Anda di halaman 1dari 7

1

DAFTAR ISI
BAB I
BAB II
BAB III

PENDAHULUAN
TEORI DAN ANALISIS
KESIMPULAN

.
.
.

2
4
8

BAB I
PENDAHULUAN
Upaya-upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia telah dilakukan
sejak awal kemerdekaan. Misalnya, di bidang pendidikan, pemerintah
melancarkan pemberantasan buta huruf tak terbatas di sekolah formal saja, namun
juga secara non-formal. Di era Bung Karno, anak-anak usia sekolah bahkan
dikejar agar mau masuk sekolah. Di era Pak Harto, dicanangkan wajib belajar
sembilan tahun, dan hasilnya luar biasa. Hal ini ditunjukkan pada peningkatan
peserta pendidikan dasar dari 62 persen anak-anak pada tahun 1973 menjadi lebih
dari 90 persen pada tahun 1983. Namun, sampai saat ini tingkat buta huruf
dilaporkan masih cukup tinggi di Indonesia, yaitu meliputi sekitar 5,9 juta orang
yang berumur antara 10-44 tahun.
Di bidang kesehatan, pemerintah meluncurkan berbagai upaya untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan memperkenalkan
sistem santunan sosial. Di era Orde Baru, sejak 1970-an, dikenalkan pusat
pelayanan kesehatan di tingkat kecamatan (Puskesmas) agar lebih mudah
terjangkau oleh masyarakat desa. Belakangan dibentuk Pos Pelayanan Terpadu
(Posyandu) di setiap desa. Pada awal 1990-an pembangunan pusat kesehatan
masyarakat meningkat lebih tinggi daripada rumah sakit. Penempatan bidan di
desa yang mendidik kader-kader dari kalangan penduduk desa sendiri, dan
mendampingi kader dalam kegiatan rutin posyandu, menunjukkan upaya-upaya
pemberdayaan masyarakat. Kaderisasi semacam ini meningkatkan peluang
keberlanjutan program yang berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan.
Program Keluarga Berencana juga merupakan program strategis untuk
mengurangi tingkat kemiskinan keluarga.
Melalui program transmigrasi, penduduk miskin dari daerah padat diberi peluang
yang lebih baik untuk meningkatkan kesejahteraan ekonominya. Pembukaan dan
pengembangan tanah pertanian baru diharapkan dapat meningkatkan kesempatan
kerja para transmigran.
Dalam rangka penanggulangan kemiskinan pula diluncurkan berbagai Inpres,
seperti Inpres Kesehatan, Inpres Perhubungan, Inpres Pasar, Bangdes, dan yang
agak belakangan namun cukup terkenal adalah Inpres Desa Tertinggal, Dapat
dicatat juga program-program pemberdayaan lainnya seperti Program Pembinaan
dan Peningkatan Pendapatan Petani dan Nelayan Kecil. Program Tabungan dan
Kredit Usaha Kesejahteraan Rakyat (Takesra-Kukesra), Program Pengembangan
Kecamatan, Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan, Program

Pembangunan Prasarana Pendukung Desa Tertinggal, dan seterusnya. Hampir


semua departemen mempunyai program penanggulangan kemiskinan, dan dana
yang telah dikeluarkan pemerintah untuk pelaksanaan program-program tersebut
telah mencapai puluhan trilyun rupiah.
Pertanyaannya kini adalah seberapa besar efek pemberdayaan yang telah
ditimbulkan berbagai program tersebut pada lapisan masyarakat miskin yang
menjadi sasarannya? Jawabannya adalah suatu pertanyaan, yaitu mengapa
perekonomian Indonesia ambruk dan tidak tahan menghadapi krisis moneter pada
tahun 1997?

BAB II
TEORI DAN ANALISIS
Apa yang dikatakan HS Dillon, pengamat masalah-masalah kemiskinan yang
senantiasa menukik analisisnya, mungkin perlu disimak dengan baik. Dikatakan
bahwa strategi pertumbuhan ekonomi yang cepat yang tidak dibarengi pemerataan
merupakan kesalahan besar yang dilakukan para pemimpin negara-negara sedang
berkembang, termasuk Indonesia. Dalam menjalankan strategi tersebut, pinjaman
luar negeri telah memainkan peran besar sebagai sumber pembiayaan. Padahal,
sering terjadi adanya ketidaksesuaian antara paket pembangunan yang dianjurkan
donor dengan kebutuhan riil masyarakat. Kebijakan fiskal dan moneter juga tidak
pro kaum miskin, pengelolaan sumber daya alam kurang hati-hati dan tidak
bertanggung jawab, perencanaan pembangunan bersifat top-down, pelaksanaan
program
berorientasi
keproyekan, misleading industrialisasi,
liberalisasi
perekonomian terlalu dini tanpa persiapan yang memadai untuk melindungi
kemungkinan terpinggirkannya kelompok-kelompok miskin di dalam masyarakat.
Selanjutnya berkembang budaya materialisme, praktek KKN.
Jika dapat disimpulkan, maka penyebab kemiskinan di Indonesia bukanlah
kurangnya sumber daya alam, melainkan karena faktor non-alamiah, yaitu
kesalahan dalam kebijakan ekonomi. Khusus pada era Orde Baru, kelompokkelompok usaha yang telah memiliki sistem manajemen modern dengan jaringan
koneksi internasional yang sudah cukup baik dapat memanfaatkan situasi yang
tercipta dengan lebih baik karena telah lebih siap secara teknis. Tugas yang
diberikan kepada kelompok-kelompok usaha tersebut adalah memperbesar kue
ekonomi yang kecil untuk kemudian dapat dilakukan pemerataan dalam
pola trickle-down effect. Dalam perkembangannya, pertumbuhan untuk
pemerataan tidak terjadi dengan mulus, bahkan kesenjangan sosial-ekonomi
makin dirasakan melebar, dan akhirnya terjadi kerusuhan sosial yang memuncak
pada tahun 1998.

Untuk memahami lebih jauh persoalan kemiskinan ada baiknya kita mengingat
kembali beberapa kosa kata standar dalam kajian kemiskinan (Friedmann, 1992:
89) sebagai berikut :

1. Powerty line (garis kemiskinan). Yaitu tingkat konsumsi rumah tangga


minimum yang dapat diterima secara sosial.
2. Absolute and relative poverty (kemiskinan absolut dan relatif). Yaitu
kemiskinan yang jatuh dibawah standar konsumsi minimum dan
karenanya tergantung pada kebaikan. Sedangkan relatif adalah kemiskinan
yang eksis di atas garis kemiskinan absolut yang sering dianggap sebagai
kesenjangan antara kelompok miskin dan kelompok non miskin
berdasarkan income relatif.
3. Deserving poor adalah kaum miskin yang mau peduli dengan harapan
orang-orang non-miskin, bersih, bertanggungjawab, mau menerima
pekerjaan apa saja demi memperoleh upah yang ditawarkan.
4. Target population, populasi sasaran adalah kelompok orang tertentu yang
dijadikan sebagai objek dan kebijakan serta program pemerintah. Mereka
dapat berupa rumah tangga yang dikepalai perempuan, anak-anak, buruh
tani yang tak punya lahan, petani tradisional kecil, korban perang dan
wabah, serta penghuni kampung kumuh perkotaan.

Pemberdayaan masyarakat miskin harus difokuskan pada sector ekonomi,


pendidikan dan kesehatan. Sebagaimana kita ketahui, pada sector tersebutlah
sebagai dasar untuk melakukan penguatan bagi masyarakat miskin agar kebutuhan
dasar bisa tercukupi.
Pada

sektor

penguatan

ekonomi/daya

beli,

peran

pemerintah

untuk

mengalokasikan anggaran (APBN/APBD) untuk didistribusikan kepada programporgram penguatan daya beli bagi masyarakat miskin, mendorong mereka untuk
membangun usaha mandiri baik kelompok maupun perorangan dengan
memberikan dana stimulan, memberikan pemahaman-pemahaman manajerial
untuk pengembangan usaha mereka, dan membuka peluang pasar yang didasarkan
pada komoditas produksi yang mereka jalankan. Selain memberikan pengarahanpengarahan tentang manajerial, program tersebut harus dikontrol, agar stimulan

yang diberikan pemerintah tepat sasaran, dan dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan hidup mereka.
Selain program yang diberikan, pemerintah membantu dan mendorong mereka
untuk mengakses program-program CSR (corporate social responsibility) dari
sektor swasta atau perusahaan-perusahaan swasta. Selain pemerintah yang
memberikan pasilitas berupa program-program, peran masyarakat juga sangat
penting, dalam hal ini peran-peran organisasi kemasyarakatan harus peka untuk
ikut andil dalam upaya pemberdayaan masyarakat miskin.

KESIMPULAN
dalam uraian pembahasan teori disampaikan bahwa kemiskinan bukanlah factor
masyarakatnya itu sendiri yang tidak mau bekerja, berusaha untuk membangun
pondasi kehidupan ekonominya, melainkan ada pengaruh struktur yang tidak
memberikan kesempatan kepada masyarakat miskin untuk berdaya secara
ekonomi. Dalam hal ini adalah peran pemerintah untuk membuat kebijakan yang
mengarah pada penguatan atau pemberdayaan masyarakat miskin melalui
program-program yang mengarah kesana.
Mengalokasikan anggaran untuk pemberdayaan ekonomi, membuka kesempatan
untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dan mendapatkan pelayanan
kesehatan yang memadai adalah wujud kebijakan pro kemiskinan. Namun
pemerintah dalam menjalankan program-program nya tentu memiliki kelemahankelemahan. Maka dari itu, peran masyarakat civil society untuk melakukan
control terhadap kebijakan pemerintah sekaligus berpartisipasi dalam upaya
pemberdayaan masyarakat miskin tersebut.