Anda di halaman 1dari 14

A.

Latar Belakang
Modal merupakan aspek penting dalam aktivitas ekonomi. Tidak ada
aktivitas usaha atau perekonomian yang dijalankan tanpa menggunakan modal,
baik berbentuk nominal uang maupun benda bergerak dan/atau tidak bergerak.
Termasuk kegiatan usaha suatu perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas. Modal
secara klasik adalah hasil produksi yang digunakan untuk memproduksi lebih
lanjut. Disamping itu pengertian modal menurut beberapa penulis diantaranya
Litge mengartikan modal hanyalah dalam arti hanya uang. Kemudian pendapat
yang lainnya Schwiedland menurut beliau modal meliputi baik modal dalam
bentuk uang, maupun dalam bentuk barang misalnya mesin, barang-barang
dagang dan sebagainya. Namun menurut Prof. Bakker berpendapat modal adalah
baik barang-barang berupa barang-barang konkret yang masih ada dalam rumah
tangga perusahaan yang ada pada neraca sebelah debit maupun berupa daya beli
atau nilai tukar dari abrang-barang itu yang tercatat disebelah kredit. Dari
pengertian beliau tadi modal dapat dibagi menjadi 2 bagian yakni modal aktif dan
modal pasif, modal aktif adalah modal yang tertera disebelah debit neraca yang
menggambarkan bentuk-bentuk dalam mana seluruh dana yang diperoleh
perusahaan ditanamkan , sedangakan pengertian modal pasif ialah modal yang
tertera disebelah kredit dari neraca yang menggambarkan sumber-sumber dari
mana dana diperoleh.
Modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang
ditunjukkan dalam pos modal (modal saham) surplus dan laba yang ditahan, atau
kelebihan nilai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap seluruh hutanghutangnya (Munawir,2001:19). Perusahaan pada dasarnya membutuhkan modal
yang cukup dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Tanpa adanya modal
aktivitas usaha tidak dapat dijalankan. Menurut Sudarsono dan Edilius (1994:169)
modal merupakan barang-barang yang kongkrit yang masih ada dalam rumah
tangga perusahaan yang terdapat di neraca sebelah debet maupun berupa daya beli
atau nilai tukar dari barang-barang itu yang tercatat disebelah kredit. Modal
tersebut berasal dari kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.

Modal mempunyai peranan yang sangat penting bagi perusahaan, karena


modal digunakan untuk membelanjai operasional sehari-hari perusahaan secara
langsung dan kontinu, berputar selama perusahaan tersebut beroperasi sesuai
dengan tujuannya memperoleh keuntungan. Untuk dapat menghindari bahaya
adanya krisis keuangan ataupun kelebihan dana, perusahaan perlu mengatur
penggunaan modalnya dengan seekonomis dan seefisien mungkin sehingga
terciptakesesuaian antara kebutuhan dan jumlah dana yang tersedia.
Penggunaan modal yang dilaksanakan secara efisien berarti bahwa setiap
jumlah yang tertanam dalam modal aktif dan modal pasif harus dapat digunakan
sebaik mungkin untuk menghasilkan tingkat keuntungan investasi, karena
efisiensi penggunaan modal secara langsung akan menentukan besar kecilnya
tingkat keuntungan yang dihasilkan dari investasi tersebut. Perusahaan pada
umumnya sangat memperhatikan masalah laba atau keuntungan.
Hal ini sangat penting agar perusahaan dapat mempertahankan
kelangsungan hidupusahanya. Rentabilitas atau profitability menunjukkan
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Jumlah
keuntungan (laba) yang diperoleh secara teratur serta kecenderungan atau trend
keuntungan yang meningkat merupakan faktor yang sangat penting dalam menilai
rentabilitas atau profitability suatu perusahaan.Rentabilitas sering digunakan
untuk mengukur efisiensi penggunaan modal dalam suatu perusahaan dengan
memperbandingkan antara laba dengan modal yang digunakan dalam operasi,
oleh karena itu keuntungan yang besar tidak menjamin atau bukan merupakan
ukuran bahwa perusahaan itu rendabel. Oleh karena itu bagi manajemen atau
pihak-pihak lain, rentabilitas yang tinggi lebih penting dari pada keuntungan yang
besar (Munawir, 2001:33).
Cara untuk menilai rentabilitas suatu perusahaan adalah bermacam macam
dan tergantung pada laba dan aktiva atau modal mana yang akan diperbandingkan
satu dengan yang lainnya. Secara keseluruhan pengukuran terhadap rentabilitas
perusahaan akan memungkinkan seorang penganalisa untuk mengevaluasi tingkat

earning dalam hubungannya dengan volume penjualan yang menghasilkan laba,


jumlah aktiva dan investasi tertentu dari pemilik perusahaan.

B. PEMBAHASAN

1. Bagaimanakah dan dimanakah modal Perseroan Terbatas diatur?


Modal terdiri dari dua keluarga besar yakni modal aktif dan modal pasif
dimana dalam keluarga masing-masing memiliki anggota masing-masing
diantaranya:
Modal aktif itu terdiri dari :
-

Aktiva Lancar adalah aktiva yang habis dalam satu kali perputaran
dalam proses produksi, biasanya kurang dari satu tahun. Aktiva
lancar adalah aktiva yang dapat diuangkan dalam waktu yang

pendek.
Aktiva Tetap atau Modal tetap adalah Aktiva yang tahan lama
yang tidak atau yang secara berangsur-angsur habis turut serta
dalam proses produksi. Aktiva yang tidak habis dalam proses
produksi

seperti:

Tanah.

Sehingga

tanah

tidak

disusutkan.Sedangkan yang secara berangsur angsur habis adalah


Mesin, Kendaraan, Bangunan, dan peralatan. Aktiva golongan ini
disusutkan, sebagai prestasi yang digunakan dalam proses produksi
selama periode tertentu.
Modal diatur dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang no 40 tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas, menyebutkan bahwa Perseroan adalah badan hukum
yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan
kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan
pelaksananya. Uraian diatas menjelaskan kegiatan Perseroan Terbatas berdasarkan
dan mengandalkan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham. Meskipun
begitu Undang-Undang no 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas tidak
memberikan pengertian atau definisi dari modal secara terperinci. Dalam UndangUndang hanya dijabarkan modal dasar Perseroan terdiri atas seluruh nilai nominal
saham, sebagaimana tercantum pasal 31 ayat 1 Undang-Undang no 40 tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas. Namun ada pengecualian modal dasar yang digunakan
aktivitas Perseroan Terbatas dibidang pasar modal, bisa terdiri atas saham tanpa
4

nominal sebagaimana ketentuan pasal 31 ayat 2 Undang-Undang no 40 tahun


2007 tentang Perseroan Terbatas. Perseroan Terbatas terdapat tiga klasifikasi atau
jenis modal yaitu
-

Modal dasar (authorized capital)


Modal ditempatkan ( Issued Capital )
Modal Disetor ( Paid Up Capital ).

2. Apakah yg dimaksud dengan modal dasar?


Modal dasar adalah seluruh nilai nominal saham Perseroan yang disebut
dalam Anggaran Dasar. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 31 ayat (1) UUPT, di mana
modal dasar terdiri atas seluruh nilai nominal saham. Modal dasar perseroan pada
prinsipnya merupakan total jumlah saham yang dapat diterbitkan oleh Perseroan.
Total Modal dasar inilah dijadikan penilaian suatu perseroan terbatas yang
digolongkan dalam kategori tertentu, yaitu Apakah merupakan Perseroan Terbatas
dalam skala kecil, menengah atau besar.
Modal dasar Perseroan paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah). Paling sedikit 25% (dua puluh lima persen) dari modal dasar sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 32 harus ditempatkan dan disetor penuh. Jelasnya yang
dimaksud dengan modal dasar tersebut tiadalah lain daripada hasil perkalian
antara jumlah saham PT yang ditentukan oleh pendiri dengan nilai nominalnya.
Demikian andaikata ditentukan jumlah sahamnya 1000 dan nilai nominal (pari)
per sahamnya seharga Rp 50.000,- maka modal dasar PT itu menjadi 1000 lembar
x Rp 50.000,- = Rp 50.000.000,-.

Apakah yang dimaksud dengan modal ditempatkan?

Modal Ditempatkan/Issued Capital adalah kesanggupan para pemegang


saham untuk menanamkan modalnya di perseroan. Jika para pemegang saham
hanya sanggup memasukkan modalnya sebesar 35% dari modal dasar, maka
modal ditempatkan perusahaan tersebut adalah 35%. Seperti halnya modal dasar.
Modal ditempatkan bukanlah modal yang riil karena modal tersebut belum benarbenar disetorkan. Modal ditempatkan hanya menunjukkan kesanggupan
pemegang saham, yaitu sampai seberapa banyak para pemegang saham dapat
menanamkan modalnya kedalam perseroan.
3. Apa yang dimaksud dengan modal disetor?
Modal disetor adalah modal Perseroan yang dianggap riil karena telah
benar-benar disetor kedalam PT. Dalam hal ini, para pemegang saham telah benarbenar menyetorkan modalnya kedalam perusahaan. Besarnya modal disetor,
menurut UUPT sebesar modal ditempatkan, paling sedikit 25% dari modal dasar
harus ditempatkan dan disetor penuh (pasal 33 ayat 1 UUPT). Penyetoran itu
dibuktikan dengan bukti penyetoran yang sah, misalnya bukti penyetoran yang
sah, misalnya bukti pemasukan uang dari pemegang saham kedalam rekening
bank perseroan.
4. Bagaimanakah pengecualian modal PT yg bersifat terbuka?
Menurut Pasal 32 ayat 2 Undang-Undang no 40 tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas, minimal modal pendirian Perusahaan Publik atau Perseroan
Terbatas Tbk sekurang-kurangnya modal disetor sebesar Rp 3.000.000.000 ( tiga
milyar rupiah ), sebagaimana ketentuan pasal 1 ayat 22 Undang-Undang no 8
tahun 1995 tentang Pasar Modal yang menyebutkan bahwa Perseroan yang
sahamnya telah dimiliki sekurang-kurangnya oleh 300 (tiga ratus) pemegang
saham dan memiliki modal disetor sekurang-kurangnya Rp3.000.000.000,00 (tiga
miliar rupiah) atau suatu jumlah pemegang saham dan modal disetor yang
ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Sedangkan paling sedikit modal yang
harus ditempatkan dan disetor penuh sebesar 25 % dari modal dasar, sesuai
dengan ketentuan pasal 33 ayat 1 Undang no 40 tahun 2007 tentang Perseroan

Terbatas. Modal ditempatkan dan disetor penuh sebagaimana dimaksud pada ayat
1 dibuktikan dengan bukti penyetoran yang sah, sesuai ketentuan pasal 33 ayat 2
Undang-Undang no 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Bukti sah untuk
penyetoran modal ditempatkan dan disetor antara lain, bukti setoran pemegang
saham ke dalam rekening bank atas nama perseroan berdasarkan audit akuntan
terhadap laporan keuangan atau neraca Perseroan Terbatas.
5. Bagaimana jika penyetoran modal tidak berbentuk uang?
Kebiasaan lalu lintas ekonomi penyetoran modal dalam bentuk cash/uang
tunai. Namun saat pendirian Perseroan Terbatas tidak semua pendiri memiliki
uang tunai sebagai modal yang disetorkan ke Perseroan. Maka harta benda pendiri
perseroan terbatas bisa dijadikan modal, seperti benda bergerak ( contoh
kendaraan bermotor ) atau tidak bergerak (Tanah-Bangunan). Hal ini diatur Pasal
34 ayat 1 Undang-Undang no 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang
memberikan option sebagai berikut Penyetoran atas modal saham dapat dilakukan
dalam bentuk uang dan/atau dalam bentuk lainnya.
Bahwa terkait Penyetoran modal saham dilakukan bentuk lain harus
ditentukan berdasarkan nilai wajar yang ditetapkan sesuai dengan harga pasar atau
oleh ahli yang tidak terafiliasi dengan Perseroan, sebagaimana pasal 34 ayat 2
Undang-Undang no 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Untuk Penyetoran
saham benda tidak bergerak harus diumumkan dalam satu Surat Kabar atau lebih
dalam jangka waktu 14 ( empat belas hari ) setelah akta pendirian ditandatangani
atau setelah Rapat Umum Pemegang Saham/RUPS memutuskan penyetoran
saham tersebut, sebagaimana diatur pasal 34 ayat 3 Undang no 40 tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas.
6. Bagaimanakah teknis PT jika ingin menambah modal ?
Suatu Perseroan Terbatas (Perseroan) dapat meningkatkan modalnya dengan
cara melakukan penambahan modal, yang prosesnya dilakukan berdasarkan atas
persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Menurut Pasal 41 ayat (2)
Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT),

RUPS dapat menyerahkan kewenangan kepada Dewan Komisaris guna


menyetujui pelaksanaan keputusan RUPS tersebut dalam rangka peningkatan
modal Perseroan untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun, dengan catatan
bahwa penyerahan kewenangan tersebut sewaktu-waktu dapat ditarik kembali
oleh RUPS.

1. Penambahan Modal Dasar


Keputusan RUPS untuk melakukan penambahan modal dasar
adalah sah apabila dilakukan dengan memperhatikan persyaratan kuorum
dan jumlah suara setuju untuk perubahan anggaran dasar sesuai dengan
ketentuan dalam UUPT dan/atau anggaran dasar.
2. Penambahan Modal Ditempatkan dan Disetor
Sedangkan keputusan RUPS untuk penambahan modal ditempatkan dan disetor
dalam batas modal dasar adalah sah apabila dilakukan dengan kuorum kehadiran
lebih dari (satu perdua) bagian dari seluruh jumlah saham dengan hak suara,
dan disetujui oleh lebih dari (satu perdua) bagian dari jumlah seluruh suara
yang dikeluarkan, kecuali ditentukan lebih besar dalam anggaran dasar.
Seluruh saham yang dikeluarkan dalam rangka penambahan modal harus
terlebih dahulu ditawarkan kepada setiap pemegang saham seimbang dengan
pemilikan saham untuk klasifikasi saham yang sama. Apabila saham yang
dikeluarkan tersebut merupakan saham yang klasifikasinya belum pernah
dikeluarkan, maka yang berhak membeli terlebih dahulu adalah seluruh pemegang
saham sesuai dengan perimbangan jumlah saham yang dimilikinya. Pasal 43 ayat
(3) UUPT menyebutkan, penawaran terlebih dahulu itu tidak berlaku dalam hal
pengeluaran saham yang ditujukan kepada:
- Karyawan Perseroan;
- Pemegang obligasi atau efek lain yang dapat dikonversikan menjadi saham, yang
telah dikeluarkan dengan persetujuan RUPS; atau

- Dilakukan dalam rangka reorganisasi dan/atau restrukturisasi (penggabungan,


peleburan, pengambilalihan, kompensasi piutang, atau pemisahan) yang telah
disetujui RUPS.
Namun, apabila para pemegang saham yang telah ditawarkan terlebih
dahulu tidak menggunakan haknya untuk membeli dan membayar lunas saham
yang dibeli dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal penawaran,
maka Perseroan dapat menawarkan sisa saham yang tidak diambil itu kepada
pihak ketiga.
7. Apa sajakah jenis modal jika dilihat dari cara mendapatkannya?
a. Modal Asing/ Hutang Jangka Panjang (Long-Term Debt)
Modal asing/ hutang jangka panjang adalah hutang yang jangka waktunya
adalah panjang, umumnya lebih dari sepuluh tahun. Hutang jangka panjang ini
pada umumnya digunakan untuk membelanjai perluasan perusahaan (ekspansi)
atau modernisasi dari perusahaan, karena kebutuhan modal untuk keperluan
tersebut meliputi jumlah yang besar. Jenis atau bentuk- bentuk utama dari utang
jangka panjang ini antara lain:
- Hutang Hipotik (Mortgage) Hutang hipotik adalah bentuk hutang jangka panjang
yang dijamin dengan aktiva tidak bergerak (tanah dan bangunan) kecuali kapal
dengan bunga, jangka waktu dan cara pembayaran tertentu.
- Obligasi. Obligasi adalah sertifikat yang menunjukan pengakuan bahwa
perusahaan meminjam uang dan menyetujui untuk membayarnya kembali dalam
jangka waktu tertentu. Pelunasan atau pembayaran kembali pinjaman obligasi
dapat diambil dari penyusutan aktiva tetap yang dibelanjai dengan pinjaman
obligasi tersebut dan dari keuntungan. Jenis-jenis obligasi antara lain adalah
(Riyanto: 2008) :
- Obligasi biasa (Bonds). Obligasi biasa adalah obligasi yang bunganya tetap
dibayar oleh debitur dalam waktu-waktu tertentu, dengan tidak memandang
apakah debitur memperoleh keuntungan atau tidak. Biasanya kupon (bunga
obligasi) dibayar dua kali setiap tahunnya.
- Obligasi pendapatan (income bonds). Income bonds adalah jenis obligasi dimana
pembayaran bunga hanya dilakukan pada waktu debitur atau perusahaan yang
mengeluarkan surat obligasi tersebut mendapat keuntungan. Tetapi di sini kreditur
memiliki hak kumulatif, artinya apabila pada suatu tahun perusahaan menderita
kerugian sehingga tidak dibayarkan bunga, dan apabila ditahun kemudiannya

perusahaan mendapat keuntungan, maka kreditur berhak untuk menuntut bunga


dari tahun yang tidak dibayar itu.
- Obligasi yang dapat ditukarkan (convertible bonds). Convertible bonds adalah
obligasi yang memberikan kesempatan kepada pemegang surat obligasi tersebut
untuk menukarkannya dengan saham dari perusahaan yang bersangkutan. Dengan
demikian, maka jenis obligasi ini memungkinkan pemegangnya untuk mengubah
statusnya, yaitu dari kreditur menjadi pemilik.
Modal asing/ hutang jangka panjang di lain pihak, merupakan sumber
dana bagi perusahaan yang harus dibayar kembali dalam jangka waktu tertentu.
Semakin lama jangka waktu dan semakin ringannya syarat-syarat pembayaran
kembali hutang tersebut akan mempermudah dan memperluas bagi perusahaan
untuk memdayagunakan sumber dana yang berasal dari modal asing/ hutang
jangka panjang tersebut. Meskipun demikian, hutang tetap harus dibayar kembali
pada waktu yang sudah ditetapkan tanpa memperhatikan kondisi finansial
perusahaan pada saat itu dan harus sudah disertai dengan bunga yang sudah
diperhitungakan sebelumnya.
Dengan demikian, seandainya perusahaan tidak mampu membayar
kembali hutang dan bunganya, maka kreditur dapat memaksa perusahaan untuk
menjual asset yang dijadikan jaminannya. Oleh karena itu, kegagalan untuk
membayar kembali hutang atau bunganya akan mengakibatkan para pemilik
perusahaan kehilangan kontrol terhadap perusahaannya seperti halnya terhadap
sebagian atau keseluruhan modalnya yang ditanamkan dalam perusahaan. Begitu
pula sebaliknya, para krediturpun dapat kehilangan kontrol terhadap sebagian atau
seluruhnya dana/pinjaman dan bunganya, karena segala macam bentuk yang
ditanamkan di dalam perusahaan selalu dihadapkan pada risiko kerugian.
Struktur modal pada dasarnya merupakan suatu pembiayaan permanen
yang terdiri dari modal sendiri dan modal asing, dimana modal sendiri terdiri dari
berbagai jenis saham dan laba ditahan. Penggunaan modal asing akan
menimbulkan beban yang tetap dan besarnya penggunaan modal asing ini
menentukan besarnya leverage keuangan yang digunakan perusahaan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin besar proporsi
modal asing/ hutang jangka panjang dalam struktur modal perusahaan, akan
semakin besar pula risiko kemungkinan terjadinya ketidakmampuan untuk
membayar kembali hutang jangka panjang beserta bunganya pada tanggal jatuh
temponya. Bagi kreditur hal ini berarti bahwa kemungkinan turut serta dana yang
mereka tanamkan di dalam perusahaan untuk dipertaruhkan pada kerugian juga
semakin besar.

10

b. Modal Sendiri (Shareholder Equity)


Modal sendiri adalah modal yang berasal dari pemilik perusahaan dan
yang tertanam dalam perusahaan untuk waktu yang tidak tertentu lamanya
(Riyanto: 2001). Modal sendiri berasal dari sumber intern maupun sumber
extern. Sumber intern di dapat dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan,
sedangkan sumber extern berasal dari modal yang berasal dari pemilik
perusahaan. Modal sendiri juga dapat didefinisikan sebagai dana yang
dipinjam dalam jangka waktu tak terbatas dari para pemegang saham.
Komponen modal sendiri terdiri dari:
-

Modal Saham

Sumber modal sendiri dapat berasal dari dalam perusahaan maupun


luar perusahaan. Sumber dari dalam (internal financing) berasal dari hasil
operasi perusahaan yang berbentuk laba ditahan dan penyusutan.
Sedangkan sumber dari luar (external financing) dapat dalam bentuk
saham biasa atau saham preferen (Husnan: 2000). Saham adalah tanda
bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu PT, dimana modal
saham terdiri dari :
- Saham Biasa (Common Stock)
- Saham Preferen (Preferred Stock); dan
- Saham Preferen Kumulatif (Cummulative Prefered Stock)

Cadangan

Menurut Riyanto (2008) cadangan dimaksudkan sebagai cadangan


yang dibentuk dari keuntungan yang dibentuk oleh perusahaan selama
beberapa waktu yang lampau atau dari tahun yang berjalan (reserve that
are surplus). Tidak semua cadangan termasuk dalam pengertian modal
sendiri. Cadangan yang termasuk dalam modal sendiri antaralain:
- Cadangan Ekspansi;
- Cadangan modal kerja ;
- Cadangan selisih kurs; dan
- Cadangan untuk menampung hal-hal atau kejadian-kejadian yang
tidak diduga sebelumnya.

11

Laba Ditahan

Laba ditahan adalah sisa laba dari keuntungan yang tidak dibayarkan
sebagai deviden. Komponen modal sendiri ini merupakan modal dalam
perusahaan yang dipertaruhkan untuk segala risiko, baik risiko usaha maupun
risiko kerugian-kerugian lainnya. Modal sendiri ini tidak memerlukan adanya
jaminan atau keharusan untuk pembayaran kembali dalam setiap keadaan maupun
tidak adanya kepastian tentang jangka waktu pembayaran kembali modal yang
disetor. Oleh karena itu, tiap-tiap perusahaan harus mempunyai sejumlah
minimum modal yang diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidup
perusahaan. Perubahan atas semua besarnya jumlah modal atau saham perseroan
harus mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan HAM, sesudah itu
didaftarkan dan kemudian diumumkan seperti biasa.

12

C. Kesimpulan
Modal adalah merupakan hal yang paling dasar yg harus dimiliki (dengan
ketentuan UU) oleh setiap orang yang hendak mendirikan perusahaan. Sebab
tanpa adanya modal maka perusahaan tersebut tidak dapat didirikan dan tidak
dapat berjalan. Seperti pengaturan mengenai batas minimal tentang jumlah modal
yg hrs dimiliki oleh suatu orang utk mendirikan perusahaan, yakni 50 juta atau
25% dari modal dasar.
Kemudian bentuk dari modal yg harus disetorkan itu sendiri tidak harus
senantiasa berupa uang, akan tetapi juga bisa berupa jenis lainnya yakni berupa
barang-barang yang bergerak atau barang-barang yang tidak bergerak (seperti
kendaraan atau berupa tanah). Hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Untuk penyetoran dalam hal ini haruslah
diumumkan terlebih dahulu dalam satu surat kabar atau lebih dalam jangka waktu
14 hari setelah akta pendirian atau setelah RUPS.
Modal juga merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang yg
hendak mendirikan perusahaan karena modal tersebut digunakan utk kegiatan
operasional perusahaan sehari-hari dan terus menerus dengan tujuan memperoleh
keuntungan, sehingga suatu perusahaan harus sangat memperhatikan bagaimana
pemanfaatan modal yang telah disetorkan tersebut agar dapat mencukupi
kebutuhan-kebutuhan perusahaan sehari-hari dan terus menerus dengan tetap
memperhatikan keuntungan dari waktu ke waktu berikutnya. Sehingga bisa
dikatakan pengelolaan manajamen yang sangat baik mutlak diperlukan oleh suatu
perusahaan dalam pemanfaatan modal.
Perusahaan dalam memenuhi kebutuhan modal kerja dapat berasal dari
sumber-sumber yang berasal dari modal sendiri, pinjaman jangka pendek dan
pinjaman jangka panjang. Dimana dalam pelaksanaannya perusahaan akan
menggunakan modal sendiri secara maksimal, dan apabila modal yang dimiliki
tidak mencukupi baru menggunakan pinjaman jangka pendek maupun jangka

13

pendek. Akan tetapi untuk memperkecil biaya-biaya yang tidak perlu (bunga
pinjaman) maka diusahakan menggunakan modal sendiri secara maksimal.
Melihat uraian diatas, maka perputaran modal kerja harus dilaksanakan
secara efektif dan efisien dengan memperhatikan tingkat rentabilitas agar
beradadalam tingkat yang diharapkan, sehingga kontinuitas perusahahaan akan
selaludapat dipertahankan. Oleh karena itu, dalam pengelolaan perputaran modal
kerjaakan memberikan pengaruh tingkat rentabilitas terhadap perusahaan.

14