Anda di halaman 1dari 14

Antibiotika adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek

menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam
proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan
penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai
alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotika bekerja seperti pestisida dengan
menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri.
Antibiotika berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya. Desifektan membunuh kuman
dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman untuk hidup.
Tidak seperti perawatan infeksi sebelumnya, yang menggunakan racun seperti strychnine,
antibiotika dijuluki "peluru ajaib": obat yang membidik penyakit tanpa melukai tuannya.
Antibiotik tidak efektif menangani infeksi akibat virus, jamur, atau nonbakteri lainnya, dan
Setiap antibiotik sangat beragam keefektifannya dalam melawan berbagai jenis bakteri. Ada
antibiotika yang membidik bakteri gram negatif atau gram positif, ada pula yang
spektrumnya lebih luas. Keefektifannya juga bergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan
antibiotik mencapai lokasi tersebut.
Antibiotika oral (yang dimakan) mudah digunakan bila efektif, dan antibiotika intravena
(melalui infus) digunakan untuk kasus yang lebih serius. Antibiotika kadangkala dapat
digunakan setempat, seperti tetes mata dan salep.
Antibiotika dapat digolongkan berdasarkan sasaran kerja senyawa tersebut dan susunan
kimiawinya. Ada enam kelompok antibiotika[1] dilihat dari target atau sasaran kerjanya(nama
contoh diberikan menurut ejaan Inggris karena belum semua nama diindonesiakan atau
diragukan pengindonesiaannya):

Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencakup golongan Penicillin, Polypeptide dan
Cephalosporin, misalnya ampicillin, penicillin G;

Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencakup golongan Quinolone, misalnya


rifampicin, actinomycin D, nalidixic acid;

Inhibitor sintesis protein, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari golongan
Macrolida, Aminoglycoside, dan Tetracycline, misalnya gentamycin,
chloramphenicol, kanamycin, streptomycin, tetracycline, oxytetracycline;

Inhibitor fungsi membran sel, misalnya ionomycin, valinomycin;

Inhibitor fungsi sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida, misalnya
oligomycin, tunicamycin; dan

Antimetabolit, misalnya azaserine.

[sunting] Penggunaan antibiotika

Karena biasanya antibiotika bekerja sangat spesifik pada suatu proses, mutasi yang mungkin
terjadi pada bakteri memungkinkan munculnya strain bakteri yang 'kebal' terhadap
antibiotika. Itulah sebabnya, pemberian antibiotika biasanya diberikan dalam dosis yang
menyebabkan bakteri segera mati dan dalam jangka waktu yang agak panjang agar mutasi
tidak terjadi. Penggunaan antibiotika yang 'tanggung' hanya membuka peluang munculnya
tipe bakteri yang 'kebal'.
Pemakaian antibiotika di bidang pertanian sebagai antibakteri umumnya terbatas karena
dianggap mahal, namun dalam bioteknologi pemakaiannya cukup luas untuk menyeleksi selsel yang mengandung gen baru. Praktik penggunaan antibiotika ini dikritik tajam oleh para
aktivis lingkungan karena kekhawatiran akan munculnya hama yang tahan antibiotika.
Macam Antibiotika Dan Fungsinya ( Bagian 1 )
Antibiotik termasuk jenis obat yang cukup sering diresepkan dalam pengobatan
modern. Antibiotik adalah zat yang membunuh atau menghambat pertumbuhan
bakteri.
Sebelum penemuan antibiotik yang pertama, penisilin, pada tahun 1928, jutaan
orang di seluruh dunia tak terselamatkan jiwanya karena infeksi-infeksi yang
saat ini mudah diobati.
Ketika influenza mewabah pada tahun 1918, diperkirakan 30 juta orang
meninggal, lebih banyak daripada yang terbunuh pada Perang Dunia I.
Pencarian antibiotik telah dimulai sejak penghujung abad ke 18 seiring dengan
meningkatnya pemahaman teori kuman penyakit, suatu teori yang berhubungan
dengan bakteri dan mikroba yang menyebabkan penyakit.
Saat itu para ilmuwan mulai mencari obat yang dapat membunuh bakteri
penyebab sakit. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu untuk menemukan apa
yang disebut "peluru ajaib", yaitu obat yang dapat membidik/menghancurkan
mikroba tanpa menimbulkan keracunan.
Penemuan Penisilin
Pada permulaan tahun 1920, ilmuwan Inggris Alexander Fleming melaporkan
bahwa suatu produk dalam airmata manusia dapat melisiskan (menghancurkan)
sel bakteri. Zat ini disebut lysozyme, yang merupakan contoh pertama
antibakteri yang ditemukan pada manusia.

Seperti pyocyanase, lysozyme juga menemukan jalan buntu dalam usaha


pencarian antibiotik yang efektif, karena sifatnya yang merusak sel-sel bakteri
non-patogen.
Namun pada tahun 1928 Fleming secara kebetulan menemukan antibakteri lain.
Sekembali liburan akhir pekan, Fleming memperhatikan satu set cawan petri
lama yang ia tinggalkan. Ia menemukan bahwa koloni Staphylococcus aureus

yang ia goreskan pada cawan petri tersebut telah lisis.


Lisis sel bakteri terjadi pada daerah yang berdekatan dengan cendawan
pencemar yang tumbuh pada cawan petri. Ia menghipotesa bahwa suatu produk
dari cendawan tersebut menyebabkan lisis sel stafilokokus. Produk tersebut
kemudian dinamai penisilin karena cendawan pencemar tersebut dikenali
sebagai Penicillium notatum.
Walaupun secara umum Fleming menerima pujian karena menemukan penisilin,
namun pada kenyataannya secara tehnik Fleming "menemukan kembali" zat
tersebut.
Semula Ernest Duchesne, seorang mahasiswa kedokteran Perancis, yang
menemukan sifat-sifat penisilium pada tahun 1896, namun gagal dalam
melaporkan hubungan antara cendawan dan zat yang memiliki sifat-sifat
antibakteri, sehingga Penisilium dilupakan dalam komunitas ilmiah sampai
penemuan kembali oleh Fleming.
Jenis Antibiotik
Meskipun ada lebih dari 100 macam antibiotik, namun umumnya mereka berasal
dari beberapa jenis antibiotik saja, sehingga mudah untuk dikelompokkan. Ada
banyak cara untuk menggolongkan antibiotik, salah satunya berdasarkan
struktur kimianya. Berdasarkan struktur kimianya, antibiotik dikelompokkan
sebagai berikut:
a. Golongan Aminoglikosida
Diantaranya amikasin, dibekasin, gentamisin, kanamisin, neomisin, netilmisin,
paromomisin, sisomisin, streptomisin, tobramisin.
b. Golongan Beta-Laktam
Diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem),
golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim),
golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin, amoksisilin).
c. Golongan Glikopeptida
Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin.
d. Golongan Poliketida
Diantaranya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin,
roksitromisin), golongan ketolida (telitromisin), golongan tetrasiklin (doksisiklin,
oksitetrasiklin, klortetrasiklin).
e. Golongan Polimiksin
Diantaranya polimiksin dan kolistin.
f. Golongan Kinolon (fluorokinolon)
Diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin,

levofloksasin, dan trovafloksasin.


g. Golongan Streptogramin
Diantaranya pristinamycin, virginiamycin, mikamycin, dan kinupristindalfopristin.
h. Golongan Oksazolidinon
Diantaranya linezolid dan AZD2563.
i. Golongan Sulfonamida
Diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim.
j. Antibiotika lain yang penting, seperti kloramfenikol, klindamisin dan asam
fusidat.
Berdasarkan mekanisme aksinya, yaitu mekanisme bagaimana antibiotik secara
selektif meracuni sel bakteri, antibiotik dikelompokkan sebagai berikut:
1. Mengganggu sintesa dinding sel, seperti penisilin, sefalosporin, imipenem,
vankomisin, basitrasin.
2. Mengganggu sintesa protein bakteri, seperti klindamisin, linkomisin,
kloramfenikol, makrolida, tetrasiklin, gentamisin.
3. Menghambat sintesa folat, seperti sulfonamida dan trimetoprim.
4. Mengganggu sintesa DNA, seperti metronidasol, kinolon, novobiosin.
5. Mengganggu sintesa RNA, seperti rifampisin.
6. Mengganggu fungsi membran sel, seperti polimiksin B, gramisidin.
Antibiotik dapat pula digolongkan berdasarkan organisme yang dilawan dan jenis
infeksi. Berdasarkan keefektifannya dalam melawan jenis bakteri, dapat
dibedakan antibiotik yang membidik bakteri gram positif atau gram negatif saja,
dan antibiotik yang berspektrum luas, yaitu yang dapat membidik bakteri gram
positif dan negatif.
Sebagian besar antibiotik mempunyai dua nama, nama dagang yang diciptakan
oleh pabrik obat, dan nama generik yang berdasarkan struktur kimia antibiotik
atau golongan kimianya. Contoh nama dagang dari amoksilin, sefaleksin,
siprofloksasin, kotrimoksazol, tetrasiklin dan doksisiklin, berturut-turut adalah
Amoxan, Keflex, Cipro, Bactrim, Sumycin, dan Vibramycin.
Setiap antibiotik hanya efektif untuk jenis infeksi tertentu. Misalnya untuk pasien
yang didiagnosa menderita radang paru-paru, maka dipilih antibiotik yang dapat
membunuh bakteri penyebab radang paru-paru ini. Keefektifan masing-masing
antibiotik bervariasi tergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik
mencapai lokasi tersebut.
Antibiotik oral adalah cara yang paling mudah dan efektif, dibandingkan dengan
antibiotik intravena (suntikan melalui pembuluh darah) yang biasanya diberikan
untuk kasus yang lebih serius. Beberapa antibiotik juga dipakai secara topikal

seperti dalam bentuk salep, krim, tetes mata, dan tetes telinga.
Penentuan jenis bakteri patogen ditentukan dengan pemeriksaan laboratorium.
Tehnik khusus seperti pewarnaan gram cukup membantu mempersempit jenis
bakteri penyebab infeksi. Spesies bakteri tertentu akan berwarna dengan
pewarnaan gram, sementara bakteri lainnya tidak.
Tehnik kultur bakteri juga dapat dilakukan, dengan cara mengambil bakteri dari
infeksi pasien dan kemudian dibiarkan tumbuh. Dari cara bakteri ini tumbuh dan
penampakannya dapat membantu mengidentifikasi spesies bakteri. Dengan
kultur bakteri, sensitivitas antibiotik juga dapat diuji.
Penting bagi pasien atau keluarganya untuk mempelajari pemakaian antibiotik
yang benar, seperti aturan dan jangka waktu pemakaian. Aturan pakai mencakup
dosis obat, jarak waktu antar pemakaian, kondisi lambung (berisi atau kosong)
dan interaksi dengan makanan dan obat lain.
Pemakaian yang kurang tepat akan mempengaruhi penyerapannya, yang pada
akhirnya akan mengurangi atau menghilangkan keefektifannya.
Bila pemakaian antibiotik dibarengi dengan obat lain, yang perlu diperhatikan
adalah interaksi obat, baik dengan obat bebas maupun obat yang diresepkan
dokter. Sebagai contoh, Biaxin (klaritromisin, antibiotik) seharusnya tidak dipakai
bersama-sama dengan Theo-Dur (teofilin, obat asma).
Berikan informasi kepada dokter dan apoteker tentang semua obat-obatan yang
sedang dipakai sewaktu menerima pengobatan dengan antibiotik.
Jangka waktu pemakaian antibiotik adalah satu periode yang ditetapkan dokter.
Sekalipun sudah merasa sembuh sebelum antibiotik yang diberikan habis,
pemakaian antibiotik seharusnya dituntaskan dalam satu periode pengobatan.
Bila pemakaian antibiotik terhenti di tengah jalan, maka mungkin tidak seluruh
bakteri mati, sehingga menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap
antibiotik tersebut. Hal ini dapat menimbulkan masalah serius bila bakteri yang
resisten berkembang sehingga menyebabkan infeksi ulang.
Efek Samping
Disamping banyaknya manfaat yang dapat diperoleh dalam pengobatan infeksi,
antibiotik juga memiliki efek samping pemakaian, walaupun pasien tidak selalu
mengalami efek samping ini. Efek samping yang umum terjadi adalah sakit
kepala ringan, diare ringan, dan mual.
Dokter perlu diberitahu bila terjadi efek samping seperti muntah, diare hebat dan
kejang perut, reaksi alergi (seperti sesak nafas, gatal dan bilur merah pada kulit,
pembengkakan pada bibir, muka atau lidah, hilang kesadaran), bercak putih
pada lidah, dan gatal dan bilur merah pada vagina.

Resistensi Antibiotik
Salah satu perhatian terdepan dalam pengobatan modern adalah terjadinya
resistensi antibiotik. Bakteri dapat mengembangkan resistensi terhadap
antibiotik, misalnya bakteri yang awalnya sensitif terhadap antibiotik, kemudian
menjadi resisten.
Resistensi ini menghasilkan perubahan bentuk pada gen bakteri yang
disebabkan oleh dua proses genetik dalam bakteri:
1. Mutasi dan seleksi (atau evolusi vertikal)
Evolusi vertikal didorong oleh prinsip seleksi alam. Mutasi spontan pada
kromosom bakteri memberikan resistensi terhadap satu populasi bakteri. Pada
lingkungan tertentu antibiotika yang tidak termutasi (non-mutan) mati,
sedangkan antibiotika yang termutasi (mutan) menjadi resisten yang kemudian
tumbuh dan berkembang biak.
2. Perubahan gen antar strain dan spesies (atau evolusi horisontal)
Evolusi horisontal yaitu pengambil-alihan gen resistensi dari organisme lain.
Contohnya, streptomises mempunyai gen resistensi terhadap streptomisin
(antibiotik yang dihasilkannya sendiri), tetapi kemudian gen ini lepas dan masuk
ke dalam E. coli atau Shigella sp.
Beberapa bakteri mengembangkan resistensi genetik melalui proses mutasi dan
seleksi, kemudian memberikan gen ini kepada beberapa bakteri lain melalui
salah satu proses untuk perubahan genetik yang ada pada bakteri.
Ketika bakteri yang menyebabkan infeksi menunjukkan resistensi terhadap
antibiotik yang sebelumnya sensitif, maka perlu ditemukan antibiotik lain
sebagai gantinya. Sekarang penisilin alami menjadi tidak efektif melawan bakteri
stafilokokus dan harus diganti dengan antibiotik lain.
Tetrasiklin, yang pernah dijuluki sebagai "obat ajaib", kini menjadi kurang
bermanfaat untuk berbagai infeksi, mengingat penggunaannya yang luas dan
kurang terkontrol selama beberapa dasawarsa terakhir.
Keberadaan bakteri yang resisten antibiotik akan berbahaya bila antibiotik
menjadi tidak efektif lagi dalam melawan infeksi-infeksi yang mengancam jiwa.
Hal ini dapat menimbulkan masalah untuk segera menemukan antibiotik baru
untuk melawan penyakit-penyakit lama (karena strain resisten dari bakteri telah
muncul), bersamaan dengan usaha menemukan antibiotik baru untuk melawan
penyakit-penyakit baru.
Berkembangnya bakteri yang resisten antibiotik disebabkan oleh beberapa hal.
Salah satunya adalah penggunaan antibiotik yang berlebihan. Ini mencakup
seringnya antibiotik diresepkan untuk pasien demam biasa atau flu.
Meskipun antibiotik tidak efektif melawan virus, banyak pasien berharap

mendapatkan resep mengandung antibiotik ketika mengunjungi dokter.


Setiap orang dapat membantu mengurangi perkembangan bakteri yang resisten
antibiotik dengan cara tidak meminta antibiotik untuk demam biasa atau flu.

Antibiotika adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek
menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam
proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan
penyakit infeksi.
contoh obat antibiotika:

1.Amoxicillin
Indikasi:
Amoksisilina
efektif terhadap penyakit:
Infeksi saluran pernafasan kronik dan akut: pneumonia, faringitis (tidak untuk faringitis
gonore), bronkitis, langritis.
Infeksi sluran cerna: disentri basiler.
Infeksi saluran kemih: gonore tidak terkomplikasi, uretritis, sistitis, pielonefritis.
Infeksi lain: septikemia, endokarditis.
Kontra Indikasi:
Pasien dengan reaksi alergi terhadap penisilina.
Komposisi:
Tiap sendok teh (5 ml) suspensi mengandung amoksisilina trihidrat setara dengan
amoksisilina anhidrat 125 mg.
Tiap kapsul mengandung amoksisilina trihidrat setara dengan amoksisilina anhidrat 250 mg.
Tiap kaptab mengandung amoksisilina trihidrat setara dengan amoksisilina anhidrat 500 mg.
Cara Kerja Obat:
Amoksisilina merupakan senyawa penisilina semi sintetik dengan aktivitas anti bakteri
spektrum luas yang bersifat bakterisid. Aktivitasnya mirip dengan ampisilina, efektif terhadap
sebagian bakteri gram-positif dan beberapa gram-negatif yang patogen.
Bakteri patogen yang sensitif terhadap amoksisilina adalah Staphylococci, Streptococci,
Enterococci, S. pneumoniae, N. gonorrhoeae, H. influenzae, E. coli dan P. mirabilis.
Amoksisilina kurang efektif terhadap spesias Shigella dan bakteri penghasil beta-laktamase.
Posologi:
Dosis amoksisilina disesuaikan dengan jenis dan beratnya infeksi.

Anak dengan berat badan kurang dari 20 kg: 20 40 mm/kg berat badan sehari, terbagi
dalam 3 dosis.
Dewasa atau anak dengan berat badan lebih dari 20 kg: 250 500 mg sehari, sebelum makan.
Gonore yang tidak terkompilasi: amoksisilina 3 gram dengan probenesid 1 gram sebagai
dosis tunggal.
Efek Samping:
Pada pasien yang hipersensitif dapat terjadi reaksi alergi seperti urtikaria, ruam kulit, pruritus,
angioedema dan gangguan saluran cerna seperti diare, mual, muntah, glositis dan stomatitis.
Interkasi Obat:
Probenesid memperlambat ekskresi amoksisilina.
Cara Penyimpanan:
Simpan dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk dan kering.
Peringatan dan Perhatian:
Pasien yang alergi terhadap sefalosporin mengakibatkan terjadinya cross allergenicity
(alergi silang).
Penggunaan dosis tinggi atau jangka lama dapat menimbulkan superinfeksi (biasanya
disebabkan: Enterobacter, Pseudomonas, S. aureus, Candida), terutama pada saluran
gastrointestinal.
Hati-hati pemberia pada wanita hamil dan menyusui dapat menyebabkan sensitivitas pada
bayi.

2.Cefadroxil 500 mg
Indikasi:
Cefadroxil diindikasikan untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme
yang sensitif seperti:
- Infeksi saluran pernafasan : tonsillitis, faringitis, pneumonia, otitis media.
- Infeksi kulit dan jaringan lunak.
- Infeksi saluran kemih dan kelamin.
- Infeksi lain: osteomielitis dan septisemia.
Kontra Indikasi:
Penderita yang hipersensitif terhadap sefalosporin.
Komposisi:
Cefadroxil 500, tiap kapsul mengandung cefadroxil monohydrate setara dengan cefadroxil
500 mg.
Cara Kerja:
Cefadroxil adalah antibiotika semisintetik golongan sefalosforin untuk pemakaian oral.

Cefadroxil bersifat bakterisid dengan jalan menghambat sintesa dinding sel bakteri.
Cefadroxil aktif terhadap Streptococcus beta-hemolytic, Staphylococcus aureus (termasuk
penghasil enzim penisilinase), Streptococcus pneumoniae, Escherichia coli, Proteus mirabilis,
Klebsiella sp, Moraxella catarrhalis.
Dosis:
Dewasa:
Infeksi saluran kemih:
Infeksi saluran kemih bagian bawah, seperti sistitis : 1 2 g sehari dalam dosis tunggal atau
dua dosis terbagi, infeksi saluran kemih lainnya 2 g sehari dalam dosis terbagi.
Infeksi kulit dan jaringan lunak: 1 g sehari dalam dosis tunggal atau dua dosis terbagi.
Infeksi saluran pernafasan:
Infeksi ringan, dosis lazim 1 gram sehari dalam dua dosis terbagi.
Infeksi sedang sampai berat, 1 2 gram sehari dalam dua dosis terbagi. Untuk faringitis dan
tonsilitis yang disebabkan oleh Streptococcus beta-hemolytic : 1 g sehari dalam dosis tunggal
atau dua dosis terbagi, pengobatan diberikan minimal selama 10 hari.
Anak-anak:
Infeksi saluran kemih, infeksi kulit dan jaringan lunak : 25 50 mg/kg BB sehari dalam dua
dosis terbagi.
Faringitis, tonsilitis, impetigo : 25 50 mg/kg BB dalam dosis tunggal atau dua dosis terbagi.
Untuk infeksi yang disebabkan Streptococcus beta-hemolytic, pengobatan diberikan minimal
selama 10 hari.
Efek Samping:
Gangguan saluran pencernaan, seperti mual, muntah, diare, dan gejala kolitis
pseudomembran.
Reaksi hipersensitif, seperti ruam kulit, gatal-gatal dan reaksi anafilaksis.
Efek samping lain seperti vaginitis, neutropenia dan peningkatan transaminase.
Interaksi Obat:
Obat-obat yang bersifat nefrotoksik dapat meningkatkan toksisitas sefalosporin terhadap
ginjal.
Probenesid menghambat sekresi sefalosporin sehingga memperpanjang dan meningkatkan
konsentrasi obat dalam tubuh.
Alkohol dapat mengakibatkan Disulfiram-like reactions, jika diberikan 48 72 jam setelah
pemberian sefalosporin.
Cara Rekonstitusi Suspensi:
Tambahkan 45 ml air minum, kocok sampai suspensi homogen.
Setelah 7 hari suspensi yang sudah direkonstitusi tidak boleh digunakan lagi.

3.Cefixime
Indikasi:
Cefixime diindikasikan untuk pengobatan infeksi-infeksi yang disebabkan oleh
mikroorganisme yang rentan antara lain:

Infeksi saluran kemih tanpa komplikasi yang disebabkan oleh Escherichia coli dan
Proteus mirabilis.

Otitis media disebabkan oleh Haemophilus influenzae (strain ?-laktamase positif) dan
Streptococcus pyogenes.

Faringitis dan tonsilitis yang disebabkan oleh Streptococcus pyogenes.

Bronkitis akut dan bronkitis kronik dengan eksaserbasi akut yang disebabkan oleh
Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae (strain beta-laktamase positif
dan negatif).

Kontra Indikasi:
Penderita dengan riwayat shock atau hipersensitif akibat beberapa bahan dari sediaan ini.
Komposisi:
Tiap kapsul CEFIXIME 50 mengandung:
Cefixime 50 mg
Tiap kapsul CEFIXIME 100 mengandung:
Cefixime 100 mg
Farmakologi:
Aktivitas antibakteri
Mekanisme kerjanya yaitu menghambat sintesis dinding sel. Cefixime memiliki afinitas
tinggi terhadap penicillin-binding-protein (PBP) 1 (1a, 1b, dan 1c) dan 3, dengan tempat
aktivitas yang bervariasi tergantung jenis organismenya.
Dosis:
Dewasa dan anak-anak dengan berat badan ?30 kg, dosis harian yang direkomendasikan
adalah 50-100 mg (potensi) cefixime diberikan per oral dua kali sehari.
Dosis sebaiknya disesuaikan dengan usia penderita, berat badan dan keadaan penderita.
Untuk infeksi yang berat dosis dapat ditingkatkan sampai 200 mg (potensi) diberikan dua kali
sehari.

4.Ciprofloxacin 500 mg
Indikasi:
Untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh kuman patogen yang peka terhadap
ciprofloxacin, antara lain pada :
- Saluran kemih termasuk prostatitis.
- Uretritis dan serpisitis gonore.
- Saluran cerna, termasuk demam thyfoid dan parathyfoid.
- Saluran nafas, kecuali pneumonia dan streptococus.
- Kulit dan jaringan lunak.
- Tulang dan sendi.
Kontra Indikasi:
- Penderita yang hipersensitivitas terhadap siprofloksasin dan derivat quinolone lainnya
- tidak dianjurkan pada wanita hamil atau menyusui,anak-anak pada masa
pertumbuhan,karena pemberian dalam waktu yang lama dapat menghambat pertumbuhan
tulang rawan.
- Hati-hati bila digunakan pada penderita usia lanjut
- Pada penderita epilepsi dan penderita yang pernah mendapat gangguan SSP hanya
digunakan bila manfaatnya lebih besar dibandingkan denag risiko efek sampingnya.
Komposisi :
Ciprofloxacin 250 mg : Tiap tablet salut selaput mengandung Ciprofloxacin 250 mg
Ciprofloxacin 500 mg : Tiap tablet salut selaput mengandung ciprofloxacin 500 mg.
Farmakologi :
Ciprofloxacin (1-cyclopropyl-6-fluoro-1,4-dihydro-4-oxo-7-(-1-piperazinyl-3-quinolone
carboxylic acid) merupakan salah satu obat sintetik derivat quinolone. mekanisme kerjanya
adalah menghambat aktifitas DNA gyrase bakteri, bersifat bakterisida dengan spektrum luas
terhadap bakteri gram positif maupun gram negatif.
ciprofloxacin diabsorbsi secara cepat dan baik melalui saluran cerna, bioavailabilitas absolut
antara 69-86%, kira-kira 16-40% terikat pada protein plasma dan didistribusi ke berbagai
jaringan serta cairan tubuh. metabolismenya dihati dan diekskresi terutama melalui urine.
Dosis :
1.Untuk infeksi saluran kemih :
- Ringan sampai sedang : 2 x 250 mg sehari
- Berat : 2 x 500 mg sehari
- Untuk gonore akut cukup pemberian dosis tunggal 250 mg sehari
2.Untuk infeksi saluran cerna :
- Ringan / sedang / berat : 2 x 250 mg sehari
3.Untuk infeksi saluran nafas, tulang dan sendi kulit dan jaringan lunak :
- Ringan sampai sedang : 2 x 500 mg sehari
- Berat : 2 x 750 mg sehari
- Untuk mendapatkan kadar yang adekuat pada osteomielitis maka pemberian tidak boleh
kurang dari2 x 750 mg sehari

- Dosis untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal : Bila bersihan kreatinin kurang dari 20
ml/menit maka dosis normal yang dianjurkan harus diberikan sehari sekali atau dikurangi
separuh bila diberikan 2 x sehari.
- Lamanya pengobatan tergantung dari beratnya penyakit.
Untuk infeksi akut selama 5-10 hari biasanya pengobatan selanjutnya paling sedikit 3 hari
sesudah gejala klinik hilang.
Peringatan dan perhatian :
- Untuk menghindari terjadinya kristaluria maka tablet siprofloksasin harus ditelan dengan
cairan
- Hati-hati pemberian pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal (lihat keteranga pada
dosis )
- Pemakaian tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan
- Selama minum obat ini tidak dianjurkan mengendarai kendaraan bermotor atau
menjalankan mesin.
Efek samping :
Efek samping siprofloksasin biasanya ringan dan jarang timbul antara lain:
- Gangguan saluran cerna : Mual,muntah,diare dan sakit perut
- Gangguan susunan saraf pusat : Sakit kepala,pusing,gelisah,insomnia dan euforia
- Reaksi hipersensitivitas : Pruritus dan urtikaria
- Peningkatan sementara nilai enzim hati,terutama pada pasien yang pernah mengalami
kerusakan hati.
4.DEXYCOL 500

Indikasi:
infeksi saluran atas,urogenital,hepatobilier,tractus interninalis,tipus abdominalis paratifoid
dan salmonella lain,bruselosis dan infeksi yang disebabkan oleh kuman peka terhadap
tiamphenikol.
Komposisi:
tiamphenicol 500 mg

5.Dothrocyn

Indikasi:
infeksi saluran pernafasan bagian atas dan bawah,kulit dan jaringan
lunak,OA,ottismedia,profilaksi sesudah pencabutan gigi.
Kontra indikasi:
Hipersensitivitas,pasien yang mendapat terfenadin,astemizol,atau sisaprid.gangguan fungsi
hati berat.
Komposisi:
Erytromicin stearat 500 mg
Perhatian:
Gsngguan fungsi hati dan ginjal,Penggunaan jangka panjang dapat mengakibatkan
superinfeksi oleh mikroorganisme yang tidak peka.Penggunan bersama levostatin,hamil dan
laktasi.
Efek samping:
Mual,muntah,diare gangguan pada epigestrum,anoreksia,kehilangan pendengaran yang
reversible pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan yang mendapat dosis
besar.konvusi,halusinasi,vertigo,aritmia jantung.Reaksi aliergi.
Dosis:
Dewasa 250 mg tiap 6 jam atau 500 mg tiap 12 jam.
Anak 30-50 mg/kg BB/hari dalam 4 dosis

6.DOXYCYLINE
Indikasi:
Infeksi saluran pernafasan, seperti pneumonia, bronkitis, tonsilitis, nasofaringitis.
Infeksi uroginetal, infeksi saluran pencernaan, infeksi pada kulit dan jaringanlunak.
Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap tetrasiklin.
Komposisi:
Tiap kapsul mengandung:
Doxycycline Hyclate setara dengan 100 mg Doxycycline.

Cara Kerja Obat:


DOXYCYCLINE adalah antibiotika dengan aktivitas antimikroba yang luas. Efektif terhadap
bakteri Gram-negatif, seperti Sterptococcus, Staphylococcus, Bacillus anthracis, Brucella
spp., Mycoplasma, Klebsiela spp., Treponema pallidum, Rickettsia.
DOXYCYCLINE diabsorpsi dengan cepat dan baik dari saluran pencernaan dan tidak
tergantung dari adanya makanan.
DOXYCYCLINE diekskresi melalui urin dan feses.
Efek Samping:
Kecil kemungkinan timbulnya toksisitas yang disebabkan oleh Doxycycline, gangguan pada
saluran pencernaan, termasuk mual, muntah dan diare. Diare lebih jarang terjadi
dibandingkan dengan tetrasiklin lainnya. Juga dapat timbul reaksi fotosensitivitas dan reaksi
alergi seperti dermatitis, urtikaria dan anafilaksis.
Perhatian:
- Sebaiknya Doxycycline tidak diberikan pada wanita hamil, menyusui dan anak-anak di
bawah umur 8 tahun.
- Antasida yang mengandung aluminium, kalsium dan magnesium akan mengurangi absorpsi
Doxycycline dan sebaiknya tidak diberikan bersama-sama.
- Pemakaian dalam jangka waktu panjang dapat mengakibatkan terjadinya superinfeksi
mikroba yang tidak sensitif.
Interaksi Obat:
Pemberian bersamaan dengan antasida yang mengandung aluminium, magnesium, sadium
bikarbonat dan senyawa besi dapat menurunkan kadar Doxycycline dalam darah.
Dosis:
- Anak-anak > 8 tahun dengan berat badan < 45 kg:
4.4 mg/kg berat badan per hari dengan interval 12 jam pada hari pertama, selanjutnya 2.2
mg/kg berat badan per hari.
- Dewasa dan anak-anak > 8 tahun dengan berat badan >= 45 kg:
200 mg setiap 12 jam pada hari pertama, selanjutnya 100 mg per hari.
Pada kasus infeksi berat, baik pada orang dewasa maupun anak-anak, dosis awal dapat
diberikan setiap 12 jam selama diperlukan.
Pengobatan harus dilanjutkan paling sedikit 24 jam sampai 48 jam setelah tanda-tanda dan
gejala reda. Pada infeksi Streptococcus, pengobatan harus dilanjutkan peling sedikit 10 hari.
Atau menurut petunjuk dokter.