Anda di halaman 1dari 7

Tugas Koas Anak RSUD Tarakan

Christian Adiputra Wijaya


11.2014.084

1. Klasifikasi BBLR

Pengertian
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500
gram tanpa memandang usia gestasi. BBLR dapat terjadi pada bayi kurang bulan (< 37
minggu) atau pada bayi cukup bulan (intrauterine growth restriction) (Pudjiadi, dkk.,
2010).
Klasifikasi
Ada beberapa cara dalam mengelompokkan BBLR (Proverawati dan Ismawati,
2010) :
a. Menurut harapan hidupnya
1) Bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan berat lahir 1500-2500 gram.
2) Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) dengan berat lahir 1000-1500 gram.
3) Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) dengan berat lahir kurang dari 1000
gram.
b. Menurut masa gestasinya
1) Prematuritas murni yaitu masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat
badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi atau biasa disebut
neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (NKB-SMK).
2) Dismaturitas yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan
seharusnya untuk masa gestasi itu. Bayi mengalami retardasi pertumbuhan
intrauterin dan merupakan bayi kecil untuk masa kehamilannya (KMK).

2. Inisiasi Menyusui Dini


Secara umum kita mengenal Inisiasi Menyusu Dini, sebagai proses ketika bayi menyusu segera
setelah dilahirkan, di mana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri (tidak disodorkan
ke puting susu). Inisiasi Menyusu Dini akan sangat membantu dalam keberlangsungan
pemberian ASI eksklusif (ASI saja) dan lama menyusui, sehingga diharapkan terpenuhinya
kebutuhan gizi bayi hingga usia 2 tahun, dan mencegah anak kurang gizi.
Sebagaimana kita ketahui, ASI merupakan makanan alami pertama untuk bayi, memberikan
semua energi dan gizi bayi untuk kebutuhan bulan pertama kehidupan, dan terus diberikan
sampai setengah atau lebih dari kebutuhan gizi bayi. Menurut WHO (2009), pemberian Air Susu
Ibu (ASI) pada awal kelahiran sampai enam bulan pertama kehidupan di Indonesia masih
kurang. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, cakupan pemberian
ASI eksklusif bayi 0-5 bulan baru sekitar 27,2 persen. Sementara jenis makanan prelaktal
(makanan atau minuman yang diberikan kepada bayi baru lahir ) yang paling banyak diberikan
ialah susu formula (71,3 persen). Menurut Depkes RI (2007), bayi yang tidak diberi ASI secara
penuh pada enam bulan pertama kehidupan, mempunyai risiko terkena diare 30x lebih besar
dibandingkan dengan yang diberikan ASI selama enam bulan penuh.

Inisiasi menyusu dini (IMD) atau early lactch on/breast crawl menurut UNICEF merupakan
kondisi ketika bayi mulai menyusu sendiri setelah lahir, yaitu ketika bayi memiliki kemampuan
untuk dapat menyusu sendiri, dengan kriteria terjadi kontak kulit ibu dan kulit bayi setidaknya

dalam waktu 60 menit pertama setelah bayi lahir. Cara bayi melakukan IMD dinamakan the
breast crawl atau merangkak mencari payudara.
Pendapat senada mengemukakan, bahwa inisiasi menyusu dini (IMD) didefinisikan sebagai
proses membiarkan bayi menyusu sendiri segera setelah dilahirkan dan disusui selama satu jam
atau lebih. Prinsipnya, IMD merupakan kontak langsung antara kulit ibu dan kulit bayi, bayi
ditengkurapkan di dada atau di perut ibu selekas mungkin setelah seluruh badan dikeringkan
(bukan dimandikan), kecuali pada telapak tangannya dan dibiarkan merangkak untuk mencari
puting untuk segera menyusui. Kedua telapak tangan bayi dibiarkan tetap terkena air ketuban
karena bau dan rasa cairan ketuban ini sama dengan bau yang dikeluarkan payudara ibu, dengan
demikian ini menuntun bayi untuk menemukan puting. Lemak yang menyamankan kulit bayi
sebaiknya dibiarkan tetap menempel.
Terdapat beberapa manfaat penting Inisiasi Menyusui Dini, antara lain :
Mengurangi tingkat kematian bayi: Inisiasi menyusu dini bisa mempengaruhi resiko kematian
pada bayi yang baru lahir dengan empat mekanisme (Edmond et al, 2006), yaitu : .
1.
Angka kematian yang lebih rendah pada bayi mungkin terjadi karena ibu yang menyusui
anak mereka segera setelah lahir memiliki kesempatan lebih besar untuk berhasil
membangun dan mempertahankan menyusui selama bayi.
2.
Pemberian makanan prelaktal dengan antigen yang bukan dari ASI dimungkinkan
mengganggu fisiologi normal usus.
3.
ASI kaya akan komponen imun dan non imun yang dapat mempercepat maturasi usus,
resisten terhadap infeksi, dan pemulihan jaringan epitel dari infeksi. Total protein dan
imunoglobulin juga menurun di hari pertama kehidupan (konsentrasi tertinggi pada hari
pertama, setengah hari pada hari kedua, dan menurun secara perlahan pada hari-hari
berikutnya).
4.
Pemberian kehangatan dan perlindungan dapat mengurangi resiko kematian akibat
hipotermia selama hari pertama (terutama pada bayi prematur).
Pada bayi yang terlambat diberi ASI atau bayi yang diinisiasi ASI setelah hari pertama
kehidupan, mengalami peningkatan resiko kematian neonatal meningkat hingga 2,4 kali.
Penelitian ini juga mengungkapkan, terjadi peningkatan persentase keselamatan bayi, yaitu jika
bayi diberi ASI dalam satu hari pertama maka kehidupan bayi bisa diselamatkan sebanyak 16%
dan apabila diinisiasi dalam satu jam pertama maka akan meningkat menjadi 22%. Sementara
menurut UNICEF sebanyak 30.000 bayi yang biasanya meninggal pada bulan pertama
kelahirannya, dapat diselamatkan dengan melakukan inisiasi menyusui dini setelah satu jam
pertama kelahiran.

Membantu meningkatkan lama menyusui: Penelitian Fikawati dan Syafiq (2003)


menyebutkan bahwa ibu yang memberi ASI 30 menit setelah kelahiran kemungkinan 2-8 kali
lebih besar untuk memberikan ASI eksklusif selama empat bulan. Sementara penelitian di Jepang
oleh Nakao et al (2008), menyebutkan bahwa keberhasilan ASI eksklusif sampai empat bulan
berhubungan dengan IMD dalam dua jam pertama kehidupan.
Mengurangi perdarahan ibu: Hal ini dapat terjadi (Yuliarti, 2010), disebabkan karena ketika
bayi diletakkan di dada ibunya, ia berada tepat di atas rahim ibu. Hal itu membantu menekan
plasenta dan mengecilkan rahim ibu. Dengan begitu, perdarahan ibu akan berhenti karena ada
kontraksi rahim.
Menjaga produktivitas ASI: Mekanisme ini dimungkinkan karena isapan bayi penting dalam
meningkatkan kadar hormon prolaktin, yaitu hormon yang merangsang kelenjar susu untuk
memproduksi ASI. Isapan itu akan meningkatkan produksi susu dua kali lipat.
Menurut Yuliarti (2010), tahapan dalam pelaksanaan IMD, antara lain:
1.

Pada saat bayi berhadapan dengan ibunya, terjadi adaptasi sampai bayi merasa tenang,
setelah itu bayi mengecap bagian atas telapak tangannya, hal ini membantu bayi dalam
memandu untuk mencari puting susu ibu, dikarenakan bau di telapak tangan tersebut mirip
dengan bau ASI yang akan keluar.
2.
Bayi akan merayap ke arah puting susu sampai menemukannya, dan pada saat merayap,
bayi akan menekan payudara dan hal tersebut akan merangsang susu keluar. Tetapi tidak
mesti ASI keluar, yang terpenting adalah bayi sudah mencapai puting dan mulai mengisapisap. Kemudian bayi dibiarkan selama 1 jam untuk proses skin to skin contact.
Sedangkan secara detail, beberapa tahap Inisiasi Menyusu Dini, sebagai berikut:
1.

Ketika proses melahirkan, ibu disarankan untuk mengurangi/tidak menggunakan obat


kimiawi, karena dikhawatirkan dapat terbawa ASI ke bayi pada saat menyusu dalam proses
inisiasi menyusu dini.
2.
Setelah proses kelahiran, bayi secepatnya dikeringkan seperlunya tanpa menghilangkan
vernix (kulit putih), yang berfungsi membuat nyaman kulit bayi.
3.
Bayi kemudian ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dengan kulit bayi melekat pada
kulit ibu. Untuk mencegah bayi kedinginan, kepala bayi dapat dipakaikan topi, jika
diperlukan bayi dan ibu diselimuti.
4.
Bayi yang ditengkurapkan di dada atau perut ibu, dibiarkan untuk mencari sendiri puting
susu ibunya (bayi tidak dipaksakan ke puting susu), karena pada dasarnya bayi memiliki
naluri yang kuat untuk mencari puting susu ibunya. Ibu perlu didukung dan dibantu untuk
mengenali perilaku bayi sebelum menyusu.

5.

Bayi dibiarkan tetap dalam posisi kulitnya bersentuhan dengan kulit ibu sampai proses
menyusu pertama selesai.
6.
Setelah selesai menyusu awal, bayi baru dipisahkan untuk ditimbang, diukur, dicap,
diberi vitamin K dan tetes mata.
7.
Ibu dan bayi tetap bersama dan dirawat-gabung. Rawat-gabung memungkinkan ibu
menyusui bayinya setiap saat diperlukan (pada dasarnya kegiatan menyusu tidak boleh
dijadwal). Rawat-gabung juga akan meningkatkan ikatan batin antara ibu dengan bayinya,
bayi jadi jarang menangis karena selalu merasa dekat dengan ibu, juga lebih memudahkan
ibu untuk beristirahat dan menyusui

3. Perbedaan kurva BB/TB menurut CDC dan WHO


KURVA WHO
Pada tahun 2006, WHO mengeluarkan sebuah kurva pertumbuhan standar yang
menggambarkan pertumbuhan anak umur 0-59 bulan di lingkungan yang diyakini dapat
mendukung pertumbuhan optimal anak. Untuk membuat kurva pertumbuhan ini, WHO
melakukan penelitian multisenter pada tahun 1997 sampai 2003 dengan tujuan untuk
menggambarkan pertumbuhan anak yang hidup di lingkungan yang tidak memiliki faktor
penghambat pertumbuhan. Data dikumpulkan dari 6 negara yaitu Brazil, Ghana, India,
Norwegia, Oman dan Amerika. Penelitian ini terdiri atas dua bagian; pertama adalah
penelitian longitudinal (subyek diikuti dari lahir sampai usia 2 tahun); dan kedua adalah
penelitian cross-sectional (pada anak usia 1,5 sampai 5 tahun). Panjang badan diukur
pada posisi tidur telentang untuk anak usia 0-2 tahun dan setelah usia 2 tahun tinggi
badan diukur sebagai tinggi berdiri.
a. Penelitian longitudinal
Pada awal penelitian terdapat 1737 subyek yang memenuhi kriteria penelitian, namun
data yang digunakan adalah data 882 subyek yang menyelesaikan penelitian ini. Subyek
diberi makan sesuai dengan rekomendasi WHO yaitu mendapat ASI sampai usia 12 bulan
dan mendapat makanan tambahan setelah berumur 6 bulan. Ibu subyek penelitian tidak
merokok.
b. Penelitian cross-sectional
Subyek diambil dari strata demografik yang sama dengan subyek penelitian longitudinal.
Terdapat 6669 subyek usia 18-71 bulan yang masing-masing dinilai dalam satu kali
pengukuran.
IDAI telah menetapkan untuk skrining pertumbuhan anak dengan umur sampai 5 tahun
dapat menggunakan kurva pertumbuhan WHO.

KURVA CDC 2000


CDC yang dibuat tahun 2000 misalnya, didasarkan pada bayi ras kaukasian dan banyak
di antaranya memakai susu formula

Daftar Pustaka

1. Diunduh dari http://www.gizikia.depkes.go.id/wpcontent/uploads/downloads/2013/01/Buku-Panduan-Pelatih-Manajemen-BBL.pdf


tanggal 6 Juni 2016
2. Diunduh dari http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2012/05/pesan-IMDASIE1.pdf tanggal 6 Juni 2016\
3. Diunduh dari http://www.idai.or.id/professional-resources/growth-chart/ tanggal 6
Juni 2016