Anda di halaman 1dari 1

A.

Kebiasaan Hukum Disemua pergaulan hidup nampaknya suasana kehidupan


menyebabkan terbentuknya kebiasaan-kebiasaan. Dalam arti yang umum
kebiasaan tersebut tidak lain adalah suatu perbuatan maupun penahanan diri
berbuat sesuatu secara teratur oleh individu atau sekelompok manusia. Semenara
itu, untuk dapat dikatakan kebiasaan hukum harus memenuhi sejumlah persyaratan
: (1) kebiasaan itu tidak boleh merupakan kebiasaan individual, melainkan suatu
kebiasaan kemasyarakatan; (2) kebiasaan itu harus menyangkut suatu perbuatan
(komisi) atau penahanan diri (omnisi), yang di dalam kehidupan bermasyarakat
meluangkan berbagai (setidaktidaknya dua) kemungkinan; (3) kehidupan
(kebiasaan) ini harus dialami oleh masyarakat sebagai suatu yang mempunyai
kekuatan mengikat ; dan (4) kebiasaan tersebut harus dikukuhkan oleh penguasa
umum. B. Penguasa Umum atau Negara Untuk membuat suatu kebiasaan
kemasyarakatan menjadi sebuah norma hukum diperlukan perantaraan penguasa.
Tidak dapat disangkal bahwa dewasa ini penguasa umum muncul kepermukaan
dalam bentuk Sejarah Hukum by John Gillisen & Frist Gorle 5 negara. Antara
pemegang kekuasaan dan anggota-anggota kelompok ini terjadi sejumlah
perimbangan, dimana kedua belah pihak tersebut masingmasing mengupayakan
hal ini oleh situasi dan kondisi materiil serta melalui keadaan di dalam kelompok itu
sendiri memenangkan Sinergikepentingankepentingan dan pandanganpandangan tertentu. Penguasa dan Masyarakat Satu hal yang sudah pasti agar
perimbangan penguasa masyarakat dapat mencapai suatu derajat kelanggengan
tertentu maka keduanya harus membentuk sebuah sinergi yang mengasumsikan
adanya Berakhirnya Eigenrichting (Tindakansuatu minimum kepentingan
bersama. Main Hakim Sendiri) Kepentingan penguasa umum untuk
mempertahankan diri, baik untuk dirinya sendiri maupun bagi kelompoknya dalam
hubungan dengan dunia luar dilakukan melalui upaya mencegah terjadinya
sengketa antara para anggota kelompok satu sama lain atau jika perlu,
mengusahakan sekeras mungkin penyelesaian perselisihan yang terjadi secara
damai. Sarana dan prasarana yang diperlukan dalam menanggulangi sengketa
tersebut yaitu : (1) pembasan yang kemudian disusul dengan larangan dikenakan
sepenuhnya karena terhadap tindakan main hakim sendiri; tertentu; (2) (3)
pengukuhan dan bertanggungjawan atas celaan sosial atau sanksi yang tidak
memenuhi kebiasan-kebiasan menyusun dan menyeimbangkan kebijakan, prosedur
dan/atau badanbadan yang membuat aturan dan peraturan untuk menyelesaiakan
perselisihan-perselisihan