Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN TUTORIAL

BLOK KURATIF DAN REHABILITATIF IV


SKENARIO 7

KELOMPOK TUTORIAL I :
KETUA

: Zhara Hafzah Audilla

(131610101003)

SCRIBER MEJA

: Dessy Fitri Wulandari

(131610101086)

SCRIBER PAPAN

: Ria Dhini Musyarofah

(131610101004)

ANGGOTA

Lulu Rosima Putri

(111610101041)

Alfin Tiara Shafira

(131610101007)

Dewi Muflikhah

(131610101012)

Elisa Arianto

(131610101075)

Lilis Putri Anjasnurani

(131610101076)

Rr. Nektara Titan D(131610101082)


Sani Sonia

(131610101090)

Nawang Lintang C

(131610101094)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2016

KATA PENGANTAR

Pertama, puji syukur kehadirat Illahi Robbi, Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas segala bimbingan dan petunjuk-Nya , serta berkat rahmat, nikmat, dan
karunia-Nya sehingga kami diberi kesempatan untuk menyelesaikan laporan
tutorial dengan skenario VII Blok Kurhab IV.
Laporan tutorial yang kami buat ini sebagai salah satu sarana untuk lebih
mendalami materi tentang oral diagnose dan rencana perawatan penyakit
dentomaksilofasial. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. drg. Happy Harmono, M.Kes yang telah memberi kami kesempatan dan
bimbingan untuk lebih mendalami materi dengan pembuatan laporan tutorial
ini.
2. Teman-teman kelompok tutorial I yang telah berperan aktif dalam pembuatan
laporan tutorial ini.
Kami menyadari bahwa laporan tutorial ini mengandung banyak
kekurangan,baik dari segi isi maupun sistematika. Oleh karena itu, kami mohon
maaf jika ada kesalahan karena kami masih dalam proses pembelajaran. Kami
juga berharap laporan tutorial ini yang telah kami buat ini dapat bermanfaat untuk
pendalaman pada blok ini.

Jember, 19 Mei 2016


Penulis

DAFTAR ISI

COVER....................................................................................................................1
KATA PENGANTAR.2
DAFTAR ISI............................................................................................................3
BAB 1 PENDAHULUAN.......4
1.1 Latar Belakang...................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................5
1.3 Tujuan Pembelajaran..........................................................................................5
1.4 Mapping.............................................................................................................6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA......7
2.1 Implan................................................................................................................7
2.2 Bagian Bagian Implan.....................................................................................7
2.3 Letak Implan......................................................................................................8
2.4 Bahan Implan.....................................................................................................9
2.5 Indikasi dan Kontraindikasi Pemasangan Gigi Implan....................................11
2.6 Osseintegrasi................................................................................................13
BAB 3 PEMBAHASAN........................................................................................16
3.1 Pemeriksaan Penunjang...................................................................................16
3.2 Perawatan Khusus Implan................................................................................17
3.3 Instruksi Pemasangan Implan..........................................................................18
3.4 Keberhasilan Implan........................................................................................20
3.5 Kegagalan Implan............................................................................................21
BAB 4 KESIMPULAN.........................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................27

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Usaha rehabilitasi untk menangani edentulous sebagian dapat dilakukan
dengan pembuatan gigi tiruan. Salah satu gigi tiruan modern yang marak saat ini
adalah dental implant. Dental implant adalah benda asing yang ditanamkan ke
dalam tulang raang manusia sebagai pengganti gigi yang hilang. Perlekatan
implant ke tulang alveolar terbentuk melalui proses osseointegrasi yang dimulai
dari proses penyembuhan, maturasi dan adaptasi. Proses penyembuhan juga
berlangsung dengan dibangunnya ikatan periimplan yang secara morfologi dan
fungsional analog dengan epitel perlekatan. Sementara perlekatan antara gigi ke
tulang alveolar terjadi secara alami dengan adanya ligament periodontal. Perbedan
ini mungkin mengakibatkan kemampuan biologis jaringan periimplan dan
periodontal dalam menerima tekanan juga akan berbeda, sehingga perhitungan
yang kurang hatihati tentang aspek biomekanis implant gigi mungkin pula dapat
menimbulkan terjadinya kegagalan perawatan.
Adanya kegoyangan implant merupakan tanda tahap akhir suatu
periimplan yang patologis yang menunjukkan kegagalan, keadaan ini disebut
periimplantitis. Periimplantitis dapat disertai gejala-gejala sebagai berikut;
dehisensi, fistula dan radang pada gingival, akibat invasi bakteri ke dalam sulkus
gingiva sekitar implant yang goyang, dan memperparah hilangnya oseointegrasi,
sehingga pada akhornya implant lepas dari soketnya.

1.2. Rumusan Permasalahan

GIGI IMPLAN GOYANG


Penderita laki-laki usia 35 tahun datang ke dokter gigi dengan keluhan gusi
disekitar gigi geraham belakang kkanan bawah sering berdarah. Pada
pemeriksaan intra oral ditemukan bahwa gigi 46 protesa implant, goyang
derajat satu, gingival Nampak kemerahan dan mudah berdarah, kedalaman
probing 4 mm juga didapatkan banyak debris dan plak. Menurut dokter gigi
terjadi kelainan keradangan di sekitar implant gigi, sehingga perlu
pemeriksaan penunjang dan tindakan perawatan secara khusus.
Berdasarkan skenario di atas, maka diperoleh rumusan masalah sebagai
berikut:
1. Apa saja pemeriksaan penunjang pada pemasangan implant?
2. Apa saja perawatan khusus pada implant?
3. Bagaimana instruksi pemasangan implant?
4. Apa saja kegagalan dari implant?
5. Apa saja keberhasilan dari implant?

1.3. Tujuan Pembelajaran


Berdasarkan

permasalahan

pada

skenario,

maka

diperoleh

tujuan

pembelajaran sebagai berikut:


1. Mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan pemeriksaan penunjang
pada pemasangan implant
2. Mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan perawatan khusus pada
implant
3. Mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan instruksi pemasangan
implant
4. Mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan kegagalan dari implant
5

5. Mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan keberhasilan dari


implant

1.4 Mapping

Implant Goyang

Kegagalan

Etiologi

----

Pemeriksaan

Keberhasilan

Pemeliharaan

Analisis Kegagalan

Diagnosa

Perawatan

Respon jaringan

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Implan
Implan gigi menjadi salah satu pilihan menarik yang berkembang sangat
pesat pada praktek kedokteran gigi. Pada dekade terakhir ini implan merupakan
terapi alternatif yang cocok untuk menggantikan gigi tiruan konvensional. Bagian
implan yang tertanam dalam tulang rahang dan bagian implan yang menonjol
pada jaringan mukosa digunakan untuk menghasilkan penjangkaran yang dapat
meningkatkan retensi dan stabilitas pada gigi tiruan diatasnya (McKinney, 1991).

2.2. Bagian-bagian Implan


Implan gigi terdiri dari beberapa komponen:
a. Badan Implan
Merupakan bagian implan yang ditempatkan dalam tulang Komponen
ini dapat berupa silinder berulir atau tidak berulir, dapat menyerupai
akar atau pipih. Bahan yang digunakan bias terbuat dari titanium saja
atau titanium alloy dengan atau tanpa dilapisi hidroksi apatit (HA) (Mc
Glumphy. EA dan Larsen, PE., 2003). Permukaan implan yang paling
banyak digunakan ada tiga tipe yaitu plasma spray titanium dengan
permukaan yang berbentuk granul sehingga memperluas permukaan
kontaknya, machine finished titanium yang merupakan implan bentuk
screw yang paling banyak digunanakan dan tipe implan dengan lapisan
permukaan hidroksiapatit untuk meningkatkan osseointegrasi.
b. Healing Cup
Merupakan komponen berbentuk kubah yang ditempatkan pada
permukaan implant dan sebelum penempatan abutment. Komponen ini
meiliki panjang yang bervariasi antara 2 mm sampai 10 mm (Mc
Glumphy. EA dan Larsen, PE., 2003).
c. Abutment
Adalah bagian komponen implan yang disekrupkan dimasukan secara
langsung ke dalam badan implan. Dipasangkan menggantikan healling
7

cup dan merupakan tempat melekatnya mahkota porselin. Memili


permukaan 10 yang halus, terbuat dari titanium atau titanium alloy,
panjang dari 1 mm sampai 10 mm (Mc Glumphy. EA dan Larsen, PE.,
2003).
d. Mahkota
Merupakan protesa gigi yang diletakkan pada permukaan abutmen
dengan sementasi (tipe cemented) atau dengan sekrup (tipe screwing)
sebagai pengganti mahkota gigi dan terbuat dari porselin. 2.2. Macammacam Implan Gigi Sebenarnya sangat sulit mengklasifikasikan
macam dental implan mengingat berbagai macam implan dental yang
beredar saat ini sangat spesifik dalam hal bahan yang dipergunakan,
bentuk implan, teknik pembuatan dan cara penanamannya. Hanya
untuk memudahkan pemahaman dalam mengikuti perkembangan
dental implan, maka dental implan akan dibedakan pertama
berdasarkan lokasi jaringan tempat implan diinsersikan dan yang
kedua berdasarkan bahan dasar dari implan (Tis Karasutisna, 2002)

2.3. Letak Implan


Tempat implan berdasarkan letak implan ditanamkan, maka jenis implan
dapat dibagi dalam:
1. Implan Subperiosteal
Implan jenis ini diletakkan diatas linggir tulang dan berada dibawah
perioteum. Sering dipergunakan pada rahang yang sudah tak bergigi
baik untuk rahang atas maupun rahang bawah.
2. Implan Transosseus
Implan jenis ini diletakkan menembus tulang rahang bawah dan
penggunaanya terbatas untuk rahang bawah saja
3. Implan Intramukosal atau Submukosal
Implan ini ditanam pada mukosa palatum dan bentuknya menyerupai
kancing, oleh karena itu disebut button insert. Penggunaanya hanya
terbatas pada rahang atas yang sudah tidak bergigi.
4. Implan Endodontik
Endosteal 11 merupakan suatu implan yang diletakkan kedalam tulang
melalui saluran akar gigi yang sebelumnya telah dipesiapkan untuk

pengisian saluran akar gigi. Tujuannya untuk menambah stabilitas gigi


yang memiliki akar pendek, misalnya setelah dilakukan apikoektomi
atau dapat juga dipakai pada gigi yang goyang.
5. Implan Endosseus atau Endosteal
Implan jenis ini ditanam kedalam tulang melalui gusi dan periosteum.
Jenis ini merupakan jenis yang paling banyak dipakai dan ditolerir oleh
para praktisi, pabrik maupun pakar yang mendalami secara Scientific
& Clinical Forndation, yang pada dasarnya menanam implan pada
alveolar dan basal bone . Bentuk bisa berupa root form atau blade
form. Keuntungan yang didapat dari penggunaan implan endosseus
ialah bahwa jenis ini dapat dilaksanakan pada pasien tidak bergigi
dengan semua tingkatan abrosbsi, bahkan pada keadaan resorbsi yang
ekstrim dengan bantuan grafting. Juga dapat digunakan pada pasien
tidak bergigi sebagian, dari kehilangan satu gigi sampai keseluruhan.

2.4. Bahan Implan


A. Bahan Implan logam
a) Jenis-jenis bahan implan logam :
1. Co-Base Alloys ( Co-Cr-Mo, Co-Cr-W-Ni ).
2. Co-Ni-Base Alloys ( MP35N / Co-Ni-Cr-Mo ).
3. 316L Stainless Steel.
4. Ti dan Ti 6Al4V Alloys.
5. Sistem kombinasi plasma spray coating.
b) Logam dan logam paduan yang sering dipergunakan untuk implan
dental :
1.
Titanium, Tantalum.
2.
Titanium, Vanadium, Alumunium alloy.
3.
Ferum, Chromium, Nickel.
4.
Cobalt, Chromium, Molybdenum.
c) Dari segi material logam
Titanium
dengan
segala
variasi
lapisan

permukaannya

( Surfacecoating ) menempati urutan pertama. Sukses 12 Titanium di


bidang ortopedik sudah tidak dibantah lagi. Maka rasional apabila
titanium juga bersifat biologicaly innert pada maksila dan mandibula.
Kebanyakan sistem implan menggunakan logam sebagai bahan
dasarnya dan bahan logam yang sering dipergunakan adalah Titanium.

Titanium dan logam paduannya (Ti-Al-V) memiliki lapisan oksida


pada permukaannya. Lapisan tersebut akan berikatan dengan reseptor
yang terdapat pada tulang dan pada area tersebut terjadi proses
peletakan matriks tulang secara in vivo. Mekanisme inilah yang
menjadi salah satu faktor penting dalam penggunaan titanium pada
implan dental.
B. Bahan Implan Bukan Logam
a) Implan yang terbuat dari plastik :
1. Polymeric Material
2. Porous Polymethyl Methacrilate (PMMA)
3. PMMA yang dikombinasi dengan Vitrous Carbon (PMMA-VC)
4. PMMA yang dikombinasi dengan Silica
b) Implan yang terbuat dari Carbon :
1. Vitrous Carbon
2. Pyrolic Carbon atau Low Tempetarure Isotropic (LTI)
3. Vapor Deposited Carbon atau Ultra Low Temperature Isotropic
(ULTI)
c) Implan yang terbuat dari Ceramic :
1. Porous Ceramic
2. Non Porous Ceramic
3. Biodegradable (misalnya Tricalcium Phiosphat)
4. NonBiodegradable (misalnya A 1203)
Sampai saat ini para ahli masih terus mengembangkan bahan implan dan
berbagai macam variasinya.

2.5. Indikasi Dan Kontra Indikasi Pemasangan Implan Gigi


Seperti halnya tiap prosedur bedah lain, pasien harus dievaluasi keadaan
umum dan lokalnya sebelum dilakukan pemasangan implan. Kontra indikasi
absolute pemasangan implan seperti tersebut diatas adalah berdasarkan resiko
pembedahan segera.dan anestesi. Tetapi setelah keadaan dapat dikendalikan maka
pasien dapat dipertimbangkan untuk dilakukan pemasangan implan.
2.5.1. Indikasi
Setelah kita melakukan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang
maka kita akan dapat menetapkan apakah pasien yang datang itu bisa dipasang

10

implan atau tidak. Indikasi pemasangan implan dental dibagi menjadi indikasi
umum dan indikasi lokal.
2.5.1.1 Indikasi Umum:
Pemasangan implan harus dilakukan pada pasien yang mempunyai
motivasi, kooperatif dan oral hygiene yang baik. Tidak ada batasan usia untuk
pemasangan implan, akan tetapi lebih baik diatas usia 16 tahun. Pemasangan
implan pada usia tua lebih baik dari pasien dengan usia muda.
2.5.1.2. Indikasi lokal
Faktor-faktor yang merupakan indikasi dalam pemasangan implan antara
lain:
1). Kehilangan gigi
2.) Agenesis suatu gigi
3).Sebagai penyangga distal pada kehilangan gigi berujung bebas
4). Atrofi tulang alveolar, baik pada maksila maupun mandibula.

2.5.2. Kontra Indikasi


2.5.2.1. Kontra Indikasi Umum Yang Absolut (mutlak)
Faktor-faktor yang merupakan kontra indikasi absolut ialah:
1). Usia di bawah 16 tahun
2). Gangguan hematopoiesis, pembekuan darah dan sistem endokrin
3). Terapi penyakit kardiovaskuler yang resisten
4). Malignant tumor dengan prognosa yang buruk
5) Gangguan permanen pada sistem imun (HIV)
6). Gangguan mental/ kepribadian yang psychopathy
11

2.5.2.2 Kontra Indikasi Umum Relatif


Beberapa keadaan yang dikelompokkan ke dalam kontra indikasi umum
relatif diantaranya:
1). Alergi
2). Rheumatoid ringan
3). Fokal infeksi yang menyeluruh
4). Penyakit-penyakit akut
5). Kehamilan
6). Adiksi terhadap obat, alcohol, dll
7). Adanya stress fisik
2.5.2.3 Kontra Indikasi Lokal Absolut
1). Adanya penyakit di daerah rahang
2). Myoarthropathy
3). Pasien-pasien dengan kebiasaan buruk
4). Osteomyelitis kronis atau akut
5). Bone deficits
6). Kondisi anatomi dan topografi yang unfavorable dan unatferable
7). Kurangnya motivasi untuk menjaga kebersihan mulut yang baik
2.5.2.4. Kontra Indikasi Lokal Relatif
1). Temporary bone deficits (misalnya setelah ekstraksi gigi atau ekstirpasi
kista)
2). Maxillary deficits
3). Secara topografi dan kondisinya tidak memungkinkan.
12

2.6. Osseintegrasi
Kesuksesan implan gigi masa kini dihubungkan dengan ditemukannya
metode untuk memaksimalkan kontak permukaan antara implan dan tulang sehat.
Definisi osseointegration adalah hubungan langsung antara tulang sehat dan tepi
imlan endoseus pada tingkat mikroskop cahaya ( McGlumphy dan Larsen, 2003).
Empat factor utama yang dibutuhkan untuk mencapai suatu osseointrgration antar
dua permukaan tulang dan implan adalah :
a. Bahan yang biokompatibel
b. Implan yang baeradaptasi dengan tepat pada tulang yang dipreparasi
c. Pembedahan yang atraumatik untum meminimalis kerusakan jaringan
d. Fase penyembuhan yang tidak terganggu dan adanya imobilitas.
Bahan implan yang biokompatibel diperlukan untuk merangsang
penyembuhan tanpa adanya reaksi tubuh untuk menolak benda asing. Jika bahan
yang digunakan tidak biokompatibel maka tubuh akan berusaha untuk
mengisolasi bahan implan impaln yang asing dengan mengelilinginya denga
jaringan granulasi dan jaringan ikat. Bahan implan yang kompatibel yang sering
digunakan adalah titanium dan calcium-phosphate ceramic tertentu. Ukuran celah
antara implan dan tulang setelah penempatan implan sangat berpengaruh
terjadinhya osseointegrasi. Ukuran celah dapat dikendalikan dengan preparasi
yang tepat pada tulang tempat implan akan diletakkan sesuai dengan implan.
Pembedahan atraumatik dibutuhkan untuk untuk meminimalisasi injuri termal dan
mekanis yang mungkin muncul. Maka untuk memperoleh pembedahan atraumatik
digunakan bur yang baru dan tajam dengan kecepatan rendah bertenaga putar
tinggi. Selain itu juga dibutuhkan irigasi baik internal maupun eksternal untuk
mempertahankan suhu tulang dibawah 56 derajat Celsius, karena jika melebihi
maka akan terjadi kerusakan tulang permanent. Sedangkan ketika suhu mencapai
47 derajat selama 1 menit tulang mengalami kerusakan. Dengan minimalnya
injuri pada tulang maka memungkinkan lebih cepat sembuh dan mempercepat

13

perlekatan tulang ke implan. Imobilitas implan tergantung tulang tempat implan


tertanam. Komposisi tulang kortikal dan spongiosa sangat mempengaruhi
mobilitas implan. Keberhasilan osseountegrasi dapat diukur pertama kali pada
pembedahan kedua. Setelah abutmen diletakkan ke badan implan, operatyor harus
memeriksa secara hati-hati akan kemungkinan adanya mobilitas yang terdeteksi
secara klinis. Jika mobilitas terdeteksi maka implan harus segera diangkat dan
soket dibiarkan sembuh. Menurut Block dan Achong (2004) periode
penyembuhan tulang setelah pemasangan implan tanpa protesa maupun abutmen
adalah 4 6 bulan untuk mandibula dan lebih 6 bulan untuk maksila. Waktu 4 6
bulan adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencegah berkembangnya kapsulasi
fibrosa implan yang sering muncul pada pemasangan protesa terlalu awal. Tetapi
berdasarkan penelitian Cooper dkk (2001) cit. Block dan Achong (2004),
menyatakan bahwa 96,2 % implan dinyatakan berhasil tanpa resiko kegagalan
osseoinrtgrasi pada 3 minggu setelah penempatan implan satu gigi dengan satu
tahap di maksila anterior. Tulang tempat implan adalah tulang tipe 3 dan dengan
panjang minimal 11 mm.

14

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Pemeriksaan penunjang


3.1.1. Studi Model
Pencetakan model diagnostik semua pasien yang akan dilakukan
implantasi harus dibuat studi model terlebih dahulu. Studi model penting untuk
mempelajari sisa geligi tulang rahang dan hubungan rahang atas dan bawah.
Model rahang atas dan rahang bawah yang dipasang dan model malam dengan
penyusunan percobaan dari gigi akan membantu untuk mendapatkan gambaran
letak implan yang tepat.
Model diagnostik berguna untuk melihat dimensi vertikal, jarak a b mesiodistal yang tersedia, lebar linggir, relasi maksilla dan mandibula serta struktur
anatomi (seperti torus palatinus, tuberositas, torus lingual dan eksostosis tulang).
Hal ini penting, jangan sampai terjadi implan berada di luar lengkung gigi
sehingga mengganggu estetik.

15

3.2.2. Pemeriksaan radiograf


Prosedur pemeriksaan radiografi yang tepat merupakan bagian terpenting
dari rencana perawaqtn implant gigi. Dari pemeriksaan radiografi pra perawatan
implant harus diperoleh informasi diagnostic mengenai kemungkinan tulang yang
ada, kualitas dan kuantitas tulang rahang, hubungan dengan struktur di rahang atas
maupun rahang bawah yang berada dilokasi implant, serta posisi dan orientasi
implan yang tepat dan akurat.
Radiografi panoramic merupakan pilihan pertama yang paling umum.
Untuk keperluan perawatan implan gigi, berbagai imaging modalities dapat
digunakan, yaitu radiografi periapikal panoramik, oklusal, lateral sefalometri,
tomografi, Dental CT dan MRI.
Pemeriksaan pasien secara kliniks, hasil pemeriksaan model dan
pemeriksaan radiografis, harus dianalisa secara hati-hati sehingga klinisi dapat
mendiagnosis secara multidisipliner dan menentukan rencana perawatan awal.
Hasil anbalisa dari pemeriksaan tersebut bila diperlukan dapat dikonsulkan pada
bagian lain, misal bagian penyakit dalam, periodontik, endodontik dan
orthodontik dll.

3.2 Perawatan Khusus Pada Implan


3.2.1 Kriteria Pasien Gigi Implan
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam seleksi pasien adalah
(Straumann, 1995: Karasutisna, 2002)
1. Kapasitas penyembuhan luka normal
Pasien implan yang berusia lan jut dan dengan kondisi penyaki t sistemik
kronis, misalnya diabetes mellitus yang tidak terkontrol, pasien d engan
penyakit akut dan kelainan sistemik tertentu akan melemahkan daya tahan
tubuh pasien dan merupakan penghalang keberhasilan implan.
2. Memiliki kesehatan gigi dan mulut yang baik

16

Umumnya pasien dengan kehilangan giginya dan akan dilakukan


pemasangan implan, pada umumnya disertai dengan oral hygiene yang
buruk. Pasien dengan oral hygiene yang buruk merupakan kontraindikasi
relatif terhadap pemasan gan implan. Adanya kelainan patologis pada
tulang rahang dan ginggiva da erah pemasangan implan akan
mempengaruhi keberhasilan osseointegrasi.
3. Memiliki tulang yang sehat dalam volume yang memadai
Kuantitas dan kualitas tulang rahang harus cukup baik untuk menopang
implan, sehingga implan yang dipasang akan mempunyai kestabilan yang
cukup (Karasutisna, 2002).

3.2.2 Tahap tahap perawatan periimplantitis :


1. Pemberian antibiotik secara sistemik selama tiga hari sebelum operasi
yang setara dengan metronidazol 400mg.
2. Pemberian obat kumur 0,2% klohexidin satu menit sebelum operasi.
3. Lakukan insisi dan flap full thickness di sekitar daerah yang terinfeksi.
4. Lakukan kuretase pada tulang dan jaringan lunak menggunakan kuret serat
karbon.
5. Tempelkan kasa yang telah dicelupkan pada larutan klorheksidin 0,2% di
tempat yang terinfeksi dan biarkan selama 5 menit.
6. Setelah 5 menit, ambil kasa dan lalukan irigasi dengan saline steril yang
telah dicampur dengan 1 gram tetrasiklin.
7. Bubuhkan bonegraft pada daerah yang terflap dan berikan membran
kolagen diatasnya dan jahit.

3.3 Instruksi Pemasangan Implan


3.3.1 Instruksi Pasca Pembedahan
1. Lakukan penekanan di area luka dengan menggigit kassa selama kurang
lebih 1 jam setelah operasi
2. Jangan berkumur-kumur kuat dalam waktu 24 jam setelah operasi

17

3. Diet lunak selama kurang lebih 3-5 hari


4. Hindari makan dan minum yang panas
5. Dilarang merokok dan mengkonsumsi alkohol minimal selama 1 minggu
setelah operasi
6. Jangan mempermainkan tangan dan lidah di area operasi
7. Istirahat yang cukup
8. Usahakan tidak membuka mulut terlalu lebar dan hindari terlalu banyak
berbicara
9. Rawat kebersihan rongga mulut, dengan :
a)

Setiap sesudah makan bilas mulut dengan berkumur air putih

b)

Sikat gigi dengan perlahan

c)

Kumur dengan obat kumur 2x/hari

10. Konsumsi obat sesuai dengan resep yang di berikan


11. Bila ada pendarahan atau rasa sakit yang hebat hubungi customer service
klinik kamu
12. Kontrol kembali 7-10 hari setelah operasi
3.3.2 Instruksi Pasien Sehari - hari
Keberhasilan plak supragingiva dengan menggunakan sikat gigi dapat
secara signifikan mereduksi jumlah dan komposisi mikroflora subgingiva
sehingga terjadi penurunan terjadi penurunan resiko penyakit penyakit
periodontal.
Untuk mencegah hal tersebut perlu adanya instruksi OH yang simple dan
sederhana yang mudah dilakukan oleh pasien termasuk dalam pemilihan alat
18

pembersih plak termasuk pemberian antimikroba, jika menggunakan oral irigasi


diinstruksikan untuk menggunakan irigasi dengan tekanan yang rendah jika
dengan tekanan yang kuat akan menginduksi bakterimia disekeliling implan.
Pemilihan alat pembersih yang penting dalam pemilihan alat pembersih
jangn sampai menimbulkan goresan / lubang pada permukaan titanimun / implan
untuk mencegah akumulasi plak.
Setelah pemasangan implan perlu adanya kunjungan berkala untuk
mengevaluasi kesehatan implan dengan melihat secara klinis diantaranya tidak
adanya keradangan dan poket pada implan dengan menggunakan probe
periodontal.

3.4 Keberhasilan Implan


Faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu implan diantaranya (Pedlar
dan Frame, 2001):
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Biokompatibilitas dari implan material


Desain implan
Karakteristik permukaan implan
Kesehatan fisik dari pasien
Kondisi anatomi yang baik
Kooperasi pasien, status oral hygiene, kebiasaan merokok
Pengalaman operator
Beban implan setelah osseointegrasi.

Untuk berhasilnya suatu implan sebaiknya kita perhatikan keadaan-keadaan


dibawah ini (Karasutisna, 2002):

19

1. Ketebalan tulang di lingual ku rang lebih 1 mm dan 0,5 mm di sisi fasial


2.
3.
4.
5.

dari implan
Jarak antar implan minimal 3 mm
Jarak antara implan dan nasal cavity minimal 1 mm
Jarak antara implan dan dasar sinus maksilaris minimal 1 mm
Ketinggian tulang yang adekuat umumnya dijumpai diantara nasal cavity

dan sinus maksilaris


6. Jarak antara implan dan canalis alveolaris inferior minimal 2 mm
Menurut Schnitman dan Schulman (1979) kriteria keberhasilan suatu implan
meliputi (Anusavice, 2003):
1.
2.
3.
4.

Pada pemeriksaan klinis, mobilitas implan kurang dari 1 mm


Tidak terdapat radiolusensi
Bone loss harus kurang dari satu per tiga tinggi implan.
Tidak terdapat infe ksi dan kerusakan struktur. Bila terdapat inflamasi

harus dilakukan perawatan


5. Tingkat kesuksesan implan 75% atau lebih setelah 5 tahun fungsi.
Sedangkan menurut Albrektsson,et. al., (1986) diantaranya:
1. Pada pemeriksaan klinis unattached implan tidak mobile
2. Secara radiograf tidak menunjukkan adanya periapikal radiolusen
3. Vertical bone loss kurang dari 0,2 mm pada tahun pertama pemakaian
implan
4. Tidak terdapat gejala seperti nyeri, infeksi, neuropathy, parestesi, dan
kelainan pada canalis mandibularis
5. Tingkat kesuksesan 85% atau lebih padaakhir 5 tahun periode observasi
dan 80% pada akhir periode 10 tahun sebagai kriteria minimal kesuksesan
implan

3.5 Kegagalan Implan


3.5.1 Intraoperatif
3.5.1.1 Hemoragi
Penyebab hemoragi diantaranya perforasi pada lingual cortical plate dan
ruptur pembuluh darah. Morfologi mandibula pada aspek lingua l harus diketahui

20

sebelum dilakukan preparasi (Pedlar dan Frame, 2001). Pada regio maksila,
hemoragi berasal dari pembuluh darah pada dinding sinus dan dapat dikontrol
dengan melakukan penekanan atau menunggu hingga hemostasis alami terjadi.
Jika hemoragi berlanjut dapat dilakukan elektro-kauterisasi (Sethi dan Kaus,
2005).
3.5.1.2. Trauma Saraf
Trauma saraf terjadi pada mandibula. Saraf yang terkait diantaranya : n.
alveolaris inferior, n. mentalis, n. lingualis. Untuk menghindari trauma saraf pada
canalis mandibularis sebaiknya tidak menggunakan anestesi block tetapi anestesi
infiltrasi lokal (Schroeder, 1991).
3.5.1.3 Terbukanya Sinus Maksilaris
Pada saat merencanakan perawatan implan, hubungan antara implan
dengan rongga hidung atau sinus maksilasis harus ditegakkan dengan foto
radiograf. Perforasi sinus dapat ditegakkan dengan blow test. Jika implanasi telah
dilakukan, adanya infeksi dan sinusitis maksilaris harus dipertimbangkan
kemungkinannya. Setelah lubang preparasi sembuh, dapat dilakukan implan asi
yang baru.
3.5.1.4 Kerusakan pada Gigi Tetangga
Pada kasus implan untuk menutup gap gigi tunggal (single tooth gap)
kerusakan pada gigi tetangga atau gigi sebelahnya dapat terjadi saat dilakukan
preparasi pelebaran kavitas. Kerusakan seperti ini dapat dicegah dengan membuat
foto radiograf perkiraan topografi yang tepat, memilih ukuran implan yang tepat
dan juga memperhatikan arah aksis longitudinal dari gigi sebelahnya pada saat
melakukan preparasi pelebaran kavitas.
3.5.1.5 Fraktur Implan dan Instrumen
Fraktur instrumen biasanya terjadi karena penggunaan instrumen yang
salah, sterilisasi yang terlalu sering dilakukan dan terlalu panas dan adanya

21

kerusakan pada material instrumen atau cacat instrumen. Fraktur implan atau
bagian instrumen yang telah tertanam dalam tulang harus diangkat.
3.5.1.6 Benda Asing
Adanya benda asing dapat memba hayakan implan. Secara radiograf,
benda asing yang terdeteksi dapat berupa fragmen akar, material pengisi saluran
akar, fraktur instrumen endodontik, dan yang lainnya. Benda asing ini harus
diangkat sebelum dilakukan implanasi.
3.5.1.7 Emfisema di Bagian Wajah dan Leher
Jika terjadi emfisema, disarankan untuk dilakukan kompres dingin juga
pemberian antibiotik. Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari
terjadinya emfisema pada bagian wajah dan leher diantaranya dengan tidak
menggunakan turbin (kontraindikasi), hindari pembersihan luka dengan
menggunakan hidrogen peroksida, penutupan suture (jahitan luka) yang baik, juga
menginstruksikan pada pasien agar menghindari bersin atau meniup dengan
hidung (tekanan intrao ral) pada awal postoperatif.

3.5.2 Postoperatif
3.5.2.1 Komplikasi Awal
Yang termasuk komplikasi awal diantaranya:
3.5.2.1.1 Pembengkakan (wound edema)
Pembengkakan tergantung pada lamanya pembedahan dan banyaknya
trauma jaringan lunak intraoperatif. Semakin pendek atau kecil trauma pada saat
operasi semakin kecil terjadinya pembengkakan.
3.5.2.1.2 Hemoragi dan Hematoma Postoperatif
Perdarahan
konvensional,

postoperatif

tetapi

tidak

memerlukan

dapat

perbaikan

dihentikan
luka

dengan

dengan

kompres

menggunakan

22

hemostatik yang sesuai dengan prinsip konvensional. Hal ini dapat dilakukan di
bawah lokal anestetik. Semakin luas area luka dan besarnya operasi, semakin
besar kemungkinan terjadinya hematoma postoperatif. Bahaya infeksi j uga dapat
terjadi. Hematoma diantara permukaan tulang dan flap mukoperiosteal harus
segera dibuka dan diaspirasi. Pengisian kembali (re-filling) kavitas ak ibat
hematoma dicegah dengan meneka n balutan diatas jaringan lunak. Hemostasis
yang tepat pada saat operasi dan aplikasi dingin lokal dapat mencegah
terbentuknya hematoma.
3.5.2.1.3 Infeksi Awal
Manifestasi infeksi jaringan lunak diantaranya nyeri lokal, bengkak, dan
adanya eksudat pada daerah luka yang dapat dilakukan perawatan dengan
membuka satu atau dua jahitan (suture), dan dilakukan insisi serta drainase
dengan menggunakan desinfektan. Pada status febris, indikasi antibiotik diperlu
kan. Jika implan menunjukkan peningkatan mobilitas yang mengarah pada
inflamasi (bengkak, eritem, nyeri, hipertermia), sebaiknya implan dilepaskan.
Jika infeksi sudah mulai membaik maka implanasi baru dapat dilakukan.

3.5.2.1.4 Kerusakan Saraf


Pada regio n. mentalis, edema dan hematoma dapat menyebabkan kelainan
sensitivitas. Sensitivitas terhadap penekanan pada implan merupakan indikasi
adanya kontak langsung implan terhadap saraf yang ada di dekatnya. Jika
dibiarkan dapat menyebabkan osteomyelitis. Pada kasus ini, implan harus
diangkat.
3.5.2.2 Komplikasi Akhir
Yang termasuk komplikasi akhir diantaranya:
3.5.2.2.1. Implan longgar
Faktor yang dapat menyebabkan implan menjadi longgar diantaranya ialah
kurangnya stabilitas primer, adanya infeksi di sekitar implan, dan panas yang

23

berlebih saat preparasi. Adanya peningkatan mobilitas implan mengindikasikan


bahwa implan harus diangkat untuk menghindari resorbsi tulang yang berlebih
(bone loss).
3.5.2.2.2. Infeksi akhir (late infection)
Sejalan dengan poket periodontal, poket yang dalam di sekitar implan
dapat menyebabkan infeksi yang mengarah pada terjadinya fistulasi dan poket
abses. Perawatan yang dilakukan yaitu kuretase dan eliminasi dari poket. Jika
terjadi rekuren abses maka pengangkatan implan harus dilakukan. Jika tidak
segera dilakukan pengangkatan, dapat terjadi osteitis atau bahkan osteomyelitis.
Daerah tetangga seperti sinus maksilaris, dasar hidung, dan isi dari canalis
mandibularis juga dapat terlibat, mengarah pada terjadinya sinusitis maksilaris,
sinus emfisema, rhinitis, atau neuritis n. alveolaris inferior.
3.5.2.2.3 Degradasi Tulang
Setelah osteoplasty dan reaming dari dasar implan dengan countersinking,
degradasi tulang ringan muncul pada batas tertentu di bawah kondisi normal.
Kerusakan tulang karena panas yang berlebih (overheating) saat reaming dasar
implan dapat mengarah terhadap nekrosis tulang dengan degradasi tulang, yang
mana dapat menyebabkan implan menjadi longgar. Seperti periodontitis kronis,
proses inflamasi kronis pada daerah dasar implan mengarah terhadap peningkatan
kedalaman sulkus, pembentukan poket, resorbsi tulang, dan longgarnya implan.
Pada foto radiograf, perubahan osteolisis pada awalnya ditemukan pada daerah
abutment kemudian menyebar ke seluruh permukaan badan implan.
3.5.2.2.4 Kerusakan Saraf Sekunder
Hipestesi ataupun parestesi yang muncul pada daerah yang dilalui oleh n.
mentalis setelah pemakaian implan dalam jangka waktu yang lama memerlukan
klarifikasi radiologis untuk memastikan apakah implan terbenam atau proses
osteitis telah menekan isi canalis mandibularis. Pengangkatan implan merupakan
satu - satunya terapi yang dapat dilakukan.
3.5.2.2.5 Fraktur Implan

24

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan fraktur implan diantaranya


kesalahan perencanaan, premature loading, overloading protesa, kurangnya
kooperasi pasien berkaitan dengan oral hygiene (Schroeder, 1991). Jika terjadi hal
ini maka implan harus diangkat dengan menggunakan trephine drill khusus dan
tempatkan implan yang lebih lebar (Renouard danRangert, 1999).

BAB 4
KESIMPULAN

1. Saat ini implan gigi yang terdapat di pasaran terdiri dari berbagai produk yang
satu sama lain mempunyai khasan masing masing. Set bedah (surgery set) yang
berbeda menimbulkan kasulitan untuk mencoba produk implant gigi yang lain.
2. Implan gigi merupakan alternatif pembuatan geligi tiruan jenis yang lain,
terutama dalam kenyamanan dan menyerupai gigi asli.
3. Untuk keberhasilan implanasi dan menghindari komplikasi maka seluruh
prosedur harus diikuti dengan cermat. Pada tahap bedah, seorang operator bekerja
secara steril dan penguasaan teknik merupakan syarat mutlak

25

DAFTAR PUSTAKA

Anusavice, K.J. 2003. Philips of Dental Material 11th ed. Saunders.


Block, MS., 2001, Colour Atlas of Dental Implant Surgery, WB Saunders
Co.,Philadelphia
Block, MS. And Achong, RM. 2004. Osseointegration in Petersons Oral and
Maxillofacial Surgery. Milloro, M (editor). Edisi ke 2 BC Decker Inc.
Ontario.
Branemark, 1987. Tissue Integrated Prosthesis. Osteointegratiom in Clinical
Dentistry, 1st ed, Germany : Kosel GmbH & Co.
Chen, S. dan Darby, I. 2003. Dental implants: Maintenance, Care and Treatment
of Peri-implant Infection. Australian Dental JournaL, ;48:(4): 212-220
Choi, K. O. 2007. Osstem Implan System. Osstem Implan Co, Ltd.

26

Engelman,

MJ.,

1996,

Clinical

Decision

and

Treatment

Planning

Osteointegration, Quintessence Pub. Co. Inc. Illionos


Efriliamora nasution. 2003. Kegagalan Pemakaian Gigi Tiruan Jembatan
Dukungan Gigi dan Implant Ditinjau dari Aspek Biomekanis dan Usaha
Pencegahannya. usu e-repository@2003
Newman, Michael G., Henry H. Takei, Fermin A. Carranza. 2002. Carranza's m
Clinical Periodontology-9th ed. Philadelphia: W. B. Saunders Company.
Jokstad, A., Braegger, U., Brunski, J. B., Carr, A. B, Naert, I., dan Wennerberg, A.
2003. Quality of Dental Implans. International Dental Journal; Supp. 2;6/03.
FDI Dental Press.
Manurung, R. 1997. Tinjauan Umum Dental Implan. Jurnal Kedokteran Gigi
Universitas Padjadjaran.
Mc Glumphy, EA dan Larsen, PE., 2003, Contemporary Implant Dentistry, In
Peterson Implant Dentistry, Contemporary Oral and Maxilofacial Surgery, 27
Fourth ed. Mosby, St Louis.
McKinney, R. V. 1991. Endosteal Dental Implan. 1st ed. Toronto: Mosby year
Book.
Misch, C. E. 2005. Dental Implan Prosthetic. Mosby
Pedlar,J and Frame, J.W. 2001. Oral and Maxillofacial Surgery ; an Objective
Based Tex Book. Churchill Livingstone
Sethi, A., and Kaus. T. 2005. Practical Implant Dentistry. Quintessence
Publishing Co., Ltd.
Straumann. 1995. Concept and surgical Procedure. Straumann Dental.
Quintessenze Verlag, Berlin.

27