Anda di halaman 1dari 9

1

1. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan kunci untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia (SDM) suatu bangsa, karena bangsa yang mempunyai sumber daya
manusia yang berkualitas akan menjadi bangsa yang maju dalam segala
bidang kehidupan, sebaliknya bangsa yang tidak mengutamakan pendidikan
bagi warga negaranya, maka akan menjadi bangsa yang terbelakang.
Dalam perspektif agama Islam, diwajibkan bagi pemeluknya untuk
belajar (berpendidikan), karena dengan belajar, kedudukan dan derajat
manusia atau hamba akan ditinggikan atau diangkat sehingga menjadi
manusia yang mulia dan bijaksana.
Dalam perspektif filsafat, manusia hendaknya memfungsikan akal (rasio)
sebagai alat untuk memperoleh kebenaran, optimalisasi peran akal tentu
dilakukan melalui proses pendidikan. Segabaimana yang dikatakan Rene
Descartes dengan selogannya cogito ergo sum (aku berfikir maka aku ada),
semakin menegaskan upaya memanusiakan manusia dengan memfungsikan
akalnya melalui pendidikan.
Dalam perspektif Regulasi, Pemerintah menjamin hak atas setiap warga
negara untuk mendapatkan pendidikan, hal ini tercantum pada UUD 1945
Pasal 31 Ayat 2, 3, dan Ayat 4 yang menyatakan bahwa setiap warga negara
berhak mendapat pendidikan, pemerintah mewajibkan setiap warga negara
untuk mengikuti pendidikan dasar dan wajib membiayainya serta pemerintah
minimal mengalokasikan dana pendidikan sebesar 20 persen dari APBN dan

APBD. Melalui instrumen kebijakan yaitu kebijakan fiskal, pemerintah


mengalokasikan dana untuk sektor pendidikan.
Dengan dukungan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN,
diharapkan pelaksanaan pendidikan dan wajib belajar 12 tahun baik yang
menyangkut pembangunan insfrastruktur maupun kualitas dan ketersediaan
tenaga pendidik yang merata disetiap daerah, dan yang lebih prioritas adalah
pembangunan insfrastruktur dan tenaga pendidik di daerah pedalaman dan
perbatasan.
Namun harapan memiliki kualitas pendidikan yang baik dan berkualitas
sampai saat ini masih belum terlaksana dengan baik. Sejak digulirkannya
regulasi alokasi anggaran pendidikan 20 persen dari APBN sampai sekarang,
potret pendidikan Indonesia masih jauh dari kesan ideal yakni terlaksananya
kualitas pendidikan dan tenaga pendidik yang memadai agar pelayanan
pendidikan bisa di akses dan dinikmati oleh segenap masyarakat Indonesia
dari Sabang sampai Merauke.
Indonesia merupakan negara yang mutu pendidikannya masih rendah jika
dibandingkan dengan negara-negara lain bahkan sesama anggota negara
ASEAN pun kualitas SDM bangsa Indonesia masuk dalam peringkat yang
paling rendah. Hal ini terjadi karena pendidikan di Indonesia belum dapat
berfungsi secara maksimal. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia harus
segera diperbaiki agar mampu melahirkan generasi yang memiliki keunggulan
dalam berbagai bidang supaya bangsa Indonesia dapat bersaing dengan

bangsa lain dan agar tidak semakin tertinggal karena arus global yang berjalan
cepat.
Untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia diperlukan sistem
pendidikan yang responsif terhadap perubahan dan tuntutan zaman. Perbaikan
itu dilakukan mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan
pendidikan tinggi. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus menggunakan
sistem pendidikan dan pola kebijakan yang sesuai dengan keadaan Indonesia.
Namun, dalam upaya menyelesaikan kondisi pendidikan perlu kiranya untuk
melakukan studi banding atau melakukan perbandingan system Negara kita
dengan system pendidikan Negara lain dengan maksud untuk mencari sisi
keunggulan dan kelemahan masing-masing system pendidikan yang
diterapkan.
2. PEMBAHASAN
Agar pelaksanaan program wajar 12 tahun dapat berjalan dengan lancar,maka
perlu kita pikirkan hal-hal yang dapat menunjang serta masalah - masalah apa
saja yang akan timbul, mulai darai perencanaan, sosialisasi pada masyarakat,
sampai dengan pelaksanaan dilapangan, itu semua harus terrencana dengan
sebaik-baiknya.
DASAR HUKUM
a) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional.
b) Tap MPR no.9 tahun 2007 Tentang anggaran dana Pendidikan
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Otonomi Daerah.
c) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2007 tentang Pembagian
Kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah Otonom.

d) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional


Nasional Pendidikan.
A. Permasalahan
1) Bagaimana menghitung data sasaran wajar 12 tahun.
2) Bagaimana teknik mensosialisasikan pada masyarakat agar masyarakat
mengetahui tentang program wajar 12 tahun?
3) Bagaimana peran pendidikan formal dalam pelaksanaan wajar 12
tahun?
4) Bagaimana peran pendidikan non formal dalam pelaksanaan wajar 12
tahun?
5) Bagaimana Masalah Pendanaannya dalam penanggulangan orang yang
tidak mampu ?
B. Tujuan
1) Agar program ini dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan target
yang telah ditetapkan yang dituangkan melalui rencana rincian program
yang akan disusun.
2) Dalam rangka upaya meningkatkan sumber daya manusia melalui
wajar 12 tahun.
1. PENDEKATAN SOSIAL
Suatu pendekatan sosial kultural yang harus menjadi bahan
pertimbangan dan bahan kajian yang lebih matang, mempelajari kultur
daerah merupakan suatu strategi awal, dalam mendesain suatu pola
program wilayah yang menjadi ciri suatu daerah. Kabupaten
Tasikmalaya dengan keaneka ragaman budaya, adat istiadatnya ,
merupakan wilayah dengan masyarakat pribumi lebih dominan,
Kemudian dari sisi lainnya masyarakat Tasikmalaya pada umumnya
mempunyai tingkat sensitifitas yang relatif tinggi, kejadian dari hal

kecil harus segera diantisipasi agar tidak menjadi hal yang besar dan
akan merugikan bagi kelangsungan pembangunan secara umum.
Kharakteristik yang beraneka ragam budaya dan lingkungan sosial
yang berbeda-beda merupakan pertimbangan-pertimbangan yang harus
menjadi pemikiran para birokrasi dalam mengambil suatu keputusan
yang melibatakan kepentingan dan peran serta masyarakat Kabupaten
Tasikmalaya secara umum.
2. KEKUATAN
Pada prinsipnya dalam merancang sebuah desain program perlu di
perhatikan tentang kekuatan sebuah lembaga atau kota atau daerah agar
menjadi kekuatan dari

sebuah rencana program tersebut. Dalam

mencermati hal tersebut perlu kejelian dalam menentukan hal-hal mana


saja yang menjadi modal sebagai kekuatan sebuah program. Yang
menjadi kekuatan menjelang perencanaan wajar 12 tahun Kabupaten
Tasikmalaya menurut pengamatan dan data yang ada sebagai berikut:
a. Kabupaten Tasikmalaya adalah sebuah Daerah Otonom yang
mendeklarasikan bebas buta aksara.
b. Kabupaten Tasikmalaya adalah sebuah daerah yang angka
pendidikan yang relatif baik di banding kota kabupaten yang berada
di wilayah Priangan Timur.
c. Penduduk Kabupaten Tasikmalaya mempunyai tingkat kelulusan
yang cukup setiap tahunnya.
d. Tingkat pendidikan secara umum warga Kabupaten Tasikmalaya
rata-rata cukup baik.
3. KELEMAHAN
Dari sekian keunggulan dan kelebihan pemerintah Kabupaten
Tasikmalaya selalu ada hal yang tidak memuaskan, hal ini merupakan
kelemahan kelemahan yang harus di identifikasi dan dirumuskan.

Dalam merumuskan segala kelemahan yang ada harus melalui data dan
fakta yang nyata tidak melalui asumsi-asumsi logika yang akan
menyesatkan terutama dalam penyusunan program.
Penulis akan mencoba menganalisa kelemahan-kelemahan yang
ada sesuai dengan pakta dan temuan dilapangan sebagai berikut:
a. Penduduk Kabupaten Tasikmalaya dengan rentang kendali yang
cukup luas merupakan hal yang tidak mudah bagi menyeragamkan
intruksi-intruksi yang harus dilakukan.
b. Penduduk Kabupaten Tasikmalaya adalah kumpulan berbagai
profesi ,dari sekian banyak profesi-profesi yang ada.
c. Infrastruktur pendidikan yang masih kurang refresentatif
4. PELUANG
Yang memungkinkan dan yang dapat menjadikan wajar 12 tahun
akan berjalan dengan baik adalah peluang - peluang yang harus di
tumbuh kembangkan dan menjadi modal Kabupaten Tasikmalaya
dalam menjalankan wajar 12 tahun.
Adapun peluangpeluang yang mungkin dapat dikembangkan
adalah sebagai berikut:
a. Kesadaran Masyarakat Kabupaten Tasikmalaya akan pentingnya
pendidikan akan memperlancar sosialisasi untuk mewujudkan
wajib belajar 12 tahun.
b. Karakteristik masyarakat yang dibentuk oleh budaya dan norma
agama dapat memberikan stimulus untuk mendukung pelaksanaan
program wajar 12 tahun
5. TANTANGAN
Mengidentifikasi sebuah

hambatan

hampir

identik

dengan

menganalisa tantangan-tantangan yang harus dihadapi bedanya terletak


dari jenis tingkatan saja, sebuah hambatan hambatan merupakan

tantangan-tantangan yang akan dihadapi dan dicari jalan keluarnya.


Adapun tantangan sebagai berikut:
a. Seperti kita ketahui bersama dari data yang ada, Kabupaten
Tasikmalaya merupakan Kabupaten yang berpendapatan PAD
relatif rendah disbanding kota/kabupaten tetangga.
b. Membangun pemahaman terhadap pemangku kepentingan agar
mendorong terwujudnya wajib belajar 12 tahun.
3. KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Setelah penulis mencoba mempaparkan kajian di atas maka akhirnya penulis
dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengambilan data yang baik di Kabupaten Tasikmalaya melalui jaringan
PKK atau perangkat desa
2. Agar inforamasi dapat tercapai dengan cepat dan tepat . maka jaringan
organisasi sosial masyarakar dari semua elemen dan perangkat
pemerintahan merupakan bagian yang tak terpisahkan. Lembaga
pendidikan formal merupakan ujung tombak kesuksesan dari program
wajar 12 tahun. Mengingat warga belajar yang terseraf lebih banyak.
3. Pendidikan nonformal adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan,dan
merupakan langkah antisipatif dalam menampung murid yang tidak
terjaring pada pendidikan non formal.
4. Melalui dana APBD, pemerintah harus Menyiapkan sejumlah anggaran
bagi orang-orang yang tak mampu melakukan pembayaran dari sisi
materi.

SARAN

Dengan berakhirnya penulisan makalah ini dan penulis telah melakukan


beberapa kesimpulan maka penulis mengajukan beberapa sarab sebagai
berikut:
1. Sosialisasikan Program Wajar 12 Tahun
Pendidikan adalah merupakan tanggung jawab semua kalangan baik
pemerintah maupun masyarakat secara umum, berkaitan dengan itu maka
masyarakat harus di ajak bicara diberikan haknya untuk mengemukakan
pandangan-pandangannya melalui jalur jalur yang ada, agar semua
aspirasi rakyat dapat diseraf dan dijadikan pijakan bagi menyusunan
program ini.
2. Peran Pendidikan Formal
Pada pelaksanaanya, jalur pendidikan formal merupakan sentral dan
ujung tombak dari program wajar 12 tahun, karena jalur persekolahan
inilah yang mempunyai distribusi akses yang amat sangat besar dalam
melayani

dan

pelaksana

program

wajar12

tahun

ini.

Penulis mengajukan beberapa hal yang perlu diperhatikan para pengambil


kebijakan.
3. Peran Pendidikan Non Formal
Pendidikan non formal merupakan lapisan kedua yang harus dipersiapkan
bila terjadi daya tampung pada pendidikan formal tidak terlayani maka
disinilah peran serta pendidikan non formal. Pelayanan pendidikan
nonformal pada kenyataannya masyarakat umum sudah terbangun dengan
penilaiannya bahwa kualitas pendidikan non formal dirasa rendah.
4. Pendanaan Program
Bergulirnya sebuah program secara nasional memerlukan perencanaan
secara nasional pula, menjelang pelaksanaan program wajar 12 tahun
pemerintah daerah dan pusat harus mengalokasikan dana dari kas daerah

masing-masing dalam pelaksanaan dan penaggulangan program ini.


Yang harus menjadi titik perhatian pemerintah dalam program wajar 12
tahun adalah permasalahan masyarakat yang tidak mampu. Maka
masyarakat inilah bagian yang harus menjadi acuan dan target program
ini dengan tidak mengesampingkan masyarakat yang mampu.

4. DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muh. 1978. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Davies, WCR. 1971. The Management of Learning. London: Mc Graw Hill
Book
Company.
Ghafur, Abdul. 1980. Disain Instruksional. Suatu Langkah Sistematis
Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Balajar dan Mengajar. Solo: Tiga
Serangkai.
Hamalik, Oemar. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan
Sistem. Jakarta: Bumi Aksara.
Mukminan. 1997. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: P3G
IKIP.Suparman, Atwi. 1997. Desain Instruksional. Jakarta: Pusat Antar
Universitas.Wuryani Djiwandono, Sri Esti. 1989. Psikologi Pendidikan.
Jakarta: Depdikbud.
Profile Dinas pendidikan Kabupaten Tasikmalaya 2015