Anda di halaman 1dari 12

HUKUM & ETIKA JURNALISTIK

Plagianisme Dalam Media Massa Online


Dosen Pengampu : Drs. Joko Suryono, M.Si

Oleh :
MUHAMMAD ARIF NURROHIM
NIM. 1350700038

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA
SUKOHARJO
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa, karena atas petunjuk,
taufiq dan hidayahNya, penyusunan makalah dengan judul PLAGIANISME DALAM
MEDIA MASSA ONLINE ini dapat terselesaikan.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini tidak dapat terselesaikan dengan baik dan
benar tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan
ini penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Drs. Joko Suryono, M.Si
selaku dosen pengampu mata kuliah Hukum & Etika Jurnalistik yang telah membimbing
penyusun, dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penyusun juga menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan saran dan
kritik dari pembaca. Harapan penyusun semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca
pada umumnya dan bagi penyusun pada khususnya.

Sukoharjo, 14 April 2016

Muhammad Arif Nurrohim

Halaman 2 dari 12

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................

ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................

iii

BAB I
LATAR BELAKANG.......................................................................................

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kode Etik Jurnalistik.............................................................................

B. Defisnis Plagiat.....................................................................................

C. Faktor Penyebab Pelanggaran Kode Etik Jurnalistik............................

D. Media Online........................................................................................

E. Media Baru............................................................................................

F. Plagiarisme Yang Dilakukan Oleh Jurnalis Media Online....................

BAB III
KESIMPULAN.................................................................................................

11

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................

12

Halaman 3 dari 12

BAB I
LATAR BELAKANG
Pada era saat ini kebutuhan masyarakat akan informasi sudah bisa di sejajarkan
dengan kebutuhan pokok. Dengan hadirnya perkembangan teknologi yang semakin pesat,
semakim memudahkan masyarakat memperoleh informasi dengan cepat. Hal ini juga
dimanfaatkan oleh berbagai media massa dalam perannya menyampaikan infomasi, edukasi,
opini dan ilmu pengetahuan kepada pembacanya. Dalam mencukupi kebutuhan khalayak
tersebut, media massa umumnya selalu aktif dalam memproduksi informasi yang cepat,
hangat dan orisinil. Media massa pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kategori yakni
media massa cetak dan media massa elektronik. Media massa elektronik sendiri yang
semulanya hanya ada 2 (dua) jenis yaitu media massa televisi dan media massa radio dengan
kemajuan teknoligi berpadu dan bersinergi sehingga memunculkan media massa baru yaitu
media massa online.
Media massa online memiliki peran dalam memajukan peradaban masyarakat yang
kian pesat karena tak luput dari peran teknologi komunikasi yang serba canggih. Bahkan tak
jarang kecanggihan tersebut disalah gunakan, sehingga media massa memiliki dua peranan
yakni memperburuk sisi kemanusiaan seseorang (dehumanisasi) atau memperkuat dan
menajamkan sence of humanity (humanisasi). Bisa diartikan bahwa perkembangan teknologi
yang sangat pesat ini tidak selamanya membawa dampak positif tetapi juga membawa
dampak negatif. Salah satu dampak negatif itu adalah praktik plagiat yang marak terjadi di
kalangan masyarakat pada umumnya dan kalangan pembuat berita (jurnalis) khususnya.
Perkembangan media Online serta perkembangan teknologi memberi kesempatan
terjadinya plagiat oleh masyarakat umumnya bahkan dikalangan jurnalis pada khusunya. Saat
ini permasalahan tentang praktik plagiat sudah merajalela dan sulit untuk mengetahui apakah
seseorang itu melakukan plagiat atau tidak dalam mengerjakan suatu karya bentuk
plagiarisme yang terjadi bukan hanya plagiarisme isi atau tulisan, namun yang juga marak
terjadi dalam dunia jurnalistik yaitu plagiarism gambar atau foto. Permasalahan tentang
praktik plagiat dibutuhkan perhatian yang serius, karena selama ini belum ada tindakan yang
serius dalam mengatasi kasus plagiat seperti UU (undang-undang) yang mengatur, sehingga
plagiat masih sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari.

Halaman 4 dari 12

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kode Etik Jurnalistik
Pers atau wartawan, meski memiliki kebebasan dalam menjalankan tugasnya telah
dijamin oleh undang-undang, tetapi memiliki batasan-batasan dan aturan-aturan yang
mengatur agar kegiatannya tidak ada pihak yang merasa dirugikan, mengancam persatuan
bangsa serta bertentangan dengan semangat dalam menegakan hak asasi manusia (HAM),
karena bagaimanapun, wartawan atau pers harus tetap menjunjung tinggi norma yang
berlaku dalam suatu masyarakat.
Meskipun kebebasan pers dijamin undang-undang, namun tidak ada satupun surat
kabar atau majalah, bahkan media massa yang bebas melakukan suatu kesalahan,
kejahatan, atau penghinaan dan pencemaran nama terhadap seseorang, kelompok,
organisasi, atau instansi tertentu, baik disengaja maupun tidak, karena kelalaian (Shadang
2004:205).
Kode etik pada dasarnya dibuat untuk mengawasi, melindungi, sekaligus
membatasi kerja sebuah profesi, termasuk profesi sebagai wartawan. Guru besar
komunikasi Universitas Indonesia, M. Alwi Dahlan (Sukardi, 2007:25) menyebutkan lima
manfaat kode etik, diantaranya :
1. Melindungi keberadaan seorang profesional dalam berkipra di bidangnya;
2. Melindungi masyarakat dari mal praktek oleh praktisi yang kurang profesional;
3. Mendorong persaingan sehat antar praktisi;
4. Mencegah kekurangan antar rekan profesi;
5. Mencegah manipulasi informasi oleh narasumber.
B. Definisi Plagiat
Dalam kamus bahasa Indonesia (2008:1993) Plagiat atau plagiarisme internet
adalah penciplakan atau penggunaan-semula karya yang didapat melalui internet,
menjadikan ide orang lain sebagai ide sendiri tanpa sembarang, dan tanpa disertai dengan
sumber yang jelas.
Pendapat yang sama di kemukakan oleh Putra (2011:11) plagiat adalah tindakan
mencuri (gagasan/karya intelektual) orang lain dan mengklaim atau mengumumkanya
sebagai miliknya. Istilah plagiat harus kita hati-hati sebab memiliki sinonim atau nama
lainnya. Putra (2011:11-12) mengemukakan bahwa plagiat memiliki sinonim atau nama
Halaman 5 dari 12

lainya, yakni: meminjam, pencurian, planggaran, pembajakan, pemalsuan, pengambilan


untuk diri sendiri atau autoplagiat, mencuri.
Adapun ruang lingkup plagiat (Putra, 2011:12) adalah sebagai berikut:
1. Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan anda sendiri.
2. Mengikuti ide orang lain sebagai ide anda sendiri.
3. Mengakui penyelidikan, data dan uji kaji orang lain sebagai kepunyaan anda sendiri.
4. Mengakui karya kelompok orang lain sebagai hasil anda sendiri.
5. Menyajikan tulisan yang sama pada masa yang lain tanpa menyebut asal-usulnya
(karya asal).
6. Menyalin, meringkas dan menulis semula perkataan, ayat atau idea yang diperoleh
dari pada sumber lain dan menulis semula dan mengikuti kefahaman anda sendiri.
(sama ada penyebut atau tidak menyebut sumber asalnya).
7. Melakukan terjemanan bahasa tanpa menyatakan sumber asal terjemahan tersebut.
Umumnya pelagiarisme marak di kalangan siswa dan mahasiswa. Beberapa alasan
yang memuncukan tindak plagiarisme:
1. Kurangnya kesadaran beretika, entah itu sebagai citizen jurnalis.
2. Fasilitas internet.
3. Perangkat teknologi informasi dengan mobilitas tinggi seperti laptop yang
memberikan kemudahan dalam mengakses sumber daya internet.
C. Faktor Penyebab Pelanggaran Kode Etik Jurnalistik
1. Faktor ketidak sengajaan :
a. Tingkat profesionalisme masih belum memadai, antara lain meliputi :
1) Tingkat upaya menghindari ketidaktelitian belum memadai.
2) Tidak melakukan pengecekan ulang.
3) Tidak memakai akal sehat.
4) Kemampuan meramu berita kurang memadai.
5) Kemalasan mencari bahan tulisan atau perbandingan.
6) Pemakaian data lama (out of date) yang tidak diperbarui.
7) Pemilihan atau pemakian kata yang kurang tepat.
b. Tekanan deadline sehingga tanpa sadar terjadi kelalaian.
c. Pengetahuan dan pemahaman terhadap Kode Etik Jurnalistik memang masih
terbatas.

Halaman 6 dari 12

2. Faktor kesengajaan:
a. Memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang Kode Etik Jurnalistik, tetapi sejak
awal sudah ada niat yang tidak baik.
b. Tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai tentang Kode Etik
Jurnalistik dan sejak awal sudah memiliki niat yang kurang baik
c. Karena persaingan pers sangat ketat, ingin mengalahkan para mitra atau pesaing
sesama pers secara tidak wajar dan tidak sepatutnya sehingga sengaja membuat
berita yang tidak sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik.
d. Pers hanya dipakai sebagai topeng atau kamuflase untuk perbuatan kriminalitas
sehingga sebenarnya sudah berada di luar ruang lingkup karya jurnalistik.
D. Media Online
Menurut A. S. M. Romli (2012 : 11-12) Jurnalistik Media Online (Online
journalism) disebut juga cyber journalism. jurnalistik internet, dan jurnalistik web (web
journalism) merupakan "generasi baru" jurnalistik setelah jurnalistik konvensional
(jurnalistik media cetak, seperti surat kabar) dan jurnalistik penyiaran (broadcast
journalism radio televisi).
Pengertian jurnalistik Online terkait banyak istilah, yakni jurnalistik Online,
internet dan website. Maka jurnalistik Online dapat didefenisikan sebagai proses
penyampaian informasi melalui media internet, utamanya website.
Pada awalnya surat kabar sering kali di identifikasikan dengan pers, namun karena
pengertian pers sudah luas, dimana media elektronik sekarang ini sudah di katagorikan
sebagai media juga. Untuk itu pengertian pers dalam arti sempit, pers hanya meliputi
media cetak saja salah satunya adalah surat kabar.
Ada juga karakteristik media Online yang menjadi kekurangan atau kelemahannya
di antaranya :
1. Ketergantungan terhadap perangkat komputer dan koneksi internet jika tidak ada
aliran listrik, baterai habis, dan tidak ada koneksi internet, juga tidak ada browser
maka media Online tidak bisa di akses.
2. Bisa dimiliki dan di oprasikan oleh "sembarang orang" mereka yang tidak memiliki
keterampilan menulis sekalipun dapat menjadi pemilik media Online dengan isi
berupa "copy paste" dari informasi situs lain.
3. Adanya kecenderungan mata "mudah lelah" saat membaca informasi media Online,
khususnya naskah yang panjang.
Halaman 7 dari 12

4. Akurasi sering terabaikan. Karna mengutamakan kecepatan, berita yang dimuat di


media Online biasanya tidak seakurat media cetak, utamanya dalam hal penulisan kata
(salah tulis).
E. Media Baru
Stephen W. Littlejohn (Teori Komunikasi hal 413-414), pada tahun 1990, Mark
Poster meluncurkan buku besarnya, The Second Media Age, yang menandai periode baru
dimana teknologi interaktif dan komunikasi jaringan, khususnya dunia maya akan
mengubah masyarakat. Gagasan tentang era media kedua yang sebenarnya telah
dikembangkan sejak tahun 1980-an hingga saat ini menandai perubahan yang penting
dalam teori media. Bagi seseorang, hal ini melonggarkan konsep "media" dari komunikasi
"massa" hingga berbagai media yang berkisar dari jangkauan yang sangat luas hingga
yang sangat pribadi. Kedua, konsep tersebut menarik perhatian kita pada bentuk-bentuk
penggunaan media yang baru yang dapat berkisar dari informasi individu dan
kepemilikan pengetahuan hingga interaksi. Ketiga tesis tentang era media kedua
membawa teori media dari kesamaran yang relatif pada tahun 1996-an pada popularitas
yang baru pada tahun 1990-an dan seterusnya. Kekuatan media dalam dan dari media itu
sendiri kembali menjadi fokus, termaksud sebuah minat baru dalam karakteristik
penyebaran dan penyiaran media. Era media yang pertama digambarkan :
1. sentralisasi produksi (satu menjadi banyak)
2. komunikasi satu arah
3. kendali situasi,untuk sebagian besar
4. reproduksi stratifikasi sosial dan perbedaan melalui media
5. audiens massa yang terpecah
6. pembentukan kesadaran sosial
Mungkin pendukung pandangan ini yang paling terkemuka adalah Pierre Levy
yang menulis buku terkenal berjudul cyberculture, Levy memandang world wide web
sebagai sebuah lingkungan informasi yang terbuka, fliksibel dan dinamis, yang
memungkinkan manusia mengembangkan orintasi pengetahuan yang baru dan juga
terlibat dalam dunia demokratis tentang pembagian portal dan pemberian kuasa yang
lebih interaktif dan berdasarkan pada masyarakat. Dunia maya memberikan tempat
pertemuan semu yang memperluas dunia sosial, menciptakan peluang pengetahuan baru,
dan menyediakan tempat untuk berbagai pandangan secara luas. Tentu saja media baru
tidak seperti interaksi tatap muka, tetapi memberikan bentuk interaksi baru yang
Halaman 8 dari 12

membawa kembali pada hubungan pribadi dalam era yang tidak bisa dilakukan oleh
media sebelumnya.
F. Plagiarisme Yang Dilakukan Oleh Jurnalis Media Online
Arfi Bambani, Staf Divisi Etik dan Pengembangan Profesi Aliansi Jurnalis
Independen (AJI) Indonesia, mengatakan banyaknya kasus penjiplakan karya jurnalistik
mengindikasikan penurunan kualitas jurnalis dan tidak adanya penerapan hukum yang
tegas. Penjiplakan tidak lagi berada di ranah kode etik jurnalistik. Kasus penjiplakan yang
dilakukan oleh jurnalis sudah memasuki ranah hukum untuk diselesaikan. "Plagiat itu
statusnya sudah diatas kode etik, kasus hukum. Secara hukum saja sudah salah, apalagi
secara etik," ujarnya kepada Bisnis, Senin (3/2/2013).
Menurutnya, karya jurnalistik dijamin dalam Undang-Undang Hak Atas Kekayaan
Intelektual (HAKI) Nomor 12/2002. Dalam undang-undang tersebut, pengertian hak cipta
adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau
memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi
pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam
kaitan hak cipta ini, Indonesia telah menjadi anggota berbagai konvensi/perjanjian
internasional di bidang Hak Kekayaan Intelektual dan Hak Cipta yang memerlukan
pengejawantahan lebih lanjut dalam sistem hukum, termasuk di bidang penyiaran.
Berdasarkan kode etik Aji nomor 14, menyebutkan seorang jurnalis dilarang
menjiplak. Karya tulis seseorang kekuatannya sama seperti karya lagu. Pengutipan fakta
dari sebuah karya tulis harus dicantumkan siapa penulisnya dan media apa jika itu karya
yang dipublikasikan sebuah media massa. "Pelanggaran bisa secara pidana dan perdata,
pidana nanti juncto ke KUHP," kata dia.
Di Australia, dia mencontohkan, terdapat Australian Journalists Associations atau
asosiasi wartawan Australia yang memiliki divisi khusus untuk mencatat tulisan-tulisan
anggotanya yang diplagiat atau dikutip, nantinya akan ada surat tagihan kepada media
yang telah mengutip karya tersebut. "Kalau di Indonesia, prosedurnya pertama somasi
dulu, kemudian meminta maaf dan membayar kompensasi. Jika tidak mau, harus lapor ke
polisi," tegasnya. Kasus plagiat yang terjadi di situs resmi Bisnis Indonesia Sumatra
(www.bisnis-sumatra.com) telah dikutip dan dijiplak secara keseluruhan oleh sebuah
media online tanpa menyebutkan sumber berita dan nama jurnalis sebagai pemilik karya.
Hal tersebut diduga telah dilakukan bebeberapa waktu terakhir. Berikut beberapa artikel
yang dijiplak :
Halaman 9 dari 12

1. http://liputanbisnis.com/2013/05/29/bei-bidik-3-perusahaan-sumut-jual-saham-kepasar-modal/
2. http://liputanbisnis.com/2013/05/29/hajatan-ipo-coffindo-masih-dikaji/
3. http://liputanbisnis.com/2013/05/29/hipmi-sumut-dorong-pengusaha-daftar-di-pasarsaham/
4. http://liputanbisnis.com/2013/05/29/hipmi-sumut-krisis-gas-di-sumut-sudah-ancamindustri/
5. http://liputanbisnis.com/2013/05/29/pengusaha-sumut-lega-pertamina-tambahpasokan-gas/
6. http://liputanbisnis.com/2013/05/29/hipmi-sumut-krisis-gas-di-sumut-sudah-ancamindustri/

Halaman 10 dari 12

BAB III
KESIMPULAN
Plagiarisme (plagiat) adalah tindakan mencuri (gagasan/karya intelektual) orang lain
dan mengklaim atau mengumumkanya sebagai miliknya. Istilah plagiat harus kita hati-hati
sebab memiliki sinonim atau nama lainnya meminjam, pencurian, planggaran, pembajakan,
pemalsuan, pengambilan untuk diri sendiri atau autoplagiat, mencuri. Putra (2011:11).
Berdasarkan kode etik Aji nomor 14, menyebutkan seorang jurnalis dilarang menjiplak.
Karya tulis seseorang kekuatannya sama seperti karya lagu. Pengutipan fakta dari sebuah
karya tulis harus dicantumkan

siapa penulisnya dan media apa jika itu karya yang

dipublikasikan sebuah media massa. "Pelanggaran bisa secara pidana dan perdata, pidana
nanti juncto ke KUHP".

Halaman 11 dari 12

DAFTAR PUSTAKA
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=108420&val=1021 diakses pada
tanggal 05 April 2016 jam 23:19 WIB
http://etika-profesiteknologi.blogspot.co.id/2015_05_01_archive.html diakses pada
tanggal 14 April 2016 jam 01:29 WIB
http://lpds.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=17:pelanggaranpelanggaran-kode-etik-jurnalistik&catid=4:kajian-media&Itemid=23 diakses pada tanggal 14
April 2016 jam 02:29 WIB

Halaman 12 dari 12