Anda di halaman 1dari 16

15

BAB III
PELAKSANAAN DEMOKRASI di INDONESIA

A. DEMOKRASI YANG PERNAH BERKEMBANG di INDONESIA


Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia dibagi menjadi beberapa
periodesasi:
1. Pelaksanaan demokrasi pada masa revolusi (1945 1950).
Tahun 1945 1950, Indonesia masih berjuang menghadapi Belanda
yang ingin kembali ke Indonesia. Pada saat itu pelaksanaan
demokrasi belum berjalan dengan baik. Hal itu disebabkan oleh
masih adanya revolusi fisik. Pada awal kemerdekaan masih terdapat
sentralisasi kekuasaan hal itu terlihat Pasal 4 Aturan Peralihan UUD
1945 yang berbunyi sebelum MPR, DPR dan DPA dibentuk menurut
UUD ini segala kekuasaan dijalankan oleh Presiden denan dibantu
oleh KNIP. Untuk menghindari kesan bahwa negara Indonesia adalah
negara yang absolut pemerintah mengeluarkan:
a. Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945,
KNIP berubah menjadi lembaga legislatif.
b. Maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 tentang
Pembentukan Partai Politik.
c. Maklumat Pemerintah tanggal 14 Nopember 1945 tentang
perubahan
parlementer

sistem

pemerintahn

presidensil

menjadi

16
2. Pelaksanaan demokrasi pada masa Orde Lama
a. Masa demokrasi Liberal 1950 1959.
Masa demokrasi liberal yang parlementer presiden sebagai lambang
atau berkedudukan sebagai Kepala Negara bukan sebagai kepala
eksekutif. Masa demokrasi ini peranan parlemen, akuntabilitas
politik sangat tinggi dan berkembangnya partai-partai politik.
Namun demikian praktik demokrasi pada masa ini dinilai gagal
disebabkan :
1) Dominannya partai politik
2) Landasan sosial ekonomi yang masih lemah
3) Tidak mampunya konstituante bersidang untuk mengganti
UUDS

1950

Atas dasar kegagalan itu maka Presiden mengeluarkan Dekrit


Presiden 5 Juli 1959 :
a. Bubarkan konstituante
b. Kembali ke UUD 1945 tidak berlaku UUD S 1950
c. Pembentukan MPRS dan DPAS
b. Masa demokrasi Terpimpin 1959 1966.
Pengertian

demokrasi

terpimpin

menurut

Tap

MPRS

No.

VII/MPRS/1965 adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat


kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan yang berintikan
musyawarah untuk mufakat secara gotong royong diantara semua
kekuatan nasional yang progresif revolusioner dengan berporoskan
nasakom dengan ciri:
1) Dominasi Presiden
2) Terbatasnya peran partai politik
3) Berkembangnya pengaruh PKI

17
Penyimpangan masa demokrasi terpimpin antara lain:
1) Mengaburnya sistem kepartaian, pemimpin partai banyak
yang dipenjarakan
2) Peranan Parlemen lembah bahkan akhirnya dibubarkan oleh
3)
4)
5)
6)

presiden dan presiden membentuk DPRGR


Jaminan HAM lemah
Terjadi sentralisasi kekuasaan
Terbatasnya peranan pers
Kebijakan politik luar negeri sudah memihak ke RRC (Blok
Timur)

Akhirnya terjadi peristiwa pemberontakan G 30 September 1965


oleh PKI.
3. Pelaksanaan demokrasi Orde Baru 1966 1998
Pelaksanaan demokrasi orde baru ditandai dengan keluarnya Surat
Perintah 11 Maret 1966, Orde Baru bertekad akan melaksanakan
Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekwen. Awal Orde
baru memberi harapan baru pada rakyat pembangunan disegala
bidang melalui Pelita I, II, III, IV, V dan pada masa orde baru
berhasil menyelenggarakan Pemilihan Umum tahun 1971, 1977,
1982, 1987, 1992, dan 1997.
Namun demikian perjalanan demokrasi pada masa orde baru ini
dianggap gagal sebab:
1)
2)
3)
4)
5)

Rotasi kekuasaan eksekutif hampir dikatakan tidak ada.


Rekrutmen politik yang tertutup.
Pemilu yang jauh dari semangat demokratis.
Pengakuan HAM yang terbatas
Tumbuhnya KKN yang merajalela.

18
Sebab jatuhnya Orde Baru:
1)
2)
3)
4)

Hancurnya ekonomi nasional ( krisis ekonomi )


Terjadinya krisis politik
TNI juga tidak bersedia menjadi alat kekuasaan orba
Gelombang demonstrasi yang menghebat menuntut Presiden

Soeharto untuk turun jadi Presiden


4. Pelaksanaan demokrasi pada masa Reformasi 1998 s/d sekarang.
Berakhirnya masa orde baru ditandai dengan penyerahan kekuasaan
dari Presiden Soeharto ke Wakil Presiden BJ Habibie pada tanggal
21 Mei 1998.
5. Pelaksanaan demokrasi Orde Reformasi 1998 sekarang
Demokrasi yang dikembangkan pada masa reformasi pada dasarnya
adalah demokrasi dengan mendasarkan pada Pancasila dan UUD
1945, dengan penyempurnaan pelaksanaannya dan perbaikan
peraturan-peraturan yang tidak demokratis, dengan meningkatkan
peran lembaga-lembaga tinggi dan tertinggi negara dengan
menegaskan fungsi, wewenang dan tanggung jawab yang mengacu
pada prinsip pemisahan kekuasaan dan tata hubungan yang jelas
antara lembaga-lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Demokrasi Indonesia saat ini telah dimulai dengan terbentuknya
DPR-MPR hasil Pemilu 1999 yang telah memilih presiden dan wakil
presiden serta terbentuknya lembaga-lembaga tinggi yang lain.
Masa reformasi berusaha membangun kembali kehidupan yang
demokratis antara lain:
1) Keluarnya Ketetapan MPR RI No. X/MPR/1998 tentang
pokok-pokok reformasi.

19
2) Ketetapan No. VII/MPR/1998 tentang pencabutan tap MPR
tentang Referandum.
3) Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan
Negara yang bebas dari KKN.
4) Tap MPR RI No. XIII/MPR/1998 tentang pembatasan Masa
Jabatan Presiden dan Wakil Presiden RI.
5) Amandemen UUD 1945 sudah sampai amandemen I, II, III,
IV.
Pada Masa Reformasi berhasil menyelenggarakan pemiluhan umum sudah
dua kali yaitu tahun 1999 dan tahun 2004.
B. SISTEM DEMOKRASI di INDONESIA
Istilah demokrasi diperkenalkan kali pertama oleh Aristoteles sebagai suatu
bentuk pemerintahan, yaitu suatu pemerintahan yang menggariskan bahwa
kekuasaan

berada

di

tangan

banyak

orang

(rakyat).

Dalam

perkembangannya, demokrasi menjadi suatu tatanan yang diterima dan


dipakai oleh hampir seluruh negara di dunia.
Ciri-ciri suatu pemerintahan demokrasi adalah sebagai berikut:
1. Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan
keputusan

politik,

baik

langsung

maupun

tidak

langsung

(perwakilan).
2. Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala
bidang.
3. Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara.
4. Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di
lembaga perwakilan rakyat.

20
Demokrasi adalah suatu pemikiran manusia yang mempunyai kebebasan
berbicara, megeluarkan pendapat. Negara Indonesia menunjukan sebuah
Negara yang sukses menuju demokrasi sebagai bukti yang nyata, dalam
peemilihan langsung presiden dan wakil presiden. Selain itu bebas
menyelenggarakan kebebasan pers. Semua warga negar bebas berbicara,
mengeluarkan

pendapat,

mengkritik

bahkan

mengawasi

jalannya

pemerintahan. Demokrasi memberikan kebebasan untuk mengeluarkan


pendapat bahkan dalam memilih salah satu keyakinan pun dibebaskan.
Demokrasi terbagi dalam dua jenis:
1. Demokrasi bersifat langsung.
Demokrasi langsung dikenal sebagai demokrasi bersih. Rakyat memiliki
kebebasan secara mutlak memberikan pendapatnya, dan semua aspirasi
mereka dimuat dengan segera didalam satu pertemuan. Jenis demokrasi
ini dapat dipraktekkan hanya dalam kota kecil dan komunitas yang
secara relatip belum berkembang, dimana secara fisik memungkinkan
untuk seluruh electorate untuk bermusyawarah dalam satu tempat,
walaupun permasalahan pemerintahan tersebut bersifat kecil. Demokrasi
langsung berkembang di Negara kecil Yunani kuno dan Roma.
Demokrasi ini tidak dapat dilaksanakan didalam masyarakat yang
komplek dan Negara yang besar. Demokrasi murni yang masih bisa
diambil contoh terdapat diwilayah Switzerland. Mengubah bentuk
demokrasi murni ini masih berlaku di Switzerland dan beberapa Negara
yang didalamnya terdapat bentuk referendum dan inisiatip. Dibeberapa
Negara sangat memungkinkan bagi rakyat untuk memulai dan
mengadopsi hukum, bahkan untuk mengamandemengkan konstitusional

21
dan menetapkan permasalahan public politik secara langsung tampa
campur tangan representative.
2. Demokrasi bersifat representatip.
Didalam Negara yang besar dan modern demokrasi tidak bisa berjalan
sukses. Oleh karena itu, untuk menanggulangi masalah ini diperlukan
sistem demokrasi secara representatip. Para representatip inilah yang
akan menjalankan atau menyampaikan semua aspirasi rakyat didalam
pertemuan. Dimana mereka dipilih oleh rakyat dan berkemungkinan
berpihak kepada rakyat. ( Garner ). Sistem ini berbasis atas ide, dimana
rakyat tidak secara langsung hadir dalam menyampaikan aspirasi
mereka, namun mereka menyampaikan atau menyarankan saran mereka
melaui wakil atau representatip. Bagaimanapun, didalam bentuk
pemerintahan ini wewenang disangka benar terletak ditangan rakyat,
akan tetapi semuanya dipraktekkan oleh para representatip
Untuk membangun suatu system demokrasi disuatu Negara bukanlah hal
yang mudah karena tidak menutup kemungkinan pembangunan system
demokrasi di suatu Negara akan mengalami kegagalan. Tetapi yang harus
kita banggakan dmokrasi dinegara Indonesia sudah mengalami kemajuan
yang sangat pesat contahnya dari segi kebebasan, berkeyakinan,
berpendapat atau pun berkumpul mereka bebas bergaul tanpa ada batasanbatasan yang membatasi mereka. Tapi bukan berarti demokrasi di Indonesia
saat ini sudah berjalan sempurna masih banyak kritik-kritik yang muncul
terhadap pemerintah yang belum sepenuhnya bisa menjamin kebebasan
warga negaranya. Dalam hal berkeyakian juga pemerintah belum
sepenuhnya. Berdasarkan survei tingkat kepercayaan masyarakat terhadap

22
demokrasi smakin besar bahkan demokrasi adalah system yang terbaik
meskipun system demokrasi itu tidak sempurna.
Dengan begitu banyaknya persoalan yang telah melanda bangsa Indonesia
ini. Keberhasilan Indonesia dalam menetapkan demokrasi tentu harus
dibanggaan karena banyak Negara yang sama dengan Negara Indonesia
tetapi Negara tersebut tidak bisa menegakan system demokrasi dengan baik
dalam artian gagal. Akibat demokrasi jika dilihat diberbagai persoalan
dilapangan adalah meningkatnya angka pengangguran, bertambahnya
kemacetan

dijalan,

semakin

parahnya

banjir

masalah

korupsi,

penyelewengan dan itu adalah contoh penomena dalam suatu Negara


system demokrasi, demokrasi adalah system yang buruk diantara alternatifalternatif yang lebih buruk tetapi demokrasi memberikan harapan untuk
kebebasan, keadilan dan kesejahtraan oleh karena itu banyak Negaranegara yang berlomba-lomba menerapkan system demokrasi ini.
Dalam kehidupan berpolitik di setiap Negara yang kerap selalu menikmati
kebebasan berpolitik namun tidak semua kebebasan berpolitik berjalan
sesuai dengan yang di inginkan, karena pada hakikatnta semua system
politik

mempunyai

kekuatan

dan

kelemahannya

masing-masing.

Demokrasi adalah sebuah proses yang terus-menerus merupakan gagasan


dinamis yang terkait erat dengan perubahan. Jika suatu Negara mampu
menerapkan kebebasan, keadilan, dan kesejahtraan dengan sempurna.
Maka Negara tersebut adalah Negara yang sukses menjalankan system
demokrasi sebaliknya jika suatu Negara itu gagal menggunakan system
pemerintahan demokrasi maka Negara itu tidak layak disebut sebagai
Negara demokrasi. Oleh karena itu kita sebagai warga Negara Indonesia
yang meganut system pemerintahan yang demokrasi kita sudah sepatutnya

23
untuk terus menjaga dan memperbaiki, melengkapi kualitas-kualitas
demokrasi yang sudah ada. Demi terbentuknya suatu system demokrasi
yang utuh di dalam wadah pemeritahan bangsa Indonesia. Demi tercapaiya
suatu kesejahtraan, tujuan dari cita-cita demokrasi yang sesungguhnya akan
mengangkat Indonesia ke dalam suatu perubahan.

C. PEMILU SEBAGAI WUJUD DEMOKRASI di


INDONESIA
Sejak demokrasi dicetuskan sebagai asas negara, secara fungsional asas
ini belum dijalankan dengan semestinya. Rakyat belum dilibatkan dalam
urusan-urusan negara, semua hal diputuskan oleh para pemerintah dengan
asumsi bahwa itu yang terbaik untuk rakyat. Namun rakyat tidak menyukai
akan hal ini, rakyat merasa hanya sebagai boneka yang digerakkan oleh
para pemerintah, hingga tahun 1955 rakyat melakukan penolakan akan hal
ini dan akhirnya diadakan pemilihan umum yang didasari sebagai
perwujudan asas demokrasi. Pemilihan umum saat itu tidak bertujuan untuk
memilih presiden tetapi hanya pemilihan parlemen dan pihak legislatif
melaui sistem partai. Para rakyat diminta untuk memilih partai mana yang
mereka kehendaki dan partai-partai tersebut yang akan memilih para
kadernya untuk menempati bangku di pemerintahan. Pada pemilu tahun
1955 ini terdapat banyak partai yang terdaftar diantaranya PNI, PKI, PNU,
Masyumi, dan lain-lain.
Pemilu pertama di Indonesia diselenggarakan pada sistim pemerintahan
nagara berdasarkan Demokrasi Parlementer dengan konstitusi UUD
Sementara 1950. Dalam Pasal 35, Pasal 57, Pasal 135 Ayat (2) UUD
Sementara 1950 menyebutkan tentang perlunya Undang-Undang dalam
penyelenggaraan Pemilihan Umum. Untuk Pemilu pertama dikeluarkan UU

24
No. 7/1953 dan dilaksanakan dengan Peraturan Pemerintah No. 9/1954
yang diselenggarakan secara langsung dengan sistim perwakilan berimbang
(proporsional) untuk memilih anggota parlemen dan konstituante.
Program penyelenggaraan Pemilu sudah dicanangkan pada masa Kabinet
Natsir (6 September 1950 27 April 1951), akan tetapi Pemilu baru
terlaksana pada masa Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 3
Maret 1956). Pelaksanaan Pemilu pertama tanggal 29 September 1955
untuk memilih anggota parlemen (DPR) dan kedua tanggal 15 Desember
1955 untuk memilih anggota konstituante.
Orde Baru lahir dengan tekad ingin melaksanakan Pancasila dan UUD
1945 secara murni dan konsekuen dalam bidang ketatanegaraan, banyak
ditempuh upaya-upaya konstitusional untuk menyelesaikan kehidupan
politik kenegaraan serta produk peraturan perundang-undangan yang tidak
sejiwa

dan

senapas

dengan

Pancasila

dan

UUD

1945.

Penyelenggaraan Pemilu selama Orde Baru telah berlangsung selama 5


(lima) kali, yaitu:
1. Pemilu Pertama
Dilaksanakan tanggal 3 Juli 1971 dengan Sistem Gabungan. Dengan
landasan operasional : Tap MPRS No. XLII/MPRS/1968 (Perubahan
dari Tap MPRS No. XI/MPRS/1966; UU No. 15/1969; UU No.
16/1969). Organisasi peserta Pemilu terdiri dari : Partai Katolik, PSII,
NU, Parmusi, Golkar, Parkindo, Murba, PNI, Perti, IPKI.
2. Pemilu Kedua

25
Dilaksanakan tanggal 4 Mei 1977 dengan sistem gabungan. Landasan
operasionalnya: Tap MPR No. VIII/MPR/1973; UU No. 4/1975; UU
No. 5/1975. Organisasi peserta Pemilu: PPP, Golkar, dan PDI.
3. Pemilu Ketiga
Dilaksanakan tanggal 2 Mei 1982. Landasan operasionalnya: Tap MPR
No. VII/MPR/1978; UU No. 2/1980; UU No. 3/1980. Organisasi peserta
Pemilu: PPP, Golkar, dan PDI.
4. Pemilu Keempat
Dilaksanakan tanggal 23 April 1987 dengan sistem gabungan. Landasan
operasionalnya: Tap MPR No. III/MPR/1983; UU No. 1/1985 dan
Kepres No. 70/1985. Organisasi peserta Pemilu: PPP, Golkar, dan PDI.
5. Pemilu Kelima
Dilaksanakan tanggal 6 Juni 1992 dengan sistem gabungan. Landasan
operasionalnya: Tap MPR No. II/MPR/1988; UU No. 1/1985; PP No.
37/1990. Organisasi peserta Pemilu: PPP, Golkar, dan PDI.
Sejak tahun 1955 itu pemilu dijadikan alat untuk memilih para
pejabat sampai saat ini, meski sistem yang digunakan berubah-ubah. Pada
awalnya pemilu hanya untuk memilih parlemen dan pejabat legistatif,
namun sistem ini diubah sejak tahun 1998 yaitu pemilu dilakukan untuk
memilih presiden, meski tidak dilakukan pemilihan presiden secara
langsung tetapi melalui sistem partai namu pemilihan ini dianggap lebih
baik dibanding pemilu-pemilu sebelumnya. Pada tahun 2004 diubah
sistemnya, yaitu rakyat dapat langsung memilih presiden dan wakilnya
tanpa melihat basic partai mereka. Dan pemilu tahun 2009 terjadi

26
perubahan yang cukup menggemparkan mulai dari teknis pemilu (yang
mulanya nyoblos menjadi contreng) sampai pemilihannya. Pada pemilu
tahun ini rakyat dibebaskan memilih pemimpin mereka bukan partainya
lagi, meski pemilihan partainya saja tidak apa-apa, dan sistem demokrasi
yang seperti saat ini yang dianggap sudah mulai membaik. Dengan adanya
pemilihan secara langsung maka tidak ada lagi anggapan seperti membeli
kucing di dalam karung karena para calonnya sudah diperkenalkan berikut
dengan visi dan misinya sehingga pemilih diharapkan memilih untuk
kemajuan negara dan tidak bermaksud lain.
Penduduk yang telah memenuhi persyaratan untuk memilih pun masih
dibebaskan untuk menggunakan hak suaranya atau tidak, intinya pemilihan
umum tidak wajib atau tidak mesti diikuti oleh seluruh warganegara,
namun oleh sebagian warga yang berhak dan secara sukarela mengikuti
pemilihan umum. Sebagai tambahan, tidak semua warga negara berhak
untuk memilih (mempunyai hak pilih). Berikut adalah alasan-alasan
mengapa seorang warga negara kehilangan hak pilihnya sesuai dengan
pasal 14 adalah orang yang kehilangan kesadaran atau dengan kata lain
terganggu jiwanya. Pada pemilu tahun 2004 para TNI kehilangan hak
pilihnya dan ini dianggap sebagai pelanggaran HAM karenabanyak orang
beranggapan tidak boleh ada seorangpun yang mengatur hidup orang lain,
pada akhirnya pemilu tahun 2009 pernyataan ini dicabut sehingga para TNI
kembali mendapatkan hak pilihnya (Sutarto, 2004).
Pada pemilu terakhir yaitu April 2009 diperoleh data yang sangat
menakjubkan. Setidaknya terhitung 49.677.076 (40%) orang yang masuk
Daftar Pemilih Tetap tidak menggunakan hak pilihnya alias Golput. Komisi
Pemilihan Umum mengumumkan bahwa total jumlah Daftar Pemilih Tetap

27
untuk memilih legislator mencapai 171.265.442 orang. Sementara yang
menggunakan hak pilihnya mencapai 121.588.366, sedangkan yang
terhitung golput sebesar 49.677.076 (Anonim, 2009 B).
Demokrasi yang menganut prinsip kerakyatan merupakan suatu asas
yang dipegang teguh oleh bangsa Indonesia dan keputusan akhir berada
pada suara terbanyak. Dengan demikian pemilu cukup dianggap sebagai
pencerminan dari demokrasi ini. Namun seiring berjalannya waktu tingkat
golput terus saja bertambah, tahun ini hingga mencapai 40%. Dengan
angka golput yang sebesar ini apakah pemilu masih relevan? pertanyaanpertanyaan seperti ini sering kali ditanyakan oleh kebanyakan orang,
namun mereka pun sudah mempunyai jawabannya dengan tegas bahwa
masih lebih baik pemilu ini dijalankan daripada pemerintah mengatur
sistem kepemerintahannya dengan otoriter.
Pengalaman selama 30 tahun dibawah rezim Orde Baru telah
membentuk kesadaran politik yang pasif mengenai realitas: kenyataan tidak
bisa diubah. Kenyataan sehari-hari yang rakyat Indonesia alami, rendahnya
kualitas pelayanan publik, membekukan nasib rakyat sebagai warga negara
kelas dua. Sepuluh tahun Reformasi tidak pula mengubah kesadaran pasif
ini, bahkan seolah memberi pembenaran. Suara rakyat tak ada bedanya
seeperti komoditi biasa, yang bisa dijualbelikan untuk siapa saja yang
membuat penawaran. Intinya, rakyat menjadi kehilangan kekuatannya.
Orang menjadi miskin karena merasa tidak berdaya baik secara ekonomi,
maupun secara politik. Suara rakyat tidak bisa digunakan sebagai alat tukar
menukar yang sebanding. Orang merasa wajar saja kalau suaranya,
kepercayannya, mereka hargai murah, diberikan kepada siapa saja yang

28
membuat penawaran, karena merasa hanya itulah bagian mereka dalam
demokrasi.
Dengan fakta-fakta yang dipaparkan diatas sepertinya pemilu
dianggap kurang dapat menyuarakan suara rakyat yang sesungguhnya.
Menurut Hizbut Tahrir dalam HTI press Tidak ada relevansi antara
kesuksesan

pemilu

dengan

kesejahteraan

rakyat,

beliau

juga

mengungkapkan ketidakjelasan arah Pemilu berasas Demokrasi, tidak ada


jaminan sama sekali akan terwujud rakyat yang sejahtera, bahkan menjadi
sesuatu yang utopis. Hal ini adalah karena demokrasi memang di-set untuk
menguntungkan

negara-negara

pion

kapitalis

yang

hendak

mencengkeramkan kekuatannya di negara-negara selain mereka.


Intinya pada dewasa ini pemilu sudah dianggap tidak relevan lagi
dengan kebutuhan rakyat Indonesia, karena jarang para caleg mampu
menunjukan langkah nyata untuk mensejahterakan rakyat, apa yang mereka
ucapkan hanya janji alsu semata, mereka mengucapkan hal-hal yang sulit
dijadikan kenyataan sehingga dapat dijadikan pembelaan nanti jika mereka
diminta pertanggungjawabnya. Di lain pihak lain, Nicolaus Pira
mengatakan Putusan Mahkamah Konstitusi menetapkan calon legislator
terpilih didasarkan pada perolehan suara terbanyak dinilai sebagai bentuk
untuk menjalankan demokrasi yang sesungguhnya yang lebih adil. dengan
kata lain sistem dari pemilu saat ini sudah mencerminkan demokrasi yang
sesungguhnya walau masih terdapat kecacatan pada berbagai sudut. Di lain
pihak pemilu saat ini memang lebih baik dari pemuli tahun-tahun
sebelumnya, pencabutan hak pilih sudah tidak diterapkan lagi, pemilihan
secara langsungpun dilakukan, jadi secara teknis pemilu saat ini sudah

29
menunjukkan esensi dari demokrasi sendiri meski terjadi pendistorsian
fungsi pemilu itu sendiri.
Pemilu pada awalnya diselenggarakan untuk merealisasikan asas
negara yaitu demokrasi, namun seiring berjalannya waktu pemilu hanya
dianggap formalitas karena dipilih ataupun tidak sudah ada pemenangnya
pada akhirnya. Tetapi kita harus mampu menghargai usaha pemerintah
dalam mewujudkan asas demokrasi ini meski kerelevanannya masih sering
dipertanyakan
Pemilu merupakan salah satu usaha pemerintah untuk mengaspirasi
keinginan rakyat dengan melibatkan rakyat dalam suatu negara agar para
pemerintah itu tidak dianggap otoriter, pemilu juga merupakan perwujudan
dari asas demokrasi Indonesia. Meski beberapa ahli agama menolak asas
demokrasi ini karena menurut mereka kekuasaan terbesar ada di tangan
Allah namun tetap saja ini merupakan upaya pemerintah untuk merangkul
semua elemen masyarakat dari seluruh penjuru daerah agar mereka
memiliki sense of belonging terhadap negara kita ini, Indonesia.
Sebenarnya bukan pemilunya yang harus dirubah, bukan pula asas
negaranya yang harus dirubah, apalagi dasar negara yang merupakan awal
mulanya terbentuk asas demokrasi, yang perlu dirubah dalam sistem ini
adalah orang yang yang menjalankan sistemnya, orang-orang yang menjadi
peserta pemilu harus mampu memenuhi semua janji-janjinya ketika
berkampanye, orang-orang yang memilih harus dapat memilih dengan mata
yang terbuka, dan keperintahannya itu sendiri yang lebih transparan,
sehingga tidak ada pihak-pihak yang merasa tertipu dengan adanya pemilu
ini.

30