Anda di halaman 1dari 8

Proses Pengolahan Gas Alam

Gas alam mentah mengandung sejumlah karbon dioksida, hidrogen


sulfida, dan uap air yang bervariasi. Adanya hidrogen sulfida dalam gas alam
untuk konsumsi rumah tangga tidak bisa ditoleransi karena sifat racunnya. Zat ini
juga menyebabkan karat pada peralatan logam. Karbon dioksida tidak diinginkan,
karena zat ini akan mengurangi nilai panas gas dan akan memadat pada tekanan
tinggi dan temperatur rendah yang dipakai pada pengangkutan gas alam. Untuk
mendapatkan gas manis atau gas alam kering, maka gas-gas asam harus diambil
dan uap air dikurangi. Sebagai tambahan, gas alam dengan sejumlah berarti
hidrokarbon berat harus diolah untuk mendapatkan cairan-cairan gas alamnya.
2.2.1

Proses Pengolahan Gas Alam Cair


Pencairan gas alam menjadi LNG/LPG bertujuan untuk memudahkan

dalam penyimpanan dan transportasi. Gas alam yang diolah di kilang LNG/LPG.
Proses awal yaitu Process Train adalah unit pengolahan gas alam hingga
menjadi LNG serta produk-produk lainnya (pencairan fraksi berat dari gas alam).
Dalam pengolahan gas alam di process train dilakukan proses pemurnian,
pemisahan H2O dan Hg, serta pendinginan dan penurunan tekanan secara
bertahap hingga hasil akhir proses berupa LNG. Terdiri beberapa tahapan yaitu:
Plant 1 - Gas Purification
Proses di Plant 1 adalah pemurnian gas dengan pemisahan kandungan
CO2 (Karbon Dioksida) dari gas alam. Kandungan CO 2 tersebut harus dipisahkan
agar tidak mengganggu proses selanjutnya. Pemisahan CO2 dilakukan dengan
proses absorbsi larutan Mono Ethanol Amine (MEA), yang sekarang diganti
dengan Methyl De Ethanol Amine (MDEA) produksi Ucarsol. Proses ini dapat
mengurangi CO2 sampai di bawah 50 ppm dari aliran gas alam. Batas maksimum
kandungan CO2 pada proses selanjutnya adalah 50 ppm.
Plant 2 - Gas Dehydration And Mercury Removal
Selain CO2, gas alam juga mengandung uap air (H2O) dan Mercury (Hg)
yang akan menghambat proses pencairan pada suhu rendah. Pada Plant 2,
kandungan H2O dan Hg dipisahkan dari gas alam. Kandungan H2O pada gas alam
tersebut akan menjadi padat dan akan menghambat pada proses pendinginan gas
alam selanjutnya karena dapat menyumbat pipa dan alat lainnya saat mengalami

pembekuan, serta untuk mengurangi masalah karat dan mencegah terbentuknya


hidrat. Hidrat adalah senyawa padat berwarna putih yang terbentuk dari reaksi
kimia-fisik antara hidrokarbon dan air pada tekanan tinggi dan temperatur rendah
yang digunakan untuk mengangkut gas alam melalui jalur pipa. Hidrat
mengurangi efisiensi jalur pipa. Untuk mencegah pembentukan hidrat, gas alam
bisa diolah dengan glikol, yang melarutkan air secara efisien. Etilena glikol (EG),
dietilena glikol (DEG), dan trietilena glikol (TEG) merupakan contoh pelarut
untuk pengambilan air. Trietilena glikol (TEG) lebih baik jika dipakai pada proses
fasa-uap karena tekanan uapnya yang rendah, yang mengakibatkan sedikit saja
kehilangan glikol. Absorber TEG normalnya berisi 6 hingga 12 nampan (tray)
bubble-cap untuk melakukan proses absorpsi air.
Cara lain untuk menghilangkan hidrat gas alam adalah dengan
menyuntikkan metanol ke dalam jalur gas untuk menurunkan temperatur
pembentukan hidrat hingga di bawah temperatur atmosfer. Air juga bisa dikurangi
atau diambil dari gas alam dengan memakai adsorben padat seperti saringan
molekular atau gel silika.
Pemisahan kandungan H2O (Gas Dehydration) dilakukan dengan cara
absorbsi menggunakan molecullar sieve hingga kandungan H 2O maksimum 0,5
ppm. Kandungan mercury (Hg) pada gas alam tersebut jika terkena peralatan yang
terbuat dari aluminium akan terbentuk amalgam. Sedangkan tube pada Main Heat
Exchanger 5E-1 yang merupakan alat pendingin dan pencairan utama untuk
memproduksi LNG adalah terbuat dari aluminium. Pemisahan kandungan Hg
(Mercury Removal) dilakukan dengan cara absorbsi menggunakan adsorben. Bed
Mercury Removal yang berisi Sulfur Impregnated Activated Charcoal dimana
merkuri akan bereaksi membentuk senyawa HgS, hingga kandungan Hg
maksimum 0,1 ppm.
Plant 3 - Fractination
Sebelum gas alam didinginkan dan dicairkan pada Main Heat Exchanger
5E-1 pada suhu yang sangat rendah hingga menjadi LNG, proses pemisahan
(fractination) gas alam dari fraksi-fraksi berat (C2, C3, ..., dst) perlu dilakukan.
Proses fraksinasi tersebut dilakukan di Plant 3. Pemisahan gas alam dari fraksi
beratnya dilakukan pada Scrub Column 3C-1. Setelah dipisahkan dari fraksi

beratnya, gas alam didinginkan terlebih dahulu hingga temperatur sekitar -50C
dan selanjutnya diproses di Plant 5 untuk didinginkan lebih lanjut dan dicairkan.
Sedangkan fraksi beratnya dipisahkan lagi sesuai dengan titik didihnya dengan
beberapa alat (Deethanizer, Deprophanizer dan Debuthanizer) untuk mendapatkan
prophane, buthane dan condensate.
Plant 4 - Refrigeration
Selain penurunan tekanan, proses pencairan gas alam dilakukan dengan
menggunakan sistem pendingin bertingkat. Bahan pendingin yang digunakan:
Propane dan Multi Component Refrigerant (MCR). MCR adalah campuran
Nitrogen, Methane, Ethane, Prophane dan Buthane yang digunakan untuk
pendinginan akhir dalam proses pembuatan LNG. Plant 4 menyediakan
pendingin Prophane dan MCR. Baik prophane maupun MCR sebagai pendingin
diperoleh dari hasil sampingan pengolahan LNG.
Siklus Pendingin Prophane
Cairan prophane akan berubah fase menjadi gas prophane setelah
temperaturnya naik karena dipakai mendinginkan gas alam maupun MCR. Sesuai
dengan kebutuhan pendinginan bertingkat pada proses pengolahan LNG, kondisi
cairan prophane yang dipakai pendinginan ada 3 tingkat untuk MCR dan 3
tingkat untuk gas alam. Gas prophane setelah dipakai untuk pendinginan
dikompresikan oleh Prophane Recycle Compresor 4K-1 untuk menaikkan
tekanannya, kemudian didinginkan oleh air laut, dan selanjutnya dicairkan dengan
cara penurunan tekanan. Demikian siklus pendingin propane diperoleh.
Siklus Pendingin MCR
Cairan MCR berubah fase menjadi gas MCR dengan kenaikan temperatur karena
dipakai pendinginan gas alam pada Main Heat Exchanger 5E-1. Gas MCR
tersebut dikompresikan secara seri oleh MCR First Stage Compresor 4K-2 dan
MCR Second Stage Compressor 4K-3 untuk menaikkan tekanannya. Pendinginan
dengan air laut dilakukan pada interstage 4K-2 dan 4K-3 serta pada discharge 4K3.
Plant 5 - Liquefaction
Pada Plant 5 dilakukan pendinginan dan pencairan gas alam setelah gas alam
mengalami pemurnian dari CO2, pengeringan dari kandungan H2O, pemisahan

Hg serta pemisahan dari fraksi beratnya dan pendinginan bertahap oleh prophane.
Gas alam menjadi cair setelah keluar dari Main Heat Exchanger 5E-1 dan
peralatan lainnya selanjutnya ditransfer ke storage tank.

Diagram Alur dari Sebuah Proses Pengolahan Gas Alam


Aliran blok diagram di atas adalah konfigurasi umum untuk pengolahan
gas alam mentah dari non-associated gas well dan bagaimana gas alam mentah
diolah menjadi gas jual kepadaend user atau pasar. Hasil pengolahan gas alam
mentah dapat berupa :
1.

Gas alam kondensat

2.

Sulfur

3.

Etana

4.

Gas alam cair (NGL): propana, butana dan C5 + (istilah yang umum digunakan
untuk pentana ditambah dengan molekul hidrokarbon yang lebih tinggi)
Proses yang dijelaskan pada diagram di atas:
1.

Gas alam mentah berasal dari beberapa sumur yang berdekatan,

dikumpulkan dan proses pengolahan pertama yang terjadi adalah proses

menghilangkan kandungan air dan gas alam kondensat. Hasil kondensasi biasanya
dialirkan kilang minyak dan air dibuang sebagaiwaste water.
2.

Gas alam mentah kemudian dialirkan ke pabrik pengolahan di mana

pemurnian awal biasanya menghilangkan kandungan asam (H2S dan CO2).


Proses yang dipakai pada umumnya adalah Amine Treating yang biasa
disebut Amine Plant.
3.

Proses berikutnya adalah untuk menghilangkan uap air dengan

menggunakan proses penyerapan dalam trietilen glikol cair (TEG).


4.

Proses berikutnya adalah untuk mengubah menjadi fase gas alam cair

(NGL) yang merupakan proses paling kompleks dan menggunakan pabrik


pengolahan gas modern.
2.2.2

Pengolahan Gas Asam


Gas-gas asam dapat dikurangi atau diambil dengan satu atau beberapa cara

berikut:
1.

Absorpsi fisik dengan memakai pelarut absorpsi selektif.


Proses komersial penting yang digunakan adalah proses Selexol, Sulfinol,
dan Rectisol. Pada proses-proses ini, tidak ada reaksi kimia yang terjadi antara gas
asam dan pelarutnya. Pelarutnya, atau absorben, adalah cairan yang selektif
menyerap gas-gas asam tetapi membiarkan hidrokarbonnya. Sebagai contoh, pada
proses Selexol, pelarutnya adalah dimetil eter dari polietilena glikol. Gas alam
mentah dilewatkan berlawanan arah melalui pelarut yang mengalir ke bawah.
Ketika pelarut menjadi jenuh dengan gas-gas asam, tekanannya diturunkan,
sehingga hidrogen sulfida dan karbon dioksida dilepaskan kembali. Pelarutnya
kemudian didaur ulang ke menara absorpsi.

Gambar memperlihatkan proses Selexol


Proses Selexol untuk pengambilan gas asam: (1) absorber, (2) drum
flash, (3) kompresor, (4) drum tekanan-rendah, (5) stripper, (6) pendingin.
2.

Adsorpsi fisik dengan memakai adsorben padat.


Pada proses ini, suatu padatan digunakan dengan luas permukaan besar.
Saringan molekular (zeolita) banyak dipakai karena bisa menyerap sejumlah besar
gas. Biasanya, lebih dari satu unggun adsorpsi dipakai untuk operasi sinambung.
Satu unggun digunakan sedangkan yang lainnya diregenerasi. Regenerasi
dilakukan dengan melewatkan bahan bakar panas melewati unggun.
Saringan molekular hanya bisa bersaing jika jumlah hidrogen sulfida dan
karbon disulfidanya rendah. Saringan molekular juga bisa menyerap air, bukan
hanya gas asam.
3.

Absorpsi kimia (Chemisorption) dengan memakai pelarut (suatu bahan

kimia) yang bisa bereaksi reversibel dengan gas-gas asam.


Proses ini dikenal akan kemampuannya yang tinggi dalam menyerap
sejumlah besar gas-gas asam. Proses ini memakai larutan basa yang relatif lemah,
seperti monoetanolamina. Gas asam akan membentuk ikatan lemah dengan basa
ini yang kemudian bisa mudah diregenerasi. Mono- dan dietanolamina sering
digunakan pada proses ini. Konsentrasi amina biasanya pada rentang 15 dan 30%.
Gas alam dilewatkan melalui larutan amina sehingga membentuk sulfida,
karbonat, dan bikarbonat. Dietanolamina adalah pelarut yang lebih disukai karena
laju karatnya rendah, kemungkinan hilangnya amina lebih kecil, memerlukan
utilitas lebih sedikit, dan memerlukan dietanolamina tambahan yang minimal.4
Dietanolamina juga bereaksi reversibel dengan 75% karbonil sulfida (COS),
sedangkan mono- bereaksi irreversibel dengan 95% COS serta membentuk
produk penguraian yang mesti dibuang. Diglikolamina (DGA), adalah pelarut
amina lain yang digunakan dalam proses Econamina (Gbr. 1-2).4 Absorpsi gasgas asam terjadi dalam absorber yang berisi larutan DGA aqueous, dan larutan
panas yang kaya (jenuh dengan gas asam) dipompakan ke regenerator. Larutan
diglikolamina memiliki titik beku yang rendah, sehingga cocok untuk digunakan

di daerah beriklim dingin. Larutan basa kuat merupakan pelarut gas-gas asam
yang efektif. Namun, larutan ini biasanya tidak dipakai untuk pengolahan gas
alam volume besar karena gas-gas asam ini membentuk garam stabil, yang tidak
gampang diregenerasi. Sebagai contoh, karbon dioksida dan hidrogen sulfida
bereaksi dengan larutan natrium hidroksida aqueous menghasilkan natrium
karbonat dan natrium sulfida.
Namun, larutan basa kuat bisa digunakan untuk mengambil merkaptan dari
aliran gas dan cairan. Sebagai contoh, pada Proses Merox, pelarut kaustik yang
mengandung katalis seperti kobalt, yang dapat merubah merkaptan menjadi
disulfida yang tak terlarut dalam kaustik, dipakai untuk aliran yang kaya
merkaptan setelah pengambilan H2S. Udara dipakai untuk mengoksidasi
merkaptan menjadi disulfida. Larutan kaustik kemudian didaur-ulang untuk
regenerasi.
2.3
1.

Produk Gas Alam

LNG (Liquefied Natural Gas)


LNG atau gas alam adalah gas hasil ekstraksi yang telah dipisahkan dari
kandungan metananya, komponen utamanya yaitu metana (CH4).

2.

LPG (Liquefied Petrolium Gas)


LPG (Liquefied Petrolium Gas) atau gas minyak bumi yang dicairkan
adalah campuran dari berbagai unsur hidrokarbon yang berasal dari gas alam,
komponen utamanya yaitu propana (C3H8) dan butana (C4H10).

3.

Dan lain sebagainya seperti: CNG, HSD, MFO, IFO


CNG (Compressed Natural Gas) atau gas alam terkompresi adalah
alternatif bahan bakar selain bensin atau solar, komponen utamanya yaitu metana
(CH4).
2.4

Peyimpanan dan Transportasi Gas Alam


Pada dasarnya sistem transportasi gas alam meliputi:

1.

Transportasi melalui pipa salur.

2.

Transportasi dalam bentuk LNG (Liquefied Natural Gas) dengan kapal tanker
LNG untuk pengangkutan jarak jauh.

3.

Transportasi dalam bentuk CNG (Compressed Natural Gas), di daratan dengan


road tanker sedangkan di laut dengan kapal tanker CNG, untuk pengangkutan
jarak dekat dan menengah (antar pulau).