Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTEK

MATA KULIAH MOTOR BENSIN


*Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Motor Bensin yang oleh Drs. Sopiyan

DISTRIBUTOR SISTEM PENGAPIAN KONVENSIONAL

Disusun Oleh:
1. Tarjudin
2. M. Naufal Hidayat

5353 14 4324
5353 14 4328

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2016

B.

ISI LAPORAN
I. JUDUL LAPORAN
Laporan ini berjudul DISTRIBUTOR SISTEM PENGAPIAN
KONVENSIONAL yang telah dipraktikkan dan diketahui hasil analisanya.
II. KOMPETENSI
Sistem Pengapian Konvensional.
III. SUB KOMPETENSI
Setelah melaksanakan praktik, mahasiswa diharapkan dapat :
1. Memeriksa komponen sistem pengapian.
2. Merangkai sistem pengapian.
3. Menyetel dwell dan timing pengapian.
4. Mengidentifikasi gejala yang timbul akibat dwell dan timing yang tidak tepat.
IV. ALAT DAN BAHAN
1. Alat Utama :
- 1 set Toolbox
2. Alat Ukur
:
- 1 buah Multimeter
- 1 buah Feeler Gauge
- 1 buah Timing Light - 1 set Engine Tuner (Seri EA-800)
3. Alat Bantu :
- 1 set Alat Tulis
- 1 set Majun
4. Bahan
:
- 1 buah Engine Stand Kijang 5 K
V. KESELAMATAN KERJA
1. Berdoa sebelum melaksanakan kegiatan praktik.
2. Menjaga kebersihan alat, bahan, tangan, dan lingkungan praktik.
3. Hati-hati saat bekerja dengan obyek yang berhubungan dengan arus listrik dan
saat menghidupkan mesin.
4. Gunakan alat praktikum sesuai dengan fungsinya.
5. Laksanakan praktikum sesuai dengan prosedur kerja.
6. Tanyakan pada instruktur apabila mengalami permasalahan praktikum.
7. Bersihkan alat dan bahan praktik, kemudian kembalikan alat dan bahan praktik
ke tempat semula.
8. Bersihkan area praktik setelah selesai melakukan kegiatan praktik.
VI. DASAR TEORI
Sistem pengapian konvensional adalah sistem pengapian masih
menggunakan kontak pemutus (brake point/platina) untuk menghubungkan dan
memutuskan arus primer ignition coil. Sistem pengapian ini dapat
dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu, sistem pengapian konvensional baterai
dan sistem pengapian konvensional magnet.
Tujuan penggunaan sistem pengapian pada kendaraan adalah
menyediakan percikan bunga api bertegangan tinggi pada busi untuk membakar

campuran udara/bahan bakar di dalam ruang bakar engine. Adapun komponen


dari sistem pengapian ini adalah:
a. Baterai
Kegunaan : Sebagai penyedia atau sumber arus listrik
b. Kunci Kontak
Kegunaan pada sistem pengapian: Menghubungkan dan memutuskan arus listrik
dari baterai ke sirkuit primer.
c. Coil Ignition
Secara fisik konstruksi koil mirip dengan trafo, yang dirancang untuk
pengoperasian saluran rendah. Dari sudut fungsinya, koil pengapian merupakan
sumber daya nyata dari tegangan pembakaran. Ignition coil berfungsi untuk
merubah arus listrrik 12 volt yang diterima dari baterai menjadi tegangan tinggi
(10 Kv atau lebih) untuk menghasilkan loncatan bunga api
Koil terdiri dari inti besi (core) yang terbuat dari baja silicon tipis,
pada inti besi dikelilingi oleh kumparan yang digulung secara ketat.
Kumparan Sekunder terbuat dari kawat tembaga tipis dengan diameter
penampang ( 0,05 0,1 mm) dengan jumlah lilitan 15.000 sampai
30.000 kali lilitan.
Kumparan primer Kumpran primer terbuat dari kawat tembaga yang
relatif tebal ( 0,5 1,0 mm) yang dililit 150-300 kali mengelilingi
kumparan sekunder.
Antara lapisan kumparan yang satu dengan yang lain dilapisi dengan
kertas khusus yang mempunyai tahanan sekat yang tinggi. Ruangan
kosong di dalam tabung diisi dengan cairan minyak yang berfungsi
sebagai pendingin.
Cara kerja ignition coil :
- Saat kontak pemutus (breaker point) dalam keadaan tertutup.
Pada saat kontak pemutus menutup arus dari baterai mengalir ke terminal
positif kumparan primer - terminal negatif - kontak pemutus (breaker point) massa. Akibat dari proses pengaliran arus tersebut menyebabkan terbentuknya
garis-garis gaya magnet pada sekeliling kumparan
- Saat kontak pemutus (breaker point) dalam keadaan terbuka
Pemutusan arus yang tiba-tiba, tidak menyebabkan garis-garis gaya
magnet yang telah terbentuk pada inti kumparan (kern) berkurang.
Pada kumparan primer terjadi induksi diri sendiri (self induction) dan
pada kumparan sekunder terjadi induksi bersama (mutual induction), Laju
perpindahan elektron induksi diri sendiri pada kumparan primer mencapai 500
Volt, sedang induksi bersama laju perpindahan elektronnya mencapai 30.000 volt
sehingga mampu membentuk loncatan bunga api pada busi.
- Saat kontak pemutus (breaker point) dalam keadaan menutup kembali.
Saat kontak pemutus menutup kembali, arus mengalir pada kumparan
primer, menyebabkan medan magnet pada kumparan primer mulai bertambah.
Karena terjadi induksi diri pada kumparan primer, maka counter laju perpindahan
elektron mencegah penambahan aliran arus secara tiba-tiba dalam kumparan
primer sehingga laju perpindahan elektron pada induksi bersama dapat diabaikan
pada kumparan sekundernya.

d. Distributor
Bagian-bagian sistem pengapian yang melekat pada distributor terdiri dari:
1) Kontak Pemutus
Fungsi: Menguhubung dan memutuskan arus primer agar terjadi induksi
tegangan tinggi pada sirkuit sekunder sistem pengapian
Bagian-bagian :
1. Kam distributor
2. Kontak tetap
3. Kontak lepas
4. Pegas kontak pemutus
5. Lengan kontak pemutus
6. Sekrup pengikat
7. Tumit ebonit
8. Kabel ( dari koil - )
9. Alur penyetel
2) Kondensor
Kondesor merupakan komponen yang dapat menyimpan muatan listrik
dalam waktu tertentu. Pada sistem pengapian memliki kegunaan :
Mencegah loncatan bunga api diantara celah kontak pemutus pada
saat kontak mulai membuka
Mempercepat pemutusan arus primer, tegangan induksi yang timbul
pada sirkuit sekunder tinggi
Pada saat kontak pemutus terbuka induksi tidak hanya terjadi pada
kumparan sekunder, tetapi terajadi juga pada kumparan primer. Besarnya
tegangan induksi sekitar 400 Volt. Untuk mencegah percikan listrik pada
celah kontak pemutus, maka platina diparalelkan dengan kontak pemutus
untuk menyerap arus induksi.
3) Tutup Distributor
Kegunaan : Membagi dan menyalurkan arus tegangan tinggi ke setiap
busi sesuai dengan urutan pengapian Di bagian dalam distributor
terpasang rotor yang berputar bersamaan dengan poros cam lobe (nok).
Fungsi rotor adalah menyalurkan tegangan tinggi ke terminal kabel
tegangan pada tutup distributor sesuai dengan urutan pengapian (firing
order}
e. Kabel Tegangan Tinggi
Syarat utama kabel tegangan tinggi adalah harus mampu mengalirkan
arus listrik tegangan tinggi ke busi-bus melalui distributor tanpa adanya
kebocoran. Penghantar(bagian inti) dibungkus dengan isolator karet (rubber
insulator) yang tebal. Kemudian dilapisi lagi dengan pembungkus (sheath). kabel
resistive terbuat dari fiberglass yang dipadu dengan karbon dan karet sintetis
yang digunakan sebagai core untuk memberikan peregangan yang cukup agar
dapat meredam bunyi pengapian (ignition noise) pada radio.
f. Busi
Busi berfungsi menghasilkan bunga api di antara lektroda tengah dan
massa. Busi beroperasi pada temperature tinggi dimana pada saat pembakaran
mencapai 2.000 oC pada tekanan 45 Atm.

Sistem pengapian sangat penting pada motor bensin untuk menjamin


campuran udara dan bahan bakar dalam ruang bakar dapat terbakar untuk
menghasilkan tenaga. Sistem pengapian yang bekerja baik adalah salah satu
penentu efisiensi kerja dari motor bensin, maka perawatan dan pemeriksaan
teratur pada sistem pengapian sangatlah dibutuhkan.
Proses pembakaran dimulai dengan letikan bunga api pada busi yang
dihasilkan oleh sistem pengapian. Tujuan sistem pengapian sebagai pemicu
pembakaran pada motor bensin melalui letikan bunga api pada busi memiliki dua
persyaratan utama yaitu kualitas api pada busi dan waktu pengapian (timing
ignition). Dari kualitas, tegangan pada busi harus tinggi untuk dapat meloncatkan
listrik pada elektrodenya sehingga menimbulkan bunga api. Besarnya tegangan
pada busi adalah berkisar pada 10kV 30kV. Tegangan ini diperhitungkan cukup
untuk melawan resistansi tambahan akibat proses kompresi pada mesin.
Sementara itu ketepatan waktu pengapian dibutuhkan agar waktu yang
diperlukan untuk membakar campuran bahan bakar dan cukup sehingga semua
campuran dapat terbakar dengan baik. Hal yang paling penting adalah dari proses
pembakaran akan dapat menghasilkan tekanan maksimal di dalam silinder
tercapai pada titik yang ditetapkan yaitu berkisar antara 100 200 setelah TMA
bergantung pada desain dan konstruksi mesin (misal : besarnya offset mesin).
Titik terjadinya tekanan maksimum ini harus selalu dipertahankan agar tenaga
dorong pada torak yang dihasilkan oleh proses pembakaran dapat dimanfaatkan
secara maksimal menjadi tenaga.
# Menyetel Dwell dan Timing Pengapian
1. Menyalakan mesin. Memasang dwell tester. Spesifikasi sudut dwell adalah
522. Bila hasil pemeriksaan sudut dwell tidak tepat, maka sudut dwell disetel
dengan cara memparbesar celah platina bila sudut dwell terlalu besar atau
mempersempit celah platina bila nilai sudut dwell terlalu kecil.
2. Bila nilai sudut dwell sudah baik, maka berikutnya ialah menyetel ignition
timing. Memeriksa ignition timing dengan timing light yang diarahkan pada puli
poros engkol atau fly wheel pada jenis kendaraan tertentu. Apabila timing
ignition tidak tepat, maka dapat disetel dengan cara mengendorkan baut pengikat
distributor kemudian menggerakkan body distributor ke kanan atau ke kiri hingga
didapatkan ignition timing sesuai spesifikasi.
Mengidentifikasi Gejala Yang Timbul Akibat Dwell dan Timing Yang Tidak
Tepat.
- Besar sudut Dwell dan kemampuan pengapian
Kemampuan pengapian ditentukan oleh kuat arus primer. Untuk mencapai arus
primer maksimum, diperlukan waktu pemutusan kontak pemutus yang cukup.
a. Sudut dwell kecil
Waktu penutupan kontak pemutus pendek
* Arus primer tidak mencapai maksimum
* Kemampuan pengapian kurang
b. Sudut dwell besar
Kemampuan pengapian baik, tetapi waktu mengalir arus terlalu lama
* kontak pemutus menjadi panas
* konntak pemutus cepat aus.

Sedangkan apabila ignition timing yang tidak bekerja baik, misal


pengapian terlalu maju ataupun terlalu mundur maka akan terjadi knocking
engine yang mengakibatkan kerusakan pada piston ataupun timbul ledakan pada
karburator maupun knalpot. Selain itu mesin akan sulit start.
Dapat disimpulkan bahwa baik ignition timing ataupun sudut dwell yang
tidak tepat akan mengakibatkan motor bensin tidak akan bekerja dengan baik,
bahkan cenderung akan merusak komponen-komponen motor mesin itu sendiri.
VII. LANGKAH KERJA
Pembongkaran
1. Mengamati rangkaian sistem pengapian kemudian melepas distributor dari
engine.
2. Membuka tutup distributor, memutar poros distributor, dan mengamati kerja
platina.
3. Membuka tutup oktan selektor, menahan poros distributor kemudian memutar
pengatur oktan ke kiri dan ke kanan. Mengamati efek dari pergerakan breaker
plate platina.
4. Melepas vacuum advancer, platina, dan breaker plate.
5. Menahan poros distributor bagian bawah, menggerakan bobot sentrifugal
advancer dengan obeng (-), dan mengamati efeknya terhadap gerakan cam (nok).
6. Melepaskan sentrifugal advancer dan melepas poros distributor.
Pemeriksaan dan Perakitan Komponen
1. Membersihkan komponen, memeriksa kelainan, keausan secara visual dan
kekocakan.
2. Memeriksa pegas sentrifugal advancer.
3. Memasang sentrifugal advancer (memberikan pada poros), memeriksa celah
samping (std. 0,15 0,50 mm).
4. Memeriksa cam, memeriksa kelonggaran terhadap poros.
5. Memeriksa vacuum advancer, diafragma (dengan cara menghisap), kondisi
keausan pada platika dan posisi kontaknya.
6. Memasang breaker plate, vacuum advancer dan platina.
7. Memastikan tanda oktan selector telah segaris, lalu setel celah platina (0,40
0,50 mm)
8. Memeriksa tutup distributor dan memberishkan karbon, karat pada terminalterminalnya kemudian memasang rotor dan tutup distributor.
9. Memeriksa kondensor dengan multimeter.
10. Memeriksa tahanan kabel tegangan tinggi dengan multimeter.
11. Mengidentifikasi merk, jenis busi, dan menyetel celah busi.
Merangkai dan Menyetel
1. Membuat skema dan merangkai sistem pengapian.
2. Menghidupkan mesin ( 5 menit), stel dwell angle timing pengapian.
a. Memasang tune-up tester, arahkan selector ke dwell, memasang
penjepit merah pada positif baterai, hitam ke negatif, hijau ke negatif
koil, lalu melihat angka penunjukkan dwell angle (spec : 52o 2o ).
Ketika penyetelan tidak tepat, melakukan penyetelan ulang dengan
melepas tutup distributor, mengendorkan (sedikit) baut pengikat platina

lalu men-start engine sambil mengubah besarnya gap (bila dwell terlalu
besar, gap diperlebar atau sebaliknya), hingga didapat nilai dwell angle
yang sesuai.
Catatan : Jangan terlalu lama menstater. Waktu start maksimal 5 detik.
b. Menyetel putaran mesin pada putaran idle (spec : 700 50 rpm).
c. Memeriksa timing ignition dengan menggunakan timing light (spec :
8 sebelum TMA pada putaran idle). Saat belum sesuai, menempatkan
tanda timing dengan memutar rumah distributor berlawanan putaran rotor
(untuk memajukan atau sebaliknya).
3. Melakukan penyetelan dwell angle diluar spesifikasi (missal : 43o , 48o , 57o ,
dan 60o ), lalu mengindetifikasi gejala yang timbul pada posisi start, putaran idle,
menengah dan putaran tinggi.
4. Mengarahkan timing light pada tanda timing di pulley, mempercepat putaran
mesin, dan mencatat selisih penunjukkan timing.
5. Melepas vacuum advancer, mem mempercepat putaran mesin, dan mencatat
selisih penunjukkan timing.
6. Melakukan penyetelan timing diluar spesifikasi, lalu mengidentifikasi gejala
yang timbul pada posisi start, putaran idle, menengah, dan putaran tinggi.
7. Setelah selesai kegiatan praktikum, mematikan mesin, membersihkan alat dan
bahan praktik.
8. Mengembalikan alat dan bahan praktikum pada tempatnya dan membersihkan
tempat praktikum.
VIII. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
1. Rangkaian Sistem Pengapian
a. Pada Saat Kunci Kontak ON, Platina Menutup
Aliran arusnya adalah sebagai berikut:
Baterai -> Kunci kontak -> Primer koil -> Platina -> Massa.
Akibat aliran listrik pada primer koil, maka inti koil menjadi magnet.
b. Pada Saat Platina Membuka
Saat platina membuka, arus listrik melalui primer koil terputus,
terjadi induksi tegangan tinggi pada sekunder koil, sehingga arus akan
mengalir seperti dibawah ini :
Sekunder koil -> Kabel tegangan tinggi -> Tutup distributor ->
Rotor -> Kabel tegangan tinggi (kabel busi) -> Busi -> Massa.
Akibat aliran listrik tegangan tinggi dari sekunder koil, mampu meloncati
tahanan udara antara elektroda tengah dengan elektroda massa pada busi
dan menimbulkan percikan bunga api.
2. Identifikasi Kerja Distributor
No Gerakan breaker plate dan nok
.
1 Poros diputar satu putaran

Oktan selector diputar ke kanan

Breaker plate

Platina

Tidak bergerak

Bergerak
membuka
dan menutup sebanyak
4 kali
Bergerak
menjauhi

Berputar ke kiri

tonjolan cam
Oktan selector diputar ke kiri
Berputar
ke Bergerak
menjauhi
kanan
tonjolan cam
Oktan slektor ditekan
Tidak bergerak
Tidak bergerak
Bobot sentrifugal advancer digerakkan. Gerakan cam : mengikuti gerakan bobot
sentrifugal

3. Data Pemeriksaan
No Nama Bagian
1 Keausan sudut cam
2 Celah samping sentrifugal
3 Kelonggaran cam terhadap poros
4 Vacuum advancer
5 Kondisi titik kontak platina
6 Terminal tutup distributor
7 Kondensator :
Kapasitas
Kondisi
8 Kabel tegangan tinggi
Silinder 1 dan silinder 2
Silinder 3 dan silinder 4
Koil
Kondisi fisik
9 Kondisi ignitioin koil
Kumparan primer
Kumparan sekunder
Kondisi fisik
Terminal teganggan tinggi
10 Kondisi busi
Silinder 1
Silinder 2
Silinder 3
Silinder 4

Hasil
Baik
0,4 mm
Baik
Baik
Baik
Baik

Spesifikasi
Tidak aus
0,15 0,50 mm
Tidak longgar
Tidak bocor
Bersih dan tidak miring
Bersih dan tidak retak

0,24 f
Baik

0,22-0,24 f
Tidak bocor

10 K dan 10 K
9 K dan 10 K
10 K
Baik
2,5
10 K
Baik
Baik

5 10 K
Tidak lecet
13
5 10 K
Tidak retak
Tidak pecah

Gap:0,8 mm
Gap: 0,7 mm
Gap: 0,9 mm
Gap: 0,8 mm

0,7 - 1,0 mm

4. Pengaruh Penyetelan Sudut Dwell


No
.
1
2
3
4
5

Sudut
Dwell

Start

Akselerasi

Putaran
rendah

Putara
n
Sedang

Putara
n
Tinggi

IX. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data hasil praktik dan pembahasan diperoleh
kesimpulan, pada pengujian pengaruh penyetelan sudut dwell didapatkan hasil:
jika sudut dwell terlalu kecil maka artinya celah platina terlalu besar sehingga
tegangan listrik yang dihasilkan oleh induksi elektromagnetik koil kurang besar.
Jika sudut dwell terlalu besar maka artinya celak platina terlalu sempit sehingga
akan menyebabkan koil terlalu panas dan akan memperpendek umur penggunaan
koil. Pada pengujian pengaruh pemajuan waktu pengapian didapatkan hasil: jika
timing pengapian terlalu maju, akan menyebabkan detonasi dan tenaga mesin
menjadi berkurang. Jika timming pengapian terlalu mundur/ terjadi setelah TMA,
maka tekanan pembakaran menjadi kurang maksimal dan hal ini menyebabkan
performa mesin menjadi berkurang. Secara keseluruhan komponen sistem
pengapian konvensional dalam kondisi baik dan masih sesuai dengan spesifikasi
sehingga tindak lanjutnya adalah masih dapat dipergunakan kembali.
X. SARAN
Kepada mahasiswa disarankan untuk selalu memperhatikan posisi kunci
kontak pada praktik ini karena jika tidak diperhatikan maka akan terjadi
kecelakaan kerja yaitu tersetrum ketika memegang kabel tegangan tinggi coil
ketika kunci kontak masih dalam kondisi ON.

C.

BAGIAN AKHIR LAPORAN


DAFTAR PUSTAKA
Anonim,
https://qtussama.wordpress.com/materi-kelas-xi-kendaraanringan/sistem-pengapian/. Dalam artikel yang berjudul Sistem Pengapian yang
diakses pada hari Rabu, 10 Mei 2016 pukul 22.32 WIB.