Anda di halaman 1dari 3

Sistem tanam tumpangsari adalah salah satu usaha sistem tanam dimana

terdapat dua atau lebih jenis tanaman yang berbeda ditanam secara bersamaan
dalam waktu relatif sama atau berbeda dengan penanaman berselangseling dan
jarak tanam teratur pada sebidang tanah yang sama (Warsana. 2009). Tumpangsari
merupakan bagian dari multiple cropping yaitu penanaman lebih dari satu
tanaman pada waktu yang bersamaan atau selama periode tanam pada satu tempat
yang sama. Tanaman yang ditanam secara tumpangsari sebaiknya mempunyai
umur atau periode pertumbuhan yang tidak sama, karena mempunyai perbedaan
kebutuhan terhadap faktor lingkungan seperti air, kelembaban, cahaya dan unsur
hara tanaman, karena itu akan mempengaruhi pertumbuhan dan hasil kedua
tanaman tersebut (Frina, Ratna dan Farida, 2000). Pola tanam monokultur adalah
sistem penanaman satu jenis tanaman yang dilakukan sekali atau beberapa kali
dalam setahun tergantung jenis tanamannya (Prasetyo, et al. 2009). LER (Land
Equivalent Ratio) atau NKL (Nilai Kesetaraan Lahan) adalah suatu nilai yang
menggambarkan suatu areal yang dibutuhkan untuk total produksi monokultur
yang setara dengan satu ha produksi tumpang sari dengan tujuan untuk
mengevaluasi keuntungan atau kerugian yang ditimbulkan dari pola tanam
tumpang sari dengan monokultur (Sasmita, Priatna, et al. 2006)
Produksi jagung berupa tongkol jagung yang dipanen pada tanaman jagung.
Menurut Thahir (1985), dalam perhitungan NKL diperlukan data hasil produksi
tanaman jagung secara tumpang sari dan monokultur, dan data hasil produksi
tanaman sawi secara tumpang sari dan monokultur. Rumus NKL adalah

Dimana: HA1 = Hasil jenis tanaman jagung yang ditanam secara tumpang sari.
HA2 = Hasil jenis tanaman jagung yang ditanam secara monokultur.
HB1 = Hasil jenis tanaman sawi yang ditanam secara tumpang sari.
HB2 = Hasil jenis tanaman sawi yang ditanam secara monokultur.
Jika pada hasil analisis diperoleh nilai NKL lebih besar 1 (> 1), hal tersebut
menunjukkan bahwa pola tanam tumpang sari lebih produktif dibandingkan
monokultur.

Warsana. 2009. Introduksi Teknologi Tumpang Sari Jagung dan Kacang


tanah. BPTP Jawa Tengah
Frina. M. S. Ratna. A. W. Farida. Z 2000. Pengaruh Populasi terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Kedelai Yang Ditumpangsarikan dengan
Jagung. Universitas Sri Wijaya Sumatera Selatan.
Prasetyo, et al. 2009. Produktivitas Lahan dan NKL pada Tumpang Sari Jarak
Pagar dengan Tanaman Pangan. Jurnal Akta Agrosia. Vol 12(1): 5155.
Sasmita, Priatna, et al. 2006. Evaluasi Pertumbuhan dan Produksi Padi Gogo
Haploid Ganda Toleran Naungan dalam Sistem Tumpang sari. Buletin
Agronomi. Vol34(2): 79-86.

Thahir S.M. dan Hadmadi. 1985. Tumpang Gilir. Yasaguna, Jakarta.