Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS

BNO
URETEROLITHIASIS

Novita Putri Wardani (2011730157)


Pembimbing:
dr. Rachmat Mulyana Memet, Sp.Rad

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. Tuti M
Umur : 55 thn
JK
: Perempuan
No RO : 1951

Marker : R
Jenis dan posisi foto:
BNO
posisi supine A-P

Foto Layak Baca

Tampak distribusi udara


dalam usus normal
2. Kontur ginjal kanan dan kiri
normal
3. tampak konkremen
radioopak (putih) pada
setinggi L2 kanan dan pelvis
minor
4. Psoas line kanan dan kiri
normal
5. Peritoneal fat normal
6. Skeletal normal
1.

Kesan : Ureterolithiasis
dextra

DEFINISI

Ureterolithiasis merupakan penyumbatan


saluran ureter oleh batu karena pengendapan
garam urat, oksalat, atau kalsium.

Batu tersebut dapat terbentuk pada ginjal


yang kemudian batu yang kecil di pielum
dapat turun ke ureter.

INSIDENSI

Jenis BSK terbanyak adalah jenis kalsium


oksalat seperti di Semarang 53,3%, Jakarta
72%. Herring di Amerika Serikat melaporkan
batu kalsium oksalat 72%, Kalsium fosfat 8%,
Struvit 9%, Urat 7,6% dan sisanya batu
campuran.
Angka kekambuhan batu saluran kemih dalam
satu tahun 15-17%, 4-5 tahun 50%, 10 tahun
75% dan 95-100% dalam 20-25 tahun..

KOMPOSISI BATU

Komposisi batu yang dapat ditemukan adalah dari jenis :

Asam urat
Batu kalsium : kalsium oksalat, kalsium fosfat, atau campuran
keduanya
Sistin
Xantin
Magnesium Ammonium Phosfat (MAP)

GEJALA KLINIS

Tanda dan gejala batu saluran kemih ditentukan oleh letak, besar, morfologinya
dan penyulit yang telah terjadi. Gejala umumnya adalah hematuria.
Pada anamnesis dan pemeriksaan fisik mungkin didapatkan :
Nyeri sudut kostovertebra
Satu

atau kedua sisi.


progresif
Kuat sampai kolik
Mungkin menyebar atau bergerak ke pinggul bawah, pelvis, selangkangan genital.

Nausea, vomitus
Urinary frequency/urgency yang meningkat
Hematuria atau warna urin tidak normal
Nyeri perut
Nyeri saat berkemih
Rasa tidak nyaman saat berkemih
Nyeri testis
Demam
Menggigil

TEORI PEMBENTUKAN BATU

Teori nukleasi
Batu terbentuk didalam urin karena adanya inti batu (nucleus).
Partikel-partikel yang berada dalam larutan yang kelewat jenuh
akan mengendap dalam nucleus itu sehingga akhirnya terbentuk
batu. Inti batu dapat berupa kristal atau benda asing.
Teori matriks
Matriks organik terdiri dari serum/protein urin (albumin,
globulin, dan mukoprotein) sebagai kerangka tempat
diendapkannya kristal-kristal batu.
Penghambat kristalisasi yang kurang
Pada urin orang normal mengandung zat penghambat
pembentuk kristal antara lain : Magnesium, sitrat, pirofosfat,
mukoprotein, dan beberapa peptide. Jika salah satu atau
beberapa zat ini berkurang maka akan mempermudah
terjadinya batu.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan laboratorium untuk memeriksa :


Sedimen

urin : menunjukkan lekosituria, hematuria, dan


dijumpainya kristal pembentuk batu
Kultur urin : untuk menunjukkan adanya kuman
pemecah urea

Faal ginjal : untuk mencari kemungkinan terjadinya


penurunan fungsi ginjal dan mempersiapkan pasien
menjalani pemeriksaan IVP.
Foto polos abdomen untuk melihat adanya batu
radioopaque.
Batu

kalsium : Opaque
Batu MAP : Semi opaque
Batu Urat/ Sistin
: Non opaque/ luscent

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Intra Venous Pielografi (IVP) untuk menilai :


Keadaan

anatomi ginjal
Fungsi ginjal
Batu yang terlihat oleh foto polos abdomen

Pasien disuntikkan kontras radioaktif dan


kemudian difoto roentgen.
Pielografi retrograde
Dilakukan apabila IVP tidak dapat dilakukan
karena ada penurunan fungsi ginjal

PEMERIKSAAN PENUNJANG

USG
Dilakukan pada pasien yang tidak mungkin
menjalani pemeriksaan IVP maupun
pielografi retrograde yaitu keadaan-keadaan
alergi terhadap bahan kontras, wanita hamil.
Penilaian ini dapat melihat adanya batu di
ginjal atau di buli-buli, hidronefrosis,
pionefrosis, atau pengerutan ginjal.

PENATALAKSANAAN

Medikamentosa
Dianjurkan untuk batu yang ukurannya < 5mm,
karena diharapkan batu dapat keluar spontan. Terapi
yang diberikan adalah :
Penghilang

rasa nyeri
Diuretikum untuk memperlancar aliran urin
Minum yang banyak
Pelarutan batu

Bila batu ureter berukuran 4 mm dan terdapat di


bagian 1/3 proksimal ureter, maka batu 80% akan
keluar spontan, sedangkan bila di 1/3 distal,
kemungkinan keluarnya 90%. Patokan ini dipakai bila
batu tidak menyebabkan gangguan dan komplikasi

PENATALAKSANAAN

ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)


Alat

ini dapat memecahkan batu tanpa perlukaan


tubuh sama sekali dan tanpa pembiusan.
Gelombang kejut dialirkan melalui air ketubuh
dan dipusatkan ke batu yang akan dipecahkan.
Batu akan hancur menjadi framen-fragmen kecil
(<2mm) dan keluar bersama urin. Namun apabila
terdapat kelainan saluran kemih seperti stenosis
yang akan menghalangi keluarnya batu yang
telah dipecahkan, tindakan ini tidak akan
bermanfaat.

PENATALAKSANAAN

Endourologi
Merupakan tindakan invasive minimal untuk
mengeluarkanbatu saluran kemih yang terdiri
dari : memecah batu dan kemudian
mengeluarkannya dari saluran kemih melalui
alat yang dimasukkan langsung ke dalam
saluran kemih.
PNL

(Percutaneus Nephro Litholapaxy),


Lithotripsy,
Ureteroskopi atau uretero-renoskopi
Ekstraksi dormia

Bedah laparoskopi
Bedah terbuka
Pielotomi atau nefrolitotomi untuk mengambil
batu disaluran ginjal, ureterolitotomi untuk
mengambil batu disaluran ureter, vesikolitotomi
untuk mengambil batu di vesika urinaria,, dan
urethrolitotomi untuk mengambil batu disaluran
urethra).

DAFTAR PUSTAKA
1. Sja'bani M. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. II J, editor. Jakarta Pusat: Interna
Publishing; 2009.
2. A.Tanagho E, W.McAninch J. Smith'sgy General Urolo. San Fransisco: Lange; 2003.

3. Purnomo BB. Dasar-Dasar Urologi. Malang: CV. Infomedika; 2007.

4. Mos C, Holt G, Iuhasz S. The Sensitivity of Transabdominal Ultrasound in the


Diagnosis of Uretherolithiasis. Journal of Medical Ultrasonography. 2010;Vol.12:188-97.

5. Henry K.Pancoast M, Sidney Lange M. Diagnosis and Management of Acute


Ureterolithiasis. American Roentgen Ray Society Journal. 2000.

6. Ahuja AT. Case Studies in Medical Imaging. Cambridge: University Press.

7. Hospital MCs. Hydronephrosis.

8. Paula Ed. Case Report : Acute onset of Renal Colic from Bilateral Ureterolithiasis
Cases Journal. 2009.

TERIMA KASIH