Anda di halaman 1dari 71

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara berkembang yang mengalami
perubahan di banyak bidang dari waktu ke waktu termasuk gaya
hidup masyarakat yang ada di dalamnya. Perubahan ini juga
membuat negara Indonesia mengalami transisi epidemologi
dimana pola penyakit bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit
degenerative.

Sebelum

masalah

penyakit

nmenular

dapat

diselesaikan, penyakit tidak menular sudah banyak bermunculan


(Aster, 2007)
Salah satu penyakit non-infeksi (degeneratif) adalah kanker.
Kanker

merupakan

diseluruh

dunia.

salah

satu

World

penyebab

Health

utama

Organization

kematian
(WHO)

mengestimasikan bahwa 84 juta orang meninggal akibat kanker


dalam rentang waktu 2005

dan

2015.

Data

Departemen

Kesehatan (2010) menyebutkan, kanker merupakan penyebab


utama kematian keenam di Indonesia dan diperkirakan terdapat
insiden kanker 100 per 100.000 penduduk setiap tahunnya. Hasil
riset Kesehatan Dasar (2014) menyebutkan bahwa prevalensi
kanker di Indonesia adalah 430 per 100.000 penduduk. Data dari
Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) melaporkan bahwa pada
tahun 2010

terdapat 7 juta kematian dari 11 juta orang

terdiagnosis kanker (CFR 63,63%). Diperkirakan pada tahun 2030


terdapat 17 juta kematian dari 27 juta orang yang terdiagnosis
kanker (CFR 62,96%).
Kanker ovarium adalah penyakit yang membuat frustasi bagi
pasien dan pemberi perawatan kesehatan karena awitannya
yang tersembunyi. Dan tidak ada gejala peringatan adalah
penyebab mengapa penyakit ini telah mencapai tahap lanjut

ketika didiagnosa. Kondisi ini merupakan penyebab kematian


utama diantara malignansi ginekologis. Penyakit ini mempunyai
angka kejadian sekitar 13,8 wanita per 100.000. Sayang sekali,
sekitar 75% dari kasus dideteksi pada tahap lanjut. Amatlah sulit
untuk mendiagnosa dan adalah unik sehingga kemungkinan
kondisi ini merupakan awal dari banyak kanker primer dan
mungkin menjadi tempat metastasis dari kanker lainnya. Kondisi
ini membawa angka kematian 14.500 setiap tahunnya dan
merupakan penyebab prevalen keenam dari kematian akibat
kanker pada wanita (Wingo et al., 1995). Sebagian kasus
mengenai wanita antara usia 50 sampai 59 tahun. Insiden
tertingginya adalah di negara-negara industri, kecuali Jepang,
yang insidennya rendah.
Kanker ovarium merupakan 20% dari semua keganasan alat
reproduksi

wanita.

Insidensi

rata-rata

dari

semua

jenis

diperkirakan 15 kasus baru per 1000000 populasi wanita


setahunnya.

Kanker

ovarium

merupakan

kumpulan

tumor

dengan histiogenesis yang beraneka ragam, dapat berasal dari


ketiga

dermoblast

(ektodermal,

entodermal,

mesodermal)

dengan sifat-sifat histologis maupun biologis yang beraneka


ragam. Oleh karena itu histiogenesis maupun klasifikasinya
masih sering menjadi perdebatan. Kira-kira 60% terdapat pada
usia perimenopausal, 30% dalam masa reproduksi, dan 10%
pada usia jauh lebih muda. Tumor ini dapat jinak (benigna), tidak
jelas jinak tapi juga tidak pasti ganas (borderline malignancy
atau carcinoma of low malignant potential) dan yang jelas ganas
(malignant).
Hereditas dapat berperan dalam menimbulkan penyakit ini,
dan banyak dokter menyarankan pemeriksaan pelvis bimanual
bagi wanita yang mempunyai satu atau dua orang saudara
dengan kanker ovarium. Meskipun dengan pemeriksaan yang

cermat, tumor ovarium biasanya terdapat jauh di dalam dan sulit


untuk dideteksi. Belum ada skrining dini yang tersedia saat ini
meskipun penanda tumor sedang dalam penelitian.
Di Indonesia, diprediksi tiap tahun ada seratus kanker baru
dari 100.000 penduduk, 2 persen diantaranya atau 4.100 kasus
merupakan kanker yang terjadi pada wanita. Angka ini terus
meningkat

lantaran

kurangnya

pengetahuan

para

waniita

mengenai penyakit kanker dan bahayanya (Edi, 2006). Yayasan


Onkologi Indonesia menyatakan, setiap tahun ditemukan kasus
kanker baru diseluruh indonesia, 150 kasus diantaranya terdapat
di Jakarta dan sumatera barat. Sebanyak 60% merupakan
penderita kanker ovarium dan kanker servik atau kanker darah.
Umumnya pasien kanker ovarium datang setelah stadium lanjut
yang sulit disembunyikan.
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M.Djamil Padang merupakan
rumah sakit rujukan untuk wilayah Sumatera Tengan dan
Sumatera Barat dan merupakan rumah sakit tipe B+. rumah
sakit ini terdiri dari berbagai ruangan rawat inap, salah satunya
adalah ruang rawat inap (bangsal) kebidanan khususnya ruang
ginekologi. Berbagai jenis penyakit ginekologi yang diderita
wanita dirawat diruangan ini. salah satu jenis penyakitnya adalan
kanker

ovarium.

Menurut

data

yang

diperoleh

dari

RSUP

Dr.M.Djamil Padang pada tahun 2015 didapatkan data sebanyak


32% wanita menderita kanker ovarium. Setiap bulan rata rata
15 20 orang dirawat karena kanker ovarium. Ny. N merupakan
salah seorang pasien yang dirawat karena kanker ovarium yang
dirawat di bangsal kebidanan karena kanker ovarium.Ny. N
didiagnosa menderita kanker ovarium sejak lima bulan yang lalu
dan sekarang sedang menjalani kemoterapi yang ke-2. Berbagai
masalah post kemoterapi dirasakan oleh pasien, di antaranya

mual muntah, nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, konstipasi


serta kecemasan akibat perubahan status kesehatan. Melihat hal
di atas maka kelompok tertarik untuk mengangkat kasul ini
menjadi judul asuhan keperawatan pada Ny. N dengan kanker
ovarium.
B. Tujuan
Tujuan Umum
Memaparkan asuhan keperawatan kanker ovarium
pada Ny. N di ruang ginekologi RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan makalah ini yaitu:
1. Memaparkan teoriti kanker ovarium
a. Defenisi
b. Etiologi
c. Klasifikasi
d. Manifestasi klinis
e. Patofisiologi
f. Komplikasi
g. Penatalaksanaan medis dan keperawatan
2. Memaparkan asuhan keperawatan pada Ny. N yang
didiagnosa kanker ovarium

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP DASAR KANKER OVARIUM


1. Defenisi
Kanker

ovarium

adalah

kumpulan

tumor

dengan

histogenesis yang beraneka ragam, dapat berasal dari ketiga


dermoblast (endoderma, mesoderma, ektoderma) dengan sifatsifat histologis maupun biologis yang beraneka ragam. Kanker
ovarium adalah penyakit yang membuat frustasi bagi pasien dan
pemberi

perawatan

kesehatan

karena

awitannya

yang

tersembunyi dan tidak ada gejala. Kanker ovarium ini dapat


berupa kistik, padat, kecil, besar dan bisa pula jinak atau ganas.
(Sinopsis obstetri, 2005).
Kanker Ovarium adalah penyakit yang disebabkan oleh
pertumbuhan cepat disertai pembelahan yang terjadi dalam
salah satu atau kedua kelenjar reproduksi ovarium dimana ova,
atau telur dan hormon pada wanita dibuat. Apabila sel membelah
terlalu banyak dan cepat, maka kumpulan sel tersebut dapat
diidentifikasi sebagai tumor. Apabila tumor tersebut dibatasi oleh
sedikit dari lapisan sel, seperti permukaan sel dan tumor
tersebut tidak menyebar ke jaringan lain maka dapat dikatakan
tumor tersebut termasuk dalam kategori benign (jinak). Apabila
tumor tersebut menyebar hingga ke jaringan atau bahkan ke
organ lain maka tumor tersebut dapat di kategorikan malign
(ganas) atau kanker. Apabila sel kanker menyebar jauh dari sel
tumor aslinya dan berpindah melalui pembuluh darah atau
lymphatic dan tumbuh di bagian lain tubuh, proses ini disebut
Metastasis (www.oncologychannel.com)

2. Etiologi dan Faktor Resiko


Etiologi pasti dari kanker ovarium belum ditemukan,
namun

beberapa

faktor

resiko

diduga

terjadinya penyakit ini pada wanita.

dapat

menginduksi

Faktor biologis yang

menyebabkan kanker ovarium tetap belum diketahui.


Beberapa faktor (hormonal, kesehatan lingkungan, dan
variabel genetik) diduga juga mempengaruhinya, walaupun
sebenarnya setiap wanita mempunyai resiko untuk terkena
penyakit ini. Beberapa spesifik faktor resiko dihubungkan dengan
kanker ovarium epithelial, walaupun faktor ini tidak berhubungan
dengan kanker ovarium dalam kategori yang jarang terjadi,
seperti tumor sel germ, pada kenyataanya, banyak kasus terjadi
tanpa diketahui faktor resikonya.
Faktor risiko itu antara lain :
a.

Riwayat Keluarga
Riwayat penyakit keluarga merupakan faktor penting

dalam

mengestimasi

resiko

kanker

ovarium.

Penelitian

menilai bahwa wanita memiliki resiko setinggi 50% terkena


kanker ovarium apabila silsilah pertama (ibu, adik, anak) atau
silsilah kedua (nenek,tante) dalam keluarga memiliki penyakit
ini. Adanya kanker payudara juga dapat menyebabkan
sindrom

kanker

payudara

yang

dapat

mempengaruhi

terhadap resiko terhadap kanker ovarium


b.

Umur
Resiko berkembangnya kanker ovarium meningkat seiring

dengan bertambahnya umur. Kebanyakan kasus kanker


ovarium terjadi setelah menopause yang terjadi pada usia
sekitar 51 tahun. Lebih dari 50% kanker ovarium ditemukan
pada wanita berusia diatas 65 tahun.
c.

Riwayat Menstruasi dan Riwayat Kehamilan

Banyak ahli percaya bahwa ada hubungan antara usia


siklus menstruasi wanita dengan kanker ovarium. Bahwa
resiko

kanker

ovarium

meningkat

pada

wanita

yang

mengalami menstruasi sebelum usia 12 tahun dan/atau


wanita yang mengalami menopause setelah usia 50 tahun.
Nullipariti (tidak dapat melahirkan anak yang dapat hidup)
juga merupakan resiko berkembangnya kanker ovarium, juga
pada mereka yang baru memiliki anak pada usia setelah 30
tahun. Dengan kata lain wanita yang tidak pernah melahirkan
memiliki resiko kanker ovarium lebih tinggi dibanding yang
pernah melahirkan. Kehamilan yang berulang dapat memicu
adanya efek protektif. Sama halnya dengan wanita yang
mengkonsumsi/
mengurangi
Sehingga

pernah

resiko

timbul

mengkonsumsi

kanker

pemikiran

ovarium
bahwa

pil

sekitar
efek

KB

akan

40%-50%.

protektif

pada

kehamilan, penggunaan pil KB, dan pemberian asi dapat


menekan ovulasi, dan dengan makin sedikitnya siklus ovulasi
maka yang dialami wanita, maka akan memperkecil pula
resiko terhadap kanker ovarium.
d.

Obat Kesuburan
Wanita

yang

mengstimulasi

menggunakan

kesuburan

seperti

obat

obatan

clomiphene

untuk
citrate

(Clomid) dan menotropins (Pergonal) akan meningkatkan


resiko kanker ovarium. Tipe kanker ovarium yang terjadi
akibat pemakiaan obat kesuburan ini adalah Low Malignant
Potential tumors (LMP tumors).
e.

Pola Makan dan Asupan Nutrisi


Banyaknya daging dan lemak hewani pada diet dapat

berhubungan dengan perkembangan kanker ovarium. Diet


semacam ini banyak terjadi pada negara-negara maju dan

daerah industri, yang mana angka penderita kanker ovarium


lebih banyak terjadi ketimbang negara negara berkembang.
Obesitas juga sangat mempengaruhi resiko ini, terutama
pada wanita yang tidak pernah melahirkan anak yang hidup
(Nullipara)
f.

Kosmetik
Beberapa penelitian mengindikasi adanya peningkatan

resiko kanker ovarium pada wanita yang menggunakan


kosmetik/ bedak talek pada kemaluannya. Bedak talek ini
mengandung asbestos yang merupakan salah satu zat kimia
yang dapat menyebabkan kanker. Walaupun sekarang telah
banyak jenis bedak seperti ini yang bebas dari asbestos, tapi
keamanannya terhadap potensial penyebab kanker belum
dapat ditegaskan.

g.

Mutasi
Para peneliti masih belum bisa mengidentifikasi faktor

lingkungan yang mempengaruhi mutasi genetik penyebab


kanker ovarium.Baik mutasi genetik yang diperoleh , begitu
juga

dari

mutasi

genetik

yang

diwariskan,

sangat

berpengaruh pada kecacatan DNA yang mengacu pada


kanker ovarium. Identifikasi terhadap perubahan genetik
dapat membantu memprediksi ramalan gangguan pada
seorang wanita. Faktor risiko lainnya adalah merokok, alkohol,
riwayat kanker kolon atau kanker payudara.
3.Klasifikasi
Klasifikasi stadium kanker ovarium berdasarkan FIGO
(International Federation of Gynecology and Obstetrics

Stadium I terbatas pada 1 / 2 ovarium


IA
Mengenal 1 ovarium, kapsul utuh, ascites (-)
IB
Mengenai 2 ovarium, kapsul utuh, ascites (-)
IC
Kriteria I A / I B disertai 1 > lebih keadaan sbb :
1.

Mengenai permukaan luar ovarium

2.

Kapsul ruptur

3.

Ascites (+)

Stadium II perluasan pada rongga pelvis


II A
Mengenai uterus / tuba fallopi / keduanya
II B
Mengenai organ pelvis lainnya
II C
Kriteria II A / II B disertai 1 / > keadaan sbb :
1.

Mengenai permukaan ovarium

2.

Kapsul ruptur

3.

Ascites (+)

Stadium

III

kanker

meluas

mengenai

organ

pelvis

dan

intraperitoneal
III A
Makroskopis : terbatas 1 / 2 ovarium
Mikroskopis : mengenai intraperitoneal
Makroskopis : mengenai intraperitoneal diameter < 2 cm,

III B
III C

KGB (-)
1.
Meluas mengenai KGB dan /
2.

Makroskopis mengenai intraperitoneal diameter > 2 cm

Derajat keganasan kanker ovarium


Derajat 1 : differensiasi baik
Derajat 2 : differensiasi sedang
Derajat 3 : differensiasi buruk

Penetapan Tingkat Klinik Keganasan


UICC

Kriteria

FIGO

10

T1

Terbatas pada ovarium

T1a

Satu ovarium, tanpa ascites

Ia

T1b

Kedua ovarium, tanpa ascites

Ib

T1c

Satu/dua ovarium, ada ascites

Ic

T2

Dengan perluasan ke panggul

II

T2a

Uterus dan atau tuba, tanpa ascites

Iia

T2b

Jaringan panggul lainnya, tanpa ascites

Iib

T2c

Jaringan panggul lainnya, dengan ascites

Iic

T3

Perluasan ke usus halus/omentum dalam


panggul,
atau
penyebaran
intraperitoneal/kelenjar retraperitoneal.

III

M1

Penyebaran ke alat-alat jauh

IV

4. Manifestasi Klinis
Tanda-tanda

dan

gejala

termasuk

haid

tidak

teratur,

ketegangan menstrual yang terus meningkat, darah menstruasi


yang banyak (menorhagi) dengan nyeri tekan pada payudara,
menopause dini, dan

rasa tidak nyaman pada abdomen,

dispepsia, dan sering berkemih.


Gejala-gejala ini biasanya samar, tetapi setiap wanita dengan
gejala-gejala gastroistestinal dan tanpa diagnosis yang diketahui

11

harus dievaluasi dengan menduga kanker ovarium. Flatulens,


rasa begah setelah makan makanan kecil, dan lingkar abdomen
yang terus meningkat merupakan gejala-gejala yang signifikan.
Tahap-tahap kanker ovarium :
1. Pertumbuhan terbatas pada ovarium.
2. Pertumbuhan mencakup satu atau dua ovarium dengan
perluasan pelvis.
3. Pertumbuhan

mencakup

satu

atau

kedua

ovarium

dengan metastatis di luar pelvis atau nodul inguinal


atau retroperitoneal positif.
4. Pertumbuhan

mencakup

satu

atau

kedua

ovarium

dengan metastatis jauh.


Pengaruh

kanker

ovarium

terhadap

kehamilan

dan

persalinan:
Kanker yang besar dapat menghambat pertumbuhan
janin

sehingga

menyebabkan

abortus,

partus

prematurus.
Kanker yang bertangkaian, karena pembesaran atau
pengecilan uterus setelah partus menyebabkan rasa
nyeri, nekrosis dan infeksi yang disebut abdomen akut.
Dapat menyebabkan kelainan-kelainan pada letak janin.
Kanker kistik dapat pecah karena trauma luar atau
trauma persalinan.
Kanker besar berlokasi di bawah, dapat menghalangi
persalinan.

Kanker ovarium menyebar secara limfogen ke kelenjar


pada aorta, mediastinal dan supra klavikular, dan seterusnya

12

menyebar ke alat-alat yang jauh terutama paru, hati dan otak.


Obstruksi usus dan ureter merupakan masalah yang sering
menyertai penderita kanker ovarium.
Tanda dan gejala pada kanker ovarium ini biasanya tidak
ada (asimptomatik) untuk periode yang lama dan kalaupun
muncul biasanya tidak spesifik. Pada stadium awal penyakit,
gejala yang mungkin muncul antara lain :

Mengalami menstruasi yang tidak teratur seakanakan sedang dalam masa akan menopause.Jika massa
kanker menekan kandung kemih atau rectum maka akan
timbul keluhan sering BAK dan konstipasi

timbul
tertekan

Nyeri, misalnya seperti nyeri saat melakukan


hubungan seksual

kembung

atau

sensasi

seperti

perut

Pada stadium lanjut, gejala yang muncul biasanya


berkaitan dengan penyebaran kanker ke organ lain seperti
(Rahmat, 2006):

kembung

cairan pada rongga perut (ascites)

konstipasi (susah buang air besar)

mual dan muntah

wanita menjelang menopause mungkin mengeluh


menstruasi yang tidak teratur dan banyak.

5. Patofisiologi
Riwayat menstruasi yang mempengaruhi siklus ovulasi bisa
mempengaruhi proliferasi sel ovarium sehingga menimbulkan
13

hyperplasia jaringan ovarium. Faktor genetik, atau terjadinya


mutasi BRCA1 dan BRCA 2 yang merupakan gen pembawa
kanker, yang bisa diturunkan.
Penggunaan

konsmetik

speerti

bedak

talk

pada

organ

genitalia bisa mengganggu proliferasi sel yang juga memicu


terbentuknya jaringan abnormal. Alkohol,rokok dan zat yang
meningkatkan

radikal

bebas

sehingga

menimbulkan

jejas

jaringan ovarium yang mempengaruhi proliferasi sel.


Umur yang lebih dari 50 tahun banyak mengalami perubahan
keseimbangan steroid endogen yang merangsang pertumbuhan
sel abnormal dan akhirnya memicu proliferasi sel. Riwayat
ca,colon, ca.mamae yang bermestatase ke ovarium juga memicu
pertumbuhan sel kanker di ovarium. Mengomsumsi lemak yang
tinggi akan merubah keseimbangan steroid endogen.
Faktor-faktor tersebut diatas memicu pertumbuhan kanker di
ovarium. Kanker ovarium ini memiliki stadium perkembangan
yang berbeda sesuai umur pertumbuhan dan penyebarannya.
Pada stadium 1, kanker hanya terbatas pada ovarium. Pada
stadium ini, terjadi hyperplasia pada ovarium yang menyebabkan
kadar

androgen

maskulinisasi.

meningkat

Selain

itu,

yang

estrogen

menyebabkan
juga

meningkat

efek
yang

mempengaruhi perdarahan saat haid, peningkatan jaringan


mamae sehingga mamae terasa padat dan terasa nyeri.
Pada stadium 2, pertumbuhan sudah mulai menyebar ke
rongga peritoneal, namun hal ini seiring memasuki stadium 3.
Pada stadium 3 ini penyebaran sudah sampai ke GIT yang
menyebabkan anoreksia, obstruksi usus, dll. Pada stadium 4
penyebaran sudah sampai di paru,otak dan hati. Pada stadium
ini, keluhan utama adalah terjadinya asites akibat pecahnya
tumor dan menyebar ke rongga peritonium dan akhirnya

14

menyebabkan

asites

pada

abdomen,

lebih

lanjut

akan

menimbulkan peritonitis.
6. Komplikasi
Obstruksi usus merupakan komplikasi yang sering terjadi
pada kasus tindakan lanjut yang dikelola dengan melakukan
reseksi usus sekali atau beberapa kali untuk membuat by pass
bila kondisi penderita mengizinkan (Brunner dan Suddart, 2013).
Kanker ovarium dapat bermetastasis dengan invasi langsung ke
struktur yang berdekatan pada abdomen dan panggul dan
melalui penyebaran benih tumor melalui cairan peritoneal ke
rongga abdomen dan rongga panggul. Asites dapat terjadi dan
cairan yang mengundang sel-sel panas melalui saluran tipe limfe
menuju pleura dan akhirnya menyebabkan efusi pleura.

7. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis pada kanker ovarium dapat dilakukan dengan :
Riwayat Kesehatan
Dapat diteliti dengan mengajukan pertanyaan kepada pasien
tentang faktor faktor yang mempengaruhi kanker ovarium
seperti tentang penggunaan pil KB, riwayat kehamilan dan
pemberian ASI, riwayat keluarga dengan kanker ovarium, dan
kanker-kanker lain seperti kanker payudaya. Riwayat

merokok

juga bisa ditanyakan untuk perkiraan adanya pengaruh kanker


ovarium terhadap merokok.
Fisik
Pemeriksaan

fisik

lebih

di

fokuskan

pada

pemeriksaan

genitalia, untuk melihat adanya kelainan pada vagina ada

15

uterusnya. Pemeriksaan vagina dapat dilakukan dengan cara


palpasi (merasakan dengan tangan atau dengan sentuhan kecil).
Masukkan jari ke dalam vagina dan raba kulit di sekitar ovarium
dengan menggunakan tangan yang lain untuk mendeteksi
adanya nodule (tonjolan) pada salah satu atau dua bagian
uterus. Jika memang benar terdapat nodule yang berdiameter
kurang lebih 2 inchi, lebih padat dari kista dan terdapat pada
bilateral (di kedua sisi) maka kemungkinan adalah

kanker

ovarium.
Pemeriksaan Penunjang :
USG
Pemeriksaa ultrasonography pada bagian vagina atau
disebut

Tranvaginal

sonography

(TVS).

Untuk

lebih

akuratnya biasanya tes ini disertai dengan tes darah yang


disebut CA125

Laboratorium
Pemeriksaan serum CA 125. Serum CA 125 merupakan
tumor marker yang dapat digunakan untuk memisahkan
antara kanker yang ganas dengan jinak. CA 125 atau
penanda tumor (tumor marker) merupakan suatu protein
16

yang

konsentrasinya

sangat

tinggi

pada

sel

tumor.

Meskipun CA 125 juga terdapat pada berbagai jenis kanker


namun konsentrasi zat ini paling tinggi ditemukan pada
kanker

ovarium.

CA

sendiri

merupakan

singkatan

dari Cancer Antigen.

Laparoskopi
Laparoskopi

diagnostik

merupakan

pemeriksaan

pasti

untuk dapat menentukan keganasan kanker. Indikasi untuk


melakukan laparoskopi antara lain :
-

massa ovarium > 7 cm

pembesaran ovarium pada masa menopause atau


1 tahun sebelum menstruasi

pasca pemberian kontrasepsi hormonal

tumor bilateral (kecuali kista theca lutein)

tumor keras

gejala torsi (tumor terputar) atau rupture (tumor


pecah)
ascites

8. Penatalaksanaan
a. Pengobatan
Pada umumnya, pengobatan kanker ovarium dilakukan
dengan tindakan operasi, lalu dilanjutkan dengan pengobatan
tambahan seperti kemoterapi, radioterapi, dan imunoterapi.

Operasi
Pada umumnya dilakukan:
-

Histerektomi total yaitu mengangkat rahim dengan

organ sekitarnya
Salpingo ooporekmitomi yaitu mengangkat kedua
ovarium dan kedua saluran tuba fallopii

17

Omentektomi yaitu mengangkat lipatan selaput


pembungkus perut yang memanjang dari lambung
ke alat-alat perut

Radioterapi

Teleterapi pelvis dan abdomen dan penetesan isotop


radioaktif pada rongga peritoneal digunakan pada wanita
dengan kanker ovarium tahap awal (stadium I dan II). Isotop
radioaktik (P32) digunakan sebagai terapi residual kanker
pada

rongga

penyakit

peritoneum.

yang

terbatas,

Pasien
kurang

yang
dari

memiliki
2cm,

residu

merupakan

kandidat utama terapi P32 ini.


-

Kemoterapi
Kemoterapi dianjurkan setelah operasi dalam 6 dosis jarak

3 minggu terpisah. Ini disebut baris pertama karena itu adalah


kemo pertama kali diberikan.Obat-obat kemoterapi disuntikkan
intravena, seringkali dengan cara port yang oncologist Anda akan
menempatkan di dada atau lengan. Kadang-kadang kemoterapi
intraperitoneal digunakan yang menyuntikkan obat langsung ke
perut.
Terapi

awal

standar

yang

disarankan

oleh

dokter

menggunakan kombinasi obat berbasis platinum seperti cisplatin


carboplatin atau bersama dengan taxane seperti paclitaxel atau
docetaxel. Obat kemoterapi membunuh sel kanker yang tersisa
dalam tubuh Anda setelah operasi, tetapi mereka juga merusak
sel-sel normal, seperti obat-obat tidak membedakan antara
normal dan berpenyakit.
Penjelasan

sederhana

adalah

bahwa

mereka

bekerja

dengan menghancurkan sel-sel yang membelah dengan cepat


adalah deskripsi dari sel-sel kanker. Namun, sel-sel lain dalam

18

tubuh juga termasuk dalam kategori ini dan juga rusak dalam
proses. Folikel

rambut

contoh,

itulah

sebabnya

mengapa

kebanyakan pasien mengalami rambut rontok.


Ini hanya kondisi sementara meskipun dan rambut akan
mulai tumbuh kembali segera setelah kemoterapi dihentikan,
meskipun dalam beberapa kasus akan terlihat berbeda pada
awalnya. sel-sel sehat lain yang rusak termasuk sel darah merah
dan putih, trombosit (yang diperlukan untuk pembekuan), dan sel
yang

melapisi

saluran

pencernaan. Hal

ini

sering

dapat

menyebabkan rasa mual yang begitu umum dengan pengobatan.


Karena obat kemoterapi dapat merusak sumsum tulang
yang menghasilkan sel normal, pasien dapat mengalami jumlah
sel darah rendah dan sering harus mengambil belum obat lain
untuk mendorong sumsum tulang untuk mulai memproduksi sel
lagi. Kombinasi dari semua obat kadang-kadang menyebabkan
orang untuk memiliki kelupaan ringan dan kehilangan memori
sering disebut sebagai otak kemo. Hal ini harus pergi akhir
sekali perawatan.
-

Terapi Tumor Ganas Ovarium


Pada tingkat awal prosedur adalah TAH + BSO + OM + APP.

Luas pembedahan ditentukan oleh insidensi metastase dan


invasi terhadap korpus uteri. Biopsi seperti omentum, kelenjar
limfe penting. Pembedahan juga penting sebagai tindakan primer
dengan mengangkat sebagian besar jaringan tumor, meskipun
tidak semua dapat diangkat, hal ini memungkinkan tindakan
Kemoterapi dan Radioterapi lebih efektif.
Tindakan konservatif (hanya mengangkat tumor ovarium
saja:

oophorektomi

atau

oophorokistektomi)

masih

dapat

dibenarkan jika tingkat klinik terbatas pada satu ovarium tanpa

19

asites,

wanita

masih

muda,

belum

punya

anak,

derajat

keganasan tumor rendah.


9. Pencegahan
Beberapa faktor muncul untuk mengurangi risiko kanker
ovarium termasuk:

Kontrasepsi oral(pil KB). Dibandingkan dengan


wanita yang tidak pernah menggunakan mereka,
para wanita yang menggunakan kontrasepsi oral
selama lima tahun atau lebih mengurangi risiko
kanker ovarium sekitar 50 persen, sesuai dengan

ACS.
Kehamilan dan menyusui. Memiliki paling tidak
satu anak menurunkan risiko mengalami kanker
ovarium.

anak-anak

juga

dapat

mengurangi risiko kanker ovarium.


Tubal ligasi atau histerektomi. Setelah tabung Anda
diikat

Menyusui

atau

memiliki

histerektomi

dapat

mengurangi risiko kanker ovarium.


Perempuan yang berada pada risiko yang sangat
tinggi mengalami kanker ovarium dapat memilih
untuk memiliki indung telur mereka diangkat
sebagai cara untuk mencegah penyakit. Operasi
ini,

dikenal

sebagai

profilaksis

ooforektomi,

dianjurkan terutama bagi perempuan yang telah


dites positif untuk mutasi gen BRCA atau wanita
yang mempunyai sejarah keluarga yang kuat
payudara dan kanker ovarium, bahkan jika tidak
ada mutasi genetik yang telah diidentifikasi.

20

21

B.

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS


1. Pengkajian
a. Identitas
Kanker ovarium sering terdapat pada wanita usia di
atas 45 tahun (85%)
b. Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama : keluhan yang sering muncul
tiba-tiba adalah nyeri pada perut , menjalar ke
ari-ari, penurunan nafsu makan, diringi dengan
mual dan muntah, bila terjadi infeksi dapat
menyebabkan

demam,

kecenderungan

pucat

terjadi

(anemia)

perdarahan

dan
pada

genitalia.
Riwayat kesehatan masa lalu : Pada penderita
kanker
riwayat

ovarium

sering

gangguan

ditemukan

pada

siklus

dengan

menstruasi,

perdarahan, dan riwayat penggunaan kontraspesi


seperti penggunaan suntik KB, serta pola makan
yang tidak baik, seperti sering mengkonsumsi
makanan cepat saji, berlemak, makan kolesterol
tinggi
Pola

Persepsi

kesehatan : Tidak

mempertahankan

spesifik

dan

berhubungan

dengan kebiasaan buruk dalam mempertahankan


kondisi kesehatan dan kebersihan diri. Kadang
ditemukan

laporan

tentang

riwayat

personal

hygine yang buruk.


Pola Nurisi : wanita sering mengalami penurunan
nafsu
sensasi

makan,
rasa,

gangguan

anorexia,

muntah,

penurunan

berat

menelan,

serta

perubahan
badan

pharingitis.

dan
Dari

pemeriksaan fisik ditemukan adanya distensi


abdomen, penurunan bowel sounds, pembesaran
22

limfa, pembesaran hepar akibat invasi sel-sel


darah putih yang berproliferasi secara abnormal,
dan stomatitis.
Pola
Eliminasi : wanita
konstipasi,

kadang

mengalami

penegangan pada perianal, nyeri

abdomen, dan ditemukan darah segar dan faeces


berwarna teh, darah dalam urin, serta penurunan
urin output. Pada inspeksi didapatkan adanya
abses perianal, serta adanya hematuria.
Pola Tidur dan Istrahat : wanita memperlihatkan
penurunan aktifitas dan lebih banyak waktu yang
dihabiskan untuk tidur /istrahat karena mudah
mengalami kelelahan.
Pola Kognitif dan Persepsi : wanita

penderita

kanker ovarium kadang ditemukan mengalami


penurunan kesadaran (somnolence) , adanya
keluhan sakit kepala, disorientasi, karena sel
darah

putih

yang

abnormal

berinfiltrasi

ke

susunan saraf pusat.


Pola Mekanisme Koping dan Stress : wanita
berada

dalam

pertahan

kondisi

tubuh

yang

yang
sangat

lemah
jelek.

dengan
Dalam

pengkajian dapat ditemukan adanya depresi,


withdrawal, cemas, takut, marah, dan iritabilitas.
Juga ditemukan perubahan suasana hati, dan
bingung.
Pola Seksual : Pada wanita dengan kanker
ovarium terjadi penurunan terhadap aktivitas
seksual,
melakukan

bahkan

tidak

hubungan

memperberat penyakit.

23

disarankan

seksual

karena

untuk
dapat

Pola Hubungan Peran : wanita biasanya merasa


kehilangan

kesempatan

berkumpul

bersama

keluarga dan menjalankan fungsi perannya dalam


keluarga
Pola Keyakinan dan Nilai : wanita mengalami
kelemahan

umum

dan

ketidakberdayaan

melakukan ibadah.
2. Pemeriksaan Diagnostik.
Tes seleksi tergantung riwayat dan indeks kecurigaan
untuk kanker tertentu.
Scan (mis: MRI, CT, Gallium) dan ultrasound: dilakukan
untuk tujuan diagnostik, identifikasi metastatik dan
evaluasi respon pada pengobatan
Biopsi (aspirasi, eksisi, jarum, melubangi): dilakukan
untuk

diagnostik

bidang-bidang

menggambarnya

pengobatan dan dapat dilakukan melalui sumsum


tulang, kulit, organ dan sebagainya.
Penanda tumor (zat yang dihasilkan sel tumor dan
terdapat diserum seperti : CEA, antigen spesifik
prostat, HCG, alfafetoprotein, CA 15-3, CA 19-9, CA
125 dsbnya ) terutama untuk prognostik atau monitor
perapeutik.
Tes kimia skrining : misal, elektrolit ( Na,K,Ca) ,tes
ginjal, (BUN, kreatinin) , tes hepar (GilimuGin, SGPT,
SGOT, alkali fosfat, LDH) tes tulang
JDL

dengan

diferensial

dan

trombosit

dapat

menunjukkan anemia, perubahan pada sel darah


merah, sel darah putih, Trombosit berkurang atau
meningkat.

24

Sinar x dada: menyelidiki penyakit paru metastasis


atau pria

25

BAB III
LAPORAN KASUS
Tanggal Pengkajian : 29 Februari 2016
Diagnosa Medis: Ca. Ovarium
A. Identittas Diri Klien
Nama

: Ny.N

No.MR

87.78.83
TTL

: Pariaman, 01 Juli 1949Tanggal

Masuk

RS

: 29 Februari 2016
Umur

: 66 tahun

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan
Alamat

: Ibu Rumah Tangga


: Limo Hindu Batu Kalang, Padang Sago,

Padang Pariaman
B. Data Umum Kesehatan
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
a. Keluhan
Ny. N berusia 66 tahun datang ke RSUP M.Djamil,
Padang ruang kebidanan lantai 3 pada tanggal 29 februari
2016 dengan keluhan nyeri pada perut sejak 5 bulan yang
lalu. Nyeri dirasakan hilang timbul dengan durasi 1-2
menit. Nyeri dirasakan bila perut ditekan dengan skala
nyeri ringan 3. Nyeri berkurang jika dibawa tidur. Nyeri
dirasakan seperti dihimpit oleh benda berat. Ny. N juga
mengeluhkan mual dan muntah setelah kemoterapi, mual
dirasakan

sering

dan

datang

tiba-tiba

tanpa

ada

rangsangan sebelumnya. Klien juga muntah sebanyak 2

26

kali sejak pulang dari kemoterapi ( jam 13.30 sampai jam


21.00). klien mengeluhkan nafsu makan turun, hanya
mampu menghabiskan setengah porsi makanan yang
disediakan rumah sakit. Klien sudah 2 hari tidak BAB, BAB
terakhir keras dan jumlah nya hanya sedikit seperti tahi
kambing. Klien didiagnosa Kanker ovarium dan sekarang
Ny.N menjalani kemoterapi ke 2.
b. Faktor Pencetus
Ny. N mengatakan sering mengkonsumsi makanan
yang berpenyedap dan sering makan makanan siap saji,
seperti mie instan. Ny. N juga sudah 46 tahu menikah
tetapi

tidak

memiliki

anak.

Saat

sekarang

Ny.

menjalani kemoterapi nya yang ke 2 dengan efek mual


muntah, dan Ny.N juga mengatakan nyeri tekan di
bagian perut (ada masa di ovarium).
c. Lama Keluhan
Ny.N mengatakan nyeri dirasakan sejak 3 bulan yang
lalu. Ny. N diketahui menderita Kanker ovarium sejak 5
bulan yang lalu. Mual muntah dirasakan sejak setelah
menjalani kemoterapi pada hari pertama.
Masalah Keperawatan:
1. Mual (Nausea)
2. Konstipasi
2. Riwayat Kesehatan dahulu
Ny. N mengatakan bahwa 17 tahun yang lalu sudah
pernah menderita tumor Rahim dan juga telah dilakukan
operasi pengangkatan tumor di RS Selaguri. Pada bulan
Agustus 2014 Ny.N juga menjalani operasi kanker Rahim di

27

RSUP Dr. M. Djamil Padang. Ny.N mengatakan tidak ada


menderita dengan penyakit lain seperti hipertensi, jantung,
diabetes mellitus, dan penyakit lainnya.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ny.N mengatakan tidak ada anggota keluarga yang
menderita penyakit yang sama seperti yang dialami
pasien. Ny.N mengatakan tidak ada angggota keluarga
yang menderita pernyakit hipertensi, jantung, diabetes
mellitus, dan penyakit lainnya.
4. Riwayat Menstruasi
Ny. N mengatakan mulai menarche pada usia 18
tahun. Ny.N mengatakan menstruasi nya lancar dan teratur
datang setiap bulan dengan siklus 28 hari, lama menstruasi
5-7 hari tiap bulan. Ny.N memiliki riwayat nyeri yang
tidak tertahan selama menstruasi, untuk menghilangkan
rasa nyeri Ny. N meminum obat alami seperti daun papaya,
kunyit ditumbuk. Ny.N berhenti menstruasi (menopause)
pada usia 50 tahun.
5. Riwayat Perkawinan
Ny. N mengatakan menikah satu kali pada tahun 1970
(46 tahun yang lalu) dan tidak memiliki anak.
6. Riwayat Keluarga Berencana
Ny.

mengatakan

tidak

kontrasepsi.
Masalah Keperawatan : C. Pola Nutrisi
BB

: 45 Kg

28

pernah

menggunakan

alat

TB
Frekuensi

: 145 cm
:

Sebelum sakit : Ny.N biasanya makan 3 kali sehari (pagi,


siang, malam) dengan
komposisi nasi, lauk-pauk, dan sayuran.
Pada pagi hari Ny.N selalu
minum teh manis dan cemilan seperti roti,
biscuit dan lain-lain.
Nafsu makan Ny.N bagus.
Selama sakit

: Ny. N mengatakan selama sakit (sejak 5

bulan terakhir) mengalami


penurunan nafsu makan karena nyeri diperut
yang dialaminya, Ny.N
hanya sedikit makan, perutnya sudah terasa
sesak, setelah
kemoterapi hari pertama pasien mengalami
mual dan muntah. Ny.N
hanya mampu menghabiskan 1/3-1/2 porsi
dari makanan yang
disediakan oleh rumah sakit.

Nafsu makan

: Ny. N mengatakan mengalami penurunan

nafsu makan.
Perubahan BB dalam 3 bulan terakhir :
Ny.N mengatakan bahwa berat badannya terasa
turun semenjak sakit, tetapi Ny.N tidak mengetahui
berapa penurunnya. Penurunan berat badan dirasakan
karena baju yang biasa dipakainya terasa longgar dan
Ny.N mengatakan lengannya terasa mulai mengecil.
Masalah Keperawatan :

1. Ketidakseimbangan Nutrisi

Kurang dari Kebutuhan Tubuh.

29

2. Mual.
D. Pola Eliminasi
1. Buang Air Besar
Frekuensi

: Saat ini Ny.N tidak BAB sejak 2 hari

yang lalu.
Waktu

: Biasanya Ny. N BAB dipagi hari

setiap 2 kali sehari.


Konsistensi

: BAB terakhir hanya sedikit dan keras,

Ny.N mengatakan
memiliki rasa ingin BAB tetapi BAB nya
tidak keluar.
Penggunaan pencahar : Tidak ada.
2. Buang Air Kecil
Frekuensi

: Pasien saat ini menggunakan kateter folley.

Warna
Bau

: kuning jernih.
:

Masalah Keperawatan

: Konstipasi

E. Pola Tidur dan Istirahat


Waktu tidur

: Jam 9 malam

Lama tidur/hari

: 7-8 jam

Perubahan yang dirasakan setelah sakit : Ny.N mengatakan


terkadang terbangun pada malam hari karena kadang terasa
tidak nyaman.
Masalah Keperawatan : tidak ada
F. Pola Aktifitas dan Latihan

30

Ny. N mengaku hanya seorang ibu rumah tangga.


Semenjak 5 bulan yang lalu pasien mengaku badannya terasa
lemah, nyeri perut, terkadang pusing sehingga aktivitas Ny.N
berkurang, walaupun demikian Ny.N mengaku masih bisa
melakukan aktivitas seperti berjalan, memasak, menyapu dan
kegiatan sehari-hari yang lainnya masih bisa dilakukan Ny.N
secara mandiri.
Masalah keperawatan : Tidak Ada
G. Pola Bekerja
Jenis Pekerjaan

: Ny. N mengatakan seorang ibu rumah

tangga.
Lama Bekerja : Ny. N melakukan aktifitas sebagai ibu rumah
tangga seharian.
Masalah Keperawatan : Tidak ada

H. Riwayat Keluarga

Keterangan :
: Perempuan
: Laki-laki
: Pasien

31

I. Riwayat Lingkungan
Kebersihan
Ny.N

mengatakan

tinggal

didaerah

pedesaan

dan

banyak pohon kelapa serta pinang. Ditempat tinggal Ny.N


tidak

ada

tempat pembuangan sampah,

warga

disana

memiliki tempat pembuangan sampah tersendiri dirumahnya,


kebersihan tempat tinggal tergantung warganya sendiri.
Pasien mengatakan rumah dan pekarangan rumah sering
disapu dan keluarga Ny.N juga selalu menjaga kebersihan
lingkungan rumahnya.
Bahaya
Ny. N mengatakan tidak ada bahaya pada lingkungan
rumahnya.
Polusi
Ny. N mengatakan tempat tinggalnya jauh dari jalan
raya dan hanya sedikit kendaraan yang lewat di depan
rumahnya. Selain itu, rumah Ny.N dikelilingi oleh berbagai
jenis tanaman/ pohon, hal ini membuat lingkungan tempat
tinggal pasien terbebas dari polusi udara.
Masalah keperawatan : tidak ada
J. Aspek Psikososial
1. Perspesi Diri
a. Hal yang dipikirkan saat ini
Ny.N mengatakan cemas dengan perutnya yang
terasa keras dan terasa mulai sedikit membesar, pasien
cemas kemoterapi tidak berhasil sehingga ia harus
dioperasi, 2 kali operasi membuat Ny.N takut dan trauma
ditambah usia nya yang sudah usia, Ny.N takut nanti

32

tidak ada yang merawatnya karena pasien tidak punya


anaka, hanya mengandalkan suaminya yang juga sudah
tua.
b. Harapan setelah menjalani perawatan
Ny.

mengatakan

berharap

dengan

menjalani

kemoterapi ini pasien bisa sembuh dan Ny.Y berharap


tidak timbul lagi kanker atau penyakit lainnya.
2. Pertahanan Koping
Ny. N mengatakan ini cobaan bagi dirinya, Ny.N
sudah lama sakit dab sekarang penyakit lain datang lagi,
Ny.N merasa sedih dan ditambah lagi dengan umur nya
yang semakin tua dan ditambah sudah 46 tahun pasien
menikah tidak kunjung dikaruniai anak.
3. Sistem Nilai dan Kepercayaan
Ny.

mengatakan

beragama

islam,

dalam

kesehariannya Ny.N mengaku sering dan rajin beribadah,


namun selama dirumah sakit Ny.N tidak melakukan ibadah
shalat dengan alasan infus dan kateter yang terpasang
membuatnya tidak bisa kekamar mandi untuk berwhudu
dan tidak bisa shalat.
Masalah Keperawatan: ansietas / cemas sedang

K. Pemeriksaan Fisik
Tanda-tanda Vital :
Tekanan Darah

: 120/70 mmHg

33

Suhu

: 36,3 0C

Nadi

: 76 x/i

Pernafasan

: 20 x/i

Kepala
Inspeksi

: Rambut beruban, distribusi merata, tidak ada

ketombe, kulit kepala


bersih, rambut tipis terlihat kulit kepala dan
rambut jarang tumbuhnya
Palpasi

: Rambut mudah dicabut, rambut rontok, tidak

ada nyeri tekan, tidak


ada oedem
Mata
Inspeksi

Simetris kiri dan kanan, konjungtiva sub

anemis, sklera ikterik (-),


Palpasi

: Tidak ada nyeri tekan pada palpebral dan

tidak ada peningkatan


tekanan intra okuler
Hidung
Inspeksi

: Simetris kiri-kanan, tidak ada pengeluaran

cairan, peradangan sinus

tidak ada, polip

tidak ada, fungsi penciuman baik.


Palpasi

: Tidak ada nyeri tekan.

Mulut
Inspeksi

: Kebersihan mulut kurang, gigi tidak lengkap,

caries dentis (+),


mukosa bibir kering, tidak ada stomatitis,
terdapat sedikit bercak
putih pada lidah.
Leher

34

Inspeksi

: Simetris

Palpasi

: Tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, JVP

5-2 CmH2O, tidak ada


pembengkakan kelenjar getah bening.
Paru
Inspeksi

: simetris ki-ka

Palpasi

: fremitus ki-ka sama

Perkusi

: sonor ki-ka

Auskultasi

: suara nafas vesikuler, frekwensi nafas 20

x/i,Rh(-),Wh(-).
Jantung
Inspeksi

: iktus tidak terlihat

Palpasi

: iktus kordis teraba di LMCS RIC V

Perkusi

: tympani

Auskultasi

bunyi

jantung

normal,

bunyi

jantung

tambahan tidak ada


Abdomen
Inspeksi

: perut sedikit membuncit, ada luka operasi

vertical 20 cm.
Palpasi

: hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (+),

perut terasa keras saat


ditekan.
Perkusi

: pekak

Auskultasi

: bising usus (-) 6 kali permenit

Genetalia

: Vagina edema (-), varises (-), tidak terdapat

laserasi.
Ekstremitas :

35

Ekstremitas atas : Terpasang ivfd NaCl 0,9 % 20 tetes


permenit di tangan sebelah kiri, tidak terdapat oedem.
Ekstremitas bawah : tidak ada udem, reflek fisiologis (+),
reflek patologis (+), terdapat
varises pada kaki
Data Laboraturium:
Tanggal 26 Februari 2016
Hemoglobin

: 12,8 g/dl (12-16)

Leukosit

: 14.700/mm3 (5.000-10.000)

Trombosit

: 442.000/mm3 (150.000-400.000)

Hematokrit

: 40 % (37-43)

Ureum

: 17 mg/dl (10-50)

Kreatinin

: 0,7 mg/dl (0,6-1,1)

Terapi Medis
Kemotherapy hari pertama
-

NaCl 0,9% 500 cc 2 jam (Etoposide 100 mg, drip)


Dextrose 5% 250 cc (bilas)
NaCl 0,9% 500 cc 2 jam (Carboplasin 532 mg, drip)
Dextrose 5% 250 cc (bilas 1 jam)
NaCl 0,9% 500 cc 30 menit (Bleomycin 13 mg, drip
diencerkan dengan 5 ml NaCl)

Kemotherapi hari kedua:


- NaCl 0,9% 500 cc 2 jam (Etoposide 100 mg, drip)
- Dextrose 5% 250 cc (bilas)
- NaCl 0,9% 500 cc 30 menit ((Bleomycin 13 mg, drip
diencerkan dengan 5 ml NaCl)
Kemotherapy hari ketiga
- NaCl 0,9% 500 cc 2 jam (Etoposide 100 mg, drip)
- Dextrose 5% 250 cc (bilas)
- NaCl 0,9% 500 cc 30 menit ((Bleomycin 13 mg, drip
diencerkan dengan 5 ml NaCl)

36

Asuhan Keperawatan
A. Analisa Data
No
1.

Data
Data Subjektif:

Diagnosa
Nausea (mual)

b.d

- Ny.N mengatakan sering mual


efek kemoterapi
- Ny.N mengatakan sudah 2 kali
muntah
- Ny. N mengatakan baru selesai
kemoterapi hari ke-1
Data Objektif:
-

Mukosa bibir kering


Keadaan umum sedang
Pasien mual
Pasien mendapat obat kemoterapi
(Etoposide
Carboplasin

100
532

mg,

drip,

mg,

drip,

Bleomycin 13 mg, drip diencerkan


2.

dengan 5 ml NaCl)
Data Subjektif:

Ketidakseimbangan

- Ny. N mengatakan tidak


makan
- Ny. N mengatakan
penurunan

nafsu nutrisi

penurunan

berat

menghabiskan bagian dari porsi


makanan yang disediakan rumah
sakit
- Ny. N mengalami mual muntah
Data objektif:
BB = 45 kg
TB = 145 cm
IMT = 21,4
Konjungtiva subanemis
Makanan pasien bersisa bagian

37

dari

kebutuhan tubuh b.d


mengalami

badan
- Ny. N mengatakan hanya mampu

kurang

anoreksia, mual dan


muntah

3.

Data

Rambut rontok
Kulit kering
Mukosa bibir kering
Subjektif :

Konstipasi

- Ny. N mengatakan sudah 2 hari penekanan

b.d
oleh

masa di abdomen
tidak BAB
- Ny. N mengatakan BAB terakhir
kali keras hanya sedikit seperti
tahi kambing
- Ny. N mengatakan ada rasa ingin
BAB tetapi tidak bisa
- Ny. N mengatakan nyeri perut bila
ditekan
Data Objektif :

4.

Data

Teraba masa di abdomen


Bising usus hipoaktif (n=6 x/i)
Bunyi pekak pada abdomen
Subjektif :

Ansietas/ kecemasan

- Ny. N mengatakan cemas dengan sedang


keadaannya
- Ny. N mengatakan

cemas

jika

kemoterapinya tidak berhasil dan


harus dioperasi lagi
- Ny. N takut dan trauma dengan
operasi
- Ny. N cemas jika dioperasi tidak
ada yang akan merawatnya.
- Ny. N tidak memiliki anak
Data objektif ;
- Muka pasien tegang
- Ny. N sedih
- Muka Ny. N berkaca kaca saat
-

bercerita
TD: 120/70 mmHg
HR : 76 x/i
RR : 20 x/i
36,3 0C
38

b.d

perubahan

status

kesehatan

kemoterapi

B. Rencana Asuhan Keperawatan


No
1.

NANDA
Nausea

NOC
NIC
(mual) a. Kontrol mual dan a. Manajemen Mual
Aktivitas :
b.d
efek
muntah
- Anjurkan untuk
Indikator :
kemoterapi
- Mengenal
memonitor
-

permulaan mual
Menggambarkan

faktor penyebab
Mengenal

pengalaman
-

mual

pendukung
b. Kehebatan
mual
dan muntah
Indikator :
- Frekuensi

muntah
Lakukan
lengkap tentang

mual

mual mencakup
frekuensi,

muntah

tidak

ada
Intensitas

mual

tidak ada
Tidak

dan

pengkajian

berkurang
Frekuensi

dan

untuk

memanajemen

stimulasi

mual
Anjurkan

durasi,
kehebatan, dan
faktor

muntah
ada

pendukung
Evaluasi
pengaruh

muntah

mual

terhadap
kualitas

hidup

(seperti : nafsu
makan,
-

peran,

dan tidur)
Identifikasi
faktor

yang

menyebabkan
mual
39

Ajarkan

untuk

menggunakan
teknik
nonfarmakologi
(seperti:

terapi

musik, distraksi)
untuk
memanajemen
mual.
b. Manajemen muntah
Aktivitas :
- Lakukan
pengkajian
-

muntah
Anjurkan
membawa
kantung

plastik

untuk
menampung
-

muntah
Kaji
riwayat
pengobatan

sebelumnya
Kontrol faktor
faktor

yang

dapat
menyebabkan
-

muntah
Posisikan pasien
untuk

menjaga

pernafasan
Berikan
dukungan

40

fisik

kepada
-

pasien

selama muntah
Untuk
pemberian
cairan,

tunggu

selama 30 menit
setelah

pasien

muntah

(untuk

menormalkan
kembali

alat

pencernaan dan
gerakan
-

peristaltik)
Tingkatkan
pemberian
cairan

sedikit

demi

sedikit,

apabila

tidak

terjadi masalah
pada 30 menit
-

pertama
Anjurkan pasien
makan

dan

minum

sedikit

tapi sering
Anjurkan pasien
untuk
menghindari
makan

yang

aromanya
menyengat,
berminyak,
41

berlemak,

2.

terlalu

manis,

panas,

dan

pedas.
a. Status nutrisi
a. Manajemen
Indikator:
an nutrisi kurang
nutrisi
- Intake
nutrisi
dari
kebutuhan
Aktivitas :
cukup
tubuh
b.d
- Kaji
apakah
- Intake makanan
Ketidakseimbang

anoreksia,
dan muntah

mual
-

cukup
Intake

klien
cairan

cukup
- Hematokrit
- Hidrasi
- Hemoglobin
- Albumin darah
b. Nafsu makan
Indikator:
- Menyeimbangka
-

n nafsu makan
Menyeimbangka

alergi makanan
Kaji
makanan

kesukaan klien
Kolaborasi
dengan ahli gizi
jumlah

dan jenis nutrisi


-

yang dibutuhkan
Anjurkan
klien
untuk

tubuh
Menyeimbangka

meningkatkan

tubuh
c. Weight

intake Fe
Anjurkan

klien

untuk
gain

meningkatkan

behavior

intake

Indikator:

kalori

n Pasokan cairan

n Pasokan nutrisi

punya

Mengidentifikasi

dan vit. C
Tawarkan

protein
klien

penyebab

untuk

kehilangan berat

mengkonsumsi

badan
Memilih

snack, seperti :

target

sebuah
sehat

berat badan.
42

buah segar, jus


-

buah
Yakinkan bahwa

Mengidentifikasi

diet

pemasukan

diberikan

kalori
Memilihara

mengandung

suplai

nutrisi

makanan

dan

minuman

yg

adekuat
Meningkatkan nafsu

yang

cukup serat
Monitor
intake

nutrisi dan kalori


Timbang BB jika

diperlukan
Tawarkan
bumbu-bumbu

makan

pengganti
-

garam
Berikan

pengganti gula
Berikan
klien
menu

tinggi

protein,

tinggi

kalori, makanan
dan

minuman

bernutrisi
-

yang

siap konsumsi
Ajarkan
klien
bagaimana
membuat
catatan tentang

dietnya
Berikan
informasi
tentang
kebutuhan
nutrisi

dan

bagaimana
memenuhinya
43

Gunakan teknik
penyiapan

dan

penghidangan
makanan
-

yang

aman
Tentukan
kemampuan
pasien

untuk

memenuhi
kebutuhan
-

nutrisinya
Sesuaikan
pasien

diet

dengan

tipe badan dan


gaya hidupnya
b. Pengontrolan
nafsu makan:
Aktivitas :
-

Anjurkan asupan
kalori
sesuai

yang
dengan

kebutuhan
-

dan

gaya hidup.
gontrol asupan
nutrisi

dan

kalori.
Anjurkan kepada
klien

untuk

mengkonsumsi
nutrisi

yang

cukup.
c. Terapi Nutrisi
44

Aktivitas :
-

Monitor
pemasukan
cairan

dan

makanan

dan

menghitung
pemasukan
-

kalori sehari-hari
Bantu
pasien
membentuk

posisi

duduk

yang

benar

sebelum makan
Ajarkan pasien
dan

kelurga

tentang memilih
makanan

45

3.

Konstipasi

b.d

penekanan

oleh

masa di abdomen

a. Eliminasi fese

a. Manajemen

Indikator :

konstipasi

Kontrol buang air Aktivitas :

besar
Warna fese dbn
Kemudahan

mengedan
Mempertahan

bentuk feses
Lunak setiap 1-3

hari
Bebas

dan konstipasi
Mengidentifikasi
indikator

Monitor

tanda

dan

gejala

konstipasi
Jelaskan kepada
pasien

dari

ketidaknyaman
-

dan

keluarga

tanda

dan

gejala

konstipasi
Monitor
bising

usus
Identifikasi
faktor penyebab

untuk

dan

mencegah

kontribusi

konstipasi
Dukung
intake

cairan
Anjurkan pasien

konstipasi

untuk

makan

makanan tinggi
-

serat
Konsultasi

dengan dokter
Ajarkan pasien
atau

keluarga

tentang

proses

pencernaan
4.

Ansietas/

a. Tingkat

kecemasan
sedang

b.d

kecemasan
Indikator:
- Mampu
46

yang normal
a. Penurunan
kecemasan
Aktivitas :
- Gunakan

perubahan status

mengidentifikasi

pendekatan

kesehatan

dan

yang

mengungkapkan

menenangkan
Nyatakan

kemoterapi
-

gejala cemas
Sulit

dengan

berkonsentrasi

harapan dengan

tidak ditemukan
Tanda
vital

terhadap

dalam

batas

normal
Postur

tubuh,

ekspresi

wajah,

bahasa

tubuh

dan

selama
-

dan

setelah prosedur
Pahami
prespektif

kecemasan
b. Kontrol

pasien terhadap

kecemasan diri
Indikator :
- Mampu

memberikan
keamanan

gejala cemas
Mengidentifikasi,

dan

mengurangi

mengungkapkan
-

dan

situasi stress
Temani
pasien
untuk

mengidentifikasi

takut
Dorong keluarga
untuk

menunjukkan
mengontrol

yang

dirasakan

aktivitas

teknik

dan

apa

berkurangnya

cemas

perilaku pasien
Jelaskan semua
prosedur

menunjukkan

jelas

menemani

untuk
-

pasien
Dorong

pasien

untuk
nmengungkapka
n

47

perasaan

ketakutan
Dengarkan
pasien

dengan

penuh perhatian
Instruksikan
pasien

untuk

menggunakan
teknik relaksasi
b. Teknik relaksasi
Aktivitas :
- Deskripsikan
rasional,
keuntungan,
waktu dan tipe
relaksasi

yang

mungkin
-

dilakukan
Tentukan
beberapa terapi
yng

bisa

dilakukan/
-

digunakan
Demonstrasikan
dan praktekkan
teknik relaksasi

yang dipilih
Evaluasi
dan
dokumentasikan
respon terhadap

terapi relaksasi
c. Dukungan
spiritual
Aktivitas :
- Gunakan

48

komunikasi yang
terapeutik untuk
mengungkapkan
kepercayaan
-

pasien
Anjurkan pasien
untuk
mengingat
kehidupan masa
lalu

dan

hubungan yang
mendukung
-

keyakinan.
Anjurkan pasien
untuk
mendekatkan
diri

kepada

Tuhan
Anjurkan pasien
untuk

berdoa

dan beribadah
C. Catatan Perkembangan Pasien
Hari / tanggal

: Senin / 29 Februari 2016

Ruangan

: ginekologi (onkologi)
Nama
No
1.

: Ny. N

Diagnosa
Nausea
b.d
kemoterapi

No. MR

Implementasi
(mual) - Melakukan
efek

Evaluasi
S:

pengkajian

tentang

mual

muntah

yang

49

dan

: 877883

dirasakan

- Pasien
mengatakan
masih mual

pasien

mencakup

frekuensi,

- Pasien

durasi,

muntah
- Pasien

kehebatan dan faktor


-

mengatakan

pendukung
Mengevaluasi

mengenal

pengaruh

mual

terhadap

aktivitas

stimulasi
pendukung mual

pasien seperti nafsu


makan,
-

masih

dan muntah

aktifitas O:

sehari, pola tidur


Mengidentifikasi

- Pasien muntah 2
kali
- Mukosa

faktor

yang

menyebabkan

mual

dan

pada A:

muntah

bibir

kering

pasien ( pasien post Masalah nausea (mual)


kemoterapi hari ke- belum teratasi
-

1)
Mengajarkan

teknik

nonfarmakologi
untuk memanajemen
mual

dan

muntah

(terapi
-

distraksi,

Intervensi dilanjutkan
Manajemen mual dan
muntah
Persiapan

pasien

kemoterapi besok hari


guide imagery)
ke-2
Menganjurkan untuk
menyediakan
kantung
untuk

P:

plastik
menampung

muntah
Memberikan
dukungan
dengan
punggung

50

pasien
fisik

mengelus
selama

muntah
Memberikan

pasien

sedikit demi sedikit


minum
-

setelah

30

menit muntah
Menganjurkan pasien
untuk

menghindari

makanan

yang

aromanya
menyengat,
berminyak,
berlemak,
2.

Ketidakseimbang

manis dan pedas.


Melakukan

an nutrisi kurang

pengkajian

dari

riwayat

kebutuhan

tubuh
anoreksia,

b.d
mual

tentang

- Pasien
mengatakan

makanan
Berkolaborasi
untuk

nafsu

ahli
kalori

nutrisi

mengatakan

dan

makanan

yang

dibutuhkan pasien
Menganjurkan pasien

dan

habis bagian
O:

seperti

- Makanan bersisa

protein

vitamin
buah

bagian
- Konjungtiva

ce

subanemis
- Rambut rontok

buagan , ikan, telur,


-

dll.
Memberikan
pendidikan

51

yang

diberikan hanya

untuk meningkatkan
konsumsi

makan

masih kurang
- Pasien

gizi

menentukan

jumlah

S:

alergi

dengan

dan muntah

terlalu

A:
Masalah
ketidakseimbangan

kesehatann

kepada nutrisi

kurang

pasien dan keluarga kebutuhan


tentang

tubuh

kebutuhan belum teratasi

nutrisi
-

dari

pasien P:

kemoterapi
Mengkaji

Intervensi dilanjutkan
Manajemen nutrisi

kemampuan

pasien

dan keluarga untuk


mendapatkan nutrisi
-

yang dibutuhkan
Memonitor
adanya
penurunan

berat

badan
Memonitor

keadaan

konjungtiva, rambut
3.

Konstipasi
penekanan

b.d oleh

masa di abdomen

dan turgor kulit


Memberikan cairan
NaCl 0,9%
Memonitor

tanda S:

dan gejala konstipasi


Menjelaskan kepada
pasien

tanda

- Pasien
mengatakan

dan

belum ada BAB

gejala konstipasi
O:
Memonitor
bising

usus (n=6 x/i)


Mengidentifikasi
faktor

- Bising

hipoaktif (6 x/i)
- Teraba
masa

yang

diabdomen
- Perkusi abdomen

menyebabkan
konstipasi:

pasien

menderita

kanker

ovarium,

teraba

masa
pasien

52

diabdomen,
menjalani

usus

pekak
A:
Masalah

konstipasi

belum teratasi
P:

kemoterapi
Intervensi dilanjutkan
Menganjurkan pasien
Manajemen konstipasi
untuk memamakan
makanan tinggi serat
seperti buah pepaya

4.

Ansietas/

kecemasan
sedang

S:

pendekatan
b.d

perubahan status
kesehatan

dan sayuran
Menggunakan

menenangkan
Menemani
berbicara

yang

mengatakan
dan

cemas

kepada

pasien

kemoterapi

- Pasien

serta

berkurang
O:

mendorongnya untuk

mengungkapkan

- Sedih berkurang
- Muka
tegang

perasaan cemasnya
Mengajarkan
dan

berkurang
- TD
:
120/70

menganjurkan

mmHg,
- HR : 76 x / i
- RR : 20 x / i
- S: 36,30C

pasien

untuk

menggunakan
melakukan
relaksasi
-

/
teknik A:

nafas Masalan

ansietas

dalam.
sebagian teratasi
Mendorong keluarga
P:
untuk
selalu
Intervensi dilanjutkan
menemani pasien
Penurunan kecemasan
Evaluasi
dan
Dukungan spiritual
dokumentasikan
respon

pasien

terhadap
-

sedikit

terapi

relaksasi
Menganjurkan pasien
untuk
diri

mendekatkan
kepada

53

Allah

SWT
Menganjurkan pasien
untuk

banyak

berdoa, mengerjakan
sholat dean berserah
diri
-

kepada

Allah

SWT
Mengajarkan
cara

pasien

bertayamum

dan sholat ditemapt


-

tidur
Mengukur
tanda

tanda

vital

pasien

( TD : 120/70 mmHg,
HR : 76 x / i, RR : 20
x / i, S: 36,30C)

Hari / tanggal

: Selasa / 1 Maret 2016

Ruangan

: ginekologi (onkologi)
Nama
No
1.

: Ny. N

Diagnosa
Nausea
b.d

No. MR

Implementasi
(mual) - Mengevaluasi
efek

muntah

kemoterapi
-

Evaluasi
mual S :
pasien

sebelumnya
Melakukan
tentang

mual

muntah

yang
pasien
frekuensi,

- Pasien
mengatakan

pengkajian
dan

: 877883

dirasakan
mencakup
durasi,

masih mual
- Pasien masih 3
kali

dalam sehari
- Pasien
mengatakan
mual

54

muntah

dan

kehebatan dan faktor


-

muntah

pendukung
Mengevaluasi

tiba - tiba
- Pasien

pengaruh

mual

terhadap

aktivitas

mengatakan
mengenal

pasien seperti nafsu

stimulasi

makan,

pendukung mual

aktifitas

sehari, pola tidur


Mengidentifikasi

dan muntah
O:

faktor

yang

menyebabkan

mual

dan

pada

muntah

- Pasien muntah 1
kali
- Mukosa

pasien ( pasien post


-

datang

kemoterapi hari ke-2)


Menginformasikan
kepada

pasien

bibir

kering
- Pasien mual
A:

dan Masalah nausea (mual)

keluarga bahwa mual belum teratasi


dan

muntah P:

merupakan

efek Intervensi dilanjutkan

samping

dari Manajemen mual dan

kemoterapi
Mengajarkan

muntah
teknik

nonfarmakologi
dan

(terapi
-

muntah
distraksi,

guide imagery)
Menganjurkan pasien
untuk

mengalihkan

mual dengan terapi


distraksi
bercerita

55

pasien

kemoterapi besok hari

untuk memanajemen
mual

Persiapan

dan

ke-3

Menganjurkan untuk
menyediakan
kantung plastik untuk

menampung muntah
Memberikan pasien
dukungan

fisik

dengan

mengelus

punggung
-

selama

muntah
Memberikan

pasien

sedikit demi sedikit


minum
-

setelah

30

menit muntah
Menganjurkan pasien
untuk

menghindari

makanan

yang

aromanya
menyengat,
berminyak,
berlemak,
2.

Ketidakseimbang

terlalu

manis dan pedas.


Menanyakan
dan S:

an nutrisi kurang

mengevaluasi

dari

asupan

kebutuhan

tubuh
anoreksia,
dan muntah

b.d
mual

- Pasien
nutrisi

pasien, sebelumnya
Menanyakan
nafsu

makan pasien
Berkolaborasi dengan
ahli

gizi

jumlah

kalori

nutrisi

yang

56

nafsu

dibutuhkan

makan

masih kurang
- Pasien
mengatakan

untuk

menentukan
dan

mengatakan

makanan

yang

diberikan hanya
habis 2/3 bagian
O:

pasien
Mendatangkan

- Makanan bersisa
ahli

1/3 bagian
- Konjungtiva

gizi untuk konsultasi


-

nutrisi
Menganjurkan pasien

subanemis
- Rambut rontok
- Mukosa
bibir

untuk meningkatkan

kering

konsumsi protein dan


vitamin

ce

seperti

buah buagan , ikan,


-

A:
Masalah

ketidakseimbangan
telur, dll.
Memotivasi pasien nutrisi
kurang
dari
untuk menghabiskan kebutuhan
makanan

yang sebagian teratasi

disediakan
-

rumah P:

sakit
Intervensi dilanjutkan
Menganjurkan pasien
Manajemen nutrisi
gosok gigi minimal 2
kali sehari
Menganjurkan pasien
makan

sedikit

tapi

sering
Memberikan
pendidikan
kesehatan

kepada

pasien dan keluarga


tentang

kebutuhan

nutrisi
-

tubuh

pasien

kemoterapi
Mengkaji
kemampuan

pasien

dan keluarga untuk


mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan
57

Memonitor

adanya

penurunan

berat

badan
Memonitor

keadaan

konjungtiva,
3.

Konstipasi
penekanan

b.d oleh

masa di abdomen
-

rambut

dan turgor kulit


Memberikan
cairan
NaCl 0,9%
Mengevaluasi

BAB S:

pasien

hari

- Pasien

sebelumnya
Memonitor tanda dan
gejala

konstipasi

mengatakan
belum ada BAB
O:

(pemeriksaan
abdomen
-

massa)
Menjelaskan
pasien

- Bising

ada

gejala konstipasi
Memonitor
bising

usus (n=5 x/i)


Mengidentifikasi

menderita

kanker

ovarium,

teraba
diabdomen,
menjalani

kemoterapi
Menganjurkan pasien
memamakan

makanan tinggi serat

58

A:
Masalah

pasien

untuk

post

ke-2
yang

konstipasi:

pasien

pekak
- Pasient

kemoterapi hari

menyebabkan

masa

diabdomen
- Perkusi abdomen

dan

faktor

hipoaktif (5 x/i)
- Teraba
masa

kepada

tanda

usus

konstipasi

belum teratasi
P:
Intervensi dilanjutkan
Manajemen konstipasi

seperti buah pepaya


4.

Ansietas/

kecemasan
sedang

S:

pendekatan
b.d

perubahan status
kesehatan

dan sayuran
Menggunakan

menenangkan
Menemani
berbicara

yang

mengatakan
dan

tidak cemas lagi

kepada

pasien

kemoterapi

- Pasien

dan

serta

menerima

mendorongnya untuk
mengungkapkan
-

menganjurkan pasien
untuk
melakukan
relaksasi
-

teknik
nafas

pasien

terhadap

terapi

relaksasi
Menganjurkan pasien
untuk

- Sedih tidak ada


- Muka
tegang
tidak ada
- TD
:
110/70
mmHg,
- HR : 72 x / i
- RR : 20 x / i
- S: 36,40C

dalam.
A:
Mendorong keluarga
Masalan
ansietas
untuk
selalu
teratasi
menemani pasien
P:
Evaluasi
dan
Intervensi dihentikan
dokumentasikan
respon

penyakitnya
O:

perasaan cemasnya
Mengajarkan
dan

menggunakan

ikhlas

mendekatkan

diri kepada Allah SWT


Menganjurkan pasien
untuk

banyak

berdoa, mengerjakan
sholat dean berserah
59

diri kepada Allah SWT


Mengajarkan pasien
cara

bertayamum

dan sholat ditemapt


-

tidur
Mengukur
tanda

tanda

vital

pasien

( TD : 110/70 mmHg,
HR : 72 x / i, RR : 20
x / i, S: 36,40C)
Hari / tanggal

: Rabu / 2 Maret 2016

Ruangan

ginekologi (onkologi)
Nama
No
1.

: Ny. N

Diagnosa
Nausea
b.d

No. MR

Implementasi
(mual) - Mengevaluasi
efek

muntah

kemoterapi
-

Evaluasi
mual S :
pasien

sebelumnya
Melakukan
tentang

mual

muntah

dan

pasien

dirasakan
mencakup

frekuensi,

durasi,

kehebatan dan faktor


-

masih mual
- Pasien masih 2
kali

muntah

dalam sehari
- Pasien
mengatakan
mual
muntah

pendukung
Mengevaluasi
pengaruh

mual

terhadap

aktivitas

pasien seperti nafsu


makan,

- Pasien
mengatakan

pengkajian
yang

: 877883

aktifitas

dan
datang

tiba - tiba
- Pasien
mengatakan
mengenal
stimulasi
pendukung mual

60

sehari, pola tidur


Mengidentifikasi

dan muntah
O:

faktor

yang

menyebabkan

mual

dan

pada

muntah

- Pasien muntah 1
kali
- Mukosa

pasien ( pasien post


-

kemoterapi hari ke-2)


Menginformasikan
kepada

pasien

bibir

kering
- Pasien mual
A:

dan Masalah nausea (mual)

keluarga bahwa mual belum teratasi


dan

muntah P:

merupakan

efek Intervensi dilanjutkan

samping

dari Manajemen mual dan

kemoterapi
Mengajarkan

muntah
teknik

nonfarmakologi

pulang besok

untuk memanajemen
mual

dan

(terapi
-

muntah
distraksi,

guide imagery)
Menganjurkan pasien
untuk

mengalihkan

mual dengan terapi


distraksi
-

dan

bercerita
Menganjurkan untuk
menyediakan
kantung plastik untuk

menampung muntah
Memberikan pasien
dukungan
dengan

61

Persiapan

fisik
mengelus

pasien

punggung
-

selama

muntah
Memberikan

pasien

sedikit demi sedikit


minum
-

setelah

30

menit muntah
Menganjurkan pasien
untuk

menghindari

makanan

yang

aromanya
menyengat,
berminyak,
berlemak,
2.

Ketidakseimbang

terlalu

manis dan pedas.


Menanyakan
dan S:

an nutrisi kurang

mengevaluasi

dari

asupan

kebutuhan

tubuh
anoreksia,
dan muntah

b.d
mual

- Pasien
nutrisi

pasien, sebelumnya
Menanyakan
nafsu

makan pasien
Berkolaborasi dengan
ahli

gizi

jumlah

kalori

nutrisi

yang
-

dibutuhkan

pasien
Mendatangkan

nafsu

mengatakan
makanan

habis 2/3 bagian


O:

ahli

nutrisi
Menganjurkan pasien
untuk meningkatkan
konsumsi protein dan
vitamin
62

ce

yang

diberikan hanya

gizi untuk konsultasi


-

makan

masih kurang
- Pasien

untuk

menentukan
dan

mengatakan

seperti A:

- Makanan bersisa
1/3 bagian
- Konjungtiva
subanemis
- Rambut rontok
- Mukosa
bibir
kering

buah buagan , ikan, Masalah


-

telur, dll.
ketidakseimbangan
Memotivasi pasien
nutrisi
kurang
dari
untuk menghabiskan
kebutuhan
tubuh
makanan
yang
sebagian teratasi
disediakan
rumah
P:
sakit
Intervensi dilanjutkan
Menganjurkan pasien
Manajemen nutrisi
gosok gigi minimal 2
kali sehari
Menganjurkan pasien
makan

sedikit

tapi

sering
Memberikan
pendidikan
kesehatan

kepada

pasien dan keluarga


tentang

kebutuhan

nutrisi
-

pasien

kemoterapi
Mengkaji
kemampuan

pasien

dan keluarga untuk


mendapatkan nutrisi
-

yang dibutuhkan
Memonitor
adanya
penurunan

berat

badan
Memonitor

keadaan

konjungtiva,
-

rambut

dan turgor kulit


Memberikan
cairan
NaCl 0,9%

63

3.

Konstipasi
penekanan

b.d oleh

masa di abdomen
-

Mengevaluasi

BAB S:

pasien

hari

- Pasien

sebelumnya
Memonitor tanda dan
gejala

mengatakan
sudah ada BAB
- Pasien

konstipasi

(pemeriksaan
abdomen
-

massa)
Menjelaskan
pasien

mengatakan
ada

sedikit
kepada

tanda

O:
- Bising

yang

konstipasi:

pasien

menderita

kanker

ovarium,

teraba

pasien
-

usus

normal (9 x/i)
- Teraba
masa
diabdomen
- Perkusi abdomen
pekak
- Pasient

diabdomen,

post

kemoterapi hari

menjalani

kemoterapi
Menganjurkan pasien A :
untuk

sudah

berbentuk

menyebabkan

masa

keras

dan

dan

gejala konstipasi
Mengidentifikasi
faktor

konsistensi BAB

ke-3

memamakan Masalah

konstipasi

makanan tinggi serat teratasi


seperti buah pepaya P:
-

dan sayuran
Memonitor

Intervensi dihentikan
bising

usus (n=9 x/i)

Discharge Planing
Aktivitas : menganjurkan pasien melakukan aktivitas sesuai
kemampuan pasien dan banyak istirahat
64

Edukasi kesehatan : menjelaskan kepada pasien dan


keluarga untuk makan obat sesuai anjuran dokter dan
menjelaskan efek sampingnya, serta menginformasikan
kepada pasien untuk kembali melakukan kemoterapi ke -3
pata tanggal 4 Apri 2016
Perawatan dirumah : menganjurkan kepada pasien dan
keluarga

untuk

melakukan

perawatan

dengan

baik,

menjelaskan tanda dan gejala jika kekambuhan penyakit


dan efek kemoterapi masih berlanjut seperti sakit kepala,
sakit perut berlebihan, mual muntah berlebihan segera
datang ke pelayana kesehatan
Diet : Menganjurkan pasien untuk menghindari makanan
yang aromanya menyengat, berminyak, berlemak, terlalu
manis dan pedas.

65

BAB IV
PEMBAHASAN

Ny. N berusia 66 tahun datang ke RSUP M.Djamil, Padang


ruang kebidanan lantai 3 pada tanggal 29 februari 2016 dengan
keluhan nyeri pada perut sejak 5 bulan yang lalu. Nyeri dirasakan
hilang timbul dengan durasi 1-2 menit. Nyeri dirasakan bila perut
ditekan dengan skala nyeri ringan 3. Nyeri berkurang jika dibawa
tidur. Nyeri dirasakan seperti dihimpit oleh benda berat. Ny. N
juga mengeluhkan mual dan muntah setelah kemoterapi, mual
dirasakan sering dan datang tiba-tiba tanpa ada rangsangan
sebelumnya. Klien juga muntah sebanyak 2 kali sejak pulang dari
kemoterapi ( jam 13.30 sampai jam 21.00). klien mengeluhkan
nafsu makan turun, hanya mampu menghabiskan setengah porsi
makanan yang disediakan rumah sakit. Klien sudah 2 hari tidak
BAB, BAB terakhir keras dan jumlah nya hanya sedikit seperti
tahi kambing.

Klien didiagnosa Kanker ovarium dan sekarang

Ny.N menjalani kemoterapi ke 2


Berdasarkan teori yang ada, etiologi pasti dari kanker
ovarium belum ditemukan,salah satu resiko berkembangnya
kanker ovarium adalah pada mereka yang baru memiliki anak
pada usia setelah 30 tahun, dengan kata lain wanita yang tidak
pernah melahirkan memiliki resiko kanker ovarium lebih tinggi
dibanding yang pernah melahirkan. Pada kasus yang dikaji pada
Ny. J, penyebab terjadinya kanker ovarium belum diketahui
dengan pasti, namun faktor tidak pernah melahirkan yang terjadi
pada Ny.E bisa faktor pencetus dari Ca. Ovarium adalam
menopouse dini dan disertai pola makan yang tidak sehat seperti
mengkonsumsi makanan cepat saji, makanan mengandung MSG.

66

Penanganan kanker ovarium berupa histerektomi abdomen


total dengan pengangkatan tuba fallopi dan ovarium serta
omentum
adalah

(salphingoovarektomi

prosedur

standar

bilateral

untuk

dan

penyakit

omentektomi)

tahap

dini

dan

dilanjutkan dengan kemoterapi, namun pada kasus ini setelah


dilakukan laparotomi klien belum diberikan kemoterapi.
Pada saat dilakukan pengkajian diagnosa keperawatan yang
muncul

pada

Ny.N

ketidakseimbangan

adalah

nutrisi

kurang

nausea/mual
dari

muntah,

kebutuhan

tubuh,

konstipasi, dan ansietas / cemas. Diagnosa mual muntah


(nausea) diangkat karena dari hasil pengkajian didapatkan
bahwa Ny.N mengeluhkan mual dan muntah setelah kemoterapi,
mual

tersebut

dirasakan

sering

dan

tiba-tiba

tanpa

ada

rangsasngan sebelumnya. Sejak selesai menjalani kemoterapi


Ny.N muntah sebanyak 2 kali.
Diagnosa ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh karena Ny.N mengatakan tidak nafsu makan, pasien
mengatakan penurunan nafsu makan ini selama beliau sakit.
Ny.N juga mengatakan tidak mampu menghabiskan makanan
yang disediakan dari rumah sakit, Ny.N hanya memakan
bagian dari porsi yang disediakan rumah sakit, itupun diikuti
dengan rasa mual. Konjungtiva Ny.n sub-anemis, Ny.N juga
terlihat lemas, letih dan lesu.
Diagnosa konstipasi diangkat karena Ny.N mengatakan 2
hari tidak BAB, dan pasien mengatakan bahwa BAB terakhir
terasa keras dan keluarnya hanya sedikit seperti tahi kambing,
Ny.N mengatakan ada rasa untuk BAB namun tidak bisa, dan
Ny.N juga mengatakan bahwa nyeri tekan pada perut. Pada saat
pengkajian juga ditemukan bahwa teraba masaa di abdomen

67

pasien, Bising usus hipoaktif yaitu 6 kali per menit, dan terdapat
bunyi pekak pada abdomen.
Diagnosa

ansietas

juga

diangkat

karena

pada

saat

pengkajian pasien mengatakan cemas dengan keadaannya


sekrang, pasien mengatakan cemas jika kemoterapinya tidak
berhasil dan takut jika harus ada yang dioperasi lagi, pasien juga
mengatakan khawatir akan dirinya sendiri jika tidak ada yang
akan merawatnya lagi, sedangkan suaminya juga sudah tua.
Padaa saat pengkajian wajah klein tampak tegang and sedih saat
bercerita, dan mata pasien kelihatan berkaca-kaca.
Dari

beberapa

masalah

tersebut

disusun

intervensi

keperawatan untuk masing-masing diagnosa yang timbul. Untuk


masalah mual / nausea manajemen mual dan muntah. Aktivitas
yang dilakukan dalam manajemen mual muntah diantaranya
pengkajian mual muntah secara komprehensif, mengajarkan
teknik non farmakologis untuk memanjaemen muntah yaitu
teknik distraksi. Memberikan dukungan fisik dengan mengelus
punggung pasien saat muntah. Menjelaskan makanan yang
harus dihindari untuk mengurangi mual dan muntah. Untuk
masalah gangguan nutrisi dibuat intervensi manajemen nutrisi.
Di dalamnya terdapat aktivitas yang dapat memperbaiki nutrisi
klien.
Mengatasi

masalah

konstipasi

pada

pasien

dilakukamanajemen konstipasi dengan melakukan pendidikan


kesehatan tentang konstipasi dan menganjurkan pasien untuk
mengkonsumsi makanan tinggi serat. Untuk masalah konstipasi
teratasi pada hari ke-3 pemberian asuhan keperawatan.
Pasien mengalami kecemasan tingkat sedang, intervensi
yang dilakukan yaitu penurunan kecemasan dengan melakukan
pendekatan yang terapeutik mengajkarkan tekni relaksaksi nafas

68

dalam serta melakukan dukungan s[iritual dengan menganjurkan


pasien

untuk

mendekatkan

diri

kepada

Allah

SWT

dan

mengajarkan pasien tayamum serta sholat di temapt tidur.


Masalah cemas teratasi pada hari ke-2 pemberian asuhan
keperawatan.

69

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ny. N masuk RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 28
Februari 2016 dengan diagnosa kanker ovarium yang akan
menjalani kemoterapi ke-2. Pengkajian yang dilakukan pada
tanggal 29 Februari 2016 di dapat 4 buah diagnosa keperawatan
untuk Ny.N. diagnosa tersebut yaitu: a) nausea / mual muntah
b.d efek kemoterapi, b) ketidakseimbangan nutrisi kurabng dari
kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual dan muntah, c) konstipasi
b.d penekanan masa di abdomen, d) ansietas/ cemas sedang b.d
perubahan status kesehatan + kemoterapi. Selama 3 hari
mendapat asuhan keparawatan, diagnosa semas teratasi pada
hari k-2 dan diagnosa konstipasi pada hari ke-3. Sedangkan dua
diagnosa keperawatan lainnya masalah sebagian teratasi.
B. Saran
1. Rumah sakit
Diharapkan hasil laporan kasus ini dapat menjadi bahan
masukan dan informasi bagi institusi kesehatan dan tenaga
kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan
terhadap Kanker ovarium

serta dapat memberikan perhatian

mdan

yang

perawatan

tepat

pada

Ny.

N dengan masalah kanker ovarium untuk mencegah terjadinya


komplikasi lebih lanjut
2. Bagi Akademik
Diharapkan hasil laporan kasus ini dapat dijadikan sebagai
bahan informasi atau masukan untuk menambah wawasan bagi

70

pembaca tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan


kanker ovarium
3. Bagi Perawat
Diharapkan perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan
lebih meningkatkan pemberian asuhan keperawatan pada pasien
khususnya

pasien

dengan

kanker ovarium, sehingga

tahap

penyembuhan pasien cepat tercapai dan berbagai komplikasi


dapat dihindari.

DAFTAR PUSTAKA

71