Anda di halaman 1dari 128

UNIVERSITAS INDONESIA

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BAPAK M DENGAN


KETIDAKEFEKTIFAN MANAJEMEN KESEHATAN DIRI
PADA MASALAH KESEHATAN DIABETES MELLITUS
DI RW 05 KELURAHAN CISALAK PASAR,
CIMANGGIS, DEPOK

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

KURNIASIH, S.Kep
0806457104

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PROFESI NERS
DEPOK
JULI 2013

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

UNIVERSITAS INDONESIA

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BAPAK M DENGAN


KETIDAKEFEKTIFAN MANAJEMEN KESEHATAN DIRI
PADA MASALAH KESEHATAN DIABETES MELLITUS
DI RW 05 KELURAHAN CISALAK PASAR,
CIMANGGIS, DEPOK

KARYA ILMIAH AKHIR NERS


Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Ners Keperawatan

KURNIASIH, S.Kep
0806457104

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PROFESI NERS
DEPOK
JULI 2013

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya tulis akhir ini adalah hasil karya saya sendiri,


dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar.

Nama

: Kurniasih, S.Kep

NPM

: 0806457104

Tanda Tangan :
Tanggal

: 9 Juli 2013

ii

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir Ners (KIA-N) ini.
Penulisan KIA-N ini dilakukan dalam rangka untuk memenuhi salah satu syarat
untuk mencapai gelar Ners Keperawatan pada Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak dalam penyusunan KIA-N ini, sangatlah sulit bagi saya untuk
menyelesaikan KIA-N ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih
kepada:
(1) Bu Riri Maria, SKp., MANP, selaku koordinator Mata Ajar Karya Ilmiah
Akhir Ners (KIA-N);
(2) Bu Henny Permatasari, SKp., M.Kep, Sp. Kom, selaku dosen pembimbing
saya yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan
saya dalam penyusunan KIA-N;
(3) Masyarakat RW 05 Cisalak Pasar khususnya keluarga Bpk M yang telah
memberikan data untuk tersusunnya KIA-N ini;
(4) Keluarga saya yang telah memberikan bantuan dukungan material dan moral;
(5) Teman-teman saya yang telah memberikan semangat dan dukungannya.

Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala
kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga Karya Ilmiah Akhir Ners
ini dapat membawa manfaat bagi pengembangan ilmu.

Depok, 7 Juli 2013


Penulis

iv

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI


TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah
ini:
Nama
: Kurniasih, S.Kep
NPM
: 0806457104
Program Studi : Profesi Ners
Departemen : Keperawatan
Fakultas
: Ilmu Keperawatan
Jenis Karya : Karya Ilmiah Akhir
demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada
Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive RoyaltyFree Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
Asuhan Keperawatan Keluarga Bapak M Dengan Ketidakefektifan Manajemen
Kesehatan Diri Pada Masalah Kesehatan Diabetes Mellitus Di RW 05 Kelurahan
Cisalak Pasar, Cimanggis, Depok
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Nonekslusif
ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola
dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan memublikasikan tugas akhir
saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai
pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Depok
Pada tanggal : 7 Juli 2013
Yang menyatakan

(Kurniasih, S.Kep)

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

ABSTRAK
Nama
: Kurniasih
Program Studi : Ners Keperawatan
Judul
: Asuhan Keperawatan Keluarga Bapak M Dengan Ketidakefektifan
Manajemen Kesehatan Diri Pada Masalah Kesehatan Diabetes
Mellitus Di RW 05 Kelurahan Cisalak Pasar, Cimanggis, Depok
Perkembangan global yang terjadi saat ini menyebabkan Indonesia khususnya di
daerah perkotaan mendapat pengaruh dari luar seperti pengaruh pola makan gaya
barat yang mengandung makanan-makanan instan yang banyak mengandung kadar
gula tinggi, kolesterol, zat pengawet, dan zat-zat campuran lainnya. Hal tersebut
mengakibatkan masyarakat perkotaan semakin rentan penyakit yaitu salah satunya
diabetes mellitus (DM) yang disebabkan pola makan yang tidak baik tersebut.
Diabetes mellitus ini juga banyak diderita di salah satu kota di Indonesia yaitu Depok
dengan salah satu kelurahannya yaitu Cisalak Pasar khususnya di RW 05. Oleh
karena itu, penulis membina salah satu keluarga yang menderita DM di RW 05 yaitu
di RT 01 dengan diagnosa keperawatan ketidakefektifan manajemen kesehatan diri
pada keluarga Bpk M dengan DM. Intervensi unggulan untuk mengatasi diagnosa
keperawatan tersebut yaitu manajemen diet. Evaluasi dari intervensi unggulan ini
yaitu dengan manajemen diet yang baik, maka kadar glukosa darah dapat terkontrol
dengan baik pula.
Kata kunci: Diabetes mellitus, manajemen diet, pola makan

vi

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

ABSTRACT
Name
Study Program
Title

: Kurniasih
: Ners Keperawatan
: Nursing care of Mr. Ms family with ineffective self health
management in Diabetes Mellitus at RW 05 Cisalak Pasar,
Cimanggis, Depok

Global development is being on today make Indonesia especially urban areas got
outside influences such as the influence of western style diet that containing instant
foods that contain lots of high sugar levels, cholesterol, preservatives, and other
mixed substances. This resulted make more vulnerable diseases on urban
communities, that is diabetes mellitus (DM). Diabetes mellitus also suffered in one
of the cities in Indonesia, that is Depok with one of the urban village Cisalak Pasar
especially in RW 05. Therefore, the authors caring one of the family who suffer from
diabetes is in RT 05 RW 01 with a nursing diagnosis ineffective self health
management at the Mr. Ms family with DM. The best interventions to resolves that
nursing diagnoses is dietary management. Evaluation from this intervention is if the
people have a good dietary management, so the blood glucose levels can be
controlled.
Key words: Diabetes mellitus, diet, dietary management

vii

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i


LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ..................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. iii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ......................... v
ABSTRAK ........................................................................................................... vi
DAFTAR ISI ....................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ............................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xi
1. PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Tujuan Penulisan ......................................................................................... 6
1.3 Manfaat Penulisan ....................................................................................... 6
2. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................... 8
2.1 Konsep Perkotaan ........................................................................................ 8
2.2 Konsep Keluarga Tahap Tumbuh Kembang Dewasa.................................. 9
2.2.1 Tahap Perkembangan ......................................................................... 9
2.2.2 Tugas Keluarga Dewasa di Bidang Kesehatan ................................. 10
2.2.3 Peran Perawat Keluarga .................................................................... 10
2.3 Asuhan Keperawatan Keluarga dengan DM ............................................. 11
2.3.1 Pengkajian ......................................................................................... 11
2.3.2 Diagnosis Keperawatan .................................................................... 12
2.3.3 Rencana Keperawatan ....................................................................... 12
2.3.4 Implementasi ..................................................................................... 13
2.3.4.1 Manajemen Diet .................................................................... 14
2.3.4.2 Kebutuhan Energi dan Zat Gizi Penderita DM ..................... 14
2.3.4.3 Pemilihan Jenis Makanan ...................................................... 16
2.3.4.4 Pengaturan Jadwal Makan ..................................................... 17
2.3.4.5 Standar Diet DM ................................................................... 18
2.3.5 Evaluasi .............................................................................................. 18
3. LAPORAN KASUS KELUARGA KELOLAAN .................................... 19
3.1 Data Umum ............................................................................................. 19
3.2 Pengkajian ............................................................................................... 19
3.3 Perencanaan ............................................................................................. 20
3.4 Implementasi dan Evaluasi ...................................................................... 22
4. ANALISIS SITUASI..................................................................................... 27
4.1 Profil Wilayah ........................................................................................... 27
4.2 Analisis Masalah Keperawatan Dengan Konsep Terkait KKMP Dan
Konsep Kasus Terkait ................................................................................ 27
4.3 Analisis Salah Satu Intervensi Dengan Konsep Dan Penelitian Terkait ... 37

viii

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

4.4 Alternatif Pemecahan yang Dapat Dilakukan ............................................ 40


5. KESIMPULAN ............................................................................................. 42

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 45

ix

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Jadwal Makan Penderita DM ...............................................................17

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Pengkajian Keluarga ..........................................................................47


Lampiran 2: Analisa Data ......................................................................................57
Lampiran 3: Skoring Masalah ...............................................................................59
Lampiran 4: Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga...........................................62
Lampiran 5: Catatan Perkembangan ......................................................................85
Lampiran 6: Tingkat Kemandirian Keluarga .........................................................97
Lampiran 7: Format Evaluasi Sumatif ...................................................................98
Lampiran 8: Leaflet Diabetes Mellitus dan Perawatannya ..................................100
Lampiran 9: Handout Penkes Manajemen Diet .................. ...............................101
Lampiran 10: Contoh Menu 1700 Kalori .............................................................102
Lampiran 11: Daftar Makanan Pengganti ............................................................103
Lampiran 12: Leaflet Perawatan Kaki Bagi Penderita DM .................................105
Lampiran 13: Leaflet Perawatan Kaki .................................................................106
Lampiran 14: Langkah Senam Kaki DM .............................................................107
Lampiran 15: Leaflet Penkes Rokok ....................................................................108

xi

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Lancester dan Stanhope (2004), kota merupakan pusat urban dengan
jumlah penduduk lebih dari satu juta orang. Kota merupakan daerah yang
menjadi pusat kegiatan dari pemerintahan, ekonomi, dan kebudayaan (Alfian,
2007). Banyak masyarakat dari daerah pedesaan (rural) beralih ke daerah
perkotaan (urban) karena alasan tersebut, sehingga daerah perkotaan
mengalami pertambahan penduduk. Penduduk yang bertambah tersebut
terdiri dari masyarakat yang heteregon baik dari agama, suku, dan budaya.
Cara hidup masyarakat kota pun lebih modern yakni mengikuti tren dunia
jika dibandingkan dengan daerah pedesaan. Perubahan gaya hidup ke arah
konsumerisme serta perubahan perilaku hidup tidak sehat pun semakin
bertambah. Perubahan gaya hidup yang terjadi dapat menimbulkan berbagai
masalah, salah satunya masalah kesehatan. Masalah kesehatan yang dapat
timbul seperti masalah kardiovaskuler dan penyakit degenaratif seperti DM
(Lancester & Stanhope, 2004).

Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM)
yang banyak diderita oleh masyarakat di dunia. Penyakit ini merupakan salah
satu penyakit degeneratif yang tidak dapat disembuhkan namun dapat
dikontrol (Smeltzer, 2002). Data WHO pada tahun 2003 menyebutkan bahwa
194 juta jiwa atau 5,1% dari 3,8 milyar penduduk dunia menderita DM
(MADINA, 2013). Penderita DM di seluruh dunia meningkat pada tahun
2010 yaitu diperkirakan sebesar 285 juta (6,4%) dan pada tahun 2030
diperkirakan akan meningkat menjadi 439 juta (7,7%) (Prijadi, Nila, dan
Hartono, 2013).

Jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia atau lebih dari 60% berada di
Asia. Penderita diabetes di India meningkat dari 40 juta menjadi 70 juta,
China meningkat dari 39 menjadi 59 juta, Bangladesh dari 3,8 juta meningkat

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

menjadi 7,4 juta penderita (Vivalife, 2009). Menurut WHO tahun 2000
bahwa penderita DM di Indonesia pada tahun 2000 sebanyak 8,4 juta
penderita dan meningkat menjadi 21,3 juta orang pada tahun 2010
(Republika, 2011). Berdasarkan peningkatan yang cukup tajam tersebut,
Indonesia diperkirakan akan menempati posisi ke-4 jumlah penyandang
diabetes terbanyak di seluruh dunia setelah India, China, dan Amerika Serikat
Riskesdas (2007).

Berdasarkan Riskesdas (2007) menyatakan bahwa 6 dari 100 orang dewasa di


Indonesia mengidap diabetes atau 5,7% yang bervariasi di beberapa kota
besar di Indonesia. Hasil Riskesdas 2007 juga menyebutkan bahwa prevalensi
DM pada tahun 2003 sebesar 7,2% di pedesaan dan 14,7% di perkotaan
(Depkes RI, 2009). Depok merupakan salah satu kota di Indonesia yang
memiliki prevalensi cukup tinggi. Berdasarkan data yang dihimpun oleh
Kementerian Kesehatan RI dan bekerjasama dengan WHO mengungkapkan
bahwa prevalensi penderita diabetes di Kota Depok pada rentang usia 25-64
tahun adalah sebesar 8% dengan prevalensi tertinggi pada rentang usia 55-64
tahun yakni sebesar 21,5% (Wibisono, 2012). Kelurahan Cisalak Pasar
merupakan salah satu kelurahan di Depok yang salah satu wilayahnya yaitu
RW 05, memiliki prevalensi DM terbanyak dibandingkan dengan RW lainnya
yaitu dari hasil skrining singkat dan wawancara dengan kader setempat
didapatkan data sebanyak 18 orang terdeteksi diabetes mellitus dan
berdasarkan data sekunder dari residen FIK UI terdapat 30 orang terdeteksi
DM. Jadi, total penderita DM di RW 05 yaitu 48 orang.

Penyebab tingginya angka kejadian DM khususnya di wilayah perkotaan


yaitu terutama dipicu oleh pergeseran gaya hidup masyarakat di era
globalisasi dengan salah satu aspek paling menonjol adalah tingginya
konsumsi makanan gaya barat seperti makanan-makanan instan yang banyak
mengandung kadar gula tinggi, kolesterol, zat pengawet, zat-zat campuran
lainnya serta kurangnya mengkonsumsi makanan yang berasal langsung dari
alam (Tim Vitahealth, 2004). Berdasarkan Riskesdas (2007) menyatakan

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

bahwa hampir 80 % prevalensi DM dipicu oleh gaya hidup tidak sehat salah
satunya bersumber dari makanan. Menurut Ketua Pengurus Besar
Perhimpunan Endokrinologi Indonesia, Prof. Pradana Soewondo dalam
Kompas (2013) juga menyatakan bahwa masyarakat Indonesia mengalami
perubahan pola makan yaitu menyukai makanan dengan kandungan gula,
garam, dan natrium berlebih serta minimnya konsumsi sayur dan buah, dapat
memicu meningkatnya terjadinya diabetes. Selain itu, disebutkan bahwa
perubahan gaya hidup dan lingkungan menjadi salah satu penyebab
meningkatnya angka penderita diabetes seperti mayoritas mengkonsumsi
junk food, jarang melakukan aktivitas fisik, dan banyak mengonsumsi rokok
(OKEZONE, 2012).

Menurut penelitian Rahmawati, Amminuddisyam, dan Hidayanti (2011)


bahwa mengkonsumsi makanan tidak sehat dapat memicu terjadinya DM
yaitu sebanyak 82,1% responden yang memiliki pola makan (risiko kebiasaan
mengkonsumsi jenis makanan untuk terjadinya DM) yang tinggi, memiliki
kadar glukosa darah tidak terkontrol sedangkan 39,6% responden yang
memiliki pola makan yang rendah memiliki kadar glukosa darah terkontrol.
Penelitian yang sama disebutkan pula bahwa peningkatan DM yang cukup
tinggi berhubungan dengan adanya perubahan gaya hidup yaitu faktor yang
paling menonjol adalah pola makan yang salah dan aktivitas fisik.

Hal tersebut juga terbukti pada gaya hidup salah satu kelurahan di Depok
yaitu Kelurahan Cisalak Pasar khususnya di RW 05 yaitu berdasarkan hasil
penyebaran 48 kuesioner, 51,25% memiliki pengetahuan cukup tentang DM,
46,25% mengatakan mengkonsumsi makanan yang manis (mengandung gula)
lebih dari 3 kali dalam sehari, keluarga sering mengemil makanan atau
minuman manis dalam seminggu sebesar 13,75%, 40% keluarga menyatakan
tidak pernah berolahraga, dan 48% tidak pernah melakukan pemeriksaan gula
darah.

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Gaya hidup yang tidak sehat jika tidak dicegah atau dikontrol maka akan
memperburuk kesehatan yakni dapat memunculkan komplikasi pada
penderita DM. Komplikasi yang dapat timbul antara lain kebutaan, impotensi,
penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hipertensi, dan amputasi (Smeltzer,
2002). Upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mencegah maupun
mengontrol DM antara lain edukasi, diet, latihan jasmani, dan intervensi
farmakologis (PERKENI, 2011) sedangkan upaya di wilayah RW 05 yaitu
telah diadakannya penyuluhan terkait DM di wilayah RW 05 oleh residen
FIK UI dan tersedianya Posbindu yang diadakan sebulan sekali untuk
mengontrol kesehatan dengan salah satunya yaitu adanya pemeriksaan gula
darah. Upaya yang telah dilakukan tersebut belum optimal, ini dibuktikan
dengan masih banyaknya angka kejadian DM.

Peran perawat komunitas sangat penting dalam mengatasi masalah DM yang


semakin meningkat prevalensinya. Friedman (2003) menyebutkan bahwa
peran perawat komunitas antara lain sebagai pemberi asuhan keperawatan
langsung dan edukator untuk keluarga. Mahasiswa praktik KKMP
(Keperawatan Kesehatan Masalah Perkotaan) mencoba berperan sebagai
perawat komunitas dalam ranah keluarga yakni membina salah satu keluarga
di RW 05 dengan masalah DM.

Keluarga yang mahasiswa bina yaitu keluarga Bpk M (62 tahun). Bpk M
memiliki gaya hidup seperti suka mengkonsumsi makanan manis, tidak
mengatur pola makan, tidak terlalu suka sayur, konsumsi buah jika diingatkan
oleh istrinya, gula darah sewaktu didapatkan yaitu 248 mg/dl (saat
pengecekkan, klien mengatakan telah makan dalam jangka waktu agak lama
yaitu

mengkonsumsi

semangkuk

bubur

sampai

akhirnya

dilakukan

pengecekkan gula darah tersebut). Berdasarkan data tersebut dapat ditegakkan


diagnosis ketidakefektifan manajamen kesehatan diri.

Penulis melakukan proses asuhan keperawatan keluarga mulai dari


pengkajian sampai evaluasi dengan menggunakan model Friedman (2003)

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

dengan intervensi unggulannya yaitu manajemen diet selama 5 minggu atau


10 kali kunjungan. Manajemen diet dipilih menjadi intervensi unggulan
karena berdasarkan penelitian yang telah dipaparkan diatas, mayoritas
menyebutkan bahwa pola makan adalah salah satu hal yang sangat
berpengaruh terhadap kadar glukosa darah.

Intervensi yang dilakukan oleh penulis untuk mengatasi diagnosis


ketidakefektifan manajamen kesehatan diri antara lain melakukan TUK 1
sampai TUK 5. Penulis melakukan TUK 1 yaitu mengenal masalah DM
dengan memberikan edukasi definisi, penyebab, tanda dan gejala DM sampai
keluarga dapat mengidentifikasi anggota keluarga yang menderita DM; TUK
2 yaitu menjelaskan akibat DM sampai keluarga dapat memutuskan untuk
merawat anggota keluarga yang menderita DM; TUK 3 yaitu menjelaskan
dan mengajarkan kepada keluarga cara perawatan DM salah satunya yaitu
manajemen diet; TUK 4 yaitu memodifikasi lingkungan seperti menjauhkan
makanan yang manis-manis; dan TUK 5 memotivasi penderita DM untuk
pergi ke pelayanan kesehatan untuk cek gula darah secara berkala.

Evaluasi dari intervensi unggulan manajemen diet yang telah dilakukan oleh
penulis selama 7 kali kunjungan yaitu didapatkan kadar glukosa darah yang
tidak stabil karena ketidakstabilan pula dalam melakukan manajemen diet.
Ini dibuktikan dengan kadar glukosa darah 334 mg/dl sebelum dilakukan
manajemen diet, setelah kunjungan berikutnya didapatkan kadar glukosa
darah 300 mg/dl dengan pengakuan dari Bpk M bahwa ia mematuhi pola
makan yang telah diberikan oleh penulis. Penulis memonitoring diet pada
kunjungan berikutnya didapatkan GDS= 417 mg/dl dengan pengakuan
bahwa ia makan cemilan manis yaitu roti isi kacang ijo 3 bungkus dan
begadang, pagi hari makan bubur ayam 1 mangkok penuh. Monitoring terus
dilakukan pada kunjungan berikutnya didapatkan GDS= 447 mg/dl karena
Bpk M mengatakan makan nasi padang 1 porsi, makan soto ayam, nasi juga
tidak ditakar, pagi hari kemudian makan bubur seporsi, lalu diselingi makan
nasi uduk. Kunjungan terakhir didapatkan GDS= 318 mg/dl dengan

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

pengakuan bahwa Bpk M telah mematuhi pengaturan makan kembali setelah


mengetahui saat pemeriksaan kunjungan lalu GDS nya tinggi. Kesimpulan
dari intervensi unggulan manajemen diet yang diterapkan kepada Bpk M
adalah intervensi berhasil sebagian karena dengan manajemen diet yang baik
dan terkontrol, ternyata Bpk M memiliki kadar glukosa darah yang terkontrol
pula begitupun sebaliknya.

1.2 TujuanPenulisan
1.2.1

Tujuan Umum

Memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan keluarga Bpk M


dengan diagnosis ketidakefektifan manajemen kesehatan diri.

1.2.2

Tujuan Khusus

Tujuan khusus penulisan laporan ini adalah memberikan gambaran tentang:


1.2.2.1 Pengkajian keperawatan terkait masalah kesehatan keluarga dengan
DM.
1.2.2.2 Perencanaan keperawatan yang dilakukan untuk menyelesaikan
masalah keperawatan dengan DM
1.2.2.3 Implementasi yang dilakukan pada keluarga dengan masalah DM
1.2.2.4 Evaluasi tingkat keberhasilan intervensi yang dilakukan.

1.3 Manfaat Penulisan


Manfaat dari penulisan ini yaitu meliputi manfaat untuk keluarga, masyarakat,
perawat puskesmas, dan keilmuan.
1.3.1

Keluarga

Hasil dari penulisan ini bertujuan untuk memandirikan keluarga dan sebagai
informasi untuk merawat anggota keluarga dengan diagnosis ketidakefektifan
manajemen kesehatan diri dengan masalah DM.
1.3.2 Masyarakat
Hasil dari penulisan ini untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat,
memberdayakan masyarakat, dan aktif dalam pencegahan masalah kesehatan
DM khususnya dengan diagnosis ketidakefektifan manajemen kesehatan diri.

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

1.3.3 Perawat Puskesmas


Hasil dari penulisan ini dapat menjadi data dasar yang digunakan dalam
memberikan pelayanan keperawatan dengan masalah DM, menjadi role
model pelayanan asuhan keperawatan keluarga kepada klien dengan diagnosis
ketidakefektifan manajemen kesehatan diri dengan masalah DM.
1.3.4 Keilmuan
Hasil dari penulisan ini dapat menjadi sumber informasi untuk laporan karya
ilmiah akhir selanjutnya yaitu asuhan keperawatan keluarga dengan diagnosis
ketidakefektifan manajemen kesehatan diri dengan masalah DM.

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Perkotaan


Kota merupakan pusat urban dengan jumlah penduduk lebih dari satu juta orang
(Lancester & Stanhope, 2004). Kota merupakan daerah yang menjadi pusat
kegiatan dari pemerintahan, ekonomi, dan kebudayaan (Alfian, 2007). Jadi, kota
merupakan suatu tempat dengan jumlah penduduk lebih dari satu juta orang dan
menjadi pusat kegiatan dari pemerintahan, ekonomi, dan kebudayaan.

Allender, Rector, dan Warner (2010) menyebutkan bahwa kota juga dapat dilihat
dari bentuk fisik, ekonomi, jumlah penduduk, aspek sosial dan aspek hukumnya.
Kota jika dilihat dari bentuk fisiknya yaitu memiliki gedung yang tinggi, memiliki
tranportasi yang memadai, bentuk bangunan rumah lebih terlihat moderen dan
mengikuti perubahan zaman. Kota jika dilihat dari aspek penduduknya yaitu
jumlah penduduk kota lebih banyak dan heteregon baik dari agama, suku, dan
budaya. Kota dilihat dari aspek sosialnya yaitu masyarakat yang tinggal di kota
terlihat lebih bersifat individual. Kota dilihat dari segi ekonominya yaitu cara
hidup masyarakat kota lebih moderen atau mengikuti tren dunia dan dilihat dari
aspek hukumnya, kota memiliki hak-hak dan kewajiban hukum bagi penghuni
suatu wilayah.

Berdasarkan aspek-aspek tersebut, dapat menarik masyarakat dari daerah


pedesaan (rural) ke perkotaan (urban) sehingga terjadi pertambahan penduduk
dan dapat terjadi pula perubahan gaya hidup ke arah konsumerisme serta
perubahan perilaku hidup tidak sehat. Menurut Tim Vitahealth (2004) juga
menyebutkan bahwa salah satu aspek paling menonjol pada gaya hidup
masyarakat kota adalah tingginya konsumsi makanan gaya barat seperti makananmakanan instan yang banyak mengandung kadar gula tinggi, kolesterol, zat
pengawet, zat-zat campuran lainnya serta kurangnya mengkonsumsi makanan
yang berasal langsung dari alam. Hal ini lama-kelamaan dapat menimbulkan suatu
masalah. Masalah yang dapat timbul antara lain masalah kesehatan pada
Universitas Indonesia

8
Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

masyarakat perkotaan seperti penyakit kardiovaskuler seperti jantung dan stroke


serta penyakit degeneratif seperti DM (Lancester & Stanhope, 2004).

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan data tahun 2003 bahwa diabetes mellitus
merupakan penyakit tidak menular yang banyak diderita di daerah perkotaan yaitu
sebesar 14,7% dibandingkan di pedesaan yaitu sebesar 7,2% (Depkes RI, 2009).
Tanda dan gejala DM yang dapat timbul yaitu cepat lapar, cepat haus, sering
buang air kecil terutama pada malam hari, lemas, dan kulit gatal-gatal (Smeltzer,
2002). Perawat berperan penting untuk mengatasi tanda dan gejala DM tersebut
sebelum penyakit DM bertambah parah. Peran perawat untuk mengatasi masalah
kesehatan tersebut menurut Friedman (2003) antara lain dapat sebagai advokat,
koordinator, kolaborator, memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan umum
seperti mengatasi masalah kesehatan dengan memberikan perawatan langsung
serta memberikan bimbingan atau konseling kepada keluarga, dan sebagai
pengawas kesehatan.

2.2 Konsep Keluarga Tahap Tumbuh Kembang Dewasa


2.2.1 Tahap Perkembangan
Tahap perkembangan pada keluarga dengan usia dewasa menurut Friedman,
Bowden, dan Jones (2003) yaitu (1) memperluas lingkaran keluarga dari keluarga
inti menjadi keluarga besar; (2) memperbaharui dan menyesuaikan kembali
hubungan pernikahan; (3) membantu orang tua suami dan istri yang sudah menua
dan sakit; (3) membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat;
dan (4) menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan. Menurut Erikson
(1982, dalam Potter & Perry, 2005) tugas perkembangan utama pada usia dewasa
adalah mencapai generativitas yakni keinginan untuk merawat dan membimbing
orang lain. Teori Havighurst (1972, dalam Potter & Perry, 2005) menyatakan
bahwa ada 7 tugas perkembangan pada dewasa yaitu pencapaian tanggung jawab
sosial orang dewasa, menetapkan dan mempertahankan standar kehidupan,
membantu anak-anak remaja menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan
bahagia, mengembangkan aktivitas luang, berhubungan dengan pasangannya
sebagai individu, menerima dan menyesuaikan perubahan fisiologis pada usia

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

10

pertengahan, dan menyesuaikan perubahan diri dengan orang tua yang telah
lansia.

2.2.2 Tugas Keluarga Dengan Dewasa di Bidang Kesehatan


Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga memiliki tugas di bidang
kesehatan menurut Friedman (2003), yaitu:
a) Mengenal masalah kesehatan keluarga yaitu anggota keluarga perlu mengenal
keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarga.
Jika menyadari adanya perubahan keluarga, perlu dicatat kapan terjadinya,
perubahan yang terjadi, dan seberapa besar perubahannya.
b) Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat untuk keluarga adalah upaya
keluarga untuk mencari pertolongan yang tepat yang sesuai dengan keadaan
keluarga. Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat
agar masalah kesehatan dapat berkurang atau teratasi.
c) Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan adalah dimana
keluarga telah mengambil tindakan yang tepat dan benar namun keluarga
memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, anggota keluarga yang sakit perlu
perawatan lanjutan yang dapat dilakukan di pelayanan kesehatan atau di
rumah jika keluarga telah memiliki kemampuan melakukan tindakan
pertolongan pertama.
d) Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga. Hal
ini diperlukan untuk menunjang perawatan anggota keluarga yang sakit.
e) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi keluarga. Hal
ini diperlukan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat keparahan penyakit
atau keberhasilan suatu tindakan kesehatan yang telah dilakukan oleh
keluarga.

2.2.3 Peran Perawat Keluarga


Peran perawat dalam keluarga sangat penting. Menurut Friedman (2003) bahwa
peran perawat keluarga antara lain dapat sebagai advokat, koordinator,
kolaborator, memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan umum seperti mengatasi

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

11

masalah kesehatan dengan memberikan perawatan langsung serta memberikan


bimbingan atau konseling kepada keluarga, dan sebagai pengawas kesehatan.

Perawat dalam mengubah kebiasaan kesehatan dapat dengan melakukan


penyuluhan dan konseling kesehatan yaitu perawat sebagai pendidik dan
fasilitator, namun cara ini tidak sepenuhnya mengubah kebiasaan klien (Friedman,
2003). Klien dalam mengubah kebiasaannya mungkin memiliki hambatan seperti
hambatan eksternal (kurang fasilitas, kurang materi, dan kurang dukungan sosial)
dan

hambatan

internal

(kurang

pengetahuan,

kurang motivasi,

kurang

keterampilan untuk mempengaruhi perubahan pada kebiasaan kesehatan, dan


ketidakjelasan tujuan jangka pendek serta jangka panjang) (Potter & Perry, 2005).
Klien mengontrol dan bertanggung jawab terhadap perilaku kesehatan mereka
sendiri (Friedman, 2003). Perawat hanya dapat memberikan penjelasan terkait
perubahan kebiasaan dan menawarkan infomasi tentang risiko kesehatan,
memberikan penguatan positif untuk perilaku dan keputusan sehat.

2.3 Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Diabetes Mellitus (DM)


2.3.1 Pengkajian
Pengkajian keluarga yang perlu dilakukan menurut Friedman (2003) yaitu
mengidentifikasi data sosial-budaya, data lingkungan, struktur keluarga, fungsi
keluarga, stres serta strategi koping keluarga. Pengumpulan data keluarga berasal
dari berbagai sumber wawancara klien tentang peristiwa yang lalu dan saat ini,
temuan objekif seperti observasi rumah keluarga dan fasilitasnya serta penilaian
subjektif seperti pengalaman yang dilaporkan keluarga. Lima tugas keluarga yang
perlu dikaji pula seperti TUK 1 bagaimana keluarga dalam mengenal masalah
kesehatan, TUK 2 bagaimana keluarga dalam memutuskan suatu masalah
kesehatan, TUK 3 bagaimana keluarga dalam

merawat kesehatannya, TUK 4

bagaimana

lingkungan

keluarga

dalam

memodifikasi

agar

mendukung

kesehatannya, dan TUK 5 bagaimana keluarga dalam hal pemanfaatan pelayanan


kesehatan.

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

12

TUK 1 mengenal masalah yaitu apakah keluarga dapat mendefinisikan DM yaitu


gangguan yang ditandai dengan kenaikan kadar gula darah sewaktu dan 2 jam
setelah makan lebih dari 200 mg/dl dan gula darah puasa lebih dari 140 mg/dl;
penyebab DM yaitu faktor keturunan, kegemukan, sering makan makanan manis,
kurang olahraga, dan stres; tanda dan gejala DM seperti cepat lapar, cepat haus,
sering buang air kecil terutama pada malam hari, lemas, dan kulit gatal-gatal
sampai apakah keluarga dapat mengidentifikasi anggota keluarga yang menderita
DM; TUK 2 apakah keluarga dapat menjelaskan akibat DM yaitu kebutaan,
impotensi, penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hipertensi, amputasi dan apakah
keluarga dapat memutuskan untuk merawat anggota keluarga yang menderita
DM; TUK 3 apakah keluarga dapat menjelaskan serta mendemonstrasikan cara
perawatan DM seperti manajemen diet, minum obat secara teratur, perawatan
kaki, senam kaki, olahraga teratur, kontrol gula darah minimal sebulan sekali;
TUK 4 apakah keluarga telah memodifikasi lingkungan untuk meningkatkan
kesehatannya; dan TUK 5 apakah keluarga sudah memanfaatkan

pelayanan

kesehatan.

2.3.2 Diagnosis Keperawatan yang Dapat Muncul Akibat DM


Diagnosis keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu,
keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang
aktual atau potensial (NANDA, 2012). Diagnosis keperawatan memberikan dasar
dalam pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang menjadi
akuntabilitas seorang perawat (Friedman, 2003). Diagnosis yang dapat muncul
pada keluarga terkait fungsi perawatan keluarga seperti ketidakefektifan
manajemen kesehatan diri, ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan diri,
ketidakefektifan penatalaksanaan regimen terapeutik, dll (NANDA, 2012).

2.3.3 Rencana Keperawatan dengan DM


Rencana keperawatan merupakan suatu pedoman tertulis yang terdiri dari
berbagai intervensi keperawatan beserta tujuannya untuk menyelesaikan suatu
diagnosis keperawatan (Friedman, 2003). Rencana keperawatan yang disertai
tujuan yang jelas merupakan hal yang penting agar intervensi yang dilakukan pun

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

13

dapat

bermakna

untuk

keluarga.

Contoh

rencana

keperawatan

untuk

menyelesaikan diagnosis ketidakefektifan manajemen kesehatan diri dengan DM


misalnya rencana intervensi untuk melakukan TUK 1 sampai TUK 3 dengan
melakukan manajemen diet, melatih senam kaki, memotivasi untuk olahraga
teratur dan kontrol gula darah secara berkala serta dilanjutkan dengan TUK 4 dan
TUK 5 dengan tujuan agar masalah ketidakefektifan manajemen kesehatan diri
dengan DM dapat teratasi.

2.3.4 Intervensi
Intervensi menurut Wright dan Bell (1994 dalam Friedman, 2003) merupakan
suatu tindakan atau respon perawat yang meliputi tindakan terapeutik nyata dari
perawat,

yang

terjadi

dalam

konteks

hubungan

perawat-klien

untuk

mempengaruhi fungsi individu, keluarga, dan komunitas. Intervensi keperawatan


keluarga menurut Friedman (2003) antara lain modifikasi perilaku, modifikasi
lingkungan, modifikasi gaya hidup, strategi pengajaran, dan lain-lain. Contoh
intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan
ketidakefektifan manajemen kesehatan diri antara lain menjelaskan dan
mengajarkan senam kaki, perawatan kaki, manajemen diet, memotivasi untuk
olahraga teratur dan kontrol gula darah secara teratur. Salah satu dari intervensi
tersebut yaitu manajemen diet, menjadi intervensi unggulan penulis untuk
mengatasi masalah keperawatan ketidakefektifan manajemen kesehatan diri pada
keluarga Bpk M.
2.3.4.1 Manajemen Diet
Manajemen diet merupakan salah satu penatalaksanaan yang dapat dilakukan
untuk

diabetes

(Smeltzer,

2002).

Penatalaksanaan

diet

DM

adalah

penatalaksanaan diet yang meliputi 3 hal utama yaitu jumlah makanan, jenis
makanan, dan jadwal makan (PERKENI, 2011). Menurut ADA (2010)
manajemen diet adalah pembatasan jumlah energi, karbohidrat, lemak jenuh, dan
natrium. Jadi dapat disimpulkan bahwa manajemen diet adalah salah satu
penatalaksanaan DM yang memperhatikan jumlah makanan, jenis makanan, dan
jadwal makan dengan membatasi pula jumlah energi, karbohidrat, lemak jenuh,
dan natrium.

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

14

Tujuan utama dari manajemen diet menurut Smeltzer (2002) adalah memberikan
semua unsur makanan esensial seperti mineral dan vitamin; mencapai dan
mempertahankan berat badan yang sesuai; memenuhi kebutuhan energi;
mencegah fluktuasi kadar glukosa darah dengan mengupayakan kadar glukosa
darah mendekati normal; dan menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini
meningkat. Cara untuk mencapai tujuan tersebut yakni perlu memperhatikan
kebutuhan energi serta zat gizi penderita DM.

2.3.4.2 Kebutuhan Energi dan Zat Gizi Penderita DM


Pengaturan diet berdasarkan jumlah makanan pada klien DM berdasarkan
konsensus pengelolaan dan pencegahan DM PERKENI (2011) meliputi:
2.3.4.2.1 Zat Gizi Penderita DM
a) Karbohidrat
Karbohidrat yang dianjurkan untuk penderita DM sebesar 45-65% total
asupan energi dan makanan harus mengandung karbohidrat terutama yang
berserat tinggi. Penggunaan sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan
energi dan pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula jika
tidak melebihi batas aman konsumsi harian.
b) Lemak
Asupan lemak yang dianjurkan yaitu sekitar 20-25% kebutuhan kalori. Bahan
makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh
dan lemak trans seperti seperti daging berlemak dan susu penuh (whole milk),
dan anjuran konsumsi kolesterol tidak leih dari 300 mg/hari.
c) Protein
Protein yang dibutuhkan yaitu sebesar 10 20% total asupan energi. Sumber
protein yang baik adalah seafood seperti ikan, udang, cumi; daging tanpa
lemak; ayam tanpa kulit; produk susu rendah lemak; kacang-kacangan; tahu;
dan tempe.
d) Natrium
Anjuran asupan natrium untuk klien DM sama dengan anjuran untuk
masyarakat umum yaitu tidak melebihi 3000 mg atau sama dengan 6-7 g (1

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

15

sendok teh) garam dapur. Sumber natrium antara lain adalah garam dapur,
vetsin, soda, dan bahan pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit.
e) Serat
Makanan yang mengandung serat seperti kacang-kacangan, buah dan sayuran
serta sumber karbohidrat yang tinggi serat seperti gandum. Anjuran konsumsi
serat adalah 25 g/1000 kkal/hari.
f) Alkohol
Jika penderita DM ingin mengkonsumsi alkohol sebaiknya pada saat lambung
tidak kosong agar tidak terjadi hipoglikemia. Penderita DM harus membatasi
konsumsi alkohol.
g) Pemanis alternatif
Pemanis dapat dikelompokkan menjadi pemanis bergizi dan pemanis tak
bergizi. Pemanis bergizi adalah gula alkohol (seperti isomalt, lactitol, maltitol,
mannitol, sorbitol dan xylitol) dan fruktosa karena mengandung karbohidrat
kompleks. Pemanis tak bergizi termasuk yaitu aspartam, sakarin, acesulfame,
potassium, sukralose, dan neotame

karena mengandung karbohidrat

sederhana.
2.3.4.2.2 Kebutuhan Energi
Kebutuhan kalori perlu ditentukan pada penderita DM. Ada cara untuk
menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan penderita DM yaitu dengan cara
menghitung kebutuhan kalori. Kebutuhan kalori didapatkan dengan menghitung
kebutuhan kalori basal yang besarnya 25 kalori/kg berat badan ideal (BBI) untuk
wanita dan 30 kalori/kg berat badan ideal (BBI) untuk pria, ditambah atau
dikurangi bergantung pada beberapa jenis kelamin, faktor umur, aktivitas, dan
berat badan.

Perhitungan berat badan Ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang dimodifikasi
adalah:
Berat Badan Ideal (BBI) = 90% x (TB dalam cm - 100) x 1kg
Kriteria hasil perhitungan adalah berat badan normal (BBN) yaitu jika BB pada
rentang 10% BBI; kurus jika BB kurang dari rentang 10% BBI ; gemuk jika
BB lebih dari rentang 10% BBI.

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

16

Perhitungan berat badan ideal menurut indeks massa tubuh (IMT) dapat dihitung
dengan rumus:
IMT = BB(kg)/TB(m)2
Klasifikasi IMT yaitu BB kurang jika IMT <18,5; BB normal jika IMT 18,5-22,9;
BB lebih jika IMT >23,0; dengan risiko jika IMT 23,0-24,9; obesitas tingkat I jika
IMT 25,0-29,9; obesitas tingkat II jika IMT >30.

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain: (1) jenis kelamin
(kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria, kebutuhan kalori wanita
sebesar 25 kal/kg BBI dan untuk pria sebesar 30 kal/kg BBI atau disebut
kebutuhan basal); (2) umur (untuk pasien usia di atas 40 tahun, dikurangi 5% dari
kebutuhan basal); (3) aktivitas fisik atau pekerjaan (kebutuhan kalori dapat
ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik, penambahan sejumlah 10% dari
kebutuhan basal diberikan pada aktivitas ringan, 20% pada pasien dengan
aktivitas sedang, dan 30% dengan aktivitas berat); (4) berat badan (bila masuk
dalam kategori kegemukan, maka dikurangi sekitar 20% dari kebutuhan basal
sedangkan jika kategori kurus ditambah 20 % dari kebutuhan basal, jika kategori
normal tidak perlu ada penambahan maupun pengurangan).

2.3.4.3 Pemilihan Jenis Makanan


Penderita DM harus dapat memilih jenis makanan yang tepat. Makanan yang
perlu dihindari adalah makanan yang mengandung banyak karbohidrat sederhana,
kolesterol, lemak trans, dan lemak jenuh serta tinggi natrium (ADA, 2010).
Menurut Waspadji, Kartini, dan Suharyanti (2010) bahwa makanan yang dapat
dikonsumsi adalah sumber karbohidrat kompleks, makanan tinggi serat larut air,
dan makanan yang diolah dengan sedikit minyak. Penggunaan gula murni dapat
digunakan hanya sebagai bumbu.

Menurut Waspadji, Kartini, dan Suharyanti (2010) pula bahwa makanan yang
mengandung karbohidrat mudah diserap seperti sirup, gula, dan sari buah adalah
jenis makanan yang harus dihindari. Sayuran dengan kandungan karbohidrat

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

17

tinggi seperti buncis, kacang panjang, wortel, kacang kapri, daun singkong, bit,
dan bayam adalah jenis sayuran yang harus dibatasi. Sayuran yang bebas untuk
dikonsumsi yaitu sayuran dengan kandungan kalori rendah seperti oyong, labu,
lobak, selada, jamur, dan tomat. Buah-buahan berkalori tinggi seperti nanas,
anggur, mangga, sirsak, pisang, alpukat, dan sawo adalah jenis buah yang
sebaiknya dibatasi.

Jenis-jenis makanan yang dapat dikonsumsi oleh penderita DM bukan tidak


mungkin nantinya menimbulkan rasa bosan. Oleh karena itu, agar ada variasi
makanan, dapat diganti dengan makanan penukar lain asalkan kandungan zat
gizinya sama dengan makanan yang digantikannya (Suyono, 2009).

2.3.4.4 Pengaturan Jadwal Makan


Pengaturan jadwal makan adalah penting karena berkaitan dengan kadar glukosa
darah (ADA, 2010). Penderita DM sebaiknya makan sesuai jadwal yaitu 3 kali
makan utama dan 3 kali makan selingan (Rozaline, 2006). Jadwal makan standar
yang digunakan oleh penderita DM disajikan dalam tabel berikut (Waspadji,
2007).

Tabel 2.1 Jadwal Makan Penderita DM


Jenis Makan

Waktu Makan

Makan pagi

07.00

Selingan

10.00

Makan siang

13.00

Selingan

16.00

Makan sore/malam

19.00

Selingan

21.00

Sumber: Waspadji (2007). Pedoman diet DM. Jakarta: FK UI

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

18

2.3.4.5 Standar Diet DM


Menurut Waspadji, Kartini, dan Suharyanti (2010), bahwa standar diet DM
diberikan pada pasien diabetes atau pasien sehat yang bukan penyandang DM
sesuai kebutuhannya. Menurut Tjokroprawiro (1989) terdapat 10 jenis standar diet
menurut kandungan energi, yaitu 1100, 1300, 1500, 1700, 1900, 2100, 2300,
2500, 2700, dan 2900.

2.3.5 Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan. Evaluasi berguna untuk
mengetahui apakah tindakan yang telah dilakukan oleh perawat tercapai atau
tidak. Keberhasilan lebih ditentukan oleh hasil pada sistem keluarga dan anggota
keluarga

(bagaimana

respon

keluarga)

daripada

intervensi

yang

diimplementasikan (Friedman, 2003). Evaluasi dapat diukur dengan melakukan


evaluasi sumatif, formatif, dan tingkat kemandirian keluarga.

Evaluasi sumatif merupakan evaluasi yang dilakukan setelah semua proses


keperawatan dilakukan sedangkan evaluasi formatif merupakan evaluasi yang
segera perawat lakukan setelah implementasi dilakukan yaitu berupa SOAP
(subjektif, objektif, analisis, dan perencanaan) (Asmadi, 2008). Tingkat
kemandirian dapat dievaluasi dengan melihat 7 kriteria

dengan hasil tingkat

kemandirian I jika memenuhi kriteria 1 dan 2, kemandirian II jika memenuhi


kriteria 1 sampai 5, kemandirian III jika memenuhi kriteria 1 sampai 6, dan
kemandirian IV jika memenuhi kriteria 1 sampai 7. Ketujuh kriteria tersebut yaitu
menerima petugas kesehatan, menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana,
menyatakan masalah kesehatan secara benar, memanfaatkan fasilitas kesehatan
secara anjuran, melaksanakan perawatan sederhana sesuai anjuran, melaksanakan
tindakan pencegahan secara aktif, dan melaksanakan tindakan promotif secara
aktif.

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

BAB 3
LAPORAN KASUS KELUARGA KELOLAAN

3.1 Data Umum


Keluarga kelolaan yang mahasiswa kelola adalah salah satu keluarga di wilayah
RW 05 Kelurahan Cisalak Pasar yaitu di wilayah RT 01. Keluarga ini memiliki
salah satu anggota keluarga yang menderita DM yaitu Bapak M.

Bapak M merupakan kepala keluarga yang berusia 62 tahun dan istri dari Bapak
M yaitu Ibu H yang berusia 60 tahun. Mereka beragama Islam dan berasal dari
suku Betawi. Mereka memiliki tingkat pendidikan sampai sekolah dasar.
Pekerjaan Bapak M adalah seorang tukang ojek dan sebagai ketua RT 01
sedangkan Ibu H adalah seorang ibu rumah tangga yang terkadang juga
mengkreditkan pakaian kepada tetangga di sekitar rumahnya. Mereka memiliki 5
orang anak yaitu anak MH (42 tahun), anak E (38 tahun), anak H (36 tahun), anak
A (32 tahun), dan anak AN (31 tahun). Berdasarkan usia anak pertama, maka
keluarga ini merupakan keluarga dengan tumbuh kembang usia dewasa. Anak
Bapak M dan Ibu H telah berkeluarga dan tinggal terpisah dengan mereka, hanya
anak ke 5 bersama istri dan anaknya yang tinggal serumah dengan mereka. Oleh
karena itu, tipe keluarga Bapak M adalah keluarga extended family.

3.2 Pengkajian
Keluarga Bapak M mengatakan bahwa Bapak M telah menderita DM sejak 2
tahun lalu, memiliki riwayat TB serta pernah mengalami kebutaan beberapa bulan
lalu sedangkan Ibu H, anak ke 5, menantu serta cucunya mengatakan tidak
memiliki masalah kesehatan. Bapak M mengatakan pula bahwa ia memiliki ibu
yang menderita DM. Sebelum ia mengetahui dirinya DM, ia memang memiliki
gaya hidup yang kurang baik seperti suka mengkonsumsi makanan manis, tidak
mengatur pola makan, minum kopi 2 kali sehari dengan gula, tidak terlalu suka
sayur, konsumsi buah jika diingatkan oleh istrinya, merokok 1 bungkus padahal
istri sudah selalu mengingatkan agar kurangi atau berhenti merokok, suka
begadang jika ada acara kesukaan, tidak pernah olahraga setelah keluar dari club

19

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

20

sepak bola tahun 1995 namun hanya jalan kaki saat pagi. Setelah mengetahui
dirinya DM, Bapak M mengatakan belum juga mengubah gaya hidupnya. Selain
itu, istri Bapak M juga mengatakan terkadang Bapak M stres jika melihat perilaku
anak ke 3 yang memang rumah mereka sangat berdekatan dan karakteristik dari
Bapak M yang lebih sering memendam masalah daripada menceritakannya
kepada orang lain. Selain itu, Bapak M juga mengatakan jika mengetahui gula
darahnya naik, ia langsung kepikiran. Bapak M mengatakan agar stresnya
berkurang, ia hanya jalan-jalan saja dengan menggunakan motornya.

Berdasarkan pengkajian fisik yang dilakukan, kondisi Ibu H serta menantunya


adalah baik sedangkan Bapak M memiliki masalah pada gula darahnya yaitu
GDS= 248 mg/dl, ia mengatakan telah makan dalam jangka waktu agak lama
sampai akhirnya dilakukan pengecekkan gula darah tersebut. Selain itu, Bapak M
memiliki tinggi badan 156 cm dan berat badan 54 kg dengan IMT yang masih
tergolong normal yaitu

22,2, kadang Bapak M terlihat batuk-batuk, terlihat

minum kopi manis saat berbincang, dan terlihat agak murung saat membicarakan
masalah anak ke 3 nya.

Saat ditanya terkait pengetahuan tentang DM, Bapak M mengatakan DM adalah


penyakit gula dan ia tahu gula darahnya tinggi namun tidak mengetahui batas gula
darah normal. Penyebab DM yang ia tahu adalah berawal dari pola makan yang
tidak baik yaitu suka makanan manis. Tanda dan gejala DM yang ia tahu dan
dirasakan pula yaitu rasa sering lapar, badan lemas serta kesemutan pada tangan
dan kaki pula yang ia rasakan saat ini. Komplikasi yang ia tahu adalah amputasi
dan kebutaan. Bapak M mengatakan setelah mengetahui dirinya DM, ia rajin
untuk melakukan pemeriksaan di pelayanan kesehatan terdekat dan rajin
mengkonsumsi obat Glibenclamide dan Metformin dengan dosis masing-masing
yaitu 1x1 namun belum dapat mengatur makan sampai saat ini.

3.3 Perencanaan
Berdasarkan pengkajian keluarga yang telah dilakukan, maka mahasiswa
menegakkan

diagnosa

keperawatan.

Diagnosa

yang

pertama

adalah

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

21

ketidakefektifan manajemen kesehatan diri pada Bpk M dengan DM dengan data


subjektif seperti suka mengkonsumsi makanan manis, tidak mengatur pola makan,
tidak terlalu suka sayur, konsumsi buah jika diingatkan oleh istrinya, mengeluh
sering kesemutan pada tangan dan kaki, pernah mengalami kebutaan, dan tidak
pernah olahraga setelah keluar dari club sepak bola tahun 1995 namun hanya jalan
kaki saat pagi. Data objektif yang didapat yaitu GDS= 248 mg/dl (saat
pengecekkan, klien mengatakan telah makan dalam jangka waktu agak lama
sampai akhirnya dilakukan pengecekkan gula darah tersebut), tinggi badan 156
cm dan berat badan 54 kg dengan IMT yang masih tergolong normal yaitu 22,2.

Diagnosa yang ke 2 yaitu perilaku kesehatan cenderung berisiko pada keluarga


Bpk M khususnya Bpk M dengan data subjektif seperti merokok 1 bungkus,
suka begadang jika ada acara kesukaan, dan minum kopi 2 kali sehari. Data
objektif yang didapat yaitu terlihat minum kopi saat berbincang dan kadang
terlihat batuk-batuk.

Diagnosa yang ke 3 yaitu koping individu tidak efektif pada keluarga Bpk M
khususnya Bpk M dengan data subjektif seperti memikirkan tingkah laku anak ke
3 yang membuat menjadi pikiran, kurang mau bercerita tentang masalah dan lebih
sering dipendam sendiri, dan langsung kepikiran kalau gula darah naik. Data
objektif yang didapat yaitu terlihat murung saat bercerita.

Setelah ketiga diagnosa keperawatan tersebut ditegakkan, lalu mahasiswa


membuat rencana keperawatan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
Mahasiswa melakukan skoring terlebih dahulu terhadap ketiga diagnosa
keperawatan tersebut. Hasil skoring didapatkan bahwa masalah yang harus diatasi
pertama kali atau yang utama yaitu ketidakefektifan manajemen kesehatan diri
pada Bpk M dengan DM, kedua yaitu perilaku kesehatan cenderung berisiko pada
keluarga Bpk M khususnya Bpk M, dan yang ketiga adalah koping individu tidak
efektif pada keluarga Bpk M khususnya Bpk M. Oleh karena itu, penulis hanya
membahas lebih lanjut tentang diagnosa utama atau diagnosa pertama saja yaitu

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

22

ketidakefektifan manajemen kesehatan diri pada Bpk M dengan DM mulai dari


perencanaan sampai evaluasi.

Rencana asuhan keperawatan yang dibuat memiliki tujuan umum yaitu setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 5 minggu atau selama 7 kali kunjungan,
ketidakefektifan manajemen kesehatan diri pada Bpk M dengan DM dapat
teratasi. Tujuan khusus mengarah pada 5 tugas keluarga yaitu TUK 1 mengenal
masalah kesehatan, TUK 2 memutuskan, TUK 3 merawat, TUK 4 memodifikasi
lingkungan, dan TUK 5 pemanfaatan pelayanan kesehatan. Rencana keperawatan
pada diagnosa keperawatan utama yaitu TUK 1 mengenal masalah yaitu dengan
mendiskuskan definisi (gangguan yang ditandai dengan kenaikan kadar gula darah
sewaktu & 2 jam setelah makan > 200 mg/dl dan gula darah puasa > 140 mg/dl),
penyebab (faktor keturunan, kegemukan, sering makan makanan manis, kurang
olahraga, dan stres), tanda dan gejala DM (cepat lapar, cepat haus, sering buang
air kecil terutama pada malam hari, lemas, dan kulit gatal-gatal) sampai keluarga
dapat mengidentifikasi anggota keluarga yang menderita DM; TUK 2
menjelaskan akibat DM (kebutaan, impotensi, penyakit jantung, stroke, gagal
ginjal, hipertensi, amputasi) dan keluarga dapat memutuskan untuk merawat
anggota keluarga yang menderita DM; TUK 3 menjelaskan dan mengajarkan
kepada keluarga cara perawatan DM yang dapat dilakukan yaitu manajemen diet,
motivasi minum obat secara teratur, perawatan kaki, senam kaki, motivasi
olahraga teratur, kontrol gula darah minimal sebulan sekali, dengan intervensi
yang lebih ditekankan yaitu manajemen diet; TUK 4 memodifikasi lingkungan
seperti menjauhkan makanan yang manis-manis; dan TUK 5 memotivasi
penderita DM untuk pergi ke pelayanan kesehatan untuk cek gula darah secara
berkala.

3.4 Implementasi dan Evaluasi


Implementasi yang dilakukan untuk diagnosa utama yaitu dimulai pada kunjungan
ke 3 pada tanggal 29 Mei 2013, mahasiswa melakukan TUK 1, 2, dan 3. TUK 1
yaitu mengenal masalah dengan mendiskuskan definisi, penyebab, tanda dan
gejala DM sampai keluarga dapat mengidentifikasi anggota keluarga yang

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

23

menderita DM, TUK 2 menjelaskan akibat DM dan keluarga dapat memutuskan


untuk merawat anggota keluarga yang menderita DM, dan TUK 3 yang dilakukan
yaitu pemilihan makanan sesuai dengan triguna makanan serta pemilihan jenis
makanan yang dibatasi dan boleh untuk dikonsumsi dengan menggunakan gambar
serta motivasi minum obat secara teratur. Evaluasi dari kunjungan tersebut yaitu
keluarga mampu mendefinisikan kembali definisi DM yaitu gula darah diatas 200;
dapat menyebutkan 2 dari 5 penyebab DM yaitu keturunan dan makanan yang
tidak terkontrol, 2 dari 5 tanda dan gejala DM yaitu lemes dan sering buang air
kecil, 2 dari 7 akibat DM yaitu amputasi dan kebutaan; 2 dari 6 cara perawatan
DM yaitu minum obat dan makan teratur; dan dapat menyebutkan kembali contoh
jenis makanan sesuai triguna (zat tenaga: nasi, kentang; zat pengatur: sayur dan
buah; zat pembangun: tempe, tahu, ikan, ayam) serta dapat membedakan jenis
makanan yang dibatasi dan dibolehkan yaitu makanan yang dibatasi makanan
yang manis, duren, dodol, kue sedangkan makanan yang dibolehkan yang
kandungan gulanya sedikit seperti beras merah, apel, dan pir serta Bapak M setiap
hari sudah rajin minum obat; TD= 110/70 mmHg. Analisa yang didapat dari
implementasi tersebut adalah TUK 1, 2, dan sebagian TUK 3 (sebagian
manajemen diet tercapai, minum obat berhasil), maka direncanakan untuk
kunjungan berikutnya yaitu akan mengajarkan manajemen diet.

Pada kunjungan ke 4 tanggal 31 Mei 2013, melanjutkan TUK 3 yaitu manajemen


diet. Mahasiswa sebelumnya telah menghitung kebutuhan kalori Bapak M
sehingga mahasiswa telah menyediakan contoh menu sesuai dengan kebutuhan
kalori yang dibutuhkan dan menjelaskan serta memberikan daftar makanan
pengganti pula kepada Bapak M. Evaluasi dari kunjungan tersebut adalah Bapak
M mengatakan akan mencoba mengatur makanannya sesuai dengan yang telah
diajarkan dan akan membatasi makanan manis; Bapak M terlihat antusias untuk
mengikuti aturan makan yang diberikan, gula darah sewaktu Bapak M yaitu 334
mg/dl; TD= 120/80 mmHg. Analisa dari kunjungan tersebut adalah TUK 3
manajemen diet tercapai sehingga rencana untuk kunjungan berikutnya yaitu
monitor diet dan mengajarkan senam kaki.

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

24

Pada kunjungan ke 5 tanggal 4 Juni 2013, melakukan monitoring diet, melatih


senam kaki, dan memotivasi untuk olahraga. Bapak M mengatakan bahwa ia
sudah mencoba mengatur makanannya, jadwal makan juga sudah diatur, istri juga
menyediakan makanan yang dibutuhkan, akan mencoba untuk senam kaki karena
rasanya sering kesemutan, setiap hari Bapak M sudah olahraga namun hanya jalan
pagi. GDS Bapak M yaitu 300 mg/dl (turun dari sebelumnya), TD= 110/80
mmHg. Analisa yang didapat dari implementasi tersebut adalah TUK 3
manajemen diet dan senam kaki tercapai sehingga rencana kunjungan berikutnya
adalah melanjutkan monitoring diet, evaluasi senam kaki, mengajarkan perawatan
kaki, TUK 4 dan TUK 5.

Pada kunjungan ke 6 tanggal 8 Juni 2013, memonitoring diet, mengevaluasi


senam kaki, mengajarkan perawatan kaki, melakukan TUK 4 dan TUK 5. Bapak
M mengatakan tidak mengikuti aturan makan yang telah dibuat (semalam
mengkonsumsi 3 buah roti manis kacang ijo lalu pagi hari kemudian makan bubur
ayam seporsi); senam kaki sudah dilakukan setiap pagi setelah bangun tidur dan
rasa kesemutan masih terasa; setiap keluar rumah sudah menggunakan alas kaki
namun untuk di dalam rumah tidak, serta sudah sering merendam kaki dengan air
hangat; istri mengatakan tidak akan menaruh makanan manis di sembarang
tempat; dan Bapak M sudah rajin ke pelayanan kesehatan selain itu jika obat DM
habis, keluarga segera membelikannya. GDS Bapak M yaitu 417 mg/dl (naik dari
sebelumnya), TD= 120/70 mmHg. Analisa dari implementasi tersebut adalah
TUK 3 manajemen diet belum sepenuhnya dilaksanakan dengan baik sedangkan
TUK 3 senam kaki dan perawatan kaki, TUK 4, dan TUK 5 tercapai. Perencanaan
selanjutnya yaitu memonitoring diet, mengevaluasi senam kaki, dan mengevaluasi
perawatan kaki.

Pada kunjungan ke 7 tanggal 11 Juni 2013, memonitoring diet, mengevaluasi


senam kaki, dan mengevaluasi perawatan kaki. Bapak M mengatakan makan
kadang baik kadang tidak, senam kaki dilakukan setiap hari dan rasa kesemutan
sudah berkurang, perawatan kaki sekadar menggunakan sepatu atau sendal jika
keluar rumah namun di dalam rumah belum menggunakannya, hanya hati-hati

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

25

saja dalam berjalan; TD= 120/80 mmHg. Analisa dari implementasi tersebut
adalah TUK 3 manajemen diet belum sepenuhnya dipatuhi, senam kaki dan
perawatan kaki sudah baik. Perencanaan selanjutnya adalah memonitoring diet
dan mengevaluasi senam kaki.

Pada kunjungan ke 8 tanggal 15 Juni 2013, memonitoring diet dan mengevaluasi


senam kaki. Bapak M mengatakan semalam makan nasi padang 1 porsi, makan
soto ayam, nasi juga tidak ditakar, pagi hari kemudian makan bubur seporsi, lalu
diselingi makan nasi uduk; senam kaki dilakukan setiap hari dan sekarang sudah
tidak kesemutan. Glukosa darah sewaktu Bapak M yaitu 443 mg/dl (naik dari
sebelumnya), TD= 120/80 mmHg. Analisa dari implementasi tersebut adalah diet
belum sepenuhnya dipatuhi dan senam kaki berhasil. Perencanaan kunjungan
berikutnya yaitu memonitor diet dan evaluasi TUK 1-5 diagnosa utama.

Pada kunjungan ke 9 tanggal 18 Juni 2013, memonitoring diet dan mengevaluasi


TUK 1-5 diagnosa utama. Bapak M mengatakan mematuhi kembali manajemen
diet yang disarankan karena kemarin sempat tinggi gula darahnya takut
komplikasi seperti dulu yaitu kebutaan; Bapak M dapat menyebutkan kembali
definisi DM yaitu gula darah diatas 200; dapat menyebutkan 3 dari 5 penyebab
DM yaitu keturunan, makanan tidak terkontrol dan stres, 3 dari 5 tanda dan gejala
DM yaitu sering haus, sering buang air kecil serta gatal-gatal, 3 dari 7 akibat DM
yaitu luka tidak sembuh, kesemutan dan baal serta sakit jantung; 6 dari 6 cara
perawatan DM yaitu diet, minum obat teratur, perawatan kaki, senam kaki,
olahraga, dan kontrol gula darah minimal sebulan sekali; TD= 120/80 mmHg.
Analisa dari implementasi tersebut adalah TUK 1-5 tercapai. Perencanaan pada
kunjungan berikutnya yaitu monitor diet.

Pada kunjungan ke 10 tanggal 22 Juni 2013, memonitoring diet dan memotivasi


keluarga untuk menjalankan cara-cara perawatan DM yang telah diajarkan selama
kunjungan. Keluarga mengatakan Bapak M makannya baik kembali karena pada
kunjungan lalu, gulanya tinggi sekali; akan menjalankan terus cara-cara perawatan
DM yang telah diajarkan. Keluarga antusias untuk menjalankan cara-cara

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

26

perawatan DM, GDS Bapak M yaitu 318 mg/dl (turun dari sebelumnya), TD=
120/80 mmHg. Analisa dari implementasi tersebut yaitu TUK 1-5 berhasil.

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

BAB 4
ANALISIS SITUASI

4.1 Profil Lahan Praktek


RW 05 merupakan wilayah pemukiman yang terletak di Kelurahan Cisalak Pasar.
Kelurahan ini terletak di wilayah yang cukup ramai karena berdekatan dengan
Pasar Cisalak dan jalur utama akses Bogor-Jakarta sehingga dilalui banyak orang.
Kelurahan Cisalak Pasar juga berdekatan dengan beberapa perusahaan besar
sehingga banyak warga pendatang yang tinggal di wilayah Kelurahan Cisalak
Pasar khususnya RW 05. Ini terbukti dari data Laporan Rekapitulasi Penduduk
Kelurahan Cisalak Pasar bahwa pada bulan April 2012, RW yang paling banyak
penduduknya adalah RW 05 yaitu sebesar 15,4% daripada 8 RW lainnya atau
sebanyak 2816 jiwa, yang terdiri dari 1495 laki-laki dan 1321 perempuan.

RW 05 juga merupakan RW di Kelurahan Cisalak Pasar yang memiliki penderita


DM terbanyak yaitu 48 orang. Gaya hidup warga RW 05 berdasarkan hasil
penyebaran 48 kuesioner yaitu 51,25% memiliki pengetahuan cukup tentang DM,
46,25% mengatakan mengkonsumsi makanan yang manis (mengandung gula)
lebih dari 3 kali dalam sehari, keluarga sering mengemil makanan atau minuman
manis dalam seminggu sebesar 13,75%, 40% keluarga menyatakan tidak pernah
berolahraga, dan 48% tidak pernah melakukan pemeriksaan gula darah.

4.2 Analisis Masalah Keperawatan Dengan Konsep Terkait KKMP Dan


Konsep Kasus Terkait
Kota merupakan suatu tempat dengan jumlah penduduk lebih dari satu juta orang
dan menjadi pusat kegiatan dari pemerintahan, ekonomi, dan kebudayaan. Aspek
yang dapat dilihat dari masyarakat perkotaan menurut Allender, Rector, dan
Warner (2010) salah satunya yaitu aspek ekonominya dimana cara hidup
masyarakat kota lebih moderen atau mengikuti tren dunia. Masyarakat dari daerah
pedesaan (rural) beralih ke daerah perkotaan (urban) dapat karena alasan tersebut.
Ini juga terbukti pada salah satu wilayah di Kota Depok yaitu wilayah Kelurahan
Cisalak Pasar. Kelurahan ini banyak pendatang karena terdapat banyak

27
Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

28

perusahaan besar untuk mata pencaharian mereka. Menurut Allender, Rector, dan
Warner (2010) pula bahwa kota jika dilihat dari aspek penduduknya yaitu jumlah
penduduk kota lebih banyak dan heteregon baik dari agama, suku, dan budaya.
Hal ini juga terbukti bahwa penduduk yang heteregon baik dari agama, suku, dan
budaya di Kelurahan Cisalak Pasar tersebar pada 9 RW. Menurut Laporan
Rekapitulasi Penduduk Kelurahan Cisalak Pasar pada bulan April 2012, bahwa
RW 05 adalah penduduk paling banyak daripada 8 RW lainnya yaitu sebesar
15,4% atau terdiri dari 2816 jiwa.

Allender, Rector, dan Warner (2010) menyebutkan bahwa perkotaan juga


dicirikan sebagai suatu wilayah yang dapat menerima pengaruh dari luar secara
cepat atau mengikuti tren dunia. Menurut Tim Vitahealth (2004) bahwa gaya
hidup barat seperti mengkonsumsi junk food atau makanan cepat saji yang
mengandung kadar gula tinggi, kolesterol, zat pengawet, zat-zat campuran lainnya
serta kurangnya mengkonsumsi makanan yang berasal langsung dari alam
merupakan salah satu contoh pengaruh dari luar. Hal tersebut dapat
mengakibatkan masyarakat perkotaan semakin rentan akan penyakit salah satunya
diabetes mellitus yang disebabkan pola makan yang tidak baik (Lancester &
Stanhope, 2004). Hal ini dibuktikan dengan data tahun 2003 bahwa diabetes
mellitus merupakan penyakit tidak menular yang banyak diderita di daerah
perkotaan daripada di pedesaan yaitu 7,2% di pedesaan dan 14,7% di perkotaan
(Depkes RI, 2009). Hal tersebut juga terbukti pada masyarakat di RW 05 yaitu
sebesar 46,25% mengatakan mengkonsumsi makanan yang manis (mengandung
gula) lebih dari 3 kali dalam sehari dan di RW 05 pula terdapat banyak penderita
DM yang terdeteksi yaitu sebanyak 48 orang.

Perawat keluarga berperan penting untuk mengatasi masalah DM yang ada di RW


05 tersebut. Perawat dapat menerapkan proses keperawatan mulai dari pengkajian
sampai evaluasi terkait DM. Perawat keluarga juga harus memperhatikan konsep
keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan karena perawat keluarga bekerja
di ranah keluarga dalam suatu komunitas yaitu komunitas RW 05.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

29

Perawat keluarga dalam hal ini diperankan oleh penulis. Penulis mengelola satu
keluarga yaitu keluarga Bapak M dengan masalah DM yakni dengan diagnosa
keperawatan ketidakefektifan manajemen kesehatan diri. Penulis berperan sebagai
perawat yang memberi perawatan langsung dan sebagai edukator. Peran ini telah
sesuai dengan peran perawat menurut Friedman (2003). Penulis juga telah
melakukan proses keperawatan yaitu mulai dari pengkajian sampai evaluasi
dengan diagnosa keperawatan ketidakefektifan manajemen kesehatan diri serta
telah menggunakan konsep keluarga menurut Friedman (2003) dalam melakukan
asuhan keperawatan.

Pengkajian yang penulis telah lakukan yaitu Bapak M merupakan kepala keluarga
yang berusia 62 tahun dan istri dari Bapak M yaitu Ibu H yang berusia 60 tahun.
Beragama Islam dan berasal dari suku Betawi. Mereka memiliki tingkat
pendidikan sampai sekolah dasar.

Menurut Erikson (1982, dalam Potter & Perry, 2005) tugas perkembangan utama
pada usia ini adalah mencapai generativitas yakni keinginan untuk merawat dan
membimbing orang lain. Ini terbukti bahwa Bpk M ada keinginan untuk merawat
DM nya itu. Teori Havighurst (1972, dalam Potter & Perry, 2005) menyatakan
bahwa ada 7 tugas perkembangan pada dewasa tengah yaitu pencapaian tanggung
jawab sosial orang dewasa, menetapkan dan mempertahankan standar kehidupan,
membantu anak-anak remaja menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan
bahagia, mengembangkan aktivitas luang, berhubungan dengan pasangannya
sebagai individu, menerima dan menyesuaikan perubahan fisiologis pada usia
pertengahan, dan menyesuaikan perubahan diri dengan orang tua yang telah
lansia. Tugas perkembangan tersebut telah dilakukan oleh Bpk M dengan baik.

Pekerjaan Bapak M adalah seorang tukang ojek dan sebagai ketua RT 01


sedangkan Ibu H adalah seorang ibu rumah tangga yang terkadang juga
mengkreditkan pakaian kepada tetangga di sekitar rumahnya. Bapak M dan Ibu H
memiliki 5 orang anak yaitu anak MH (42 tahun), anak E (38 tahun), anak H (36
tahun), anak A (32 tahun), dan anak AN (31 tahun). Berdasarkan usia anak

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

30

pertama, maka keluarga ini merupakan keluarga dengan tumbuh kembang usia
dewasa. Tugas perkembangan pada keluarga dengan dewasa menurut Friedman,
Bowden, dan Jones (2003) yaitu (1) memperluas lingkaran keluarga dari keluarga
inti menjadi keluarga besar; (2) memperbaharui dan menyesuaikan kembali
hubungan pernikahan; (3) membantu orang tua suami dan istri yang sudah menua
dan sakit; (3) membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat;
dan (4) menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan. Tugas
perkembangan keluarga tesebut sudah dicapai oleh keluarga Bapak M.

Penulis kemudian mengkaji fungsi perawatan kesehatan keluarga yaitu Bapak M


mengatakan bahwa Bapak M telah menderita DM sejak 2 tahun lalu, memiliki
riwayat TB serta pernah mengalami kebutaan beberapa bulan lalu sedangkan Ibu
H, anak ke 5, menantu serta cucunya mengatakan tidak memiliki masalah
kesehatan. Bapak M mengatakan pula bahwa ia memiliki ibu yang menderita DM.
Sebelum ia mengetahui dirinya DM, ia memang memiliki gaya hidup yang kurang
baik seperti suka mengkonsumsi makanan manis, tidak mengatur pola makan,
minum kopi 2 kali sehari dengan gula, tidak terlalu suka sayur, konsumsi buah
jika diingatkan oleh istrinya, merokok 1 bungkus padahal istri sudah selalu
mengingatkan agar kurangi atau berhenti merokok, suka begadang jika ada acara
kesukaan, tidak pernah olahraga setelah keluar dari club sepak bola tahun 1995
namun hanya jalan kaki saat pagi. Setelah mengetahui dirinya DM, Bapak M
mengatakan belum juga mengubah gaya hidupnya.

Pengkajian selanjutnya yaitu istri Bapak M mengatakan terkadang Bapak M stres


jika melihat perilaku anak ke 3 yang memang rumah mereka sangat berdekatan
dan karakteristik dari Bapak M yang lebih sering memendam masalah daripada
menceritakannya kepada orang lain. Selain itu, Bapak M juga mengatakan jika
mengetahui gula darahnya naik, ia langsung kepikiran. Bapak M mengatakan agar
stresnya berkurang, ia hanya jalan-jalan saja dengan menggunakan motornya.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

31

Berdasarkan pengkajian fisik yang dilakukan, Bapak M memiliki masalah pada


gula darahnya yaitu GDS= 248 mg/dl, ia mengatakan telah makan dalam jangka
waktu agak lama sampai akhirnya dilakukan pengecekkan gula darah tersebut.
Selain itu, Bapak M memiliki tinggi badan 156 cm dan berat badan 54 kg dengan
IMT yang masih tergolong normal yaitu 22,2, kadang Bapak M terlihat batukbatuk, terlihat minum kopi manis saat berbincang, dan terlihat agak murung saat
membicarakan masalah anak ke 3 nya.

Pengkajian DM juga dilakukan pada 5 tugas keluarga menurut Friedman (2003)


yaitu Bapak M mengatakan DM adalah penyakit gula dan ia tahu gula darahnya
tinggi namun tidak mengetahui batas gula darah normal. Penyebab DM yang ia
tahu adalah berawal dari pola makan yang tidak baik yaitu suka makanan manis.
Tanda dan gejala DM yang ia tahu dan dirasakan pula yaitu rasa sering lapar,
badan lemas serta kesemutan pada tangan dan kaki pula yang ia rasakan saat ini.
Komplikasi yang ia tahu adalah amputasi dan kebutaan. Bapak M mengatakan
setelah mengetahui dirinya DM, ia rajin untuk melakukan pemeriksaan di
pelayanan kesehatan terdekat dan rajin mengkonsumsi obat Glibenclamide dan
Metformin dengan dosis masing-masing yaitu 1x1 namun belum dapat mengatur
makan sampai saat ini.

Langkah selanjutnya setelah pengkajian adalah merumuskan diagnosa. Diagnosa


yang ditegakkan berdasarkan data-data yang telah diperoleh pada saat pengkajian.
Diagnosa yang pertama adalah ketidakefektifan manajemen kesehatan diri
(NANDA, 2012) pada Bpk M dengan DM dengan data subjektif seperti suka
mengkonsumsi makanan manis, tidak mengatur pola makan, tidak terlalu suka
sayur, konsumsi buah jika diingatkan oleh istrinya, mengeluh sering kesemutan
pada tangan dan kaki, pernah mengalami kebutaan, dan tidak pernah olahraga
setelah keluar dari club sepak bola tahun 1995 namun hanya jalan kaki saat pagi.
Data objektif yang didapat yaitu GDS= 248 mg/dl (saat pengecekkan, klien
mengatakan telah makan dalam jangka waktu agak lama sampai akhirnya
dilakukan pengecekkan gula darah tersebut), tinggi badan 156 cm dan berat badan
54 kg dengan IMT yang masih tergolong normal yaitu 22,2.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

32

Diagnosa yang ke 2 yaitu perilaku kesehatan cenderung berisiko (NANDA, 2012)


pada keluarga Bpk M khususnya Bpk M dengan data subjektif seperti merokok
1 bungkus, suka begadang jika ada acara kesukaan, dan minum kopi 2 kali sehari.
Data objektif yang didapat yaitu terlihat minum kopi saat berbincang dan kadang
terlihat batuk-batuk.

Diagnosa yang ke 3 yaitu koping individu tidak efektif (NANDA, 2012) pada
keluarga Bpk M khususnya Bpk M dengan data subjektif seperti memikirkan
tingkah laku anak ke 3 yang membuat menjadi pikiran, kurang mau bercerita
tentang masalah dan lebih sering dipendam sendiri, dan langsung kepikiran kalau
gula darah naik. Data objektif yang didapat yaitu terlihat murung saat bercerita.

Tahap selanjutnya setelah ditegakkan diagnosa keperawatan yaitu membuat


rencana keperawatan. Rencana keperawatan yang akan diimplementasikan
berdasarkan prioritas yakni dilakukan skoring terbih dahulu. Berdasarkan prioritas
yakni didapatkan diagnosa utama yaitu ketidakefektifan manajemen kesehatan
diri. Perawat dalam perencanaan, implementasi dan evaluasi yakni membantu
klien mempertahankan kebiasaan yang lebih sehat dalam menjaga kesehatan dan
memberikan alternatif kebiasaan buruk kepada kebiasaan yang lebih sehat.

Rencana keperawatan yang telah dibuat yaitu memiliki tujuan umum dan tujuan
khusus. Perencanaan yang telah dibuat ini telah sesuai dengan Friedman (2003)
bahwa pada fase perencanaan memiliki tujuan umum dan khusus. Tujuan umum
pada fase perencanaan yang dilakukan yaitu setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 5 minggu atau selama 7 kali kunjungan, ketidakefektifan
manajemen kesehatan diri pada Bpk M dengan DM dapat teratasi. Tujuan
khususnya yaitu TUK 1 mengenal masalah yaitu dengan mendiskuskan definisi
(gangguan yang ditandai dengan kenaikan kadar gula darah sewaktu & 2 jam
setelah makan > 200 mg/dl dan gula darah puasa > 140 mg/dl), penyebab (faktor
keturunan, kegemukan, sering makan makanan manis, kurang olahraga, dan
stres), tanda dan gejala DM (cepat lapar, cepat haus, sering buang air kecil

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

33

terutama pada malam hari, lemas, dan kulit gatal-gatal) sampai keluarga dapat
mengidentifikasi anggota keluarga yang menderita DM; TUK 2 menjelaskan
akibat DM (kebutaan, impotensi, penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hipertensi,
amputasi) dan keluarga dapat memutuskan untuk merawat anggota keluarga yang
menderita DM; TUK 3 menjelaskan cara perawatan DM yang dapat dilakukan
yaitu manajemen diet, motivasi minum obat secara teratur, perawatan kaki, senam
kaki, motivasi olahraga teratur, kontrol gula darah minimal sebulan sekali, dengan
intervensi yang lebih ditekankan yaitu manajemen diet; TUK 4 memodifikasi
lingkungan seperti menjauhkan makanan yang manis-manis; dan TUK 5
memotivasi penderita DM untuk pergi ke pelayanan kesehatan untuk cek gula
darah secara berkala.

Proses keperawatan berikutnya setelah perencanaan yaitu implementasi dan


evalusi dari implementasi yang telah dilakukan. Intervensi keperawatan keluarga
menurut Friedman (2003) antara lain modifikasi perilaku, modifikasi lingkungan,
modifikasi gaya hidup, strategi pengajaran, dan lain-lain. Hal ini telah sesuai
dengan intervensi yang diberikan penulis kepada keluarga. Evaluasi yang penulis
telah lakukan yaitu sudah sesuai dengan Asmadi (2008) yakni evaluasi sumatif
dan formatif dan melakukan penentuan tingkat kemandirian keluarga.

Implementasi pada dewasa secara umum yaitu mengubah kebiasaan hidup sehat
dan peningkatan kesehatan. Perawat mengubah kebiasaan kesehatan dapat dengan
melakukan penyuluhan dan konseling kesehatan yaitu peran perawat sebagai
pendidik dan fasilitator. Selain itu, seorang perawat dalam hal ini hanya dapat
memberikan penjelasan terkait perubahan kebiasaan dan menawarkan infomasi
tentang risiko kesehatan serta memberikan penguatan positif untuk perilaku dan
keputusan sehat. Hal ini telah sesuai dengan peran perawat menurut Friedman
(2003). Peran ini seperti implementasi yang telah dilakukan oleh penulis untuk
diagnosa utama yaitu dimulai pada kunjungan ke 3 pada tanggal 29 Mei 2013,
penulis melakukan TUK 1, 2, dan 3. TUK 1 yaitu mengenal masalah dengan
mendiskuskan definisi, penyebab, tanda dan gejala DM sampai keluarga dapat
mengidentifikasi anggota keluarga yang menderita DM, TUK 2 menjelaskan

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

34

akibat DM dan keluarga dapat memutuskan untuk merawat anggota keluarga yang
menderita DM, dan TUK 3 yang dilakukan yaitu pemilihan makanan sesuai
dengan triguna makanan serta pemilihan jenis makanan yang dibatasi dan boleh
untuk dikonsumsi dengan menggunakan gambar serta motivasi minum obat secara
teratur. Evaluasi dari kunjungan tersebut yaitu keluarga mampu mendefinisikan
kembali definisi DM yaitu gula darah diatas 200; dapat menyebutkan 2 dari 5
penyebab DM yaitu keturunan dan makanan yang tidak terkontrol, 2 dari 5 tanda
dan gejala DM yaitu lemes dan sering buang air kecil, 2 dari 7 akibat DM yaitu
amputasi dan kebutaan; 2 dari 6 cara perawatan DM yaitu minum obat dan makan
teratur; dan dapat menyebutkan kembali contoh jenis makanan sesuai triguna (zat
tenaga: nasi, kentang; zat pengatur: sayur dan buah; zat pembangun: tempe, tahu,
ikan, ayam) serta dapat membedakan jenis makanan yang dibatasi dan dibolehkan
yaitu makanan yang dibatasi makanan yang manis, duren, dodol, kue sedangkan
makanan yang dibolehkan yang kandungan gulanya sedikit seperti beras merah,
apel, dan pir serta Bapak M setiap hari sudah rajin minum obat; TD= 110/70
mmHg. Analisa yang didapat dari implementasi tersebut adalah TUK 1, 2, dan
sebagian TUK 3 (sebagian manajemen diet tercapai, minum obat berhasil), maka
direncanakan untuk kunjungan berikutnya yaitu akan mengajarkan manajemen
diet.

Pada kunjungan ke 4 tanggal 31 Mei 2013, melanjutkan TUK 3 yaitu manajemen


diet. Mahasiswa sebelumnya telah menghitung kebutuhan kalori Bapak M
menurut PERKENI (2011) sehingga mahasiswa telah menyediakan contoh menu
sesuai dengan kebutuhan kalori yang dibutuhkan dan menjelaskan serta
memberikan daftar makanan pengganti pula kepada Bapak M. Evaluasi dari
kunjungan tersebut adalah Bapak M mengatakan akan mencoba mengatur
makanannya sesuai dengan yang telah diajarkan dan akan membatasi makanan
manis; Bapak M terlihat antusias untuk mengikuti aturan makan yang diberikan,
gula darah sewaktu Bapak M yaitu 334 mg/dl; TD= 120/80 mmHg. Analisa dari
kunjungan tersebut adalah TUK 3 manajemen diet tercapai sehingga rencana
untuk kunjungan berikutnya yaitu monitor diet dan mengajarkan senam kaki.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

35

Pada kunjungan ke 5 tanggal 4 Juni 2013, melakukan monitoring diet, melatih


senam kaki, dan memotivasi untuk olahraga. Bapak M mengatakan bahwa ia
sudah mencoba mengatur makanannya, jadwal makan juga sudah diatur, istri juga
menyediakan makanan yang dibutuhkan, akan mencoba untuk senam kaki karena
rasanya sering kesemutan, setiap hari Bapak M sudah olahraga namun hanya jalan
pagi. GDS Bapak M yaitu 300 mg/dl (turun dari sebelumnya), TD= 110/80
mmHg. Analisa yang didapat dari implementasi tersebut adalah TUK 3
manajemen diet dan senam kaki tercapai. GDS turun dari sebelumnya karena Bpk
M mematuhi diet, ini sejalan dengan penelitian Rahmawati, Amminuddisyam, dan
Hidayanti (2011) bahwa dengan pola makan terkontrol maka memiliki kadar
glukosa darah terkontrol pula. Rencana kunjungan berikutnya adalah melanjutkan
monitoring diet, evaluasi senam kaki, mengajarkan perawatan kaki, TUK 4 dan
TUK 5.

Pada kunjungan ke 6 tanggal 8 Juni 2013, memonitoring diet, mengevaluasi


senam kaki, mengajarkan perawatan kaki, melakukan TUK 4 dan TUK 5. Bapak
M mengatakan tidak mengikuti aturan makan yang telah dibuat (semalam
mengkonsumsi 3 buah roti manis kacang ijo lalu pagi hari kemudian makan bubur
ayam seporsi); senam kaki sudah dilakukan setiap pagi setelah bangun tidur dan
rasa kesemutan masih terasa; setiap keluar rumah sudah menggunakan alas kaki
namun untuk di dalam rumah tidak, serta sudah sering merendam kaki dengan air
hangat; istri mengatakan tidak akan menaruh makanan manis di sembarang
tempat; dan Bapak M sudah rajin ke pelayanan kesehatan selain itu jika obat DM
habis, keluarga segera membelikannya. GDS Bapak M yaitu 417 mg/dl (naik dari
sebelumnya), TD= 120/70 mmHg. Hal ini sesuai dengan Prof. Pradana Soewondo
dalam Kompas (2013) yang menyatakan bahwa dengan mengkonsumsi
kandungan gula yang tinggi dapat meningkatkan glukosa darah. Analisa dari
implementasi tersebut adalah TUK 3 manajemen diet belum sepenuhnya
dilaksanakan dengan baik sedangkan TUK 3 senam kaki dan perawatan kaki,
TUK 4, dan TUK 5 tercapai. Perencanaan selanjutnya yaitu memonitoring diet,
mengevaluasi senam kaki, dan mengevaluasi perawatan kaki.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

36

Pada kunjungan ke 7 tanggal 11 Juni 2013, memonitoring diet, mengevaluasi


senam kaki, dan mengevaluasi perawatan kaki. Bapak M mengatakan makan
kadang baik kadang tidak, senam kaki dilakukan setiap hari dan rasa kesemutan
sudah berkurang, perawatan kaki sekadar menggunakan sepatu atau sendal jika
keluar rumah namun di dalam rumah belum menggunakannya, hanya hati-hati
saja dalam berjalan; TD= 120/80 mmHg. Analisa dari implementasi tersebut
adalah TUK 3 manajemen diet belum sepenuhnya dipatuhi, senam kaki dan
perawatan kaki sudah baik. Perencanaan selanjutnya adalah memonitoring diet
dan mengevaluasi senam kaki.

Pada kunjungan ke 8 tanggal 15 Juni 2013, memonitoring diet dan mengevaluasi


senam kaki. Bapak M mengatakan semalam makan nasi padang 1 porsi, makan
soto ayam, nasi juga tidak ditakar, pagi hari kemudian makan bubur seporsi, lalu
diselingi makan nasi uduk; senam kaki dilakukan setiap hari dan sekarang sudah
tidak kesemutan. Glukosa darah sewaktu Bapak M yaitu 443 mg/dl (naik dari
sebelumnya), TD= 120/80 mmHg. Analisa dari implementasi tersebut adalah diet
belum sepenuhnya dipatuhi dan senam kaki berhasil. Perencanaan kunjungan
berikutnya yaitu memonitor diet dan evaluasi TUK 1-5 diagnosa utama.

Pada kunjungan ke 9 tanggal 18 Juni 2013, memonitoring diet dan mengevaluasi


TUK 1-5 diagnosa utama. Bapak M mengatakan mematuhi kembali manajemen
diet yang disarankan karena kemarin sempat tinggi gula darahnya takut
komplikasi seperti dulu yaitu kebutaan; Bapak M dapat menyebutkan kembali
definisi DM yaitu gula darah diatas 200; dapat menyebutkan 3 dari 5 penyebab
DM yaitu keturunan, makanan tidak terkontrol dan stres, 3 dari 5 tanda dan gejala
DM yaitu sering haus, sering buang air kecil serta gatal-gatal, 3 dari 7 akibat DM
yaitu luka tidak sembuh, kesemutan dan baal serta sakit jantung; 6 dari 6 cara
perawatan DM yaitu diet, minum obat teratur, perawatan kaki, senam kaki,
olahraga, dan kontrol gula darah minimal sebulan sekali; TD= 120/80 mmHg.
Analisa dari implementasi tersebut adalah TUK 1-5 tercapai. Perencanaan pada
kunjungan berikutnya yaitu monitor diet.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

37

Pada kunjungan ke 10 tanggal 22 Juni 2013, memonitoring diet dan memotivasi


keluarga untuk menjalankan cara-cara perawatan DM yang telah diajarkan selama
kunjungan serta meminta istri Bapak M sebagai pengawas manajemen diet Bapak
M. Keluarga mengatakan Bapak M makannya baik kembali karena pada
kunjungan lalu, gulanya tinggi sekali; istri Bapak M bersedia menjadi pengawas
manajemen diet dan akan memotivasi terus cara-cara perawatan DM yang telah
diajarkan. Keluarga antusias untuk menjalankan cara-cara perawatan DM, GDS
Bapak M yaitu 318 mg/dl (turun dari sebelumnya) TD= 120/80 mmHg. Hal ini
membuktikan bahwa motivasi merupakan salah satu hal yang sangat penting
dalam manajemen diet, ini sesuai dengan pernyataan (Potter & Perry, 2005)
bahwa dalam mengubah suatu kebiasaan dibutuhkan motivasi. Selain itu, dengan
manajemen yang baik pula dapat mendapatkan glukosa darah terkontrol pula, ini
sesuai dengan penelitian Rahmawati, Amminuddisyam, dan Hidayanti (2011)
bahwa dengan pola makan terkontrol maka memiliki kadar glukosa darah
terkontrol pula. Analisa dari implementasi tersebut yaitu TUK 1-5 berhasil.

4.3 Analisis Salah Satu Intervensi Dengan Konsep Dan Penelitian Terkait
Penulis menganalisis salah satu intervensi dari diagnosa ketidakefektifan
manajemen kesehatan diri yaitu manajemen diet. Menurut penelitian Rahmawati,
Amminuddisyam, dan Hidayanti (2011) bahwa sebanyak 82,1% responden yang
memiliki pola makan (risiko kebiasaan mengkonsumsi jenis makanan untuk
terjadinya DM) yang tinggi, memiliki kadar glukosa darah tidak terkontrol
sedangkan 39,6% responden yang memiliki pola makan yang rendah memiliki
kadar glukosa darah terkontrol. Hal ini sejalan dengan penelitian Riskesdas (2007
dalam Kemenkes, 2012) menyatakan bahwa hampir 80 % prevalensi DM dipicu
oleh gaya hidup tidak sehat salah satunya bersumber dari makanan. Hal tersebut
juga terlihat dari kondisi Bapak M yaitu jika ia melaksanakan manajemen diet
dengan baik, maka gula darahnya dapat terkontrol dengan baik begitupun
sebaliknya. Oleh karena itu, manajemen diet menjadi intervensi unggulan yang
penulis angkat untuk mengatasi diagnosa ketidakefektifan manajemen kesehatan
diri dengan DM.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

38

Manajemen diet merupakan salah satu penatalaksanaan DM yang memperhatikan


jumlah makanan, jenis makanan, dan jadwal makan dengan membatasi pula
jumlah energi, karbohidrat, lemak jenuh, dan natrium. Menurut Smeltzer (2002)
bahwa manajemen diet bertujuan untuk memberikan semua unsur makanan
esensial seperti mineral dan vitamin; mencapai dan mempertahankan berat badan
yang sesuai; memenuhi kebutuhan energi; mencegah fluktuasi kadar glukosa
darah dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal; dan
menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat.

Menurut konsensus pengelolaan dan pencegahan DM PERKENI (2011) bahwa


manajemen diet memperhatikan jumlah makanan, jenis makanan, dan jadwal
makan. Ketiga hal ini telah dilakukan oleh penulis saat edukasi manajemen diet
kepada Bapak M. Hal yang tidak kalah penting sebelum edukasi manajemen diet
adalah mengenalkan kepada Bapak M tentang gizi seimbang yang dibutuhkan
oleh penderita DM yaitu terdiri zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur.

Jumlah makanan tergantung pada kebutuhan kalori klien. Kebutuhan kalori


didapatkan dengan menghitung kebutuhan kalori basal yang besarnya 25 kalori/kg
berat badan ideal (BBI) untuk wanita dan 30 kalori/kg berat badan ideal (BBI)
untuk pria, ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa jenis kelamin,
faktor umur, aktivitas, dan berat badan.

Perhitungan berat badan Ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang dimodifikasi
untuk Bapak M adalah:
Berat Badan Ideal (BBI) = 90% x (TB dalam cm - 100) x 1kg
= 90% x (156-100) x 1 kg= 50,4 kg
Kriteria hasil perhitungan adalah berat badan normal (BBN) yaitu jika BB pada
rentang 10% BBI; kurus jika BB kurang dari rentang 10% BBI ; gemuk jika
BB lebih dari rentang 10% BBI. Berdasarkan hasil perhitungan, BBI Bapak M
adalah 50,4 kg dan saat ini BB Bapak M yaitu 54 kg. Ini berarti BB Bapak M
masuk dalam rentang 10% BBI dan termasuk dalam kriteria normal.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

39

Perhitungan berat badan ideal menurut indeks massa tubuh (IMT) dapat dihitung
dengan rumus:
IMT = BB(kg)/TB(m2)
= 54/(1,56)2 = 22,2
Klasifikasi IMT yaitu BB kurang jika IMT <18,5; BB normal jika IMT 18,5-22,9;
BB lebih jika IMT >23,0; dengan risiko jika IMT 23,0-24,9; obesitas tingkat I jika
IMT 25,0-29,9; obesitas tingkat II jika IMT >30. Berdasarkan hasil perhitungan,
IMT Bapak M adalah 22,2 dan termasuk kedalam klasifikasi normal.

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain: (1) jenis kelamin
(kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria, kebutuhan kalori wanita
sebesar 25 kal/kg BBI dan untuk pria sebesar 30 kal/kg BBI atau disebut
kebutuhan basal), maka kebutuhan basal Bapak M = 30 kal/kg dari BBI=30x50,4
= 1512 kal; (2) umur (untuk pasien usia di atas 40 tahun, dikurangi 5% dari
kebutuhan basal), maka Bapak M berusia 62 tahun sehingga 5%x1512= 75,6 kal;
(3) aktivitas fisik atau pekerjaan (kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan
intensitas aktivitas fisik, penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal
diberikan pada aktivitas ringan, 20% pada pasien dengan aktivitas sedang, dan
30% dengan aktivitas berat), maka Bapak M beraktivitas sedang sehingga
20%x1512= 302,4 kal; (4) berat badan (bila masuk dalam kategori kegemukan,
maka dikurangi sekitar 20% dari kebutuhan basal sedangkan jika kategori kurus
ditambah 20 % dari kebutuhan basal, jika kategori normal tidak perlu ada
penambahan maupun pengurangan), karena BB Bapak M termasuk dalam
kategori normal sehingga tidak ada penambahan maupun pengurangan.
Berdasarkan perhitungan diatas, maka:
Kebutuhan kalori Bapak M= kebutuhan basal-umur (sudah > 40 tahun)+aktivitas
= 1512 kal - 75,6 kal + 302,4 kal = 1738,8 kal
Setelah kebutuhan kalori untuk Bapak M diketahui, penulis membuat contoh
menu berdasarkan jumlah kalori tersebut yakni dibulatkan menjadi 1700 kal
karena penulis mengacu pada contoh menu menurut Tjokroprawiro (1989).

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

40

Hal yang perlu diperhatikan lainnya dalam manajemen diet yaitu pemilihan jenis
makanan. Penulis telah menjelaskan jenis makanan yang dibatasi dan boleh untuk
dikonsumsi oleh Bapak M dengan media gambar dan memberikan serta
menjelaskan daftar makanan pengganti. Ini dilakukan agar pemilihan jenis
makanan tidak membosankan. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Suyono
(2009) bahwa agar ada variasi makanan, dapat diganti dengan makanan penukar
lain asalkan kandungan zat gizinya sama dengan makanan yang digantikannya.

Pengaturan jadwal makan juga penting dalam manajemen diet. Penulis juga telah
membuat contoh jadwal makan sekaligus dengan contoh menu yang diberikan.
Jadwal makan yang diberikan yakni 3 kali makan utama dengan 3 kali selingan.
Hal ini telah sesuai dengan pernyataan Rozaline (2006).

Berdasarkan hasil evaluasi yang telah penulis lakukan terhadap intervensi


manajemen diet, didapatkan hasil bahwa kadar glukosa Bpk M berfluktuasi. Hal
ini disebabkan Bpk M belum sepenuhnya mengubah kebiasaan untuk mengatur
pola makan dengan baik. Menurut Potter dan Perry (2005), klien dalam mengubah
kebiasaannya mungkin memiliki hambatan seperti hambatan eksternal (kurang
fasilitas, kurang materi, dan kurang dukungan sosial) dan hambatan internal
(kurang pengetahuan, kurang motivasi, kurang keterampilan untuk mempengaruhi
perubahan pada kebiasaan kesehatan, dan ketidakjelasan tujuan jangka pendek
serta jangka panjang). Berdasarkan hasil wawancara penulis, ternyata klien
memiliki hambatan internal yaitu kurangnya motivasi dari dalam diri klien untuk
melakukan keteraturan diet DM.

4.4 Alternatif Pemecahan yang Dapat Dilakukan


Alternatif pemecahan yang dapat dilakukan yaitu memotivasi istri dari Bpk M
sebagai pengawas manajemen diet. Hal ini dilakukan karena istri Bpk M adalah
orang yang terdekat dengan Bpk M dan yang menyiapkan makanan di rumah.
Motivasi juga diberikan kepada Bpk M sendiri yaitu untuk mematuhi diet DM
dengan mengingatkan kembali tentang komplikasi DM yang dapat terjadi dan

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

41

mengingatkan bahwa Bpk M pernah bercerita akan menunaikan ibadah haji tahun
depan sehingga kondisi tubuh Bpk M harus dalam keadaan sehat.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pergeseran
gaya hidup di wilayah perkotaan salah satunya yaitu pergeseran pola makan. Hal
ini dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti timbulnya penyakit degeneratif
yaitu DM. Salah satu keluarga yang terkena DM yaitu Bpk M telah dibina oleh
penulis selama 5 minggu. Asuhan keperawatan telah dilakukan penulis kepada
keluarga Bpk M.
Pengkajian kepada keluarga Bapak M terutama difokuskan kepada 5 tugas
kesehatan keluarga. Berdasarkan hasil pengkajian, dapat ditegakkan 3 diagnosa
yaitu pertama ketidakefektifan manajemen kesehatan diri pada Bpk M dengan
DM, kedua yaitu perilaku kesehatan cenderung berisiko pada keluarga Bpk M
khususnya Bpk M, dan yang ketiga adalah koping individu tidak efektif pada
keluarga Bpk M khususnya Bpk M. Penulis hanya mengintervensi diagnosa utama
yaitu ketidakefektifan manajemen kesehatan diri pada Bpk M dengan DM
khususnya intervensi manajemen diet.

Intervensi yang penulis implementasikan kepada keluarga Bapak M yaitu


mengarah pada 5 tugas keluarga yaitu TUK 1 mengenal masalah yaitu dengan
mendiskuskan definisi, penyebab, tanda dan gejala DM sampai keluarga dapat
mengidentifikasi anggota keluarga yang menderita DM; TUK 2 menjelaskan
akibat DM dan keluarga dapat memutuskan untuk merawat anggota keluarga yang
menderita DM; TUK 3 menjelaskan dan mengajarkan kepada keluarga cara
perawatan DM yang dapat dilakukan yaitu manajemen diet, motivasi minum obat
secara teratur, perawatan kaki, senam kaki, motivasi olahraga teratur dengan
manajemen diet sebagai intervensi unggulan; TUK 4 memodifikasi lingkungan
seperti menjauhkan makanan yang manis-manis; dan TUK 5 memotivasi
penderita DM untuk pergi ke pelayanan kesehatan untuk cek gula darah secara
berkala.

42

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

43

Evaluasi dari intervensi unggulan manajemen diet yang telah dilakukan oleh
penulis selama 7 kali kunjungan yaitu didapatkan kadar glukosa darah yang tidak
stabil karena ketidakstabilan pula dalam melakukan manajemen diet. Ini
dibuktikan dengan kadar glukosa darah 334 mg/dl sebelum dilakukan manajemen
diet, setelah kunjungan berikutnya didapatkan kadar glukosa darah 300 mg/dl
dengan pengakuan dari Bpk M bahwa ia mematuhi pola makan yang telah
diberikan oleh penulis. Penulis memonitoring diet pada kunjungan berikutnya
didapatkan GDS= 417 mg/dl dengan pengakuan bahwa ia makan cemilan manis
yaitu roti isi kacang ijo 3 bungkus dan begadang, pagi hari makan bubur ayam 1
mangkok penuh. Monitoring terus dilakukan pada kunjungan berikutnya
didapatkan GDS= 447 mg/dl karena Bpk M mengatakan makan nasi padang 1
porsi, makan soto ayam, nasi juga tidak ditakar, pagi hari kemudian makan bubur
seporsi, lalu diselingi makan nasi uduk. Kunjungan terakhir didapatkan GDS= 318
mg/dl dengan pengakuan bahwa Bpk M telah mematuhi pengaturan makan
kembali setelah mengetahui saat pemeriksaan kunjungan lalu GDS nya tinggi.
Jadi, berdasarkan intervensi unggulan manajemen diet yang diterapkan kepada
Bpk M adalah intervensi berhasil sebagian karena dengan manajemen diet yang
baik dan terkontrol, ternyata Bpk M memiliki kadar glukosa darah yang terkontrol
pula begitupun sebaliknya.

5.2 Saran
Saran penulis ditujukan untuk keluarga, masyarakat, perawat Puskesmas, dan
keilmuan. Saran yang dapat penulis berikan dari karya ilmiah akhir ini, yaitu:
5.2.1

Keluarga

Sebaiknya keluarga dapat mandiri dalam merawat anggota keluarga dengan


diagnosa ketidakefektifan manajemen kesehatan diri dengan masalah DM.
5.2.2 Masyarakat
Sebaiknya

masyarakat

dapat

meningkatkan

pengetahuannya

dan

dapat

berpartisipasi secara aktif dalam pencegahan masalah kesehatan DM khususnya


dengan diagnosa ketidakefektifan manajemen kesehatan diri.

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

44

5.2.3 Perawat Puskesmas


Sebaiknya perawat Puskesmas dapat menjadikan karya ilimiah akhir ini sebagai
data dasar yang digunakan dalam memberikan pelayanan keperawatan dengan
masalah DM dan dapat menjadi role model pelayanan asuhan keperawatan
keluarga kepada klien dengan diagnosa ketidakefektifan manajemen kesehatan
diri dengan masalah DM.
5.2.4 Keilmuan
Sebaiknya pengembangan ilmu terkait asuhan keperawatan keluarga dapat lebih
ditingkatkan kembali khusunya dengan diagnosa ketidakefektifan manajemen
kesehatan diri dengan masalah DM.

Universitas Indonesia

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

DAFTAR PUSTAKA

ADA. (2010). Position statement: Standars of medical care in diabetes -2010. 25


Juni
2013.
http://care.diabetesjournals.org/content/35/Supplement_1/S11.full .
Alfian, M. (2007). Kota dan permasalahannya. Yogyakarta: Makalah Seminar
Diskusi Sejarah FIB UI.
Allender, J.A., Rector, C., & Warner, K.D. (2010). Community health nursing:
promoting and protecting the publics health. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins.
Asmadi. (2008). Konsep dasar keperawatan. Jakarta: EGC.
Departemen Kesehatan RI. (2009). Profil kesehatan Indonesia tahun 2008.
Jakarta: Depkes RI.
Friedman, M.M., Bowden, V.R., & Jones, E.G. (2003). Family nursing: research,
theory, and practice. New Jersey: Prentice Hall.
Kompas. (2013). Perubahan pola makan bikin diabetes melonjak. 10 Juli 2013.
http://health.kompas.com/read/2013/05/04/11525581/Perubahan.Pola.Mak
an.Bikin.Diabetes.Melonjak.
Lancester & Stanhope. (2004). Community and public health nursing. St.Louis:
Mosby.
MADINA. (2013). Diabetes mellitus ancaman umat manusia di dunia. 21 Juni
2013.
http://madina.co.id/kesejahteraan-rakyat/4659-diabetes-mellitusancaman-umat-manusia-di-dunia.html.
NANDA. (2012). Nursing diagnosis definition and classification. Oxford: WileyBlackwell.
OKEZONE. (2012). Gaya hidup penyebab utama diabetes. 24 Juni 2013.
http://health.okezone.com/read/2012/11/06/482/714412/gaya-hiduppenyebab-utama-diabetes
PERKENI. (2011). Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes mellitus tipe
2 di Indonesia 2011. Jakarta: Perkumpulan Endokrinologi Indonesia.
Potter & Perry. (2005). Fundamental keperawatan: Konsep, proses, dan praktik.
Jakarta: EGC.

45

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

46

Prijadi, B., Nila, K.F., & Hartono, R. (2013). Hubungan asupan serat larut dan
aktivitas fisik dengan kejadian diabetes mellitus tipe 2. 9 Juni 2013.
fk.ub.ac.id/artikel/id/filedownload/gizi/RUDI%20HARTONO.pdf.
Rahmawati, Amminuddisyam, & Hidayanti, H. (2011). Pola makan dan aktivitas
fisik dengan kadar glukosa darah penderita DM tipe 2. 9 Juni 2013.
http://www. journal.unhas.ac.id.
Republika. (2011). Wew, penderita diabetes di Indonesia melonjak pesat. 30 Juni
2013. http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/06/08/lmh6cjwew-penderita-diabetes-di-indonesia-melonjak-pesat
RISKESDAS. (2007). Laporan nasional 2007. Depkes RI.
Rozaline, H. (2006). Terapi jus buah & sayur. Jakarta: Puspa Swara.
Smeltzer, S.C.(2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah vol 2. Jakarta: EGC.
Suyono, S. (2009). Kecenderungan peningkatan jumlah penyandang diabetes
mellitus. Jakarta: Balai Penerbit FK UI.
Tim Vitahealth. (2004). Diabetes. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Tjokroprawiro, A. (1989). Diabetes mellitus (klasifikasi, diagnosis, dan dasardasar terapi). Jakarta: PT Gramedia.
Vivalife. (2009). Diabetes banyak menyerang kaum muda di Asia. 30 Juni 2013.
http://life.viva.co.id/news/read/61354diabetes_menyerang_kaum_muda_di_asia
Waspadji, S. (2007). Pedoman diet diabetes mellitus. Jakarta: FK UI.
Waspadji, S., Kartini, S., & Suharyanti. (2010). Daftar bahan makanan penukar
edisi 3. Jakarta: Badan Penerbit FK UI.
Wibisono, A.H. (2012). Pengalaman klien diabetes mellitus tipe 2 dalam
mengontrol glukosa darah secara mandiri di Kota Depok. Tesis FIK UI.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Lampiran 1: Pengkajian Keluarga

PENGKAJIAN KELUARGA

I. DATA UMUM
1. Nama keluarga (KK)

: Bpk M

2. Alamat dan Telp

: Jl. Anggrek RT 01 RW 05 Kelurahan


Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Depok
(08571578xxxx)

3. Komposisi Keluarga
No

Nama

:
Jenis

Hub dengan KK

Umur

Pendidikan

Kelamin
1.

Bpk M

Laki-laki

Kepala keluarga

62 thn

SD

2.

Ibu H

Perempuan

Istri

60 thn

SD

3.

Anak M

Perempuan

Anak kandung

42 thn

SMP

4.

Anak E

Perempuan

Anak kandung

38 thn

SMP

5.

Anak H

Perempuan

Anak kandung

36 thn

SMP

6.

Anak A

Laki-laki

Anak kandung

32 thn

STM

7.

Anak AN

Laki-laki

Anak kandung

31 thn

STM

Genogram

DM
Ibu H
60 thn

Bpk M
62 thn,
DM

DM

Keterangan :
O : Perempuan
: Laki-laki
x+ : Meninggal
: Meninggal
: Tinggal dalam 1 rumah

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Keterangan:
Orangtua Bpk M (ibu) meninggal karena DM sedangkan ayahnya juga
telah meninggal dengan penyebab yang tidak diketahui. Bpk M saat ini
juga menderita DM sudah 2 tahun. Orangtua Ibu H (ayah) saat ini
masih hidup dengan kondisi sudah sangat tua namun ibu dari Ibu H
telah meninggal karena sakit tua. Bpk M dan Ibu H tinggal bersama
anak ke 5 yang telah menikah dan memiliki 1 orang anak. Anggota
keluarga selain Bapak M, tidak memiliki masalah kesehatan.

4. Tipe keluarga
Keluarga Bpk M memiliki tipe keluarga extended family dengan tahap
perkembangan keluarga dewasa. Anak pertama sampai keempat telah
menikah dan tinggal terpisah sedangkan anak terakhir telah menikah
dan memiliki 1 orang anak serta tinggal bersama Bpk M dan Ibu H.

5. Suku
Bpk M dan Ibu H berasal dari Depok dengan suku Betawi. Bahasa
yang digunakan sehari-hari di rumah adalah bahasa Indonesia.
Makanan, cara berpakaian, dekorasi rumah tidak menunjukkan suku.
Makanan yang disukai yaitu apa saja tidak ada kegemaran khusus. Cara
berpakaian Bpk M lebih sering kaos dan celana panjang begitupun
dengan anak yang ke 5, Ibu H lebih suka mengenakan daster atau baju
gamis panjang sedangkan menantunya lebih suka mengenakan kaos
dan celana pendek. Keluarga Bpk M lebih memilih pengobatan modern
daripada tradisional, namun ia pernah juga ke alternatif untuk
mengobati matanya karena pernah mengalami kebutaan beberapa bulan
lalu.

6. Agama
Keluarga Bpk M beragama Islam. Kegiatan ibadah yang dilakukan
seperti sholat dan mengaji. Ibu H lebih aktif dalam pengajian daripada
Bpk M.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

7. Status Sosial Ekonomi Keluarga


Bpk M saat ini bekerja sebagai tukang ojek, Ibu H juga kadang
membantu ekonomi keluarga dengan menjadi tukang kredit pakaian.
Menurut Bpk M dan Ibu H, penghasilan Bapak M adalah setara dengan
penghasilan seorang satpam. Anak Bpk M yang tinggal serumah pun
bekerja sebagai buruh pabrik untuk menghidupi keluarganya dan
sedikit membantu kedua orangtuanya (Bpk M dan Ibu H).

8. Aktivitas Rekreasi Keluarga


Keluarga Bpk M jarang sekali rekreasi. Bpk M jika ingin istirahat dari
pekerjaannya, ia lebih baik tidur di rumah sedangkan Ibu H pergi
rekreasi jika diadakan oleh pengajian saja.

II. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA


9. Tahap Perkembangan Keluarga Saat ini
Tahap perkembangan keluarga saat ini adalah keluarga dengan tahap
perkembangan dewasa, dimana anak yang tinggal bersama keluarga
Bpk M adalah anak kelimanya yang berusia 31 tahun yang telah
menikah dan telah memiliki seorang anak. Hal ini karena menurut Ibu
H, agar ada yang menemani Bpk M dan Ibu H dimasa tua.

10. Tahap Perkembangan Keluarga yang belum terpenuhi


Menurut

Friedman

(1998

dalam

Suprajitno,

2004),

tugas

perkembangan keluarga pada tahap keluarga dengan anak usia dewasa


yaitu

keluarga

mulai

melepas

anak

sebagai

dewasa.

Tugas

perkembangan pada dewasa yaitu (1) memperluas keluarga inti


menjadi keluarga besar; (2) mempertahankan keintiman pasangan; (3)
membantu anak untuk mandiri di masyarakat; dan (4) menata kembali
peran dan kegiatan rumah tangga.

Berdasarkan pernyataan keluarga Bpk M dan hasil observasi selama


kunjungan, diketahui bahwa seluruh tugas perkembangan telah

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

dilaksanakan dengan baik. Hal ini terbukti pada tugas memperluas


keluarga inti menjadi keluarga besar, sudah dilakukan kepada kelima
anak mereka dan telah memiliki anak; mempertahankan keintiman
pasangan, Bpk M dan Ibu H saling merawat jika ada salah satu dari
mereka sakit contohnya Ibu H berusaha menyediakan makanan yang
dibutuhkan Bpk M yang menderita DM; membantu anak untuk
mandiri di masyarakat, terlihat dari semua anaknya yang telah menikah
dan tinggal terpisah dengan Bpk M dan Ibu H, hanya anak kelimanya
yang tinggal serumah dengan alasan agar menemani Bpk M dan Ibu H
dimasa tua mereka; menata kembali peran dan kegiatan rumah tangga,
telah telihat jelas peran dari masing-masing anggota keluarga yaitu
Bpk M mencari nafkah dan Ibu H sebagai ibu rumah tangga dan
terkadang membantu ekonomi keluarga dengan mengkreditkan
pakaian.

11. Riwayat Keluarga inti


Bpk M dan Ibu H bertemu karena perjodohan dari orangtua mereka.
Hal ini tidak menjadikan keluarga mereka tidak bahagia, sebaliknya
selama pernikahan mereka hidup bahagia meskipun sebelumnya belum
kenal dekat. Selama berumah tangga tidak ada masalah kesehatan, Bpk
M diketahui menderita DM yaitu 2 tahun lalu dan pernah mengalami
kebutaan beberapa bulan lalu, namun sekarang dapat melihat dengan
normal kembali.

12. Riwayat Kesehatan Keluarga Sebelumnya


Bpk M mengatakan bahwa ibunya menderita DM pula dan telah
meninggal akibat DM. Ayah dari Bpk M telah meninggal pula dengan
sebab yang tidak diketahui. Ibu dari Ibu H juga telah meninggal karena
sakit tua sedangkan ayahnya masih hidup dengan kondisi tua renta.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

III. LINGKUNGAN
13. Karakteristik Rumah
Rumah keluarga Bpk M adalah bangunan permanen dengan status
kepemilikan sendiri. Luasnya sekitar 6 x 9 m2, terdiri dari 3 kamar
tidur, 1 ruang makan, 1 dapur, 1 ruang tamu, 1 ruang TV, 1 kamar
mandi, dan ada halaman. Terdapat furniture seperti sofa, bufet dan
barang elektronik seperti kulkas, TV, ada koleksi foto, terdapat
halaman dengan ada pot tanaman, kandang ayam yang selalu terkunci,
dan tempat untuk parkir motor. Pencahayaan sangat baik, sumber air
juga bersih, dan ada tempat pembuangan sampah. Denah dari rumah
keluarga Bpk M, yaitu:
Kamar
mandi

r. makan

r. tidur

Dapur

r. TV
&
r.tamu

r. tidur
r. tidur

Teras

Tempat
parkir
motor

Kandang
ayam yg
terkunci

Keterangan:
Pintu
Jendela

14. Karakteristik Tetangga dan Komunitas


Mayoritas tetangga adalah pendatang seperti dari Jawa dan Sunda.
Sebagian besar pekejaan mereka adalah pedagang. Hubungan keluarga
dengan tetangga terjalin baik. Ini terlihat setiap kali berkunjung,
tetangga yang lewat depan rumah Bpk M selalu menyapa dengan

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

ramah pada Bpk M begitupun sebaliknya. Lingkungan RT tempat


tinggal keluarga Bpk M merupakan lingkungan yang cukup padat.

15. Mobilitas Geografis Keluarga


Pekerjaan Bpk M sehari-hari adalah mengojek dan lebih banyak
beraktivitas di luar rumah. Bpk M juga melayani warga di RT nya
karena Bpk M adalah sebagai ketua RT. Anak yang tinggal bersama
dengan Bpk M dan Ibu H adalah anak yang terakhir bersama dengan
istrinya yang saat ini telah memiliki 1 orang anak. Anak terkahir Bpk
M dan Ibu H bekerja sebagai buruh dan istrinya seabagai ibu rumah
tangga begitupun dengan Ibu H sehingga lebih banyak waktu di rumah.

16. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi Dengan Masyarakat


Keluarga tidak begitu sering berkumpul untuk menceritakan cerita
keseharian. Bpk M cenderung diam jika ada masalah, berbeda dgn Ibu
H yang menceritakan apapun yang terjadi baik dengan anak dan
menantunya serta Bpk M. Interaksi dengan masyarakat cukup baik
karena Bpk M adalah ketua RT pula di wilayahnya.

17. Sistem Pendukung Keluarga


Dalam hal finanasial, keluarga tidak menerima bantuan dari manapun.
Keluarga Bpk M membiyayai kehidupan sendiri dibantu istri, anakanak Bpk M juga suka memberi kepada orang tuanya.

IV. STRUKTUR KELUARGA


18. Pola Komunikasi Keluarga
Pola komunikasi yang dimiliki keluarga Bpk M adalah komunikasi
tertutup. Jika ada masalah, Bpk M suka memendam sendiri sedngkan
Ibu H sebaliknya.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

19. Struktur kekuatan keluarga


Dalam hal kekuasaan, terlihat bahwa Bpk M menyerahkan kepada Ibu
H. Bpk M tidak begitu dominan dalam pengambilan keputusan.
Contohnya saat akan merombak plafon rumah yang rusak, yang
mengambil keputusan adalah Ibu H, Bpk M hanya setuju saja.

20. Struktur Peran Keluarga


Bpk M berperan sebagai pencari nafkah dengan dibantu oleh Ibu H
yang terkadang mengkreditkan pakaian dan juga sebagai ibu rumah
tangga. Semua anak mereka memiliki kegiatan sesuai dengan tahapan
pertumbuhan dan perkembangannya.

21. Nilai dan Norma Keluarga


Pada saat berkunjung ke keluarga, tidak tampak adanya nilai-nilai
khusus yang harus dipegang. Bpk M dan Ibu H mengajarkan kepada
anak-anaknya untuk berbuat baik kepada siapapun meskipun mereka
telah menjahati kita, selalu bersyukur dengan apa adanya, lapang dada.

V. FUNGSI KELUARGA
22. Fungsi Afektif
Setiap anggota keluarga siap untuk saling membantu, jika ada salah
satu anggota keluarga yang sakit, anggota keluarga lain berusaha untuk
merawat.

23. Fungsi Sosialisasi


Setiap anggota keluarga berinteraksi dengan baik dengan masyarakat.
Ibu H yang aktif pengajian serta arisan. Bpk M juga sebagai ketua RT
yang melayani warga di wilayahnya.

24. Fungsi Perawatan Kesehatan


Keluarga Bpk M makan 3 kali sehari, menunya nasi, lauk pauk, sayur.
Bpk M kurang suka mengkonsumsi sayur, konsumsi buah harus selalu

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

diingatkan oleh Ibu H. Bpk M tidak pernah pantang makanan (masih


suka makanan manis, suka cemilan apa saja) walaupun ia tahu
menderita DM, tidak menakar makanan, dan jadwal makanpun tidak
diatur (makan jika lapar). Pada beberapa bulan lalu, Bpk M pernah
mengalami kebutaan dan terkena TB paru, namun saat ini telah
sembuh dengan melakukan pengobatan alternatif untuk kebutaan dan
pengobatan medis untuk TB selama 6 bulan.

Saat ditanya terkait DM, yang ia tahu gula darah tinggi namun tidak
tahu angkanya. Terkait penyebab, yang ia tahu adalah pola makan
yaitu suka makanan manis dan ia mengakuinya. Tanda dan gejala yang
ia tahu dan rasakan adalah rasa sering lapar dan badan lemas. Bpk M
selalu mengatakan rajin memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan.
Setiap hari minum obat Glibenclamide dan Metformin 1x1 secara
teratur.

Bpk M tidak pernah olahraga setelah keluar dari club sepak bola tahun
1995 namun jalan pagi saja. Bpk M mengeluh sering kesemutan pada
tangan dan kaki jika menjelang istirahat. Bpk M aktif merokok 1
bungkus/hari, konsumsi kopi 2 kali sehari dengan gula yang sedikit.
Untuk tidur, Bpk M mulai tidur pkl 20.00- 04.30. Jika ada acara bola,
ia begadang. Perawatan diri, mandi dan gosok gigi dilakukan 2 kali
sehari, keramas 2 hari sekali, memotong kuku, membersihkan telinga
jika kotor.

VI. STRES DAN KOPING KELUARGA


25. Stressor Jangka Pendek
Bpk M mengatakan perilaku anak ketiganya seperti tidak menyapa
orang tuanya sendiri, dapat menjadi stresor tersendiri untuk Bpk M.
Bpk M hanya dapat mendoakan agar perilaku tersebut dapat berubah
seperti sediakala.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

26. Stressor Jangka Panjang


Bpk M mengatakan kepikiran DM yang ia derita. Ia takut kalau
nantinya menjadi komplikasi seperti kebutaan pada waktu beberapa
bula lalu.

27. Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Stressor


Setiap anggota keluarga dapat merasakan masalah yang dialami dan
memecahkan masalah bersama, namun kadang Bpk M tidak menyadari
akan kesehatannya sendiri.

28. Strategi Koping yang Digunakan Keluarga


Bpk M mengatakan dengan beraktivitas di luar rumah, dapat
mengurangi stres Bpk M.

29. Strategi Koping Disfungsional


Selama pengkajian, tidak terlihat adanya adaptasi disfungsional pada
keluarga Bpk M.

VII.

HARAPAN KELUARGA
Keluarga Bpk M mengatakan, semoga setiap anggota keluarga tetap
sehat agar dapat menjalankan aktivitas masing-masing dan berharap
mahasiswa memberikan informasi yang dibutuhkan keluarga.

VIII.

PEMERIKSAAN FISIK
Jenis

Bpk M

Ibu H

N (menantu)

pemeriksaan
Suhu
Nadi
RR
TD
BB
TB
Kepala

36 oC
80 x/menit
14 x/menit
130/80 mmHg
54 kg
156 cm
tidak ada lesi,
penyebaran rambut
merata.

36 oC
72 x/menit
16 x/menit
110/80 mmHg
50 kg
150 cm
tidak ada lesi,
penyebaran
rambut merata.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

36 oC
80 x/menit
12 x/menit
120/80 mmHg
50 kg
150 cm
tidak ada lesi,
penyebaran
rambut merata.

Mata

konjungtiva tidak
anemis, pupil isokor,
ada seperti lingkaran
putih di tepi bola
mata.

Telinga

tidak ada keluhan,


bersih
tidak ada keluhan,
tidak ada sekret
Tidak ada lesi pada
mulut, gigi sudah ada
yang tanggal.

Hidung
Mulut dan gigi

Leher

tidak ada pembesaran


kelenjar getah bening,
tidak ada keluhan

Dada/thorax

tidak ada pembesaran,


tidak ada ronkhi, tidak
ada wheezhing, S1 &
S2 normal

Abdomen
Ekstremitas

tidak ada keluhan


Kaki dan tangan
kadang pegal dan
kesemutan

Kulit

Turgor kulit kurang


baik karena sudah
lansia, tidak ada lesi

konjungtiva tidak
anemis, pupil
isokor, ada seperti
lingkaran putih di
tepi bola mata,
mata terlihat
juling.
tidak ada keluhan,
bersih
tidak ada keluhan,
tidak ada sekret
Tidak ada lesi
pada mulut, gigi
sudah ada yang
tanggal.
tidak ada
pembesaran
kelenjar getah
bening, tidak ada
keluhan
tidak ada
pembesaran, tidak
ada ronkhi dan
tidak ada
wheezhing, S1 &
S2 normal
tidak ada keluhan
tidak ada keluhan,
hanya kalau
kecapean badan
terasa pegal.
Turgor kulit
kurang baik
karena sudah
lansia, tidak ada
lesi, ada seperti
pengurangan
pigmentasi kulit.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

konjungtiva tidak
anemis, pupil
isokor.

tidak ada keluhan,


bersih
tidak ada keluhan,
tidak ada sekret
Tidak ada lesi
pada mulut, gigi
utuh.
tidak ada
pembesaran
kelenjar getah
bening, tidak ada
keluhan
tidak ada
pembesaran, tidak
ada ronkhi dan
tidak ada
wheezhing, S1 &
S2 normal
tidak ada keluhan
Tidak ada
keluhan

Turgor kulit baik,


tidak ada lesi.

Lampiran 2: Analisa Data

ANALISA DATA

No.
1.
DS:

2.

DO:

DS:

DO:

3.

DS:

Data
Tidak pernah memantang makanan
(masih suka makanan manis, suka
cemilan apa saja)
Tidak menakar makanan, dan jadwal
makanpun tidak diatur (makan jika
lapar)
Sudah mengetahui terkena DM 2 tahun
lalu tapi sulit untuk mengubah gaya
hidup
Tidak pernah olahraga setelah keluar
dari club sepak bola thn 1995, namun
jalan pagi dilakukan
Tidak terlalu suka sayur, konsumsi buah
jika diingatkan istri
Mengeluh sering kesemutan pada
tangan dan kaki
Pernah mengalami kebutaan beberapa
bulan lalu, saat itu gula darahnya 300
an, sekarang penglihatan sudah normal
kembali
Setiap hari minum obat Glibenclamide
dan Metformin 1x1

Masalah Keperawatan
Ketidakefektifan
manajemen kesehatan diri
pada Bpk M dengan DM

TD= 130/80 mmHg


GDS= 248 mg/dl
BB= 54 kg
TB= 156 cm
IMT= 22,2
Aktif merokok sejak muda, sehari 1
bungkus
Setiap hari minum kopi 2 gelas dengan
gula yang sedikit
Suka begadang jika ada acara kesukaan
(sepak bola)

Perilaku kesehatan
cenderung berisiko pada
keluarga Bpk M
khususnya Bpk M

Terlihat minum kopi


Kadang terlihat batuk-batuk

Memikirkan tingkah laku anak


11 ke 3

Koping individu tidak


efektif pada keluarga

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Lampiran 2: Analisa Data (Lanjutan)

DO:

yang membuat menjadi pikiran


Kurang mau bercerita tentang masalah,
lebih sering dipendam sendiri
Langsung kepikiran kalau gula darah
naik

Bpk M khususnya Bpk M

Terlihat murung saat bercerita

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Lampiran 3: Skoring Masalah

SKORING MASALAH

Ketidakefektifan manajemen kesehatan diri pada Bpk M dengan DM


Kriteria

Skor

Sifat
masalah :
aktual

Angka
Tertinggi
3

Kemungkin
an masalah
untuk
diubah :
mudah

Potensi
masalah
untuk
dicegah :
cukup

Menonjolnya masalah
2
: segera
ditangani
TOTAL
4 2/3
SKOR

Bobot

Perhitungan

Pembenaran

3/3 x 1 = 1

Masalah sudah aktual karena data


subyektif dan data obyektif telah
mendukung dan dampaknya
terhadap kesehatan keluarga
khususnya Bpk M cukup besar
bila tidak segera ditangani. GDS
Bpk M 248 mg/dl. Bpk M
mengeluh pada kaki dan tangan
terasa kesemutan, mengaku
pernah mengalami kebutaan.

2/2 x 2 = 2

2/3 x 1 = 2/3

2/2 x 1 = 1

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Meskipun tingkat pendidikan


keluarga yang tidak cukup tinggi
(SD) namun ada motivasi dari
keluarga untuk mencari tahu,
sumber ekonomi keluarga
lumayan cukup. Di sekitar rumah
keluarga pun terdapat fasilitas
pelayanan kesehatan (Puskesmas,
RS).
Sudah 2 thn menderita DM dan
sempat mengalami komplikasi
kebutaan namun sekarang sudah
sembuh.

Masalah pada Bpk M harus segera


ditangani.

Lampiran 3: Skoring Masalah (Lanjutan)

Perilaku kesehatan cenderung berisiko pada keluarga Bpk M khususnya Bpk


M
Kriteria

Skor

Sifat
masalah :
aktual

Angka
Tertinggi
3

Kemungkin
an masalah
untuk
diubah :
sebagian

Potensi
masalah
untuk
dicegah :
cukup
Menonjolnya masalah
: segera
ditangani
TOTAL
SKOR

Bobot

Perhitungan

Pembenaran

3/3 x 1 = 1

Masalah sudah aktual karena data


subyektif dan data obyektif telah
mendukung dan dampaknya
terhadap kesehatan keluarga
khususnya Bpk M.

1/2 x 2 = 1

Tingkat pendidikan keluarga yang


tidak cukup tinggi (SD) namun
ada motivasi dari keluarga untuk
mencari tahu, tapi kadang Bpk M
masih suka terpengaruh oleh
teman-temannya seperti merokok,
sumber ekonomi keluarga yang
lumayan cukup. Di sekitar rumah
keluarga pun terdapat fasilitas
pelayanan kesehatan (Puskesmas,
RS).

2/3 x 1 = 2/3

Perilaku seperti merokok dan


minum kopi, begadang sudah
dilakukannya sejak muda.

2/2 x 1 = 1

3 2/3

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Masalah harus segera ditangani


karena masalah ini dapat
meningkatkan risiko DM Bpk M.

Lampiran 3: Skoring Masalah (Lanjutan)

Koping individu tidak efektif pada keluarga Bpk M khususnya Bpk M


Kriteria

Skor

Sifat
masalah :
aktual

Angka
Tertinggi
3

Kemungkin
an masalah
untuk
diubah :
sebagian

Potensi
masalah
untuk
dicegah :
rendah

Menonjol2
nya masalah
: tidak perlu
segera
ditangani
TOTAL
3 1/3
SKOR

Bobot

Perhitungan

Pembenaran

3/3 x 1 = 1

Masalah sudah aktual karena Bpk


M merasa setiap hari kepikiran
dengan perilaku anak ke 3 nya.

1/2 x 2 = 1

Tingkat pendidikan keluarga yang


tidak cukup tinggi (SD), namun
ada motivasi dari keluarga untuk
mencari tahu, karakter Bpk M
yang suka memendam masalah
sendiri, sumber ekonomi keluarga
yang lumayan cukup. Di sekitar
rumah keluarga pun terdapat
fasilitas pelayanan kesehatan
(Puskesmas, RS).

1/3 x 1 = 1/3

Masalah sudah terjadi. Masalah


ini sulit dicegah karena karakter
dari Bpk M sendiri yang suka
memendam masalah sendiri.

2/2 x 1 = 1

Masalah ini harus segera


ditangani karena membuat stres
Bpk M..

DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS


1. Ketidakefektifan manajemen kesehatan diri pada Bpk M dengan DM

2. Perilaku kesehatan cenderung berisiko pada keluarga Bpk M khususnya


Bpk M
3. Koping individu tidak efektif pada keluarga Bpk M khususnya Bpk M

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Lampiran 4: Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN DIABETES MELLITUS


No

1.

Diagnosa
Keperawatan

Jangka
Panjang
Ketidakefektif Setelah
an manajemen dilakukan
kesehatan diri tindakan
pada Bpk M
keperawata
dengan
n selama 5
Diabetes
minggu,
Mellitus
ketidakefekt
ifan
manajemen
kesehatan
diri pada
Bpk M
dengan
Diabetes
Mellitus
dapat
teratasi

Tujuan
Jangka Pendek

Kriteria Evaluasi
Kriteria

Rencana Intervensi

Standar

Setelah dilakukan
pertemuan I sebanyak
1x60 menit, keluarga:
1. Mampu mengenal
masalah diabetes
mellitus, dengan:
Menyebutkan definisi
diabetes mellitus

Respon
verbal

Keluarga menyebutkan
pengertian diabetes
mellitus yaitu gangguan
yang ditandai dengan
kenaikan kadar gula darah
sewaktu & 2 jam setelah
makan > 200 mg/dl dan
gula darah puasa > 140
mg/dl

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

a. Diskusikan bersama keluarga apa yang diketahui


keluarga mengenai pengertian diabetes mellitus
b. Berikan pujian kepada keluarga tentang
pemahaman keluarga yang benar
c. Berikan informasi kepada keluarga mengenai
pengertian diabetes mellitus dengan menggunakan
media flip chart
d. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk
bertanya tentang materi yang disampaikan
e. Berikan penjelasan ulang terhadap materi yang
belum dimengerti
f. Motivasi keluarga untuk mengulang materi yang
telah dijelaskan
g. Berikan reinforcement positif atas usaha keluarga

2
Menyebutkan penyebab
diabetes mellitus.

Respon
verbal

Keluarga dapat
menyebutkan 3 dari 5
penyebab diabetes
mellitus yaitu kekurangan
insulin, yang di picu oleh:
- faktor keturunan
- kegemukan
- sering makan makanan
manis
- kurang olahraga
- stres

a. Diskusikan bersama keluarga apa yang diketahui


keluarga mengenai penyebab timbulnya masalah
diabetes mellitus
b. Berikan pujian kepada keluarga tentang
pemahaman keluarga yang benar.
c. Berikan informasi kepada keluarga mengenai
penyebab diabetes mellitus dengan menggunakan
media flip chart
d. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk
bertanya tentang materi yang disampaikan
e. Berikan penjelasan ulang terhadap materi yang
belum dimengerti
f. Motivasi keluarga untuk mengulang materi yang
telah dijelaskan
g. Berikan reinforcement positif atas usaha keluarga

Menyebutkan tanda dan


gejala diabetes mellitus.

Respon
verbal

Keluarga dapat
menyebutkan 3dari 5
tanda dan gejala diabetes
mellitus, yaitu:
- cepat lapar,
- cepat haus,
- sering buang air kecil
terutama pada malam
hari,
- lemas,
- kulit gatal-gatal

a. Diskusikan bersama keluarga apa yang diketahui


keluarga mengenai tanda dan gejala diabetes
mellitus
b. Berikan pujian kepada keluarga tentang
pemahaman keluarga mengenai tanda yang benar
c. Berikan informasi kepada keluarga mengenai
tanda diabetes mellitus dengan menggunakan
media flip chart
d. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk
bertanya tentang materi yang disampaikan
e. Berikan penjelasan ulang terhadap materi yang
belum dimengerti

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

3
f. Motivasi keluarga untuk mengulang materi yang
telah dijelaskan
g. Berikan reinforcement positif atas usaha keluarga

Mengidentifikasi anggota
keluarga yang menderita
diabetes mellitus.

Respon
afektif

Keluarga mengatakan
Bpk M menderita
penyakit diabetes
mellitus.

a. Tanyakan kepada keluarga, adakah anggota


keluarga yang mempunyai tanda dan gejala
diabetes mellitus.
b. Berikan reinforcement positif atas apa yang telah
dikemukan keluarga yang tepat dan benar.

Respon
verbal

Keluarga dapat
menyebutkan 3 dari 7
akibat diabetes mellitus
jika tidak diatasi, yaitu:
- kebutaan,
- impotensi,
- penyakit jantung,
- stroke,
- gagal ginjal,
- hipertensi,
- amputasi

a. Diskusikan bersama keluarga apa yang diketahui


keluarga mengenai akibat diabetes mellitus
b. Berikan pujian kepada keluarga tentang
pemahaman akibat yang benar.
c. Berikan informasi kepada keluarga mengenai
akibat diabetes mellitus dengan menggunakan
media flip chart
d. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk
bertanya tentang materi yang disampaikan
e. Berikan penjelasan ulang terhadap materi yang
belum dimengerti
f. Motivasi keluarga untuk mengulang materi yang

2. Mampu mengambil
keputusan dalam merawat
anggota keluarga dengan
masalah kesehatan
diabetes mellitus, dengan:
Menyebutkan akibat
diabetes mellitus

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

4
telah dijelaskan
g. Berikan reinforcement positif atas usaha keluarga
Mengambil keputusan
untuk mengatasi masalah
kesehatan diabetes
mellitus.

Respon
afektif

Keluarga mengatakan
akan mengatasi penyakit
diabetes mellitus.

a. Bantu keluarga untuk mengenal dan menyadari


akan adanya masalah sesuai dengan materi yang
telah diberikan
b. Bantu keluarga untuk memutuskan merawat
anggota keluarga yang sakit diabetes mellitus
c. Berikan reinforcement atas keputusan yang telah
diambil

Respon
verbal dan
psikomotor

Keluarga dapat
menyebutkan 4dari 6cara
perawatan diabetes
mellitus, yaitu:
Pertemuan ke-1 & 2:
- diet makan (memilih
makanan yang dianjurkan
dan yang tidak untuk DM)
- olahraga teratur,

a. Dorong keluarga untuk menceritakan apa yang


dilakukan saat Bpk M sakit diabetes mellitus dan
bagaimana hasilnya
b. Diskusikan cara perawatan diabetes mellitus
dengan menggunakan flifchart.
c. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk
bertanya tentang materi yang disampaikan
d. Berikan penjelasan ulang terhadap materi yang
belum dimengerti
e. Motivasi keluarga untuk mengulang materi yang
telah dijelaskan

3. Mampu merawat
anggota keluarga dengan
masalah kesehatan
diabetes mellitus, dengan:
Menyebutkan cara
perawatan diabetes
mellitus.

Pertemuan ke-3:

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Mendemontrasikan cara
senam kaki untuk
penderita diabetes
mellitus

- perawatan kulit & kaki,


- mengontrol kadar gula
darah secara berkala,
- minum obat teratur
sesuai dosis dan waktu

f.

Respon
psikomotor

Pertemuan ke-4:
Keluarga dapat
mendemonstrasikan
senam kaki untuk
mengurangi kebas dan
kesemutan pada penderita
diabetes mellitus

a. Diskusikan bersama keluarga mengenai cara


senam kaki untuk mengurangi kebas dan
kesemutan pada penderita diabetes mellitus.
b. Demonstrasikan kepada keluarga mengenai cara
senam kaki untuk mengurangi kebas dan
kesemutan pada penderita diabetes mellitus.
c. Motivasi keluarga untuk mendemonstrasikan
kembali cara senam kaki untuk mengurangi kebas
dan kesemutan pada penderita diabetes mellitus.
d. Berikan reinforcement terhadap kemampuan yang
dicapai oleh keluarga

Respon

Keluarga dapat

a. Diskusikan cara memodifikasi lingkungan untuk

Berikan reinforcement positif atas usaha keluarga

Setelah dilakukan
pertemuan ke 4 sebanyak
1x45 menit, keluarga:
4. Mampu memodifikasi
lingkungan yang sesuai
untuk penderita diabetes
mellitus, dengan mampu:
Menyebutkan cara

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

6
memodifikasi lingkungan
untuk penderita diabetes
mellitus.

verbal

menyebutkan
memodifikasi lingkungan
yang dapat dilakukan
terkait diabetes mellitus
yaitu gaya hidup, stres,
dan makanan

penderita diabetes mellitus.


b. Jelaskan kepada keluarga tentang cara
memodifikasi lingkungan untuk penderita diabetes
mellitus dengan menggunakan flipchart.
c. Motivasi keluarga untuk menjelaskan kembali cara
memodifikasi lingkungan untuk penderita diabetes
mellitus.
d. Tanyakan kepada keluarga tentang materi yang
belum dimengerti.
e. Jelaskan kepada keluarga mengenai materi yang
belum dimengerti.
f. Berikan reinforcement terhadap kemampuan yang
dicapai oleh keluarga

Respon
verbal

Keluarga dapat
menyebutkan fasilitas
kesehatan yang dapat
dikunjungi:
- Puskesmas
- Rumah sakit
- Klinik dokter

a. Diskusikan bersama keluarga mengenai fasilitas


kesehatan yang ada disekitar tempat tinggal
b. Motivasi keluarga untuk mengulang fasilitas
kesehatan yang dapat dikunjungi
c. Berikan reinforcement positif atas usaha keluarga

5. Mampu menggunakan
fasilitas kesehatan yang
ada untuk melakukan
pengobatan dan
perawatan diabetes
mellitus, dengan:
Menyebutkan tempat
pelayanan kesehatan
untuk dirujuk.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

7
Menyebutkan manfaat
fasilitas kesehatan

Respon
verbal

Keluarga dapat
Diskusikan bersama keluarga mengenai manfaat
menyebutkan manfaat
fasilitas kesehatan yang ada disekitar tempat tinggal
kunjungan ke fasilitas
a. Motivasi keluarga untuk menyebut ulang manfaat
kesehatan yaitu
fasilitas kesehatan yang dapat dikunjungi
mendapatkan
b. Berikan reinforcement positif atas usaha keluarga
pemeriksaan,
mendapatkan perawatan,
mendapatkan penyuluhan
atau pendidikan kesehatan

Mengunjungi fasilitas
pelayanan kesehatan
untuk memeriksa kadar
gula darah minimal
sebulan sekali.

Respon
afektif

Keluarga mengunjungi
pelayanan kesehatan
untuk memeriksa kadar
gula darah minimal
sebulan sekali.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

a. Motivasi keluarga untuk berkunjung ke fasilitas


kesehatan.
b. berikan reinforcement positif atas usaha keluarga
untuk menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan.

No.
2.

Diagnosa
Keperawatan
Perilaku
kesehatan
cenderung
berisiko pada
Bpk. M

Tujuan
Jangka pendek

Jangka
panjang
Setelah
1. Setelah pertemuan
dilakukan
ke 5 selama 1x60
tindakan
menit keluarga
keperawatan
mampu mengenal
selama 5
masalah rokok.
minggu,
1.1.Menyebutkan
keluarga dapat
pengertian
mengurangi
merokok
atau
menghilangkan
perilaku
cenderung
berisiko.

1.2.Menyebutkan
kandungan
yang
terkandung
dalam rokok

Kriteria Evaluasi
Kriteria
Standar

Rencana Intervensi

Respon
verbal

Merokok adalah
menghisap zat-zat yang
dapat menimbulkan
gangguan pada tubuh.

1.1.1. Diskusikan dengan


keluarga tentang
pengertian merokok
1.1.2. Beri kesempatan
keluarga untuk bertanya
1.1.3. Beri reinforcement
positif atas usaha
keluarga menjelaskan
kembali.

Respon
verbal

Keluarga dapat
menyebutkan kandungan
dalam rokok, yaitu dalam
rokok mengandung 4000
bahan kimia yang
merusak dan
menghancurkan sistem
tubuh, diantaranya:
- Karbonmonoksida

1.2.1. Diskusikan dengan


keluarga tentang
kandungan rokok
1.2.2. Beri kesempatan
keluarga untuk bertanya
1.2.3. Tanyakan kembali
kandungan bahan kimia
rokok
1.2.4. Beri reinforcement

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

9
yang berisiko
menimbulkan
penyakit jantung
- Nikotin, mempercepat
detak jantung dan
meningkatkan TD
- Tar, dapat
mengakibatkan
kanker paru-paru

positif

Respon
verbal

Menyebutkan bahwa Bpk


M merokok

1.3.1 Diskusikan dengan


anggota keluarga yang
mempunyai kebiasaan
merokok
1.3.2 Motivasi keluarga untuk
menghentikan kebiasaan
merokok.

2. Memutuskan untuk Respon


verbal
merawat anggota
keluarga yang
mempunyai
kebiasaan merokok
2.1. Keluarga
mampu

Keluarga menyebutkan
akibat rokok:
- Terkena berbagai
penyakit seperti kanker
paru-paru, infeksi
saluran napas, jantung
- Ketagihan

2.1.1 Menanyakan kembali


kepada keluarga tentang
akibat lanjut dari rokok
2.1.2 Memotivasi keluarga
untuk mampu
mengambil keputusan
dalam mengatasi

1.3.Mampu
mengidentifikasi anggota
keluarga yang
mengalami
perilaku
berisiko
(merokok)

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

10
menyebutkan
akibat lanjut
dari merokok

- Penambahan biaya
untuk membeli rokok

anggota keluarga yang


mengalami masalah
merokok
2.1.3 Beri kesempatan pada
keluarga untuk bertanya
bila ada yang belum
jelas
2.1.4 Beri reinforcement
positif pada keluarga

Respon
verbal

Keputusan keluarga
untuk merawat dan
mengatasi masalah rokok

2.2.1 Motivasi keluarga untuk


mengatasi masalah yang
dihadapi
2.2.2 Beri reinforcement
positif atas keputusan
yang diambil keluarga

3. Keluarga mampu Respon


merawat anggota verbal
keluarga yang
merokok
3.1.Menyebutkan
cara berhenti

Keluarga dapat
menyebutkan 4 dari cara
agar berhenti merokok,
yaitu:
- Tetapkan hari untuk
berhenti merokok

3.1.1 Diskusikan dengan


keluarga tentang cara
pencegahan /cara
berhenti merokok
3.1.2 Beri kesempatan
keluarga untuk bertanya

2.2. Keluarga
mampu
mengambil
keputusan
untuk
mengatasi
anggota
keluarga yang
merokok

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

11
merokok

3.2.Keluarga
mampu
menyebutkan
cara
perawatan
anggota
keluarga
yang
merokok
dengan
mengurangi
efek dari
merokok

Respon
verbal

- Menunda saat rokok


pertama dihisap
- Mengurangi jumlah
rokok setiap hari
- Ajak teman dekat untuk
berhenti merokok
bersama-sama
- Beritahu teman atau
keluarga tentang niat
berhenti merokok agar
mendapat dukungan
- Buang sisa rokok yang
ada

3.1.3 Tanyakan kembali pada


keluarga tantang cara
berhenti merokok
3.1.4 Beri reinforcement
positif pada keluarga

Keluarga dapat
menyebutkan 2 dari 4
cara mengurangi efek
berhenti merokok, yaitu:
- Minum air putih yang
banyak
- Banyak makan buah
dan sayuran
- Olahraga ringan dan
teratur
- Cari kesibukan yang
positif

3.2.1 Diskusikan dengan


keluarga tentang
perawatan dan cara
mengurangi efek dari
berhenti merokok
3.2.2 Beri kesempatan pada
keluarga untuk bertanya
yang tidak dimengerti
3.2.3 Tanyakan kembali apa
yang telah dijelaskan
3.2.4 Beri reinforcement
positif atas jawaban dan
redemontrasi yang benar

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

12

4. Keluarga mampu Respon


memodifikasi
Verbal
lingkungan
4.1.Menyebutkan
cara-cara
modifikasi
lingkungan
untuk
mengatasi
masalah
rokok

4.2.Mampu
menciptakan
lingkungan
untuk
mengatasi
masalah
rokok

Respon
Psikomotor

Cara memodifikasi
lingkungan mengatasi
rokok
- Tidak menyediakan
rokok dirumah
- Tidak bergaul
bersama dengan yang
merokok
- Bersama-sama
dengan anggota
keluarga lain untuk
berkomitmen
berhenti merokok

4.1.1. Diskusikan bersama


keluarga cara
memodifikasi
lingkungan
4.1.2. Beri kesempatan
keluarga untuk bertanya
4.1.3. Tanya kembali tentang
cara modifikasi
lingkungan
4.1.4. Motivasi keluarga untuk
melakukannya

Usaha keluarga untuk


menciptakan lingkungan
yang kondusif untuk
anggota yang merokok

4.2.1. Lakukan kunjungan tak


terencana
4.2.2. Beri reinforcement
positif atas usaha
keluarga memodifikasi
lingkungan rumahnya.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

13
5. Keluarga mampu
memanfaatkan
pelayanan
kesehatan yang
ada untuk
mengatasi rokok
5.1.Mampu
menjelaskan
jenis fasilitas
pelayanan
kesehatan
terdekat

Respon
verbal

Puskesmas, dokter
praktik dan rumah sakit

5.2.Mampu
menyebutkan
manfaat
fasilitas
pelayanan
kesehatan

Respon
verbal

Manfaat fasilitas
5.2.1. Diskusikan bersama
kesehatan: sebagai sarana
keluarga tentang
untuk pemeriksaan,
manfaat fasilitas
perawatan/pengobatan
kesehatan
penyakit, sebagai sarana 5.2.2. Beri kesempatan
untuk mendapatkan
keluarga untuk
informasi yang akurat
mengulangi dan beri
dan tepat untuk
pujian atas jawaban

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

5.1.1. Diskusikan dengan


keluarga tentang jenis
fasilitas pelayanan
kesehatan yang dapat
dimanfaatkan sesuai
kemampuan keluarga
5.1.2. Beri kesempatan
keluarga untuk
mengulangi dan beri
pujian atas jawaban
yang benar

14
mengatasi rokok
5.3.Keluarga
mampu
memutuskan
untuk
membawa
anggota
keluarga
apabila ada
yang sakit
terutama
akibat rokok
ke fasilitas
kesehatan

Respon
verbal

Keluarga memutuskan
untuk membawa anggota
keluarga yang sakit ke
fasilitas pelayanan
kesehatan: Puskesmas,
dokter praktek, RS

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

yang benar
5.3.1. Motivasi keluarga untuk
membawa anggota
keluarga yang penyakit
ke fasilitas pelayanan
kesehatan
5.3.2. Beri reinforcement
positif pada keluarga
atas usaha yang telah
dilakukan

15

No
3.

Diagnosa
Keperawatan
Koping individu
tidak efektif pada
keluarga Bpk M
khususnya Bpk M

Tujuan
Jangka
Panjang
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 5
minggu,
diharapkan
koping individu
tidak efektif
pada keluarga
Bpk M
khususnya Bpk
M dapat
teratasi

Jangka Pendek
Setelah dilakukan
pertemuan ke 6
selama 1x60 menit,
diharapkan :
1. Keluarga dapat
mengenal tentang
manajemen stress :
a. Menjelaskan
pengertian stress
dengan bahasa
yang sederhana

b. Menyebutkan
penyebab stress

Evaluasi
Kriteria

Standar

Rencana Tindakan

Respon
verbal

Pengertian stress adalah


kondisi yang dialami
seseorang sebagai respon
terhadap adanya
perubahan dalam kondisi
normal

1. Diskusikan pengertian
stress
2. Anjurkan keluarga
mengungkapkan
kembali pengertian
stress dengan bahasa
sederhana
3. Beri pujian atas
kemampuan keluarga.

Respon
verbal

Menyebutkan minimal 3
penyebab stress dari
faktor internal dan
eksternal :
Faktor internal :
1. Perasaan tertekan,
bersalah
2. Kurang percaya diri
3. Keinginan untuk
mandiri

1. Identifikasi
kemampuan keluarga
tentang faktor
penyebab stress
2. Diskusikan penyebab
stress
3. Beri kesempatan
keluarga bertanya
4. Dorong keluarga untuk
menyebutkan penyebab

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

16
4. Penyakit kronis
Faktor eksternal :
1. Keluarga sakit/ me
ninggal
2. Tekanan dari
kelompok
3. Kondisi perkejaan
tidak menentu
4. Status ekonomi tidak
memadai
5. Lingkungan tidak
aman/ nyaman
6. Support sistem tidak
adekuat.
c. Menyebutkan
tanda dan gejala
stress

Respon
verbal

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Menyebutkan minimal 4
dari 11 tanda dan gejala
stress :
1. Keringat berlebihan
2. Sakit kepala
3. Mudah marah
4. Sulit tidur
5. Tegang pada tengkuk
6. Cemas
7. Mudah lelah
8. Sesak nafas
9. TD dan gula darah
meningkat

stress dari faktor


internal dan ekstrenal
5. Beri pujian atas
kemampuan keluarga

1. Diskusikan tanda dan


gejala stress
2. Bantu keluarga
mengiden-tifikasi tanda
dan gejala stress yang
ada dalam keluarga
3. Dorong keluarga untuk
menyebutkan kembali
tanda dan gejala stress
4. Beri pujian atas
kemampuan keluarga
menyebutkan kembali
tanda dan gejala stress

17
10. Menarik diri
11. Sulit konsentrasi
2. Keluarga mampu
mengambil
keputusan untuk
segera melakukan
manajemen stress
a. Menjelaskan
akibat yang terjadi
bila stress tidak
dikelola dengan
baik

Respon
Verbal

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Menyebutkan 3 dari 7
akibat lanjut dari stress
bila tidak dikelola
dengan baik :
1. Munculnya penyakit
fisik : HT, DM,
kolestreol meningkat,
jantung koroner
2. Gangguan psikologis :
depresi, tidak dapat
mengontrol diri,
penggunaan obat/
minuman keras/ rokok
3. Gangguan hubungan
sosial
4. Kurang motivasi kerja
5. Kreatifitas menurun
6. Ibadah tidak optimal
7. Risiko kecelakaan

1. Jelaskan akibat lanjut


bila stress tidak
dikelola dengan baik
2. Beri kesempatan
keluarga bertanya
3. Dorong keluarga untuk
mengungkapkan
kembali akibat lanjut
bila stress tidak
dikelola dengan baik
4. Beri pujian atas
kemampuan keluarga

18
b. Mengambil
keputusan yang
tepat untuk
segera
melakukan
manajemen
stress

3. Keluarga dapat
menyebutkan cara
mencegah dan
mengatasi stress di
rumah
a. Menjelasksn
cara mencegah
timbulnya stress
di rumah

Respon
Verbal dan
afektif

Keluarga dapat
mengambil keputusan
untuk segera melakukan
manajemn stress agar
tidak terjadi konflik
dalam keluarga

1. Gali pendapat keluarga


apa yang harus
dilakukan untuk
mengatasi stress
2. Bimbing dan bantu
keluarga untuk
mengambil keputusan
yang tepat
3. Beri kesempatan
keluarga memikirkan
kembali keputusan
yang diambil
4. Beri pujian atas
keputusan yang
diambil keluarga

Respon
verbal

Menyebutkan minimal 3
dari 6 cara mencegah
timbulnya stress
dirumah :
1. Makan makanan
seimbang secara
2. Hindari/ kurangi
makanan yang dapat

1. Gali pengalaman
keluarga dalam
mencegah timbulnya
stress di rumah
2. Beri pujian atas usaha
keluarga yang sudah
tepat
3. Diskusikan cara

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

19

b. Menjelasksn
cara mengatasi
bila timbul stress
di rumah

Respon
verbal

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

merangsang timbulnya
stress : makanan
berlemak, terlalu asin,
terlalu manis, kopi,
teh, coklat
3. Hindari/ kurangi
konsumsi rokok/
minuman alkohol
4. Olah raga secara
teratur
5. Istirahat/ tidur cukup
(6-8 jam sehari)
6. Berpikir positif

mencegah timbulnya
stress di rumah
4. Dorong keluarga untuk
mengungkapkan
kembali penjelasan
yang telah diberikan

Menyebutkan minimal 3
cara mengatasi stress
ringan dan sedang dan
cara mengatasi stress
berat dirumah :
Stress ringan :
1. Relaksasi nafas dalam
2. Relaksasi autogenik/
imajinasi
3. Relaksasi progresif
4. Yoga
5. Meditasi
6. Massase/ pemijatan
7. Mendengarkan musik
ringan

1. Gali pengalaman
keluarga dalam
mengatasi stress yang
selama dilakukan
2. Beri pujian atas usaha
keluarga yang sudah
tepat
3. Diskusikan berbagai
cara mengatasi stress di
rumah dengan
manajemn stress
4. Dorong keluarga untuk
mengungkapkan
kembali penjelasan
yang telah diberikan

20
8. Tertawa
Stress sedang :
1. Relaksasi progresif
2. Imajinasi terpimpin
3. Meditasi
4. Massase/ pemijatan
5. konseling
Stress berat :
1. Konseling

c.
Mendemonstrasi
kan cara
mengatasi stress
bila timbul
sewaktu-waktu
di rumah

Respon
psikomotor

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Mendemonstrasikan
cara sederhana untuk
mengatasi stress ringan
dirumah yaitu
- Relaksasi nafas dalam
dengan menarik nafas
dalam melalui hidung,
tahan nafas selama 3
detik lalu hembuskan
lewat mulut, lakukan
selama 10 kali.

1. Gali pengalaman
keluarga dalam
mengatasi stress yang
selama dilakukan
2. Beri pujian atas usaha
keluarga yang sudah
tepat
3. Diskusikan minimal 6
cara untuk mengatasi
stress di rumah dengan
manajemen stress
4. Dorong keluarga untuk
mendemostrasikan cara
mengatasi stress yang
telah dipelajari
5. Beri pujian atas

21
kemampuan keluarga
mendemontraskan
secara benar
4. Keluarga mampu
memodifikasi
lingkungan yang
tepat untuk
meminimalkan
terjadinya stress
a. Menyebutkan
lingkungan yang
tepat untuk
meminimlkan
stress

Respon
verbal

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Menyebutkan lingkungan
yang tepat untuk
meminimal-kan stress di
rumah :
1. Ruangan tidak terlalu
panas/ dingin
2. Perabotan bersih dan
teratur
3. Tata ruang tidak
membahayakan
4. Terhindar dari
kebisingan
5. Aman dari bahaya
kriminal

1. Diskusikan
lingkungan yang tepat
untuk meminimalkan
stress
2. Identifikasi dengan
keluarga lingkungan
yang ada dalam
keluarga
3. Dorong keluarga
untuk menyebutkan
kembali penjelasan
yang diberikan
4. Motivasi keluarga
untuk menciptakan
lingkungan yang tepat
untuk meminimalkan
stress.

22
5. Keluarga mampu
memanfaatkan
fasilitas pelayanan
kesehatan yang ada
untuk mengatasi
stress sedang atau
berat
Respon
a. Menyebutkan
verbal
fasilitas
kesehatan yang
tersedia

b. Menyebutkan
manfaat fasilitas
kesehatan

Respon
verbal

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

1. Diskusikan jenis
Fasilitas kesehatan yang
fasilitas kesehatan
dapat digunakan oleh
yang tersedia
keluarga untuk mengatasi
dilingkungan keluarga
stress sedang dan berat :
2. Bantu keluarga
1. Puskesmas
memilih fasilitas
2. Dokter praktek
kesehatan yang sesuai
3. Mantri/ bidan
4. Psikolog/ psikiater
dengan kondisi
keluarga
3. Anjurkan keluarga
memanfaatkan fasilitas
kesehatan sesuai
pilihan
Manfaat fasilitas
kesehatan :
1. Memberikan informasi
kesehatan
2. Memberikan
pengobatan
3. Memberikan
pelayanan konseling

1. Klarifikasi
pengetahuan keluarga
tentang manfaat
fasilitas kesehatan
2. Diskusikan manfaat
fasilitas kesehatan
3. Dorong keluarga
mengungkapkan

23
4. Membantu
meningkatkan
kesehatan

c. Memanfaatkan
fasilitas
kesehatan yang
ada bila
mengalami stess
sedang dan berat

Respon
psikomotor

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

kembali manfaat
fasilitas kesehatan yang
ada.

Keluarga membawa
1. Motivasi keluarga
keluarga yang mengalami
untuk memanfaatkan
stress sedang atau berat
fasilitas kesehatan yang
ke fasilitas kesehatan
ada
yang ada
2. Beri pujian atas
kemampuan keluarga.

Lampiran 5: Catatan Perkembangan

IMPLEMENTASI & EVALUASI


1. Ketidakefektifan manajemen kesehatan diri pada Bpk M dengan DM
2. Perilaku kesehatan cenderung berisiko pada Bpk. M
3. Koping individu tidak efektif pada keluarga Bpk M khususnya Bpk M
TGL
Implementasi
29/5
1. Mendiskusikan definisi
Pertemuan
diabetes mellitus
ke- 3
2. Mendiskusikan penyebab
diabetes mellitus
3. Mendiskusikan tanda dan
gejala diabetes mellitus
4. Mendiskusikan akibat
diabetes mellitus
5. Membantu keluarga untuk
mengambil keputusan untuk
mengatasi masalah kesehatan
diabetes mellitus
6. Mendiskusikan cara
perawatan diabetes mellitus
7. Mengedukasi klien tentang
makanan yang boleh dan
dibatasi untuk dikonsumsi
oleh penderita DM

Evaluasi
TTD
Kurniasih
S: - gula darah >
200
- Penyebabnya
makanan tidak
terkontrol,
keturunan.
- Tanda &
gejalanya
lemas, sering
kencing.
- Akibat jika
tidak dirawat
yaitu amputasi,
penglihatan bisa
buta.
- Cara
mengontrolnya
dengan minum
obat, makan
diatur, tidak
makan yang
manis-manis.
O:
- TD= 110/70
mmHg
- dapat
menyebutkan
kembali definisi
DM.
- Dapat
menjawab
penyebab 2
dari 5.
- Dapat
menjawab tanda
& gejala 2 dari
5.
- Dapat
menjawab
akibat 2 dari 7.
- Dapat

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

menjawab cara
perawatan DM
2 dari 6
- Dapat
menyebutkan
dan memilih
gambar
makanan yang
boleh &
dibatasi untuk
dikonsumsi
serta
mengetahui gizi
seimbang.
A: TUK 1,2, 3
tercapai sebagian
P:
- evaluasi TUK
1,2,3
(menyebutkan
kembali tentang
gizi seimbang
dan makanan
yang boleh dan
dibatasi)
- TUK 3: Ajarkan
manajemen diet
- Cek gula darah
31/5
Pertemuan
ke- 4

1. Mengevaluasi TUK 1,2,3


(menyebutkan kembali
tentang gizi seimbang dan
makanan yang boleh dan
dibatasi)
2. Mengedukasi manajemen
diet
3. Mengecek gula darah

S:
-

Kurniasih
manajemen
diet adalah
pengaturan
makanan
dengan gizi
seimbang.
Tujuannya
untuk gula
darah supaya
normal dan
mencegah
komplikasi.
Yang perlu
diperhatikan
pada orang DM
yaitu waktu,
jenis, jumlah

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

O:
-

A:
P:
4/6
Pertemuan
ke- 5

1. Mengevaluasi TUK 3
tentang diet
2. Mengajarkan senam
kaki
3. Mengecek gula

S:
-

O:
-

makanan.
Akan mencoba
untuk makan
sesuai contoh
menu makanan.
GDS= 334
mg/dl
TD= 120/80
mmHg
Klien mengerti
akan contoh
menu yang
diberikan dan
akan
melakukannya.
TUK 3
(manajemen
diet) tercapai.
evaluasi TUK
3 tentang diet.
TUK 3: ajarkan
senam kaki.
Cek gula
Kurniasih
Makan sudah
mulai diatur,
setiap hari
mulai makan
buah dan sayur.
Jadwal makan
mulai
diusahakan
untuk tepat
waktu.
Setiap bangun
tidur akan
mempraktikkan
senam kaki.
GDS= 300
mg/dl
TD= 110/80
mmHg
Menjalankan
manajemen

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

diet.
Dapat
mempraktikkan
gerakan senam
kaki dengan
baik.
A: TUK 3: senam
kaki tercapai.
P:
- Evaluasi diet
- Evaluasi senam
kaki
- TUK 3:
perawatan kaki
- TUK 4 dan 5
- Cek gula darah
1. Mengevaluasi diet
S:
2. Mengevaluasi senam kaki
- Semalam
3. Mengedukasi tentang
makan cemilan
perawatan kaki
manis yaitu roti
4. Mengedukasi modifikasi
isi kacang ijo 3
lingkungan
bungkus dan
5. Mengingatkan untuk
begadang, pagi
terus minum obat secara
hari makan
tertur dan menganjurkan
bubur ayam 1
klien untuk ke yankes
mangkok
jika terjadi keparahan
penuh.
DM
- Setiap bangun
6. Mengecek gula darah
pagi sudah
melakukan
senam kaki dan
juga
melakukannya
jika ada rasa
kesemutan,
kesemutan
dapat
berkurang.
- Pernah
merendam kaki
dengan air
hangat.
- Di rumah
kadang
memakai alas
kaki kadang
tidak.
- Akan
-

8/6
Pertemuan
ke- 6

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Kurniasih

menggunakan
pelembab pada
kaki.
Setiap hari
sudah minum
obat secara
teratur.

O:
-

11/6
Pertemuan
ke- 7

1. Memonitoring diet
2. Mengevaluasi senam
kaki
3. Mengevaluasi
perawatan kaki
4. Menjelaskan TUK 1-5
diagnosa perilaku
kesehatan cenderung
berisiko

TD= 120/70
mmHg
- GDS= 417
mg/dl
A: TUK 1-5 tercapai,
namun diet masih
belum patuh.
P:
- Monitor diet
- Evaluasi senam
kaki
- Evaluasi
perawatan kaki
- TUK 1-5
diagnosa
perilaku
cenderung
berisiko
Kurniasih
S:
- Makan kadang
baik kadang
tidak
- Senam kaki
dilakukan setiap
hari dan rasa
kesemutan
sudah
berkurang
- Perawatan kaki
sekadar
menggunakan
sepatu atau
sendal jika
keluar rumah
namun di dalam
rumah belum
menggunakann
ya, hanya hatihati saja dalam
berjalan.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

O:
-

A:
-

Merokok:
menghisap
rokok, isinya
zat-zat nikotin,
tar.
Akibat: kanker,
jantung, sesak
napas
Rokok bahaya,
mau mencoba
untuk
mengurangi.
Cara
mengurangi
rokok: coba
kurangi perhari.
Cara perawatan:
olahraga,
makan buah dan
sayur, cari
kesibukan yang
bermanfaat.
Coba untuk
mulai
menjauhkan
bungkus rokok.
Sudah ke
pelayanan
kesehatan
sebulan sekali.
TD= 120/80
mmHg
Keluarga
mengerti
penkes tentang
rokok dan
antusias untuk
mencoba
mengurangi
rokok.
TUK 3
manajemen diet
belum
sepenuhnya
dipatuhi, senam
kaki dan

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

P:
-

15/6
Pertemuan
ke- 8

1. Memonitoring diet
2. Mengevaluasi senam
kaki
3. Mengevaluasi
perilaku merokok
4. Menjelaskan TUK 15 diagnosa koping
individu tidak efektif

S:
-

perawatan kaki
sudah baik.
TUK 1-4
diagnosa
perilaku
kesehatan
cenderung
berisiko
tercapai.
Monitor diet
Evaluasi senam
kaki
Evaluasi
perilaku
merokok
TUK
1-5
diagnosa
koping individu
tidak efektif
Kurniasih
Makan nasi
padang 1 porsi,
makan soto
ayam, nasi juga
tidak ditakar,
pagi hari
kemudian
makan bubur
seporsi, lalu
diselingi makan
nasi uduk
Senam kaki
dilakukan setiap
hari dan
sekarang sudah
tidak
kesemutan.
Sudah
mengurangi
rokok,
sebelumnya
habis 1
bungkus, akhirakhir ini pasti
tidak habis 1
bungkus.
Stres: keadaan

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

O:
-

A:
-

tubuh yang
tidak seperti
biasanya
mungkin ada
tekanan.
Penyebab:
memikirkan
penyakit,
masalah
keluarga.
Tanda dan
gejala: susah
konsentrasi,
gula darah dan
tekanan darah
naik, susah
tidur.
Akibat:
kambuhnya
penyakit, malas
kerja.
Cara mengatasi:
nafas dalam dan
akan bercerita
tentang masalah
kepada orang
terdekat.
GDS= 443
mg/dl
TD= 120/80
mmHg
Keluarga
mengerti
tentang koping
efektif akibat
stres.
Diet belum
sepenuhnya
dipatuhi
Senam kaki
berhasil
TUK 1-4
diagnosa
koping individu
tidak efektif
tercapai.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

P:
-

18/6
Pertemuan
ke- 9

1. Memonitoring diet
S:
2. Mengevaluasi sumatif
diagnosa
ketidakefektifan
manajemen kesehatan
diri
3. Mengevaluasi
perilaku merokok
4. Mengevaluasi
manajemen stres

Monitor diet
Evaluasi
sumatif
diagnosa
ketidakefektifan
manajemen
kesehatan diri.
Evaluasi
perilaku
merokok
Evaluasi
manajemen
stres
Kurniasih
Mematuhi
kembali
manajemen diet
yang disarankan
karena kemarin
sempat tinggi
gula darahnya
takut
komplikasi
seperti dulu
yaitu kebutaan.
Gula darah
diatas 200
Penyebabnya:
keturunan,
makanan tidak
terkontrol dan
stres,
Tanda dan
gejala: sering
haus, sering
buang air kecil
serta gatalgatal,
Akibat: luka
tidak sembuh,
kesemutan dan
baal serta sakit
jantung;
Cara perawatan:
diet, minum
obat teratur,
perawatan kaki,

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

O:
-

senam kaki,
olahraga, dan
kontrol gula
darah minimal
sebulan sekali
Sudah banyak
mengurangi
rokok, sekarang
sehari hanya
batang saja.
Hanya stres
ringan, karena
kecapean jadi
nafas dalam,
kalau ada
masalah sudah
coba
diceritakan ke
istri.
Dapat
menyebutkan
kembali definisi
DM
Dapat
menyebutkan 3
dari 5 penyebab
DM
Dapat
menyebutkan 3
dari 5 tanda dan
gejala DM
Dapat
menyebutkan 3
dari 7 akibat
DM
Dapat
menyebutkan 6
dari 6 cara
perawatan DM
TD= 120/80
mmHg
Terlihat
sebatang rokok
tidak langsung
dihabiskan
dalam sekali
waktu.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

A:
-

P:
-

22/6
Pertemuan
ke- 10

1.
2.

3.

4.

5.

Memonitoring diet
S:
Mengevaluasi sumatif
diagnosa perilaku
kesehatan cenderung
berisiko.
Mengevaluasi sumatif
diagnosa koping
individu tidak efektif.
Memotivasi keluarga
untuk menjalankan
cara-cara perawatan
yang telah diajarkan
selama kunjungan.
Melakukan terminasi.

TUK 1-5
diagnosa
ketidakefektifan
manajemen
kesehatan diri
tercapai.
Perilaku
merokok sudah
berkurang.
Koping sudah
mulai baik yaitu
sudah bercerita
tentang masalah
dengan orang
terdekat.
Monitor diet
Evaluasi
sumatif
diagnosa
perilaku
kesehatan
cenderung
berisiko.
Evaluasi
sumatif
diagnosa
koping individu
tidak efektif.
Terminasi
Kurniasih
Makannya baik
kembali karena
pada kunjungan
lalu, gulanya
tinggi sekali
Rokok sudah
sangat banyak
dikurangi.
Sudah bercerita
jika ada
masalah
Akan
menjalankan
terus cara-cara
perawatan yang
telah diajarkan

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

O:
A:
-

P:
-

GDS= 318
mg/dl
TD= 120/80
mmHg
TUK 1-5
ketidakefektifan
manajemen
kesehatan diri
berhasil
TUK 1-4
diagnosa
perilaku
kesehatan
cenderung
berisiko
berhasil.
TUK 1-4
diagnosa
koping individu
tidak efektif
berhasil.
Memberikan
catatan atau
ringkasan
berupa hal-hal
yang harus
dilakukan (halhal yang telah
diajarkan)
untuk Bpk M.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Lampiran 6: Tingkat Kemandirian Keluarga

Tingkat Kemandirian Keluarga Bpk M (62 tahun)


No
1
2

Kriteria
Keluarga menerima petugas
kesehatan
Keluarga menerima pelayanan
kesehatan sesuai rencana

Ya

Tidak

Keluarga menyatakan masalah


kesehatan secara benar
v

Keluarga memanfaatkan fasilitas


kesehatan sesuai anjuran
Keluarga melaksanakan perawatan
sederhana sesuai anjuran

Keluarga melaksanakan tindakan


pencegahan secara aktif
v

Keluarga melaksanakan tindakan


promotif secara aktif

Pembenaran
Setiap mahasiswa datang berkunjung,
Bpk M selalu sudah siap di rumah.
Keluarga dapat mengikuti intervensi
yang mahasiswa berikan saat
kunjungan sesuai rencana dan jadwal
kunjungan.
Keluarga mengatakan masalah
kesehatan beserta dengan keluhan yang
dirasakan dan hal tersebut sesuai
dengan pengkajian yang mahasiswa
telah lakukan.
Keluarga selalu berkunjung ke
pelayanan kesehatan terdekat untuk
memeriksakan kesehatannya.
Keluarga melakukan perawatan
sederhana yang mahasiswa ajarkan,
terlihat dari hasil evaluasi yang telah
mahasiswa lakukan.
Keluarga belum melakukan
pencegahan secara aktif, ini
berdasarkan dari pengakuan keluarga
dan juga dari hasil evaluasi yang telah
mahasiswa lakukan.
Keluarga belum melaksanakan
tindakan promotif.

Kesimpulan:
Keluarga Bpk M berada pada tahap kemandirian tingkat 2.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Lampiran 7: Format Evaluasi Sumatif


FORMAT EVALUASI SUMATIF
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
Diagnosa 1:
Ketidakefektifan manajemen kesehatan diri pada Bpk M dengan DM
No

RESPON KELUARGA

Keluarga mampu menyebutkan


pengertian diabetes melitus yaitu
gangguan yang ditandai dengan
kenaikan kadar gula darah sewaktu & 2
jam setelah makan > 200 mg/dl dan
gula darah puasa > 140 mg/dl.
Keluarga dapat menyebutkan 3 dari 5
penyebab DM
Penyebab:
faktor keturunan
- kegemukan
- sering makan makanan manis
- kurang olahraga
- stres
Keluarga mampu menyebutkan 3 dari 5
tanda/gejala DM:
cepat lapar,
- cepat haus
- sering buang air kecil terutama pada
malam hari
- lemas
- kulit gatal-gatal
Keluarga mampu menyebutkan 3 dari 7
akibat DM bila tidak diatasi
kebutaan,
- impotensi,
- penyakit jantung,
- stroke,
- gagal ginjal,
- hipertensi,
- amputasi
Keluarga mampu menyebutkan 4 dari 6
cara mengatasi DM:
- diet makan (memilih makanan yang
dianjurkan dan yang tidak untuk DM)
- olahraga teratur,
- perawatan kulit & kaki,
- mengontrol kadar gula darah secara
berkala,
- minum obat teratur sesuai dosis dan
waktu
- senam kaki

HASIL
Ya
Tidak

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Modifikasi intervensi

Lampiran 7: Format Evaluasi Sumatif (Lanjutan)

Keluarga mampu mendemontrasikan


pembuatan menu makan sehari untuk
dm

Keluarga mampu mendemontrasikan


senam DM

Keluarga mampu menyebutkan 3 dari 3


cara memodifikasi lingkungan
mengatasi masalah DM
1. Menggunakan alas kaki
2. Meletakkan
makanan
yang
mengandung banyak gula di tempat
yang sulit dijangkau oleh penderita
DM
3. Mengganti cemilan yang banyak
mengandung gula dengan makanan
yang tinggi serat dan rendah gula
Keluarga mampu melakukan
modifikasi lingkungan untuk
mengatasi DM
Keluarga mampu menyebutkan
manfaat fasilitas kesehatan yaitu
sebagai sarana untuk pemeriksaan,
perawatan/pengobatan DM, sebagai
sarana untuk mendapatkan informasi
yang akurat dan tepat untuk mengatasi
masalah DM

10

11

12

Keluarga mampu menyebutkan 3 dari 6


fasilitas pelayanan kes. yang dapat
digunakan dalam penanganan DM,
yaitu:
puskesmas, posbindu, RS, Praktek
perawat, dokter praktek dan praktek
bidan.
Keluarga mampu memanfaatkan
fasilitas kesehatan untuk penanganan
DM

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Dibantu perawat
dengan melihat contoh
bahan penukar
makanan

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Manajemen Diet
Pada Penderita Diabetes Mellitus

Oleh:
KURNIASIH, S.Kep
Lampiran 9
Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Apa itu Manajemen Diet??

Manajemen diet adalah mengatur makanan


yang dikonsumsi sehingga mencukupi
kebutuhan gizi seimbang yang terdiri dari zat
tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Apa Tujuan Manajemen Diet??


Mempertahankan kadar gula darah
mendekati normal
Menyediakan energi yang
cukup dan menjaga berat
badan tetap normal

Mencegah
komplikasi
Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Apa yang perlu diperhatikan pada


diet untuk Diabetes??
JADWAL MAKAN

Tepat makan pada waktu pagi, siang, malam.


Diantara waktu makan, sebaiknya ada waktu
untuk makan makanan selingan.

JUMLAH MAKANAN

Jumlah makanan diatur berdasarkan tinggi


badan, berat badan, jenis aktivitas, dan usia.

JENIS MAKANAN

Jenis makanan yang tidak boleh dimakan, yaitu:


gula pasir, gula merah, sirup, minuman bersoda,
es krim, selai, permen, kue-kue.
Jenis makanan yang dibatasi, yaitu:
Nasi, kentang, singkong, ubi, ketan, talas, roti,
bihun, sagu, makanan bertepung.
Buah-buahan yang manis seperti durian,
rambutan, sawo, jeruk, nanas, anggur.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Penderita Diabetes
Perlu Gizi Seimbang
ZAT
TENAGA

ZAT

Zat tenaga berasal dari makanan yang mengandung karbohidrat dan lemak.
Berfungsi untuk menyediakan energi dalam tubuh.
Makanan yang mengandung karbohidrat (beras, jagung, ubi, singkong, kentang, roti,
mie).
Makanan yang mengandung lemak (minyak, margarin, santan).

Zat pembangun berasal dari makanan yang mengandung protein nabati (kacangkacangan, tempe, tahu) dan protein hewani (telur, ikan, ayam, daging, susu).

PEMBANGUN

ZAT

Zat pengatur berasal dari sayuran dan buah-buahan.

PENGATUR

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Lampiran 10: Contoh Menu 1700 Kalori

Contoh Menu 1700 kalori


Waktu
06.30 Makan
pagi/
sarapan

09.30
selingan
12.30
Makan siang

15.30
selingan
18.30
Makan malam

21.30
selingan

Jenis

URT

Jumlah

Jml kalori

Nasi

150 gram

1 gelas

262,5

Ikan

25 gram

1/2 ptg sedang

45

Tempe

25 gram

1 1/2 ptg sedang

40

Sayuran

125 gram

2,5 gelas

60

Minyak

10 gram

1 sdm

90

Pisang

150 gram

3 buah sedang

120

Nasi

100 gram

3/4 gelas

175

Ikan

25 gram

1/2 ptg sedang

45

Sayuran

150 gram

3 gelas

75

Tempe

25 gram

1 1/2 ptg sedang

40

Minyak

5 gram

1/2 sdm

45

Pisang

200 gram

4 buah sedang

160

Nasi

100 gram

3/4 gelas

175

Ikan

50 gram

1 ptg sedang

95

Tempe

25 gram

1 1/2 ptg sedang

40

Sayuran

150 gram

3 gelas

75

Minyak

5 gram

1/2 sdm

45

Pisang

150 gram

3 buah sedang

120

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Lampiran 11: Daftar Makanan Pengganti

DAFTAR MAKANAN PENGGANTI


GOLONGAN I: NASI DAN PENGGANTINYA
100 gr nasi = gelas, mengandung 175 kalori.
100 gr nasi
= 400 gr bubur beras
= 1 gelas
200 gr nasi tim
= 1 gelas
100 gr nasi jagung
= gelas
200 gr kentang
= 4 biji sedang
100 gr singkong
= 1 potong sedang
200 gr tales
= biji sedang
150 gr ubi
= 1 biji sedang
80 gr roti putih
= 4 iris
40 gr maizena
= 7 sdm
50 gr mie kering
= 1 gelas direbus
100 gr mie basah
= 1 gelas
50 gr bihun
= gelas
50 gr kraker
= 5 buah besar
50 gr tepung beras
= 8 sdm
40 gr tepung hunkwe
= 7 sdm
40 gr tepung singkong
= 8 sdm
50 gr tepung terigu
= 12 sdm
50 gr havermout
= 7 sdm
GOLONGAN II: DAGING DAN PENGGANTINYA
50 gr daging mengandung 95 kalori.
50 gr daging sapi = 25 gr daging babi kurus
= 1 potong sedang
50 gr daging ayam
= 1 potong sedang
50 gr hati sapi
= 1 potong sedang
60 gr babat
= 2 potong sedang
75 gr usus sapi
= 7 bulatan
75 gr telur ayam biasa
= 2 butir
60 gr telur ayam bebek
= 1 butir
50 gr ikan segar
= 1 potong sedang
25 gr ikan asin
= 1 potong sedang
25 gr ikan teri
= 2 sdm
50 gr udang basah
= gelas
30 gr keju
= 1 potong sedang
60 gr telur ayam negeri
= 1 butir
100 gr bakso daging
= 10 biji besar
GOLONGAN III: TEMPE DAN PENGGANTINYA
50 gr tempe= 3 potong sedang, mengandung 80 kalori
50 gr tempe = 100 gr tahu
= 1 biji
50 gr oncom
= 2 potong sedang
25 gr kacang hijau = gelas direbus
25 gr kedelai
= 2 sdm
25 gr kacang merah= 2 sdm
20 gr kacang tanah = 2 sdm

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Lampiran 11: Daftar Makanan Pengganti (Lanjutan)

25 gr kacang tolo
= 2 sdm
20 gr keju kacang tanah = 2 sdm
GOLONGAN IV: SAYURAN DAN PENGGANTINYA
 100 gr sayuran golongan A mengandun g 50 kalori
Sayuran golongan A:
Bayem, buncis, daun melinjo, daun pepaya, labu siem, daun luntas, daun ubi jalar, daun
lompong, daun singkong, jagung muda, jantung pisang, kacang kopi, kacang panjang,
nangka muda, pare, wortel.
 Sayuran golongan B mengandung sedikit kalori
Sayuran golongan B:
Daun koro, kembang kol, tauge, ketimun, rebung, jamur segar, kubis, seledri, kangkung,
pepaya muda, daun labu siem, selada, lobak, cabai hijau besar, kecipir, mbayung, labu
air, terong, tomat, sawi.
GOLONGAN V: BUAH DAN PENGGANTINYA
50 gr pisang mengandung 40 kalori
50 gr pisang = 1 buah sedang = 100 gr jambu air
75 gr jambu bol
100 gr kedondong
100 gr pepaya
75 gr salak
150 gr semangka
75 gr apel
50 gr alpukat
125 gr belimbing
75 gr bengkoang

= 2 buah sedang
= buah sedang
= 1 buah sedang
= 1 potong
= 1 potong besar
= 1 potong besar
= buah sedang
= buah besar
= 1 buah besar
= 1 buah besar

GOLONGAN VI: SUSU DAN PENGGANTINYA


200 gr susu mengandung 110 kalori
200 gr susu sapi
= 100 gr susu kental tak bergula
200 gr susu ayam (yoghurt)
25 gr tepung susu penuh
20 gr tepung susu skim
25 gr tepung susu saridele

= 1 gelas
= 1 gelas
= 4 sdm
= 4 sdm
= 4 sdm

GOLONGAN VII: MINYAK DAN PENGGANTINYA


5 gr minyak mengandung 45 kalori
5 gr minyak goreng =
5 gr margarine
= sdm
5 gr mentega
= sdm
30 gr kelapa
= 1 potong kecil
30 gr kelapa parut = 5 sdm
50 gr kelapa santan = gelas
5 gr lemak sapi
= 1 potong kecil
5 gr lemak babi
= 1 potong kecil
Sumber: Tjokroprawiro, A. (1989). Diabetes mellitus (klasifikasi, diagnosis, dan dasar-dasar terapi).
Jakarta: PT Gramedia.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Lampiran 15
ROKOK ITU............

KANDUNGAN ROKOK

Rokok adalah hasil olahan tembakau

 TAR

terbungkus yang mengandung bahan

Dapat merusak sel paru-paru dan

kimia berbahaya.

menyebabkan kanker.

FAKTA ROKOK


 KARBON MONOKSIDA (CO)

Asap rokok mengandung kurang

Menghambat kemampuan darah

lebih 4000 bahan kimia

membawa oksigen.

berbahaya.


Oleh
KURNIASIH, S.Kep
Mahasiswa Program Profesi

Semakin pendek rokok semakin

 NIKOTIN

tinggi kadar racun yang siap

Dapat dapat menyebabkan

melayang ke udara bahkan lebih

ketagihan serta dapat merusak

berbahaya daripada polusi di

jantung dan sirkulasi darah.

jalan raya.

Universitas Indonesia

Rokok bersifat candu.

2013

Menambah pengeluaran biaya


untuk membeli rokok.

Dapat merusak diri sendiri dan


lingkungan.

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Lampiran 15 (Lanjutan)

Penyakit jantung

Bahaya Asap Rokok Terhadap Bayi


Bayi

Stroke

Nyeri dada akibat penyempitan

Otot lemah

pembuluh darah jantung.

Penyakit gusi

Kerusakan mata

Osteoporosis (pengeroposan

Jangkitan telinga

tulang)

Leukeamia (kanker darah)

Kemandulan

Kanker otak 22%

Cepat lelah

Sindrom kematian secara

BAHAYA ROKOK

ANGINA

ASMA

Mengalami kesulitan bernafas.

ALERGI

Iritasi terhadap asap rokok.


Bahaya Asap Rokok Terhadap Ibu

GEJALA-GEJALA GANGGUAN

Hamil Dan Janin yang Dikandungnya

KESEHATAN
Iritasi mata, sakit kepala, pusing,

Keguguran janin

sakit tenggorokan, batuk, dan sesak

Kematian janin dalam kandungan

nafas.

Pendarahan dari uri (abruption


placenta)

Berat badan berkurang 20-30%

Analisis praktik.., Kurniasih, FIK UI, 2013

Masalah dan penyakit


pernafasan

Mengganggu terhadap
perkembangan kecerdasan

mendadak