Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Merkuri
Merkuri (Hg) atau air raksa merupakan salah satu jenis logam sebagai
senyawa organic dan anorganik yang banyak ditemukan di alam dan tersebar
dalam batu-batuan, bijih tambang, tanah, air dan udara sebagai senyawa
anorganik dan organik (Setiawati, 2012). Merkuri (Hg) adalah logam berat
berbentuk cair, berwarna putih perak dan tidak berbau. Merkuri memiliki sifat
mudah menguap pada suhu ruangan dan dapat memadat pada tekanan 7.640
Atm. Merkuri (Hg) dapat larut dalam asam sulfat atau asam nitrit, tetapi tahan
terhadap basa. Hg memiliki titik didih 356,6C dan titik lebur -38,9C
(Widowati dkk, 2008).
B. Penggunaan Merkuri di Industri
Merkuri (Hg) digunakan dalam kegiatan penambang emas, produksi gas
klor dan soda kaustik, serta dalam industri pulp, kertas dan baterai. Merkuri
digunakan secara luas untuk mengekstrak emas (Au) dari bijihnya. Ketika
merkuri (Hg) dicampur dengan bijih emas, merkuri (Hg) akan membentuk
amalgama dengan emas (Au) dan perak (Ag). Amalgama tersebut harus
dibakar untuk menguapkan merkuri guna menangkap dan memisahkan butirbutir emas dari butir-butir batuan.
Terdapat berbagai peraturan mengenai batasan kadar Hg di lingkuangan.
Menurut Kepmenkes No. 261/1998 kadar merkuri (Hg) dalam udara tempat
kerja yang diperbolehkan sebesar 0,1 mg/l. Sedangakan menurut WHO dan
UNEP (2008) kadar merkuri normal dalam darah rata-rata berkisar antara 5-10
mg/l, untuk rambut berkisar antara 1-2 ppm, dan untuk urin konsentrasi
merkuri maksimum adalah 50 mg/g kreatinin. Merkuri bersifat sangat toksik
sehingga penggunaan merkuri dalam berbagai industri sebaiknya dikurangi,
termasuk dalam industri farmasai, kedokteran gigi, industri pertanian, industri
baterai, dan lampu fluorecence (Widowati dkk, 2008).

C. Pengertian Nefrotoksik

Nefrotoksik artinya menganggu ginjal atau yang beracun untuk jaringan


ginjal. Secara umum nefrotoksik merupakan toksikan yang mempengaruhi
ginjal. Toksikan ini dapat bekerja dalam empat cara yaitu:
1. Mengurangi aliran darah ke ginjal yang akan mengurangi laju filtrasi
glomerulus dan juga pembentukan urin. Penurunan aliran darah juga dapat
merusak jaringan ginjal;
2. Secara langsung mempengaruhi glomerulus dan menganggu kemampuan
selektifnya dalam memfiltrasi darah;
3. Mempengaruhi fungsi reabsorpsi atau fungsi seleksi tubulus;
4. Menyumbat tubulus, menghambat aliran urin.
(Widyastuti, 2006).
Ginjal biasanya rentan terhadap efek toksik. Kebanyakan logam
merupakan toksikan yang ampuh. Kerusakan ginjal kemungkinan disebabkan
oleh perpaduan antara penurunan aliran darah yang mengakibatkan penurunan
produksi urine dan kerusakan jaringan, dan toksisitas logam dalam tubulus,
yang mengakibatkan sumbatan tubulus. Salah satu logam nefrotoksik yang
seperti itu adalah merkuri (Widyastuti, 2006). Terpaparnya merkuri pada tubuh
dalam waktu yang lama dapat menimbulkan dampak kesehatan hingga
kematian pada manusia. Salah satu pengaruh merkuri terhadap fisiologi
manusia yaitu ; pada sistem saluran pencernaan dan ginjal, terutama akibat
merkuri yang terakumulasi (Wurdiyanto, 2007).
D. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kadar Merkuri
1. Faktor Internal
a. Status Gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh seseorang sebagai akibat dari
konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Pada dasarnya apabila
seseorang memiliki status gizi yang kurang baik akan menjadi rentan
terhadap penyakit (Inswiasri dan Sintawati, 2011). Oleh karena itu
tingkat gizi seorang pekerja memiliki hubungan yang sangat erat dengan
kesehatan. Selain itu, status gizi dapat memepengaruhi daya tahan tubuh
seseorang terhadap paparan logam berat ke tubuh.
b. Umur
Tugaswati (2006) menyatakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi tubuh terhadap logam berat adalah umur. Janin, anak
yang baru lahir dan masih berusia muda sangat rentan terhadap paparan
merkri karena sensitivitas dari perkembangan syaraf.

2. Faktor Pekerjaan
a. Masa Kerja
Pengaruh masa kerja dengan kadar merkuri pada area kerja yang
memiliki risiko tinggi terhadap paparan merkuri adalah berkaitan dengan
akumulasi merkuri dalam tubuh. Apabila semakin lama orang tersebut
bekerja, maka semakin sering pula orang tersebut terpapar dengan
merkuri.
b. Jam Kerja
Jam kerja dapat menentukan tingkat keterpaparan pekerja terhadap
kontaminasi bahan kimia di lingkungan kerja dalam sehari. Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Lestari pada pekerja pertambangan emas
tahun 2010, dinyatakan bahwa pekerja dengan jam kerja>8 jam dalam
sehari berisiko tinggi mengalami keracunan merkuri dibanding dengan
pekerja dengan jam kerja 8 jam/hari.
Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. 13
Tahun 2011 Nilai ambang batas adalah standar faktor bahaya di tempat
kerja sebagai kadar/intensitas rata-rata tertimbang waktu yang dapat
diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan
keseharan, dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam
sehari atau 40 jam seminggu.
c. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Alat pelindung diri yang direkomendasikan

untuk

pekerja

penambang dan pengolahan emas adalah masker, sarung tangan karet dan
baju lengan panjang. Masker dapat mengurangi paparan merkuri lewat
pernafasan. Pada saat uap merkuri terhirup 80% merkuri masuk ke aliran
darah melalui paru-paru dan menyebar ke organ tubuh lain, termasuk
otak dan ginjal. Sedangkan sarung tangan karet dan pakaian lengan
panjang mampu mengurangi paparan Hg lewat kulit (Setiyono dan
Maywati, 2010).
d. Kadar Pemakaian Merkuri/hari
Menurut Widiana (2007) besarnya toksisitas merkuri berbanding
lurus dengan konsentrasi. Maka besar konsentrasinya akan semakin besar
tingkat toksisitasnya.
E. Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya

Pengendalian bahan kimia berbahaya adalah upaya dan atau kegiatan yang
dilakukan untuk mencegah dan atau mengurangi resiko akibat penggunaan
bahan kimia berbahaya ditempat kerja terhadap tenaga kerja, alat-alat kerja dan
lingkungan. Menurut Widiowati (2008) upaya pencegahan dan pengendalian
merkuri pada kegiatan pertambangan dapat dilakukan dengan:
1. Menerapkan sistem pertambangan tertutup dengan tujuan memperkecil
keluaran Hg dari dalam tanah. Hal ini adalah sebagai bentuk dari teknik
penggalian yang ramah lingkungan
2. Mengganti penggunaan Hg dalam proses pengolahan emas menjadi
menggunakan mikroba, contohnya adalah Thiobacillus feroxidans.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.Kep. 187/MEN/1999 tentang
pengendalian bahan kimia berbahaya di tempat kerja, Pengendalian berbahaya
kimia berbahaya sebagaimana dimaksud meliputi :
1. Penyediaan lembar data keselamatan bahan (LDKB) dan label.
Lembar data keselamatan bahan berisi informasi meliputi keterangan
tentang :
a. identitas bahan dan perusahaan.
b. komposisi bahan.
c. identifikasi bahaya.
d. tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
e. tindakan penanggulangan kebakaran.
f. tindakan mengatasi kebocoran dan tumpahan.
g. penyimpanan dan penanganan bahan.
h. pengendalian pemajanan dan alat pelindung diri.
i. sifat fisika dan kimia.
j. stabilitas dan reaktifitas bahan.
k. informasi toksikologi.
Sedangkan label meliputi keterangan mengenai:
a. nama produk.
b. identifikasi bahaya.
c. tanda bahaya dan artinya.
d. uraian resiko dan penanggulangannya.
e. tindakan pencegahan.
f. instruksi dalam hal terkena atau terpapar.
g. instruksi kebakaran.
h. instruksi tumpahan atau bocoran.
i. instruksi pengisian dan penyimpanan.
j. referensi.
k. nama, alamat dan no. telepon pabrik pembuat dan atau distributor
Lembar Data Keselamatan Bahan dan Label diletakkan di tempat yang
mudah diketahui oleh tenaga kerja dan Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan.
2. Penunjukan petugas K3 Kimia dan Ahli K3 Kimia. /PT

Petugas K3 Kimia sebagaimana dimaksud mempunyai kewajiban:


a.
b.
c.
d.

melakukan identifikasi bahaya.


melaksanakan prosedur kerja aman.
melaksanakan prosedur penanggulangan keadaan darurat.
mengembangkan pengetahuan k3 bidang kimia.

Dalam upaya pengendalian bahan kimia berbahaya pengusaha atau


perusahaan memiliki kewajiban yaitu:
1. mempekerjakan petugas K3 Kimia dengan ketentuan apabila dipekerjakan
dengan sistem kerja non shift sekurang kurangnya 2 (dua) orang dan apabila
dipekerjakan dengan sistem kerja shift sekurang-kurangnya 5 (lima) orang.
2. mempekerjakan ahli K3 Kimia sekurang-kurangnya 1 (satu) orang.
3. membuat dokumen pengendalian potensi bahaya besar.
4. melaporkan setiap perubahan nama bahan kimia dan kuantitas bahan kimia,
proses dan modifikasi instalasi yang digunakan.
5. melakukan pemeriksaan dan pengujian faktor kimia yang ada di tempat
kerja sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali.
6. melakukan pemeriksaan dan pengujian instalasi yang ada di tempat kerja
sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun sekali.
7. melakukan pemeriksaan kesehatan tenaga kerja sekurang kurangnya 1 (satu)
tahun sekali.

DAFTAR PUSTAKA
Inswari dan Sintawati, FX. 2009. Kesehatan Masyarakat Sekitar Lokasi Tambang
di Nusa Tenggara Barat. Artikel Media Litbang Kesehatan Vol XIX No 1.
Keputusan Menteri Kesehatan No. 261/1998 tentang Kadar Merkuri (Hg) dalam
Udara Tempat Kerja.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.Kep. 187/MEN/1999 tentang Pengendalian
Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. 13 Tahun 2011 tentang
Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja
Setiyono, Andik dan Sri, Maywati. 2010. Hubungan Jenis Pekerjaan terhadap
Kadar Merkuri Darah pada Masyarakat di Sekitar Penambangan Emas
Tanpa Ijin di Desa Jendi Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri. Jurnal
Kesehatan Komunitas Indonesia Vol 6 No 2.
Tugaswati, Tri dkk. 2006. Studi Pencemaran Merkuri dan Dampaknya terhadap
Kesehatan Masyarakat di Daerah Mundu Kabupaten Indramayu. Artikel
Ilmiah Vol. 25 No 2. Jakarta: Batlitbangkes.
UNEP (United Nations Environment Programme) and WHO (World Health
Oranization). 2008. Guidance for Identifying Populations at Risk from
Mercury Exposure. UNEP DTIE Chemicals Branch Geneva, Switzerland
diunduh
dari
http://www.who.int/foodsafety/publications/chem/mercuryexposure.pdf.
Widiana, Nina. 2007. Konsentrasi Merkuri di Lingkungan dan Rambut serrta
Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Penambang dan Penduduuk
di Wilayah PETI Pongkor, Kabupaten Bogor Tahun 2007. Skripsi. Depok:
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Widowati, Wahyu dkk. 2008. Efek Toksik Logam: Pencegahan
Penanggulangan Pencemaran. Artikel Ilmiah. Yogyakarta.

dan

Widyastuti, Palupi. 2006. Bahaya Bahan Kimia Pad Kesehatan Manusia dan
Lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.