Anda di halaman 1dari 31

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
1.2 PENGERTIAN EKSPLORASI & EKSPLOITASI
BAB II
EKSPLORASI
1.2 MAKSUD DAN TUJUAN EKSPLORASI
1.3 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGGUNAAN CARA EKSPLORASI
1.3.1 TAHAPAN EKSPLORASI
1.3.2 JENIS BAHAN GALIAN
1.3.3 PENGELOMPOKAN ENDAPAN BAHAN GALIAN
1.3.4 SEBARAN BAHAN BERHARGA
1.4 METODE EKSPLORASI
1.4.1 METODE LANGSUNG
1.4.2 METODE TIDAK LANGSUNG
1.5 KEGIATAN EKSPLORASI
1.6 PENYUSUNAN LAPORAN
BAB II
EKSPLOITASI
2.1 PENGERTIAN EKSPLOITASI
2.2 FAKTOR PENDORONG EKSPLOITASI
2.3 PERTAMBANGAN & KARAKTERISTIK DESA PERTAMBANGAN
2.4 KETERKAITAN EKSPLOITASI DENGAN PENYIMPANGAN SOSIAL
2.5 ISTILAH TAMBANG DALAM EKSPLOITASI
BAB III
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Makalah ini mempunyai latar belakang masalah tentang EKSPLORASI dan
EKSPLOITASI sumber daya mineral dan strategi pengolahan sumber daya mineral.
EKSPLORASI dan EKSPLOITASI adalah kata yang sudah tidak asing ditelinga kita,
kedua istilah tersebuat sebenarnya memiliki istilah yang sangat erat sekali jika dikaitkan
dengan sebuah kepentingan atau tujuan kegiatan. Eksplorasi pengertian suatu bentuk kegiatan
penggalian informasi atau kumpulan data - data yang dilakukan dengan tujuan untuk
mengumpulkan beberapa data maupun informasi - informasi yang nantinya akan diteliti atau
di informasikan kepada pihak - pihak lain yang membutuhkanya.
1.2 PENGERTIAN EKSPLORASI & EKSPLOITASI
EKSPLORASI adalah penyelidikan lapangan untuk mengumpulkan data / informasi
selengkap mungkin tentang keberadaan sumber daya alam di suatu tempat. Kegiatan
eksplorasi sangat penting dilakukan sebelum pengusahaan bahan tambang dilaksanakan
mengingat keberadaan bahan galian yang penyebarannya tidak merata dan sifatnya sementara
yang suatu saat akan habis tergali. Sehingga untuk menentukan lokasi sebaran, kualitas dan
jumlah cadangan serta cara pengambilannya diperlukan penyelidikan yang teliti agar tidak
membuang tenaga dan modal, disamping untuk mengurangi resiko kegagalan, kerugian
materi, kecelakaan kerja dan kerusakan lingkungan.
Sedangkan pengertian dari EKPLOITASI sendiri adalah upaya atau bentuk kegiatan
yang sifatnya cenderung pada penggalian potensi - potensi yang terdapat pada suatu obyek
sebagai tingkat lanjut dari kegiatan eksplorasi.
Kedua bentuk kegiatan ini memiliki kaitan yang sangat erat sekali jika kita
memandangnya dari segi kepentingan tertentu atau yang biasa kita kenal dengan ungkapan
mencari uang. Tetapi tanpa kita sadari sudah banyak dari kita juga melakukan kedua hal
tersebut demi kepentingan pribadi, yang memiliki dampak negatif bagi kehidupan kita atau
bagi orang lain.

BAB II
EKSPLORASI

MENURUT KBBI (KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA)


Eksplorasi adalah Penjelajahan lapangan dengan tujuan memperoleh pengetahuan lebih
banyak tentang keadaan, terutama sumber-sumber alam yang terdapat di tempat itu;
penyelidikan; penjajakan.
MENURUT SITUS WIKIPEDIA BERBAHASA INODENISIA (ID.WIKIPEDIA.ORG)
Eksplorasi adalah tindakan atau mencari atau melakukan perjalanan dengan tujuan
menemukan sesuatu; misalnya daerah yang tak dikenal, termasuk antariksa (penjelajahan
angkasa), minyak bumi (explorasi minyak bumi), gas alam, batu bara, mineral, gua, air,
ataupun informasi.
MENURUT STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI)
Eksplorasi adalah

kegiatan

penyelidikan

geologi

yang

dilakukan

untuk

mengidentifikasi,menetukan lokasi, ukuran, bentuk, letak, sebaran, kuantitas dan kualitas


suatu endapan bahan galian untuk kemudian dapat dilakukan analisis/kajian kemungkinan
dilakukanya penambangan.
Dari

ke-tiga

pengertian

tentang

eksplorasi

diatas,

dapat

disimpulkan

bahwa Eksplorasi adalah suatu kegiatan lanjutan dari prospeksi yang meliputi pekerjaanpekerjaan untuk mengetahui ukuran,bentuk, posisi, kadar rata-rata dan besarnya cadangan
serta studi kalayakan dari endapan bahan galian atau mineral berharga yang telah
diketemukan.
Sedangkan Studi Kelayakan adalah pengkajian mengenai aspek teknik dan prospek
ekonomis dari suatu proyek penambangan dan merupakan dasar keputusan investasi. Kajian
ini merupakan dokumen yang memenuhi syarat dan dapat diterima untuk keperluan analisa
bank/lembaga keungan lainnya dalam kaitannya dengan pelaksanaan investasi atau
pembiayaan proyek. Studi ini meliputi Pemeriksaanseluruh informasi geologi berdasarkan
lkaporan eksplorasi dan factor-faktor ekonomi, penambangan, pengolahan, pemasaran
hokum/perundang-undangan, lingkungan, social serta factor yang terkait.

1.1 PENGERTIAN EKSPLORASI


Eksplorasi adalah penyelidikan lapangan untuk mengumpulkan data/informasi
selengkap mungkin tentang keberadaan sumberdaya alam di suatu tempat.
Kegiatan eksplorasi sangat penting dilakukan sebelum pengusahaan bahan tambang
dilaksanakan mengingat keberadaan bahan galian yang penyebarannya tidak merata dan
sifatnya sementara yang suatu saat akan habis tergali. Sehingga untuk menentukan lokasi
sebaran, kualitas dan jumlah cadangan serta cara pengambilannya diperlukan penyelidikan
yang teliti agar tidak membuang tenaga dan modal, disamping untuk mengurangi resiko
kegagalan, kerugian materi, kecelakaan kerja dan kerusakan lingkungan.
Eksplorasi, disebut juga penjelajahan atau pencarian, adalah tindakan mencari atau
melakukan penjelajahan dengan tujuan menemukan sesuatu; misalnya daerah tak dikenal,
termasuk antariksa (penjelajahan angkasa), minyak bumi (eksplorasi minyak bumi), gas alam,
batubara, mineral, gua, air, ataupun informasi.
Suatu kegiatan eksplorasi harus direncanakan sebaik - baiknya dengan memperhitungkan
untung - ruginya, efisiensi, ekonomis serta kelestarian lingkungan daerah eksplorasi tersebut.
Perencanaan eksplorasi meliputi beberapa hal sebagai berikut :

Pemilihan daerah eksplorasi.

Studi pendahuluan.

Perencanaan eksplorasi dan pembiayaannya.

Hasil serta tujuan yang didapatkan dari seluruh operasi.

Pengertian eksplorasi di "Abad Informasi dan Spiritual" saat ini, juga meliputi tindakan
pencarian akan pengetahuan yang tidak umum atau pencarian akan pengertian metafisikaspiritual; misalnya tentang kesadaran (consciousness), cyberspace atau noosphere. Istilah ini
dapat digunakan pula untuk mengambarkan masuknya budaya suatu masyarakat untuk
pertama kalinya ke dalam lingkungan geografis atau budaya dari masyarakat lainnya.
Meskipun eksplorasi telah terjadi sejak awal keberadaan manusia, kegiatan eksplorasi
dianggap mencapai puncaknya pada saat terjadinya Abad Penjelajahan, yaitu ketika para

pelaut Eropa menjelajah ke seluruh penjuru dunia untuk menemukan berbagai daerah dan
budaya baru.

Kegiatan eksplorasi terdiri atas berbagai penyelidikan yang mendukungnya. Penyelidikan


tersebut adalah :
a) PENYELIDIKAN GEOLOGI
b) PENYELIDIKAN GEOKIMIA
Penyelidikan ini dilaksanakan untuk mengetahui perkiraan kadar logam, senyawa
kimia dan unsur-unsur penyerta dimana logam tersebut berada.
c) PENYELIDIKAN GEOFISIKA
Penyelidikan ini terdiri atas 4 metode yaitu :
Metode Geolistrik
Metode Seismik
Metode Magnet
Metode Gaya berat/Gravitasi
d) PEMBIRAN EKSPLORASI
Dilaksanakan untuk mengetahui kedalaman mineral, kualitas dan kalkulasi cadangan
kasar/minimum untuk dapat ditambang secara ekonomis.
1.2 MAKSUD DAN TUJUAN EKSPLORASI
Tujuan dilakukannya eksplorasi adalah untuk mengetahui sumber daya cebakan mineral
secara rinci, yaitu untuk mengetahui, menemukan, mengidentifikasi dan menentukan
gambaran geologi dalam pemineralaran berdasarkan ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas dan
kualitas suatu endapan mineral untuk kemudian dapat dilakukan pengembangan secara
ekonomis.
Kegiatan untuk mengetahui keberadaan endapan bahan galian dengan menggunakan
metode tertentu.
Mengetahui jenis bahan galian dan sebaran di permukaan.
Mengetahui sebaran bahan galian kearah dalam dan bentuknya.

Mengetahui besaran dannilai ekonominya (sumber daya mineral dan cadangan)

1.3 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGGUNAAN CARA EKSPLORASI


Penggunaan atau pemilihan cara eksplorasi tergantung pada :
Tahap eksplorasi.
Jenis bahan galian.
Bentuk endapan dan sebaran bahan berharganya
1.3.1 TAHAPAN EKSPLORASI
Tahapan dalam pekerjaan eksplorasi :
1. PENYELIDIKAN UMUM
a) STUDY PUSTAKA
Keadaan geologi regional
Keadaan tektonik
Keadaan paleogeography setting
Batasan luas daerah kerja
b) PENGECEKAN DILAPANGAN
Mencari singkapan batuan dan batubara
Mengambil contoh batuan dan batubara
2. PENYELIDIKAN PENDAHULUAN
a) MEMETAKAN DAERAH KEGIATAN
Pemetaan Topografi
Pemetaan Foto Udara
b) INTERPRETASI KEADAAN GEOLOGI
Stratigrafi Kedudukan Batubara
Struktur Geologi
c) PEMBORAN

Korelasi
Hasil Perhitungan Cadangan
Bentuk Geometri Cadangan
Perkiraan Kualitas
3. PENYELIDIKAN DETAIL
a) PEMBORAN
Bentuk geometri endapan batubara lebih teliti dan perhitungan cadangan
Anomaly geologi (sesar)
Kualitas batubara (Analisa laboratorium dan sifat batubara)
b) GEOFISIKA
Stratigrafi kedudukan batubara lebih teliti
Struktur geologi
Bentuk endapan batubara
c) PENENTUAN METODE PENAMBANGAN
4. COMMERCIAL EXPLORATION PROGRAMME
1.3.2 JENIS BAHAN GALIAN
Bahan galian logam: bahan galian yang dalam proses penambangan dan pengolahan
diambil

logamnya.

Bentuk

tubuh

bijih

dan

sebaran

bahan

berharga

di

dalamnyabermacam-macam, mulai dari sederhana sampai sangat bervariasi.


Bahan galian industri: bahan galian yang dalam proses penambangan dan pengolahan
dalam bentuk mineral atau batuan. Bentuk tubuh bahan galian biasanya teratur.
Bahan galian energi: bahan galian yang digunakan sebagai sumber energi. Bentuk tubuh
bahan galiannya biasanya teratur.
Bentuk dan sebaran bahan galian.
1.3.3 PENGELOMPOKAN ENDAPAN BAHAN GALIAN
Endapan bahan galian dapat dikelompokkan berdasarkan keadaan geologinya seperti bentuk
endapan dan sebaran bahan berharga di dalamnya. Kreiter (1961) mengelompokkan menjadi

5yaitu kelompok a, b, c, d, dan e (Lampiran 2). Pengelompokan ini berkaitan dengan


koefisien variasi bentuk.
Isometrik : ukuran panjang, lebar, dan ketebalannya relatif sama atau berbentuk seperti
bola.
Lapisan : ukuran panjang dan lebarnya relatif sama, ketebalan relatif kecil.
Tabung : ukuran lebar dan ketebalannya relatif sama dan lebih pendek dari ukuran
panjangnya.

1.3.4 SEBARAN BAHAN BERHARGA


Merata : pejal (massif), terserak merata. Koefisien variasi kecil.
Tidak merata: terserak tidak merata. Koefisien variasi sebaran besar.
Sangat tidak merata. Koefisien variasi sangat besar.
Koefisien variasi dapat dihitung dengan rumus pada (Lampiran 3), sedangkan
pengelompokan endapan bahan galian berdasarkan variasi kadar, ketebalan, dan cadangan
linier tertera pada (Lampiran 4).
1.4 METODE EKSPLORASI
Metoda dalam eksplorasi dapat digolongkan dalam dua kelompok besar, yaitu :
1) Metoda langsung, terdiri dari :
a) Metoda langsung di permukaan
b) Metoda langsung di bawah permukaan
2) Metoda tidak langsung, terdiri dari :
a) Metoda tidak langsung cara geokimia yang mencakup antara lain mengenai bed rock,
soil, air, vegetasi dan stream deposit.
b) Metoda tidak langsung cara geofisika yang mencakup beberapa cara yaitu cara

magnetik (sudah jarang digunakan), gravitasi (sudah jarang digunakan), cara seismik
yang terdiri dari cara reflaksi dan refleksi, cara listrik (resistifity), dua cara yang
terakhir yaitu cara radiokatif yang masih jarang digunakan, hal ini disebabkan karena
cara ini relatif lebih mahal dan lebih rumit dari cara - cara sebelumnya.

1.4.1 METODE LANGSUNG


A). METODE LANGSUNG PERMUKAAN
Metoda ini dapat dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu :
a) Penyelidikan Singkapan (Out Crop)
Singkapan segar umumnya dijumpai pada :
1) Lembah-lembah sungai, hal ini dapat terjadi karena pada lembah sungai terjadi
pengikisan oleh air sungai sehingga lapisan yang menutupi tubuh batuan tertransportasi
yang menyebabkan tubuh batuan nampak sebagai singkapan segar
2) Bentuk-bentuk menonjol pada permukaan bumi, hal ini terjadi secara alami yang
umumnya disebabkan oleh pengaruh gaya yang berasal dari dalam bumi yang disebut
gaya endogen misalnya adanya letusan gunung berapi yang memuntahkan material ke
permukaan bumi dan dapat juga dilihat dari adanya gempa bumi akibat adanya gesekan
antara kerak bumi yang dapat mengakibatkan terjadinya patahan atau timbulnya
singkapan ke permukaan bumi yang dapat dijadikan petunjuk letak tubuh batuan.
b) Tracing Float (Penjejakan)
Float adalah fragmen-fragmen atau potongan-potongan biji yang berasal dari
penghancuran singkapan yang umumnya disebabkan oleh erosi, kemudian tertransportasi
yang biasanya dilakukan oleh air, dan dalam melakukan tracing kita harus berjalan
berlawanan arah dengan arah aliran sungai sampai float dari bijih yang kita cari tidak
ditemukan lagi, kemudian kita mulai melakukan pengecekan pada daerah antara float yang
terakhir dengan float yang sebelumnya dengan cara membuat parit yang arahnya tegak
lurus dengan arah aliran sungai, tetapi jika pada pembuatan parit ini dirasa kurang dapat
memberikan data yang diinginkan maka kita dapat membuat sumur uji sepanjang parit
untuk mendata tubuh batuan yang terletak jauh dibawah over burden.
c) Tracing dengan Panning (Mendulang)
Caranya sama seperti tracing float, tetapi bedanya terdapat pada ukuran butiran mineral
yang dicara biasanya cara ini digunakan untuk mencari jejak mineral yang ukurannya
halus dan memiliki masa jenis yang relatif besar. Persamaan dari cara tracing yaitu pada
kegiatan lanjutan yaitu trencing atau test pitting.

Cara-cara tracing, baik tracing float maupun tracing dengan panning akan dilanjutkan
dengan cara trenching atau test pitting.
1) Trenching (Pembuatan Parit)
Pembuatan parit memiliki keterbatasan yaitu hanya bisa dilakukan pada overburden
yang tipis, karena pada pembuatan parit kedalaman yang efektif dan ekonomis yang
dapat dibuat hanya sedalam 2 - 2,5 meter, selebih dari itu pembuatan parit dinilai tidak
efektif dan ekonomis. Pembuatan parit ini dilakukan dengan arah tegak lurus ore body
dan jika pembuatan parit ini dilakukan di tepi sungai maka pembuatan parit harus tegak
lurus dengan arah arus sungai.
Paritan dibangun dengan tujuan untuk mengetahui tebal lapisan permukaan, kemiringan
perlapisan, struktur tanah dan lain-lain.
2) Test Pitting (Pembuatan Sumur Uji)
Jika dengan trenching tidak dapat memberikan data yang akurat maka sebaiknya
dilakukan test pitting untuk menyelidiki tubuh batuan yang letaknya relatif dalam. Kita
harus ingat bahwa pada test pitting kita harus memilih daerah yang terbebas dari
bongkahan-bongkahan maka hal ini akan menyulitkan kita pada waktu pembuatan
sumur uji dan juga daerah yang hendak kita buat sumur uji harus bebas dari air, karena
dengan adanya air dapat menyulitkan kita pada waktu melakukan penyelidikan struktur
batuan yang terdapat pada sumur uji yang kita buat. Pada pembuatan sumur uji ini kita
juga harus mempertimbangkan faktor keamanan, kita harus dapat membuat sumur
dengan penyangga sesedikit mungkin tetapi tidak mudah runtuh. Hal ini juga akan
mempengaruhi kenyamanan pada waktu melakukan penelitian. Kedalaman sumur uji
yang kita buat bisa mencapai kedalaman sampai 30 meter.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dari penggalian sumur adalah gejala longsoran,
keluarnya gas beracun, bahaya akan banjir dan lain-lain.
B). METODE LANGSUNG BAWAH PERMUKAAN
Eksplorasi langsung bawah permukaan dilakukan bila tidak ada singkapan di permukaan atau
pada eksplorasi permukaan tidak dapat memberikan informasi yang baik, karena pada
eksplorasi langsung permukaan, kedalaman maksimum yang dapat dicapai + 30 meter.
Eksplorasi langsung bawah permukaan juga dapat dilakukan apabila keadaan permukaan
memungkinkan untuk diadakan eksplorasi bawah permukaan, sebab apabila permukaan tidak

memungkinkan, misalnya permukaan itu tergenang air atau tertutup bongkah batu yang tidak
stabil, maka hal ini akan memberikan resiko yang besar jika dilakukan eksplorasi permukaan.
Dalam eksplorasi bawah permukaan ada hal-hal yang harus diperhatikan misalnya, pekerjaan
harus berlangsung tetap didalam badan bijih, hal ini untuk memudahkan diadakan
pengamatan dan proses sampling pekerjaan juga diusahakan dimulai dari daerah-daerah yang
memiliki singkapan yang baik, karena dengan singkapan yang baik dapat memudahkan kita
untuk menentukan strike atau dipnya, yang tidak kalah pentingnya yang harus diperhatikan
adalah masalah biaya, dimana dalam pekerjaan eksplorasi ini biaya tidak boleh terlalu besar,
hal ini bertujuan untuk menghindari adanya dana yang terbuang percuma jika nantinya
eksplorasi yang dilakukan hasilnya mengecewakan.
Eksplorasi bawah permukaan dapat dilakukan dengan membuat Tunel, Shaft, Drift,
Winse dan lain-lain.
Tunnel = Suatu lubang bukaan mendatar atau hampir mendatar yang menembus kedua kaki
bukit.
Shaft

= Suatu lubang bukaan yang menghubungkan tambang bawah tanah dengan


permukaan bumi dan berfungsi sebagai jalan pengangkutan karyawan serta alatalat kebutuhan tambang, ventilasi dan penirisan.

Drift

= Suatu bukaan mendatar yang dibuat dekat atau pada endapan bijih yang arahnya
sejajar dengan jurus atau dimensi terpanjang dari endapan bijihnya (dalam
pengeboran).

Winze = Lubang bukaan vertikal atau arah miring yang dari level ke arah level yang
dibawahnya.
Eksplorasi bawah tanah juga dapat dilakukan dengan pengeboran inti. Pengeboran
sumur minyak yang pertama dilakukan oleh Kol. Drake pada tahun 1959 dengan
menggunakan bor (RIG) permanen (tidak dapat dipindah-pindah) dan pada pengeborannya
menggunakan sistem perkusif (tumbuk), pada pengeboran ini kedalaman maximum yang
dapat dicapai adalah 60 ft (+ 20 m) dengan bor lurus (vertical drilling).
Saat ini pengeboran dilakukan dengan teknik bor putar (rotary drilling) dengan
menara bor yang dapat dipindah-pindah (portablering) dan dilakukan dengan beberapa cara
pengeboran yaitu dengan cara perkusif, rotasi atau dengan perkusif-rotasi. Pemboran dapat
dilakukan di darat maupun di laut (on shore atau off shore). Pemboran tidak terbatas pada
pemboran decara vertikal saja tetapi dapat dilakukan secara miring (kemiringan dapat

mencapai 90o), apabila saat pengeboran kita menemukan batuan yang keras dan susah
ditembus oleh mata bor, maka dengan teknologi sekarang, pipa yang berada jauh di dalam
tanah dapat dirubah arahnya (dibelokkan) untuk menghidari batuan yang keras tersebut.
Pengeboran yang dilakukan pada eksplorasi bertujuan untuk mengambil contoh
(sampling) untuk diamati, pengeboran juga bisa bertujuan untuk produksi atau konstruksi
(misalnya air tanah, minyak bumi) dan pemboran dapat juga untuk memudahkan proses
peledakan (pada kegiatan penambangan material keras). Dari data pengeboran dan sampling
kita dapat membuat peta stratigrafi daerah pengeboran. Dari peta ini kita dapat mengetahui
susunan batuan dan ketebalan cadangan dan akhirnya kita dapat memperkirakan besar
cadangan secara keseluruhan.
1.4.2 METODE TIDAK LANGSUNG
A). METODE TIDAK LANGSUNG CARA GEOFISIKA
Geofisika merupakan disiplin ilmu atau metoda untuk memperkirakan lokasi
akumulasi bahan/tambang dengan cara pengukuran besaran-besaran fisik batuan bawah
permukaan bumi. Metoda yang dapat dilakukan eksplorasi geofisika diantaranya :
a) METODA GRAVITASI
Metoda ini berdasarkan hukum gaya tarik antara dua benda di alam. Bumi sebagai
salah satu benda di alam juga menarik benda-benda lain di sekitarnya. Kalau sebuah
bandul digantung dengan sebuah pegas, maka pegas tersebut akan merengganng akibat
bandulnya mengalami gravitasi, di tempat yang gravitasinya rendah maka regangan tadi
kecil dan di tempat yang gravitasinya besar maka regangan tadi juga lebih besar. Dengan
demikian dapat diperkirakan bentuk struktur bawah tanah dari melihat besarnya nilai
gravitasi dari bermacam-macam lokasi dari suatu daerah penyelidikan.
Di lapangan besarnya gravitasi ini diukur dengan alat yang disebut gravimeter, yaitu
suatu alat yang sangat sensitif dan presisi. Gravimeter bekerja atas dasar torsion balance,
maupun bantuk atau pendulum, dan dapat mengukur perbedaan yang kecil dalam gravitasi
bumi di berbagai lokasi pada suatu daerah penyelidikan. Gaya gravitasi bumi dipengaruhi
oleh besarnya ukuran batuan, distribusi atau penyebaran batuan, dan kerapatan (density)
dari batuan. Jadi kalau ada anomali gravitasi pada suatu tempat, mungkin di situ terdapat
struktur tertentu, seperti lipatan, tubuh intrusi dangkal, dan sebagainya. Juga jalur suatu

patahan besar, meskipun tertutup oleh endapan aluvial, sering dapat diketahui karena
adanya anomali gravitasi.
b) METODA MAGNETIK
Bumi adalah suatu planet yang bersifat magnetik, dimana seolah-olah ada suatu
barang magnet raksasa yang membujur sejajar dengan poros bumi. Teori modern saat ini
mengatakan bahwa medan magnet tadi disebabkan oleh arus listrik yang mengalir pada
inti bumi. Setiap batang magnet yang digantung secara bebas di muka bumi. Di setiap titik
permukaan bumi medan magnet ini memiliki dua sifat utama yang penting di dalam
eksplorasi, yaitu arah dan intensitas.
Arah dari medan magnet dinyatakan dalam cara-cara yang sudah lazim, sedang
intensitas dinyatakan dalam apa yang disebut gamma. Medan magnet bumi secara normal
memiliki intensitas 35.000 sampai 70.000 gamma jika diukur pada permukaan bumi. Bijih
yang mengandung mineral magnetik akan menimbulkan efek langsung pada peralatan,
sehingga dengan segera dapat diketahui.
Metoda eksplorasi dengan magneti sangat berguna dalam pencarian sasaran eksplorasi
sebagai berikut :

Mencari endapan placer magnetik pada endapan sungai

Mencari deposit bijih besi magnetik di bawah permukaan

Mencari bijih sulfida yang kebetulan mengandung mineral magnetit sebagai


mineral ikutan

Intrusi batuan basa dapat diketahui kalau kebetulan mengandung magnetit dalam
jumlah cukup

Untuk dapat mengetahui ketebalan lapisan penutup pada suatu batuan beku yang
mengandung mineral magnetik.

c) METODA SEISMIK
Metoda ini jarang dipergunakan dalam penyelidikan pertambangan bijih tetapi
banyak dipergunakan dalam penyelidikan minyak bumi. Suatu gempa atau getaran buatan
dibuat dengan cara meledakan dinamit pada kedalaman sekitar 3 meter dari permukaan
bumi dan kecepatan merambatnya getaran yang terjadi diukur. Untuk mengetahui

kecepatan rambatan getaran tersebut pada perlapisan-perlapisan batuan, disekitar titik


ledakan dipasang alat penerima getaran yang disebut geofon (seismometer). Geofongeofon yang dipasang secara teratur di sekitar lobang ledakan tadi akan terbias atau
refraksi. Dengan mengetahui waktu ledakan dan waktu kedatangan gelombang-gelombang
tadi, maka dapat diketahui kecepatan rambatan waktu getaran melalui perlapisanperlapisan batuan. Dengan demikian konfigurasi struktur bahwa permukaan dapat
diketahui. Gelombang akan merambat dengan kecepatan yang berbeda pada batuan yang
berbeda-beda. Geophone merupakan alat penerima gelombang yang dipantulkan
kepermukaan, hidrophone untuk gelombang di dasar laut.

Cepat rambat gelombang seismik pada batuan tergantung pada :

Jenis batuan

Derajat pelapukan

Derajat pergerakan

Tekanan

Porositas (kadar air)

Umur (diagenesa, konsolidasi, dll)

d) METODE GEOLISTRIK
Dalam metoda ini yang diukur adalah tahanan jenis (resistivity) dari batuan. Yang
dimaksud dengan tahanan jenis batuan adalah tahanan yang diberikan oleh masa batuan
sepanjang satu meter dengan luas penampang satu meter persegi kalau dialiri listrik dari
ujung ke ujung, satuannya adalah Ohm-m2/m atau disingkat Ohm-meter.
Dalam cara pengukuran tahanan jenis batuan di dalam bumi biasanya dipakai sistem
empat elektrode yang dikontakan dengan baik pada bumi. dua elektrode dipakai untuk
memasukan arus listrik ke dalam bumi, disebut elektrode arus (current electrode) disingkat
C, dan dua elektrode lainnya dipakai untuk mengukur voltage yang timbul karena arus

tadi, elektrode ini disebut elektrode potensial atau potential electode disingkat P. ada
beberapa cara dalam penyusun ke empat elektode tersebut, dua diantaranya banyak yang
dipakai adalah cara Wenner dan cara Shlumberger.

B). METODE TIDAK LANGSUNG CARA GEOKIMIA


Pengukuran sistimatika terhadap satu atau lebih unsur jejak (trace elements) pada
batuan, tanah, stream, air atau gas.
Tujuannya untuk mencari anomali geokimia berupa konsentrasi unsur-unsur yang
kontras terhadap lingkungannya atau background geokimia. Anomali dihasilkan dari
mobilitas dan dispresi unsur-unsur yang terkonsentrasi pada zona mineralisasi. Anomali
merupakan perbedaan-perbedaan yang mencolok antara satu titik atau batuan dengan titik
lainnya.
Pada dasarnya eksplorasi jenis ini lebih cenderung untuk menentukan perbedaan
mendasar (anomali) unsur-unsur yang terdapat pada tanah atau sampel yang kita cari. Proses
untuk membedakan unsur ini dilakukan dengan beberapa reaksi kimia.
Setelah mengetahui metodanya kita memasuki pemilihan alat dan pemilihan anggota serta
apa-apa yang mesti dipersiapkan, misalkan sbb :
a) Pemilihan Anggota Tim atau Tenaga Ahli
Geologist.
Geophysist.
Exploration Geologist.
Geochemist.
Operator Alat, dll.
b) Rencana Biaya
c) Pemilahan waktu yang tepat
d) Penyiapan Peralatan atau Perbekalan
Peta Dasar.

Alat Surveying, Alat Ukur atau GPS.


Alat kerja (Palu, Alat Geofisika, Kompas, Alat Sampling, Meteran, Altimeter, Kantong

sampel, Alat bor)


Alat Tulis.
Alat Komunikasi.
Keperluan sehari - hari.
Obat - obatan atau P3K.

e) Sesampai di Lapangan :
Membuat base camp (perkemahan).
Mencek peralatan atau perbekalan.
Melakukan quick survey di daerah penelitian untuk menentukan langkah-langkah lebih
lanjut.
Menentukan evaluasi rencana dan perubahan-perubahan sesuai dengan keadaan
sebenarnya (bila perlu).
1.5 KEGIATAN EKSPLORASI
Pengkajian data sekunder, Pengkajian data primer, pengolahan data, dan penyusunan
laporan.
Pengkajian data sekunder:
Mempelajari laporan terdahulu.
Mempelajari peta - peta.
Menentukan rencana kegiatan atau eksplorasi.
Pengkajian data primer :
Pengamatan dan pencatatan data di lapangan : singkapan, bongkah, parit dan sumur uji,
hasil pemboran.
Pengambilan percontoh (pemercontohan).
Pengolahan data :
Analisis petrografi, mineragrafi, kimia.
Pengambaran peta sebaran bahan galian.
Rekonstruksi data permukaan dan bawah permukaan.

1.6 PENYUSUNAN LAPORAN


Kerangka penyusunan laporan adalah sebagai berikut :
Tempat dan kesampaian daerah penyelidikan,
Latar belakang dilakukannya penyelidikan,
Geologi dan bahan galian,
Kegiatan yang dilakukan,
Pengolahan data,
Hasil penyelidikan,
Kesimpulan dan saran,
Daftar pustaka,
Lampiran dan gambar.
BAB III
EKSPLOITASI
2.1 PENGERTIAN EKSPLOITASI
Eksploitasi adalah usaha penambangan dengan maksud untuk menghasilkan bahan
galian dan memanfaatkannya. Kegiatan ini dapat dibedakan berdasarkan sifat bahan
galiannya yaitu, galian padat dan bahan galian cair serta gas.
EKSPLOITASI berasal dari bahasa Inggris, eksploitasi adalah politik pemanfaatan,
eksploitasi adalah untuk kepentingan ekonomi atau kesejahteraan. Ekspolitasi sumberdaya
alam berarti mengambil dan menggunakan sumber daya alam itu untuk tujuan pemenuhan
kebutuhan hidup manusia.
Eksploitasi sumberdaya alam yang mengabaikan lingkungan akan mengancam
keberlajutan dan ketersedian sumber daya alam itu. pasal 33 ayat (3) Undang - undang Dasar
1945 menggariskan bahwa Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Salah satu asas penting dalam pemanfaatan kekayaan alam dalam pembangunan
Indonesia adalah pengutamaan pengelolaan sumber daya alam yang dapat diperbarui. Oleh

karena itu, agar pemanfaatannya dapat berkesinambungan, maka tindakan eksploitasi sumber
daya alam harus disertai dengan tindakan perlindungan.
Pemeliharaan dan pengembangan lingkungan hidup harus dilakukan dengan cara yang
rasional antara lain sebagai berikut:
a) Memanfaatkan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui denganhati-hati dan efisien,
misalnya: air, tanah, dan udara.
b) Menggunakan bahan pengganti, misalnya hasil metalurgi (campuran)
c) Mengembangkan metoda menambang dan memproses yang efisien,serta pendaur-ulangan
(recycling)
d) Melaksanakan etika lingkungan berdasarkan falsafah hidup secara damai dengan alam.

2.2 FAKTOR PENDORONG EKSPLOITASI


Eksploitasi alam terjadi karena kebutuhan manusia yang tidak terbatas.dimasa modern
seperti saat ini kebutuhan manusia akan sumber daya alam sangatlah tinggi. Padahal tanpa
mereka sadari eksploitasi yang mereka lakukan itu telah merusak lingkungan tempat mereka
hidup sendiri. Salah satu faktor yang mendorong eksploitasi ini terjadi adalah kebutuhan
manusia yang tidak terbatas. Selain itu faktor ekonomi sangatlah berpengaruh penting dalam
usaha eksploitasi alam ini. Eksploitasi alam seperti pertambangan batu kapur di daerah
padalarang adalah salah satunya, kebutuhan akan bahan mentah odol, semen dll. Menjadikan
gunung kapur itu sebagai lahan pengeruk rupiah yang cukup menjanjikan, selain karena
faktor masyarakat sekitar yang menggantungkan kehidupan mereka dari hasil pengolahan
tambang batu kapur tersebut.
2.3 PERTAMBANGAN & KARAKTERISTIK DESA PERTAMBANGAN
Pada umumnya jika kita berbicara masalah desa, maka secara tidak langsung kita akan
membahas masyarakat pertanian. Hal ini karena mayoritas masyarakat desa bekerja dalam
sektor pertanian. Sebagaimana diungkapkan oleh Wibberly dalam Tjondronegoro (1999 : 59)
yang mendefinisikan desa sebagai suatu negeri yang memperlihatkan penggunaan tanah yang
luas sebagai ciri penentu, baik pada waktu sekarang maupun beberapa waktu yang lampau.
Jadi pedesaan merupakan kesatuan wilayah yang diorganisir dengan wewenang otonomi

untuk mengatur masyarakat dan wilayah yang dibatasi serta menggambarkan penggunaan
tanahnya untuk kehidupan pertanian, peternakan dan perikanan.
Selain identik dengan pertanian kita juga bisa melihat desa dari segi masyarakat yang
tinggal di daerah pedesaan dan dikategorikan sebagai masyarakat yang masih hidup dalam
suasana dan arah pemikiran pedesaan. Biasanya mereka pekerja, berbicara, berpikir dan
melakukan kegiatan apapun selalu mendasarkan diri pada apa-apa yang biasanya berlaku di
daerah pedesaan (Siswopangripto dan Sastrosupono, 1984:20).
Pada umumnya desa-desa di Indonesia dikelompokkan menjadi beberapa jenis.
Berdasarkan pengertian administratif, kita dapat menjumpai berbagai jenis desa, misalnya
bila dilihat dari jenis tofografi ada desa pegunungan, dataran rendah, dataran tinggi dan
pantai. Berdasarkan usahanya, ada desa petani sawah menetap, kampung peladang berpindahpindah, desa perkebunan rakyat dan desa nelayan. Namun ada juga desa yang mengadakan
usaha spesifik misalnya desa penghasil buah-buahan, desa industri kapur, genting, desa
kerajinan tangan dan sebagainya. Tetapi satu ciri yang mereka memiliki banyak biasanya
masih ada (Tjondronegoro, 1999:19).
Desa-desa yang memiliki usaha spesifik sebagaimana disebutkan diatas jumlahnya
sangat sedikit, karena pada umumnya desa-desa di Indonesia berada dalam sektor pertanian.
Salah satu desa yang tergolong dalam desa pemilik usaha spesifik adalah desa pertambangan.
Jumlah desa yang bergerak dalam bidang pertambangan di Indonesia memang sangat sedikit,
hal ini karena potensi sumber daya alam berupa bahan galian tambang hanya tersebar pada
daerah-daerah tertentu saja. Sehingga tidak semua daerah sumber daya alamnya dapat
dijadikan sebagai bahan galian tambang.
Pertambangan pada hakikatnya merupakan upaya pengembangan sumber daya alam
mineral dan energi yang potensisal untuk dimanfaatkan secara hemat dan optimal bagi
kepentingan dan kemakmuran rakyat, melalui serangkaian kegiatan eksplorasi, pengusahaan,
dan pemanfaatan hasil tambang. Upaya tersebut bertumpu pada pendayagunaan berbagai
sumber daya, tertutama sumber daya alam mineral dan energi, didukung oleh sumber daya
manusia yang berkualitas, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemampuan
manajemen (Ruchiyat, 1980: 162).
Pengolahan dalam bidang pertambangan berbeda halnya dengan pertanian yang
ditentukan oleh musim. Selama sumber bahan galian masih tersedia di alam maka eksploitasi
terhadap sumber daya alam tersebut terus dilakukan. Oleh karena itu etika lingkungan sangat

diperlukan sebagai pengendali dalam pelaksanaan kegiatan pertambangan. Etika lingkungan


merupakan petunjuk atau perilaku praktis manusia dalam mengusahakan terwujudnya moral
lingkungan. Melalui etika lingkungan, kita tidak saja mengimbngi hak dengan kewajiban
terhadap lingkungan tetapi etika lingkungan juga membatasi tingkah laku dan upaya untuk
mengendalikan berbagai kegiatan agar tetap berada dalam bata kepentingan hidup kita
(Soerjani, 1987 : 15).

2.4 KETERKAITAN EKSPLOITASI DENGAN PENYIMPANGAN SOSIAL


Dari penjelasan diatas bahwa eksploitasi ada keterkaitanya dengan penyimpangan
sosial. Kegiatan penambangan ini disatu sisi menjadi penghasilan utama masyarakat/para
penambang batu kapur tetapi di lain sisi aktifitas penambangan yang berlebihan ini tanpa
disadari telah mengakibatkan kerusakan alam yang berakibat pada kelangkaan sumber daya
alam seperti: berdasarkan penuturan masyarakat sekitar daerah penambangan batu kapur di
sana sering terjadi kesulitas mendapatkan air tanah ketika musim kemarau, polusi udara
akibar dari aktifitas pembakaran dan pengolahan batu kapur, hilangnya daerah resanpan air,
dan menyebabkan dearah tersebut menjadi rawan bencana alam.
Akhirnya dari kerusakan alam ini akan berdampak kembali kepada masyarakat itu
sendiri. Dan tanpa disadari masyarakat penambang tersebut telah melakukan penyimpangan
sosial karena merugikan masyarakat banyak akibat dari rusaknya lingkungan, padahal
pemerintah daerah telah mengatur sebagaimana dalam perda no 10 tahun 2010 Tentang
Pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batu Bara Poin a: Bahwa mineral dan batu
bara merupakan potensi sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga
pengelolaannya perlu dilakukan secara beryada guna, bertanggung jawab, berwawasan
lingkungan, berkelanjutan, berdaya saing, efesien, guna menjamin pembangunan daerah
yang berkelanjutan, serta pemanfaatanya ditunjukan bagi sebesar-besarnya kesejahteraan
rakyat. Namun dalam implemantasinya, penambangan yang dilakukan di daerah padalarang
tidak mempertimbangkan kelestarian lingkungan. Para penambang lebih mengutamakan hasil
tambang yang optimal dan terkesan berlebih karena tidak ada regulasi pembatasan
penambangan batu kapur yang jelas.
2.5 ISTILAH TAMBANG DALAM EKSPLOITASI

Penyiapan Tambang ( Mine Development )


Tahap kegiatan untuk menyiapkan prasarana dan sarana yang akan diperlukan pada tahap
kegiatan penambangan.

Eksploitasi ( Exploitation )
Penggatian endapan bahan galian dari kulit bumi secara ekonomis dengan menggunakan
sistem penambangan tertentu.

Batuan Samping ( Country Rock )


(1) Batuan yang mengelilingi massa intrusi batuan beku atau urat bijih; (2) batuan yang
tidak mengandung mineral berharga (berkadar rendah) yang mengelilingi tubuh bijih.

Mineral Ikutan ( Accessory Mineral; Gangue Mineral )


Mineral pembentuk batuan hasil kristalisasi magma, terdapat dalam jumlah relatif sedikit
(kurang dari 5%), ada tidaknya mineral tersebut dalam batuan tidak berpengaruh dalam
penentuan nama batuan, msl. apatit, zirkon, magnetit, rutil, dan sebagainya.

Limbah ( Waste )
Zat padat, cair, atau gas yang dibuang, diemisi, atau diendapkan pada lingkungan hidup
dalam jumlah tertentu yang dapat menyebabkan perubahan kualitas lingkungan hidup.

Mineral Urat ( Vein Mineral )


Mineral-mineral yang mengisi atau membentuk urat.

Urat Bernas ( Oreshoot )


Bagian dari urat bijih yang memiliki konsentrasi bijih lebih kaya dari sekelilingnya.

Endapan Berlapis ( Bedded Deposit )


Endapan bijih yang letaknya relatif datar dan sejajar dengan perlapisan batuan induknya.

Singkapan ( Out Crops )


Bagian dari satuan batuan atau bahan galian berharga yang tersingkap di permukaan
bumi.

Apungan ( Float )
Potongan-potongan lepas dari batuan atau bijih yang terdapat pada atau dekat permukaan
tanah, atau dasar sungai; dapat digunakan sebagai petunjuk adanya mineralisasi; sin.
Serpihan.

Lapisan Penutup ( Overburden )

Lapisan tanah atau batuan yang berada di atas dan langsung menutupi lapisan bahan
galian berharga sehingga perlu disingkirkan terlebih dahulu sebelum dapat menggali
bahan galian berharga itu.

Batuan Berlapis ( Bedded Rock )


Batuan sedimen yang terdiri dari beberapa lapisan batuan.

Batuan Dasar ( Bedrock; Base Rock )


Batuan yang berada langsung di bawah lapisan batuan yang ekonomis untuk ditambang;
sin. batuan landas.

Dinding Atas ( Hanging Wall )


Batuan yang terletak di atas endapan bijih atau urat bijih yang miring.

Dinding Bawah ( Foot Wall )


Batuan yang terletak di bawah endapan bijih atau urat bijih yang miring.

Miring,Kemiringan ( Dip; Grade; Slope )


(1) sudut yang dibentuk antara bidang perlapisan batuan dengan bidang horizontal; (2)
besarnya kenaikan atau penurunan jalan/lereng untuk setiap jarak horizontal 100 m (ft),
dinyatakan dalam %; (3) sudut yang dibuat antara bidang horizontal dengan bidang aliran
material pada suatu alat pengolahan bahan galian, dinyatakan dalam derajat.

Jurus ( Strike )
Garis perpotongan antara bidang perlapisan dan bidang horizontal yang dinyatakan
dalam arah azimut dan tegak lurus terhadap arah kemiringan (dip).

Terowongan ( Tunnel )
(1) lubang bukaan mendatar atau hampir mendatar yang menembus kedua lereng bukit;
(2) lubang bukaan yang berada di bawah tanah atau air, kedua ujungnya berhubungan
langsung dengan udara luar.

Terowongan Buntu ( Adit, )

Jalan masuk utama ke tambang bawah tanah, berupa terowongan buntu yang dibuat
mendatar dan menghubungkan tempat bawah tanah dengan udara luar atau permukaan
bumi; sin. terowongan buntu.

Terowongan Silang ( Cross Cut )


Terowongan atau jalan dalam tambang bawah tanah yang menyilang jurus cebakan atau
urat.

Lorong Angkut ( Haulage Drift )


Lubang bukaan yang relatif mendatar pada tambang bawah tanah yang dipergunakan
untuk pengangkutan bijih berai.

Lorong Angkut Utama ( Main Haulage Way )


Jalan utama pada tambang bawah tanah yang berfungsi untuk pengangkutan bijih berai.

Lorong Naik ( Raise )


Lubang bukaan miring atau tegak di tambang bawah tanah yang digali dari paras (level)
bawah menuju ke paras diatasnya (lihat juga lorong turun).

Lorong Turun ( Winze )


Lubang bukaan tegak atau miring di tambang bawah tanah yang digali dari paras (level)
atas menuju ke paras dibawahnya.

Sumuran Buntu ( Blind Shaft )


Sumuran pada tambang bawah tanah yang tidak berhubungan langsung dengan udara
luar lihat juga sumuran tegak; sin. sumuran buta.

Lombong ( Stope )
Lubang bukaan dalam tambang bawah tanah tempat penambangan berlangsung.

Lopak ( Sump )

Sumuran dangkal tempat penampungan air atau lumpur yang bersifat sementara di dalam
tambang sebelum dipompa ke luar; sin. pelimbahan; ceruk.

Pelombongan Terbuka ( Open Stope )


Cara pelombongan pada cebakan bijih dan batuan samping yang kuat sehingga tidak
memerlukan penyangga buatan; hanya bila diperlukan dapat ditinggalkan sebagian kecil
bijih sebagai pilar-pilar.

Kribing ( Cribbing )
Penyangga kayu yang terdiri atas susunan balok kayu persegi panjang yang yang
dipasang secara beraturan menutupi dinding sumuran.

Muka,Permuka Kerja ( Face; Front, )


Permukaan batuan atau bahan galian yang sedang digali (ditambang); sin. medan kerja.

Sumuran Kombinasi ( Combination Shaft )


Lenis sumuran yang merupakan kombinasi sumuran tegak dan sumuran miring,
berfungsi sebagai jalan keluar masuk utama ke tambang bawah tanah.

Batuan Tudung ( Cap Rock )


Batuan kurang telap berstruktur cembung yang menutupi batuan waduk atau akuifer

Pasca Tambang ( Post Mining )


Pasca tambang adalah masa setelah berhentinya kegiatan tambang pada seluruh atau
sebagian wilayah usaha pertambangan eksploitasi/operasi produksi, baik karena
berakhirnya izin usaha pertambangan dan atau karena dikembalikannya seluruh atau
sebagian wilayah usaha pertambangan eksploitasi/operasi produksi.

Tiang ( Posts )
Bagian dari sistem penyanggaan yang dipasang tegak atau agak miring pada tambang
bawah tanah.

Penyanggaan Tunggal ( One Piece Set )


Sebutan untuk sebatang balok kayu yang digunakan untuk penyanggaan tambang bawah
tanah ditempat yang rawan ambruk; sin. Prop.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Sumber daya alam merupakan anugrah terindah dari yang maha kuasa yang harus kita
jaga, lestarikan dan dimanfaatkan. Akan tetapi dimanfaatkan di sini bukan berarti menguras
habis sumberdaya alam yang tersedia namun kita juga harus bias memberdayakanya untuk
anak cucu kita kelak dimasa yang akan datang. Eksploitasi yang berlebihan dapat
menimbulkan bencana alam yang sangat dasyat, contohnya seperti tanah longsor, gempa
bumi (local) dan bencana - bencana lainya yang tentunya bisa membahayakan kehidupan
manusia dimuka bumi ini.
Penulis menyarankan kepada para pembaca khususnya mereka yang menggeluti bidang
pengekploitasian sumber daya alam dalam melakukan karirnya agar lebih berhati - hati dan
tidak mengeksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan. Tentu kita tau akibatnya apa bila
melakukan eksploitasi berlebihan, telah kita bahas di atas.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.kabarsaham.com/2011/pengeboran-migas-sulbar-mulai-temukan-gelembung.html
Sukandarrumidi. (1999). Bahan Galian Industri. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

ANALISIS
EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI

DISUSUN OLEH :

MARLIANI
F 121 14 006

PALU

2016
KATA PENGANTAR
Rasa syukur yang tak terhingga penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat
dan taufik-Nya sehingga penulis dapat merencanakan suatu Analisi sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh nilai Bahasa Indonesia.
Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari bantuan dan dukungan dalam merencanakan
analisis ini, maka sepatutnyalah melalui kesempatan ini penulis menyampaikan terimah kasih yang
setulus-tulusnya kepada Pembimbing Study bahasa indonesia: PEMBIMBING : RUSLAN YUNUS,
ST.MT Dan kedua orang tua serta kakak yang membantu penulis selama merencanakan studi. Hanya

doa dan bakti yang dapat penulis persembahkan kepada beliau.


Segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis dalam menunjang kelancaran pembuatan
analisis ini, semoga mendapat berkah dan imbalan dari Allah SWT.

Palu, 20 Juni 2016


Penulis

Marliani