought broadcasting

: Tidak ada.

thought withdrawal

: Tidak ada.

thought insertion

: Tidak ada.

Obsesi

: Tidak ada

Fungsi Kognitif dan Sensorium


1. Kesadaran

: Compos mentis

2. Orientasi
Waktu
Tempat
Orang

: Baik (pasien dapat menyebutkan hari, tanggal, bulan, dan tahun saat pasien di wawancara oleh dokter)
: Baik (pasien mengetahui berada di RS)
: Baik (pasien dapat mengenali dokter)

3. Konsentrasi

: Baik (pasien dapat menjawab dengan benar seven serial tes)

4. Daya Ingat

Jangka panjang

: Baik (Pasien dapat mengingat SD tempat pasien sekolah)

Jangka sedang

: Baik (Pasien dapat mengingat kapan dan jam berapa pasien dibawa ke RS.Poli Jiwa Ansari Saleh)

Jangka pendek

: Baik (Pasien dapat mengingat jam berapa pasien bangun)

Segera

: Baik (Pasien dapat menyebutkan 3 benda setelah 5 menit)

5.

Intelegensia dan Pengetahuan Umum

: Baik (pasien tahu siapa nama presiden RI saat ini)

6.

Visuospasial

: Baik (pasien dapat mengikuti gambar segilima berhimpit seperti yang dokter contohkan)

7.

Pemikiran Abstrak

: Baik (pasien dapat mengartikan peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian)

8.

Kemampuan membaca dan menulis : Baik (pasien dapat menuliskan nama lengkap serta dapat membaca apa yang dokter
tuliskan)

9.

Hendaya bahasa

: Tidak ada

Pengendalian Impuls
Baik (pasien dapat mengendalikan dirinya saat diwawancara)
Daya Nilai
1. Penilaian Sosial

: Baik

2. Uji daya nilai

: Baik

RTA

: Terganggu

Tilikan

: Derajat I (pasien menyangkal bahwa dirinya sakit)

Taraf Dapat Dipercaya

: Dapat dipercaya

STATUS FISIK

Status Interna
Keadaan Umum
: Baik
Kesadaran
: Compos Mentis
Tanda vital
- Tekanan darah : 110/80 mmHg
- Nadi
: 80 kali/menit
- Pernapasan
: 20 kali/menit
- Suhu
: 36,6 o C
Kepala
: Normocephal, rambut hitam, distribusi merata.
Mata
: CA (-/-). SI( -/-), pupil bulat isokor, RCL/RCTL(+/+)
Mulut
: Bibir tidak kering, sianosis (-)
THT
: Dalam batas normal
Leher
: Pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
Thorax
: Pulmo : vesikuler (+/+), wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
Abdomen
: supel, nyeri tekan (-), hepatosplenomegali (-), BU (+)
Ekstremitas
: akral hangat, edema (-/-), RCT < 2 detik
Kulit
: lesi (-), petekie (-), scar (-), keloid (+)
Status Neurologis
Rangsang Meningeal
: Tidak ada
Mata
a. Gerakan
: Baik ke segala arah
b. Bentuk Pupil
: Bulat, isokor
c. Rangsang Cahaya
: (+/+)
Motorik
- Tonus
: Baik
- Turgor
: Baik
- Kekuatan
: Baik
- Koordinasi
: Baik

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


1.
2.
3.
4.

Kesadaran
: Compos mentis
Mood
: Hipotim
Afek
: Datar
Gangguan persepsi
:
Riwayat halusinasi auditorik (mendengarkan bisikan-bisikan namun pasien tidak mengenali suara tersebut)
5. Gangguan proses pikir
: Tidak ada
6. Gangguan isi pikir
: Riwayat waham persekutorik
7. RTA
: Terganggu
8. Tilikan
: Derajat I
9. Pengendalian impuls
: Baik
10. Taraf dapat dipercaya
: Dapat dipercaya
FORMULASI DIAGNOSIS
Menurut ikhtisar penemuan bermakna dan PPDGJ-III, kasus ini digolongkan ke dalam Gangguan Psikotik Lir-Skizofrenia Akut (F 23.2) karena
memenuhi kriteria diagnostik :
Aksis I

Gangguan Psikotik Lir-Skizofrenia Akut (F 23.2)


Diagnosis ini diambil karena pada pasien memenuhi kriteria :

Onset gejala psikotik harus akut ( 2 minggu atau kurang, dari suatu keadaan non-psikotik menjadi keadaan yang jelas psikotik ).
Gejala-gejala yang memenuhi kriteria untuk skizofrenia (F.20) harus sudah ada untuk sebagian besar waktu sejak berkembangnya gambaran klinis
yang jelas psikotik.
Kriteria untuk psikosis polimorfik akut tidak terpenuhi.
Pada pasien ini ditemukan :
o Riwayat halusinasi auditorik (pasien mendengar suara-suara bisikan yang selalu mengejek dirinya)
o Riwayat waham persekutorik (pasien menaruh curiga pada orang disekitar pasien)

Aksis II

Pada pasien ditemukan :


1. Pribadi yang pendiam dan cenderung tertutup terhadap setiap masalahnya.
2. Dalam pergaulanya pasien tidak mempunyai teman dekat
3. Pasien juga terlalu sensitif.
Sehingga, cocok untuk gangguan kepribadian skizoid menurut PPDGJ III
Aksis III

: Tidak ditemukan adanya gangguan organobiologis dan kelainan medis.

Aksis IV

: Masalah psikososial dan lingkungan lain

Aksis V

Saat ini :
GAF 70-61

: Beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik

Fungsi merawat diri : Pasien mampu mengurus dirinya dan mampu menjaga kebersihan dirinya, berpenampilan sopan dan
melakukan aktivitas biasa dengan baik.
Fungsi pekerjaan
: Pasien belum dapat melakukan pekerjaan.
Fungsi relasi dengan lingkungan : Pasien belum dapat bersosialisasi dengan teman-temannya di bangsal dan dokter.
Fungsi gunakan waktu luang : Pasien menggunakan waktu luang dengan berdiam diri di kamar.

EVALUASI MULTIAKSIS
AKSIS I

: Gangguan Psikotik Lir-Skizofrenia Akut

AKSIS II

: Ciri kepribadian skizoid

AKSIS III

: Tidak ada

AKSIS IV

: Masalah psikososial dan lingkungan lain

AKSIS V

: GAF 70-61 (Beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik)

DIAGNOSIS

: Gangguan Psikotik Akut Lir Skizofrenia

DIAGNOSIS BANDING : Gangguan waham organik (F06.2), gangguan skizofrenia lainnya (F20.8)
DAFTAR MASALAH
1.

Problem organobiologi

: Terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter di otak sehingga membutuhkan farmakoterapi.

2.

Problem psikologik dan perilaku : Adanya riwayat halusinasi, waham persekutorik

3.

Problem sosial dan lingkungan

: Pasien memiliki hendaya dalam bidang sosial, pekerjaan dan penggunaan waktu senggang sehingga
pasien membutuhkan psikoterapi dan farmakoterapi

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad functionam

: bonam

Quo ad sanactionam

: dubia ad bonam

Faktor yang Memperingan


1.
2.
3.
4.

Usia pasien sakit di bawah 30 tahun


Gangguan baru berlangsung 4 hari
Pasien sudah menikah
Keluarga pasien (terutama ibu dan istri) mendukung kesehatan pasien

Faktor yang Memperberat


1.
2.
3.
4.

Pasien jarang beribadah


Pasien tidak memiliki pekerjaan
Pasien memiliki riwayat penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan minum-minuman beralkohol (6 tahun)
Lingkungan pasien yang tidak kondusif dan mudah terpengaruh pada hal-hal negatif

RENCANA TERAPI
Farmakoterapi

Antipsikotik

: CPZ 2 x 100 mg
Haloperidol 2 x 1,5 mg
Injeksi CPZ 100 mg (bila perlu)
Injeksi delladryl 2 cc (bila gelisah)

Daftar Pustaka : Maslim, Rusdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika
Atmajaya.hal 28-29, 54-55.
Hasil Pembelajaran :
1.
2.
3.
4.

Penegakkan diagnosis gangguan psikotik akut


Mengetahui perbedaan gangguan psikotik akut dengan gangguan waham organik
Tatalaksana pasien dengan gangguan psikotik akut
Edukasi pada keluarga pasien dengan gangguan psikotik akut

Assessment (penalaran klinis)


Gangguan psikosis terjadi akibat gangguan neurotransmitter pada sel-sel saraf otak yaitu overproduksi dopamin, sehingga dopamin berlebihan
menyebabkan terjadi overstimulasi eksitasi (gaduh gelisah). Obat-obat antipsikotik tipikal bekerja sebagai penghambat reseptor dopamin
khususnya D2 post sinap, karena mempunyai gugus yang sama sehingga dapat menduduki reseptor dopamin .
Gangguan Psikotik Akut

Onset gejala psikotik harus akut ( 2 minggu atau kurang,


dari suatu keadaan non-psikotik menjadi keadaan yang jelas

Gangguan Waham Organik

(waham kejar, tubuh yang berubah, cemburu,

psikotik ).

Gejala-gejala yang memenuhi kriteria untuk skizofrenia


(F.20) harus sudah ada untuk sebagian besar waktu sejak
berkembangnya gambaran klinis yang jelas psikotik.

Kriteria umum tersebut diatas (F06)


Disertai : Waham yang menetap atau berulang

penyakit, atau kematian dirinya atau orang lain ).


Halusinasi, gangguan proses pikir, atau fenomena
katatonik tersendiri, mungkin ada.
Kesadaran dan daya ingat tidak terganggu.

Kriteria untuk psikosis polimorfik akut tidak terpenuhi.

Plan:
Diagnosis: : Gangguan Psikotik Lir Skizofrenia Akut (F23.2)
Pengobatan: Pasien diberikan obat antipsikosis CPZ 100 mg dan Haloperidol 1,5 mg untuk mengurangi atau menghilangkan gejala psikosis,
menormalkan fungsi psikomotor, mengatasi insomnia dan antiemesis. Pasien juga diberikan injeksi CPZ 100 mg dan injeksi
delladryl 2cc bila pasien terlihat gelisah.

Pendidikan:
Psikoterapi
a.

Suportif

Memberikan dukungan dan perhatian kepada pasien dalam mengatasi masalahnya.


Memberikan gambaran keuntungan individu jika memanfaatkan waktu luang dengan hal-hal positif, dengan menjalankan hobi yang bermanfaat.
Memberikan semangat dan masukan positif serta mengarahkan pasien agar selalu percaya akan kemampuan dirinya dan selalu berpikir positif
terhadap orang lain.

b. Keluarga

Menjelaskan kepada keluarga mengenai penyakit yang diderita oleh pasien, penyebabnya, faktor pencetus, dan rencana terapi. Menyarankan
keluarga untuk selalu memberikan dukungan dan perhatian lebih kepada pasien.

Memotivasi keluarga pasien untuk selalu mendorong pasien mengungkapkan perasaan dan berbagi tentang masalah yang sedang dihadapinya.

Memberikan nasihat kepada keluarga untuk bersama-sama membantu dan mendukung kesembuhan baik mental, jiwa, emosi, dan rohani pasien
dalam kesinambungannya dengan pemulihan kesembuhan yang seutuhnya.

Menghindarkan sikap tak acuh anggota keluarga terhadap masalah yang terjadi oleh pasien, karena perhatian dan kasih sayang anggota
keluarga sangat berarti.

I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. NA

Usia

: 40 tahun

Jenis Kelamin

: Wanita

Alamat

: Gambut, Komplek Lutsfiya

Pendidikan

: Tidak tamat SD

Pekerjaan

: Pedagang Baju

Agama

: Islam

Suku

: Banjar

Bangsa

: Indonesia

Status Perkawinan: Menikah


Tanggal Berobat : 17 November 2015
II. RIWAYAT PSIKIATRI
Diperoleh dari autoanamnesa dan alloanamnesa dengan os pada tanggal 17 November 2015 pada pukul 11.45 wita dan dengan suami os pada tanggal 17
November 2015 pada pukul 12.30.
A. KELUHAN UTAMA :

Cemas
B. KELUHAN TAMBAHAN:

Sering menangis
C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Autoanamnsesis dengan Ny NA / 40 tahun / Os

Os datang ke RS Ansari Saleh pada tangal 17 November 2015, os datang karena merasa os cemas. Cemas dirasakan os sejak lebih dari setengah
bulan yang lalu. Cemas yang dirasakan os menyebabkan kegiatan os menjadi terganggu. Os merasa cemas karena memikirkan anak os yang sedang sakit.
Menurut pengakuan os, anak os yang sedang sakit tidak ingin melakukan pemeriksaan dan melakukan pengobatan, hal inilah yang membuat os menjadi
cemas.
Saat cemas os merasakan badan os menjadi gemetaran dan berdebar. Os merasakan ini saat os memikirkan anak os atau melihat anak os. Selain itu
os juga mengaku sering menangis. Os sering menangis apabila teringat penyakit yang diderita oleh anak os. Os juga merasa dirinya tidak berguna sebagai
ibu, terkadang os merasa dirinya lah yang menyebabkan hal tersebut terjadi pada anak os.
Hal lain yang dirasakan os adalah os menjadi malas untuk berkegiatan. Os berpikir untuk tidur saja, karena dengan begitu os akan melupakan
masalah os. Os juga pernah berpikir untuk bunuh diri ketika melihat pisau. Os juga mengatakan bahwa os merasa ketakutan ketika melihat pisau. Os
sempat mengatakan bahwa os lebih baik mati saja supaya tidak kepikiran masakah os.
Saat mengalami kecemasan ini os mengatakan os menjadi lebih sulit tidur, os bisa tidur apabila os meminum obat tidur yang diberikan oleh dokter.
Os juga mengaku os sering menangis bila sedang berjualan. Os menangis apabila jualan os tidak selaku biasanya, selain itu saat berjualan os juga sering
memikirkan anak os.
Os juga mengatakan bahwa sebelumnya saat berkumpul dengan teman-teman os maka keluhan os akan berkurang. Namun beberapa waktu ini
keluhan tidak berkurang, os tetap saja kepikiran. Os juga menjadi takut bila penyakit anak os semakin parah karena anak os tidak mau berobat.
Os masih dapat melakukan kegiatan sehari-hari seperti mandi menyuci piring baju dan lain-lain. Hal yang berkurang dalam beberapa waktu ini
adalah os menjadi tidak mau berjualan, dan menjadi agak malas untuk bertemu dengan teman-teman os. Os juga mengatakan os lebih sering melamun
daripada biasanya.

Alloanamnesis: Tn. M/ 42 tahun/ suami os


Suami os mengatakan os mengalami perubahan sikap. Beberapa saat ini os menjadi lebih sering menangis. Os menangis setelah os melihat anak os
yang sedang sakit. Suami os tidak tahu pasti kapan pastinya os menjadi seperti ini. Hal ini juga menyebabkan suami os menjadi cemas melihat keadaan
sang istri.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
- Os tidak pernah ada riwayat demam dengan penurunan kesadaran.
- Os tidak ada riwayat kejang.

RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI


1. Riwayat Prenatal dan Antenatal
Data tidak akurat karena ibu os telah meninggal.
2. Riwayat Masa Bayi ( 0-1,5 tahun) (Infancy: Trust vs Mistrust)
Data tidak akurat karena ibu os telah meninggal.
3. Riwayat Masa Batita (1,5-3 tahun) (Early childhood: Autonomy vs Shame,doubt)
Data tidak akurat karena ibu os telah meninggal.
4. Riwayat Masa Kanak-Kanak Awal (3-6 tahun) ( Preschool age: Initiative vs Guilt)
Data tidak akurat karena os tidak didampingi oleh keluarga os.
5. Riwayat Masa Kanak-Kanak Pertengahan dan Akhir (6-12 tahun) (School age: Industry vs Inferiority)

Data tidak akurat karena os tidak didampingi oleh keluarga os.


6. Riwayat Masa Remaja (11-20 tahun) ( Adolescence: Identity vs Confusion)
Os mengatakan bahwa os tidak pernah bermasalah saat remaja. Os memiliki banyak teman. Os juga mengatakan bahwa os merupakan wanita yang
mandiri.
7. Riwayat Masa Dewasa Awal (20-40 tahun) ( Young Adulthood: Intimacy vs Isolation)
Os tidak pernah mengalami masalah seperti ini sebelumnya. Os bergaul dengan baik mengikuti pengajian dan arisan-arisan disekitar rumah os.
8. Riwayat pendidikan
Os bersekolah dan tidak lulus SD
9. Riwayat pekerjaan
Os merupakan pedagang baju di pasar gambut.
10. Riwayat perkawinan
Os menikah dengan suami os saat usia os 20 tahun. Sekarang os memiliki 2 anak satu laki-laki dan satu perempuan. Os tinggal bersama dengan 2 anak
os.
D. RIWAYAT KELUARGA

Herediter (-)
Keterangan :
= Pasien
= Laki-laki
= Wanita
= Meninggal
Didalam keluarga os tidak ada memiliki keluhan yang sama.

E. RIWAYAT SITUASI SEKARANG


Os tinggal bersama suami dan kedua anaknya.Kehidupan sehari-hari pasien dibiayai oleh suami os.
PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN LINGKUNGANNYA
Os merasa dirinya sakit. Os juga sedih karena kadang merasa tidak berguna di keluarganya. Os sangat menyayangi anak os dan ingin anak os melakukan
pengobatan untuk penyakitnya
III.

STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum
A.

Penampilan

Os datang diantar oleh suami os. Wajah os terlihat sesuai dengan umur os. Os tampak terawat, bertubuh sedang,pendek dan kurus, berkulit sawo
matang, berjilbab berwarna hitam menggunakan baju merah hitam volkado.
B. Kesadaran
E4 V5 M6 jernih
C. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Hipoaktif.
D. Pembicaraan
Spontan, lancar, koheren.
E.

Sikap terhadap pemeriksa


Kooperatif

F. Kontak psikis
Kontak ada, wajar dan dapat dipertahankan
HIDUP EMOSI
Afek (mood)

: Hipotimia

Reaksi emosi

a. Stabilitas

: Labil

b. Pengendalian

: Tidak dapat mengendalikan

c. Kesungguhan

: sungguh-sungguh

d. kedalaman

: dangkal

e. Skala diferensiasi

: luas

f. Empati

: dapat dirasakan

g. Arus Emosi

: lebih lambat

Fungsi Kognitif
G.

Kesadaran

: kompos mentis

H.

Intelegensi dan pengetahuan umum: sesuai dengan tingkat


pendidikan pasien (SD)

I.

Daya konsentrasi

: terganggu

J.

Orientasi

: baik

: Waktu

Tempat

: baik

Orang

K. Daya Ingat

L.

: baik

Situasi

: baik

: Segera

: baik

Jangka Pendek

: baik

Jangka Panjang

: baik

Pikiran abstrak

:-

M.

Bakat kreatif

:-

N.

Kemampuan menolong diri sendiri : baik

O.

Intelegensia dan Pengetahuan Umum :


Sesuai dengan tingkat pendidikan formal pasien

Gangguan Persepsi
Halusinasi auditorik/visual/olfaktorik : Disangkal Os
Depersonalisasi / derealisasi

: Disangkal Os

B. Proses Pikir
A.

Arus Pikir
a. Produktivitas

: baik

b. Kontinuitas

: baik

c. Hendaya berbahasa

:-

B.

Isi Pikir

a. Preokupasi

:-

b. Gangguan Isi Pikir

: waham (-)

C. Pengendalian Impuls
Tidak terkendali

D. Daya Nilai
A.

Daya nilai sosial

: baik

B.

Uji daya nilai

: baik

C.

Penilaian realitas

: baik

E. Tilikan
Tilikan 5 (mengetahui bahwa dirinya sakit dan tahu bahwa penyebabnya adalah perasaan irasional atau gangguan-gangguan yang dialami, tetapi tidak
memakai pengetahuan tersebut untuk pengalaman di masa datang)
Taraf dapat dipercaya
Dapat dipercaya
IV.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


A.

Status Internus
Keadaan Umum

: Tampak sehat, kesadaran kompos mentis

Tanda Vital

: Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 89 X/menit

Respirasi

: 20 X/menit

Suhu

: 36 oC

Bentuk badan

: Sedang

Kulit

: Sawo Matang, tidak sianosis, turgor cepat kembali, kelembaban cukup, tidak anemis.

Kepala

Mata

: Palpebra tidak edema, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor

Hidung

: Bentuk normal, tidak ada epistaksis, tidak ada sekret

Mulut

: Bentuk normal dan simetris, mukosa bibir terlihat kering.

Leher

: Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening

Thoraks

Inspeksi

: Simetris, tidak ada retraksi dinding dada

Palpasi

: Fremitus raba simetris kanan dan kiri

Perkusi

Cor

: batas jantung normal

Pulmo

: sonor

Auskultasi

Cor

: S1=S2 tunggal, murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)

Abdomen

Inspeksi

: Simetris, cembung

Auskultasi

: Peristaltik usus normal

Palpasi

: Hepar/Lien tidak teraba, nyeri tekan (-)

Perkusi

: Timpani, asites (-), nyeri ketuk (-)

Ektremitas
B.

V.

: pergerakan bebas, tidak ada edema atau atrofi, tidak ada tremor.
Status Neurologis

Nervus I-XII

: tidak ada kelainan

Gejala rangsang meningeal

: tidak ada

Gejala TIK meningkat

: tidak ada

Refleks fisiologis

: normal

Refleks patologis

: tidak ada

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Autoanamnesis dan Alloanamnesis
1. Afek depresif (Os sering melamun dan menangis).
2. Berkurangnya energi dan menurunnya aktivitas (os menjadi malas untuk berjualan, dan bertemu dengan teman)
3. Sering menangis (os sering menangis bila teringat anak os).
4. Berkurangnya konsentrasi dan perhatian.
5. Kehilangan minat dan kegembiraan (os merasa sedih karena menganggap dirinya ibu yang menyebabkan anaknya sakit)
6. Tidur terganggu (sulit tidur dan bila tidak minum obat tidak bisa tidur)
7. Adanya gagasan untuk bunuh diri
8. Adanya gagasan mengenai rasa bersalah dan tidak berguna

Pemeriksaan Psikiatri :
Perilaku dan aktifitas psikomotor : Hipoaktif
Kontak psikis : ada dan dapat dipertahankan
Pembicaraan : Os menjawab dengan lancar namun nampak gelisah
Afek : hypotimia
Ekspresi afektif : terlihat cemas dan sedih
Konsentrasi

: terganggu

VI. EVALUASI MULTIAKSIAL


Aksis I

: episode depresif sedang (F.32.1) dd gangguan cemas menyeluruh (f 41.1)

Diagnosis
Data pendukung

Depresi sedang
Sering menangis

Malas untuk beraktivitas (berjualan)

Ingin tidur terus

Merasa tidak berguna

Sulit tidur

Adanya gagasan ingin bunuh diri

Gangguan cemas menyeluruh


Gangguan sedih muncul apabila melihat anak yang sedih
Adanya rasa berdebar
Adanya rasa cemas setiap hari

Afek hipotim

Mood sedih dan cemas

Diagnosa: episode depresif sedang (F.32.1)


Aksis II

: none

Aksis III : HT terkontrol


Aksis IV : Masalah dengan primary support group (keluarga)
Aksis V

: GAF SCALE 80-71 (gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam sosial, pekerjaan, sekolah, dll).

DAFTAR MASALAH
A.

PSIKOLOGIK
Afek hipotim dimana os sering merasa sedih, selain itu os juga mengalami penurunan dalam kegiatan. Os juga mengalami gangguan konsentrasi dalam
kehidupan sehari-hari yakni sering melamun.

B.

KELUARGA
Stressor berupa anak os yang tidak ingin berobat.

C.

ORGANOBIOLOGIK

Os memiliki hipertensi namun os rutin meminum obat dan sering kontrol ke dokter spesialis penyakit dalam.
VII.

PROGNOSIS
Diagnosis penyakit

: ad bonam

Perjalanan penyakit

: ad bonam

Ciri kepribadian

: dubia ad bonam

Stressor

: dubia ad bonam

Psikosoasial

: ad bonam

Riwayat herediter

: ad bonam

Usia saat menderita

: dubia ad bonam

Pola keluarga

: ad bonam

Pendidikan

: dubia ad bonam

Aktivitas pekerjaan

: ad bonam

Ekonomi

: dubia ad bonam

Lingkungan sosial

: dubia ad bonam

Organobiologi

: dubia ad bonam

Pengobatan psikiatri

: ad bonam

Ketaatan berobat

: ad bonam

Kesimpulan

: Dubia ad bonam

VIII. RENCANA TERAPI


Psikoterapi

bisa dilakukan dengan cara psikoterapi supportive atau reedukatif. Supportive dengan cara manipulasi lingkungan, terapi
kelompok,maupun dengan cara bimbingan. Untuk reedukatif misalnya terapi keluarga terapi perilaku dll

Terapi Religi : pasien harus diajarkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, lebih sering ke pengajian untuk menambah ilmu keagamaan
Rehabilitasi

: memberi kegiatan kepada penderita yang sesuai bakat dan minatnya agar membantu memepercepat penyembuhan.

Medika Mentosa

Fluoxatine 20 mg (1x1 caps), termasuk anti depresan golongan SSRI ( Selektif Serotonin Reuptake Inhibitor ) selektif menghambat ambilan
serotonin dan mengingat profil efek sampingnya untuk penggunaan pada sindrom depresi ringan dan sedang yang datang berobat jalan sebaiknya
pertama-tama menggunakan golongan SSRI yang efek sampingnya minimal (meningkatkan kepatuhan minum obat), spektrum efek anti depresi
luas dan gejala putus obat sangat minimal, serta lethal dose yang tinggi (> 6000mg) sehingga relatif aman.

IX.

DISKUSI
Berdasarkan hasil anamnesa alloanamnesa dan autoanamnesa serta pemeriksaan status mental yang dilaksankan pada hari selasa tanggal 17 November
2015, dan merujuk pada kriteria diagnostik dari PPDGJ III, diagnosis penderita dalam kasus ini mengarah ke episode depresi dan dapat didiagnosa dengan
episode depresi sedang (F.32.1).
Depresi adalah gangguan mood yang dikarakteristikkan dengan kesedihan yang intens, berlangsung dalam waktu lama, dan mengganggu kehidupan
normal. Depresi merupakan problem kesehatan masyarakat yang cukup serius, penyakit ini mengenai 20% wanita dan 12% pria pada suatu waktu dalam
kehidupan.2 World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa depresi berada pada urutan keempat penyakit di dunia pada tahun 2000. Pada tahun 2020,
depresi diperkirakan menempati urutan kedua penyakit di dunia. Sekarang depresi merupakan penyakit kedua yang terjadi pada pria dan wanita umur 15-44

tahun. Dengan semakin meningkatnya tekanan kehidupan semakin banyak orang-orang yang menunjukkan gejala depresi, Depresi merupakan satu masa
terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan,
psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri.
Menurut Kaplan, depresi merupakan salah satu gangguan mood yang ditandai oleh hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya
penderitaan berat. Mood adalah keadaan emosional internal yang meresap dari seseorang, dan bukan afek, yaitu ekspresi dari isi emosional saat itu ( Kaplan,
2010). Depresi dapat terjadi pada keadaan normal sebagai bagian dalam perjalanan proses kematangan dari emosi sehingga definisi depresi adalah sebagai
berikut: (1) pada keadaan normal merupakan gangguan kemurungan (kesedihan, patah semangat) yang ditandai dengan perasaan tidak pas, menurunnya
kegiatan, dan pesimisme menghadapi masa yang akan datang, (2) pada kasus patologis, merupakan ketidakmauan ekstrim untuk bereaksi terhadap rangsangan
disertai menurunnya nilai diri, delusi ketidakpuasan, tidak mampu, dan putus asa.
Gejala-gejala depresi terdiri dari gangguan emosi (perasaan sedih, murung, iritabilitas, preokupasi dengan kematian), gangguan kognitif (rasa bersalah,
pesimis, putus asa, kurang konsentrasi), keluhan somatik (sakit kepala, keluhan saluran pencernaan, keluhan haid), gangguan psikomotor (gerakan lambat,
pembicaraan lambat, malas, merasa tidak bertenaga), dan gangguan vegetatif (gangguan tidur, makan dan fungsi seksual). Kaplan menyatakan bahwa faktor
penyebab depresi dapat secara buatan dibagi menjadi faktor biologi, faktor genetik, dan faktor psikososial.
a. Faktor biologi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat kelainan pada amin biogenik, seperti: 5 HIAA (5-Hidroksi indol aset ic acid), HVA (Homovanilic
acid), MPGH (5 methoxy-0-hydroksi phenil glikol), di dalam darah, urin dan cairan serebrospinal pada pasien gangguan mood. Neurotransmiter yang terkait
dengan patologi depresi adalah serotonin dan epineprin. Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi, dan pada pasien bunuh diri, beberapa pasien memiliki
serotonin yang rendah. Pada terapi despiran mendukung teori bahwa norepineprin berperan dalam patofisiologi depresi (Kaplan, 2010). Selain itu aktivitas

dopamin pada depresi menurun, hal tersebut tampak pada pengobatan yang menurunkan konsentrasi dopamin seperti Respirin, dan penyakit dimana konsentrasi
dopamin menurun seperti parkinson, disertai gejala depresi. Obat yang meningkatkan konsentrasi dopamin, seperti tyrosin, amphetamine, dan bupropion dapat
menurunkan gejala depresi (Kaplan, 2010).
Hipotalamus merupakan pusat pengaturan aksis neuroendokrin, menerima input neuron yang mengandung neurotransmiter amin biogenik. Pada pasien
depresi ditemukan adanya disregulasi neuroendokrin. Disregulasi ini terjadi akibat kelainan fungsi neuron yang mengandung amin biogenik. Sebaliknya, stres
kronik yang mengaktivasi aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) dapat menimbulkan perubahan pada amin biogenik sentral. Aksis neuroendokrin yang
paling sering terganggu yaitu adrenal, tiroid, dan aksis hormon pertumbuhan. Aksis HPA merupakan aksis yang paling banyak diteliti (Landefeld et al, 2004).
Hipersekresi CRH merupakan gangguan aksis HPA yang sangat fundamental pada pasien depresi. Hipersekresi yang terjadi diduga akibat adanya defek pada
sistem umpan balik kortisol di sistem limpik atau adanya kelainan pada sistem monoaminogenik dan neuromodulator yang mengatur CRH (Kaplan, 2010).
Sekresi CRH dipengaruhi oleh emosi. Emosi seperti perasaan takut dan marah berhubungan dengan Paraventriculer nucleus (PVN), yang merupakan organ
utama pada sistem endokrin dan fungsinya diatur oleh sistem limbik. Emosi mempengaruhi CRH di PVN, yang menyebabkan peningkatan sekresi CRH
(Landefeld, 2004). Pada orang lanjut usia terjadi penurunan produksi hormon estrogen. Estrogen berfungsi melindungi sistem dopaminergik negrostriatal
terhadap neurotoksin seperti MPTP, 6 OHDA dan methamphetamin. Estrogen bersama dengan antioksidan juga merusak monoamine oxidase.
Sistem saraf pusat mengalami kehilangan secara selektif pada sel sel saraf selama proses menua. Walaupun ada kehilangan sel saraf yang konstan pada
seluruh otak selama rentang hidup, degenerasi neuronal korteks dan kehilangan yang lebih besar pada sel-sel di dalam lokus seroleus, substansia nigra,
serebelum dan bulbus olfaktorius (Lesler, 2001). Bukti menunjukkan bahwa ada ketergantungan dengan umur tentang penurunan aktivitas dari noradrenergik,
serotonergik, dan dopaminergik di dalam otak. Khususnya untuk fungsi aktivitas menurun menjadi setengah pada umur 80-an tahun dibandingkan dengan umur
60-an tahun.

b. Faktor Genetik
Penelitian genetik dan keluarga menunjukkan bahwa angka resiko di antara anggota keluarga tingkat pertama dari individu yang menderita depresi
ringan diperkirakan 2 sampai 3 kali dibandingkan dengan populasi umum. Angka keselarasan sekitar 11% pada kembar dizigot dan 40% pada kembar
monozigot (Davies, 1999). Oleh Lesler (2001), Pengaruh genetik terhadap depresi tidak disebutkan secara khusus, hanya disebutkan bahwa terdapat penurunan
dalam ketahanan dan kemampuan dalam menanggapi stres. Proses menua bersifat individual, sehingga dipikirkan kepekaan seseorang terhadap penyakit adalah
genetik.
c. Faktor Psikososial
Menurut Freud dalam teori psikodinamikanya, penyebab depresi adalah kehilangan objek yang dicintai (Kaplan, 2010). Ada sejumlah faktor psikososial
yang diprediksi sebagai penyebab gangguan mental, faktor psikososial tersebut adalah hilangnya peranan sosial, hilangnya otonomi, kematian teman atau sanak
saudara, penurunan kesehatan, peningkatan isolasi diri, keterbatasan finansial, dan penurunan fungsi kognitif (Kaplan, 2010). Sedangkan menurut Kane, faktor
psikososial meliputi penurunan percaya diri, kemampuan untuk mengadakan hubungan intim, penurunan jaringan sosial, kesepian, perpisahan, kemiskinan dan
penyakit fisik (Kane, 1999). Sedangkan faktor psikososial yang mempengaruhi depresi meliputi: peristiwa kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian,
psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori kognitif dan dukungan sosial (Kaplan, 2010).
Peristiwa kehidupan yang menyebabkan stres, lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood dari episode selanjutnya. Para klinisi
mempercayai bahwa peristiwa kehidupan memegang peranan utama dalam depresi. Stressor lingkungan yang paling berhubungan dengan onset suatu episode
depresi adalah kehilangan pasangan (Kaplan, 2010). Stressor psikososial yang bersifat akut, seperti kehilangan orang yang dicintai, atau stressor kronis
misalnya kekurangan finansial yang berlangsung lama, kesulitan hubungan interpersonal, ancaman keamanan dapat menimbulkan depresi (hardywinoto, 1999).

Faktor kepribadian. Beberapa ciri kepribadian tertentu yang terdapat pada individu, seperti kepribadian dependen, anankastik, histrionik, diduga
mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya depresi. Sedangkan kepribadian antisosial dan paranoid (kepribadian yang memakai proyeksi sebagai mekanisme
defensif) mempunyai resiko yang rendah (Kaplan, 2010). Faktor kognitif. Adanya interpretasi yang keliru terhadap sesuatu, menyebabkan distorsi pikiran
menjadi negatif tentang pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme dan keputusasaan. Pandangan yang negatif tersebut menyebabkan perasaan
depresi (Kaplan, 2010).
Pedoman diagnostik untuk episode depresi menurut PPDGJ III, antara lain:

Gejala Utama ( pada depresi derajat ringan, sedang, berat):

- afek depresi,

- kehilangan minat dan kegembiraan

- berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah ( rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya

aktivitas.

Gejala lainnya :
a. Konsentrasi dan perhatian berkurang
b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
c. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
f. Tidur terganggu

g. Nafsu makan berkurang

Untuk episode depresi dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosa, akan tetapi
periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.

Sedangkan pedoman diagnostik untuk episode depresi sedang menurut PPDGJ III, antara lain :

Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti pada episode depresi ringan (F30.0).

Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya.

Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu.

Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga.

Berdasarkan pedoman diagnosis secara umum untuk episode depresi pada penderita ini telah terpenuhi yaitu ditemukannya gejala utama seperti afek
depresi, kehilangan minat dan kegembiraan, meningkatnya keadaan mudah lelah saat beraktivitas sedikit saja sehingga terjadi penurunan aktivitas serta terdapat
gejala lainnya seperti konsentrasi dan perhatian yang berkurang dimana os menjadi lebih sering melamun. Os juga merasa, tidurnya menjadi terganggu os.
Gejala-gejala tersebut telah berlangsung selama sekurang-kurangnya 2 minggu.
Pengelompokan tipe episode depresif itu dapat dilihat dari gejala utama yang mendasari episode depresif itu sendiri dan gejala lainnya, misalnya pada
episode depresi ringan gejala yang menonjol adalah hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya, pada episode depresif
sedang gejala yang menonjol adalah menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga. Pada episode depresif
berat tanpa gejala psikotik gejala yang menonjol adalah tidak memungkinkannya pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah
tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas dan pada episode depresif berat dengan gejala psikotik gejala yang menonjol adalah sudah adanya waham yang

melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu, serta adanya halusinasi
auditorik berupa suara yang menghina menuduh atau halusinasi olfatorik seperti mencium bau kotoran atau daging busuk.
Melalui anamnesis baik yang dilakukan langsung dengan os maupun anamnesis yang dilakukan dengan suami os didapatkan pula gejala-gejala yang
mendukung diagnosis ke arah episode depresif sedang antara lain di dapatkan 3 gejala utama dan 4 gejala lainnya yang berlangsung sudah lebih dari 2 minggu
yang lalu serta menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, dan pekerjaan.
Depresi disebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau beberapa aminergic neurotransmitter salah satunya serotonin pada celah sinaps neuron di SSP
khususnya sistem limbic sehingga aktivitas reseptor serotonin menurun. Pada pasien depresi diberikan obat antidepresan yang dapat menghambat re-uptake
aminergic neurotransmiter dan menghmbat penghancuran oleh enzim Monoamine Oxidase sehingga terjadi peningkatan jumlah aminergic neurotransmitter
pada celah sinaps neuron tersebut yang dapat meningkatkan aktivitas reseptor serotonin. Pada os diberikan obat Fluoxetin 10 mg (1 x 1 caps), yang termasuk
dalam obat anti-depressan golongan SSRI (Selektif Serotonin Reseptor Inhibitor). Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) merupakan grup kimia
antidepresan baru yang khas, hanya menghambat ambilan serotonin secara spesifik. Berbeda dengan antidepresan trisiklik yang menghambat tanpa seleksi
ambilan norepinefrin, serotonin, reseptor muskarinik. Dibandingkan dengan antidepresan trisiklik, SSRI menyebabkan efek antikolinergik lebih kecil dan
kordiotoksisitas lebih rendah. Mengingat os baru pertama kali berobat jalan dan mengingat profil efek sampingnya sebaiknya pertama-tama meggunakan
golongan SSRI tetapi apabila dalam jangka waktu yang cukup ( sekitar 3 bulan) tidak efektif, dapat beralih ke golongan trisiklik dan jika pilihan kedua belum
berhasil dapat beralih dengan spektrum anti-depresan yang lebih sempit yaitu golongan tetrasiklik.
Efek samping obat anti-depresan dapat berupa sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif
menurun, dll), efek anti-kolinergik (mulut kering, retensi urin, penglihatan kabur, konstipasi, sinustakikardia, dll), efek anti-adrenergik alfa (perubahan EKG,
hipotensi) dan efek neurotoksis (tremor halus, gelisah, agitasi).

Selain menggunakan psikofarmaka, terapi pada pasien ini dapat dilakukan dengan cara psikoterapi berupa terapi keluarga dan masyarakat agar bisa
menerima keadaan penderita dengan tidak menimbulkan stressor-stressor baru, melainkan dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk kesembuhan
penderita. Peran keluarga dan masyarakat sangat penting dalam membantu kesembuhan pasien.