Anda di halaman 1dari 20

Jahe

Kelompok 4
1.
2.
3.
4.

Deddy Kurniawan 1414051020


Dwi Nurtiningsih
1414051032
Eza Susanti
1414051036
Meta Aquarista Galia 1414051063

Jahe (Zingiber officinale (L.) Rosc.) mempunyai kegunaan yang


cukup beragam, antara lain sebagai rempah, minyak atsiri,
pemberi aroma, ataupun sebagai obat.
Berdasarkan bentuk, warna, dan ukuran rimpang, ada 3 jenis jahe
yang dikenal, yaitu jahe putih besar/jahe badak, jahe putih
kecil atau emprit dan jahe sunti atau jahe merah.

(Bartley dan Jacobs 2000).

Menurut penelitian Hernani dan Hayani (2001), jahe merah


mempunyai kandungan pati (52,9%), minyak atsiri
(3,9%) dan ekstrak yang larut dalam alkohol (9,93%)
lebih tinggi dibandingkan jahe emprit (41,48, 3,5 dan
7,29%) dan jahe putih besar (44,25, 2,5 dan 5,81%).
Rasa pedas dari jahe segar berasal dari
kelompok senyawa gingerol, yaitu senyawa
turunan fenol.
Rasa Jahe pedas dari jahe kering berasal dari
senyawa shogaol.

Komposisi kimia jahe sangat


dipengaruhi oleh berbagai faktor,
antara lain waktu panen, lingkungan
tumbuh (ketinggian tempat, curah
hujan, jenis tanah), keadaan rimpang
(segar atau kering) dan geografi.

Karena khasiat dari tanaman tersebut


maka jahe telah lama dimanfaatkan
dan cukup disukai oleh masyarakat
untuk pengobatan secara tradisional.
Mengingat fungsinya dalam
kesehatan maka meminum jahe
dapat dijadikan sebagai suatu
kebiasaan dengan menyediakannya
dalam bentuk jamu instan yang siap
diseduh.

PENGOLAHAN JAHE

Koswara,19
95

Komponen kimia
Komponen utama dari jahe segar adalah
senyawa homolog fenolik keton yang
dikenal sebagai gingerol. Gingerol sebagai
komponen utama jahe dapat terkonversi
menjadi shogaol atau zingeron.
Karakteristik bau dan aroma jahe berasal
dari campuran senyawa zingeron, shogaol
serta minyak atsiri dengan kisaran 1-3%
dalam jahe segar.
(Rehmen et al. 2011)

Komponen utama minyak atsiri jahe


adalah seskuiterpen hidrokarbon,
dan paling dominan adalah
zingiberen (35%), kurkumen (18%),
farnesen (10%), dan sejumlah kecil
bisabolen dan beta-seskuifellandren.

Jahe juga mengandung berbagai


jenis senyawa fenolik seperti
gingerol, zingiberol yang berasa
pedas dan sogaol dan paradol,
resveratrol, senyawa tersebut
dilaporkan mempunyai efek sebagai
antioksidan, anti tumor dan anti
proliferasi (Cancer and medicinal
plantsginger. Htm, 2007).

Komposisi kimia jahe sangat


dipengaruhi oleh berbagai faktor,
antara lain
waktu panen, lingkungan tumbuh
(ketinggian tempat, curah hujan,
jenis tanah), keadaan rimpang (segar
atau kering) dan geografi (Mustafa et
al. 1990; Ali et al. 2008)

Beberapa komponen kimia jahe, seperti


gingerol, shogaol dan zingerone memberi efek
farmakologi dan fisiologi seperti antioksidan,
antiimflammasi, analgesik, antikarsinogenik,
non-toksik dan non-mutagenik meskipun pada
konsentrasi tinggi (Surh et al. 1998; Masuda
et al. 1995; Manju dan Nalini 2005; Stoilova et
al. 2007).
Minyak dalam ekstrak mengandung
seskuiterpen, terutama zingiberen,
monoterpen dan terpen teroksidasi.

Komponen utama jahe (gingerol dan


shogaol)

Pemanfaatan Jahe dalam Bidang


Kesehatan
Jahe biasanya aman sebagai obat herbal
(Weidner dan Sigwart 2001). Hasil penelitian
terhadap tikus hamil yang diberikan ekstrak
jahe secara oral tidak mempengaruhi
kehamilan dan tidak menyebabkan toksisitas
sampai konsentrasi 1000 mg/kg. Walaupun
dilaporkan juga beberapa efek samping minor
akibat konsumsi jahe seperti diare ringan
atau reaksi alergi ringan. Efek samping
terutama terjadi bila jahe dikonsumsi
mentah.

Hasil penelitian farmakologi menyatakan


bahwa senyawa antioksidan alami dalam
jahe cukup tinggi dan sangat efisien
dalam menghambat radikal bebas
superoksida dan hidroksil yang
dihasilkan oleh sel-sel kanker, dan
bersifat sebagai antikarsinogenik, nontoksik dan non-mutagenik pada
konsentrasi tinggi (Manju dan Nalini
2005).

Jahe dilaporkan dapat mengurangi


resiko penyakit jantung dan
meningkatkan performan dari
jantung selama olah raga, karena
memberikan efek relaks dalam
tubuh.
Senyawa zingerone, yang memberikan
karakter sangat tajam dari rimpang
jahe, sangat efektif terhadap
Escheria coli penyebab diare,
terutama pada anak-anak.

KESIMPULAN
Manfaat dan khasiat serta keamanan jahe dalam
pengobatan sangat ditentukan oleh kandungan
komponen kimia aktifnya.
Beberapa penyakit degeneratif seperti kanker,
jantung, darah tinggi dan kolesterol serta diabetes
bisa diobati dengan komponen bioaktif yang
terdapat dalam ekstrak jahe.
Teknik pengolahan jahe yang tepat dapat
menghasilkan produk yang lebih stabil,
melindunginya dari uap air, panas atau kondisi
ekstrim dan meningkatkan stabilitas dan
viabilitasnya.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, B.H., G. Blunden, M. O. Tanira dan A.
Nemmar. 2008. Some phytochemical,
pharmacological and toxicological properties
of ginger (Zingiber officinale Roscoe): A review
of recent research. Food and Chemical
Toxicology. 46 : 409420.
Anwar, F., M. Ali, A.L. Hussain dan M. Shahid.
2009. Antioxidant and antimicrobial activities
of essential oil and extracts of fennel
(Foeniculum vulgare Mill.) seeds from
Pakistan. Flav. Frag. J. 24 : 170-176.

Denyer, C.V., P. Jackson, D.M. Loakes,


M.R. Ellis dan D.A.B. Yound. 1994.
Isolation of antirhinoviral
sesquiterpenes from ginger (Zingiber
officinale). J Nat Products. 57 : 658662.
Ferdiansyah, A. 2009. Prospek dan
potensi jahe gajah.
http:www//prospek-dan-potensi-jahegajah.htm
Koswara S.1995. Jahe dan Hasil
Olahannya. Jakarta : Pustaka Sinar