Anda di halaman 1dari 2

BOSAN

Beberapa minggu ini saya mulai berpikir betapa hari-hari libur ku telah berlalu
dengan membosankan. Jarang keluar rumah (bahkan nyaris tak pernah), tidak
punya teman chating di sosial media, jauh dari teman-teman dan tidak punya
kesibukan sama sekali. Di saat libur, otak pun ikut libur tidak ingin melakukan
apapun walau hanya sekedar mengambil remot tivi. Betapa hidup di kost tanpa
teman serasa lautan tanpa rasa asin (agak aneh), terlebih dibebani seorang adik
yang harus di jaga (#merepotkan). Perempuan pula. Saya sebagai kakak laki-laki
tidak mengerti jalan pikiran perempuan yang ingin kepastian. Entah kenapa jika dia
bertanya senyum di mulut berubah jadi wajah cemberut yang langsung bikin mood
ku hilang. Bukan karena saya yang tidak ingin menjawab pertanyaannya tapi karena
mutu kualitas pertanyaannya yang kekanak-kanakkan.
Misalkan saja soal film jepang romantis yang baru saya tonton, tiba-tiba dia
bertanya seperti apa cewek tokoh utama? Kenapa cowok tokoh utama begitu
dingin? Kenapa bigini?, begitu?, akhirnya bagaimana?
Ya itu semua bikin saya jengkel karena film itu baru saya tonton. Saya jawab saja,
mana saya tau!!! (dalam hati *menyebalkan bikin mood nonton menurun saja*)
Satu hal lagi yang bikin saya jengkel adalah jika saya ingin berbagi cerita seru
tentang film yang sudah saya tonton tapi saya tonton lagi di depannya dia hanya
melirik saja, sambil pasang headset lalu bernyanyi sendiri. Padahal tadi dia ikut
menonton. Itu membuat saya kesal, jika film kesayangan dianggap dan ditonton
acuh tak acuh seperti itu.
Sungguh menambah kualitas liburan yang buruk semakin terpuruk tanpa ada yang
bisa memahami atau sepemikiran.
Baru-baru ini saya beli buku novel karya ANDREA HERATA yang sedang popular
berjudul AYAH. Ceritanya seru dan karena punya imajinasi yang agak liar, saya
sampai beberapa kali di tengah mambaca cerita yang seru dan sentimental
langsunglah terbang khayalan yang liar bagaikan saya dapat melihat sendiri
kejadian demi kejadian yang diceritakan di novel. Itu semua paling tidak dapat
mengalihkan kesunyian dan kesepian yang tengah melanda jiwa yang sedang
berkelan mencari jati diri (akibat membaca novel yang puitis tiba-tiba saya juga jadi
puitis).
Tetapi buku itu telah habis saya baca saat saya mulai menulis tulisan ini. Sungguh
saya sebenarnya masih ingin membaca cerita macam itu sampai libur ku berakhir
seminggu lagi. Buku itu saya baca selama tiga hari. Walaupun sebenarnya bisa saja
saya habiskan dalam sehari saja, hanya saja kondisi kost yang gaduh bagai perang
dunia pertama membuat kosentrasi dalam membaca sambil mengkhayalkannya
kacau balau.

Saya orang yang tipe suka keadaan yang tenang, sunyi dan damai jika ingin
mengerti sesuatu dan memahaminya. Untuk membaca buku diperlukan kondisi
yang tepat agar semua rahasia dalam cerita atau buku dapat terungkap dan
dimengerti. Bahkan sampai dapat merasakan apa yang penulis ingin sampaikan.
Dengan berakhirnya membaca buku yang berjudul AYAH sebuah novel ini, maka
hari-hari yang kelam kelabu yang penuh dengan kejenuhan, kesepian dan
kehampaan akan menemani hidupku sekali lagi. Yang bahkan perasaan itu dapat
mengalahkan rasa haus dan lapar.
Pernah dengar kesepian lebih kejam dan sadis dari pada pembunuhan dan racun??
Jika belum So, kalian barusan sudah membacanya.
Mungkin beginilah
pendidikan.

hidup

menjomblo

karena

prinsip

yang

mengutamakan

Maka jangan biarkan predikat JOMBLO itu hanya sekedar JOMBLO tapi bisa
disisipkan satu kata lagi untuk menemaninya yang bisa merubah artinya jadi lebih
baik yaitu MANDIRI. Jadi jika kalian JOMBLO MANDIRI maka tidak diragukan lagi
kalian adalah orang yang tegar, tabah, dan mapan. (mungkin kata yang terakhir itu
harus diupayakan dengan usaha sendiri ya)
Berusahalah mulai dari sekarang ya guys.