Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
Ankylostoma merupakan penyakit cacing tambang yang disebabkan oleh
cacing Necator Americanus, ancylosoma duodenale, dan jarang disebabkan oleh
Ancylostoma Braziliensis, Ancylostoma canium, Ancylostoma malayanum.
Penyakit ini tersebar di daerah tropis maupun subtropik. Infeksi cacing tambang
masih merupakan masalah kesehatan di dunia. Di Indonesia penyakit ini lebih
banyak disebabkan oleh cacing Necator americanus daripada Ancylostoma
duodenale.
Infeksi cacing tambang meliputi seperempat dari populasi dunia, terutama
negara tropis maupun subtropis. Sekitar 900 juta penduduk dunia terinfeksi
ankilostomiasis, menyebabkan kehilangan darah 9 juta liter tiap harinya. Penyakit
cacing tambang tersebut luas di seluruh dunia. N. Americanus terutama di negaranegara barat dan juga negara tropis, seperti Asia Tenggara, Indonesia, Australia. A.
duodenale tersebar terutama di Mediterania, India, China dan Jepang. Kondisi
yang menguntungkan untuk perubahan telur cacing ke larva adalah pada suhu 2333 C, tanah yang lembab dan gembur.
Di pedesaan bagian dari Puducherry, wilayah pesisir selatan India,
penduduk disana berobat ke berbagai departemen rawat jalan di rumah sakit
dengan berbagai keluhan saluran pencernaan dan anemia. Jumlah total 2600
pasien diperiksa untuk mengetahui infeksi parasit selama periode satu tahun
(2007-2008) dengan menggunakan teknik parasitologi standar. Dari 417 pasien
positif, jumlah 286 (68,58%) telah terinfeksi cacing dan 131 (31,41%) telah
terinfeksi selain infeksi cacing. Pria lebih banyak terinfeksi daripada perempuan.
Manusia merupakan hospes utama infeksi cacing tambang. Endemisitas
infeksi tergantung pada kondisi lingkungan guna menetaskan telur dan maturasi
larva. Prevalensi di Indonesia cukup tinggi berkisar 30-50% terutama di pedesaan,
khususnya perkebunan dan pertambangan. Kebiasaan defekasi di tanah dan
pemakaian feses sebagai pupuk kebun, penting dalam penyebaran infeksi.
Prevalensi yang lebih tinggi ditemukan di daerah perkebunan seperti di
perkebunan karet di Sukabumi, Jawa Barat (93,1%) dan di perkebunan kopi di
Jawa Timur (80,69%). Prevalensi infeksi cacing tambang cenderung meningkat
1

dengan meningkatnya umur. Tingginya prevalensi juga dipengaruhi oleh sifat


pekerjaan sekelompok karyawan atau penduduk. Sebagai contoh dapat
dikemukakan sebagai berikut: kelompok karyawan wanita maupun pria yang
menolah tanah di perkebunan teh atau karet, akan terus menerus terpapar terhadap
kontaminasi.
Tingginya insiden infeksi akibat cacing tambang di daerah ini menyoroti
fasilitas sanitasi yang buruk dan berbagai faktor lingkungan seperti buang air
besar di udara terbuka serta tinja kurang dikelola kurang baik sehingga
menghasilkan kontaminasi tanah dengan cacing telur. Telur ini akan matang dalam
tanah yang lembab dan menjadi infektif bagi manusia. Di daerah ini praktek tidak
menggunakan alas kaki selama kegiatan sehari-hari sangat umum sehingga
memungkinkan hal tersebut menjadi faktor penyebab terinfeksi cacing tambang.
Penatalaksanaan dengan perawatan umum dilakukan dengan memberikan
nutrisi yang baik, suplemen preparat besi yang diperlukan oleh pasien dengan
gejala klinis yang berat, terutama bila ditemukan bersama-sama dengan anemia.
Dengan pengobatan yang adekuat meskipun telah terjadi komplikasi, prognosis
tetap baik.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Morfologi dan Daur Hidup
Beberapa spesies cacing tambang yang penting, diantaranya :
1.
2.
3.
4.
5.

Necator americanus
Ancylostoma duodenale
Ancylostoma braziliense
Ancylostoma ceylanicum
Ancylostoma caninum
2

Necator americanus dan Ancylostoma duodenale adalah dua spesies


cacing tambang yang dewasa di manusia. Habitatnya ada di rongga usus halus.
Cacing betina menghasilkan 9.000-10.000 butir telur sehari. Cacing betina
mempunyai panjang sekitar 1 cm, cacing jantan kira-kira 0,8 cm, cacing dewasa
berbentuk seperti huruf S atau C dan di dalam mulutnya ada sepasang gigi.

Gambar 2. 1 Morfology Ancylostoma duodenale

Daur hidup cacing tambang adalah sebagai berikut, telur cacing akan
keluar bersama tinja, setelah 1-1,5 hari dalam tanah, telur tersebut menetas
menjadi larva rabditiform. Dalam waktu sekitar 3 hari larva tumbuh menjadi
larva filariform yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7-8 minggu
di tanah. Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60x40 mikron, berbentuk
bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel, larva
rabditiform panjangnya kurang lebih 250 mikron, sedangkan larva filriform
panjangnya kurang lebih 600 mikron. Setelah menembus kulit, larva ikut aliran
darah ke jantung terus ke paru-paru. Di paru larvanya menembus pembuluh darah
masuk ke bronchus lalu ke trachea dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan
masuk ke dalam usus halus dan menjadi cacing dewasa. Infeksi terjadi bila larva

filariform menembus kulit atau ikut tertelan bersama makanan (Menteri


Kesehatan , 2006)

Gambar 2.1 Telur hookworm, larva rhabditiform, larva


filariform
2.2 EPIDEMIOLOGI
Infeksi cacing tambang meliputi seperempat dari populasi dunia, terutama
di negara tropis maupun subtropis. Sekitar 900 juta penduduk dunia terinfeksi
ankilostomiasis, menyebabkan kehilangan darah 9 juta liter setiap harinya.
Penyakit cacing tambang tersebar luas di seluruh dunia, N. americanus terutama
di negara-negara barat dan juga negara tropis seperti Afrika, Asia Tenggara,
Indonesia, Australia, kepulauan Pasifik, dan beberapa negara bagian Amerika. A.
duodenale tersebar terutama di mediterania, Asia Utara, India Utara, Cina, dan

Jepang.
Cacing ini memerlukan tanah pasir yang gembur, tercampur humus dan
terlindung dari sinar matahari langsung. Telur cacing tambang menetas menjadi
larva rabditiform dalam waktu 24-36 jam untuk kemudian pada hari ke 5 8
4

menjadi bentuk filariform yang infektif. Suhu optimum bagi N.americanus adalah
28C 32 C dan untuk A.duodenale adalah sedikit lebih rendah 23C 25 C.
Ini salah satu sebab mengapa N.americanus lebih banyak ditemukan di Indonesia
daripada A.duodenale.
Dinamakan cacing tambang karena pada awalnya cacing tersebut
ditemukan pada para pekerja tambang di Eropa yang fasilitas sanitasinya belum
memadai, tinja kurang dikelola secara baik serta kebiasaan berjalan kaki di tanah
tanpa menggunakan alas kaki. Manusia merupakan inang utama infeksi cacing
tambang. Endemisitas infeksi tergantung pada kondisi lingkungan guna
menetaskan telur dan maturasi larva. Prevalensi di Indonesia cukup tinggi
terutama di daerah pedesaan, khususnya perkebunan dan pertambangan.
Kebiasaan defekasi di tanah dan pemakaian feses sebagai pupuk kebun penting
dalam penyebaran infeksi.

2.3 ETIOLOGI
Penyakit cacing tambang, hookworm disease atau ankilostomiasis
disebabkan oleh Ancylostoma duodenale (hookworn dunia lama) dan Necator
americanus (hookworm dunia baru). A. ceylanicum jarang menimbulkan infeksi
pada manusia tetapi lebih sering menginfeksi binatang piaraan seperti anjing,
kucing.
duodenale mempunyai ukuran lebih besar dari N. Americanus. A.
duodenale betina dapat memproduksi telur 10.000 25.000 per hari. A. duodenale
dewasa memiliki 2 pasang gigi (4 gigi) seperti kait yang menonjol, kemampuan
menghisap darah 0,20 ml per cacing per hari. Bentuk badan A. duodenale
menyerupai huruf C pada cacing jantan terdapat bursa kopulatriks.
N. americanus berbentuk silinder, dengan ukuran cacing jantan 5 11 mm x 0,3
0,35 mm, sedang cacing betina 9 13 mm x 0,35 0,6 mm. N. americanus dapat
memproduksi telur 10.000 20.000 telur per hari. Memiliki sepasang gigi seperti
plat dan menghisap darah 0,03 ml per cacing per hari. Bentuk badan N.
americanus menyerupai huruf S.
5

Gambar

Necator

americanus

Gambar

Ancylostoma

duodenale
Telur

cacing

terdiri atas satu

tambang

lapis dinding yang

tipis dan adnya ruangan yang jelas antara dinding dan terdapat 2 4 sel di
dalamnya. Telur keluar bersama tinja dan berkembang di tanah. Ukuran telur A.

duodenale 56 60 m x 36 40 m, telur N. americanus 64 76 m x 36 40


m.
Gambar Telur hookworm

2.4 PATOFISIOLOGI DAN KLINIS PENYAKIT


Siklus hidup hookworm tidak banyak berbeda satu sama lainnya. Manusia
merupakan hospes inang utama dari parasit ini, infeksi cacing tambang didapat
dengan cara tertelan larva filariform maupun larva filariform yang berhasil
menembus kulit (yang sering melalui kulit kaki). Ketika larva filariform berhasil
menembus kulit (kaki), maka selanjutnya mengikuti sirkulasi darah dan limfe,
memasuki jantung kanan, masuk siklus paru ke alveoli kemudian bermigrasi naik
ke bronkus, trakhea, laring, dan tertelan masuk ke rongga saluran cerna sehingga
mencapai usus halus dan tumbuh menjadi cacing dewasa yang hidup di rongga
usus halus. Di usus halus bagian proksimal cacing dewasa menggait pada dinding
usus dengan gigi (Ancylostoma) dan memakai plat (Necator), mengisap darah
melalui kapsula bukalis di tempat tersebut. Untuk A. duodenale mampu mengisap
darah pada kapiler vili intestinal 0,20 ml per cacing/hari, sedangkan N.
americanus kemampuan menghisap darah 0,03 ml per cacing/hari. Karena
kehilangan darah inilah, maka manifestasi klinis yang menonjol pada
ankilostomiasis adalah anemia defisiensi besi dan hipoalbuminemia terutama bila
disertai gangguan nutrisi. Cacing tambang mampu menghasilkan beribu-ribu telur
per hari dan telur tersebut akan keluar bersama tinja. Oleh karen maturasi telur
cacing tambang memerlukan waktu yang cukup lama, maka kecil kemungkinan
terjadinya autoinfeksi akibat terpapar telur dan juga kecil kemungkinan terinfeksi
melalui paparan telur atau kontaminasi feses yang baru.
Telur cacing tambang berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis, di
dalamnya terdapat 4 8 sel. Telur dikeluarkan bersama feses, tidak seperti halnya
maturasi telur strongyloides yang berlangsung cepat maka maturasi telur cacing
tambang berlangsung lambat. Di luar tubuh telur cacing tambang akan menetas
dalam waktu 1 1,5 hari di tanah yang lembab, hangat, gembur. Situasi seperti
inilah yang dapat menjelaskan penyakit cacing tambang banyak terdapat di daerah
7

tropis maupun subtropis. Setelah menetas terbentuk larva rabditiform yang non
infeksius. Selama 3 7 hari berada di tanah rabditiform yang panjangnya sekitar
250 mikron akan tumbuh menjadi larva filariform yang panjangnya sekitar 600
mikron yang potensi infeksius. Larva filariform dapat hidup di tanah selama 7 8
minggu. Pada saat larva melalui atau bermigrasi ke paru akan menimbulkan
gangguan pada saluran pernapasan. Pada saluran cerna menimbulkan berbagai
gangguan saluran cerna.
Infeksi karena N. americanus lebih sering terjadi melalui kulit tetapi juga
bisa tertelan larva, sedangkan A. duodenale infeksi pada umumnya terjadi dengan
tertelan larva A. duodenale dan N. americanus yang cara infeksinya dengan cara
menelan larva maka cacing ini tidak memiliki siklus di paru.

Gambar siklus hidup dan patofisiologi

a. Stadium Larva atau Ankilostomiasis Akut

Beberapa rata-rata tertinggi dari penularan cacing tambang terjadi di daerah


pantai dunia, di mana tahap ketiga larva yang bisa menginfeksi dapat
bermigrasi secara bebas pada tanah berpasir di mana temperatur dan
kelembaban cukup optimal untuk kelangsungan hidup larva. Larva filariform
yang berhasil menembus kulit akan menimbulkan perubahan pada kulit berupa
reaksi hipersensitivitas, ruam makulopapular, erythematous dan sangat gatal
(pruritus lokal) yang dikenal sebagai ground itch. Walaupun seluruh
permukaan tubuh rentan, ground itchi lebih sering muncul di tangan dan kaki,
yang merupakan tempat utama masuk untuk tahap ketiga larva. Berbeda
dengan ground itch, kulit yang diinvasi oleh zoonotik A. braziliense tahap
ketiga larva menghasilkan larva migrans cutaneous, atau creeping eruption,
sebuah kondisi dermatologis yang self-limited yang ditandai oleh lubang
serpiginous, 1 5 cm panjangnya. Disebabkan oleh tahap ketiga larva yang
bermigrasi pada epidermis, lubang mucul pada kaki di 39 persen kasus
(Gambar

1),

pada

bokong

sebanyak

18

persen, dan pada

abdomen

sebanyak

persen; dalam

kasus

lubang

kebanyakan

muncul

dibagian

kaki,

lengan

yang

16
lain,
bawah

dan wajah.

Gambar Larva migrans cutaneous disebabkan oleh Ancylostoma braziliense.

Gambar Larva ground itchi disebabkan oleh Larva Filariform.


Sewaktu larva bermigrasi ke paru akan menimbulkan berbagai keluhan berupa
batuk, sesak karena bronkitis, pneumonia maupun asma bronkiale. Pneumonia
yang disertai eosinophilia perifer (Loffers syndrome) merupakan petanda
penting adanya infeksi cacing tambang.

Gambar

Pneumonia disertai

eosinophilia

(Loffers syndrome)

b. Stadium

Dewasa

atau

Ankilostomiasis
Kronis
Gejala klinis sangat bervariasi dari yang ringan sampai berat. Infeksi cacing
tambang dapat mencetuskan gejala klinis akibat dua hal penting yaitu anemia
defisiensi besi dan malnutrisi. Dampak dari anemia defisisensi besi akan
muncul berbagai keluhan dan gejala seperti pucat, lemah, lesu, sukar
konsentrasi, pusing, berdebar-debar, dyspnoe deffort. Penurunan berat badan
merupakan manifestasi dari malnutrisi disertai hipoalbumenia dengan atau
tanpa edema anasarka. Pada saluran cerna muncul keluhan mual, sebah, diare,
rasa kurang enak di perut.

10

Gambar Siklus kehidupan Necator americanus dan Ancylostoma duodenale


Klinis Penyakit
a. Stadium larva
Larva filariform yang menembus kulit dalam jumlah yang banyak secara
sekaligus dapat menyebabkan perubahan kulit berupa :
Gatal atau pruritus kulit, terutama di kaki (ground itch).
Dermatitis dan kadang ruam makulopapula sampai vesikel; merupakan tanda

pertama yaNg dihubungkan dengan invasi larva cacing.


Perubahan yang terjadi pada paru biasanya ringan. Selama berada di paru,
larva dapat menyebabkan kapiler-kapiler dalam alveoli paru menjadi peah
sehingga terjadi batuk darah. Berat ringannya kondisi ini ditentukan oleh

jumlah larva cacing yang melakukan penetrasi ke dalam kulit.


Gejala-gejala pada usus terjadi dalam waktu 2 minggu setelah larva
melakukan penetrasi terhadap kulit. Larva cacing menyebabkan iritasi usus
halus. Gejala dari iritasi usus halus diantaranya adalah rasa tidak enak di eprut,

kembung, sering mengeluarkan gas (flatus), serta menret-mencret.


b. Stadium dewasa
Gejala yang terjadi bergantung pada:
11

Spesies dan jumlah cacing


Setiap satu cacing Ancylostoma duodenale akan menyebabkan kehilangan
darah sebanyak 0,08-0,34 cc setiap hari.
Keadaan gizi penderita (Fe dan protein)
Infeksi cacing Ancylostoma dalam stadium dewasa dapat menyebabkan
terjadinya anemia hipokromik normositer serta eosinofilia. Anemia terjadi
setelah infestasi cacing dalam tubuh berlangsung selama 10-20 mingggu.
Jumlah cacing dewasa yang diperlukan untuk menimbulkan gejala anemia
adalah lebih dari 500, tetapi bergantung pada keadaan gizi hospes.
Eosinofilia akan jelas terlihat pada bulan pertama infeksi cacing. Toksin
cacing

yang

dapat

menyebabkan

anemia

belum

dapat

dibuktikan.

Ancylotomiasis biasanya tidak menyebabkan kematian, tetapi menyebabkan


daya tahan tubuh berkurang. Prestasi kerja juga dapat menurun akibat
ancylostomiasis.
Sejumlah penderita penyakit cacing tambang yang dirawat di Yogyakarta
mempunyai kadar Hb yang semakin rendah bilaman penyakit semakin berat.
Golongan ringan, sedang, berat, dan sangat berat mempunyai kadar Hb rata-rata
berturut-turut 11,3 g%, 8,8 g%, 4,8 g% dan 2,6 g%.
Gejala klinik dan diagnosis gejala klinik karena infeksi cacing tambang
antara lain lesu, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang, pucat, rentan terhadap
penyakit, prestasi kerja menurun, dan anemia (anemia hipokrom mikrositer). Di
samping itu juga terdapat eosinofilia
Cacing tambang utama yang berhubungan dengan cedera pada manusia
terjadi ketika parasit dewasa menyebabkan kehilangan darah pada interstitial.
Istilah penyakit cacing tambang merujuk utamanya pada anemia karena
kekurangan zat besi yang merupakan akibat dari infeksi yang yang sedang atau
berat. Kehilangan darah terjadi ketika cacing-cacing tersebut menggunakan alat
pemotong

untuk

menempelkan

mereka

pada

mucosa

dan

submucosa

intestinal/usus dan mengerutkan esophagi otot mereka untuk menciptakan tekanan


negative, yang menghisap potongan jaringan kedalam kapsul buccal mereka.
Kapiler dan arteriol pecah bukan hanya secara mekanis tetapi juga secara kimiawi,
melalui aksi dari enzim hidrolitis. Untuk memastikan aliran darah, cacing

12

tambang dewasa mengeluarkan agen/unsure anticlotting. (Salah satunya, sebuah


faktor VIIa/faktor inhibitor jaringan, yang sedang dikembangkan sebagai sebuah
unsure terapetis untuk memblokir coagulopathy dari infeksi fulminant
dikarenakan virus Ebola) Cacing tambang mencerna sebagian dari darah
extravasasi. Beberapa sel darah merah mengalami lisis, sehingga melepaskan
hemoglobin, yang dicerna oleh sebuah kaskade hemoglobinases yang menandai
usus parasit.

Gambar Patogenesis dan Sequelae Klinis dari Penyakit Cacing Tambang.


Panel A memperlihatkan sebuah pemindai mikrograf electron
Necator americanus. Capsul buccal ditandai dengan memotong plat
yang

memungkinkan

parasit

dewasa

untuk

memakan

mucosa

intestinal, submucosa dan darah. Tiap cacing tambang panjangnya


berkisar dari 5 sampai 13 mm dan menyebabkan kehilangan darah 0,3
ml per hari. Panel B memperlihatkan seekor cacing tambang dewasa
memakan mucosa intestinal dan submucosa (hematoxylin dan Eosin).

Manifestasi klinis utama dari penyakit cacing tambang adalah konsekuensi


dari kehilangan darah interstinal yang kronis. Anemia karena kekurangan zat besi
terjadi dan hypoalbuminemia berkembang ketika kehilangan darah melebihi

13

asupan dan cadangan zat besi host dan protein. Bergantung pada status zat besi
host, beban cacing tambang (yakni, intensitas infeksi, atau jumlah cacing per
orang) dari 40 sampai 160 cacing diasosiasikan dengan tingkat hemoglobin di
bawah 11g per desiliter. Namun, studi lain telah memperlihakan bahwa anemia
bisa terjadi dengan beban cacing tambang yang lebih ringan. Karena infeksi oleh
A.duodenale menyebabkan kehilangan darah yang lebih hebat dibandingkan
terinfeksi oleh N. americanus, tingkatan anemia karena kekurangan zat besi yang
disebabkan oleh cacing tambang bergantung pada spesies. Ketika cadangan zat
besi di host menjadi habis/berkurang, ada sebuah korelasi langsung antara
intensitas infeksi cacing tambang (biasanya diukur dengan total jumlah telur
kuntitatif) dan penurunan pada hemoglobin, serum ferritin, dan tingkat
protoporphyrin.

Gambar Hubungan antara Berat Cacing Tambang dan Anemia.


Keterangan Gambar :
Total jumlah telur kuantitatif berfungsi sebagai ukuran tidak langsung dari berat cacing
tambang dewasa (yakni, jumlah cacing per pasien). Tingkat hemoglobin turun dalam
proporsi terhadap infeksi.

2.5 DIAGNOSIS
Diagnosis pasti ditegakkan dengan menemukan telur cacing tambang
dalam tinja segar, menemukan larva di dalam tinja lama, atau menemukan cacing
tambang dewasa dalam tinja. Untuk membedakan spesies N. americanus dan A.
duodenale dapat dilakukan biakan tinja yang akan dijumpai jenis larva cacing
tambang.
2.6 PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Tinja :
- Berupaya menemukan telur cacing

tambang

pada

pemeriksaan

mikroskopis langsung dengan bahan feses. Pemeriksaan yang dapat


membedakan kedua spesies ini ialah dengan faecal smear pada filter
paper strip Harada-Mori.
14

Menghitung jumlah telur cacing tambang dengan teknik cellophane thick


smear (Kato) guna membantu menentukan derajat penyakit cacing

tambang.
Darah :
- Pada hapusan darah dapat dijumpai gambaran anemia hipokrom mikrositer
- Eosinofilia terjadi pada 70 80% kasus
- Hipoalbuminemia
- Leukosit umumnya normal.
- Peningkatan IgE dan IgG4, tetapi pemeriksaan IgG4 tidak
direkomendasikan karena tinggi biayanya.
2.7 DIAGNOSIS BANDING
- Dermatitis
- Bronkhitis, asma bronkhiale, bronkhopneumonia
- Beri-beri, gastritis, ulkus peptikum.

2.8 PENATALAKSANAAN
a. Terapi umum
1. Perbaikan gizi dengan pemberian nutrisi tinggi kalori dan protein,
diperkaya dengan multivitamin dan mineral.
2. Karena anemia defisiensi besi merupakan ancaman utama pada infeksi
ankilostomiasis, maka preparat besi dapat digunakan untuk mengatasi
anemianya. Secara oral, sulfas ferosus 3 x 200 mg/hari dapat diberikan
sampai tanda anemianya hilang. Penderita yang mengalami anemia berat
dengan kadar Hb < 5 g/dl, maka sebelum memulai pemberian anthelmintik
dapat dikoreksi dengan transfusi darah.
b. Terapi Spesifik
1. Antihistamin untuk mengurangi keluhan gatal-gatal.
2. Obat cacing:
Tetrakloretilen, merupakan drug of choice pasien Ankilostomiasis. Dosis
yang diberikan 0,12 ml/kg BB, dosis tunggal tidak boleh lebih dari 5 ml.
Pengobatan dapat diulang 2 minggu kemudian bila pemeriksaan telur
dalam tinja tetap positif. Pemberian obat sebaiknya dalam keadaan perut
kosong disertai pemberian 30 gram MgSO4 . Kontraindikasi obat ini pada
pasien alkoholisme, kelainan pencernaan, dan konstipasi.

15

Bephenium hydroxynaphthoate (alcopar), merupakan obat pilihan


utama yang baik untuk pengobatan massal. Dosis tunggal 5 gram perhari
dan perlu puasa minimal 2 jam.
Thiabendazole (Mintezol), diberikan dengan dosis 25 mg/kgBB, 2
kali/hari.
Mebendazole (Vermox), dosis 2 x 100 mg/hari selama 3 hari berturutturut. Kontraindikasi anak < 6 bulan, kehamilan trimester pertama. Efek
samping gangguan saluran cerna, sakit kepala, pusing.
Pirantel pamoat (Combantrin), cukup efektif dan toksisitasnya rendah,
dosis tunggal 10 mg/kgBB. Kontraindikasi pada ibu menyusui, kehamilan
trimester pertama, turunkan dosis pada gangguan hati. Efek samping
gangguan saluran cerna, sakit kepala, pusing, mengantuk dan ruam kulit.
Tretramizole (Ascaridil), dosis tunggal 2,5 mg/kgBB.
Albendazol diberikan dengan dosis tunggal 400 mg. kontraindikasi anak <
6 bulan, pasien dengan ocular cysticercosis, kehamilan trimester pertama.
Dapat diberikan pada ibu menyusui. Efek samping gangguan saluran
cerna, sakit kepala, pusing, serangan kejang dapat terjadi pada pasien
dengan neuro cysticercosis.
Oleh karena sering dijumpai infeksi campuran dengan cacing lain maka
dianjurkan pemberian kombinasi pirantel pamoat dosis tunggal 10 mg/kgBB
dengan mebendazol 100 mg dua kali sehari selama 3 hari berturut-turut.
2.9 Komplikasi
Kerusakan pada kulit akan menyebabkan dermatitis berat terlebih jika
pasien sensitif. Anemia yang berat sering menyebabkan gangguan pertumbuhan
dan mental serta gangguan jantung.
2.10 Prognosis
Dengan pengobatan yang adekuat meskipun telah terjadi komplikasi,
prognosis masih tetap baik.
2.11 Pencegahan
1. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman.
2. Sebelum melakukan persiapan makanan dan hendak makan, tangan dicuci
terlebih dahulu dengan menggunkan sabun dan air mengalir.
3. Bagi yang mengkonsumsi sayuran segar (mentah) sebagai lalapan, hendaklah
dicuci bersih dan disiram lagi dengan air hangat.
4. Menggunakan fasilitas jamban yang memenuhi syarat kesehatan.
5. Tidak membuang feses sembarangan.
16

6. Tidak kontak langsung dengan tanah tanpa menggunakan pelidung diri


(sarung tangan) apalagi dengan tanah yang terkontaminasi feses.
7. Pengobatan masal 6 bulan sekali di daerah endemik atau di daerah yang rawan
infeksi.
DAFTAR PUSTAKA
Ali S.A., Akhtar T., Maqbool A., Hussan A., Ikram S. 2013. Ancylostoma
Duodenale Seperated from Contaminated Soil. International Journal of
Zoology and Research. 3: 27-38.
Brooker Simon, Hotez Peter J., and Bundy Donald A. P. 2008 Hookworm-Related
Anaemia among Pregnant Women: A Systematic ReviewNeglected Tropical
Disease 9:291
Datu Bennett J. D., Gasser Robin B., Nagaraj Shivashankar H., Ong Eng K.,
ODonoghue Peter, McInnes Russell, et al. 2008. Transcriptional Changes in
the Hookworm, Ancylostoma caninum, during the Transition from a FreeLiving to a Parasitic Larva Neglected Tropical Disease 1:130
Friedman Andrew J., Ali Said M., and Albonico Marco. 2012. Safety of a New
Chewable Formulation of Mebendazole for Preventive Chemotherapy
Interventions to Treat Young Children in Countries withModerate-to-High
Prevalence of Soil Transmitted Helminth Infections. Journal of Tropical
Medicine 12:590463
llar Carmen Cue, Wu Wenhui, and Mendez Susana 2009. The Hookworm Tissue
Inhibitor of Metalloproteases (Ac-TMP-1) Modifies Dendritic Cell Function
and Induces Generation of CD4 and CD8 Suppressor T Cells Neglected
Tropical Disease 5:439
Jonker Femkje A. M., Calis Job C. J., Phiri Kamija, Brienen Eric A. T., Khoffi
Harriet,

Brabin Bernard J., et al. 2012. Real-time PCR Demonstrates

Ancylostoma duodenale Is a Key Factor in the Etiology of Severe Anemia


and Iron Deficiency in Malawian Pre-school Children Neglected Tropical
Disease 3:1555
Le Joncour A., Lacour S.A, Lecso G., Regnier S., Guillot J., and Caumes E. 2012.
Case Report: Molecular Characterization of Ancylostoma braziliense Larvae

17

in a Patient with Hookworm-Related Cutaneous Larva Migrans. Am. J. Trop.


Med. Hyg. 86(5): 843845.
Mulvenna Jason, Hamilton Brett, Nagaraj Shivashankar H., Smyth Danielle,
Loukas Alex, and Gorman Jeffrey J. 2009. Proteomics Analysis of the
Excretory/Secretory Component of the Blood-feeding Stage of the
Hookworm, Ancylostoma caninum The American Society for Biochemistry
and Molecular Biology:Molecular & Cellular Proteomics 8.1 pp 109-121
Mansyoer, A. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I, Ankilostoma. Jakarta;
Media Aesculapius FK UI.
Price SA, Wilson LM. Patofisiologi : Konsep klinis proses-proses penyakit. ed.6.
vol.1. cet.1.Jakarta:EGC;2006.p.272-277.
Shaw J.G., Aggarwal N., Acosta L.P., Jiz M.A., Wei Wu H., Leenstra T., et al.
2010. Reduction in Hookworm Infection after Praziquantel Treatment among
Children and Young Adults in Leyte, the Philippines. Am. J. Trop. Med. Hyg.
83(2): 416421.
Soukhathammavong Phonepasong

Aye,

Sayasone

Somphou,

Phongluxa

Khampheng, Xayaseng Vilavanh, Utzinger Ju rg, Vounatsou Penelope, et al.


2012. Low Efficacy of Single-Dose Albendazole and Mebendazole against
Hookworm and Effect on Concomitant Helminth Infection in Lao PDR
Neglected Tropical Disease 1:1417
Tritten Lucienne, Silbereisen Angelika, and Keiser Jennifer 2011. In Vitro and In
Vivo Efficacy of Monepantel (AAD 1566) against Laboratory Models of
Human Intestinal Nematode Infections Neglected Tropical Disease 12:1457
W. Sudoyo dkk, Aru. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Cetakan I
November 2009. Jakarta;PAPDI
Wang Zhengyuan, Abubucker Sahar, Martin John, Wilson Richard K, Hawdon
John and Mitreva Makedonka. 2010. Characterizing Ancylostoma caninum
transcriptome and exploring nematode parasitic adaptation BMC Genomics,
11:307

18