Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PERILAKU PELAJAR ATAU MAHASISWA DALAM KEHIDUPAN


SEHARI - HARI

Di susun oleh :
ARDIYANA TRI C.

Prodi :BK
Mata Kuliah : Dasar dasar Pem. Prilaku

UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL


JL Halmahera km 1 Tegal Kota

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, atas perkenaNya makalah dengan tema Perilaku Pelajar
atau Mahasiswa dalam Kehidupan Sehari - hari telah dapat saya selesaikan, meski dari sisi
waktu agak mengalami keterlambatan dari keinginan.
Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai perilaku pelajar atau mahasiswa dalam kehidupan sehari - hari. Saya
juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini masih banyak kekurangan sehingga
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, dan saran demi perbaikan
makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah ini dapat di pahami oleh orang yang membacanya.Sekiranya saya minta
maaf apabila terjadi kata kata yang kurang berkenan dan terdapat kesalahan dalam penulisan
makalah. Saya memohon kritik dan saran demi perbaikan di masa depan, Untuk itu saya
sampaikan terima kasih.

Tegal, September 2015


Penyusun

DAFTAR ISI
Kata pengantar
Daftar isi..
BAB 1
PENDAHULUAN.
A.Latar Belakang...........
B.Rumusan Masalah..
C.Tujuan

BAB II
PEMBAHASAN
1.Definisi .............................................................................
2.Dasar-dasar ..
3.Macam-macam .................
4.Teori-teori .
5.Fungsi dan Tujuan ...............

BAB III
PENUTUP.
Simpulan
Saran..........
DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Pada dasarnya Lewin dan Deutsch menyampaikan, saling ketergantungan sosial ada
ketika seseorang bersama-sama mencapai tujuan bersama dan hasil setiap individu dipengaruhi
oleh tindakan orang lain. Saling ketergantungan sosial berbeda dengan ketergantungan sosial
(misalnya, hasil tindakan seseorang yang dipengaruhi oleh tindakan orang kedua, tetapi bukan
tindakan yang buruk) dan saling ketergantungan sosial (misalnya tindakan seseorang yang
tidak dipengaruhi oleh tindakan yang lainnya, begitu juga sebaliknya). ada tiga cara di mana
saling
ketergantungan
dapat
disusun
dalam
suatu
situasi,
yaitu:
1. Saling ketergantungan yang positif (misalnya: kerja sama), Ketika sebuah situasi disusun
sehingga tercapainya tujuan individu mempunyai korelasi yang positif, setiap individu
mempunyai keyakinan bahwa tujuan akan tercapai dan tujuan dari anggota yang lain dalam
kelompok juga tercapai. Jadi, setiap individu mencari hasil yang menguntungkan bagi semuanya
dengan siapa mereka bekerja sama.
2. Saling ketergantungan yang negatif (misalnya: persaingan), Ketika sebuah situasi disusun
sehingga tercapainya tujuan individu mempunyai korelasi yang negatif, setiap individu
berkeyakinan bahwa ketika seseorang telah mencapai tujuannya, maka anggota lainnya yang
bersaing akan gagal mencapai tujuannya. Jadi, individu mencari manfaat pribadi, tetapi
mengganggu yang lainnya.
3. Tidak ada saling ketergantungan (misalnya: individualistik), Ketika situasi disusun sehingga
tidak terdapat korelasi antar pencapaian tujuan anggotanya. Jadi, setiap individu mencari manfaat
pribadi tanpa memperhatikan akibatnya bagi orang lain.
Pemikiran dasar teori saling ketergantungan sosial adalah jenis saling ketergantungan yang
disusun dalam situasi yang menentukan bagaimana individu berinteraksi satu sama lain, dimana
pada akhirnya menentukan hasil. Jadi, ketika tujuan individu mempunyai saling ketergantungan
yang positif, tindakannya akan mendorong keberhasilan orang lain.

B.RUMUSAN MASALAH
Adapun masalah yang akan dibahas mengenai pengambilan keputusan Antara lain sebagai
berikut ;
1.Apa saja definisi ........... menurut beberapa ahli?
2.Bagaimana dasar-dasar ............?
3. Apa saja macam-macam .........?
4.Bagaimana teori-teori ..............?
5.Apa saja fungsi dan tujuan .............. tersebut?

C.TUJUAN
-Untuk mengetahui definisi ........... menurut beberapa ahli.
-Untuk mengetahui dasar-dasar ...........
-Untuk mengetahui macam-macam ..............
-Untuk mengeahui teori-teori ...................
-Untuk mengetahui fungsi dan tujuan ...............

BAB II PEMBAHASAN
1. Definisi Keputusan
Pengambilan keputusan sangat penting dalam manajemen dan merupakan tugas utama dari
seorang pemimpin (manajer). Pengambilan keputusan (decision making) diproses oleh
pengambilan keputusan (decision maker) yang hasilnya keputusan (decision).
Defenisi-defenisi Pengambilan Keputusan Menurut Beberapa Ahli adalah sebagai berikut :
G. R. Terry
Pengambilan keputusan dapat didefenisikan sebagai pemilihan alternatif kelakuan tertentu dari
dua atau lebih alternatif yang ada.
Harold Koontz dan Cyril ODonnel
Pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif mengenai sesuatu cara
bertindakadalah inti dari perencanaan. Suatu rencana dapat dikatakan tidak ada, jika tidak ada
keputusan suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.
Theo Haiman
Inti dari semua perencanaan adalah pengambilan keputusan, suatu pemilihan cara bertindak.
Dalam hubungan ini kita melihat keputusan sebagai suatu cara bertindak yang dipilih oleh
manajer sebagai suatu yang paling efektif, berarti penempatan untuk mencapai sasaran dan
pemecahan masalah.
Drs. H. Malayu S.P Hasibuan
Pengambilan keputusan adalah suatu proses penentuan keputusan yang terbaik dari sejumlah
alternative untuk melakukan aktifitas-aktifitas pada masa yang akan datang.
Chester I. Barnard
Keputusan adalah perilaku organisasi, berintisari perilaku perorangan dan dalam gambaran
proses keputusan ini secara relative dan dapat dikatakan bahwa pengertian tingkah laku
organisasi lebih penting dari pada kepentingan perorangan.

2. Dasar-Dasar Ketergantungan
Dasar pengambilan keputusan (decision making) yang dilakukan oleh Manajer (decision maker)
biasanya didasarkan atas :
a. Keyakinan
Manajer (decision maker) dalam pengambilan keputusannya didasarkan atas keyakinan bahwa
keputusan (decision) inilah yang terbaik setelah diperhitungkan dan di analisis faktor faktor
internal dan eksternal serta dampak positif dan negatif dari keputusan tersebut.
b. Intuisi
Manajer dalam pengambilan keputusan didasarkan atas suara hati (intuisi) nya, bersifat ilham
dan perasaan perasaan (good feeling)-nya. Pengambilan keputusan secara intuisi biasanya
mengandalkan naluri, perasaan pribadi, kemampuan mental, tetapi setiap situasi dihadapinya
dengan sikap realistis dan memutuskannya menurut perasaan saja.
c. Fakta- fakta
Pengambilan keputusan didasarkan atas hasil analisis data, informasi dan fakta fakta, serta
didukung oleh kemampuan imajinasi, pengalaman,perspektif yang tepat dan daya pikir untuk
mengimplementasikan situasi dan kondisi masa depan.
d. Pengalaman
Manajer dalam pengambilan keputusannya didasarkan pada pengalamannya dan pengalaman
pihak-pihak lain.
e. Kekuasaan
Decision maker dalam pengambilan keputusan (decision making) harus berpedoman atas
kekuasaan (authority) yang dimilikinya, supaya keputusan itu sah dan legal untuk diberlakukan.
Hal ini didasarkan karena authority merupakan dasar hukum untuk bertindak dan berbuat
sesuatu.

3. Macam-Macam Kepercayaan
Keputusan jika dikaji dari proses pengambilan keputusan dikenal atas Keputusan Auto
Generated dan Keputusan Induced.

a. Keputusan Auto Generated


Keputusan macam ini, adalah keputusan yang diambil dengan cepat dan kurang memperhatikan,
mempertimbangkan data,informasi, fakta, dan lapangan keputusannya. Keputusan auto generated
ini biasa diambil dalam keadaan darurat. Sehingga, dikatakan bahwa keputusan auto generated
ini kurang baik, sebab resikonya besar. Tapi jika seorang decision maker dapat melakukan dan
berhasil baik maka pemimpin tersebut akan cepat maju.
b. Keputusan Induced
Keputusan induced diambil berdasarkan scientific management atau manajemen ilmiah,
sehingga keputusan itu logis, ideal, rasional untuk dilaksanakan dan resikonya relatif kecil.
Namun proses pengambilan keputusannya lebih lama. Walaupun demikian pada dasarnya tujuan
kedua macam keputusan itu sama, yakni untuk mencapai hasil yang baik dan resiko yang
sekecilkecilnya.
Sedangkan menurut para pakar manajemen dan teori organisasi, pembuatan keputusan dibagi
kedalam dua kategori : keputusan yang terprogram/ terstruktur dan keputusan tidak terprogram/
tidak terstruktur. Untuk jenis keputusan kedua, terdapat beberapa istilah yang sering
dipergantikan, yaitu : keputusan dinamis, keputusan atas tekanan konflik dan keputusan yang
tidak dirancang. Tipe keputusan ini pada umumnya mengikuti tipe masalah yang dihadapi.

4.Teori Ketergantungan sosial


1.Teori Rasional Komprehensif
Teori pengambilan keputusan yang paling dikenal dan mungkin pula yang banyak diterima oleh
kalangan luas ialah teori rasional komprehensif. Unsur-unsur utama dari teori ini dapat
dikemukakan sebagai berikut :
Pembuat keputusan dihadapkan pada suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan dari masalahmasalah lain atau setidaknya dinilai sebagai masalah-masalah yang dapat diperbandingkan satu
sama lain.
Tujuan, nilai-nilai yang mempedomani pembuat keputusan amat jelas dan dapat ditetapkan
rangkingnya sesuai dengan urutan kepentingannya. Berbagai altenatif untuk memecahkan
masalah tersebut diteliti secara seksama.Akibat yang ditimbulkan oleh setiap altenatif yang
diteliti.Setiap alternatif dan masing-masing akibat yang menyertainya,dapat diperbandingkan
dengan alternatif-altenatif lainnya.Pembuat keputusan akan memilih alternatif dan akibatakibatnya yang dapat memaksimasi tercapainya tujuan, nilai atau sasaran yang telah digariskan.
Teori rasional komprehensif banyak mendapatkan kritik yang paling tajam berasal dari seorang
ahli Ekonomi dan Matematika Charles Lindblom (1965 , 1964 1959) Lindblom secara tegas
menyatakan bahwa para pembuat keputusan itu sebenarnya tidaklah berhadapan dengan
masalah-masalah yang konkrit dan terumuskan dengan jelas.
Lebih lanjut, pembuat keputusan kemungkinan juga sulit untuk memilah-milah secara tegas
antara nilai-nilainya sendiri dengan nilai-nilai yang diyakini masyarakat. Asumsi penganjur
model rasionar bahwa Fntara fakta-fakta dan nilai-nilai dapat dengan mudah dibedakan, bahkan
dipisahkan, tidak pemah terbukti dalam kenyataan sehari-hari. Akhirnya, masih ada masalah
yang disebut ,,sunk_cost,,. Keputusan_-keputusan, kesepakatan-kesepakatan dan investasi
terdahulu dalam kebijaksanaan dan program-program yang ada sekarang kemungkinan akan
mencegah pembuat keputusan untuk membuat keputusan yang berbeda sama sekali dari yang
sudah ada.
2. Teori Inkremental
Teori inkremental dalam pengambilan keputusan mencerminkan suatu teori pengambilan
keputusan yang menghindari banyak masalah yang harus dipertimbangkan (seperti daram teori
rasional komprehensif) dan, pada saat yang sama, merupakan teori yang lebih banyak
menggambarkan cara yang ditempuh oleh pejabat-pejabat pemerintah dalam mengambil
kepurusan sehari-hari.
Pokok-pokok teori inkremental ini dapat diuraikan sebagai berikut:

Pemilihan tujuan atau sasaran dan analisis tindakan empiris yang diperlukan untuk mencapainya
dipandang sebagai sesuatu hal yang saling terkait daripada sebagai sesuatu hal yang saling
terpisah.

Pembuat keputusan dianggap hanya mempertimbangkan beberapa altematif yang langsung


berhubungan dengan pokok masalah dan altematif-alternatif ini hanya dipandang berbeda secara
inkremental atau marginal bila dibandingkan dengan kebijaksanaan yang ada sekarang.
Masalah yang dihadapi oleh pembuat keputusan akan didedifinisikan secara terarur. Pandangan
inkrementalisme memberikan kemungkin untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan tujuan
dan sarana serta sarana dan tujuan sehingga menjadikan dampak dari masalah itu lebih dapat
ditanggulangi.
Bahwa tidak ada keputusan atau cara pemecahan yang tepat bagi tiap masalah. Batu uji bagi
keputusan yang baik terletak pada keyakinan bahwa berbagai analisis pada akhirnya akan
sepakat pada keputusan tertentu meskipun tanpa menyepakati bahwa keputusan itu adalah yang
paling tepat sebagai sarana untuk mencapai tujuan.
Pembuatan keputusan yang inkremental pada hakikatnya bersifat perbaikan-perbaikan kecil dan
hal ini lebih diarahkan untuk memperbaiki ketidaksempunaan dari upaya-upaya konkrit dalam
mengatasi masalahsosial yang ada sekarang daripada sebagai upaya untuk menyodorkan tujuantujuan sosial yang sama sekali baru di masa yang akan datang.
Keputusan-keputusan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan pada hakikatnya merupakan produk dari
saling memberi dan menerima dan saling percaya di antara berbagai pihak yang terlibat dalam
proses keputusan tersebut. Dalam masyarakat yang strukturnya majemuk paham lnkremental ini
secara politis lebih aman karena akan lebih gampang untuk mencapai kesepakatan apabila
masalah-masalah yang diperdebatkan oleh berbagai kelompok yang terlibat hanyalah bersifat
upaya untuk memodifikasi terhadap program-program yang sudah ada daripada jika hal tersebut
menyangkut isu-isu kebijaksanaan mengenai perubahan-perubahan yang radikal yang memiliki
sifat ambil semua atau tidak sama sekali.
Karena para pembuat keputusan itu berada dalam keadaan yang serba tidak pasti khususnya yang
menyangkut akibat-akibat dari tindakan-tindakan mereka di masa datang, maka keputusan yang
bersifat inkremental ini akan dapat mengurangi resiko dan biaya yang ditimbulkan oleh suasana
ketidakpastian itu Paham inkremental ini juga cukup rcalistis karena ia menyadari bahwa para
pembuat keputusan sebenamya kurang waktu, kurang pengalaman dan kurang sumber-sumber
lain yang diperlukan untuk melakukan analisis yang komprehensif terhadap semua altematif
untuk memecahkan masalah-masalah yang ada.

3. Teori Pengamatan Terpadu (Mixed Scanning Theory)


Penganjur teori ini adalah ahli sosiologi organisasi Amitai Etzioni. Etzioni setuju terhadap kritikkritik para teoritisi inkremental yang diarahkan pada teori rasional komprehensif, akan tetapi ia
juga menunjukkan adanya beberapa kelemahan yang terdapat pada teori inkremental. Misalnya,
keputusan-keputusan yang dibuat oleh pembuat keputusan penganut model inkremental akan
lebih mewakili atau mencerminkan kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang kuat
dan mapan serta kelompok-kelompok yang mampu mengorganisasikan kepentingannya dalam
masyarakat, sementara itu kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang lemah dan
yang secara politis tidak mampu mengorganisasikan kepentingannya praktis akan terabaikan.
Lebih lanjut dengan memusatkan perhatiannya pada kepentingan/tujuan jangka pendek dan
hanya berusaha untuk memperhatikan variasi yang terbatas dalam kebijaksanaan-kebijaksanaan
yang ada sekarang, maka model inkremental cenderung mengabaikan peluang bagi perlunya
pembaruan sosial (social inovation) yang mendasar
Oleh karena itu, menurut Yehezkel Dror (1968) gaya inkremental dalam pembuatan keputusan
cenderung menghasilkan kelambanan dan terpeliharanya status quo, sehingga merintangi upaya
menyempurnakan proses pembuatan keputusan itu sendiri. Bagi sarjana seperti Dror yang pada
dasamya merupakan salah seorang penganjur teori rasional yang terkemuka model
inkremental ini justru dianggapnya merupakan strategi yang tidak cocok untuk diterapkan di
negara-negara sedang berkembang, sebab di negara-negara ini perubahan yang kecil-kecilan
(inkremental) tidaklah memadai guna tercapainya hasil berupa perbaikan-perbaikan besarbesaran.
Model pengamatan terpadu juga memperhitungkan tingkat kemampuan para pembuat keputusan
yang berbeda-beda. Secara umum dapat dikatakan, bahwa semakin besar kemampuan para
pembuat keputusan untuk memobilisasikan kekuasaannya guna mengimplementasikan
keputusan-keputusan mereka, semakin besar keperluannya untuk melakukan scanning dan
semakin menyeluruh scanning itu, semakin efektif pengambilan keputusan tersebul Dengan
demikian, moder pengamatan terpadu ini pada hakikatnya merupakan pendekatan kompromi
yang menggabungkan pemanfaatan model rasional komprehensif dan moder inkremental dalam
proses pengambilan keputusan.
5. Fungsi Dan Tujuan Kepercayaan
Fungsi dan tujuan pengambilan keputusan
1.

Fungsi pengambilan keputusan

Pengambilan keputusan sebagai suatu kelanjutan dari cara pemecahan masalah mempunyai
fungsi antara lain:
a.
Pangkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah baik secara
individual maupun secara kelompok, baik secara lnstitusional maupun secara organisasional.
b.
Sesuatu yang bersifat futuristic, artinya menyangkut dengan hari depan/masa yang akan
dating, dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.

2. Tujuan Pengambilan Keputusan


Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam organisasi itu dimaksudkan untuk mencapai tujuan
organisasinya yang dimana diinginkan semua kegiatan itu dapat berjalan lancer dan tujuan dapat
dicapai dengan mudah dan efisien. Namun, kerap kali terjadi hambatan-hambatan dalam
melaksanakan kegiatan. Ini merupakan masalah yang hatus dipecahkan oleh pimpinan
organisasi. Pengambilan keputusan dimaksudkan untuk memecahkan masalah tersebut.

6. Teknik Teknik Pengambilan Keputusan


Seorang manajer dalam pengambilan keputusan dapat melakukannya dengan teknik-teknik
sebagai berikut :
a.Operation Research
Yaitu dengan penggunaaan metode scientific (yang meliputi teknik-teknik matematis) dalam
analisis dan pemecahan masalah tertentu.
b. Linear Programming
Yaitu dengan menggunakan rumus-rumus matematik yang disebut juga vector analysis.
c. Gaming War Games
Yaitu dengan teori yang biasanya digunakan untuk menentukan strategi.

d. Probability
Yaitu dengan teori kemungkinan yang dapat diterapkan pada kalkulasi Rasional atas hal-hal yang
tidak normal, mengenai sebuah keputusan yang dipertimbangkan dan diperhitungkan.

e. Ranking and Statistical Weighting


Yaitu dengan cara : Melokalisasi berbagai faktor yang akan mempengaruhi keputusan terakhir
Menimbang faktor faktor yang dapat dibandingkan dan yang tercakup dalam setiap alternatif.

BAB III
PENUTUP
A.

Simpulan

Pengambilan keputusan merupakan proses pemilihan tindakan tertentu dari suatu masalah dan
keputusan. Suatu masalah adalah ketidak sesuain antara keadaan saat ini dengan keadaan yang
diinginkan yang memerlukan pertimbangan dan tindakan cepat.
Pengambilan keputusan disebut juga sebagai ilmu dan seni. Dimana manajemen sebagai ilmu
karena aktivitas tersebut memiliki cara, metode, atau pendekatan tertentu yang bersifat
sistematis, teratur dan terarah. Sedangkan manajemen sebagai seni karena kegiatan tersebut
selalu dihadapkan pada sejumlah peristiwa yang memiliki karakteristik keunikan tersendiri.
Terdapat beberapa teori pengambilan keputusan yang dianggap paling sering dibicarakan dalam
berbagai kepustakaan kebijakan negara diantaranya ; Teori Rasional Komprehensif, Teori
Inkremental, Teori Pengamatan Terpadu (Mixed Scanning Theory).
B.

Saran

-Gunakanlah makalah ini dengan sebaik-baiknya.


-Jadikanlah makalah ini sebagai media pembelajaran dalam mengambil suatu keputusan.
-Seorang pemimpin hendaknya memperhatikan teknik-teknik dalam mengambil suatu keputusan.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyono.2011. Teori Pengambilan Keputusan, http:// Mulyono.Blogspot.com,diaksek 30 April
2011.
Anneahira.2011.Pengambilan Keputusan. Hhtp://Anneahira.Blogspot.com,diakses 30 April 2011.
Fahmi, Irham. 2013. Manajemen Kepemimpinan. Bandung: Alfabeta
S.P. Hasibuan, Malayu. 2007. Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah. Jakarta
PT. Bumi Aksara.
B.Siswanto. 2012. Pengantar Manajemen. Jakarta: PT. Bumi Aksara..