Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kata taksonomi diambil dari bahasa Yunani tassein yang berarti untuk
mengelompokkan dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi dapat diartikan
sebagai pengelompokan suatu hal berdasarkan hierarki (tingkatan) tertentu,
dimana taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum dan taksonomi yang
lebih rendah bersifat lebih spesifik. Dalam Biologi, taksonomi juga merupakan
cabang ilmu tersendiri yang mempelajari penggolongan atau sistematika makhluk
hidup. Sistem yang dipakai adalah penamaan dengan dua sebutan, yang dikenal
sebagai tata nama binomial atau binomial nomenclature yang diusulkan oleh Carl
von Linne (Latin: Carolus Linnaeus) seorang naturalis berkebangsaan Swedia. Ia
memperkenalkan tujuh hierarki (tingkatan) untuk mengelompokkan makhluk
hidup. Dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan
pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain,
yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali
menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis
(bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang
paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan
juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah.
Hewan vertebrata merupakan hewan yang bertulang belakang baik hidup
di darat maupun dilaut. Taksonomi hewan vertebrata adalah ilmu yang
mempelajari tentang takson atau tingkatan hewan vertebrata berdasarkan
persaamaan morfologi, anatomi, sifat, dan tingkah laku. Mempelajari taksonomi
hewan vertebrata tidak hanya sekedar teori, tapi juga harus di aplikasikan didalam
praktikum. Dikarenakan keterbatasan ketersediaan specimen yang ada di dalam
laboratorium Universitas Pakuan terutama specimen mamalia dan aves maka kami
mengadakan praktikum lapang yaitu berupa kunjungan ke LIPI Cibinong. LIPI
Cibinong terutama bidang zoologi merupakan suatu lembaga yang memiliki
keanekaragaman hewan vertebrata. Namun dalam kunjungan kali ini lebih fokus
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
1

untuk mengetahui kenaekaragaman hewan vertebrata terutama mamalia dan aves


sesuai dengan mata kuliah kami sedang pelajari.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dan manfaatnya diadakannya praktikum lapang vertebrata ini
adalah :
1. Untuk mengetahui keanekaragaman hewan vertebrata terutama mamalia
dan aves.
2. Untuk mengenal cara pengoleksian sampel di lapangan.
3. Untuk mengenal cara pensortiran, pengawetan dan identifikasi hewan
vertebrata di laboratorium.

BAB II
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Profil Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi LIPI
Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia, merupakan lembaga yang mempelopori penelitian dalam keilmuan
fauna. Lembaga ini dulu dikenal dengan nama Museum Zoologicum Bogoriense
(MZB) yang didirikan oleh J.C. Koningsberger pada bulan Agustus 1894.
Sejak berdirinya sampai dengan tahun 1997, Bidang Zoologi menempati
gedung bersejarah di dalam Kebun Raya Bogor, yang secara ilmiah merupakan
kebun raya terkenal di dunia. Di dalamnya termasuk pameran umum, yang
menyajikan keanekaragaman fauna Indonesia. Sejalan dengan perkembangan ilmu
agar kegiatan penelitian dapat ditampung, maka Bidang Zoologi pindah dan
menempati gedung baru di Pusat Ilmu Pengetahuan Cibinong (Cibinong Science
Centre). Gedung yang diberi nama Widyasatwaloka ini dibangun dengan bantuan
dana dari Pemerintah Jepang pada tahun 1997. Sedangkan fasilitas penyimpanan
koleksi diadakan dengan bantuan dana GEF/Word Bank dalam rangka
peningkatan kualitas dan pengelolaan koleksi ilmiah specimen bertaraf
internasional. Demikian juga laboratorium genetika, biologi reproduksi dan nutrisi
yang saat ini sudah berstandar dunia. Fasilitas baru ini meningkatkan
perkembangan lebih lanjut dari Bidang Zoologi. Jumlah specimen yang dikoleksi
untuk menunjang kegiatan penelitian biosistematika, ekologi dan fisiologi
meningkat pesat. Bidang Zoologi bertekad untuk menjadi lembaga pelopor yang
mampu memberikan informasi ilmiah tentang fauna Indonesia.
2.2 Sejarah Museum Zoologicum Bogeriense (MZB)
Sejarah kehadiran MZB, yang lebih dikenal oleh masyarakat ilmiah
sebagai Museum Zoologicum Bogeriense, tidak dapat dipisahkan dengan nama
DR. J.C. Koningsberger, seorang ahli zoologi pertanian yang betugas untuk
meneliti hama dan penyakit tanaman, terutama yang menyerang tanaman
produktif yang menghasilkan pendapatan tinggi bagi pemerintahan Belanda pada
masa itu. Dimulainya kerja Koningsberger di Bogor pada bulan Agustus 1894
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
3

tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari jadi MZB. Koningsberger mengawali


kerjanya dengan mempelajari hama dan penyakit tanaman pertanian. Di ruang
kerjanya yang semula adalah tem pat penyimpanan kereta kuda, banyak specimen
binatang, terutama serangga yang dikumpulkannya. Pada saat itu sebagian
peranan sebuah museum, yaitu mengumpulkan, merawat, meneliti, dan
memamerkan koleksi mulai terpenuhi.
Obsesi untuk menyamai keberhasilan Museum Colombo yang
dikunjunginya pada tahun 1898 bersama DR. M. Treub, Koningsberger terus
berusaha menambah contoh -contoh fauna yang dapat menjadi koleksi sebuah
museum zoologi. Dengan bantuan berbagai pihak, termasuk Treub, pada
pertengahan tahun 1900 pembangunan museum dimulai dan pada akhir bulan
Agustus 1901 gedung museum seluas 402 m2 sudah siap digunakan untuk
memamerkan koleksi fauna yang telah dikumpulkan Koningsberger. Museum
tersebut kemudian diberi nama Landbouw Zoologisch Museum.
Sejak berganti nama menjadi Balai Penelitian dan Pengembangan Zoologi
pada tahun 1987, lembaga di bawah naungan Pusat Penelitian dan Pengembangan
Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ini, mengembangkan kegiatannya
tidak sebatas sebagai museum yang berkecimpung di bidang taksonomi, tapi juga
melakukan penelitian dan pengembangan di bidang ekologi dan fisiologi fauna.
Saat ini, dalam usianya yang lebih dari satu abad, MZB telah berhasil menjadi
museum fauna terbesar di Asia Tenggara. Mutu spesimen yang tersimpan
berstandar internasional.

2.3 Visi dan Misi Bidang Zoologi


MZB adalah lembaga yang kini bernaung di bawah Pusat Penelitian Biologi
(P2B) yang harus memperhatikan dan menginterpretasi visi Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menghendaki terwujudnya kehidupan bangsa
yang adil, cerdas, kreatif, integratif dan dinamis yang didukung oleh ilmu
pengetahuan dan teknologi yang humanistik. Visi tersebut harus berorientasi ke
masa depan tanpa melupakan sejarah dan pengalaman berharga masa lalu, ini
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
4

sesuai dengan rencana strategis P2B. Oleh karena itu visi dari P2B
adalah menjadi pusat acuan terpercaya bidang pemberdayaan dan konservasi asset
keanekaragaman hayati Indonesia (Witjaksono, et.al., 2008). Dengan merujuk visi
P2B-LIPI, maka visi dan misi bagi MZB adalah :
Visi :
Menjadi pusat acuan terpercaya bidang pemberdayaan dan konservasi
keanekaragaman fauna Indonesia.
Misi :
1. Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam memberdayakan dan
melestarikan aset keanekaragaman hayati Indonesia agar menjadi
pendorong utama dalam pembangunan berkelanjutan bangsa yang
berwajah kemanusiaan.
2. Ikut serta dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa melalui
tersedianya peneliti yang profesional, teknisi yang andal, dan staf
pendukung penelitian yang mumpuni serta prasarana dan sarana yang
terakreditasi sehingga mampu menjadi centreofexcellence dalam bidang
konservasi dan pengungkapan potensi sumber daya hayati Indonesia.
3. Memperkuat

kerjasama

dan

membentuk

jaringan

di

antara

pemangku kepentingan yang bergerak dalam isu keanekaragaman hayati,


ekosistem, dan lingkungan agar masyarakat Indonesia menjadi peduli,
berdaya, mandiri,

cerdas

dalam

memanfaatkan

dan

melestarikan

keanekaragaman hayatinya.

4. Meningkatkan peran serta masyarakat dan sektor swasta serta mendorong


otonomi daerah dalam menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya
alamnya secara optimum, lebih adil dan berkelanjutan melalui pengelolaan
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
5

yang

bertanggung-jawab

dengan

tujuan

meningkatkan

kesejahteraan masyarakat.
5. Memberikan landasan ilmiah untuk pengambilan kebijakan serta
tersusun dan tegaknya supremasi hukum terutama undang-undang yang
terkait dengan pengelolaan sumber daya hayati dan nir-hayati serta
lingkungan, merancang dan mematuhi peraturan pemerintah pusat dan
daera terutama rencana tata ruang wilayah, serta menghormati kearifan
masyarakat adat dan tradisional untuk memperkokoh persatuan bangsa
sekaligus memperkuat daya saing masyarakat.
2.4 Struktural Organisasi LIPI Cibinong

Struktural LIPI di Bidang Zoologi


Zoologi Division

: Dr. Rosichon Ubadillah M.Phill


Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
6

Collection Management of Zoology subdivision : Dr. Awit Surwito, M.Si


Facility Management of Zoology Subdivision

: M. Rofik Sofyan, S.Si, M.Hum

Bidang Ornitologi
Nama

Posisi

Keahlian/ Bidang

Mohammad Irham, M.Sc

Kepala Laboratorium/ peneliti

Ekologi dan takson

Drs. Mas Noerdjito

Peneliti

Konservasi

Ir. Sri Paryanti

Penangkaran

Dr. Dewi M. Prawiradilaga

Ekologi

Ir Darjono, M.M

Manajemen Satwa

Ir. Surdayanti

Manajemen Satwa

Dr. Sri Sulandari

Genetik

D. Dwi Astuti

Genetik

Ir. Wahyu Widodo

Ekologi

Tri Haryoko, S.Pt

Genetik/ Penangkaran

Hidayat Ashari, S.Si

Genetik

Alwin Marakarmah

Pengawetan dan pemeliharaan


specimen

Bidang Mamalia
Nama

Posisi

Keahlian/ Bidang

Ir. Mahardarunkamsi, M.Sc

Peneliti/ Kepala Lab

Biosistematika

dan

ekologi

dan

ekologi

mamalia kecil
Drs. A. Suryanto, M.Sc

Peneliti

Biosistematika
mamalia kecil

Dr. Gono Semiadi

Peneliti

Ekologi

dan

konservasi

wildlife/ mamalia besar


Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
7

Dr. Ibnu Maryanto

Peneliti

Biosistematika

dan

ekologi

mamalia kecil
Dr. SUgardjito

Peneliti

Ekologi

dan

konservasi

endangered wildlife
Yuli Sulistya Fitriana, S.Si

Kandidat Peneliti

Ekologi primate dan karnivora

Drh. Anang S. Achmadi

Kandidat Peneliti

Tugas belajar (S2)

Sigit Wiryantoro, S.Si

Kandidat Peneliti

Tugas belajar (S2)

M.H. Sinaga, S.Si

Teknisi

Nanang Supriatna

Teknisi

Kurnianingsih

Teknisi

Bidang Amphibia dan Reptil


Nama

Posisi

Pendidikan

Irvan sidik

Kepala Laboratorium/ Peneliti

S2

Mumpuni

Peneliti

S1

Hellen Kurniati

Peneliti

S1

Awal Ryanto

Peneliti

S1

Dadang R. Subasli

Peneliti

S1

Amir Hamidy

Peneliti

S1

Evy A. Arida

Peneliti

S1

Mulyadi

Teknisi

SMU

Tri wahyu Laksono

Teknisi

SMU

Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan


8

BAB III
PEMBAHASAN
Pada kunjungan praktikum tanggal 26 Mei 2016 di Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong, dikemukakan bahwa terdapat Ikan 1.300
jenis dengan 112.082 spesiemen dan 536 tipe spesies, Mammalia

460 jenis

dengan 34.656 spesiemen dan 303 tipe , Burung 1.200 jenis dengan 32.892
spesiemen dan 869 tipe spesies, Serangga dan arthopoda 15.805 jenis 2.540.065
spesiemen dan 2.674 tipe, Moluska dan invertebrata 3.007 jenis, 113.884
spesiemen dan 1.053 tipe , Amphibi dan reptil 800 jenis, 31.328 spesiemen dan
603 tipe spesies, Koleksi dari museum zoologi lipi cibinong disimpan dalam
bentuk koleksi basah (pengawet alkohol 70%) dan koleksi kering.
Pada pembahasan kali ini kami hanya akan menjelaskan beberapa kelas
saja yaitu pada kelas Aves dan Mammalia.
3.1 Kelas Aves
3.1.1 Klasifikasi Aves
Aves

adalah

kelompok

hewan

vertebrata

yang

berdarah

panas

(Homoiotermis), tubuh pada kelompok hewan ini ditutupi oleh bulu dan memiliki
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
9

sepasang sayap, sehingga bulu merupakan ciri spesifik pada kelas Aves, yang
tidak dimiliki oleh kelompok Tetrapoda lainnya. Pada hakikatnya bulu berfungsi
sebagai alat untuk terbang, karena Aves merupakan perkembangan filogenetik dari
reptil yang tak terbang. Bulu diduga berasal dari modifikasi sisik-sisik reptil yang
menjadi moyang burung. Selain itu bulu juga berfungsi untuk menjaga suhu tubuh
Aves agar tetap tinggi.
Sebelum Aves benar-benar dapat terbang ada suatu bentuk makhluk yang
sebagian ciri-cirinya menyerupai Aves dan sebagian yang lain menyerupai reptil.
Bentuk ini dipandang atau dianggap sebagai bentuk perkembangan reptil menuju
Aves. Makhluk yang fosilnya ditemukan di Jerman ini diberi nama Archaeopteryx
lithographica.
Berdasarkan atas kemampuan terbangnya, Aves dibagi menjadi 2
kelompok besar yaitu Ratitae yang anggota-anggotanya tidak dapat terbang karena
alat-alat terbangnya tidak memadai. Kelompok kedua adalah Carinatae yang
mencakup kelompok yang mampu terbang, bahkan ada yang sangat pandai
terbang.
Seperti halnya pada kelompok hewan lain Aves memiliki ciri-ciri utama
sebagai berikut: Alat penglihatan, alat pendengaran dan alat suara sudah
berkembang dengan baik, berdarah panas (homoiotermis), Jantung terdiri dari
empat ruang 2 atrium dan 2 ventrikel yang sudah berkembang dengan baik,
Pembuahan sel telur dan sperma/fertilisasi terjadi di dalam tubuh induk (fertilisasi
internal), Terdapat sepasang testis, Sedangkan ovarium hanya satu dan tumbuh
dengan baik di sebelah kiri.
Tipe bulu menurut letaknya : Remiges bulu sayap untuk terbang, terdiri dari
Bulu sayap primer melekat pada carpometacarpus, Bulu sayap sekunder melekat pada
ulna, Bulu sayap tertier melekat pada daerah humeru, Retrices bulu ekor untuk
kemudi, Tetrices : bulu penutup badan, Berdasarkan susunan anatomisnya, bulu
terbagi menjadi : Filoplumae, bulu-bulu kecil mirip rambut tersebar diseluruh tubuh.
Ujungnya bercabang-cabang pendek dan halus. Jika diamati dengan seksama akan
tampak terdiri dari shaft yang ramping dan beberapa barbulae dipuncak. Plumulae,
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
10

berbentuk hampir sama dengan filo plumae dengan perbedaan detail. Plumae, Bulu
yang sempurna. Barbae. Barbulae, Ujung dan sisi bawah tiap barbulae memiliki
filamen kecil disebut barbicels yang berfungsi membantu menahan barbula yang
saling bersambungan. Susunan plumae terdiri dari : Shaft (tangkai), yaitu poros utama
bulu. Calamus, yaitu tangkai pangkal bulu. Rachis, yaitu lanjutan calamus yang
merupakan sumbu bulu yang tidak berongga didalamnya. Rachis dipenuhi sumsum
dan memiliki jaringan.Vexillum, yaitu bendera yang tersusun atas barbae yang
merupakan cabang-cabang lateral dari rachis.

Adapun macam dan fungsi sayap : Primary flights, berfungsi untuk


pergerakan maju ke depan. Secondary flights, berfungsi untuk gaya angkat dan
gerak ke atas. Carinasterni, berfungsi untuk tempat menempel otot dan terbang.
Antebrachial covert, merupakan bulu-bulu pangkal sayap dan berfungsi untuk
proteksi. Minor Covert Oily, berfungsi untuk membantu Secondary flights. Major
Covert, berfungsi untuk membantu Primary flights. Caudal flights, berfungsi
untuk kemudi, rem, dan keseimbangan.
Aves dapat dibagi menjadi 2 super ordo yaitu palaeognathae dan
neognathae, dimana pada setiap super ordo terbagi lagi menjadi beberapa ordo.
a. Super Ordo Palaeognathae
Kelompok hewan ini memiliki ciri-ciri tidak memiliki gigi dan
sayap mereduksi sehingga kelompok aves ini tidak dapat terbang.
Super ordo Palaeognathae terdiri dari beberapa ordo yaitu :
b. Super Ordo Neognathae
Sebagian besar kelompok hewan ini merupakan burung modern,
tidak memiliki gigi, sternum dengan carinasterni, dapat terbang dengan
baik, vertebrae pada ekor berjumlah 5 atau 6, terdapat pygostyle,
metacarpal bergabung dengan jari-jari pada sayap.
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
11

Macam-macam koleksi aves yang terdapat di zoologi LIPI cibinong :


1. Skin specimen
2. Cangkang telur
3. Koleksi tulang

3.1.2 Cara Pengawetan Specimen Aves


1. Pertama, kulit pada bagian perut dikupas, kemudian sobek kearah kaki
kanan dan kiri, potong pada bagian pergelangan kakinya ditarik keatas
badan, kemudian dipotong tulang leher pertama dan hanya menyisakan
bagian kepala, tulang sayap dan tulang kaki
2. Kemudian dikeluarkan mata,kaki dan lidah.
3. Kulit bagian dalam dibaluri arsnip lalu dikasih kapas sampai mengembung
kemudian dijahit kembali
4. Kemudian dikeringkan, saat pengeringan paling bagus yaitu dengan cara
dikeringkan menggunakan sinar matahari langsung namun karena bogor
merupakan daerah lembab maka dikeringkan dengan oven dengan
menggunakan cahaya lampu saja
5. Ruangan harus terjaga dalam kondisi kering AC 21-23oC dan kelmbaban
ruangan 50 karena musuh specimen adalah jamur.

Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan


12

Gambar 1. Koleksi Kelas Aves LIPI Cibinong


3.2 Kelas Mammalia
3.2.1 Pengertian dan Ciri Kelas Mammalia
Mammalia, hewan dari kelompok mamalia, berdarah panas.Mamalia
memiliki kulit berbulu.Mamalia juga memiliki kelenjar keringat dan kelenjar
sebasea yang terletak di kulit mereka.Tubuh Mamalia dibagi menjadi empat
bagian, kepala, leher, dada dan ekor.
Pernapasan Mamalia terjadi melalui paru-paru.Kata mamalia diberikan
oleh ilmuwan bernama linox pada tahun 1758. Baik jantan dan betina memiliki
kelenjar susu. Karena adanya kelenjar ini hewan dari kelompok mamalia disebut
binatang menyusui. Kelenjar susu yang dikembangkan pada betina mengeluarkan
air susu untuk mereka menyusui anak-anak mereka. Semua hewan dari kelompok
ini adalah vivipar-yaitu, betina tidak bertelur, melainkan melahirkan anak yang
masih muda.Hanya mamalia milik kelompok Prototheria yang bertelur.
a. Rambut Mamalia
Kehadiran

rambut

adalah

salah

satu

ciri

paling

jelas

dari

mamalia.Meskipun tidak sangat luas pada spesies tertentu, seperti paus, rambut
memiliki banyak fungsi penting bagi mamalia.Mamalia ini adalah endotermik
sehingga rambut menyediakan isolasi untuk menahan panas yang dihasilkan oleh
kerja metabolisme dengan menjebak lapisan udara dekat dengan tubuh (Gambar
2).Seiring dengan isolasi, rambut bisa berfungsi sebagai mekanisme sensorik
melalui rambut khusus yang disebut vibrissae, lebih dikenal sebagai kumis.Ini
melekat pada saraf yang mengirimkan informasi tentang sensasi, yang sangat
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
13

berguna untuk mamalia nokturnal atau penggali.Rambut juga dapat memberikan


warna pelindung atau menjadi bagian dari sinyal sosial, seperti ketika rambut
hewan berdiri pada ujung.

b. Kulit Mamalia
Integumen (lapisan penutup) mamalia, atau kulit, termasuk kelenjar
sekresi dengan berbagai fungsi.Kelenjar sebasea menghasilkan lipid campuran
yang disebut sebum yang disekresikan ke rambut dan kulit untuk ketahanan air
dan pelumasan.Kelenjar sebasea ini adalah terletak di atas sebagian besar
tubuh.Kelenjar ekrin memproduksi keringat, atau perspirasi, yang terutama terdiri
dari air. Pada kebanyakan mamalia, kelenjar ekrin ini adalah terbatas pada daerah
tertentu dari tubuh, beberapa mamalia tidak memiliki sama sekali. Namun, pada
primata, khususnya manusia, jumlah keringat menonjol dalam termoregulasi,
mengatur tubuh melalui pendinginan evaporatif.Kelenjar keringat ini adalah
terletak di atas sebagian besar permukaan tubuh pada primata.
c. Kelenjar apokrin mamalia
Kelenjar apokrin, atau kelenjar bau, mengeluarkan zat yang digunakan
untuk komunikasi kimia, seperti dalam sigung. Kelenjar susu menghasilkan susu
yang digunakan untuk memberi makan bayi yang baru lahir. Sementara
monotremata jantan dan euderian memiliki kelenjar susu, marsupial jantan tidak.
Kelenjar susu mungkin memodifikasi kelenjar sebasea atau ekrin, tapi asal usul
evolusi mereka tidak sepenuhnya jelas. Sistem kerangka mamalia memiliki
banyak fitur unik.Rahang bawah mamalia hanya terdiri dari satu tulang, dengan
dentary.Rahang vertebrata lainnya terdiri dari lebih dari satu tulang.Pada mamalia,
tulang dentary bergabung dengan tengkorak di tulang squamosal, sedangkan pada
vertebrata lainnya, tulang kuadratus rahang bergabung dengan tulang artikular
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
14

tengkorak.Tulang-tulang ini hadir pada mamalia, tetapi mereka telah dimodifikasi


untuk berfungsi dalam pendengaran dan membentuk tulang di telinga tengah
d. Telinga Mamalia
Vertebrata lain memiliki hanya satu telinga tulang tengah, tulang
sanggurdi. Mamalia memiliki tiga: maleus, inkus, dan tulang sanggurdi. Maleus
berasal

dari

tulang

artikular,

sedangkan

inkus

berasal

dari

tulang

kuadratus.Susunan rahang dan tulang telinga membantu dalam membedakan fosil


mamalia dari fosil sinapsida lainnya. Otot adduktor yang menutup rahang terdiri
dari dua otot pada mamalia: temporalis dan masseter. Ini memungkinkan sisi ke
sisi gerakan rahang, membuat mengunyah jadi mungkin, yang unik untuk
mamalia.
e. Gigi Mamalia
Sebagian besar mamalia memiliki gigi heterodont, yang berarti bahwa
mereka memiliki jenis dan bentuk gigi yang berbeda daripada hanya satu jenis dan
bentuk gigi. Kebanyakan mamalia diphyodonts, yang berarti bahwa mereka
memiliki dua set gigi dalam hidup mereka: berganti, atau gigi bayi, dan gigi
permanen. Vertebrata lainnya adalah polyphyodonts: gigi mereka diganti
sepanjang seluruh hidup mereka. Mamalia, seperti burung, memiliki jantung
empat bilik (Gambar 3).Mamalia juga memiliki kelompok khusus dari serat
jantung yang terletak di dinding atrium kanan mereka disebut node sinoatrial, atau
alat pacu jantung, yang menentukan tingkat di mana jantung berdetak.Adapun
darah, eritrosit mamalia (sel darah merah) tidak memiliki inti, sedangkan eritrosit
vertebrata lainnya bernukleus.
f. Ginjal Mamalia
Ginjal mamalia memiliki sebagian besar dari nefron yang disebut
lengkung Henle atau lingkaran nefritik, yang memungkinkan mamalia untuk
menghasilkan urin dengan konsentrasi tinggi zat terlarut, lebih tinggi dari darah.
Mamalia tidak memiliki sistem penutup ginjal: sistem pembuluh darah yang
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
15

bergerak dari belakang atau anggota tubuh bagian bawah dan daerah ekor ke
ginjal. Sistem Portal ginjal yang hadir di semua vertebrata lain kecuali ikan tanpa
rahang. Sebuah kandung kemih hadir di semua mamalia.

g. Otak Mamalia
Otak mamalia memiliki karakteristik tertentu yang berbeda dengan
vertebrata lainnya.Pada beberapa, tapi tidak semua mamalia, korteks serebral,
bagian terluar dari otak besar, sangat dilipat, memungkinkan untuk luas
permukaan yang lebih besar daripada yang dimungkinkan dengan dengan korteks
halus. Lobus optik, yang terletak di otak tengah, dibagi menjadi dua bagian pada
mamalia, sedangkan vertebrata lain memiliki satu, lobus yang tak terbagi.
Mamalia Eutherian juga memiliki struktur khusus yang menghubungkan dua
belahan otak, yang disebut korpus kalosum.
3.2.2 Klasifikasi Kelas Mammalia
Mamalia berevolusi dari bentuk reptil sekitar 200 juta tahun yang
lalu.Sekitar 4.400 spesies mamalia ada saat ini.Ukuran bentuk mereka bervariasi
dari 5 cm sampai 31 meter.Di antara semua binatang, mamalia adalah kelompok
yang paling maju dan cerdas. Mamalia telah dibagi menjadi tiga sub-kelompok,
yaitu :
1. Prototheria:
ini adalah sub kelompok mamalia yang kurang berkembang. Dan
mamalia pertama yang berevolusi dari bentuk reptil, oleh karena itu,
mamalia prototheria masih mempertahankan beberapa fitur reptil. Mereka
yang bertelur, meskipun mereka memiliki kelenjar susu. Ketika yang
masih muda yang menetas dari telur, ibu menyusui mereka.Ini adalah
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
16

hewan berdarah dingin. Hari ini, dalam kelompok ini hanya enam spesies
platipus duckbilled dan lima spesies trenggiling berduri atau echidna
berparuh bebek. Tubuhnya ditutupi dengan rambut lembut.Jari-jari kaki
terikat bersama oleh jaring atau membran.Platipus dewasa tidak memiliki
gigi.Tubuh Echidna ditutupi dengan duri runcing.Ia tidak memiliki gigi.
Hewan ini ditemukan di Australia dan Tasmania.
2. Metatheria:
Ini juga merupakan sub kelompok mamalia awal. Tapi hari ini,
hewan-hewan sub-grup ini telah mencapai keadaan perkembangan yang
lebih tinggi.Betina melahirkan sambil mengembangkan anak yang masih
muda.Yang masih muda yang dibesarkan dalam marsupium atau kantong
seperti lipatan kulit di sisi ventral dari betina.Karena hal ini sehingga
mamalia sub-kelompok ini kemudian disebut marsupialia (hewan
berkantung). Mereka tinggal di air susu ibu selama berbulan-bulan.
Mereka ditemukan di Australia dan Amerika Selatan.Kangaroo, Opossum,
Koala, dll adalah hewan dari sub-kelompok ini.
3. Eutheria:
Hewan sub-kelompok ini yang sangat maju dan paling cerdas.Pada
wanita, embrio dan janin dirawat dalam rahim melalui tabung yang disebut
plasenta.Dalam sub-kelompok ini adalah termasuk primata, yaitu, kera dan
manusia.Eutheria adalah sub-divisi menjadi ordo berikut.

Insectivore: ini termasuk tikus, landak, tikus mondok, dll.

Chiroptera: ini adalah hewan nokturnal, yaitu, mereka aktif di malam


hari. Berbagai macam kelelawar termasuk dalam ordo ini.

Edentata: hewan dari ordo ini memiliki gigi belum berkembang. Mereka
memiliki lidah lengket, tipis, panjang dengan bantuan yang mereka
menangkap mangsanya. Dasypur, kukang dll milik ordo ini.
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
17

Pholidota: hewan dari ordo ini memiliki tudung dari pelat keras bagian
atas tubuh mereka. Manusia adalah contoh dari ordo ini.

Rodentia: hewan ini memiliki sepasang gigi seri tajam berbentuk pahat di
setiap rahang mereka. Mereka mengunyah makanan mereka menggunakan
gigi seri. Mereka adalah herbivora. Contoh: tikus, landak, tupai, Weaver,
dll.

Logomorpha: ini adalah hewan pengerat. Mereka juga adalah herbivora.


Contoh: kelinci dan hare.

Karnivora: ordo ini termasuk hewan pemakan daging. Mereka karnivora


memiliki cakar yang kuat dan runcing tajam. Anjing, hyena, musang,
beruang, singa, kucing dll milik ordo hewan.

Perissodactyla: badak dan kuda milik ordo ini. Mereka memiliki kuku di
jari-jari yang aneh seperti 3 atau 5.

Artiodactyla: hewan dari ordo ini memiliki kuku bahkan jumlah jari kaki
seperti 2 atau 4. Jerapah, sapi, dan kambing milik ordo ini.

Proboscidea: berbagai macam gajah raksasa merupakan ordo ini.

Cetacead: mamalia ordo ini ditemukan di laut. Tubuh mereka diadaptasi


untuk hidup di bawah air. Paus dan lumba-lumba milik ordo ini. Blur paus
adalah hewan terbesar di dunia.

Primata: hewan dari ordo ini memiliki lima jari di kaki dan tangan
mereka. Jari-jari mereka memiliki kuku. Mereka memiliki mata di sisi
depan wajah. Mereka memiliki kelenjar susu. Monyet, gorila, simpanse
dan manusia milik ordo ini. Manusia adalah yang paling cerdas di antara
primata. Mereka telah mencapai ketinggian yang besar di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
18

3.2.3 Mamalia Taxidermy


Taxidermy berasal dari bahasa Yunani, taxi adalah perawatan dan
dermy itu dari kata derma yang artinya kulit. Taxidermy ada 2 macam:
1. Taxidermy ilmiah yang sederhana untuk awetan kering, dibua dan
dikeluarkan isi perutnya tanpa merubah karakternya dan diganti bagian
dalam tubuhnya dengan kapas dan untuk ekor menggunakan kawat.
2. Taxidermy dekorasi, badan tiruannya dibuat sedemikian rupa. Yang tidak
bisa diawetkan adalah mata sehingga dibuatlah mata replika harus
kelihatan hidup, bisa dibuat menggunakan kelereng.
Organ dalam hewan-hewan tersebut tidak dibuang tetapi disimpan dan
diawetkan juga menggunakan alkohol 70% lalu awetannya itu akan digunakan
oleh laboratorium lain untuk meneliti parasitnya atau cacingnya dalam
kandungannya. Dulu sebelum awetan keringnya menggunakan bhorax para
peniliti menggunakan arsenik tetapi kemudian arsenik dilarang karena sangat
berbahaya dan beracun. Tetapi bhorax juga masih disalahgunakan untuk
mengawetkan makanan contohnya bakso dan ikan asin yang akan menimbulkan
penyakit kanker. Suatu saat jika ingin melakukan pengawetan kita dapat memakai
serbuk gergaji putih lalu kita tumbuk kapur bharus. Dan untuk kualitas awetan
yang bagus sebaiknya langsung dibuat dilapangan. Fungsi tengkorak mamalia
yang

juga

dipajang

diruang

koleksi

adalah

untuk

memudahkan

kita

mengidentifikasi jenis mamalia tersebut.


3.2.4

Cara Pengawetan Specimen Mamalia

1. Penangkapan mamalia di hutan langsung dibius menggunakan khloroform,


bahan pembiusnya ada yang bersifat sementara seperti formalin
konsentrasi 40% diencerkan dengan 4 liter air menjadi 10% atau 5 liter air
tergantung besar kecil specimen untuk perjalanan jauh sedangkan jika
menggunakan alkohol larutannya harus banyak sehingga 1 liter alkohol
tidak cukup untuk 10 specimen, dalam sehari bisa didapatkan 20 specimen
mamalia. Mamalia kecil yang diambil seperti tikus dan kelelawar
konsentrasinya bisa 8% dan untuk mamalia besar konsentrasinya lebih
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
19

tinggi lagi. Mamalia besar masih banyak yang dilindungi dan hampir
punah sehingga tidak ditangkap hanya dicatat keberadaannya saja. Jika
tidak ada formalin bisa juga dengan alkohol tapi yang konsentrasinya
95%. Kalau menggunakan alkohol 70% yang kadarnya sudah tercampur
dengan air specimennya kadang menjadi busuk karena perjalanan yang
jauh. Selama berada dihutan dalam waktu yang lama selama itu juga
specimennya harus direndam.
2. Setelah ditangkap diukur panjang tubuhnya dan ditimbang, dibelah bagian
perutnya kemudian dikeluarkan isi perutnya lalu bagian tubuhnya yang
berdaging disuntik formalin.
3. Specimen yang akan dibawa dibalut dengan kain kasa atau kapas dikasih
larutan agar sedikit basah jangan terlalu kering setelah itu dimasukkan
kedalam tong lalu ditutup rapat jangan sampai bau larutannya tercium
keluar dikasih plastik sampai 3 lapis.
4. Usahakan jika ingin membuat awetan specimen mamalia jangan sampai
mengalami kebusukan terlebih dahulu.
5. Untuk perawatan awetan kering mamaliayang dijaga adalah suhu 20-23C
dan kelembabannya 55-60%, AC selalu dalam keadaan menyala, tidak
menggunakan oven atau dijemur dibawah panas matahari secara langsung
tapi cukup didalam ruangan dengan suhu normal dan angin-angin karena
dengan adanya sinar langsung dari cahaya matahari ataupun lampu bisa
merusak warna rambut aslinya, contohnya ketika berada dihutan jangan
langsung dijemur dibawah matahari cukup didalam tenda yang kita
bangun saja. Kemudian sampai di laboratorium awetan mamalia tadi
dipisahkan dari lemak dan dagingnya yang masih tersisa menggunakan
pinset, gunting, dan pisau bedah setelah bersih dibalur dengan bhorax
sesudah itu jahit bagian mulut isi dengan kapas lembaran begitu juga
dengan tulang paha depan dan belakang sampai terbentuk seperti bentuk
semula dan bagian ekor dimasukkan kawat dengan balutan kapas agar
ekornya tetap lurus lalu disetiap badannya ditusuk menggunakan jarum
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
20

agar bentuknya tidak berubah saat ditata di ruang koleksi dan didiamkan
paling lama 2 minggu sampai benar-benar kering karena jika masih basah
kulitnya akan tumbuh bakteri.

Gambar 2 Koleksi Kelas Mammalia LIPI Cibinong

Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan


21

BAB VI
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kunjungan yang dilakukan di laboratorium Zoologi LIPI


cibinong yang merupakan lembaga yang mempelopori penelitian dalam
keilmuan fauna dapat disimpulkan bahwa koleksi hewan vertebrata yang
terdapat di laboratorium tersebut sangat lengkap. Dengan jumlah awetan
kelas mammalia 34.656 specimen dan 303 tipe dari 460 jenis mammalia
dan jumlah awetan kelas aves 32.892 spesimen dan 869 tipe dari 1.200

jenis aves.
Kelas Aves merupakan kelompok hewan vertebrata yang berdarah panas
dan tubuh ditutupi oleh bulu. Terbagi menjadi 2 Super Ordo yaitu
Palaeognathae (tidak memiliki gigi dan sayap mereduksi sehingga tidak

dapat terbang) dan Neognathae (dapat terbang dengan baik)


Koleksi Aves yang terdapat di laboratorium Zoologi LIPI cibinong yaitu

awetan kulit, cangkang telur, dan koleksi tulang.


Kelas Mammalia merupakan hewan vertebrata yang berdarah panas, kulit
berbulu, dan memiliki kelenjar susu (disebut juga binatang menyusui).
Terbagi menjadi 3 sub-kelompok yaitu Prothoteria (mammalia pertama
yang berevolusi dari reptil contoh Platipus), Methateria (sudah lebih
berkembang dibandingkan Prothoteria contoh kangoroo), dan Eutheria
(sub-kelompok mammalia yang sangat maju dan paling cerdas contoh kera

dan manusia).
Koleksi specimen Mammalia yang terdapat di laboratorium Zoologi Lipi
Cibinong yaitu specimen awetan basah 70% alkohol dan specimen awetan

kering.
Perawatan untuk specimen kering adalah selalu menjaga ruangan dalam
suhu 20-23C dan kelembaban ruangannya 55-60C. sedangkan perawatan
untuk awetan basah yaitu specimen harus tetap dalam keadaan terendam
Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan
22

oleh alkohol 70% dan cairan tersebut mesti diganti bila sudah terlihat
keruh.
DAFTAR PUSTAKA
Irham, M. 2009. Laboratorium Ornitologi Museum Zoologicum Bogoriense.
http://biologi.lipi.go.id. Diakses tanggal 31 Mei 2016 pada pukul 19.36
WIB
Maharadatunkamsi. 2009. Laboratorium Mammalia Museum Zoologicum
Bogoriense.http://www.biologi.lipi.go.id/bio_bidang/zoo_indonesia/lab_m
ammalia.phpdiakses tanggal 30 Mei 2016 pada pukul 19.46 WIB
Ridwan, Roni. 2014. Aves dan Mammalia. www.slideserve.com. Diakses pada
tanggal 01 Juni 2016 pada pukul 20.19 WIB
Yulia, A. K. 2009. Sejarah Pusat Penelitian Bogor. http://www.biologi.lipi.go.id/.
diakses tanggal 30 Mei 2016 pada pukul 19.30 WIB.

Taksonomi Hewan Vertebrata FMIPA Universitas Pakuan


23