Anda di halaman 1dari 3

Sekedar Basa Basi

30. Jan, 2016

Menyikapi Sistem Student Cetered Learning (SCL)


Apa yang ada dibenak anda jika saya menyebutkan sistem pendidikan Student
Centered Learning (SCL) ??
Student Centered Learning (SCL) adalah proses pembelajaran atau strategi
pembelajaran dimana siswa atau mahasiswa (peserta didik) menjadi titik pusat dalam
proses pembelajaran, dimana dalam hal ini peserta didiklah yang berperan aktif dalam
hal menemukan, mengkaji, dan menyampaikan apa yang menjadi pokok pembelajaran
dalam proses pembelajaran tersebut. Jadi dalam hal ini guru ataupun dosen hanya
berperan dalam hal fasilitator dan motivator kepada peserta didik.
Menurut pengamatan, model pembelajaran ini sangat ampuh dan efektif diterapkan
pada era sekarang, karena peserta didik akan bisa berinovasi, berkreasi, dan bebas
dalam hal menetukan sumber pengetahuan, cara menyikapi dan menerapkannya. Kita
ketahui bersama bahwa konsep inilah yang telah banyak dipakai diberbagai sekolah
bahkan perguruan tinggi di Indonesia dan telah meninggalkan konsep Teacher
Centered Learning (TCL) dimana proses pembelajaran ini berpusat pada guru atau
dosen sebagai pemberi informasi pengetahuan kepada peserta didiknya.
Apakah sistem SCL tepat digunakan kepada peserta didik Indonesia ???
Menurut saya, apapun namanya entahlah itu sebuah sistem, konsep, ataupun metode,
kita harus menitik beratkan pada hasil ataupun GOAL yang harus dicapai dan bukan
hanya itu saja tetapi apakah peserta didik mampu menerapkan sistem ini, karena
sebagus dan seideal apapun sistemnya jika subjek yang menjalankan sistem ini tidak
mampu menjalankannya tetap saja tidak akan mencapai tujuan yang diinginkan.
Sekarang coba kita lihat siapakah yang menjadi subjek-subjek dalam sistem SCL ini ??
1. Peserta Didik
Dalam sistem SCL, peserta didik merupakan hal utama pencapaian tujuan dalam
sistem ini. Sebelum menerapkan sistem Student Centered Learning, Indonesia telah
lama menerapkan sistem Teacher Centered Learning bahkan jauh sebelum Indonesia
merdeka, dan kita ketahui bersama bahwa sistem Teacher Centered Learning ini
merupakan sistem dimana guru atau dosen sebagai pusat pemberi informasi
pengetahuan dan peserta didik menerima secara pasif apa yang disampaikan oleh guru

atau dosen tersebut. Hal ini tentu yang membangun karakter peserta didik Indonesia
menjadi PASIF dalam hal menerima informasi pengetahuan. Sudah menjadi karakter
peserta didik Indonesia yang harus terus diSUAPI pengetahuan (pasif) agar
mengetahuinya dan jika dibenturkan dengan sistem SCL terhadap karakter peserta
didik Indonesia yang PASIF tentu sistem ini tidak akan berjalan dengan semestinya.
Kita lihat hasilnya sekarang, apakah dengan diterapkannya sistem SCL peserta didik
telah mampu mencari sumber informasi pengetahuannya sendiri..??? dan jawabannya
hanya sedikit peserta didik yang mampu menerapkan sistem ini sementara sebagian
besar peserta didik lebih MALAS untuk mencari sumber pengetahuannya sendiri karena
sudah menjadi KARAKTER PESERTA DIDIK INDONESIA YANG PASIF akibat dari
sistem Teacher Centered Learning (TCL).
2. Guru / Dosen
Indikator yang kedua ini kita akan membahas siapa yang berperan dalam hal fasilitator
dan motivator dalam sistem SCL ini. Ada pepatah yang mengatakan "Guru kencing
berdiri dan murid kencing berlari", saya rasa pepatah ini sudah tidak tepat lagi
digunakan jika sistem pendidikan kita sudah menerapkan sistem SCL, karena guru
ataupun dosen bukan lagi sumber informasi pengetahuan justru mereka hanya
berperan sebagai pengantar, penunjuk, dan pengarah peserta didik dalam hal mencari
informasi pengetahuannya sendiri. Jadi MAU atau TIDAKnya, TAHU atau TIDAKnya
peserta didik dalam hal pengetahuannya, guru ataupun dosen sudah tidak dapat lagi
dipersalahkan, karena semua kembali kepada peserta didik tersebut dalam hal mencari
sumber informasi pengetahuannya.
Sebenarnya hal di atas bukan menjadi permasalahan buat saya, yang menjadi
permasalahannya adalah, apakah sistem SCL ini sudah mampu diterapkan dengan
benar oleh guru atau dosennya? apakah guru ataupun dosen sudah mampu
berinteraksi sesuai dengan perannya? Jika kita melihat dalam sistem SCL, proses
belajar mengajar tidak sesuai yang diharapkan oleh peserta didik untuk memperoleh
pengetahuannya, karena pada umumnya guru ataupun dosen hanya berperan dalam
hal memberikan pokok bahasan pembelajaran tanpa mengarahkan KEMANA HARUS
MENCARI POKOK BAHASAN TERSEBUT, dan yang saya takutkan guru ataupun
dosen akan merasa tidak mempunyai tanggung jawab yang lebih terhadap peserta didik
dalam hal mencari sumber informasinya sendiri karena sistem SCL, guru ataupun
dosen hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator saja. Hal aneh lainnya dalam
sistem SCL ini, masih saja ada guru ataupun dosen yang masih menerapkan metode
TCL dalam sistem pendidikan SCL, dimana guru atau dosen sebagai pusat informasi

pengetahuan. Hal inilah yang menurut saya tidak akan tersinkron atau berhubungan
antara guru atau dosen dengan peserta didik yang sama-sama tidak memahami sistem
SCL ini.
2 Indikator di atas menjadi tolak ukur saya mengapa sistem pendidikan Student
Centered Learning (SCL) belum tepat diterapkan di era sekarang ini di INDONESIA,
karena untuk menerapkan sistem ini hal pertama yang harus dilakukan adalah
mengubah terlebih dahulu karakter peserta didik indonesia yang sebagian besar selalu
ingin diSUAPI dengan pengetahuan dan MALAS mencari sendiri sumber pengetahuan
tersebut, serta harus mengubah pandangan guru atau dosen tentang perannya dalam
sistem SCL serta harus mampu menerapkan dengan benar sistem SCL ini.....