Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II

HUBUNGAN STRUKTUR DAN AKTIVITAS (HKSA)


HORMON STEROID (Prednisolon dan Methyl Prednisolon)

Kelompok : 1. Anggi Anggraeni

(P2.06.30.1.14.003)

2. Nisa Azhari M

(P2.06.30.1.14.023)

JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KEMENTERIAN KESEHATAN
TASIKMALAYA
2016
NO PRAKTIKUM

: 04

TANGGAL PRAKTIKUM

: April 2016

JUDUL PRAKTIKUM

: Hubungan Struktur dan Aktivitas Hormon


Steroid

TUJUAN PRAKTIKUM

1. Untuk mengetahui hubungan struktur dan aktivitas obat hormon steroid.


2. Untuk mengetahui perbandingan efektifitas prednisolon dan methyl prednisolon.
1. DASAR TEORI
A. Hubungan Kuantitatif Struktur-Aktivitas
Menurut Crum, Brown, dan Fraser (1869). HKSA adalah aktivitas
biologis alkaloida alam, seperti striknin, brusin, tebain, kodein, morfin dan
nikotin akan menurun atau hilang bila direaksikan dengan matil iodida efek
biologis suatu senyawa () merupakan fungsi dari struktur kimianya (C).
Menurut Overton (1897) dan Mayer (1899). HKSA adalah efek narkosis
senyawa-senyawa yang mempunyai struktur kimia bervariasi berhubungan
dengan nilai koefisien partisi lemak/air.
Menurut Ferguson (1939). HKSA adalah aktivitas bakterisid turunan
fenol mempunyai hubungan linier dengan kelarutan dalam air.
Menurut Corwin Hansch dkk (1963). HKSA adalah menghubungkan
struktur

kimia

dan

aktivitas

biologis

obat

melalui

sifat-sifat

kimia

fisika kelarutan dalam lemak (lipofilik), derajat ionisasi (elektronik), dan


ukuran molekul (sterik).
Konsep bahwa aktivitas biologis suatu senyawa berhubungan dengan
struktur

kimia,

pertama

kali

di

kemukakan

oleh Crum, Brown dan Fraser (1869). Mereka menunjukkan bahwa aktivitas
biologis beberapa alkaloida alam seperti striknin, brusin, tebain, kodein, morfin
dan nikotin yang mengandung gugus ammonium tersier akan menurun atau
hilang bila di reaksikan dengan metyl iodide, melalui reaksi metilasi membentuk
ammonium kuartener. Mereka juga memberikan postulat bahwa efek biologis
suatu senyawa merupakan fungsi dari struktur kimianya.
Ada beberapa model pendekatan hubungan kuantitatif struktur-aktivitas
antara lain adalah pendekatan HKSA Free-Wilson, pendekatan HKSA Hansch,
pendekatan mekanika kuantum dan pendekatan konektivitas molekul.
- Model Pendekatan Hksa Free-Wilson
Free dan Wilson (1964), mengembangkan suatu konsep hubungan
struktur dan akrtivitas biologis obat, yang di namakan model de
novo atau model matematik free-wilson. Mereka mengemukakan bahwa
respons biologis merupakan sumbangan aktivitas dari gugus-gugus
-

substituent terhadap aktivitas biologis senyawa induk.


Model Pendekatan Hksa Hansch
Hansch (1963), mengemukakan suatu konsep bahwa hubungan
struktur kimia dengan aktivitas biologis (Log 1/C) suatu turunan senyawa
dapat di nyatakan secara kuantitatif melalui paramneter-parameter sifat
kimia fisika dari substituent yaitu parameter hidrofobik (), elektronik ()
dan sterik (Es). Model pendekatan ini di sebut pula model hubungan
energy bebas linier ( linier free energy relationship = LFER) atau
pendekatan ekstratermodinamik. Pendekatan ini menggunakan dasar
persamaan Hammett yang di dapat dari kecepatan hidrolisis turunan asam
benzoate.
Dalam HKSA model Hansch lebih berkembang dan lebih banyak di
gunakan di banding model de novo Free-Wilson, karena lebih sederhana
serta konsepnya secara langsung berhubungan prinsip-prinsip kimia fisika
organic yang sudah ada, dapat untuk hubungan linier dan non-linier, data
parameter sifat kimia fisika substituent sudah banyak tersedia dalam tabletabel, model Hansch telah banyak di gunakan untuk menjelaskan hubungan
struktur aktifitas turunan obat.
Model de novo ini kurang berkembang, Karena :
1) Tidak dapat digunakan bila efek substituen tidak bersifat linier.
2) Bila ada interaksi antar substituen.

3) Memerlukan banyak senyawa dengan kombinasi substituen bervariasi


untuk menarik kesimpulan yang benar.
Keuntungannya :
1) Dengan menguji HKSA turunan senyawa dengan bermacam-macam
gugus substitusi pada berbagai zona.
2) Digunakan bila tidak ada data tetapan kimia fisikadari senyawa dan uji
aktivitas lebih lambat dibanding sengan sintesis turunan senyawa.
Dalam HKSA, model Hansch lebih berkembang dan lebih banyak
digunakan dibanding model de novo Free-Wilson, oleh karena :
1) Lebih sederhana.
2) Konsepnya secara langsung berhubungan prinsip-prinsip kimia fisika
organik yang sudah ada.
3) Dapat untuk hubungan linier dan non-linier.
4) Data parameter sifat kimia fisika substituen sudah banyak tersedia dalam
tabel-tabel.
5) Model Hansch telah banyak digunakan untuk menjelaskan hubungan
struktur aktivitas turunan obat.
2. PENGERTIAN dan PENGGOLONGAN
Hormon adalah senyawa yang secara normal dikeluarkan oleh kelenjar
endokrin atau jaringan tubuh dan dilepaskan ke peredaran darah, menuju
jaaringan sasaran, berinteraksi secara selektif dengan reseptor khas atau senyawa
tertentu menunjukkan efek biologis.
Hormon dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
a. Hormon kelenjaar, yaitu hormaon yang dikeluarkan oleh kelenjar kelenjar
endokrin, seperti kelenjar adrenalis, pituitari, tiroid, pankreas, dan gonad.
b. Hormon jaringan, yaaitu hormon yang dihasilkan oleh jaringan, contoh :
histamin, norepineprin dan serotonin.
Hormon mempunyai struktur kimia bervariasi, seperti steroid, peptida,
turunan asam amino aromatik dan asam lemak.
Hormon steroid adalah hormon yang mengandung inti steroid. Karena
mempunyai inti sama, maka ketentuan mengenai tata nama dan aspek
stereokimia jugaa sama.
Sedikit modifikasi struktur, seperti perubahan atau pemasukan gugus
fungsional pada posisi berbeda dari inti steroid, kemungkinan menyebabkan
perubahan aktivitas biologis. Demikian pula perubahan stereokimia inti steroid
dapat menyebabkan senyawa kehilangan aktivitas.

Contoh hormon penting yang mengandung inti steroid antara lain adalah
hormon yang dihasilkan oleh kelenjar adrenalis bagian korteks.
Korteks adrenalis dibedakan menjadi tiga daerah histologis, yaitu:
a. Lapisan terluar (glomerular), mengeluarkan mineralokortikoid, seperti
aldosteron dan deoksikortikosteron, yang berfungsi mengatur keseimbangan
elektrolit dan air terutama pada proses absorpsi kembali natrium di tubulus
distalis.
b. Lapisan tengah (fasikular), mensintesis glukokortikoid seperti kortison dan
hidrokortison,

yang

terutama

berfungsi

pada

proses

metabolisme

karbohidrat, antiradang, anabolitik dan penekan kortikotropin. Secara umum


hormon ini dapat meningkatkan ketersidaan glukosa, merangsang
katabolisme protein dan lipolisis.
c. Daerah dalam (retikular), mengeluarkan hormon kelamin, seperti hormon
androgen, dan progestin.
Hormon steroid dibagi

menjadi

dua

golongan

yaitu

hormon

adrenokortikoid dan hormon kelamin.


1) Hormon Mineralokortikoid
Hormon mineralokortikoid terutama digunakan di klinik untuk
pengobatan penyakit Addison kronik, suatu penyakit yang disebabkan oleh
gangguan fungsi kelenjar adrenalis karena sesuatu hal, misal tumor kelenjar,
sehingga produksi hormon menurun. Karena penyakit Addison sukar
disembuhkan, maka pengobatan dapat berlangsung seumur hidup. Hormon
ini dapat meningkatkan pemasukan ion natrium dan pengeluaran kalium di
tubulus ginjal.
- Mekanisme kerja hormon mineralokortikoid
Mekanisme kerja hormon mineralokortikoid berhubungan dengan
metabolisme elektrolit dan air. Hormon ini memelihara fungsi normal
ginjal, yaitu dengan mengatur pemasukan ion natrium dan pengeluaran
ion kalium. Pada tingkat molekul, hormon berinteraksi membentuk
kompleks terpulihkan dengan reseptor khas yang terdapat padabagian
inti ginjal. Pembentukan kompleks tersebut merangsang sintesis ARN
dan enzim yaang diperlukan untuk pengangkutan aktif ion Na,
menghasilkan efek minerlokortikoid.
2) Hormon Glukokortikoid
Hormon glukokortikoid mempunyai efek anti radang, dalam
klinik digunakan terutama untuk pengobatan kelainan pada jaringan

kolagen, kelainan hematologis (leukemia) dan pernafasan (asma), untuk


pengobatan rematik, pengobatan penyakit karena alergi tertentu, seperti
dermatologis yang berat, penyakit saluran cerna dan penyakit hati.
Hormon glukokortikoid juga efeketif untuk pengobatan penyakit
syok Addison, sembab otak, hiperkalsemia dan miastenia gravis.
Hormon glukokortikoid dapat berbahaya bila digunakan secara
tidak tepat. Penggunaan jangka panjang menyebabkan efek samping cukup
berat, seperti hipokalemia, tukak lambung, penekanan pertumbuhan,
osteoporosis, muka bulat, penekanan sekresi kortikotropin, atropi kulit,
memperberat penyakit diabetes melitus, mudah terkenan infeksi glaukoma,
hipertensi, gangguan menstruasi, dan oerubahan mental atau tingkah laku.
Penghentian pengobatan secara tiba tiba menyebabkan keetidakcukupan
adrenal yang takut dan menimbulkan gejala withdrawal, seperti otot menjadi
lemah, nyeri otot, demam, perubahan mental, mual, hipoglikemi, hipotensi,
dehidrasi, daan bahkan kadang kadang menyebabkan kematian. Oleh
karena itu pada pengobatan jangka panjang dengan hormon glukokortikoid,
penghentian obat harus dilakukan dengan mengurangi dosis secara bertahap.
- Mekanisme kerja hormon glukokortikoid
Hormon glukokortikoid berhubungan dengan metabolisme
karbohidrat, protein, dan lemak serta dapat merangsang sintesis glukosa
dan glikogen. Efek anti radang hormon glukokortikoid berhubungan
dengan

kemampuannya

untuk

merangsang

biosintesis

protein

lipomudulin, yang dapat menghambat kerja enzimatik fosfolipase A2


sehingga mencegah pelepasan mediator proses keradangan, yaitu asam
arakidonat dan metabolitnya, seperti prostaglandin (PG), leukotrien
(LT), tromboksan dan prostasiklin. Prostaglandin menimbulkan nyeri,
demam dan pelepasan radikal oksigen yang dapat menimbulkan
kerusakan jaringan. PGE2 dan PGI2 menimbulkan efek vasodilatasi
sehingga terjadi panas dan kulit berwarna kemerah merahan.
Leukotrieen dapat menimbulkan pelepasan leukotrien B4 (LTB4), slow
reacting substance A (SRS A) dan radikal oksigen. LTB4 menimbulkan
efek kemotaksis, terjadi penimbunan leukosit dan efek fagositis yang
menyebabkan kerusakan jaringan. SRS A dapat meningkatkan
permeabilitas vaskular sehingga terjadi sembab.

Glukokortikoid dapat memblok jalur siklooksigenase dan


lipooksignase, sedamg Non Steroidal Antiinflamatory Drugs (NSAID)
hanya memblok jalur siklooksigenase. Hal ini dapat menjelaskan
mengapa glukokortikoid mempuunyai aktivitas anti radang yang lebih
besar dibanding NSAID.
3. HASIL PENGAMATAN
STRUKTUR

O
HO
HO
H

OH

RINCIAN
Boiling Point: 1116,63 [K]
Melting Point: 753,72 [K]
Critical Temp: 953,53 [K]
Critical Pres: 22,21 [Bar]
Critical Vol: 1032,5 [cm3/mol]
Log P: 0,48
MR: 99,39 [cm3/mol]
Henry's Law: 13,22
Heat of Form: -834,55 [kJ/mol]
tPSA: 94.83
CLogP: -1.1374
CMR: 9.8395

prednisolon

Chemical Formula: C21H28O5


Exact Mass: 360,2
Molecular Weight: 360,4
m/z: 360,19 (100,0%), 361,20 (23,2%), 362,20 (3,6%)
Elemental Analysis: C, 69.98; H, 7.83; O, 22.19
O
HO

HO
H

OH

methyl prednisolon

Boiling Point: 1134,84 [K]


Melting Point: 760,75 [K]
Critical Temp: 964,07 [K]
Critical Pres: 19,74 [Bar]
Critical Vol: 1087,5 [cm3/mol]
Log P: 0,81
MR: 104,17 [cm3/mol]
Henry's Law: 13,09
Heat of Form: -875,53 [kJ/mol]
tPSA: 94.83
CLogP: -0.818401
CMR: 10.3033

Chemical Formula: C22H30O 5


Exact Mass: 374,2
Molecular Weight: 374,5
m/z: 374,21 (100,0%), 375,21 (24,0%), 376,22 (2,8%), 376,21 (1,0%)
Elemental Analysis: C, 70.56; H, 8.07; O, 21.36

4. PEMBAHASAN
Pada praktek kering kimia farmasi II ini membandingkan struktur aktivitas
dari hormon steroid, yaitu prednisolon dan methyl prednisolon.
Hormon steroid adalah hormon yang mengandung inti steroid. Karena
mempunyai inti sama, maka ketentuan mengenai tata nama dan aspek stereokimia
juga sama.
Prednisolon dan methyl prednisolon termasuk kedalam hormon steroid
golongan glukokortikoid. Hormon glukokortikoid mempunyai efek anti radang,
dalam klinik digunakan terutama untuk pengobatan kelainan pada jaringan kolagen,
kelainan hematologis (leukemia) dan pernafasan (asma), untuk pengobatan rematik,
pengobatan penyakit karena alergi tertentu, seperti dermatologis yang berat,
penyakit saluran cerna dan penyakit hati. Hormon glukokortikoid juga efektif untuk
pengobatan penyakit syok Addison, sembab otak, hiperkalsemia dan miastenia
gravis.
Mekanisme kerja hormon glukokortikoid yaitu hormon glukokortikoid
berhubungan dengan metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak serta dapat
merangsang sintesis glukosa dan glikogen. Efek anti radang hormon glukokortikoid
berhubungan dengan kemampuannya untuk merangsang biosintesis protein
lipomudulin, yang dapat menghambat kerja enzimatik fosfolipase A2 sehingga
mencegah pelepasan mediator proses keradangan, yaitu asam arakidonat dan
metabolitnya, seperti prostaglandin (PG), leukotrien (LT), tromboksan dan

prostasiklin. Prostaglandin menimbulkan nyeri, demam dan pelepasan radikal


oksigen yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan. PGE2 dan PGI2 menimbulkan
efek vasodilatasi sehingga terjadi panas dan kulit berwarna kemerah merahan.
Leukotrieen dapat menimbulkan pelepasan leukotrien B4 (LTB4), slow reacting
substance A (SRS A) dan radikal oksigen. LTB4 menimbulkan efek kemotaksis,
terjadi penimbunan leukosit dan efek fagositis yang menyebabkan kerusakan
jaringan. SRS A dapat meningkatkan permeabilitas vaskular sehingga terjadi
sembab.
Prednisolon, dosis oral : 5 15 mg 1-4 dd.bentuk ester atau garam
sodium suksinat, sodium posfat dan tebutat, digunakan untuk pemakaian parenteral
secra intramuskular atau intra vena.
Adapun struktur kimianya sebagai berikut :
O
HO
HO
H

OH

prednisolon
Methyl prednisolon, dosis oral: 4 mg 4 dd. Bentuk ester atau garam sodium
suksinat dan asetat dari methyl prednisolon digunakan untuk pemakaian parenteral,
secara intramuskular atau intravena.
Adapun struktur kimianya sebagai berikut :

O
HO
HO
H

OH

methyl prednisolon
Modifikasi molekul telah dilakukan pada kortikosteroid alami dan sudah
banyak dihasilkan obat obat yang sangat berguna untuk pengobatan berbagai
macam penyakit.
Hubungan struktur dan aktivitas hormon kortikosteroid dijelaskan sebagai
berikut :
a. Secara umum, karakteristik struktur yang penting dari kortikosteroid adalah
ikatan rangkap C4 C5, gugus keton pada C3, dan rantai samping 17-ketol (COCH2OH) kaena dapat menunjang aktivitas. Sejumlah senyawa yang tidak
mempunyai sistem C3-keto masih mempunyai aktivitas cukup besar sehingga
diduga gugus ini kecil sumbangannya terhadap kekhasan interaksi obatreseptor.
b. Pada konsep interaksi obat reseptor, cincin C dan D lebih penting dibanding
cincin A dan B.
c. Substitusi gugus 21-OH dengan fluorin (F) meningkatkan aktivitas gluko dan
mineralkortikoid,

tetapi

substitusi

dengan

gugus

Cl

atau

Br

akan

menghilangkan aktivitas.
d. Adanya substituen 1-ene, 2-CH3, 9-F,21-OH, 9-Cl meningkatkan aktivitas
glukokortikoid dan minerlkortikoid.
e. Mineralkortikoid pada umunya tidak mengandung gugus 11-OH daan 17-OH.
Adanya

substituen

OH

secara

umum

menghilangkan

aktivitas

mineralkortikoid.
f. Pada umumnya substitusi gugus F, Cl, dan Br, pada posisi 9 meningkatkan
aktifitas mineralokortikoid dengan urutan F > Cl > Br, demikian pula substitusi
pada posisi 12-F.

g. Adanya ikatan rangkap pada posisi C1-C2 dan substituen pada 6-Cl, 16-OH,
16-OCH3, 16-CH3, 17-OH, 17-CH3 dan 16, 17-ketal menurunkan secara
bermakna aktifitas mineralokortikoid.
h. Secara umum struktur hormon glukokortikoid mengandung gugus keton atau
hidroksi pada C11 dan gugus -OH pada C17. Gugus 11-OH ini sangat penting
untuk interaksi obat reseptor.
i. Pemasukan gugus -CH3 pada posisi 2, 6 dan 16, meningkatkan aktifitas
glukokortikoid.

Pemasukan

gugus

2-CH3

meningkatkan

aktifitas

glukokortikoid oleh karena pengaruh halangan ruangnya dapat mencegah


reduksi gugus 3-keton, baik pada in-vitro maupun in-vivo.
j. Substitusi pada posisi 4, 7, 9, 11 dan 21 menurunkan aktifitas.
k. Pemasukan gugus -OH pada posisi 1, 6, 7, 9, 14 dan 16 atau reduksi gugus
20-keton juga menurunkan aktifitas glukokortikoid.
l. Pemasukan substituen 9-F dapat meningkatkan aktifitas oleh karena :
1) Adanya gugus yang bersifat penarik elektron tersebut dapat menimbulkan
efek induksi pada gugus 11-OH sehingga senyawa menjadi lebih asam dan
kemampuan interaksi obat-reseptor, yang melibatkan ikatan hidrogen,
menajadi lebih baik.
2) Dapat melindungi gugus 11-OH dari proses oksidasi metabolik.
m. Pemasukan ikatan rangkap antara C1-C2 meningkatkan secara nyata aktifitas
glukokortikoid dan aktifitas antiradang. Pemasukan ikatan rangkap pada C 1-C2
cincin A akan mengubah bentuk konvormasi cincin sehingga interaksi dengan
reseptor menjadi lebih baik dan menghasilkan peningkatan efek antiradang.
Adanya ikatan rangkap pada posisi 9-11, bila tidak ada gugus oksigen pada
posisi 11, akan menurunkan aktifitas. Adanya ikatan rangkap pada posisi 6-7
tidak mempengaruhi aktifitas.
n. Bentuk ester, seperti ester asetat, benzoat, butirat, heksanoat, kaproad, sipionat,
diasetat, dipropionat, pivalat dan valerat, asetonid atau garam, seperti natrium
fosfat dan natrium suksinat, dapat meningkatkan masa kerja obat. Bentuk ester
dan asetonid merupakan pra-obat, pada in-vivo senyawa dihidrolisis
melepaskan senyawa induk aktif.
Terdapat beberapa turunan dari prednisolon, yang kami ambil satu yaitu
metil-prednisolon. Dari struktur kimia, prednisolon dan metil-prednisolon memiliki
jumlah atom C sebanyak masing-masing 21 dan 22, sedangkan untuk atom H
prednisolon memiliki jumlah atom H sebanyak 28 sedangkan metil-prednisolon
sebanyak 30.

Berkaitan dengan aktivitas biologis seri homolog, suatu seri homolog


senyawa sukar terdiosisasi, yang perbedaan strukturnya hanya menyangkut
perbedaan jumlah dan panjang rantai atom C, ternyata intensitas efek biologisnya
tergantung pada jumlah atom C.
Makin panjang rantai samping atom C, maka :
-

Semakin bertambah bagian molekul yang bersifat non polar dan terjadi
perubahan fisik (kenaikan titik didih, berkurangnya kelarutan dalam air, serta
meningkatnya

koefisien

partisi

lemak/air,

tegangan

permukaan

dan

kekentalan).
Terjadi perubahan secara drastic.
Hal ini disebabkan dengan bertambahnya jumlah atom C , makin berkurang
kelarutan senyawa di air, yang berarti kelarutan dalam cairan luar sel juga
berkurang, sedang kelarutan senyawa dalam cairan luar sel berhubungan
dengan proses pengangkutan obat ke sisi kerja (site of action) atau reseptor.
Oleh karena itu kelarutan dan koefisien partisi lemak/air merupakan sifat fisk
penting dari senyawa seri homolog untuk dapat menghasilkan aktivitas
biologis.
Sifat kelarutan pada umumnya berhubungan dengan aktivitas biologis dari

senyawa seri homolog. Sifat keturunan juga berhubungan erat dengan proses
absorpsi obat. Hal ini penting karena intensitas aktivitas biologis obat tergantung
pada derajat absorpsinya. Overton (1901). Mengemukakan konsep bahwa
kelarutan senyawa organik dalam lemak berhubungan dengan mudah atau tidaknya
penembusan membran sel. Senyawa non polar bersifat mudah larut dalam lemak,
mempunyai nilai koefisien partisi lemak/air besar sehingga mudah menembus
membran sel secara difusi pasif.
Salah satu parameter yang digunakan dalam menentukan hubungan struktur
dan aktivitas yaitu Parameter hidrofobik (lipofilik), salah satunya yaitu koefisien
partisi (logP) . Kecepatan absorbsi obat sangat dipengaruhi oleh keofisien partisi.
Hal ini disebabkan oleh komponen dinding usus yang sebagian besar terdiri dari
lipida. Dengan demikian obat-obat yang mudah larut dalam lipida akan dengan
mudah melaluinya. Sebaliknya obat-obat yang sukar larut dalam lipida akan sukar
diabsorpsi. Obat-obat yang larut dalam lipida tersebut dengan sendirinya memiliki
koefisien partisi lipida-air yang besar, sebaliknya obat-obat yang sukar larut dalam

lipid akan memiliki koefisien partisi yang sangat kecil. Prednisolon memiliki nilai
Log P 0,48 sedangkan derivatnya yaitu metil-prednisolon memiliki nilai log P 0,81.
Hal ini menunjukan bahwa metil-prednisolon lebih lipofil dibanding prednisolon.
Sehingga metil-prednisolon akan memiliki absorbsi yang lebih baik daripada
prednisolon.
Kemudian dilihat dari titik didih nya metil-prednisolon memiliki titik didih
yang lebih tinggi yaitu 760,75 dibandingkan prednisolon yaitu 753,72 maka MR
yang dimiliki metil-prednisolon pun lebih tinggi dibandingkan prednisolon,
sehingga daya tarik menarik antar molekul lebih kuat dibanding prednisolon, maka
absorbsi metil-prednisolon dalam membran lebih cepat dibandingkan prednisolon.
Selanjutnya pada Topological Polar Surface Area (tPSA) dapat diartikan
sebagai luas semua permukaan atom polar, terutama Oksigen (O), Nitrogen (N0,
dan Hidrogen (H) . tPSA ini cenderung digunakan sabagai matrik untuk optimasi
dan kemampuan obat menembus sel . Senyawa yang memiliki Bioavailibilitas oral
yang bagus jika memiliki tPSA 0 tPSA 132 . Dari data yang didapat ,
prednisolon memiliki nilai tPSA 94.83 dan derivatnya memiliki nilai tPSA yang
sama, artinya prednisolon maupun metil-prednisolon memiliki bioavailbilitas oral
yang baik karena nilai tPSAnya kurang dari 132, sehingga obat dapat menembus
sel.
Metil prednisolon berdaya kurang lebih 20% lebih kuat dari prednisolon
dengan berbagai cara penggunaan oral dan parenteral.
5. Kesimpulan
Hormon steroid adalah hormon yang mengandung inti steroid. Karena
mempunyai inti sama, maka ketentuan mengenai tata nama dan aspek stereokimia
juga sama.

Terdapat beberapa turunan dari prednisolon, yang kami ambil satu yaitu
metil-prednisolon. Dari struktur kimia,

prednisolon dan metil-prednisolon

memiliki jumlah atom C masing-masing 21 dan 22, sedangkan untuk atom H


prednisolon memiliki jumlah atom H sebanyak 28 sedangkan metil-prednisolon
sebanyak 30.
Prednisolon memiliki nilai tPSA 94.83 dan derivatnya memiliki nilai tPSA
yang sama, artinya prednisolon maupun metil-prednisolon memiliki bioavailbilitas
oral yang baik karena nilai tPSAnya kurang dari 132, sehingga obat dapat
menembus sel.
6. Daftar Pustaka
http://pharmafemme.blogspot.com/2009/06/25/vitamin.html
Mutschler, Ernst. 1991.Dinamika Obat Buku Ajar edisi kelima. Bandung:Penerbit
ITB
Soekardjo, Bambang dan Siswandono. 2008.KIMIA MEDISINAL 2 cetakan
kedua.Surabaya: Airlangga University Press
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Larasati. 2007. Obat-Obat Penting Edisi Ke Enam
Cetakan Pertama. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Tim Editor. 2007.

Anda mungkin juga menyukai