Anda di halaman 1dari 9

URGENSI KEPEMIMPINAN TRANSFORMATIF

UPAYA MEWUJUDKAN KOTA TASIKMALAYA YANG BERKARAKTER


Oleh : Cepi Triana Sapari

Pada era abad XXI ini, perubahan sosial terjadi sangat cepat dan tanpa
kita sadari, kita sudah berada pada suatu era yang membongkar
segara hal yang bersifat tertutup, tersembunyi menjadi terbuka. Dalam
konteks Negara dan bangsa, maka batasan-batasan antar benua, antar
kawasan/regional menjadi bias, nyaris tidak ada batasan-batasan
territorial, semua bisa diakses secara mudah dengan menggunakan
kecanggihan system transportasi massal yang tersedia. Dalam konteks
budaya, masyarakat atau individu mengalami pergeseran budaya.
Khazanah budaya local kian tercerabut dari akarnya, sehingga
masyarakat dan individu makin kehilangan jati diri sebagai masyarakat
suatu bangsa atau komunitas masyarakat dalam suatu bangsa. Kini
masyarakat lebih senang dengan budaya yang sedang trend, tanpa
peduli apakah budaya tersebut bertentangan dengan budaya asalnya,
yang pasti masyarakat kini dituntut untuk menempatkan dirinya
menyesuaikan dengan perubahan. Dalam konteks ekonomi, kini kita
bisa menyaksikan terbukanya kran-kran pasar yang kian bebas,
menuntut

persaingan

yang

ketat,

produktivitas

tinggi

yang

menghasilkan produk dalam jumlah banyak, sehingga tatkala produk


tersebut sudah memenuhi kebutuhan dalam suatu Negara, maka
produk tersebut harus memenuhi Negara lain. Masyarakat Ekonomi
Asean (MEA), menurut penulis merupakan perwujudan dari upaya
pemenuhan kebutuhan masyarakat kawasan Negara-negara Asean,
dari melimpahnya produk-produk yang diciptakan. Dalam konteks
politik, penguatan akan demokratisasi

system Negara kian terasa.

Indonesia, sebagai sebuah Negara dengan system demokrasi semakin


giat mencari formula agar Pemilihan Umum baik pada level pusat
maupun daerah bisa memberikan efek yang baik bagi kesejahteraan
masyarakat.

Berbagai

model

penyelenggaraan

pemilu

sudah

diterapkan, dari mulai system multi partai, kontestan dari calon

independen, hingga pemilukada serentak. Semua di formulasikan


sebagai upaya memperbaiki tatanan demokrasi agar memberikan
dampak berupa kesejahteraan masyarakat.
Dalam konteks Kota Tasikmalaya, perubahan sosial terjadi begitu
cepat, sebagaimana perubahan dalam alur dan skala global. Dari mulai
penataan kota, perekonomian, perilaku masyarakat, institusi atau
lembaga-lembaga masyarakat, pendidikan, budaya dll. Perubahan
tersebut menjadi membingungkan, karena ternyata memunculkan
berbagai masalah yang cukup pelik, solusi yang diambil oleh pihak
yang berwenangpun belum tentu masalah menjadi beres, bisa jadi
malah menimbulkan masalah lain. Kondisi seperti ini jika dibiarkan
berlarut-larut tentu akan menimbulkan masalah yang makin sulit
dalam penanganannya. Misalnya dalam penataan kawasan Dadaha
yang diproseksikan sebagai lokasi Sport Center, Ruang Terbuka Hijau
dan tempat rekreasi keluarga. Sebelumnya, kawasan tersebut memang
telah mengakar dalam masyarakat Tasikmalaya sebagai kawasan
multiguna, dari mulai kawasan olah raga hingga kawasan transaksi jual
beli (Pasar Kojengkang), kondisi kawasan tersebut memang menjadi
semerawut, namun disisi lain sebagian masyarakat Tasikmalaya
menggantungkan hidupnya dengan berjualan baik barang maupun
jasa. Bagaikan buah simalakama, pemerintah menghadapi situasi
dilematis dalam mengimplementasikan kebijakannya, seakan-akan
menemui jalan buntu untuk mencari win win solusi, pemerintah
melarang pedagang yang sudah terbiasa berjualan dikawasan itu. Ini
merupakan kebijakan yang dianggap tidak populis bagi sebagian
masyarakat yang sudah mendarah daging berjualan dilokasi tersebut.
Tentu kita memahami, bahwa dengan berjualan dilokasi tersebut, para
pedangan berjuang untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Bagi
masyarakat umum, tentu kebijakan tersebut menuai pro kontra.
Bahkan lebih ekstrimnya, kondisi pro kontra tersebut mengarah pada
konflik horizontal, antara pedagang yang tidak setuju ditutupnya
kawasan

Dadaha

sebagai

tempat

berjualan

mereka,

dengan

masyarakat sekitar yang setuju jika para pedangan tersebut harus

ditertibkan. Hal tersebut adalah salah satu dari dari sekian banyak
permasalahan yang terjadi di Kota Tasikmalaya.

Urgensi Kepemimpinan Transformatif


Dari

kompleksitas

permasalahan

sosial

di

Kota

Tasikmalaya,

nampaknya tidak hanya membutuhkan kebijakan yang biasa-biasa


saja, artinya kebijakan yang hanya memberikan dampak jangka
pendek, sesaat dan cenderung tidak memberikan solusi bagi semua
pihak yang berkepentingan, akan tetapi memerlukan penanganan
dalam bentuk kebijakan yang luar biasa. Menurut Amin Ibrahim,
kepemimpinan transformatif ialah, kemampuan seorang pemimpin
untuk

memberdayakan

para

pengikutnya/anak

buah/rakyatnya,

sehingga secara bersama dapat mengubah kondisi menjadi lebih baik.


Kebijakan yang luar biasa dihasilkan dari proses kepemimpinan
transformatif, karena proses tersebut akan menciptakan sebuah
kondisi sosial Kota Tasikmalaya menuju arah yang lebih baik. Misalnya,
bagaimana kepemimpinan transformatif dalam melihat permasalahan
kawasan Dadaha yang diproyeksikan sebagai kawasan pusat olah raga,
disisi lain ada pedangang kaki lima yang sudah bertahun-tahun
menempati kawasan tersebut sebagai lahan pemenuhan ekonomi
keluarganya,

sebagaimana

contoh

permasalahan

yang

diungkap

diatas.
Kepemimpinan transformative mempunyai komitmen untuk mengubah
suatu kondisi sosial menjadi lebih baik, manusiawi, berkeadilan dan
bertujuan

untuk

menciptakan

kesejhateraan

bagi

seluruh

masyarakatnya. Contoh, kenapa tidak kebijakan penataan kawasan


dadaha yang diproyeksikan sebagai pusat olah raga dan rekreasi
keluarga terintegrasi dengan pusat jualan bagi pedagang-pedagang
yang

mencari

kebutuhan

ekonominya

dikawasan

tersebut,

toh

masyarakat yang sedang melakukan olah raga dan berwisata tentu


membutuhkan minuman, jajanan atau hasil karya industry kreatif.

Pemilihan Umum Kepala Daerah Upaya Mencari Pemimpin Ideal


Dari semanjak reformasi digulirkan, kran-kran demokrasi terbuka
secara luas, kebebasan pers menjadi salah satu upaya memenuhan
akses

informasi

masyarakat,

sehingga

membentuk

kesadaran

masyarakat akan perwujudan tatanan pemerintahan yang berorientasi


pada terwujudnya kesejahteraan masyarakat (good governance clean
goverment). Dari proses tersebut maka tercipta lah Pemilihan Umum
secara langsung, sebagai bentuk pengejawntahan terhadap nilai-nilai
demokrasi dan produk unggulan dari Reformasi yang digerakan oleh
masyarakat, atas kondisi sosial yang membuat posisi masyarakat
berada pada posisi kritis dalam segala bidang, sedangkan penguasa
mandeg dan tidak memberikan angin segar bagi perbaikan bangsa,
malah menjadi penyebab terjadinya kekacauan massal dan dianggap
bertanggungjawab atas terjadinya krisis multidimensional.
Pemilihan umum secara langsung, memang memberikan angin segar
bagi masyarakat yang haus akan pencairan sosok kepemiminan dalam
rangka perbaikan kondisi bangsa menjadi lebih baik, sekaligus
menciptakan euforia sampai pada pemilihan umum secara langsung
pada level daerah. Gegap gempitanya hajat politik pada tingkat
nasional

dan

dialokasikan

tingkat
untuk

local

hingga

melaksanakan

entah

hajat

berapa

politik

triliyun

tersebut

uang

sebagai

amanat reformasi. Namun sejauh mana dampak yang dihasilkan dari


proses reformasi tersebut. bongkar pasang model pelaksanaan system
pemilihan

umum

sudah

kerap

kali

dilakukan

oleh

pihak

yang

berwenang, namum belum menunjukan hasil yang signifikan dalam


upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Sudah hampir 17 tahun
reformasi dilaksanakan, namun belum ada harapan yang mengarah
pada pemenuhan kesejahteraan, hingga masyarakat menemukan titik
jenuh dengan semua prosesi tersebut, dari semenjak reformasi hingga
sekarang, angka partisipasi masyakarat dalam pemilihan umum kian
menurun, banyak sekali ditemukan kasus pada pemilu-pemilu secara
langsung angka Golput meningkat.
Namun, sebuah harapan tentu akan selalu ada bagi masyarakat yang
menginginkan kondisi sosial menjadi lebih baik. Dengan instrumen

PIlkada

Langsung

sebetulnya

masyarakat

bisa

menyampaikan

harapannya untuk melakukan perubahan sosial, karena momen


tersebut sebagai salah satu upaya dalam menjaring pemimpin daerah.
Akan tetapi pengalaman-pengalaman selama satu dasawarsa lebih
pelaksanaan
permasalah

pilkada langsung
yang

belum

masih menyisakan

terpecahkan.

Misalnya

permasalahanpenyalahgunaan

wewenang jabatan, oligarki politik, KKN, birokrasi dengan pelayanan


yang buruk dan lain sebagainya. Pada perilaku pemilih pun ternyata
pilkada langsung yang warnai dengan praktik politik uang, atau politik
transaksional mendorong pemilih rela menjual suaranya demi uang
yang tidak seberapa, secara tidak langsung mereka menggadaikan
harapannya untuk mengubah kondisi kearah yang lebih baik.
Dalam konteks pelaksanaan pemilihan umum kepala daerah secara
langsung, untuk mewujudkan kondisi sosial yang lebih baik, perlu
komitmen antara pemilih dan kontestan pemilu termasuk partai politik
sebagai lembaga yang berkewajiban menjaraing dan menyiapkan
pemimpin selanjutnya. Namun apakah proses politik tersebut sertamerta menghasilkan dan melahirkan pemimpin ideal yang diharapkan
masyarakat? Tentu tidak demikian. Komitmen masyarakat dan peserta
pemilu

penting

untuk

dibangun.

Yang

pertama,

masyarakat

berkomitmen untuk tidak menjadikan praktik transaksional dalam


memilih pemimpin. Kedua, masyarakat mengontrol proses rekruitmen
para

calon

kepala

daerah,

mengawal

proses

rekruitmen

dan

memastikan tidak ada praktik jual beli kendaraan politik untuk menjadi
kontestan dalam pelaksanaan pemilihan umum. Ketiga, pendidikan
politik bagi masyarakat bertujuan agar masyarakat sadar akan
pilihannnya,

memilih

bukan

atas

dasar

emosional,

tapi

lebih

mengedepankan sisi rasional dengan melihat dan mempertimbangkan


track record. Keempat, partai politik diharapkan jadi mesin pendorong
bagi terciptanya pemimpin yang berkuaitas, melaksanakan seleksi
berdasarkan ketentuan-ketentuan yang dianggap mewakili moralitas,
idealisme, komitmen untuk membawa masyarakat pada kondisi sosial
yang

lebih

baik.

Kelima,

para

calon

pemimpin

sendiri

harus

berkomitmen bahwa dirinya sebagai perwujudan dari kepemimpinan


transformasional bukan kepemimpinan transaksional.

Beberapa

contoh

Kabupaten

Kota

dengan

Kepemimpinan

Transformatif
Kabupaten Bantaeng Makasar Sulawesi Selatan dipimpin oleh seorang
Bupati pertama yang bergelar Profesor, peraih 50 award, sukses
mengubah daerah transit menjadi daerah destinasi, baik destinasi
wisata maupun investasi. Filosofi yang dipegang oleh Prof. DR. Ir. H. M
Nurdin Abdullah, M.Agr adalah filosofi pantang berbohong, disiplin,
sesuai antara kata-kata dan perbuatan. Mampu menggerakan potensi
dalam

dirinya

untuk

memimpin

Kabupaten

Bantaeng

dengan

merumuskan kebijakan yang pro, efisiensi anggaran, berorientasi pada


peningkatan kesejahteraan masyakarat sesuai indeks pembangunan
masyarakat terutama dalam bidang kesehatan mampu menekan angka
kematian ibu melahirkan, pengadaan berbagai pasilitas kesehatan
yang diikuti oleh penerapan prinsip cepat tanggap apabila ada
warganya yang

mengalami

sakit. Sebagai pakar dalam bidang

agribisnis, beliau membuat kebijakan yang mengarah pada penguatan


sektor pertanian, di kabupaten Bantaeng para petani dibantu dan
didorong untuk meningkatkan produksi pertanian, selain itu para
petani diberikan pengetahun berupa cara pemasaran yang baik agar
bisa

mendapatkan

pertaniannya.
memilih

harga

Dalam

melakukan

terbaik

ketika

menjual

hasil

penataan

ekonomi,

bupati

penguatan

ekonomi

masyarakat,

produksi

Bantaeng

labih

ketimbang

membangun mall-mall, dia berkeyakinan jika masyarakat secara


ekonomi sudah berdaya, maka akan mampu bersaing ditengah-tengah
maraknya pasar modern. Selanjutnya, penataan birokrasi yang lebih
menojolkan sisi fungsi ketimbang struktur, melakukan penguatan
kualitas birokrasi agar bisa memberikan pelayanan publik secara
efektif, efisien dan produktiv. Beliau tidak mau melihat para kepala
dinasnya menggunakan barang-barang mewah, yang justru malah
akan menimbulkan kesan tidak merakyat dihadapan masyarakatnya,
sehingga menimbulkan jarak antara pejabat dan masyarakat.

Kota Bandung Jawa Barat, tentu banyak yang mengetahui kota yang
ikonik ini. Kota Bandung dipimpin oleh M. Ridwan Kamil atau kang Emil
sapaan akrabnya. Bapak walikota yang satu ini telah membuktikan
prestasinya dalam penataan kota bandung, melakukan revitaslisasi
gorong-gorong,

perbaikan

dan

pembangunan

jalan-jalan

kota,

membuat taman-taman dan ruang publik hingga menyulap masjid


agung bandung menjadi masjid dengan pekarangan yang indah,
hingga semua orang berbondong-bondong berkunjung. Selain itu kang
emil berhasil menurunkan angka korupsi di Pemerintah Kota Bandung,
hal tersebut di akui oleh KPK dan penilaian dari Ombudsman dalam hal
penataan birokrasi dan kualitas pelayanan publik menjadi lebih baik,
walaupun

ada

beberapa

oknum

yang

masih

melakukan

penyalahgunaan dalam melaksanakan kerja pemerintahannya. Dengan


menerapkan prinsip duit sajuta doa, usaha, ikhtiar, tawakal disertai
sabar, jujur dan takwa kang emil mampu membawa perubahan kota
Bandung menjadi lebih berkarakter.

Gagasasan pembangunan Kota Tasikmalaya yang berkarakter


Kota Tasikmalaya merupakan Daerah Otonom Baru (DOB) hasil
pemekaran

dari

Kabupaten

Tasikmalaya.

Secara

kultur,

kota

Tasikmalaya dikenal sebagai kota santri, kota dengan banyaknya


lembaga-lembaga keagamaan baik pesantran, madrasah, majlis taklim,
pengajian dan lain sebagainya. Hal tersebut dianggap sebagai bagian
dari kearifan lokal yang dimiliki oleh Kota Tasikmalaya, dan gaung
Tasikmalaya sebagai kota santri sejak dari dulu sudah terkenal ke
pelosok nusantara. Namun, seiring derasnya arus perubahan sosial dan
perubahan serta pergeseran budaya, kini gaung kota santri semakin
bias, kota santri tidak lagi menampilkan karakteristiknya, malah
kontras dengan keadaan sekarang, kota santri lebih sering terdengar
dengan kasus miras, narkoba serta perilaku menyimpang yang lainnya.
Arah kebijakan pembangunan kota Tasikmalaya pun kian tidak
menunjukan sebagai kota yang mempunyai keunggulan tersendiri. Dari
pulai penataan kawasan perkotaan hingga penataan PKL sekalipun,

malah semakin memperkeruh permasalahan. Kota Tasikmalaya sebagai


kota perdagangan pun arahnya menjadi tidak jelas, pengejawantahan
kota perdagangan diwujudkan dengan pembangunan mall-mall dan
minimarket yang nyaris keberadaannya tidak terkendali, bahkan
beberapa kasus mendapat perlawanan dari masyarakat, karena
keberadaan mini market tersebut dianggap berpotensi melemahkan
pedagang-pedangan kecil hingga mereka kehilangan omset dan
berpengaruh pada pendapatan ekonomi keluarga. Penataan birokrasi
yang belum mencapai tarap kuallitas pelayanan masyarakat yang baik,
budaya birokrasi yang inefektif dan inefisiensi masih saja ditemukan
perilakunya dalam praktik pelayanan kepada masyakarat.
Dari

beberapa

permasalahan

yang

diungkap

diatas,

tentu

membutuhkan penanganan kebijakan yang serius, berorientasi pada


perbaikan kondisi sosial, yang diharapkan dapat memberikan dampak
berupa kesejahteraan bagi masyarakat dan pembangunan kota yang
berkarakter. Namun kebijakan saja tidak cukup jika yang melaksanakan
kebijakan tersebut tidak memiliki komitmen kuat untuk mewujudkan
visi kota Tasikmalaya.
Visi tersebut hanya bisa diwujudkan dan dilaksanakan oleh pemimpin
dengan kualifikasi-kualifikasi sebagaimana yang terkandung dalam
makna

kepemimpinan

transformatif.

Kepemimpinan

transformatif

memiliki komitmen kuat yang ditunjang dengan kapasitas, kapabilitas,


moralitas serta daya kreativitas, mempunyai political will yang mampu
mendorong

akan

lahirnya

kebijakan-kebijakan

yang

baik

bagi

perubahan tatanan sosial yang lebih baik. Kepemimpinan transformatif


akan memberikan semangat dan dorongan bagi pengikutnya (birokrasi)
untuk berusaha dan bekerjasama mencapai tujuan pembangunan kota
Tasikmalaya. Kebijakan yang dirumuskan akan memperkuat segala
aspek kehidupan masyarakat, mulai dari kebijakan ekonomi yang akan
mendorong masyarakat untuk mencapai tarap hidup yang lebih baik,
kebijakan pendidikan, pertanian, budaya, keamanan, penataan kota
dan berbagai dimensi kehidupan sosial masyarakat lainnya. Kota
Tasikmalaya dibawah kepemimpinan transformatif, diharapkan menjadi
kota yang berwawasan dan kota yang berkarakter. Mampu membawa

masyarakatnya menuju pada tatanan kehidupan sosial yang lebih baik.


Mempertegas kembali seluruh potensi yang dimiliki, dari mulai potensi
sumber daya manusia sampai sumberdaya alamnya. Semoga
Penulis adalah :
Mahasiswa pasca sarjana FISIP UNPAD jurusan Administrasi Publik