Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
Menurut para ilmuwan sosial, kehidupan manusia yang terbentang
sepanjang sejarah selalu dibayang-bayangi oleh apa yang disebut
agama. Bahkan, dalam kehidupan sekarang pun dengan kemajuan
teknologi yang super modern manusia tak luput dari agama. Agamaagama lahir pada babak sejarah pramodern, sebelum masyarakat dan
dunia diwarnai perkembangan pesat ilmu dan teknik.1 Peter. L. Berger
melukiskan agama sebagai suatu kebutuhan dasar manusia; karena
agama merupakan sarana untuk membela diri terhadap segala
kekacauan yang mengancam hidup manusia. Hampir semua
masyarakat manusia mempunyai agama.2 Agama memberi makna pada
kehidupan individu dan kelompok, juga memberi harapan tentang
kelanggengan hidup sesudah mati. Agama memperkuat norma-norma
kelompok, sanksi moral untuk perbuatan perorangan, dan menjadi
dasar persamaan tujuan serta nilai-nilai yang menjadi landasan
keseimbangan masyarakat.3
Makna agama yang akan dibahas di makalah ini adalah agama
sebagai sebuah ajaran atau tatanan yang dibangun dan dianut oleh
masyarakat. Agama yang timbul akibat gejolak-gejolak spiritual yang
tidak mampu dihadapi oleh setiap individu masyarakat. Berdasarkan
pendahuluan di atas, dalam makalah ini akan dibahas bagaimana fungsi
dan peran agama dalam masyarakat, mungkin saja positif atau negatif,
begitu pula dengan definisi agama dan masyarakat secara lebih dalam
serta apa yang mungkin ditimbulkan dari hubungan antara agama dan
masyarakat.
1 Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., Sosiologi Agama, (Bandung: Rosda, 2000),
hlm. 119.
2 Peter. L. Berger, Langit Suci: Agama Sebagai Realitas Sosial, (Jakarta: LP3ES,
1991), hlm. 268.
3 Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si, Ibid, hlm. 120.
1

BAB II
PEMBAHASAN
Definisi agama dan masyarakat .1
Kelompok-kelompok individu yang sering sekali disebut masyarakat
juga menjadi komponen terpenting atas keberlangsungan suatu agama.
Karena masyarakatlah yang menganut agama tersebut, jika tidak ada
masyarakat maka tidak ada agama. Menurut Hendropuspito, agama
adalah suatu jenis sistem sosial yang dibuat oleh penganutpenganutnya yang berproses pada kekuatan-kekuatan non-empiris yang
dipercayainya dan didayagunakannya untuk mencapai keselamatan
bagi mereka dan masyarakat luas umumnya.

Dalam Kamus Sosiologi,

pengertian agama ada tiga macam, yaitu (1) kepercayaan pada hal-hal
yang spiritual; (2) perangkat kepercayaan dan praktik-praktik spiritual
yang dianggap sebagai tujuan tersendiri; dan (3) ideologi mengenai halhal yang bersifat supranatural.5 Sementara itu, Thomas F. Odea
mengatakan bahwa agama adalah pendayagunaan sarana non-empiris
atau supra-empiris untuk maksud-maksud non-empiris atau supraempiris.6

4 D. Hendropuspito O.C, Sosiologi Agama, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1998,


hlm. 34.
5 Soerjono Soekanto, Kamus Sosiologi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
1993, hlm. 430.
2

E. B. Tylor dalam buku perintisnya, mengemukakan apa yang dikenal


dengan definisi umum agama yang tidak akan memberikan penilaian
lagi mengenai sumber atau fungsinya. Dia mendefinisikan agama
sebagai kepercayaan terhadap adanya wujud-wujud spiritual.7 Namun
ketidakpuasan dikemukakan terhadap definisi ini atas dasar bahwa
definisi itu terlalu bercorak intelektualitas, dan tidak mengacu kepada
emosi-emosi khidmat dan hormat yang secara khusus bercorak
keagamaan yang berkaitan dengan kepercayaan-kepercayaan semacam
itu. Radcliffe-Brown, salah seorang ahli antropologi kurun waktu
belakangan, menawarkan definisi yang berusaha memperbaiki
ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan yang diduga ada ini. Agama,
katanya, di manapun merupakan ekspresi suatu bentuk
ketergantungan pada kekuatan di luar diri kita sendiri, yakni kekuatan
yang dapat kita katakan sebagai kekuatan spiritual atau kekuatan
moral.8 Baginya, ekspresi penting dari rasa ketergantungan ini adalah
peribadatan.
Dari beberapa definisi di atas, jelas tergambar bahwa agama
merupakan suatu hal yang dijadikan sandaran penganutnya ketika
terjadi hal-hal yang berada di luar jangkauan dan kemampuannya
karena sifatnya yang supra-natural sehingga diharapkan dapat
mengatasi masalah-masalah yang sifatnya non-empiris.
Selanjutnya, golongan masyarakat dapat diartikan sebagai
penggolongan anggota-anggota masyarakat ke dalam suatu kelompok
yang mempunyai karakteristik yang sama atau dianggap sejenis. Dalam
Kamus Sosiologi dinyatakan sebagai kategori orang-orang tertentu,
dalam suatu masyarakat yang didasarkan pada ciri-ciri mental tertentu.9

6 Thomas F. Odea, Sosiologi Agama: Suatu Pengenalan Awal, terjemahan Tim


Penerjemah Yasogama, CV Rajawali, Jakarta, hlm. 13.
7 E. B. Tylor, Primitive Culture, 1871.
8 A. Radcliffe-Brown, Religion and Society dalam Journal of the Royal
Anthropological Institute, vol. LXXV, 1945.
3

Berdasarkan definisi di atas, penggolongan masyarakat dapat dibuat


berdasarkan ciri yang sama. Misalnya, (1) penggolongan berdasarkan
jenis kelamin adalah pria dan wanita; (2) penggolongan berdasarkan
usia adalah tua dan muda; (3) penggolongan berdasarkan pendidikan
adalah cendekia dan buta huruf; (4) penggolongan berdasarkan
pekerjaan adalah petani, nelayan, golongan buruh, pengrajin, pegawai
negeri, eksekutif, dan lain-lain.10 Menurut Hendropuspito, meskipun
tidak dapat dibuat berdasarkan kedudukan sosial yang sama, seperti
pada lapisan sosial, penggolongan ini pada dasarnya untuk kepentingan
pengamat sosial dalam penelitian-penelitian terhadap masyarakat.
2. Fungsi dan peran agama dalam masyarakat
Yang dimaksud dengan fungsi agama adalah peran agama dalam
mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak
dapat dipecahkan secara empiris karena adanya keterbatasan
kemampuan dan ketidakpastian. Oleh karena itu, diharapkan agama
menjalankan fungsinya sehingga masyarakat merasa sejahtera, aman,
stabil, dan sebagainya.
Banyak penulis semenjak masa hayatnya mengikuti kembali
pandangan Durkheim yang menyatakan bahwa fungsi sosial agama
adalah mendukung dan melestarikan masyarakat yang sudah ada.
Agama, menurut mereka, bersifat fungsional terhadap persatuan dan
soliditas sosial. Di pihak lain, para sarjana pasca Durkheim ini, kecuali
Radcliffe-Brown, sama-sama bersikap kritis terhadap analisis Durkheim
mengenai sebab timbulnya agama, sambil menentang pendapatnya
yang menyatakan bahwa agama bersumber pada sosiabilitas dan
sugestibilitas yang meningkat dalam situasi kerumunan. Karena itu para
pengkritik yang ingin mempertahankan fungsi, tetapi mengabaikan
sebab-sebab timbulnya, agama ini harus mencari sumber agama
9 Soerjono Soekanto, Kamus Sosiologi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
1993, hlm. 88.
10 Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., Sosiologi Agama, (Bandung: Rosda, 2000),
hlm. 130.
4

lainnya, bila mereka tidak ingin jatuh kembali ke dalam argumen


berbelit-belit yang menyatakan, bahwa karena masyarakat memerlukan
agama untuk menopang persatuan dan solidaritasnya, maka
bagaimanapun juga agama timbul untuk memenuhi kebutuhan itu.11
Thomas F. Odea menuliskan enam fungsi agama, yaitu (1) sebagai
pendukung, pelipur lara, dan perekonsiliasi, (2) sarana hubungan
transendental melalui pemujaan dan upacara ibadat, (3) penguat
norma-norma dan nilai-nilai yang sudah ada, (4) pengoreksi fungsi yang
sudah ada, (5) pemberi identitas diri, dan (6) pendewasaan agama.12
Fungsi agama yang dijelaskan Hendropuspito lebih ringkas lagi, tetapi
intinya hampir sama. Menurutnya, fungsi agama itu adalah edukatif,
penyelamatan, pengawasan sosial, memupuk persaudaraan, dan
transformatif.13
Selain agama itu sendiri, pemimpin juga dapat mempengaruhi
masyarakat sebagai motivator, pembimbing moral dan mediator.
Pemimpin di sini maksudnya adalah lebih kepada peran, bagaimana
seorang pemimpin mampu merepresentasikan fungsi agama yang arif.
Sebagai motivator, sudah banyak diakui dan terbukti bahwa
keterampilan dan karisma yang dimilikinya mampu berperan aktif dan
mendorong suksesnya kegiatan-kegiatan pembangunan. Pemimpin
harus terlibat dalam kancah kegiatan ini untuk ikut secara kati
memikirkan permasalahan-permasalahan duniawi yang sangat
kompleks yang dihadapi masyarakat. Begitu kompleksnya masalah ini
sampai pemerintah sekuler tidak mampu lagi memecahkannya tanpa
bantuan dari pihak pemimpin agama, seperti pemberantasan
kemiskinan, mengatasi kesenjangan, mencegah kerusakan lingkungan,
11 Betty. R. Scharf, Kajian Sosiologi Agama, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana
Yogya, 1995), hlm. 94.
12 Thomas F. Odea, Sosiologi Agama: Suatu Pengenalan Awal, terjemahan
Tim Penerjemah Yasogama, CV Rajawali, Jakarta, hlm. 26-29.
13 D. Hendropuspito O.C, Sosiologi Agama, Penerbit Kanisius, Yogyakarta,
1998, hlm. 38-57.
5

dan mencegah terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Melihat


kenyataan seperti ini, pemimpin agama tidak bisa hanya berpangku
tangan dengan mengatakan bahwa agama tidak mengurusi
permasalahan masyarakat yang bersifat fisik. Agama hanya mengurusi
aspek spiritual dari kehidupan manusia. Pandangan dikotomi seperti ini
sungguh sangat tidak relevan untuk dipakai sebagai dasar pemikiran
para pemimpin agama di masyarakat. Pemikiran seperti ini akan
mengakibatkan agama-agama di dunia dijauhi oleh umat manusia.14
Pemimpin agama sebagai pembimbing moral, peran kedua ini
dimainkan pemimpin agama di masyarakat dalam kaitannya dengan
kegiatan pembangunan adalah peran yang berkaitan dengan upayaupaya menanamkan prinsip-prinsip etik dan moral masyarakat. Dalam
kenyataannya, kegiatan pembangunan umumnya selalu menuntut
peran aktif para pemimpin agama dalam meletakkan landasan moral,
etis, dan spiritual serta peningkatan pengalaman beragama, baik dalam
kehidupan pribadi maupun sosial. Hal ini dimaksudkan, agar kegiatan
pembangunan memperoleh kesejatiannya dengan cara berpijak pada
landasan etis dan moral. Berangkat dari landasan etis dan moral inilah,
kegiatan pembangunan lalu diarahkan pada upaya pemulihan harkat
dan martabat manusia, harga diri dan kehormatan individu, serta
pengakuan atas kedaulatan seseorang atau kelompok untuk
mengembangkan diri sesuai dengan keyakinan dan jati diri serta bisikan
nuraninya. Di sinilah kemudian nilai-nilai religius yang ditanamkan para
pemimpin agama memainkan peranan penting dalam kegiatan
pembangunan.15
Peran lain para pemimpin agama yang tidak kalah pentingnya dalam
kaitannya dengan kegiatan pembangunan di masyarakat adalah
sebagai wakil masyarakat dan sebagai pengantar dalam menjalin kerja
14 M. Masyhur Amin (Ed.), Teologi Pembangunan: Paradigma Baru Pemikiran
Islam, (Yogyakarta: LKPSM-NU, 1989), hlm. 3-4.
15 Soetjipto Wirosardjono, Agama dan Pembangunan, dalam M. Masyhur Amin
(Ed.), Moralitas Pembangunan Perspektif Agama-Agama di Indonesia,
(Yogyakarta: LKPSM-NU, 1989), hlm. 8-9.
6

sama yang harmonis di antara banyak pihak dalam rangka melindungi


kepentingan-kepentingannya di masyarakat dan lembaga-lembaga
keagamaan yang dipimpinnya. Untuk membela kepentingankepentingan ini, para pemimpin memposisikan diri sebagai mediator di
antara beberapa pihak di masyarakat, seperti antara masyarakat
dengan elite penguasa dan antara masyarakat miskin dengan kelompok
orang-orang kaya. Melalui para pemimpin agama, para elite penguasa
dapat memahami apa yang diinginkan masyarakat, dan sebaliknya elite
penguasa dapat mensosialisasikan program-programnya kepada
masyarakat luas melalui bantuan para pemimpin agama, sehingga di
antara keduanya terjadi saling pengertian.16
Dari sudut formal keagamaan, kerja sama para pemimpin
keagamaan dengan kalangan hartawan dan penguasa ini memang tidak
apa-apa. Sebab, sesungguhnya kerja sama para pemimpin agama
dengan kalangan kaya dan penguasa, pada prinsipnya, tidak bisa dinilai
buruk. Agama, bagaimanapun, merupakan rahmat bagi segenap
manusia, peduli miskin atau kaya, penguasa atau rakyat jelata. Maka
pertanyaannya, bukan apakah kerja sama antara para pemimpin agama
dengan kalangan kaya dan penguasa boleh atau tidak, melainkan untuk
keuntungan siapa sebenarnya kerja sama itu harus dibina.17 Di sinilah
para pemimpin agama menyadari bahwa kerja sama mereka tidak lain
adalah untuk kepentingan menegakkan keadilan sosial dan untuk
membela kepentingan orang-orang kecil, kaum lemah, dan kelompokkelompok tertindas di masyarakat. Demam demikian, kekuasaan yang
dipegang oleh elite penguasa dan harta kekayaan yang dimiliki oleh
orang-orang kaya tidak menjadi fitnah dan menimbulkan gejolak di
masyarakat ketiak ia mampu membuktikan fungsi-fungsi sosialnya.

16 Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., Sosiologi Agama, (Bandung: Rosda, 2000),


hlm. 141.
17 Masdar F. Masudi, Agama Keadilan, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), hlm.
202-205.
7

3. Hal yang mungkin timbul dari hubungan antara agama


dan masyarakat
Salah satu yang mungkin muncul dari hubungan antara agama dan
masyarakat adalah agama sebagai faktor konflik di masyarakat. Sekilas
pernyataan tersebut kelihatannya paradoks, di mana agama dinilai
sebagai sumber moral dan nilai, sementara di sisi lain dianggap sebagai
sumber konflik. Meminjam istilah Afif Muhammad,18 agama acap kali
menampakkan diri sebagai sesuatu yang berwajah ganda. Hal itu
seperti disinyalir oleh Johan Efendi19 yang menyatakan bahwa agama
pada suatu waktu memproklamirkan perdamaian, jalan menuju
keselamatan, persatuan, dan persaudaraan, namun pada waktu yang
lain menampakkan dirinya sebagai sesuatu yang dianggap garang dan
menyebar konflik, bahkan tak jarang, seperti dicatat dalam sejarah,
menimbulkan peperangan.
Dalam wacana, teori beranggapan bahwa masyarakat adalah suatu
keadaan konflik yang berkesinambungan di antara kelompok dan kelas
serta berkecenderungan ke arah perselisihan, ketegangan dan
perubahan.20 Yang harus digaris bawahi pada pernyataan ini adalah
masyarakat. Tampaknya, masyarakat menjadi lahan yang tumbuh
suburnya konflik. Bibitnya bisa bermacam-macam faktor, ekonomi,
politik, sosial, bahkan agama. Oleh karena itu, pada sisi ini, agama bisa
jadi menjadi salah satu faktor timbulnya konflik yang ada di
masyarakat.21 Pertanyaan yang kemudian timbul: betulkah agama
18 Lihat tulisan Afif Muhammad tentang Kerukunan Beragama pada Era
Globalisasi, pada Dies Natalis IAIN Sunan Gunung Djati Bandung ke-29, tgl 8
April 1997, Bandung, hlm. 1.
19 Lihat Johan Efendi, Dialog Antar Umat Beragama, Bisakah Melahirkan
Teologi Kerukunan, dalam Prisma, on.5, Juni 1978, LP3ES, Jakarta, hlm. 13.
20 Paul B. Horton, Sosiologi, jilid I (Terj. Aminuddin Ram dkk), Jakarta: Penerbit
Erlangga, 1987, hlm. 25.
21 Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., Sosiologi Agama, (Bandung: Rosda, 2000),
hlm. 148.
8

menjadi faktor penentu terjadinya konflik itu? Lantas, pada sisi mana
agama termasuk kategori faktor konflik di masyarakat?
Pada dasarnya, apabila merujuk kepada Al-quran, banyak indikasi
yang menjelaskan adanya faktor konflik yang ada di masyarakat. Secara
tegas, Al-quran menyebutkan bahwa faktor konflik itu sesungguhnya
berawal dari manusia. Misalnya, dalam surat Yusuf ayat 5dijelaskan
tentang adanya kekuatan pada diri manusia yang selalu berusaha
menarik dirinya untuk menyimpang dari nilai-nilai dan norma Ilahi. Atau,
secara lebih tegas, disebutkan bahwa kerusakan diakibatkan oleh
tangan manusia; seperti dalam surat Al-rum ayat 41. Ayat-ayat ini bisa
dijadikan argumentasi bahwa penyebar konflik sesungguhnya adalah
manusia. Oleh karena itu, dalam pembicaraan ini akan melihat dari sisi
penganut agamanya, bukan agamanya, untuk mengidentifikasi
timbulnya konflik. Penganut suatu agama tentu saja manusia, dan
manusia adalah bagian dari masyarakat. Oleh karena itu, betul bahwa
masyarakat akan menjadi lahan adanya konflik sebagaimana
diisyaratkan dalam pernyataan tentang teori konflik di atas.22
Mengapa pembahasan ini dimulai dari tataran penganut agamanya?
Penganut agama adalah orang yang meyakini dan mempercayai suatu
ajaran agama. Keyakinannya itu akan melahirkan bentuk perbuatan
baik atau buruk. Keyakinan ini dimiliki dari rangkaian proses memahami
dan mempelajari ajaran agama itu. Oleh karena itu, setiap penganut
akan berbeda dan memiliki kadar interpretasi yang beragam dalam
memahami ajaran agamanya, sesuai dengan kemampuannya masingmasing. Akibat perbedaan pemahaman itu saja, cikal bakal konflik tidak
bisa dihindarkan. Dengan demikian, pada sisi ini agama memiliki
potensi yang dapat melahirkan berbagai bentuk konflik (intoleransi).
Paling tidak, konflik seperti ini adalah konflik intra-agama atau disebut
juga konflik antar mazhab, yang diakibatkan oleh perbedaan
pemahaman terhadap ajaran agama.23
22 Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., ibid, hlm. 148.
23 Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., ibid, hlm. 149.
9

BAB III
KESIMPULAN
Agama adalah suatu jenis sistem sosial yang dibuat oleh penganutpenganutnya yang berproses pada kekuatan-kekuatan non-empiris yang
dipercayainya dan didayagunakannya untuk mencapai keselamatan
bagi mereka dan masyarakat luas umumnya. Sedangkan masyarakat
adalah dinyatakan sebagai kategori orang-orang tertentu, dalam suatu
masyarakat yang didasarkan pada ciri-ciri mental tertentu. Masyarakat
inilah kemudian yang menjadi penganut agama tersebut. Maka jika
tidak ada masyarakat, juga tidak akan ada agama. Dan agama hadir
untuk mengatasi masalah-masalah dalam masyarakat yang bersifat
non-empiris. Agama diasumsikan bahwa merupakan suatu hal yang
dijadikan sandaran penganutnya ketika terjadi hal-hal yang berada di
luar jangkauan dan kemampuannya karena sifatnya yang supra-natural
sehingga diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah yang sifatnya
non-empiris. Oleh karenanya, fungsi agama yaitu (1) sebagai
pendukung, pelipur lara, dan perekonsiliasi, (2) sarana hubungan
transendental melalui pemujaan dan upacara ibadat, (3) penguat
norma-norma dan nilai-nilai yang sudah ada, (4) pengoreksi fungsi yang
sudah ada, (5) pemberi identitas diri, dan (6) pendewasaan agama.
Selain fungsi agama itu sendiri, peran pemimpin turut hadir untuk
memperkuat fungsi agama tersebut. Fungsi pimpin agama tersebut
antara lain adalah sebagai motivator, pembimbing moral, dan mediator.
Ketiga hal ini semua mencerminkan bahwa agama tidak melulu
mengurusi aspek spiritual, namun agama juga harus mengurusi
10

maslahat-maslahat umat manusia di dunia. Sehingga para pemimpin


agama tidak bisa hanya berpangku tangan melihat ketidakberesan yang
terjadi di masyarakat. Selain daripada itu, agama juga memiliki sisi
negatif terhadap hubungan dengan masyarakat. Karena di lain waktu
dapat penyebab terjadinya suatu konflik. Yang perlu digaris bawahi
adalah bukan agamanya, melainkan masyarakat itu sendiri. Secara
tegas dijelaskan dalam Al-quran bahwasanya segala kerusakan itu
timbulnya dari tangan-tangan manusia. Masyarakat sebagai penganut
agama memiliki keyakinan tentang perbuatan baik dan buruk.
Keyakinan tersebut didapat melalui proses panjang mempelajari dan
memahami, sehingga setiap individu masyarakat memiliki pemahaman
yang berbeda pula. Inilah kemudian yang menjadi pemicu timbulnya
konflik. Konflik seperti ini biasanya terjadi pada intra agama atau konflik
antar mazhab.

DAFTAR PUSTAKA
A. Radcliffe-Brown, Religion and Society dalam Journal of the Royal
Anthropological Institute, vol. LXXV, 1945.
Amin, M. Masyhur (Ed.), Teologi Pembangunan: Paradigma Baru
Pemikiran Islam, (Yogyakarta: LKPSM-NU, 1989).
Berger, Peter. L., Langit Suci: Agama Sebagai Realitas Sosial, (Jakarta:
LP3ES, 1991).
Betty. R. Scharf, Kajian Sosiologi Agama, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana
Yogya, 1995).
E. B. Tylor, Primitive Culture, 1871.
Efendi, Johan, Dialog Antar Umat Beragama, Bisakah Melahirkan Teologi
Kerukunan, dalam Prisma, on.5, Jakarta: LP3ES, 1978.
F. Odea, Thomas., Sosiologi Agama: Suatu Pengenalan Awal,
terjemahan Tim Penerjemah Yasogama, CV Rajawali, Jakarta.
Hendropuspito, Sosiologi Agama, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1998.
Horton, Paul B., Sosiologi, jilid I (Terj. Aminuddin Ram dkk), Jakarta:
Penerbit Erlangga, 1987.
11

Kahmad, Dadang., Sosiologi Agama, (Bandung: Rosda, 2000).


Masudi, Masdar F., Agama Keadilan, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991).
Muhammad, Afif, Kerukunan Beragama pada Era Globalisasi, pada Dies
Natalis IAIN Sunan Gunung Djati Bandung ke-29, Bandung, 1997.
Soekanto, Soerjono., Kamus Sosiologi, PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 1993.
Wirosardjono, Soetjipto, Agama dan Pembangunan, dalam M. Masyhur
Amin (Ed.), Moralitas Pembangunan Perspektif Agama-Agama di
Indonesia, (Yogyakarta: LKPSM-NU, 1989).

12