Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH KERUSAKAN EKOSISTEM HUTAN DAN

PENANGGULANGANNYA SECARA PREVENTIF DAN


KURATIF

Disusun oleh :
Claudia Juliastutie (082001300011)
Jodi Irawan (082.12.035)
Rehan Satriawan (082.12.049)
Irma Susanti Sitorus (082.12.059)

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS ARSITEKTUR LANSEKAP DAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan merupakan sumber daya alam yang tidak ternilai karena di dalamnya terkandung
keanekaragaman hayati sebagai sumber sumber hasil hutan kayu dan non-kayu, pengatur tata
air, pencegah banjir dan erosi serta kesuburan tanah, perlindungan alam hayati untuk
kepentingan ilmu pengetahuan, kebudayaan, rekreasi, pariwisata dan sebagainya. Pemanfaatan
hutan dan perlindungannya telah diatur dalam UU No. 5 tahun 1990, UU No 23 tahun 1997,
UU No. 41 tahun 1999, PP No 28 tahun 1985 dan beberapa keputusan Menteri Kehutanan serta
beberapa keputusan Dirjen PHPA dan Dirjen Pengusahaan Hutan. Namun gangguan terhadap
sumber daya hutan terus berlangsung bahkan intensitasnya makin meningkat.
Kerusakan hutan seperti kebakaran hutan, penebangan liar dan lainnya merupakan salah
satu bentuk gangguan yang semakin sering terjadi. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh
kerusakan hutan cukup besar mencakup kerusakan ekologis, menurunnya keanekaragaman
hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah, terjadinya tanah longsor dan
banjir, perubahan iklim mikro maupun global, dan asap dari kebakaran hutan mengganggu
kesehatan masyarakat serta mengganggu transportasi baik darat, sungai, danau, laut dan udara.
Gangguan asap karena kebakaran hutan Indonesia akhir-akhir ini telah melintasi batas negara
seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Berbagai upaya pencegahan dan perlindungan kebakaran hutan dan penebangan liar telah
dilakukan termasuk mengefektifkan perangkat hukum (undang-undang, PP, SK Menteri hingga
Dirjen), namun belum memberikan hasil yang optimal malah intensitas kebakaran hutan makin
sering terjadi dan penyebarannya semakin luas. Oleh karena itu perlu pengkajian yang
mendalam untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan penebangan liar yang
tidak di inginkan.
1.2 Rumusan Masalah
Beberapa rumusan masalah yang akan dibahas pada masalah ini adalah sebagai berikut :
1.

Apa saja penyebab kerusakan hutan ?

2.

Apakah pengaruh kerusakan hutan tehadap ekosistem lingkungan ?

3.

Bagaimana cara penanggulangan terhadap kerusakan hutan ?

1.3 Tujuan
Beberapa tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.

Mengetahui penyebab kerusakan yang terjadi

2.

Mengetahui pengaruh kerusakan hutan terhadap ekosistem lingkungan sekitarnya

3.

Mengetahui cara menanggulangi kerusakan hutan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Hutan
Secara umum hutan adalah suatu wilayah yang memiliki banyak tumbuh-tumbuhan lebat
yang berisi pepohonan, paku-pakuan, rumput, jamur, dan lain sebagainya serta menempati
daerah yang cukup luas. Sedangkan, menurut UU Nomor 41 Tahun 1999 Pasal 1 Ayat 1 hutan
adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang
didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungan, yang satu dengan yang lainnya
tidak dapat dipisahkan.
Pada eksistensinya hutan merupakan sub-ekosistem global yang memnempati peran
penting sebagai paru-paru dunia (Zain, 1996). Senada dengan itu, Radon (2009) menjelaskan
hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan
lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah yang luas di dunia dan berfungsi
sebagai penampung karbon dioksida, habitat hewan, serta pelestari tanah, dan merupakan salah
satu aspek biosfera bumi yang paling penting.
2.2 Peran Hutan Terhadap Lingkungan
Hutan bukanlah warisan nenek moyang tetapi merupakan pinjaman anak cucu kita yang
harus dilestarikan. Hutan memiliki fungsi yang penting bagi kehidupan manusia diantaranya
sebagai berikut :
1. Pelestarian plasma nutfah
Plasma nutfah merupakan bahan baku penting untuk pembangunan di masa depan,
terutama di bidang pangan, sandang, papan, obat-obatan, dan industry.
2. Penahan dan penyaring partikel padat di udara
Dimana partikel debu yang melayang di udara akan sebagian terjerap pada permukaan
daun, khususnya daun yang berbulu atau memiliki permukaan yang kasar kemudian
sebagian lagi masuk ke dalam stomata.
3. Penyerap partikel timbal dan debu semen
4. Peredam kebisingan
Pohon dapat meredam suara dan menyerap kebisingan hingga 95% dengan mengabsorpsi
gelombang suara oleh daun, cabang, dan ranting.
5. Mengurangi bahaya hujan asam
Pohon dapat membantu dalam mengatasi dampak negatif hujan asam melalui proses
fisiologis tanaman yang disebut proses gutasi. Dengan adanya proses ini akan sangat

membantu untuk menaikkan pH sehingga air hujan menjadi tidak begitu berbahaya lagi
bagi lingkungan.
6. Penyerap karbon monoksida
Mikroorganisme dan tanah pada lantai hutan dapat menyerap gas dari udara yang
konsentrasi awalnya sebesar 120 ppm menjadi hamper mendekati nol hanya dalam waktu 3
jam.
7. Penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen
8. Penahan angin
9. Penyerap dan penapis bau
10. Mengatasi penggenangan
11. Produksi terbatas
Hutan memiliki fungsi intangible juga tangible. Contohnya sebanyak 490 pohon mahoni di
hutan kota Sukabumi dilelang. Penanaman dengan tanaman yang menghasilkan biji atau
buah yang dapat dipergunakan untuk berbagai macam keperluan masyarakat dapat
meningkatkan taraf gizi dan penghasilan masyarakat.
12. Pelestarian air tanah
13. Penapis cahaya silau
14. Mengurangi stress dan meningkatkan pariwisata
2.3 Penyebab Kerusakan Hutan
A. Kebakaran hutan
Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama
kebakaran hutan adalah faktor manusia yang berawal dari permasalahan sebagai
berikut:
Sistem perladangan tradisional yang sering berpindah-pindah
Perladangan berpindah merupakan upaya pertanian tradisional di kawasan hutan
dimana pembukaan lahannya selalu dilakukan dengan cara pembakaran karena
cepat, murah, dan praktis (Dove, 1988)

Pembukaan lahan hutan oleh para pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH)

untuk industri
Karena mencakup lahan yang cukup luas, maka metode pembukaan lahan dengan
cara tebang habis dan pembakaran merupakan alternatif yang paling murah, mudah,
dan cepat.
Kombinasi antara kemiskinan, kebijakan pembangunan dan tata pemerintahan,
sehingga menimbulkan konflik antara hukum adat dan hukum positif negara.
B. Penebangan hutan secara sembarangan

C. Penegakan hukum yang lemah


Karena lemahnya penegakan hukum, orang-orang upahan perusahaan besar dalam
negeri maupun luar negeri yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup sehariharilah yang harus bertanggung jawab. Kejahatan seprti ini sering juga melibatkan
aparat pemerintahan berwenang yang seharusnya menjadi benteng pertahanan untuk
menjaga kelestarian hutan seperti polisi kehutanan dan dinas kehutanan. Keadaan ini
sering menimbukan tidak adanya koordinasi yang maksimal antara kepolisian,
kejaksaan dan pengadilan sehingga banyak kasus yang tidak dapat diungkap.
D. Mentalitas manusia
Karena manusia memposisikan dirinya sebagai pihak yang dominan, maka
keputusan dan tindakan yang dilaksanakan hanya memikirkan kepentingan sekarang
daripada masa yang akan datang. Akhirnya hutan pun hanya dianggap sebagai sumber
penghasilan yang dapat dimanfaatkan dengan sesuka hati.
2.4 Akibat Kerusakan Hutan
Kerusakan hutan akan menimbulkan beberapa dampak negatif yang besar, antara lain :
1) Efek rumah kaca (Green house effect)
Berkurangnya hutan dan meningkatnya pemakaian energi fosil (minyak, batubara, dll)
akan menyebabkan kenaikan gas CO 2 di atmosfir yang menyelubungi bumi seperti suatu
lapisan kaca. Jika berlangsung terus-menerus, suhu bumi akan meningkat dan nantinya
akan menyebabkan mencairnya es di kutub sehingga permukaan air laut akan meninggi.
2) Kerusakan lapisan ozon
Karena meningkatnya pembuangan zat-zat kimia langsung ke udara, lapisan ozon akan
berlubang dan nantinya ukuran lubang pada ozon tersebut akan semakin membesar. Melalui
lubang tersebu, sinar UV akan langsung sampai ke bumi sehingga dapat menyebabkan
kanker kulit dan kerusakan tanaman.
3) Kepunahan spesies
Departemen Kehutanan mengumumkan bahwa setiap harinya Indonesia kehilangan
satu spesies hewan dan tanaman serta kehilangan hampir 70% habitat alami pada sepuluh
tahun terakhir.
4) Terganggunya siklus air
Pohon memiliki peranan yang penting dalam siklus air, yaitu menyerap curah hujan
serta menghasilkan uap air yang nantinya akan dilepaskan ke atmosfir. Semakin sedikit
jumlah pohon yang ada di bumi, berarti kandungan air di udara yang nantinya akan
dikembalikan ke tanah dalam bentuk hujan juga sedikit.
Nantinya, hal tersebut dapat menyebabkan tanah menjadi kering sehingga sulit bagi
tanaman untuk hidup. Dengan semakin berkurangnya jumlah pohon-pohon yang ada di

hutan akibat kegiatan deforestasi, maka hutan tidak bisa lagi menjalankan fungsinya dalam
menjaga tata letak air.
5) Banjir dan erosi tanah
Dengan tiadanya pohon, maka pada saat musim hujan tanah tidak bisa menyerap
dengan baik tumpahan air hujan dan mengakibatkan besarnya laju aliran air di permukaan,
yang pada akhirnya akan terjadi banjir bandang. Selain itu, air hujan dapat mengangkut
partikel-partikel tanah sehingga menimbulkan erosi atau tanah longsor.
2.5 Penanggulangan Kerusakan Hutan
Beberapa solusi untuk menanggulangi dampak dari kerusakan hutan, yaitu :
1. Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul
Melalui reboisasi hutan akan kembali lestari dan mengembalikan ekosistemnya.
Melalui reboisasi hutan akan menampung banyak air, hewan hutan akan kembali berseri
menyaksikan rumahnya dibangun kembali, udara sejuk menghasilkan oksigen yang dihirup
oleh masyarakat disekitar hutan, banjir dan longsor akan berkurang. Tetapi semua ini
memerlukan waktu puluhan tahun untuk mendapatkannya. Karena proses pertumbuhan
hutan sangat lama.
2. Metode sistem tebang pilih
Artinya, pohon yang ditebang adalah pohon yang sudah tua dengan ukuran tertentu
yang telah ditentukan.
3. Metode sistem tebang tanam

4. Reforestasi
Reforestasi adalah upaya pembentukan kembali tutupan hutan tipe apa saja pada lahan
yang sudah bukan merupakan hutan lagi. Upaya resforestasi umumnya dilakukan pada
kawasan hutan industri.
5. Upaya restorasi
Upaya restorasi merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan dan memperbaiki
kondisi ekosistem hutan sebagai habitat bagi berbagai keragaman hayati yang terkandung
di dalamnya (Elliot et al, 1995). Upaya restorasi mencakup berbagai bentuk kegiatan
rehabilitasi hutan dengan berbagai tujuan objektif yang berbeda seperti perkebunan, agroforestri, hutan kemasyarakatan dan sebagainya.
6. Remediasi

Remediasi merupakan proses perbaikan atau membuat kondisi ekosistem menjadi baik
kembali. Remediasi lebih menekankan kepada proses yang dilakukan daripada pencapaian
akhirnya.
7. Rehabilitasi
Rehabilitasi merupakan tindakan mengembalikan kondisi sesuatu yang rusak ke
keadaan seperti sebelumnya yang lebih baik. Rehabilitasi ini mendekati tujuan yang
diharapkan oleh proses restorasi.

BAB III
KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan yang diperoleh dari makalah ini, yaitu :
1) Terdapat empat hal yang menjadi penyebab terjadinya kerusakan hutan,
yaitu kebakaran hutan, kurangnya mentalitas, penebangan hutan secara
sembarangan, dan lemahnya penegakan hukum.
2) Pengaruh kerusakan hutan terhadap lingkungan adalah terjadinya efek gas
rumah kaca, meningkatnya kerusakan lapisan ozon, kepunahan spesies,
terganggunya siklus air, banjir, dan erosi tanah

3) Cara-cara untuk menanggulangi kerusakan hutan sebagai berikut, yaitu melalui


reboisasi, metode tebang pilih, metode tebang-tanam, reforestasi, upaya
restorasi, remediasi, dan rehabilitasi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1999. Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Kantor
Menteri Negara Sekretaris Negara Republik Indonesia. Jakarta
Badudu J.S dan Zain, Sutan Mohammad. (1996). Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Darusman,

I.N.

2013.

Kerusakan

Hutan,

Masalah,

Dampak

dan

Penanggulangannya. Makassar
Dove, Michael R. 1988. Sistem Perladangan Di Indonesia, Suatu Studi-Kasus dari
Kalimantan Barat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

http://consecol.blogspot.com/2010/08/restorasi-ekosistem.html
Minggu, 20 Maret 2016)

(diakses

pada