Anda di halaman 1dari 7

1.

Business judgment rule melindungi direksi atas setiap keputusan bisnis


yang merupakan transaksi perseroan, selama hal tersebut dilakukan
dalam batas-batas kewenangan dengan penuh kehati-hatian dan itikad
baik.
Secara umum prinsip business Judgment Rule dianut dalam UndangUndang No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, sebagaimana
dinyatakan dalam Pasal 97 UUPT 40 Tahun 2007 yaitu:
(1)Direksi bertanggung jawab atas pengurusan Perseroan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 92 ayat (1).
(2)Pengurusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib dilaksanakan
setiap anggota Direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab.
(3)Setiap anggota Direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi atas
kerugian Perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai
menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan sebagaiamana dimaksud
pada ayat (2).
(4)Dalam hal Direksi terdiri dari 2 (dua) anggota Direksi atau lebih,
tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berlaku secara
tanggung renteng bagi setiap anggota Direksi.
(5)Anggota Direksi tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) apabila dapat membuktikan:
a.Kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
b.Telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk
kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;
c.Tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak
langsung atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian; dan
d.Telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya
kerugian tersebut.
2. Ultra Vires Jika sebuah perusahaan melalui organ perusahaan tersebut
melakukan perbuatan diluar kewenangan atau melampaui kewenangan
atau cakupan bidang usaha yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar
perusahaan atau badan hukum yang dimaksud, maka perusahaan
tersebut dikategorikan telah melakukan perbuatan yang dimaksud sebagai
ultra vires. Dengan demikian doktrin ultra vires menegaskan bahwa
Perseroan tidak dapat melakukan kegiatan diluar apa yang diamanatkan
dalam Anggaran Dasar Perseroan tersebut(intra vires) Pengaturan normanorma ultra vires dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
(UUPT) dapat ditemukan dalam pembatasan kewenangan yang diberikan
pada organ-organ Perseroan. Bahwa yang dimaksud organ dalam
Perseroan Terbatas dalam undang-undang yaitu Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS), Direksi dan Dewan Komisaris vide Pasal 1 angka 2 UUPT.
(Undang undang No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas)
UUPT tidak menjelaskan secara tegas, meskipun mengisyaratkan
berlakunya Doktrin Ultra Vires ditinjau dari anggaran dasar yang diawasi
oleh departemen pemerintah. UUPT menempatkan maksud dan tujuan
perseroan pada posisi yang penting. (Vide Pasal 15, 19, 29, 30, 21 ayat 1,
21 ayat 4, dan pasal 8
2. Modal dasar adalah seluruh nilai nominal saham Perseroan yang disebut
dalam Anggaran Dasar. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 31 ayat (1) UUPT,
di mana modal dasar terdiri atas seluruh nilai nominal saham. Modal dasar
perseroan pada prinsipnya merupakan total jumlah saham yang dapat

diterbitkan oleh Perseroan. Total Modal dasar inilah dijadikan penilaian


suatu perseroan terbatas yang digolongkan dalam kategori tertentu, yaitu
Apakah merupakan Perseroan Terbatas dalam skala kecil, menengah atau
besar
Modal Ditempatkan/Issued Capital adalah kesanggupan para pemegang
saham untuk menanamkan modalnya di perseroan. Jika para pemegang
saham hanya sanggup memasukkan modalnya sebesar 35% dari modal
dasar, maka modal ditempatkan perusahaan tersebut adalah 35%. Seperti
halnya modal dasar. Modal ditempatkan bukanlah modal yang riil karena
modal tersebut belum benar-benar disetorkan. Modal ditempatkan hanya
menunjukkan kesanggupan pemegang saham, yaitu sampai seberapa
banyak para pemegang saham dapat menanamkan modalnya kedalam
perseroan.
Modal disetor adalah modal Perseroan yang dianggap riil karena telah
benar-benar disetor kedalam PT. Dalam hal ini, para pemegang saham
telah benar-benar menyetorkan modalnya kedalam perusahaan. Besarnya
modal disetor, menurut UUPT sebesar modal ditempatkan, paling sedikit
25% dari modal dasar harus ditempatkan dan disetor penuh (pasal 33 ayat
1 UUPT). Penyetoran itu dibuktikan dengan bukti penyetoran yang sah,
misalnya bukti penyetoran yang sah, misalnya bukti pemasukan uang dari
pemegang saham kedalam rekening bank perseroan.
3. Ketika perubahan anggaran dasar (AD) dilakukan, perubahan tersebut
harus dimuat atau dinyatakan dalam akta notaris dalam bahasa Indonesia
(Pasal 21 ayat [4] UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
UUPT). Jika perubahan AD tidak dimuat dalam akta berita acara rapat
yang dibuat notaris, perubahan AD tersebut harus dinyatakan dalam akta
notaris paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal
keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) (Pasal 21 ayat [5]
UUPT).
Hal yang sama ditegaskan dalam Pasal 8 Peraturan Menteri Hukum dan
HAM No. M.HH-01.01 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengajuan
Permohonan Pengesahan Badan Hukum dan Persetujuan Perubahan
Anggaran Dasar Serta Penyampaian Pemberitahuan Perubahan Anggaran
Dasar dan Perubahan Data Perseroan Terbatas.
Jadi, untuk setiap perubahan AD harus dibuat akta perubahan AD oleh
notaris. Akta ini merupakan akta baru yang memuat perubahan dari AD
terdahulu. Merubah maksud dan tujuan
4. Yang dapat diangkat menjadi anggota direksi adalah orang perseorangan
yang cakap melakukan perbuatan hukum, kecuali dalam waktu 5 (lima)
tahun sebelum pengakatannya pernah:
a) dinyatakan pailit;
b) menjadi anggota direksi atau anggota dewan komisaris yang
dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit; atau
c) dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan
negara dan/atau yang berkaitan dengan sektor keuangan. Yang dimaksud
dengan sektor keuangan, antara lain lembaga keuangan bank dan non-

bank, pasar modal dan sektor lain yang berkaitan dengan penghimpunan
dan pengelolaan dana masyarakat.
Anggota direksi diangkat oleh RUPS. Untuk pertama kali pengangkatan
anggota direksi dilakukan oleh pendiri dalam akta pendirian. Anggota
direksi diangkat untuk jangka waktu tertentu dan dapat diangkat kembali.
Anggaran dasar mengatur tata cara pengangkatan, penggantian, dan atau
pemberhentian anggota direksi dan dapat juga mengatur tentang tata
cara pencalonan anggota direksi. Keputusan RUPS mengenai
pengangkatan, penggantian dan pemberhentian anggota direksi juga
menetapkan saat mulai berlakunya pengangkatan, penggantian dan
pemberhentian tersebut. Apabila RUPS tidak menetapkan saat mulai
berlakunya pengangkatan, penggantian dan pemberhentian anggota
direksi tersebut mulai berlaku sejak ditutupnya RUPS.
Apabila terjadi pengangkatan, penggantian dan pemberhentian anggota
direksi, maka direksi wajib memberitahukan perubahan anggota direksi
kepada menteri hukum dan HAM untuk dicatat dalam daftar perseroan
dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak
tanggal keputusan RUPS tersebut. Jika pemberitahuan tersebut belum
dilakukan, maka menteri hukum dan HAM menolak setiap permohonan
yang diajukan atau pemberitahuan yang disampaikan kepada menteri
hukum dan HAM yang belum tercatat dalam daftar perseroan.
Pemberitahuan yang dimaksud tidak termasuk pemberitahuan yang
disampaikan oleh direksi atas pengangkatannya sendiri.
5. Mengenai hal ini kita dapat merujuk pada ketentuan Pasal 106 UUPT yang
menyatakan bahwa Dewan Komisaris dapat memberhentikan sementara
anggota Direksi dengan menyebutkan alasan dan diberitahukan secara
tertulis kepada anggota Direksi yang bersangkutan. Bunyi selengkapnya
Pasal 106 UUPT adalah sebagai berikut:(1) Anggota Direksi dapat
diberhentikan untuk sementara oleh Dewan Komisaris dengan
menyebutkan alasannya.(2) Pemberhentian sementara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diberitahukan secara tertulis kepada anggota
Direksi yang bersangkutan.(3) Anggota Direksi yang diberhentikan
sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berwenang
melakukan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 ayat (1) dan
Pasal 98 ayat (1).(4) Dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh)
hari setelah tanggal pemberhentian sementara harus diselenggarakan
RUPS.(5) Dalam RUPS sebagaimana dimaksud pada ayat (4) anggota
Direksi yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri.(6)
RUPS mencabut atau menguatkan keputusan pemberhentian sementara
tersebut.(7) Dalam hal RUPS menguatkan keputusan pemberhentian
sementara, anggota Direksi yang bersangkutan diberhentikan untuk
seterusnya.(8) Dalam hal jangka waktu 30 (tiga puluh) hari telah lewat
RUPS sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak diselenggarakan, atau
RUPS tidak dapat mengambil keputusan, pemberhentian sementara
tersebut menjadi batal.(9) Bagi Perseroan Terbuka penyelenggaraan RUPS
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (8) berlaku ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.Berdasarkan
ketentuan Pasal 106 UUPT dapat diketahui bahwa Dewan Komisaris dapat
memberhentikan sementara anggota Direksi dan keputusan selanjutnya

diserahkan pada RUPS. Keputusan RUPS dapat menguatkan atau


membatalkan keputusan pemberhentian sementara

6. A. Memenuhi syarat-syarat penggabungan


Syarat umum penggabungan ini diatur dalam Pasal 126 UU No. 40 Tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) jo. Pasal 4 ayat (1) PP No. 27
Tahun 1998 tentang Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan
Perseroan Terbatas (PP 27/1998) bahwa perbuatan hukum
Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan, atau Pemisahan wajib
memperhatikan kepentingan:
a) Perseroan, pemegang saham minoritas, karyawan Perseroan;
b) kreditor dan mitra usaha lainnya dari Perseroan; dan
c) masyarakat dan persaingan sehat dalam melakukan usaha.
Dalam buku Hukum Perseroan Terbatas, M. Yahya harahap, S.H (hal.
486) menyatakan bahwa syarat-syarat tersebut bersifat kumulatif,
sehingga satu saja di antaranya dilanggar, mengakibatkan perbuatan
hukum penggabungan tidak dapat dilaksanakan.
Lebih lanjut, Yahya harahapmenambahkan bahwa selain syarat tersebut,
Pasal 123 ayat (4) UUPT menambah satu lagi syarat bagi Perseroan
tertentu yang akan melakukan penggabungan syaratnya, perlu mendapat
persetujuan dari instansi terkait. Menurut penjelasan pasal ini, yang
dimaksud Perseroan tertentu yang memerlukan persyaratan persetujuan
dari instansi terkait adalah Perseroan yang mempunyai bidang usaha
khusus. Antara lain lembaga keuangan bank dan yang non-bank. Sedang
yang dimaksud dengan instansi terkait, antara lain Bank Indonesia (BI)
untuk penggabungan perseroan perbankan.
B.

Menyusun rancangan penggabungan

Setelah memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, Perseroan harus


menyusun rancangan penggabungan. Rancangan penggabungan ini diatur
dalam Pasal 123 UUPT jo Pasal 7 PP 27/1998:
1. Direksi perseroan yang akan menggabungkan diri dan yang menerima
penggabungan menyusun rancangan penggabungan;
2. Rancangan penggabungan harus memuat sekurang-kurangnya:
a)
nama dan tempat kedudukan dari setiap Perseroan yang akan
melakukan Penggabungan;
b)
alasan serta penjelasan Direksi Perseroan yang akan melakukan
Penggabungan dan persyaratan Penggabungan;
c)
tata cara penilaian dan konversi saham Perseroan yang
menggabungkan diri terhadap saham Perseroan yang menerima
Penggabungan;
d)
rancangan perubahan anggaran dasar Perseroan yang menerima
Penggabungan apabila ada;

e)
laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (2)
huruf a yang meliputi 3 (tiga) tahun buku terakhir dari setiap Perseroan
yang akan melakukan Penggabungan;
f)
rencana kelanjutan atau pengakhiran kegiatan usaha dari Perseroan
yang akan melakukan Penggabungan;
g)
neraca proforma Perseroan yang menerima Penggabungan sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia;
h)
cara penyelesaian status, hak dan kewajiban anggota Direksi, Dewan
Komisaris, dan karyawan Perseroan yang akan melakukan Penggabungan
diri;
i)
cara penyelesaian hak dan kewajiban Perseroan yang akan
menggabungkan diri terhadap pihak ketiga;
j)
cara penyelesaian hak pemegang saham yang tidak setuju terhadap
Penggabungan Perseroan;
k)
nama anggota Direksi dan Dewan Komisaris serta gaji, honorarium
dan tunjangan bagi anggota Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan yang
menerima Penggabungan;
l)
perkiraan jangka waktu pelaksanaan Penggabungan;
m) laporan mengenai keadaan, perkembangan, dan hasil yang dicapai
dari setiap Perseroan yang akan melakukan Penggabungan;
n)
kegiatan utama setiap Perseroan yang melakukan Penggabungan dan
perubahan yang terjadi selama tahun buku yang sedang berjalan; dan
o)
rincian masalah yang timbul selama tahun buku yang sedang
berjalan yang mempengaruhi kegiatan Perseroan yang akan melakukan
Penggabungan.3.
Kemudian terhadap rancangan penggabungan
tersebut dimintakan persetujuan kepada Dewan Komisaris dari setiap
perseroan yang menggabungkan diri.
C.
Penggabungan disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS)
Setelah rancangan penggabungan disetujui oleh Dewan Komisaris dari
masing-masing perseroan yang menggabungkan diri, kemudian rancangan
tersebut harus diajukan kepada RUPS masing-masing perseroan untuk
mendapat persetujuan.
Pasal 87 ayat (1) UUPT mensyaratkan bahwa keputusan RUPS diambil
berdasarkan musyawarah untuk mufakat. Mengutip yang disampaikan
Yahya Harahap (hal. 491), penjelasan pasal ini mengatakan, yang
dimaksud dengan musyawarah untuk mufakat adalah hasil kesepakatan
yang disetujui oleh pemegang saham yang hadir atau diwakili dalam
RUPS.
Ketentuan mengenai RUPS ini dapat juga kita temui dalam Pasal 89 ayat
(1) UUPT yang menyatakan bahwa RUPS untuk menyetujui Penggabungan
dapat dilangsungkan jika dalam rapat paling sedikit 3/4 (tiga perempat)
bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara hadir atau diwakili
dalam RUPS dan keputusan adalah sah jika disetujui paling sedikit 3/4
(tiga perempat) bagian dari jumlah suara yang dikeluarkan, kecuali
anggaran dasar menentukan kuorum kehadiran dan/atau ketentuan
tentang persyaratan pengambilan keputusan RUPS yang lebih besar.
Sehubungan dengan itu, cara mengambil keputusan RUPS dalam rangka
penggabungan perseroan yang harus diterapkan dan ditegakkan (Hukum
Perseroan Terbatas, M. Yahya Harahap, S.H., hal. 491):

1. Prioritas pertama, didahulukan dan diupayakan keputusan diambil


dengan cara musyawarah untuk mufakat, sehingga dapat menghasilkan
keputusan RUPS yang disetujui bersama oleh pemegang saham yang
hadir atau diwakili dalam RUPS;
2. Namun, apabila gagal mengambil keputusan dengan cara musyawarah
untuk mufakat yang digariskan Pasal 87 ayat [1] UUPT dimaksud, baru
diterapkan dan ditegakkan ketentuan yang ditetapkan Pasal 89 ayat [1]
UUPT, yakni keputusan RUPS sah apabila disetujui paling sedikit (tiga
perempat) bagi dari jumlah suara yang dikeluarkan.
Jika RUPS pertama tidak mencapai atau gagal mencapai kuorum, dapat
diadakan RUPS kedua dengan kuorum kehadiran paling sedikit:

2/3 (dua pertiga) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak
suara, hadir atau diwakili dalam RUPS;

Sedang keputusan sah jika disetujui paling sedikit (tiga perempat)


bagian dari jumlah suara yang dikeluarkan.Sekiranya RUPS kedua ini gagal
karena tidak mencapai kuorum, dapat lagi diadakan RUPS ketiga dengan
jalan perseroan mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri
agar ditetapkan kuorum RUPS ketiga (lihat Pasal 86 ayat [5] UUPT).
D.
Pembuatan akta penggabungan
Setelah masing-masing RUPS menyetujui rancangan penggabungan yang
diajukan, maka rancangan penggabungan dituangkan dalam sebuah Akta
Penggabungan (lihat Pasal 128 ayat [1] UUPT) yang dibuat:

di hadapan notaris; dan

dalam Bahasa Indonesia.


Kemudian salinan akta penggabungan tersebut dilampirkan untuk
menyampaikan pemberitahuan penggabungan kepada Menteri Hukum
dan HAM (Menteri) (lihat Pasal 21 ayat [3] UUPT) untuk dicatat dalam
daftar perseroan.
Apabila terdapat perubahan terhadap Anggaran Dasar (AD)
sebagaimana diatur dalam Pasal 21 ayat (1) UUPT maka perlu adanya
persetujuan dari Menteri. Untuk itu perlu mengajukan permohonan untuk
mendapat persetujuan Menteri atas penggabungan dengan perubahan
AD. Lebih jauh simak Haruskah Merger dan Akuisisi Disetujui Menteri?
E. Pengumuman hasil penggabungan
Pasal 133 ayat (1) UUPT mensyaratkan bagi Direksi perseroan yang
menerima penggabungan wajib mengumumkan hasil penggabungan
dengan cara:
Pengumuman dimaksudkan agar pihak ketiga yang berkepentingan
mengetahui bahwa telah dilakukan Penggabungan, Peleburan, atau
Pengambilalihan. Dalam hal ini pengumuman wajib dilakukan dalam
jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal:
a) persetujuan Menteri atas perubahan anggaran dasar dalam hal terjadi
Penggabungan;
b) pemberitahuan diterima Menteri baik dalam hal terjadi perubahan
anggaran dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (3)(lihat
Penjelasan Pasal 133 UUPT).
7. Pelaksanaan RUPS harus didahului dengan pemanggilan RUPS. Direksi
menyelenggarakan RUPS tahunan dan RUPS lainnya dengan didahului
pemanggilan RUPS. Direksi melakukan pemanggilan kepada pemegang

saham sebelum menyelenggarakan RUPS. Dalam hal tertentu,


pemanggilan RUPS dapat dilakukan oleh Dewan Komisaris atau pemegang
saham berdasarkan penetapan ketua pengadilan negeri. Penyelenggaraan
RUPS dapat dilakukan atas permintaan :
a.1 (satu) orang atau lebih pemegang saham yang bersama-sama
mewakili 1/10 (satu persepuluh) atau lebih dari jumlah seluruh saham
dengan hak suara, kecuali Anggaran Dasar menentukan suatu jumlah
yang lebih kecil ; atau
b.Dewan Komisaris. Yang diajukan kepada Direksi dengan surat tercatat
disertai dengan alasannya. Dalam hal permintaan datang dari pemegang
saham, maka surat tercatat tersebut tembusannya disampaikan kepada
Dewan Komisaris.
Bagi perseroan terbuka, sebelum pemanggilan RUPS dilakukan wajib
didahului dengan pengumuman mengenai akan diadakan pemanggilan
RUPS dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan di bidang
pasar modal. Pengumuman dilakukan dalam jangka waktu paling lambat
14 (empat belas) hari sebelum pemanggilan RUPS. Direksi wajib
melakukan pemanggilan RUPS dalam jangka waktu paling lambat 15 (lima
belas) hari terhitung sejak tanggal permintaan penyelenggaraan RUPS
diterima. Dalam hal Direksi tidak melakukan pemanggilan RUPS, maka :
a.dalam hal permintaan penyelenggaraan RUPS dilakukan oleh pemegang
saham, maka harus diajukan kembali kepada Dewan Komisaris ; atau
b.dalam hal permintaan dilakukan oleh Dewan Komisaris, maka Dewan
Komisaris melakukan pemanggilan sendiri RUPS.
Dewan Komisaris melakukan pemanggilan RUPS dalam jangka waktu
paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung sejak tanggal permintaan
penyelenggaraan RUPS diterima.
8.Merger adalah proses difusi atau penggabungan dua perseroan dengan
salah satu di antaranya tetap berdiri dengan nama perseroannya
sementara yang lain lenyap dengan segala nama dan kekayaannya
dimasukan dalam perseroan yang tetap berdiri tersebut.
Konsolidasi adalah dua buah perusahaan yang bergabung bubar demi
hokum dan sebagai gantinya didirikan suatu perusahaan dengan nama
yang baru meskipun secara financial perusahaan baru tersebut
mengambil alih asset hak dan kewajiban dari 2 perusahaan yang bubar
tersebut.
Akuisisi / pengambil alihan : pengambilan kepemilikan atau pengendalian
atas saham atau asset suatu perusahaan oleh perusahaan lain, dan dalam
peristiwa ini baik perusahaan pengambilalih atau yang diambil alih tetap
eksis sebagai badan hukum yang terpisah.
9. PT bubar bisa karena keputusan RUPS, jangka waktu PT yg ditetapkan
dalam AD telah berakhir, pailit dan harta pailit tidak cukup membayar
biaya pailit, dicabutnya izin usaha PT, melakukan konsolidasi atau merger