Anda di halaman 1dari 7

Skenario I Blok Etika dan Pelayanan Hukum Kesehatan

ETIKA KEDOKTERAN
Seorang pasien wanita 35 tahun mengeluhkan pelayanan yang dilakukan oleh
seorang dokter gigi bernama Nina. Pasien seminggu yang lalu mencabutkan
giginya ditempat praktik dokter tersebut dan dijanjikan akan dipasangkan gigi
baru namun tidak jadi dilakukan. Saya dijanjikan oleh dokter, bahwa seminggu
setelah cabut gigi akan dibuatkan gigi tiruan. Tetapi setelah seminggu kemudian
sang dokter beralasan nanti akan dipasang dua minggu lagi, kata pasien. Pasien
bersikukuh berkeinginan untuk memperoleh gigi tiruan tersebut berdasarkan
kesepakatan lisan bersama sang dokter dengan biaya Rp 3.400.000,- (tiga juta
empat ratus rupiah) untuk pemasangan tiga buah gigi dan sudah dibayar tunai.
Tetapi alasan dua minggu baru akan dipasang maka saya bersama keluarga saya
meminta uang tersebut untuk dikembalikan, tetapi snag dokter justru memotong
uang tersebut sejumlah Rp 800.000,- (delapan ratus ribu rupiah). Pasien juga
mengatakan pernah mencari second opinion ke dokter gigi lain dua hari setelah
pencabutan perderita. Sementara itu aksi perbuatan sang dokter, mendapat
kecaman dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menilai kasus tersebut
sebagai pelanggaran. LSM menilai itu merupakan pelanggaran etika, moral dan
kurangnya pemahaman kode etik dari seorang dokter gigi terhadap pasien, serta
tidak profesionalnya dokter gigi. Dia pun mengatakan akan menindak lanjuti
kasus tersebut ke arah yang lebih tinggi. saya akan melaporkan ke Persatuan
Dokter Gigi Indonesia, tandasnya. Pada tempat yang terpisah dokter gigi
menjelaskan pada saat dikonfirmasikan terkait kasus ini, bahwa kasus tersebut
hanyalah miskomunikasi. ini hanya masalah komunikasi antara pasien dengan
dokter. Dijelaskannya untuk pemasangan gigi tiruan, secara teknis membutuhkan
waktu 2 minggu. Pada saat pasien tersebut datang pada seminggu kemudian, saya
katakan bahwa nanti akan melakukannya (persiapan gigi tiruan yang meliputi
preparasi dan mencetak) pada besok harinya karena banyak pasien, tuturnya.
Lanjut dia, untuk masalah gigi tiruan tidak segampang dan secepat keinginan
pasien. Saya sudah memberikan jalan tengah kalau pasien mau yang cepat bisa
dipasang gigi palsu jenis akrilik yang hanya 1 minggu pengerjaannya. Namun

antara saya dan pasien sudah sepakat untuk menggunakan porselain. Terkait
pemotongan uang sejumlah Rp 800.000,- kata dokter tersebuta adalah sebagai
biaya perawatan dan operasional yang telah dilakukan kepada pasien. itukan
untuk ongkos kerja membuat gigi palsu yang sudah dipesan, preparasi, ilmu teori
hingga praktek saya sebagai dokter gigi, Tandasnya.
Dalam menjalankan tugas profesinya, seorang dokter gigi akan selalu terkait
dengan bioetika, yang kemudian akan diatur dalam kode etik Kedokteran Gigi.
Namun kini tidak sedikit dokter yang melanggarnya. Segelintir dojkter yang
melakukan pelanggaran tersebut akan mengurangi kepercayaan masyarakat
terhadap dokter, sehingga menyamaratakan pandangan itu terhadap semua dokter.
Nampaknya, meskipun dokter telah berupaya melaksanakan tugas profesinya
sesui dengan standart profesi dan rambu- rambu pelaksanaanya sesuai dengan
kode etik kedokteran, tetapi masih tetap ada beberapa dokter yang menjadi
sorotan masyarakat dengan berbagai tuduhan. Sebenarnya sorotan masyarakat
terhadap profesi dokter merupakan satu pertanda bahwa saat ini sebagian
masyarakat masih belum puas terhadap pelayanan dan pengabdian para dokter
pada masyarakat pada umumnya atau pada pasien pada khususnya, sebagai
pengguna jasa dokter. Sebenarnya ketidakpuasan tersebut disebabkan karena
harapannya tidak dapat dipenuhi oleh dokter, atau dengan kata lainterdapat
kesenjangan antara harapan pasien dan kenyataan yang didapatkan oleh pasien.
Diskusikanlah kasus tersebut di atas, terutama dengan mempertimbangkan
masalah etika, moral dan bioetika.

STEP I
(Identifikasi Kata Sulit)
1. Standart profesi

: profesi merupakan suatu jabatan atau keahlian

yang dimiliki seseorang untuk bekerja, jadi standart profesi adalah suatu
standart atau batasan minimal yang digunakan oleh jabatan atau pekerjaan
tertentu.
2. Kode etik

: suatu landasan hukum yang mengatur yang

meliputi kewajiban umum, kewajiban pasien, kewajiban terhadap diri

sendiri dan kewajiban serhadap teman sejawat. Suatu sistem norma dan
aturan secara tegas terhadap baik atau buruknya profesi.
3. Bioetika
: bios; kehidupan dan ethos; norma- norma atai
nilai- nilai moral. Jadi bioetika merupakan studi tentang interdisipliner
tentang masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi
dan ilmu kedokteran baik skala mikdo atau makro, baik untuk masa kina
maupun masa depan. Perilaku yang benar pada manusia atau makhluk
hidup yang lainnya dimana ilmu tersebut dapat dijelaskan pada bidang
medis yaitu tentang rekayasa genetik, implantasi dan reproduksi.
4. Moral
: berasal dari kata mores; suatu kebiasaan. sesuatu
hal yang mutlak, merupakan suatu pandangan dari manusia yang satu
dengan yang lainya dimana orang lain dapat menilai dari baik atau
buruknya seseorang dari budi perkerti yang dimiliki dari setiap individu.
5. Second opinion
: pandangan dokter lain terhadap masalah kesehatan
yang dihadapi pasien, dalam hal ini seorang dokter tidak bileh
menjelekkan teman sejawat atau sesama dokter.
6. Etika kedokteran
: suatu aturan untuk menentukan baik atau buruknya
individu dalam lingkup kedokteran.
7. LSM
: sebuah organisasi

yang

didirikan

secara

perorangan atau kelompok yang secara sukarel memberikan pelayanan


kepada masyarakat umum tanpa tujuan untuk memperoleh keuntungan
dari kegiatan tersebut.

STEP II
(Rumusan Masalah)
1. Apakah dokter nina melanggar etika dan moral kedoteran? Apa alasananya
dan apa dasar pertimbanganya?
2. Apa hal- hal yang harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan
keperawatan yang sesuai dengan etika kedokteran?
3. Apakah ada kode etik tentang second opinion dan undang- undang yang
mengatur?
4. Apa kode etik yang harus kita pahami sebagai dokter?
STEP III

(Analisis Masalah)
1) Apakah dokter nina melanggar etika dan moral kedoteran? Apa
alasananya dan apa dasar pertimbanganya?
iya karena dokter gigi nina tidak memberi inform consent, hal tersebut
menandakan bahwa dokter nina tidak memahami prinsip bioetika yaitu
autonomi. Dokter gigi juga kurang berkomunikasi dengan pasien perihal
pemotongan uang seberas Rp 800.000,- yang melanggar prinsip non
maleficence. Selain itu dokter gigi Nina juga melanggar prinsip
beneficence karena telah merugikan pasien dimana dokter gigi Nina
mengundur waktu yang telah di janjikan sebelumnya.
2) Apa hal- hal yang harus dipertimbangkan dalam mengambil
keputusan keperawatan yang sesuai dengan etika kedokteran?
Seorang dokter harus memahami prinsip- prinsip bioetika yang telah
dijelaskan sebelumnya, yaitu:
Autonomi: seorang dokter harus menghargai pasien, kerahasiaan

pasien dan harus membuat keputusan yang tepat


Beneficence: rendah hati dan berlaku baik
Non maleficence: dokter gigi harus menjaga pasien agar terhindar

dari kerugian
Justice: harus bertindak adil dalam melakukan perawatan (sesuai

SOP) pada teman sejawat maupun masyarakat.


Ada juga prinsip lain yaitu:
Veracity: mengungkapkan kebenaran pada setiap pasien
Fidelity: menjaga janji, komitmen serta menjaga kerahasiaan

pasien
Avoidance of killing: menghindari kesalahan menghilangkan

nyawa seseorang
Gratitude: rasa terima kasih
Reparation: masalah kompensasi atau ganti rugi
Confidentiality: menjaga rahasia pasien sampai meninggal
sekalipun

Seorang dokter juga harus memiliki standart operasional dalam


menjalankan profesinya, standar operasional ini meliputi standart
operasional profesi, medis dan juga standart operasional prosedur (SOP).

Seorang dokter gigi juga harus memiliki moral atau tingkah laku yang baik
dimana moral ini harus sesuai dengan prinsip dasar etika. Moral dalam
kedokteran dibagi menjadi 3 yaitu:

Ekstrernal: mampu menjelaskan perawatan yang akan dilakuakn

kepada pasien
Internal: mampu menjaga diri sendiri yang meliputi norma diri

sendiri, agama dan pendidikan yang dimiliki setiap individu


Psikologis: hal ini menyangkut kepribadian individu dimana
kepribadian ini berbeda dari individu satu dengan yang lainnya,
bersifat terbuka untuk memberikan informasi tentang dirinya

sendiri kepada pasien.


3) Apakah ada kode etik tentang second opinion dan undang- undang
yang mengatur?
Iya ada, pada second opinion ini cukup berpengaruh terhadap
kekooperatifan pasien dimana kadang pasien melakukan second opinion
dan malah memilih dokter yang kedua dariapad kembali ke dokter yang
telah merawatnnya sebelumnya. Second opinion ini termasuk dalam UU
teman

sejawat

yang

diatur

dalam

kode

etik

kedokteran

No.

221/PB/A.4/04/2002. Dimana dijelaskan bahwa kita seorang dokter harus


menjaga kewajiban umum, kewajiban teman sejawat. Dimana di situ
dijelasakan seoarang dokter tidak boleh mengambil pasien yang sudah
dirawat sebelumnya oleh lain dokter. Selian itu kita juga harus
memperhatikan kompetensi kita, apabila ada seorang pasien yang datang
dengan keluhan yang sangat parah sehingga kita tidak bisa merawatnya
maka kita wajib melakukan rujukan ke dokter yang lebih berkopetensi di
bidang tersebut.
Dalam melakuakan second opinion kita harus menganut 4 kaidah dasar
yaitu:
Kepentingan penderita
Bersifat ilmiah
Menghormati guru, teman dan sejawat
Menjaga martabat
4) Apa kode etik yang harus kita pahami sebagai dokter?
Pedoman pelaksanaan kode etik kedokteran gigi:
Ketuhanan

Niat
Keluhuran budi
Kesungguhan kerja
Integritas ilmiah dan sosial
Kerendahan hati

Dokter harus memiliki 3 sifat yaitu:

Rasional
Konsisten tetapi tidak kaku
Universal

STEP IV
(Mapping)

Etika

Moral

Kode etik

Bioetika

Beneficenc

Non

Justice

STEP 5
(Learning Objective)
Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan :

Autonomi

1) Definisi etika, moral dan bioetika


2) Prinsip bioetika