Anda di halaman 1dari 17

Sakit Kepala, Nyeri

Epigastrik, Dan Penglihatan


Kabur
Kelompok I

A. Sakit kepala

Nyeri kepala pada masa


nifas dapat merupakan
gejala preeklampsia, jika
tidak diatasi dapat
menyebabkan kejang
maternal, stroke,
koagulopati dan kematian.

Gejalah.
: Kesepian
a Tekanan darah naik
atau
turun.
b. Lemah.
c.Anemia.
d. Napas pendek atau
cepat.
e. Nafsu makan
turun.
f. Kemampuan
berkonsentrasi
kurang
g. Tujuan dan
minat terdahulu
hilang; merasa
kosong.

yang tidak dapat


digambarkan; merasa
bahwa tidak seorang
pun mengerti.
i. Serangan
cemas.
j. Merasa
takut.
k. Berpikir
obsesif.
l. Hilangnya
rasa takut.
m. Control
terhadap emosi
hilang.
n. Berpikir
tentang kematian.

Penanganan:
a. Informed consent.
b. Lakukan penilaian klinik terhadap keadaan umum sambil
mencari riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien
atau keluarga.
c. Pemberian Parasetamol dan Vit B Complek 2x/hari,
Tablet zat besi 1x/hari.
d. Jika tekanan diastol >110mmHg, berikan antihipertensi
sampai tekanan diastolik.
e. Pasang infus RL dengan jarum besar no.16 atau lebih.
f. Ukur keseimbangan cairan.
g. Persiapan rujukan.
h. Periksa Hb.
i. Periksa protein urine.
j. Observasi tanda-tanda vital.
k. Lebih banyak istirahat.

B. Nyeri epigastrium
Nyeri daerah epigastrium atau daerah kuadran
atas kanan perut, dapat disertai dengan edema paru.
Keluhan ini sering menimbulkan rasa khawatir pada
penderita akan adanya gangguan pada organ vital di
dalam dada seperti jantung, paru dan lain-lain.
Preeklamsia ialah penyakit dengan tanda-tanda
hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena
kehamilan, umumnya terjadi pada triwulan ke-3
kehamilan. Sedangkan eklampsia merupakan penyakit
lanjutan preeklamsia, yakni gejala di atas ditambah
tanda gangguan saraf pusat, yakni terjadinya kejang
hingga koma, nyeri frontal, gangguan penglihatan,
mual hebat, nyeri epigastrium, dan hiperrefleksia.

Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu


daripada tanda-tanda lain karena terjadi
reimplantasi amnion ke dinding rahim pada
trimester ke-3 kehamilan. Pada keadaan ibu yang
tidak sehat atau asupan nutrisi yang kurang,
reimplantasi tidak terjadi secara optimal sehingga
menyebabkan blokade pembuluh darah setempat
dan menimbulkan hipertensi. Diagnosis hipertensi
dapat dibuat jika kenaikan tekanan sistolik 30
mmHg atau lebih di atas tekanan yang biasanya
ditemukan atau mencapai 140 mmHg atau lebih,
dan tekanan diastolik naik dengan 15 mmHg atau
lebih atau menjadi 90 mmHg atau lebih.

Penentuan tekanan darah ini dilakukan minimal 2 kali


dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat. Edema
ialah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan
dalam jaringan tubuh, dan biasanya dapat diketahui dari
kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari
tangan, dan muka. Kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali
perlu menimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya
preeklamsia. Edema juga terjadi karena proteinuria berarti
konsentrasi protein dalam air kencing yang melebihi 0,3
g/liter dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif
menunjukkan 1+ atau 2+ atau 1g/liter atau lebih dalam air
kencing yang dikeluarkan dengan kateter atau midstream
yang diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam.
Biasanya proteinuria timbul lebih lambat daripada
hipertensi dan kenaikan berat badan, karena itu harus
dianggap sebagai tanda yang cukup serius.

1. Tanda dan Gejala:


a. Kira-kira 90 persen pasien
terdapat lelah.
b. 65 % dengan nyeri
epigastrium, 30 persen dengan
mual dan muntah.
c. 31 % dengan sakit kepala.

2. Penanganan :
a. Informed consent
b. Mengobservasi TTV
c. Persiapan rujukan
d. Pemeriksaan darah rutin
e. Tes fungsi hati.
f. Profilaktik MgSO4 untuk mencegah kejang (eklampsia).
g. Bolus 4 6 g MgSO4 dalam konsentrasi 20%. Dosis ini
diikuti dengan infus 2 g per jam.
h. Jika terjadi toksisitas, masukkan 10 20 ml kalsium
glukonat 10% i.v.
i. Terapi antihipertensi harus dimulai jika tekanan darah
senantiasa di atas 160/110 mmHg Hidralazin IV dosis rendah 2,5
5 mg (dosis inisial 5mg) setiap 15 20 menit sampai tekanan
darah target tercapai atau kombinasi nifedipin dan MgSO4.

Penglihatan Kabur
Perubahan penglihatan atau
pandangan kabur, dapat menjadi
tanda preeklampsi. Masalah visual
yang mengidentifikasikan keadaan
yang mengancam jiwa adalah
perubahan visual mendadak,
misalnya penglihatan kabur atau
berbayang, melihat bintik-bintik
(spot) , berkunang-kunang.

Tanda dan Gejala :


a. Peningkatan tekanan darah yang
cepat
b. Oliguria
c. Peningkatan jumlah proteinuri
d. Sakit kepala hebat dan persisten
e. Rasa mengantuk
f. Penglihatan kabur
g. Mual muntah
h. Nyeri epigastrium
i. Hiperfleksi

Faktor resiko:
a. Primigravida
b. Wanita gemuk
c. Wanita dengan hipertensi esensial
d. Wanita dengan kehamilan kembar
e. Wanita dengan diabetes, mola
hidatidosa,
polihidramnion
f. Wanita dengan riwayat eklamsia atau
preeklamsia pada kehamilan
sebelumnya
g. Riwayat keluarga eklamsi

Peran Bidan :
a. Mendeteksi terjadinya
eklamsi
b. Mencegah terjadinya eklamsi
c. Mengetahui kapan waktu
berkolaborasi
dengan dokter
d. Memberikan penanganan awal
sebelum
merujuk pada kasus eklamsi

Penanganan
a. Informed consent
b. Segera rawat
c. Lakukan penilaian klinik terhadap keadaan
umum sambil mencari riwayat penyakit
sekarang
dan terdahulu dari pasien atau keluarganya
d. Persiapan rujukan
e. Jika pasien tidak bernafas :
Bebaskan jalan nafas
Berikan oksigen
Intubasi jika perlu

f. Jika pasien tidak sadar


atau koma :
Bebaskan jalan nafas
Baringkan pada satu sisi
Ukur suhu
Jika pasien syok atasi
dengan penanganan syok
Jika ada perdarahan atasi
penanganan perdarahan

g. Jika kejang :
Baringkan pada satu sisi,
tempat tidur arah kepala
ditinggikan sedikit untuk
mengurangi kemungkinan
aspirasi secret, muntah/darah.
Bebaskan jalan nafas
Pasang spatula lidah untuk
menghindari tergigitnya lidah