Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN TUTORIAL

BLOK ETIKA DAN HUKUM PELAYANAN KESEHATAN


SKENARIO 2

KELOMPOK TUTORIAL I :
KETUA

: Dessy Fitri Wulandari

131610101086

SCRIBER MEJA

: Ria Dhini M

131610101004

SCRIBER PAPAN

: Zhara Hafzah Audilla

131610101003

ANGGOTA
Alfin Tiara Shafira

(131610101007)

Dewi Muflikhah

(131610101012)

Elisa Arianto

(131610101075)

Lilis Putri Anjasnurani

(131610101076)

Rr. Nektara Titan D

(131610101082)

Sani Sonia

(131610101090)

Nawang Lintang C

(131610101094)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah senantiasa memberikan
rahmat, hidayah serta inayah-Nya kepada kita, sehingga kelompok kami
dapat menyusun laporan ini meskipun kami menyadari masih ada
beberapa kekurangan di dalamnya.
Dalam laporan ini kami membahas tentang hak dan kewajiban
dokter dan pasien yang terdapat pada Blok Etika dan Hukum Pelayanan
Kesehatan

Masyarakat.

Semoga

bisa

bermanfaat,

khususnya

bagi

kalangan mahasiswa yang bertujuan untuk menggali pengetahuan serta


untuk memperoleh ilmu di dalamnya.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr.drg. Ristya Widi EY.

M,Kes

sebagai tutor selaku dosen

pembimbing pada diskusi tutorial yang telah memberi bimbingan


dan waktu untuk menyelesaikan laporan ini.
2.

Seluruh pihak yang telah banyak membantu penulisan laporan


ini.

Akhirnya kami pun berharap, Semoga laporan ini bisa memenuhi


syarat untuk tugas tutorial. Dan kami pun berharap semoga Allah SWT
meridhoi amal usaha kami juga memberikan balasan kebaikan yang lebih
baik, Amin.

Jember, 14 Juni 2016

Penulis
2

DAFTAR ISI

Halaman Judul..............................1
Kata Pengantar......................2
Daftar Isi ......................3
Skenario 2 ................................................................................................................................4
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................................5
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................................5
1.3 Tujuan ................................................................................................................................6
BAB II Diskusi
Step 1 .......................................................................................................................................7
Step 2 .......................................................................................................................................7
Step 3 .......................................................................................................................................7
Step 4 ......................................................................................................................................10
Step 5 ......................................................................................................................................11
BAB III Pembahasan
3.1 Kewajiban dan Hak Pasien ...............................................................................................12
3.2 Kewajiban dan Hak Dokter ..............................................................................................13
3.3 Tata Laksana Dalam Inform Consent ...............................................................................17
3

BAB IV Kesimpulan....................22
Daftar Pustaka .....................23

SKENARIO 2
HAK DAN KEWAJIBAN DOKTER DAN PASIEN

Seorang wanita berumur 32 tahun, isteri seorang pengusaha kaya


sering mengalami gangguan pada giginya. Ia telah berobat, berganti-ganti
dari satu dokter gigi ke dokter gigi yang lainnya (doctor shopping).
Keluhan utama pasien tersebut adalah semua gigi asli yang tersisa terasa
goyang, sehingga kesulitan untuk mengunyah. 6 (enam) dokter gigi telah
ia

kunjungi.

Pembersihan

karang

gigi,

pencabutan

beberapa

gigi,

pemeriksaan laboratorium, serta pemeriksaan rontgenologis pernah


dilakukan oleh berbagai dokter gigi tersebut. Seorang dokter gigi
menganjurkan untuk pencabutan total. Seorang dokter gigi yang lain
menganjurkan untuk splinting (antara satu gigi dengan gigi lainnya diikat),
dokter gigi yang lainnya tidak memberikan penjelasan apapun kepada
pasien dan hanya memberikan resep. Obat-obat yang diberikan banyak
jenisnya. Pasien merasa bahwa hak untuk mendapakan informasi yang
benar dari dokter gigi yang merawatnya tidak pernah ia peroleh, serta ia
menganggap

bahwa

dokter

hanya

mementingkan

haknya

untuk

mendapat imbalan jasa, tetapi lupa akan kewajibannya memberikan


pengobatan yang benar kepada pasiennya. Diskusikanlah bagaimana
sebenarnya hak dan kewajiban dokter dan pasien.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Di bidang kesehatan hak dan kewajiban pun menjadi hal yang
sangat penting dan mutlak untuk dilaksanakan. Mengingat kelalaian
untuk memenuhi hak dan kewajiban akan menimbulkan akibat yang
tidak kecil, yakni berupa tuntutan ganti kerugian ataupun dapat
diduga melakukan tidak pidana yang diancam dengan sanksi pidana
seperti

hukuman

pencabutan

mati,

penjara

maupun

hak-hak

denda

bahkan

yang

sanksi

melekat.

Seringkali kita sebagai pasien hanya bisa menerima saja apapun


yang disampaikan oleh dokter tentang penyakit serta tindakan yang
diambil untuk penyembuhan penyakit tersebut. Namun apakah lantas
dokter dan tenaga medis lain dapat bertindak semena-mena terhadap
tubuh kita? Tentu jawabannya adalah tidak.Karena pada dasarnya
dokter dalam melakukan praktek kedokteran berada di bawah sumpah
dokter

dan

kode

memberikan

etik

kedokteran

pelayanan

yang

yang

mengharuskan

terbaik

bagi

mereka

pasiennya.

Dalam pelayanan kesehatan yang di dalamnya terkandung


hubungan

hukum

antara

dokter

dan

pasien

dalam

perjanjian

terapeutik secara otomatis timbul hak dan kewajiban dokter kepada


5

pasien sebagai akibat hukum dari adanya hubungan hukum pelayanan


kesehatan tersebut.Di dalam undang-undang telah di atur tentang Hak
dan Kewajiban Dokter yaitu pada Undang-undang No.29 Tahun 2004
Tentang Praktik Kedokteran Pasal 50 dan 51, Hak dan Kewajiban
Dokter.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Apa yang menyebabkan pasien melakukan doctor shopping ?


Bagaimana solusi pasien dari skenario ini?
Apa saja dampak negative dari doctor shopping?
Apa saja hak dan kewajiban dari pasien ?
Apa saja hak dan kewajiban dari dokter ?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan laporan ini adalah sebagai berikut:
1. Mampu memahami dan menjelaskan hak dan kewajiban pasien.
2. Mampu memahami, menjelaskan hak dan kewajiban dokter
3. Mampu memahami dan menjelaskan tata laksana dalam inform
consent

BAB II
DISKUSI
STEP 1
1. Doctor shopping

Salah

satu

perilaku

pasien

yang sering mengunjungi beberapa dokter pada


waktu singkat dan tanpa surat rujukan dalam satu
periode keluhan yang sama/ penyakit yang sama
tanpa memberitahu dokter sebelumnya.
2. Hak
: Pengakuan yang dibuat oleh sekelompok
orang atau seseorang terhadap orang lain yang
biasanya
merupakan

didapatkan

oleh

kepentingan

semua
yang

orang.

Hak

pemenuhannya

dilindungi oleh hukum. Hak seseorang dapat dimiliki


biasanya setelah memenuhi kewajibannya
3. Kewajiban
: Sesuatu hal yang

harus

dilakukan seseorang dengan tanggung jawab dan


apabila tidak dikerjakan maka akan mendapatkan
sanksi.
STEP 2
1. Apa yang menyebabkan pasien melakukan doctor shopping?
2. Bagaimana solusi pasien pada skenario ?
3. Apa saja dampak negative dari doctor shopping ?
4. Apa saja hak dan kewajiban pasien ?
5. Apa saja hak dan kewajiban dokter ?
STEP 3
1. Yang menyebabkan pasien melakukan doctor shopping
Perilaku doctor shopping biasanya timbul karena kurangnya
-

kepercayaan pasien kepada dokter yang dikunjunginya,


Pasien kurang merasa puas dengan tindakan yang dilakukan

dokter
Kurang harmonis hubungan pasien dan dokter
7

Informasi kurang yang diberikan dokter gigi


Pasien kurang jujur
Kurang terpenuhi hak dan kewajiban pasien

2. solusi pasien pada skenario


- Pasien harus memberikan sifat percaya kepada dokter gigi
- Dokter gigi memberi empaty kepada pasien, sehingga pasien
-

menceritakan semuanya kepada dokter gigi atas semua keluhan


Seorang dokter harus lebih komunikatif agar dapat mengetahui

keinginan pasien dan dapat menimbulkan rasa kepercayaan.


Seorang
dokter
harus
meyakinkan
agar
menimbulkan

kepercayaan pasien
Seorang dokter harus memiliki wawasan yang luas sesuai dengan
bidangnya agar apabila pasien bertanya maka dapat menjawab
pertanyaan pasien dengan memuaskan.

3. Dampak negative dari doctor shopping


a. Adanya pengulangan pemeriksaan dan perbedaan diagnosa
b. Pengulangan pemeriksaan yang dapat memperburuk keadaan
seperti paparan radiografi yang dilakukan berkali-kali
c. Pasien akan membanding-bandingkan dokter padahal setiap
dokter mempunyai sudut pandang yang berbeda sehingga
perawatan yang diterima tidak berkelanjutan
d. Rekam medis pasien ada di banyak dokter
e. Adanya ketimpangan dengan dokter lain

4. Hak dan kewajiban pasien


Kewajiban pasien :

Memberikan informasi kepada dokter dengan jujur


Mematuhi nasehat dan petunjuk dari dokter
Memberikan imbalan jasa kepada dokter
Memeriksakan diri sedini mungkin

Hak pasien ;
Memperoleh informasi tentang diagnosa dan rencana
perawatan
Mendapatkan pelayanan
Mengetahui kerahasiaan rekam medis
Mengetahui transparansi biaya
8

5. Hak dan kewajiban dokter


Kewajiban dokter :
Bekerja sesuai dengan standart operasional prosedure

(SOP)
Merujuk pasien apabila tidak bisa menangainya
Merahasiakan rekam medis dan informasi tentang pasien
Menambah ilmu untuk perkembangan teknologi
Melakukan tindakan gawat darurat apabila tidak ada yang

lain
Memberikan informasi kondisi yang sebnarnya kepad
pasien
Hak dokter :
Mendapatkan imbalan jasa
Memperoleh informasi selengkap-lengkapnya dari pasien
Menolak pasien apabila dirasa pasien sangat tidak
kooperatif
Mengakhiri

perawatan

apabila

pasien

sudah

tidak

mematuhi nasehat dari dokter. Menolak ini juga bisa


digantikan dengan merujuk pasien ke dokter lain.

Step 4
9

Mapping
Etika Kedokteran

Dokter Gigi

pasien

Inform consent

interaksi

Inform refused
Hak dan Kewajiban

terlaksana
Keberhasilan
perawatan

Tidak terlaksana
Doctor
shopping

10

Step 5
LO
1. Mampu memahami dan menjelaskan hak dan kewajiban pasien.
2. Mampu memahami, menjelaskan hak dan kewajiban dokter
3. Mampu memahami dan menjelaskan tata laksana dalam inform
consent

11

BAB III
PEMBAHASAN

1. Kewajiban dan Hak Pasien


Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
Paragraf 7 mengatur kewajiban dan hak pasien sebagai berikut:
1.1 Kewajiban Pasien
1. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah
kesehatannya;
2. mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi;
3. mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan
4. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.
Menurut Leeman tahun(1991), kewajiban pasien yang harus dipenuhi
yaitu :
Memberikan informasi yang sebenarnya
Mentaai petunjuk dan nasehat dokter
Mematuhi peraturan RS atau klinik
Memberikan imbalan jasa kepada dokter
Memberitahu kelihan pertama kali ke dokter
Menyimpan rahasia dokter.
1.2 Hak Pasien
1. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis
2. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain (second opinion)
3. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
4. Menolak tindakan medis; dan
5. Mendapatkan isi rekam medis
Sumber dan Dasar Hukum Kewajiban Pasien

KEWAJIBAN PASIEN (KODEKI)


1. Memeriksakan diri sedini mungkin

12

2. Memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang


penyakitnya
3. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter
4. Menandatangani surat PTM dan lain-lain
5. Yakin pada dokter dan yakin akan sembuh

2. Kewajiban dan Hak Dokter


2.1Kewajiban Dokter
Sebagaimana

lazimnya

suatu

perikatan,

perjanjian

medik

pun

memberikan hak dan kewajiban bagi dokter. Dalam Undang-Undang


Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, hak dan kewajiban
dokter atau dokter gigi terdapat dalam paragraf 6, yaitu;
a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan
standar
prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;
b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai
keahlian atau
kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan;
c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien,
bahkan juga
setelah pasien meninggal dunia;
d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali
bila ia
yakin ada orang lain yang bertugas mampu melakukannya;
e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu
kedokteran
atau kedokteran gigi.

KEWAJIBAN DOKTER (KODEKI-18 Pasal)

13

KEWAJIBAN UMUM
Pasal 1
Setiap

dokter

harus

menjunjung

tinggi,

menghayati

dan

mengamalkan Sumpah Dokter.


Pasal 2
Seorang dokter harus senantiasa berupaya melakukan profesinya
sesuai dengan standar profesi yang tertinggi.
Pasal 3
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak
boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya
kebebasan dan kemandirian profesi.
Pasal 4
Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat
memuji diri sendiri.
Pasal 5
Tiap perbuatan atau ansehat yang mungkin melemahkan daya
tahan psikis maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan
kebaikan pasien, setelah memperolah persetujuan pasien.
Pasal 6
Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan
dan menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru
yang

belum

diuji

kebenarannya

dan

hal-hal

yang

dapat

menimbulkan keresahan masyarakat.


Pasal 7
Seorang dokter hanya memberi keterangan atau pendapat yang
telah diperiksa sendiri kebenarannya.
14

Pasal 7a
Sepramg dokter harus, dalam setiap praktek medisnya, memberikan
pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan
moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan
penghormatan atas martabat manusia.

Pasal 7b
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubugnan dengan
pasien

dan

sejawatnya,

dan

berupaya

untuk

mengingatkan

sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter


atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan,
dalam menangani pasien.
Pasal 7c
Seorang

dokter

harus

menghormati

hak-hak

pasien,

hak-hak

sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga


kepercayaan pasien.
Pasal 7d
Setiap

dokter

harus

senantiasa

mengingat

akan

kewajiban

melindungi hidup makhluk insani.


Pasal 8
Dalam

melakukan

memperhatikan

pekerjaannya,

kepentingan

seorang

masyarakat

dan

dokter

harus

memperhatikan

semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif,


preventif, kuratif, dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial,
serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang
sebenar-benarnya.

15

Pasal 9
Setiap dokter dalam bekerja sama dangan para pejabat dibidang
kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat, harus saling
menghormati.
KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP PASIEN
Pasal 10
Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan
segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan penderita.
Dalam hal ia tidak mampu melakukan SUATU permeriksaan atau
pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia wajib merujuk
penderita kepada dokter lain yang mempunyai keahlian dalam
penyakit tersebut.

Pasal 11
Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada penderita
agar

senantiasa

dapat

berhubungan

dengan

keluarga

dan

penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya


Pasal 12
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui
tentang seorang penderita, bahkan juga setelah penderita itu
meninggal dunia.
Pasal 13
Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu
tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia
dan mampu memberikannya.

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP TEMAN SEJAWAT


16

Pasal 14
Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia
sendiri ingin diperlakukan.
Pasal 15
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih penderita dari teman
sejawatnya, kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur
yang etis.

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP DIRI SENDIRI


Pasal 16

Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat


bekerja dengan baik.
Pasal 17
Setiap dokter hendaklah senantiasa mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan tetap setia kepada citacitanya yang luhur.
2.2 Hak Dokter
a. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas
sesuai
dengan standar profesi dan standar prosedur operasional;
b. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar
prosedur
operasional;
c. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau
keluarganya;
d. Menerima imbalan jasa.
e. Hak memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan
tugas sesuai dengan

standar profesi dan standar prosedur

operasional.
f. Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar
prosedur operasional serta berdasarkan hak otonomi dan kebutuhan
17

medis pasien yang sesuai dengan jenis dan strata sarana pelayanan
kesehatan.
g. Hak untuk menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan, profesi dan etika.
h. Hak untuk mengakhiri atau menghentikan jasa profesionalnya
kepada pasien apabila hubungan dengan pasien sudah berkembang
begitu

buruk

sehingga

kerjasama

yang

baik

tidak

mungkin

diteruskan lagi dan wajib menyerahkan pasien kepada dokter lain,


kecuali untuk pasien gawat darurat.
i. Hak atas privacy (berhak menuntut apabila

nama

baiknya

dicemarkan oleh pasien dengan ucapan atau tindakan yang


melecehkan atau memalukan).

3. Tata Laksana Dalam Inform Consent


1. Definisi informed consent
Informed consent adalah persetujuan dua bagian yaitu pemberian
informasi (informing) dan pemberian persetujuan (consenting). Mendapat
informasi berarti memahami atau mengetahui perjalanan suatu tindakan dan
akibat yang ditimbulkan. Selain itu,persetujuan tindakan medis adalah suatu
konsep kontekstual dan hanya sah dalam konteks spesifik. Dengan
demikian,persetujuan tindakan medik adalah ekspresi pemahaman dan
kerelaan seseorang untuk melanjutkan atau menghentikan tindakan tertentu
dalam suatu konteks spesifik. Sebaliknya apabila pasien tidak mau, tidak
mengerti,atau konteks spesifiknya berubah,persetujuan tindak medik tidak sah.
Melanjutkan tindakan bukanlah merupakan kepentingan utama pasien dan
dokter dapat dituntut atas penganiayaan dan / atau penelantaran apabila
melanjutkan tindakan medik dalam situasi ini. Persetujuan tindak medik
merupakan kesaksian tertulis, verbal, dan / atau tersirat bahwa seseorang
mengerti dan rela menjalani prosedur yang sudah direncanakan serta
kemungkinan modifikasi terhadap prosedur yang direncanakan tersebut,
indikasi, perkiraan hasil akhir 11 tindakan, kemungkinan komplikasi, dan
terapi alternatif serta biaya / keuntungan masing-masing dalam konteks
spesifik pasien.
Setelah menetapkan batasan-batasan definisi persetujuan tindakan
medik,terdapat beberapa kondisi yang harus dipenuhi agar persetujuan
18

tersebut tercapai. Keadaan-keadaan ini adalah dokter dan pasien yang


berkompeten menyampaikan informasi penting, dan situasi efektif. Dokter
yang kompeten adalah dokter yang mengetahui diagnosis, prognosis , sifat,
tujuan, hasil, resiko, manfaat, dan alternatif prosedur tersebut. Serta mampu
menyampaikan informasi dalam bahasa awam tanpa kehilangan arti atau
makna secara substansial bagi pasien dan dokter harus berhati-hati dalam
menyampaikan informasi sehingga dalam memberikan keterangan tersebut
tidak mengubah maksud dan makna informasi yang bersangkutan. Penjelasan
tentang diagnosis dan indikasi prosedur harus menjelaskan perbedaan antara
diagnosis pasti, diagnosis kerja, diagnosis banding, dan tidak ada diagnosis
serta menerangkan bahwa penegakan diagnosis alternatif memengaruhi terapi
dan hasil akhir. Rincian tersebut penting untuk dipahami oleh ahli bedah,
tetapi pasien seyogyanya tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan
ini,kecuali apabila pilihan pasien dapat mengubah tekhnik yang secara
langsung memengaruhi hasil akhir
2. Tujuan
Pedoman ini bertujuan untuk dijadikan acuan bagi seluruh dokter
dalam melaksanakan ketentuan informed consent.
3. Kebijakan
Setiap akan melakukan suatu tindakan medis lebih yang bersifat
infasiv dan berisiko tinggi maka harus dibuat informed consent (persetujuan
dari pasien). Persetujuan tindakan medis adalah bersifat penjelasan sepihak
dari pasien dan bukan perjanjian antara pasien dan dokter dan sekaligus hasil
proses komunikasi antara pasien dengan dokter, tapi dapat mengikat secara
hukum bukan sekedar penandatanganan formulir persetujuan.
4. Prosedur
a.

Tujuan dari informed consent mendapat informasi yang cukup untuk


dapat mengambil keputusan atas tindakan yang akan dilaksanakan. Hak
pasien untuk menentukan nasibnya dapat terpenuhi dengan sempurna
apabila pasien telah menerima semua informasi yang diperlukan sehingga
pasien dapat mengambil keputusan yang tepat.

b.

Dokter memiliki kewajiban untuk memberitahukan pasien mengenai


kondisi,diagnosis,diagnosis banding,pemeriksaan penunjang, terapi, resiko,
alternatif, prognosis, dan harapan. Dokter seharusnya tidak mengurangi
materi atau memaksa pasien untuk segera memberi keputusan.
19

c.

Tidak semua pasien boleh memberikan pernyataan,baik setuju maupun


tidak

setuju.

Pasien

tersebut

harus

sudah

dewasa,secara

umum

menggunakan batas 21 tahun,pasien yang dibawah batas umur tetapi sudah


menikah,pasien dalam keadaan sadar, dapat diajak berkomunikasi secara
wajar dan lancar dan dalam keadaan sehat akal.
d.

Bentuk persetujuan harus berdasarkan semua elemen dari informed


consent yang benar yaitu pengetahuan dan kompetensi. Beberapa rumah
sakit dan dokter telah mengembangkan bentuk persetujuan yang
merangkum semua informasi dan juga rekaman permanen,biasanya dalam
rekam medis pasien.

e.

Pasien berhak bertanya tentang hal-hal seputar rencana tindakan medis


yang diterimanya apabila informasi yang diberikan dirasakan belum jelas
dan berhak menolak rencana tindakan medis karena suatu alasan tertentu
dari informasi yang diterima pasien.

f.

Semua informasi sudah harus diterima pasien sebelum rencana


tindakan medis dilaksankan. Pemberian informasi ini selayaknya bersifat
obyektif, tidak memihak, dan tanpa tekanan, setelah menerima semua
informasi seharusnya pasien diberi waktu untuk berfikir dan memutuskan
pertimbangannya.

g.

Proses pemberian informasi dan permintaan persetujuan tindakan


medis bisa saja tidak dilaksanakan oleh dokter apabila situasi pasien dalam
kondisi gawat darurat.dalam kondisi ini,dokter akan mendahulukan
tindakan dalam penyelamatan nyawa pasien 14 namun prosedur
penyelamatan nyawa pasien tetap harus dilakukan sesuai dengan standar
pelayanan disertai profesionalisme yang tinggi.

5. Unit terkait
a) Unit rawat jalan
b) Unit rawt inap
c) Unit instalasi gawat darurat
d) Instalasi bedah sentral
20

e) Petugas : 1. Dokter
2. Perawat/bidan
3. Tenaga RM
6. Hal yang perlu diperhatikan
1) Dokter harus meluangkan waktu untuk menemui pasien guna
memberikan penjelasan.
2) Dokter tidak boleh tergesa-gesa dan harus memberikan waktu yang
cukup kepada pasien untuk membuat decision.
3) Dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya
ataupun bahkan berkonsultasi lebih dulu dengan keluarga,teman atau
penasehatnya.
4) Dokter wajib membantu pasien dalam mencari second opinion
mungkin dapat menyulitkan.
5) Dalam keadaan tertentu perlu dilakukan diskusi yang kemudian
ditutup dengan mengajukan pertanyaan:Masih ada yang perlu ditanyakan lagi
sebelum anda membuat keputusan final?
7.

Materi/isi informasi yang harus disampaikan :


a.

Diagnosis dan tata cara tindakan medis/kedokteran tersebut

b. Tujuan tindakan medis/kedokteran yang akan dilakukan


c.

Alternatif tindakan lain, dan risikonya

d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan


e.

Prognosis terhadap tindakan yang akan dilakukan

f.

(perkiraan biaya)

Cara menyampaikan informasi :


Informasi cukup disampaikan secara lisan, supaya bisa terjalin
komunikasi dua arah (tanya-jawab). Bisa ditambah dengan alat bantu, brosur,
atau menggunakan media informasi lain. Menggunakan bahasa yang sesuai
dengan kondisi pasien, sehingga mudah dipahami oleh pasien. Sebelum

21

penjelasan ditutup, buka sesi tanya-jawab, dan pastikan pemahaman pasien


dengan mengajukan beberapa pertanyaan.
Penjelasan yang diberikan tersebut, dicatat dalam berkas rekam medis
pasien, dengan mencantumkan, tanggal,waktu, dan nama yang menerima
informasi, disertai tandatangannya.
Dalam hal pasien menolak untuk menerima informasi, maka dokter
dapat memberikan informasi tersebut kepada keluarga terdekat dengan
didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain sebagai saksi (Permenkes 290
th 2008).

BAB IV
KESIMPULAN
1. Hak-hak pasien yang paling menonjol dalam hubungannya dengan pelayanan
kesehatan, yaitu rekam medis, persertujuan tindakan medis, rahasia medis.
2. Informed Consent berarti pernyataan kesediaan atau penolakan setelah
mendapat informasi secukupnya.
3. Dengan demikian sederhana dapat dikatakan bahwa, hak merupakan
kewenangan dokter kepada pasien untuk berbuat atau tidak berbuat, sedangkan
kewajiban tidak lain merupakan beban atau tugas yang harus dilakukan,
sehingga hak dan kewajiban merupakan pasangan, oleh karena di mana ada
hak, disitulah ada kewajiabn dan begitu juga sebaliknya.

22

DAFTAR PUSTAKA

J. Guwandi, 1991. Etika dan Hukum Kedokteran. Jakarta : Balai Penerbitan Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Kode etik kedokteran indonesia dan pedoman pelaksanaan kode etik kedokteran
indonesia tahun 2004
Kode etik kedokteran gigi indonesia tahun 2008
Peraturan pemerintah republik Indonesia Nomor 32 tahun 1996 Tentang Tenaga
kesehatan

23

Republik Indonesia. 2004. Undang-undang republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004


Tentang Praktik kedokteran

24