Anda di halaman 1dari 5

Bed Side Teaching

Miopia

Disusun Oleh:
Ramarajeen Arumugam 0810314151
Zikra Alfa Sani 1110312125
Preseptor :
dr. Sri Handayani Mega Putri Sp.M (K)

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2015

DISKUSI
Diagnosa miopia ODS patologis ditegakkan dari anamnesis dan
pemeriksaan oftalmologi yang dilakukan terhadap pasien. Dari anamnesis
didapatkan kedua mata terasa semakin kabur sejak 2 bulan yang lalu, terutama
saat melihat jauh. Pasien juga sudah memakai kaca mata sferis negatif sejak 12
tahun yang lalu dengan kekuata dioptri terakhir OS=8.00, OD=10.00. Pasien
juga mempunyai riwayat sering membaca dan beraktivitas dengan laptop dalam
jarak dekat dan waktu yang lama. Dari anamnesis tidak didapatkan adanya
riwayat radang pada mata. Selain itu keluhan lain seperti pandangan ganda dan
mata berkabut juga tidak ada.
Dari pemeriksaan fisik dengan menggunakan papan snellen chart
didapatkan visus mata tanpa koreksi pada mata kanan 1/60, mata kiri 1/60.
Sedangkan visus dengan koreksi mata kanan S-11.755/6 dan mata kiri S10.755/5. Pemeriksaan dengan Pinhole didapatkan adanya ambliopia ringan.
Sedangkan pada pemeriksaan mata lainnya tidak ditemukan tanda-tanda radang ,
kelainan kongenital dan lainnya.
Menurut literatur miopia merupakan kelainan refraksi, dimana sinar sejajar
yang datang dari jauh oleh mata dalam keadaan non akomodasi dibiaskan di
depan retina. Gejala klinis yang paling khas adalah penglihatan kabur jika melihat
jarak jauh, mata cepat lelah dan membaca atau melihat benda kecil harus dari
jarak dekat. Sedangkan digolongkan kedalam miopia patologis adalah karena
sesuai dengan literatur dimana miopi yang sudah memiliki miopi derajat tinggi
yaitu > -6.00 dioptri dan tajam penglihatan masih dibawah normal meskipun telah
mendapat koreksi.

Diagnosa banding untuk penurunan visus lainnya pada mata tenang antara
lain dapat berupa kelainan refraksi lainnya seperti hipermetropi, astigmatisma,
katarak, glaukoma, dan retinopati. Pada kelainan refraksi myopia didapatkan
gejala kabur pada saat melihat jauh, sedangkan pada hipermetropi didapatkan
gejala kabur saat melihat benda dekat. Sedangkan pada katarak selain visus
menurun juga ditemukan adanya keluhan pandangan berkabut. Pada glaukoma
visus yang menurun akan disertai dengan penurunan lapangan pandang dan gejala
peningkatan tekanan intraocular lainnya seperti sakit kepala dan memiliki riwayat
mata merah sebelumnya.
Terapi kelainan refraksi yang dapat diberikan antara lain penggunaan
kacamata sferis negatif, penggunaan lensa kontak dan LASIK.
Penggunaan kacamata merupakan metode paling aman untuk memperbaiki
kelainan refraksi. Namun kerugiannya dalah walaupun kacamata memberikan
perbaikan tapi akan bertambah berat bila ukurannya bertambah selain itu juga
dapat menggangu penampilan atau kosmetik. Pada penggunaan kacamata ukuran
benda akan lebih kecil dari pada seseungguhnya, setipa -1.00 dioptri akan
memberikan kesan pengecilan benda 2%.
Lensa kontak juga dapat diberikan untuk memperbaiki kelainan refraksi.
Lensa kontak berupa penutup dari kaca atau plastik yang melengkung yang
digunakan langsung diatas bola mata atau kornea mata. Lensa kontak yang umum
digunakan adalah lensa kontak lunak, dimana kelebihannya adalah masa adaptasi
yang singkat, lebih kecil kemungkinan untuk terlepas, lebih murah. Sedangkan
kekuranganya adalah kadar air yang tinggi sehingga mudah kotor dan mudah
robek.

Jenis lensa kontak lainnya adalah RGP (Rigid Gas Permeable) dimana
kelebihannya dalah tidak mudah robek, transmissi oksigen lebih tinggi, mudah
dirawat dan dibersihka. Mampu mengoreksi astigmatisme, memberikan
penglihatan lebih tajam dan masa pakai yang lebih lama, lebih dari 2 tahun.
Kekurangannya adalah harganya lebih mahal dari kontak lensa lunak dan masa
adaptasi yang lebih lama.
Penggunaan lensa kontak dapat memberikan komplikasi berupa infeksi
pada kornea, tetapi komplikasi ini dapat dikurang dengan memilih bahan yang
mampu dilewati gas O2
Pilihan

terapi

lainnya

adalah

dengan

LASIK

(Laser

in-situ

Keratomileusis). Pada teknik ini sebuah flap setebal 130-160 mikron diangkat dari
korea anterior, kemudian jaringan midstroma secara langsung di ablasi dengan
tembakan sinar excimer laser. Teknik ini umumnya digunakan pada kelainan
miopia yang lebih dari -12 dioptri. Dimana kriteria untuk LASIK ini adalah untuk
penderita dengan usia lebih dari 20 tahun, memiliki refraksi yang stabil minimal 1
tahun, adanya motivasi dari pasien. Keuntungan LASIK ini adalah berupa rasa
nyeri post operasi minimal, kembalinya penglihatan lebih cepat dan tidak ada
resiko perforasi saat operasi dan tidak ada gejala sisa kabur karena penyembuhan
epitel. Sedangkan kekurangannya adalah biaya yang mahal dan dapat terjadi
kompikasi seperti flap putus saat operasi, strabismus akibat konvergensi terus
menerus, ,dinding mata yang lebih lemah karena sklera lebih tipis, degenerasi
miopik pada retina dan koroid serta ablasi retina.
Selain terapi diatas, edukasi lain yang dapat diberikan adalah dengan
mengubah kebiasaan membaca yang terlalu dekat dalam waktu lama,

menggunakan laptop dan menonton TV dalam jarak dekat dan waktu lama.
Karena kebiasaan tersebut meningkatkan penurunan refraksi.