Anda di halaman 1dari 6

Dasar Teori

I.

Batuan dan Tanah


Secara garis besar bahan penyusun kerak bumi dibagi menjadi dua kategori: Batuan
dan Tanah. Tanah adalah kumpulan agregat mineral alami yang dapat dipisahkan oleh
adukan secara mekanika dalam air. Batuan merupakan agregat mineral yang diikat
oleh gaya-gaya kohesif yang permanen dan kuat. Istilah tanah dalam pembahasan ini
adalah yang termasuk dalam definisi di atas (ilaht perbedaan tanah dan batuan).
Batuan dan tanah mempunyai perbedaan. Menurut Shower & Shower (1967),
batuan dan tanah dibedakan dalam beberapa hal, yaitu: Batuan merupakan material
kerak bumi yang terdiri atas mineral penyusun bertekstur, berstruktur. Sifat-sifat yang
menyolok.
Batuan merupakan material kerak bumi yang terdiri atas mineral penyusun
berstruktur. Sifat-sifat yang menyolok :
1. padu ( cemented )
2. qu ( = unconfined compressive strength ) > 200 psi 14 kg/cm2
(psi= pound/square inch atau lb/in2 )
3. bila terdiri dari satu butir, ukuran butirnya boulder ( 256 mm)
4. beratnya > 40 kg )
Tanah merupakan mineral penyusun yang atau tanpa material organic sisa tumbuhan
dan fauna yang terdekomposisi (lapuk), berstruktur dan bertekstur. Sifat-sifat yang
menyolok :
1. urai, lepas, lunak ( loose, uncemented, soft )
2. qu < 200 psi
3. ukuran butirnya < 256 mm (catatan: lihat Klasifikasi Tanah)
4. beratnya < 40 kg

II.

Tanah Pelapukan dan Organik


Tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor penentu tanah seperti: Batuan induk, iklim,
topografi, organisme, dan waktu. Tanah dapat dibedakan dalam dua kelompok besar,
yang berasal dari pelapukan (fisika dan kimia) dan yang berasal dari bahan organik.
Tanah lapukan secara genesis dikenal antara lain tanah jenis residual dan transported.
a. Jika hasil pelapukan masih berada di tempat asalnya, disebut residualsoil.
Residual soil umumnya terkena dekomposisi (pelapukan akibatproses kimia,
biologi dan fisika) dengan tanpa melalui transportasi atau tetap berada sekitar
batuan dasar. Batuan dasar berubah (melapuk) menjadi tanah mulai dari segar
hingga terlapukkan Residual soil pada daerah iklim sedang dan agak-kering
biasanya kaku dan stabil serta tidak meluas kearah kedalaman. Pada daerah iklim
lembab dan hangat dengan penyinaran matahari yang lama, tanah tersebut
kemungkinan meluas dan dalam hingga beberapa ratus meter.Tanah residual pada

kondisi tertentu dapat menimbulkan masalah pondasi dan jenis konstruksi lainnya
seperti konstruksi jalan. Pada daerah yang beriklim tropis tingkat pelapukan
batuan dasar sangat tinggi sehingga pembuatan konstruksi jalan pada tanah residu
di pegunungan seringkali menghadapi kondisi tanah yang labil terutama jika
konstruksi memerlukan rekayasa pemotongan lereng ataupun penimbunan (cut
and fill). Daerah pegunungan di Indonesia yang beriklim tropis, pada umumnya
memiliki jenis tanah yang digolongkan kepada tanah residu.
b. Jika tanah pelapukan telah mengalami transportasi, disebut transported soil.
Transpotedsoil, adalah tanah yang terbentukmelalui proses desintegrasi (secara
fisik, misalnya akibat erosi, perbedaan suhu, dll), transportasi (terpindahkan
melalui media air atau angin) dan redeposisi (pengendapan kembali sesuai dengan
lingkungan pengendapan. Transported soil sebagian besar bersifat lunak dan lepas
hingga kedalaman beberapa ratus meter dan pada kondisi tertentu dapat
menimbulkan berbagai masalah serius, misalnya masalah pondasi
(settlement/penurunan). Transported soil pada umumnya terletak pada lembahlembah pegunungan.

Tanah yang berasal dari bahan organik dapat berupa susunan unsur organik
maupun anorganik. Tanah organik merupakan istilah yang ditujukan ke transported soil
yang terdiri atas hasil lapukan batuan dengan banyak atau sedikit campuran hasil
peluruhan bahan tumbuhtumbuhan. Beberapa jenis tanah berikut biasa dipakai dalam
penggolongan nama tanah di lapangan:

Pasir dan Kerikil, merupakan agregat tak berkohesi bersusunan fragmen angular
atau sub angular. Partikel berukuran sampai 1/8 inci disebut pasir, 1/8 inci sampai
6 atau 8 inci disebut kerikil, Lebih dari 8 inci dikenal sebagai boulder.
Hardpan, merupakan tanah yang tahanannya besar sekali terhadap penetrasi alat
bor.
Lanau anorganik, tanah berbutir halus dengan sedikit atau tanpa plastisitas.
Lanau organik, merupakan tanah agak plastis, berbutir halus dengan campuran
partikel bahan organik terpisah secara halus. Permeabilitas sangat rendah.
Lempung, merupakan agregat partikel-partikel berukuran mikroskopik atau submikroskopik, bersifat plastis. Dalam keadaan kering sangat keras. Permeabilitas
sangat rendah.
Lempung organik, lempung yang sebagian sifat fisik pentingnya dipengaruhi oleh
adanya bahan organik. Warna biasanya abu-abu tua atau hitam.
Gambut (peat), agregat agak berserat berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Tanah campuran dengan susunan dari dua jenis tanah berbeda, maka campuran yang dominan
dinyatakan sebagai kata benda, sedang yang sedikit sebagai kata sifat. Contoh : 1) Pasir lanauan,
menyatakan tanah pasir yang mengandung lanau; 2) Lempung pasiran, menyatakan tanah
mengandung sifat-sifat lempung dengan mengandung sedikit pasir. Secara kualititatif, sifat-sifat
agregat pasir dan kerikil dinyatakan dalam istilah: Loose (lepas), medium (sedang), dan dense
(padat). Untuk lempung, dinyatakan dengan istilah : hard (keras), stiff (kaku), medium (sedang),
soft (lunak). Warna juga merupakan petunjuk bagi perbedaan karakter tanah. Dalam kondisi
geologi tertentu, tanah di lapangan dikenalidengan ciri-ciri yang khas. Karenanya diberi nama
khusus, antara lain:Tuff, Loess, Modified loess, Tanah diatomeous, Lake marl atau boglime Marl,
Adobe, Caliche, Bentonit.

III.

Penampang Tanah Residu

Pada proses pembentukan residual soil, dikenal urutan profil tanah mulai dari batuan induk yang
segar, ke arah atas bertahap lapisan-lapisan yang berangsur menuju tanah terlapukan kuat dan
lengkap, yang kemudian ditutupi tanah organik, campur humus. Urutan tersebut adalah sebagai
berikut :

Gambar 1. Penampang Tanah Residu

IV.

Deskripsi dan Klasifikasi


Deskripsi batuan/tanah tergantung kepada parameter yang terkait dengan material dan
massa. Secara umum klasifikasi & deskripsi batuan/tanah berdasarkan kepada
genesis, struktur, kandungan utama, besar butir, mineralogi butiran mineral utama.
Khusus untuk tanah lebih mudah menggunakan klasifikasi standar USCS. Tujuan dari
deskripsi dan klasifikasi batuan/tanah adalah untuk menentukan jenis batuan/tanah
agar diperoleh gambaran tentang sifat-sifat batuan/tanah tersebut. Deskripsi untuk\
batuan yang perlu dicatat adalah: Nama batuan dan sifat petrografi, ditambah dengan
deskripsi sifat bahan yaitu warna, tekstur, ukuran butir, kemas atau gambaran tektur
lainnya, tingkat pelapukan, tingkat alterasi. Tambahkan pula deskripsi sifat massa
batuan, yaitu struktur, diskontinuitas, profil pelapukan.
Deskripsi untuk tanah perlu dicatat adalah:
1. Nama tanah (nama dominan) termasuk kandungan minor : silty clay, sandy silt.
2. Tambahkan sifat bahan yaitu warna, tekstur proporsi S, M, C, bentuk partikel dan
komposisi, tingkat pelapukan, strength, konsistensi, plastisitas, Shear strength,
kondisi kelembaban, kepadatan relative (density) & compactions.
3. Tambahkan pula deskripsi sifat massa tanah yaitu struktur - blocky, lamine dsb,
diskontinuitas, profil pelapukan Sebagian dari variabel deskripsi di atas dilakukan di
laboratorium, sebagian besar dapat dilakukan di lapangan (penyelidikan langsung
secara visual)

V.

Klasifikasi Tanah

Klasifikasi tanah merupakan cara dalam menentukan jenis tanah agar diperoleh
gambaran sepintas tentang sifat-sifat tanah. Beberapa cara dalam menentukan klasifikasi
tanah, diantaranya adalah cara USCS. Cara USCS (Unified Soil Classification System) ini
diusulkan oleh Cassagrande, dengan berdasarkan pada sifat tekstur tanah yang dibagi
dalam 3 kelompok, yaitu :
Tanah berbutir halus,
Tanah berbutir kasar
Tanah organik.
Dasar klasifikasi sistem USCS melihat kepada jenis ukuran butir tanah,yaitu tanah kasar dan
tanah halus:
Tanah berbutir halus adalah yang lolos saringan 200 mesh sebanyak
lebih dari 50%.

Tanah berbutir kasar jika lebih dari 50% materialnya mempunyai


ukuran >200 mesh

Tanah dibagi dalam simbol tertentu (15 simbol), terdiri atas gabungan
atau individu dari simboil-simbol komponen, gradasi dan batas cair (L).
Simbol komponen :
Kerikil (G, gravel),
Pasir (S, sand),
Lanau (M, mo),
Lempung (C, clay),
Organik (O, organic)
Gambut (Pt, peat),
Simbol gradasi :
Bergradasi baik (W, well graded)
Bergradasi buruk (P, poor graded),
Simbol batas cair :
Batas cair tinggi (H, high plasticity)
Batas cair rendah (L, low plasticity)
(catatan : batas cair didapat dari serangkaian test)
Jenis Tanah

Kerikil
Kerikil
Pasir
Pasir
Lanau
Lempung
Organik
Gambut

Prefiks
G
G
S
S
M
C
O
Pt

Sub-kelompok
Gradasi Baik
Gradasi Buruk
Lanauan
Lempungan
Batas cair<50%
Batas cair<50%
Batas cair>50%

sufiks
W
P
M
C
L
L
H

SM = Pasir lanauan (+deskripsi verbal lainnya)


GP = Kerikil gradasi buruk (+deskrisi verbal lainnya: warna,
kekasaran, dll)

Simbol Nama
GW
GP
SM
SC
ML
CL
OH

MH = Lanau plastisitas tinggi (L<50%)


CL = Lempung plastisitas rendah (L>50%)
Contoh:
SC = Pasir (S) lempungan (C), + deskripsi verbal lainnya
GW = Kerikil (G) gradasi baik (W), + deskrisi verbal lainnya: warna,
kekasaran, dll)
ML = Lanau (M) plastisitas rendah (L ; batas cair L < 50 % )
CH = Lempung (C) plastisitas tinggi (H ; batas cair L > 50 % )
Penentuan batas cair (L) dilakukan melalui serangkaian uji (test) di laboratorium, yaitu :

uji batas cair (liquid limit),

uji kadar air tanah, dan


uji batas plastis.

Selain itu, penggunaan diagram Cassagrande sangat diperlukan dalam menentukan sifat
tanah melalui plotting nilai batas cair dan indeks plastis tanah, sehingga posisinya dapat
diketahui berada di areal plastisitas tinggi atau plastisitas rendah.