Anda di halaman 1dari 7

2016

HUBUNGAN KERENTANAN
(VULNERABILITY) TERHADAP
BANGUNAN TAHAN GEMPA

ZULFA AULAWI
1509200060021

ZULFA AULAWI | 1509200060021

HUBUNGAN KERENTANAN (VULNERABILITY)


TERHADAP BANGUNAN TAHAN GEMPA
PENGERTIAN
kerentanan (vulnerability) sangat erat kaitannya dengan bencana (disaster). Terlebih lagi di
Indonesia yang merupakan wilayah yang letak geografisnya sangat rawan akan bencana
gempa (earthquake disaster). Maka dari itu, Pemerintah mulai mendorong terealisasinya
standar tindak pencegahan (pra, ), saat terjadi bencana dan penanganan (pasca) dalam segala
aspek baik secara regulasi, teknis, maupun kebijakan terkait penanggulangan bencana yang
terjadi di Indonesia. Salah satunya dengan mensosialisasikan Prinsip-prinsip Bangunan Tahan
Gempa seperti yang Penulis lampirkan pada Tugas III Mk. Manajemen Infrastruktur
Pemukiman dan Bangunan ini sebelumnya.
Berikut ini merupakan pengertian Bencana, Bahaya, Risiko dan Kerentanan.
Bencana (Disaster)
Bencana adalah kerusakan yang serius akibat fenomena alam luar biasa dan/atau disebabkan
oleh ulah manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa, kerugian material dan
kerusakan lingkungan yang dampaknya melampaui kemampuan masyarakat setempat untuk
mengatasinya dan membutuhkan bantuan dari luar.
Disaster terdiri dari 2(dua) komponen yaitu Hazard dan Vulnerability;
Kerentanan (Vulnerability)
Kerentanan ( Vulnerability ) adalah keadaan atau kondisi yang dapat mengurangi kemampuan
masyarakat / objek untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi bahaya atau ancaman
bencana;
Bahaya ( Hazards )
Bahaya adalah fenomena alam yang luar biasa yang berpotensi merusak atau mengancam
kehidupan manusia, kehilangan harta-benda, kehilangan mata pencaharian, kerusakan
lingkungan. Misal : tanah longsor, banjir, gempa-bumi, letusan gunung api, kebakaran dll;

Bencana = Kerentanan (Vulnerability) x Bahaya ( Hazards )

HUBUNGAN KERENTANAN (VULNERBILITY) TERHADAP BANGUNAN TAHAN GEMPA

ZULFA AULAWI | 1509200060021

KERENTANAN PADA BENCANA GEMPA PADA SUATU KAWASAN


Kerentanan (Vulnerability) menggambarkan seberapa mudahnya dan seberapa kuatnya suatu
infrastruktur pada kota, populasi, ekonomi dan sistem sosial-politik yang dapat dipengaruhi
oleh kejadian gempa. Kerentanan mengacu pada potensi untuk infrastruktur fisik akan
menjadi rusak atau hancur; untuk individu menjadi terluka atau tewas atau kehilangan rumah,
atau kehidupan sehari-hari mereka menjadi terganggu; dan untuk ekonomi dan sistem sosialpolitik terganggu.
Kerentanan (Vulnerability) merupakan salah satu dari lima faktor selain hazard, exposure,
external context dan emergency response & recovery capability dalam pengkajian risiko
bencana gempa bumi dengan metode Earthquake Disaster Risk Index (EDRI). Metode ini
awalnya dikembangkan oleh Davidson (1996, 1997) untuk mengukur indeks risiko bencana
gempa suatu wilayah dan kemudian membandingkannya dengan indeks risiko bencana
gempa di wilayah lainnya. Dalam penelitiannya, Davidson mengukur indeks risiko bencana
gempa di beberapa kota di dunia.
KERENTANAN PADA BANGUNAN
Kerentanan bangunan adalah faktor-faktor yang dapat menyebabkan suatu bangunan rusak
atau tidak dapat memenuhi kinerja yang diharapkan apabila terjadi gempa. Semakin banyak
faktor kerentanan dalam suatu bangunan, maka semakin rentan bangunan tersebut dan
semakin kecil kinerjanya apabila terkena gempa. Berikut ini merupakan contoh kerentanan
yang terdapat pada bangunan:
a. Bentuk bangunan yang tidak beraturan
b. Kekuatan elemen struktur yang tidak memadai
c. Kualitas bahan bangunan / material yang tidak memenuhi standar
d. Ikatan atau sambungan antar elemen struktur yang tidak kokoh
e. Dibangun pada tanah atau pondasi yang tidak stabil
Karena manusia tidak bisa mencegah terjadinya gempa bumi, maka berbagai usaha harus
dilakukan untuk mengurangi risiko gempa sehingga apabila terjadi gempa maka tidak akan
menjadi suatu bencana. Salah satu kegiatan risk reduction tersebut adalah identifikasi
kerentanan bangunan yang sudah ada terhadap ancaman gempa, sehingga bisa segera
dilakukan antisipasi apabila ditemukan bangunan yang rentan.
Contoh Metode Evaluasi Kerentanan
Untuk mengetahui kerentanan suatu bangunan perlu dilakukan evaluasi kerentanan
bangunan, contoh metode yang bisa digunakan adalah metode dari FEMA 154. Hasil dari
evaluasi kerentanan tersebut akan dijadikan pedoman dalam melakukan tindakan berikutnya
sebagai langkah risk reduction terhadap ancaman gempa. Apabila hasil dari evaluasi
menunjukkan bahwa bangunan belum memenuhi persyaratan, maka bisa dilakukan tindakan
berikutnya yaitu diruntuhkan atau diperkuat dengan metode retrofitting, bracing, dll (FEMA
172, FEMA 356). Evaluasi Gedung terhadap risiko gempa dapat dilakukan dengan 2 tahap:

HUBUNGAN KERENTANAN (VULNERBILITY) TERHADAP BANGUNAN TAHAN GEMPA

ZULFA AULAWI | 1509200060021

1. Rapid Visual Screening** (FEMA 154). Apabila score >2, maka gedung dinyatakan
aman/tidak beresiko dan tidak perlu dilakukan cek lebih lanjut (lebih derinci)
2. Apabila Rapid Visual Screening (FEMA 154), ternyata menunjukkan score <=2, maka
angunan dinyatakan beresiko dan perlu dilakukan Evaluasi lebih rinci (FEMA 310,
FEMA 356)
Sedangkan dalam Metode Hazus, kerentanan suatu bangunan terhadap hazard gempa dapat
diestimasi dengan menganalisis fragility and capacity curves-nya. Data awal yang diperlukan
adalah:
1. Type bangunan (termasuk tinggi bangunan) dan seismic design level bangunan.
2. Spektrum respon (PGA) lokasi bangunan.
Sedangkan untuk mencegah terjadiny Kerentanan (Vulnerability) pada bangunan yang belum
dibangun, maka proses perencanaan konstruksi bangunan haruslah memenuhi PrinsipPrinsip Bangunan Tahan Gempa. Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam
perencanaan bangunan agar memenuhi prinsip tersebut antara lain,:
1. Pondasi
Pondasi bangunan yang baik haruslah kokoh dalam menyokong beban dan tahan
terhadap perubahan termasuk getaran. Penempatan pondasi juga perlu diperhatikan
kondisi batuan dasarnya. Pada dasarnya fondasi yang baik adalah seimbang atau
simetris. Dan untuk pondasi yang berdekatan harus dipisah, untuk mencegah
terjadinya keruntuhan local (Local Shear).
2. Kolom
Kolom harus menggunakan kolom menerus (ukuran yang mengerucut/ semakin
mengecil dari lantai ke lantai). Dan untuk meningkatkan kemampuan bangunan
terhadap gaya lateral akibat gempa, pada bangunan tinggi (high rise building) acapkali
unsur vertikal struktur menggunakan gabungan antara kolom dengan dinding geser
(shear wall)
3. Denah Bangunan
Bentuk Denah bangunan sebaiknya sederhana, simetris, dan dipisahkan (pemisahan
struktur). Untuk menghindari adanya dilatasi (perputaran atau pergerakan) bangunan
saat gempa.
4. Bahan / Material Bangunan
Berat bahan bangunan adalah sebanding dengan beban inersia gempa. Sebagai
contoh penutup atap GENTENG menghasilkan beban gempa horisontal sebesar 3X
beban gempa yang dihasilkan oleh penutup atap SENG. Sama halnya dengan pasangan
dinding BATA menghasiIkan beban gempa sebesar 15X beban gempa yang dihasilkan
oleh dinding KAYU.

HUBUNGAN KERENTANAN (VULNERBILITY) TERHADAP BANGUNAN TAHAN GEMPA

ZULFA AULAWI | 1509200060021

5. Struktur Atap
Jika tidak terdapat batang pengaku (bracing) pada struktur atap yang menahan beban
gempa dalam arah horizontal, maka keruntuhan akan terjadi seperti, diperlihatkan
pada gambar berikut:
6. Desain Kapasitas (Capacity Design)
Konsep Desain Kapasitas adalah dengan meningkatkan daktalitas elemen- elemen
struktur dan perlindungan elemen- elemen struktur lain yang diharapkan dapat
berperilaku elastik. Salah satunya adalah dengan konsep strong column weak beam.
Dengan metode ini, bila suatu saat terjadi goncangan yang besar akibat gempa, kolom
bangunan di desain akan tetap bertahan, sehingga orang- orang yang berada dalam
Gedung masing mempunyai waktu untuk menyelamatkan diri sebelum Bangunan
roboh seketika. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendesain kolom yang kuat
antara lain :
a. Pengaturan jarak antar sengkang,
b. Peningkatan mutu beton, dan
c. Perbesaran penampang.
d. Serta untuk struktur bangunan dengan baja, bisa dimodifkasi sambungan
hubungan antara balok dengan kolom.
Tiap Negara mempunyai desain sendiri dalam merencanakan tingkat daktilitas untuk
keamanan bangunan yang mereka bangun, hal ini tergantung dari letak geologi negara
masing- masing. Misalnya Jepang yang menerapkan tingkat daktilitas 1. Dengan desain
ini, bangunan di desain benar- benar kaku (full elastic).
Berikut ini adalah macam- macam tingkat daktlitas beserta kondisi yang ditimbulkan :
a. Daktilitas 1 : Keadaan elastis, dengan konsep ini tulangan di desain besar- besar
untuk membuat bangunan menjadi kaku (full elastic). Contohnya : Jepang.
Konsekuensinya, saat gempa melebihi rencana, maka Gedung akan langsung
roboh tanpa memberi tanda (peringatan) terlebih dahulu.
b. Daktilitas 2 : Keadaan Plastis (intermediete)
c. Daktilitas 3 : Keadaan plastis dengan struktur yang daktil, perecanaan struktur
dengan metode Capasity Design. Ini menjadi dasar perencanaan bangunan
tahan gempa di Indonesia, yaitu dengan pembentukan sendi plastis di balok,
sehingga saat ada gempa Bangunan akan memberi 'tanda' atau peringatan
terlebih dahulu, sehingga orang- orang dalam gedung mempunyai waktu untuk
menyelamatkan diri.

HUBUNGAN KERENTANAN (VULNERBILITY) TERHADAP BANGUNAN TAHAN GEMPA

ZULFA AULAWI | 1509200060021

KESIMPULAN
Kerugian yang disebabkan oleh gempa bumi tidak langsung disebabkan oleh gempa bumi,
namun disebabkan oleh kerentanan (vulnerability) bangunan sehingga terjadi runtuhan
bangunan, kejatuhan peralatan dalam bangunan, kebakaran, dan lain sebagainya. Faktor
kerentangan bangunan sangat erat hubungannya untuk perhitungan bencana gempa bumi di
masa yang akan dating. Faktor gempa bumi tidak dapat dielakkan tapi harus dihadapi dengan
merencanakan bangunan dan lingkungannya yang tahan terhadap gempa bumi. Maka untuk
itu diperlukan Prinsip-Prinsip Bangunan Tahan Gempa sebagai acuan dalam merancang dan
merencanakan suatu bangunan agar dapat mengurangi faktor kerentanan (vulnerability)
sehingga resiko bencana gempa bumi bisa diatasi dengan baik.

HUBUNGAN KERENTANAN (VULNERBILITY) TERHADAP BANGUNAN TAHAN GEMPA