Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak usia di bawah lima tahun (balita) merupakan kelompok yang rentan
terhadap kesehatan dan gizi.Kurang Energi Protein (KEP) adalah salah satu masalah gizi
utama yang banyak dijumpai pada balita di Indonesia.Dalam Repelita VI, pemerintah dan
masyarakat berupaya menurunkan prevalensi KEP dari 40% menjadi 30%. Namun saat
ini di Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi yang

berdampak

juga

pada

status

gizi balita, dan diasumsi kecenderungan kasus KEP berat/gizi buruk akan bertambah.
Selain di Indonesia, kasus gizi buruk atau penyakit yag disebabkan oleh
malnutrisi

sering

terjadi

di

negara

berkembang,

dimana

angka

kemiskinan

masihtinggi.Gizi buruk marak terjadi di daerah di Afrika dimana terjadinya masa


kekeringan yang berkepanjangan, sehingga rakyat sulit mendapatkan makanan.
Penyakit gizi buruk merupakan jenis penyakit non infeksi yang disebabkan oleh
kekurangan satu zat gizi atau lebih secara makro. marasmuas ialah penyakit-penyakit
gizi buruk yang

biasanya terjadi pada waktu yang lama. Anak balita (bawah lima

tahun) sehat atau kurang gizi dapat diketahui dari pertambahan berat badannya tiap bulan
sampai usia minimal 2 tahun (baduta).Apabila pertambahan berat badan sesuai dengan
pertambahan umur menurut suatu standar organisasi kesehatan dunia, dia bergizibaik.
Kalau sedikit dibawah standar disebut bergizi kurang yang bersifat kronis.Apabila jauh
dibawah standar dikatakan bergizi buruk. Jadi istilah gizi buruk adalah salah satu bentuk
kekurangan gizi tingkat berat atau akut (Pardede, J,2006).
Marasmus adalah MEP berat yang disebabkan oleh defisiensi makanan sumber
energi (kalori), dapat terjadi bersama atau tanpa disertai defsiensi protein. Bila
kekurangan sumber kalori dan protein terjadi bersama dalam waktu yang cukup lama
maka anak dapat berlanjut ke dalam status marasmik kwashiorkor.
Kasus gizi buruk saat ini menjadi masalah yang menjadi perhatian di Indonesia.
Gizi kurang dan gizi buruk merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian, karena
dapat menimbulkan the lost generation. Kualitas bangsa di masa depan akan sangat
dipengaruhi keadaan atau status gizi pada saat ini, terutama balita. Akibat gizi buruk dan
gizi kurang bagi seseorang akan mempengaruh kualitas kehidupannya kelak. Angka gizi
buruk sampai sekarang masih cukup mengkhawatirkan, sehingga dengan latar belakang

tersebut, penulis menyelesaikan makalah dengan judul marasmus dan asuhan


keperawatan anak dengan marasmus.
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana pengertian marasmus ?
b. Bagaimana etiologi marasmus ?
c. Bagaimana patofisiologi dan woc marasmus ?
d. Bagaimana manifestasi klinis marasmus ?
e. Bagaimana pemeriksaan penunjang marasmus ?
f. Bagaimana komplikasi marasmus ?
g. Bagaimana penatalaksanaan marasmus ?
h. Bagaimana pencegahan marasmus ?
i. Bagaimana asuhan keperawatan pada anak marasmus secara teoritis?
j. Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan marasmus bersdasarkan skenario
kasus ?
C. Tujuan Penulisan
a. Tujuan umum
Mahasiswa

mampu

membedakan

marasmus

dan

kwarshikor

dan

mampu

melaksanakan asuhan keperawatan marasmus dan kwarshiokor


b. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu memahami pengertian marasmus
b. Mahasiswa mampu mengetahui etiologi marasmus
c. Mahasiswa mampu memahami patofisiologi marasmus
d. Mahasiswa mampu memahami manifestasi klinis marasmus
e. Mahasiswa mampu mengetahui pemeriksaan penunjang marasmus
f. Mahasiswa mampu memahami komplikasi marasmus
g. Mahasiswa mampu mnegetahui penatalaksanaan marasmus
h. Mahasiswa mampu memahami pencegahan marasmus
i. Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada anak dengan marasmus
secara teoritis
j. Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada anak dengan marasmus
bersdasarkan kasus
D. Manfaat Penulisan

Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoritis maupun
praktis dan dapat dijadikan sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan
khususnya tentang masalah gizi marasmus dan asuhan keperawatan marasmus.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Marasmus
Marasmus berasal dari bahasa Yunani yang berarti wasting/ merusak. Marasmus
pada umumnya merupakan peyakit pada bayi (dua belas bulan pertama), karena
terlambat diberi makanan tambahan. Penyakit ini dapat terjadi karena penyapihan
mendadak, formula pengganti ASI terlalu encer dan tidak higienis atau sering kena
infeksi terutama gastroenteritis. Marasmus berpengaruh jangka panjang terhadap
mental dan fisik yang sukar diperbaiki (Almatsier, 2009).
Marasmus adalah kekurangan kalori dalam diit yang berlangsung lama yang akan
menimbulkan gejala undernutrition yaitu pertumbuhan kurang atau terhenti, anak
masih menangis walaupun telah mendapat minum / susu, sering bangun waktu

malam, konstitipasi / diare, jaringan bawah kulit menghilang, kulit keriput, lemak pipi
menghilang sehingga seperti wajah orang tua. (Mansjoer, 2000).
Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein
(Suriyadi, 2001).
Marasmus adalah malnutrisi energi protein berat yang disebabkan oleh defisiensi
makanan sumber energi (kalori) dapat terjadi bersama atau tanpa disertai defisiensi
protein (Betz, 2002).
Sedangkan menurut Arisman (2004), marasmus adalah suatu bentuk malnutrisi
gizi protein energi karena kelaparan, semua unsur diet kurang. Marasmus terjadi
karena masukan kalori yang tidak adekuat, penyakit usus menahun, kelainan
metabolik atau infeksi menahun seperti tuberkulosis.
Dari berbagai pengertian diatas, maka dapat disimpulkan marasmus adalah suatu
penyakit malnutrisi energi protein berat akibat dari kurang mendapat masukan
makanan sumber energi (kalori) dalam waktu lama yang ditandai dengan penurunan
berat badan dan atropi jaringan tubuh secara bertahap terutama subkutan sehingga
anak tampak lebih tua dengan kulit keriput dan turgor kulit menurun dan akibat dari
penyakit.
B. Etiologi Marasmus
Etiologi dari penyakit marasmus antara lain masukkan zat gizi yang tidak adekuat,
kebiasaan makan yang tidak tepat, kelainan metabolik dan malabsorbsi, malformasi
kongenital pada saluran pencernan, penyakit ginjal menahun, keadaan ekonomi
keluarga (Arisman, 2004).
Secara garis besar penyebab marasmus ialah sebagai berikut:
Menurut Behrman (1999: 122) etiologi marasmus :
1) Kebiasaan-kebiasaan makanan yang tidak layak, seperti terdapat pada hubungan
orang tua-anak yang terganggu atau sebagai akibat kelainan metabolisme atau
malformasi bawaan.
2) Gangguan setiap sistem tubuh yang parah dapat mengakibatkan terjadinya
malnutrisi.
3) Disebabkan oleh pengaruh negatif faktor-faktor sosioekonomi dan budaya yang
berperan terhadap kejadian malnutrisi umumnya, keseimbangan nitrogen yang
negatif dapat pula disebabkan oleh diare kronik malabsorpsi protein, hilangnya
protein air kemih ( sindrom neprofit ), infeksi menahun, luka bakar dan penyakit
hati.

4) Masukan makanan yang kurang


Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit, pemberian makanan yang
tidak sesuai dengan yang dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang tua si anak;
misalnya pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer.
5) Infeksi
Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi enteral
misalnya infantil gastroenteritis, bronkhopneumonia, pielonephritis dan sifilis
congenital.
6) Kelainan struktur bawaan
Misalnya: penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung, deformitas palatum,
palatoschizis, micrognathia, stenosis pilorus, hiatus hernia, hidrosefalus, cystic
fibrosis pancreas.
7) Prematuritas dan penyakit pada masa neonates
Pada keadaan-keadaan tersebut pemberian ASI kurang
8) Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena
diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan
dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi
kongenital. (Nelson,1999).
9) Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai pada
bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau
sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain
seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi,
gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf
pusat. (Dr. Solihin, 1990:116).
C. Pathofisiologi Marasmus
Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein,
atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan
kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan
memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan
karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk
mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh
jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan
karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan.
Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan

asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa
jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat
mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau
kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan
sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.
(Nuuhchsan Lubis an Arlina Mursada, 2002:11).
Pada keadaan ini yang terlihat jelas ialah pertumbuhan yang kurang atau terhenti
disertai atrofi otot dan menghilangnya lemak di bawa kulit. Pada mulanya kelainan
demikian merupakan proses fisiologis. Untuk kelangsungan hidup jaringan, tubuh
memerlukan energi yang dapat dipenuhi oleh makanan yang diberikan, sehingga
harus didapat dari tubuh itu sendiri. Hal ini menyebabkan cadangan protein
digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut. Penghancuran jaringan
pada defisiensi kalori tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga
untuk memungkinkan sintesis glukosa dan metabolit esensial lainnya seperti asam
amino untuk komponen homeostatik. Oleh karena itu, pada marasmus berat terkadang
masih ditemukan asam amino yang normal, sehingga hati masih dapat membentuk
albumin yang cukup .
Proses metabolik anak pada dasarnya sama, akan tetapi relative lebih aktif
dibandingkan dengan orang dewasa. Anak membutuhkan lebih banyak makanan
untuk tiap kilogram berat badannya untuk pertumbuhan dan pertukaran energi yang
lebih aktif. Tubuh yang hidup seperti halnya dengan mesin memerlukan bahan bakar
dan bahan untuk pengganti maupun perbaikan. Anak yang sedang tumbuh
memerlukan makanan tambahan untuk pertumbuhan. Keperluan ini dapat dipenuhi
dengan pemberian makanan yang mengandung cukup kalori. Dalam makanan
tersebut harus cukup tersedia protein, karbohidrat, mineral, air, vitamin dan beberapa
macam asam lemak dalam jumlah tertentu.
Pada keadaan awal, umumnya tidak ditemukan kelainan biokimia, tetapi pada
keadaan lanjut akan didapatkan kadar albumin yang rendah, sedangkan globulin yang
meninggi. Jika kebutuhan akan kalori telah dipenuhi, tetapi makanan yang diberikan
tidak mengandung semua nutrient yang esensial untuk manusia, maka secara lambat
kesehatan orang tersebut akan terganggu. Gejala yang timbul tergantung kepada
kekurangan jenis nutrient dalam dietnya. Defisiensi protein akan mengakibatkan

timbulnya gejala defisiensi protein atau lebih dikenal dengan nama Kwashiorkor.
Defisiensi vitamin A yang berlangsung lama menimbulkan penyakit defisiensi
vitamin A atau Xeropthalmia. Defisiensi vitamin D mengakibatkan penyakit yang
disebut Rikets dan sebagainya.
Pertumbuhan yang kurang atau terhenti disertai atrofi otot dan menghilangkan
lemak di bawah kulit. Pada mulanya kelainan demikian merupakan prosesn fisiologis.
Untuk kelangsungan hidup jaringan tubuh memerlukan energi, namun tidak didapat
sendiri dan cadangan protein digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan energi
tersebut. Penghancuran jaringan pada defisiensi kalori tidak saja membantu
memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga untuk memungkinkan sintesis glukosa dan
metabolit esensial lainnya seperti asam amino untuk komponen homeostatik. Oleh
karena itu, pada marasmus berat kadang-kadang masih ditemukan asam amino yang
normal, sehingga hati masih dapat membentuk cukup albumin. (Ngastiyah, 2005 :
259)
Pathway marasmus

Sosial ekonomi
rendah

Malabsorbsi,inf
eksi, anoreksia
Intake kurang dari
kebutuhan
Defisiensi protein dan
kalori

Hilangnya lemak
dibantalan kulit
Turgor kulit
menurun
Kerusakan
integritas
kulit

Daya tahan tubuh


me
Keadaan umum
lemah
Resiko infeksi
Resiko infeksi saluran
pencernaan
Anoreksia,
Diare
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

Kegagalan melakukan
sintesis protein dan
kalori

Defisiensi
pengetahuan
Asam amino
esensial menurun
dan produksi
albumin
menurun
Atrofi, pengecilan
otot
Keterlambata
n
pertumbuhan
dan

D. Manifestasi Klinis Marasmus


Menurut Ngastiyah (2005 : 259) tanda dan gejala dari marasmus adalah :
1) Perubahan psikis anak menjadi cengeng, rewel, dan tidak bergairah
2) Diare
3) Mata besar dan dalam
4) Akral dingin dan tampak sianosis
5) Wajah seperti orang tua
6) Pertumbuhan dan perkembangan terganggu
7) Berat badan anak menurun
8) Terjadi pantat begi karena terjadi atrofi otot
9) Jaringan lemak dibawah kulit (subkutan) akan menghilang, kulit keriput
dan turgor kulit jelek
10) Perut membuncit atau cekung dengan gambaran usus yang jelas
11) Nadi lambat dan metabolisme basal menurun
12) Vena superfisialis tampak lebih jelas
13) Ubun-ubun besar cekung
14) Tulang pipi dan dagu kelihatan menonjol
15) Anoreksia
16) Sering bangun malam
E. Pemeriksaan Penunjang Marasmus
Menurut Markum (1996:167) pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah :
a. Analisis Penentuan Status Gizi Secara Langsung
1) Antropometri
Berat Badan
Pada usia beberapa hari, berat badan akan mengalami
penurunan yang sifatnya normal, yaitu sekitar 10% dari berat
badan lahir. Hal ini disebabkan karena keluarnya mekonium
dan

air

seni

yang

mencukupimisalnya

belum

produksi

diimbangi
ASI

yang

asupan
belum

yang
lancar.

Umumnya berat badan akan kembali mencapai berat badan


lahir pada hari kesepuluh.
Triwulan I, sekitar 700 1000 gram/bulan
Triwulan II, sekitar 500 600 gram/bulan
Triwulan
III,
sekitar
350

450

gram/bulan

Triwulan IV, sekitar 250 350 gram/bulan


Dari perkiraan tersebut, dapat diketahui bahwa pada usia 6
bulan pertama berat badan akan bertambah sekitar 1 kg/bulan,
sementara pada 6 bulanberikutnya hanya + 0,5 kg/bulan. Pada

tahun kedua, kenaikannya adalah + 0,25 kg/bulan. Setelah 2


tahun, kenaikkan berat badan tidak tentu, yaitu sekitar 2,3
kg/tahun.

Pada

tahap

adolesensia(remaja)

akan

terjadi

pertambahan berat badan secara cepat ( growth spurt).


Tinggi Badan
Tinggi badan untuk anak kurang dari 2 tahun sering disebut
dengan panjang badan. Pada bayi baru lahir, panjang badan
rata-rata adalah sebesar + 50 cm. Pada tahun pertama,
pertambahannya adalah 1,25 cm/bulan ( 1,5 X panjang badan
lahir). Penambahan tersebut akan berangsur-angsur berkurang
sampai usia 9 tahun, yaitu hanya sekitar 5 cm/tahun. Baru pada
masa pubertas ada peningkatan pertumbuhan tinggi badan yang
cukup pesat, yaitu 5 25 cm/tahun pada wanita, sedangkan
pada laki-laki peningkatannya sekitar 10 30 cm/tahun.
Pertambahan tinggi badan akan berhenti pada usia 18 20

tahun.
Lingkar Kepala
Secara normal, pertambahan ukuran lingkar pada setiap tahap
relatif konstan dan tidak dipengaruhi oleh factor ras, bangsa
dan letak geografis. Saat lahir, ukuran lingkar kepala
normalnya adalah 34-35 cm. Kemudian akan bertambah
sebesar + 0,5 cm/bulan pada bulan pertama atau menjadi + 44
cm. Pada 6 bulan pertama ini, pertumbuhan kepala paling cepat
dibandingkan dengan tahap berikutnya, kemudian tahun-tahun
pertama lingkar kepala bertambah tidak lebih dari 5 cm/tahun,
setelah itu sampai usia 18 tahun lingkar kepala hanya

bertambah + 10 cm.
Lingkar Lengan Atas
Pertambahan lingkar lengan atas ini relatif lambat. Saat lahir,
lingkar lengan atas sekitar 11 cm dan pada tahun pertama,
lingkar lengan atas menjadi 16 cm. Selanjutnya ukuran tersebut
tidak banyak berubah sampai usia 3 tahun.Ukuran lingkar
lengan atas mencerminkan pertumbuhan jaringan lemak dan

otot yang tidak berpengaruh oleh keadaan cairan tubuh dan


berguna untuk menilai keadaan gizi dan pertumbuhan anak
prasekolah.
1) Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk
memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa,
massa tubuh yang tidak berlemak).
2) Biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat
kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan
struktur dari jaringan
3) Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen
yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam
jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain: darah,
urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot.
a. Laboratorium menunjukan
1) Penurunan badan albumin, kolesterol dan glukosa dalam serum
2) Kadar globumin dapat normal atau meningkat, sehingga perbandingan
albumin dan globumin dapat terbalik kurang dari 1.
3) Kadar asam amino esensial dalam plasma relatif lebih rendah daripada
asam amino non esensial.
4) Umumnya kadar imunoglubin serum normal atau meningkat.
5) Kadar Ig A serum normal, kadar Ig A sekretori rendah.
6) Uji toleransi glukosa menunjukan gambaran tipe diabetik.
b. Pemeriksaan air kemih menunjukan peningkatan sekresi hidroksiprolin dan
adanya aminoasi dunia.
c. Pada biopsi hati ditemukan perlemakan ringan sampai berat, fibrosis, nekrosis
dan infiltrasi sel mononuklear. Pada perlemakan berat hampir semua selhati
mengandung vakual lemak yang besar.
d. Pemeriksaan outopsi menunjukan kelainan pada hampir semua organ tubuh,
seperti degenerasi otot jantung, osteoporosis tulang, atrofi virus usus, detrofi
sistem limfold dan atrofi kelenjar timus.
F. Komplikasi Marasmus
Komplikasi yang mungkin terjadi menurut (Markum : 1999 : 168) defisiensi Vitamin
A, infestasi cacing, dermatis tuberkulosis, bronkopneumonia, noma, anemia, gagal
tumbuh serta keterlambatan perkembangan mental dan psikomotor.
a. Defisiensi Vitamin A

Umumnya terjadi karena masukan yang kurang atau absorbsi yang terganggu.
Malabsorbsi ini dijumpai pada anak yang menderita malnurtrisi, sering terjangkit
infeksi enteritis, salmonelosis, infeksi saluran nafas) atau pada penyakit hati.
Karena Vitamin A larut dalam lemak, masukan lemak yang kurang dapat
menimbulkan gangguan absorbsi.
b. Infestasi Cacing
Gizi kurang mempunyai kecenderungan untuk mudahnya terjadi infeksi
khususnya gastroenteritis. Pada anak dengan gizi buruk/kurang gizi investasi
parasit seperti cacing yang jumlahnya meningkat pada anak dengan gizi kurang.
c. Tuberkulosis
Ketika terinfeksi pertama kali oleh bakteri tuberkolosis, anak akan membentuk
tuberkolosis primer. Gambaran yang utama adalah pembesaran kelenjar limfe
pada pangkal paru (kelenjar hilus), yang terletak dekat bronkus utama dan
pembuluh darah. Jika pembesaran menghebat, penekanan pada bronkus mungkin
dapat menyebabkanya tersumbat, sehingga tidak ada udara yang dapat memasuki
bagian paru, yang selanjutnya yang terinfeksi. Pada sebagian besar kasus,
biasanya menyembuh dan meninggalkan sedikit kekebalan terhadap penyakit ini.
Pada anak dengan keadaan umum dan gizi yang jelek, kelenjar dapat
memecahkan ke dalam bronkus, menyebarkan infeksi dan mengakibatkan
penyakit paru yang luas.
d. Bronkopneumonia
Pada anak yang menderita kekurangan kalori-protein dengan kelemahan otot yang
menyeluruh atau menderita poliomeilisis dan kelemahan otot pernapasan. Anak
mungkin tidak dapat batuk dengan baik untuk menghilangkan sumbatan pus.
Kenyataan ini lebih sering menimbulkan pneumonia, yang mungkin mengenai
banyak bagian kecil tersebar di paru (bronkopneumonia).
e. Noma
Penyakit mulut ini merupakan salah satu komplikasi kekurangan kalori-protein
berat yang perlu segera ditangani, kerena sifatnya sangat destruktif dan akut.
Kerusakan dapat terjadi pada jaringan lunak maupun jaringan tulang sekitar
rongga mulut. Gejala yang khas adalah bau busuk yang sangat keras. Luka
bermula dengan bintik hitam berbau diselaput mulut. Pada tahap berikutnya bintik
ini akan mendestruksi jaringan lunak sekitarnya dan lebih mendalam. Sehingga
dari luar akan terlihat lubang kecil dan berbau busuk.

G. Penatalaksanaan Marasmus
1. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas
biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin.
2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit.
3. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat.
4. Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian
antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil laboratorium, timbang berat
badan, kaji tanda-tanda vital.
a. Penatalaksanan Diet
Tujuan Diet : Memberikan Makanan TETP secara bertahap sesuai dengan
keadaan pasien untuk mencapai keadaan gizi optimal.\
b. Pemberian Cairan/Makanan
1. Menurut Arisman, 2004:105
a. Komposisi pemberian CRO (Cairan Rehidrasi Oral) sebanyak
70-100 cc/kg BB biasanya cukup untuk mengoreksi dehidrasi.
b. Cara pemberian dimulai sebanyak 5 cc/kg BB setiap 30 menit
selama 2 jam pertama peroral atau NGT kemudian tingkatkan
menjadi 5-10 cc/kg BB/ jam.
c. Cairan sebanyak itu harus habis dalam 12 jam.
d. Pemberian ASI sebaiknya tidak dihentikan ketika pemberian
CRO/intravena diberikan dalam kegiatan rehidrasi.
e. Berika makanan cair yang mengandung 75-100 kkal/cc,
masing-masing disebut sebagai F-75 dan F-100.
2. Menurut Nuchsan Lubis Penatalaksanaan penderita marasmus yang
dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap, yaitu :
1. Tahapan Stabilisasi (Initial)
Tahap awal yaitu 24-48 jam pertama merupakan masa kritis,
yaitu

tindakan

untuk

menyelamatkan

jiwa,

antara

lain

mengkoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian


cairan intravena.Cairan yang diberikan ialah larutan DarrowGlucosa atau Ringer Lactat Dextrose 5%.Cairan diberikan
sebanyak 200 ml/kg BB/hari. Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB
pada 4-8 jam pertama. Kemudian 140 ml sisanya diberikan
dalam 16-20 jam berikutnya.
2. Tahapan Transisi (Penyesuaian)

Tujuan : memberi bentuk, jenis, dan cara pemberian makanan yg


sesuai dg kemampuan digesti dan absorbsi penderita.
Porsi kecil tapi sering ( 6-12x pemberian sehari)
Umur < 1 tahun / BB < 7 kg :
Cair- semi solid spt mkn bayi, ASI diteruskan bila masih ada dan
diperlukan pada saat setelah makan atau mau tidur.
Umur > 1 tahun / BB > 7 kg :
Semi solid-solid berupa makanan anak 1 th bentuk cair kemudian
lunak dan makanan padat, cairan 150-200 ml/kg BB/hari.
Kalori yang diberikan 50- 100 kalori/kgBB/hr dengan protein 2
g/ kgBB/ hari
Susu formula / rendah laktosa
Bila tak minum susu formula diberi makanan yang yang tak
mengandung protein susu sapi dan bebas laktosa ( preda =
formula bubur- tempe)
3. Tahap Rehabilitasi
Intake kalori 100- 175 kalori/kgBB/hari. Bentuk jenis dan cara
pemberian disesuaikan dengan makin meningkatnya kemampuan
digesti dan absorbsi.
Jenis makanan diupayakan disesuaikan dengan apa yang
mungkin dapat diberikan di rumah.
4. Tahapan Pembinaan
Bimbingan pada orang tua untuk memberikan makanan sesuai
dengan kebutuhan, dapat dimulai setiap tahap, dalam bentuk dan
jenis makanan yang dapat disediakan oleh mereka dirumah
Tujuan : ibu dapat merawat anak KEP dan menghindari
berulangnya KEP
Intake 100-120 kalori / kgBB/hari, protein 2-3 g/kgBB/hari
Anak dengan Gizi Buruk boleh dipulangkan bila terjadi kenaikan
sampai kira-kira 90% BB normal menurut umurnya, bila nafsu
makannya telah kembali dan penyakit infeksi telah teratasi.
Penderita yang telah kembali nafsu makannya dibiasakan untuk
mendapat makanan biasa seperti yang dimakan sehari-hari.
Menurut Mansjoer (2000 : 514 517) penatalaksanan marasmus adalah :
Pengobatan rutin yang dilakukan di rumah sakit berupa 10 langkah penting yaitu:
1. Atasi/cegah hipoglikemia Periksa kadar gula darah bila ada hipotermia (suhu
aksila < 35C, atau suhu rektal 35,5C). Bila kadar gula darah di bawah 50 mg/dl,
maka berikan:

a. 50 ml bolus glukosa 10% atau larutan sukrosa (1 sendok teh


gula dalam 5 sendok makan air) secara oral atau sonde/pipa
nasogastrik.
b. Berikan larutan tersebut setiap 30 menit selama 2 jam (setiap
kali berikan bagian dari jatah untuk 2 jam).
c. Secepatnya berikan makan setiap 2 jam, siang dan malam.
2. Atasi/cegah hipotermia Bila suhu rektal < 35,5C, hangatkan anak dengan
pakaian atau selimut, atau letakkan dekat lampu atau pemanas. Suhu diperiksa
sampai mencapai > 36,5C.
3. Atasi/cegah dehidrasi Jika anak masih menyusui, teruskan ASI dan berikan setiap
setengah jam sekali. Jika anak masih dapat minum, lakukan tindakan rehidrasi
oral dengan memberikan minum anak 5 ml/kgBB setiap 30 menit cairan rehidrasi
oral khusus untuk KEP. Jika tidak ada cairan khusus untuk anak dengan KEP
berat dapat menggunakan oralit. Jika anak tidak dapat minum maka dilakukan
rehidrasi intravena dengan cairan Ringer Laktat/Glukosa 5% dan NaCl 0,9%.
4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit Pada semua KEP berat terjadi
gangguan keseimbangan elektrolit diantaranya:
a. Kelebihan natrium tubuh, walaupun kadar natrium plasma rendah. Mg 0,3
0,6 meq/kgBB/hari (7,5 15 MgCl2/kgBB/hari) K 2 4 meq/kgBB/hari (150
300 mg KCL/kgBB/hari)
b. Defisiensi kalium dan magnesium. Ketidakseimbangan ini diterapi dengan
memberikan:
5. Obati/cegah infeksi Pada KEP berat, tanda yang umumnya menunjukan adanya
infeksi seperti demam, seringkali tidak nampak, oleh karena itu pada semua KEP
berat secara rutin diberikan:
a. Antibiotika spektrum luas, bila tanpa komplikasi: kontrimoksazol 5 ml
suspensi pediatri secara oral, 2 kali sehari selama 5 hari (2,5 ml bila BB < 4
kg).
b. Bila anak sakit berat (apatis, letargi) atau ada komplikasi (hipoglikemia,
hipotermia, infeksi kulit, infeksi saluran napas atau saluran kencing) beri
ampisilin 50 mg/kgBB IM atau IV setiap 6 jam selama 2 hari, kemudian
secara oral amoksisilin 15 mg/kg BB setiap 8 jam, selama 5 hari.
c. Bila amoksisilin tidak ada, maka teruskan ampisilin 50 mg/kgBB setiap 6 jam
secara oral, atau gentamisin 7,5 mg/kg BB/IM atau IV sekali sehari selama 7
hari.

d. Bila dalam 48 jam tidak ada kemajuan klinis, tambahkan kloramfenikol 25


mg/kgBB/IM atau IV setiap 6 jam selama 5 hari.
e. Bila terdeteksi kuman spesifik, beri pengobatan spesifik. Bila anoreksia
menetap selama 5 hari pengobatan antibiotik, lengkapi pemberian hingga 10
hari.
f. Vaksinasi campak bila umur anak > 6 bulan dan belum pernah diimunisasi.
g. Berikan setiap hari tambahan multivitamin, asam folat 1 mg/hari (5 mg hari
pertama), seng (Zn) 2 mg/kgBB/hari. Bila berat badan mulai naik: Fe 3
mg/kgBB/hari atau sulfas ferosus 10 mg/kgBB/hari. Vitamin A oral pada hari
1, 2 dan 14. Untuk umur > 1 tahun 200.000 SI, umur 6 12 bulan 100.000 SI,
dan umur 0 5 bulan 50.000 SI.
6. Mulai pemberian makanan Pemberian diet dibagi dalam 3 fase, yaitu :
Cairan 130 ml/kgBB/hari. Protein 1 1,5 gr/kgBB/hari. Kalori

100

kkal/kgBB/hari Oral atau nasogastrik. Porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah
laktosa.
a. Fase Stabilisasi (2 7 hari) Fase dimulainya pemberian makanan segera
setelah anak dirawat sehingga energi dan protein cukup untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme basal tubuh. Prinsip pemberian nutrisi pada fase
inisial/stabilisasi adalah sebagai berikut : Cairan 150 ml/kgBB/hari. Protein 2
3 gr/kgBB/hari Kalori 150 kkal/kgBB/hari
b. Fase Transisi (Minggu ke-2) Fase pemberian makanan secara perlahan-lahan
untuk menghindari resiko gagal jantung dan intoleransi saluran cerna bila
anak mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak secara mendadak.
c. Fase Rehabilitasi (Minggu ke-3 7) Pada masa pemulihan, dibutuhkan
berbagai pendekatan secara gencar agar tercapai asupan makanan yang tinggi
dan pertambahan BB > Bila anak masih mendapat ASI, teruskan tetapi beri
formula lebih dulu karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk
tumbuh kejar.
7. Fasilitasi tumbuh-kejar (catch up growth) Untuk mengejar pertumbuhan yang
tertinggal, anak diberi asupan makanan seperti pada fase-fase tersebut di atas.
Untuk itu harus tersedia jumlah asupan makanan yang memadai seperti pada
tahapan fase-fase di atas.
8. Koreksi defisiensi nutrien mikro
9. Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental.

10. Siapkan follow up dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh. Bila berat badan
sudah mencapai 80% BB/U dapat dikatakan anak sembuh. Pola pemberian makan
yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan di rumah setelah penderita
dipulangkan. Kepada orang tua disarankan : Protein 4 6 gr/kgBB/hari Energi
150 220 kkal/kgBB/hari. Makanan/formula dengan jumlah tidak terbatas dan
sering. 10 gr/kgBB/hari. Awal fase rehabilitasi ditandai dengan timbulnya selera
makan, biasanya 1 2 minggu setelah dirawat. Setelah masa transisi dilampaui,
anak diberi:
a. Membawa anaknya kembali untuk kontrol secara teratur.
b. Pemberian suntikan/imunisasi ulang (booster).
c. Pemberian vitamin A setiap 6 bulan.

H. Pencegahan Marasmus
Tindakan pencegahan

terhadap

marasmus

menurut

(Lubis,

U.N.http:

//www.cermin dunia kedokteran. diperoleh tanggal 4 Juni 2008) dapat dilaksanakan


dengan baik bila penyebab diketahui. Usaha-usahatersebut memerlukan sarana dan
prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi,
antara lain :
1. Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi
yang paling baik untuk bayi.
2. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi pada umur 6 tahun
3.

ke atas.
Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan

kebersihan perorangan.
4. Pemberian imunisasi.
5. Mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu kerap.
6. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan
usaha pencegahan jangka panjang.
7. Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak balita di daerah yang endemis
kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS MARASMUS
A. Pengkajian
a. Anamnesa
1. Identitas klien, meliputi:
a. Nama klien
: sesuai dengan nama pasien.
b. Usia
: klien marasmus biasanya berusia kurang dari 5 tahun
(balita)
c. Jenis kelamin
d. Agama
e. Pendidikan

: terjadi pada jenis kelamin laki-laki maupun perempuan


: bergantung pada pasien
: anak biasanya belum sekolah, sedangkan orangtua

anak biasanya berpendidikan rendah.


f. Alamat
: klien dengan marasmus biasanya bertempat tinggal di
daerah dengan pemukiman kumuh atau pemukiman padat penduduk.
2. Identitas Orang tua (penanggung), meliputi:
a. Nama orang tua
: sesuai dengan nama bapak dan ibu atau keluarga
penanggung dari klien.

b. Alamat orang tua


c. Pendidikan orang tua
d. Pekerjaaan orang tua

: sama dengan anak


: biasanya orang tua klien berpendidikan rendah.
: pekerjaan orangtua klien dengan marasmus

biasanya adalah sebagai buruh atau dengan status sosial ekonomi rendah.
3. Data subjektif
1. Ibu pasien mengatakan bahwa anaknya sering mual dan muntah.
2. Ibu pasien mengatakan bahwa pasien sering rewel dan menangis terus padahal
sudah diberi makan.
3. Ibu pasien mengatakan bahwa anaknya semakin kurus badannya.
4. Ibu pasien mengatakan bahwa anaknya juga sering diare.

4. Data Objektif
Data umum
a. Perubahan rambut
Warnanya lebih muda (coklat, kemerah-merahan dan lurus, panjang, halus,
b.

mudah lepas bila ditarik).


Warna kulit lebih muda
Seluruh tubuh / lebih sering pada muka, mungkin menampakan warna lebih
muda daripada warna kulit anak sehat. Kulit biasanya kering, dingin, dan
mengendor disebabkan kehilangan banyak lemak dibawah kulit serta ototototnya

c. Pengukuran Antopometri
Berat badan menurut usia < 60% dari berat badan normal usianya
d. Perubahan Mental
Anak menangis, juga setelah mendapat makan oleh sebab masih merasa lapar.
Kesadaran yang menurun (apati) terdapat pada penderita marasmus yang berat
e. Tinja encer
Disebabkan gangguan penyerapan makan, terutama gula.
f. Adanya ruam bercak bersepih
Noda warna gelap pada kulit, bila terkelupas meninggalkan warna kulit yang
sangat muda / bahkan ulkus di bawahnya.
g. Gangguan perkembangan & pertunbuhan
h. Hilangnya lemak di otot & bawah kulit karena makanan kurang mengandung
kalori dan protein.

i.

Adanya perut yang membuncit atau cekung dengan gambaran usus yang

jelas.
j. Adanya anemia yang berat
Kurangnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi, asam folat dan
k.

berbagai vitamin.
Mulut dan gigi
Adanya tanda luka di sudut-sudut mulut.

5. Riwayat kesehatan
1. Keluhan Utama
Umumnya keluhan utama pada anak dengan marasmus adalah terjadi
gangguan pada pertumbuhannya yaitu semakin turunnya berat badan,
wajah tampak seperti orang tua, anoreksia, diare dan keluhan lainnya yang
menunjukkan terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya anak dengan marasmus mengalami anoreksia, diare, penurunan
berat badan (BB <80% BB normal seusianya), keterbelakangan mental
yaitu apatis dan rewel, wajah seperti orang tua, hilangnya jaringan lmak
pada bagian bawah kulit dan lain-lain.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit marasmus biasanya terjadi pada anak dengan kelahiran
premature sehingga refleks menghisap ASI nya kurang. Anak dengan berat
badan lahir rendah, anak dengan alergi susu sehingga pemenuhan
kebutuhan nutrisinya kurang. Selain itu anak dengan ibu peminum
alcohol, AIDS atau kekurangan gizi dapat mengakibatkan anak
kwarsiokor.
4. Riwayat Perinatal
1. Tahap perinatal
Kurangnya asupan nutrisi pada ibu selama hamil dapat menyebabkan
malnutrisi pada anak. Selain itu, infeksi yang mungkin terjadi pada ibu
hamil dapat menular pada anak dan menjadi infeksi kronis bagi anak.
2. Tahap Intranatal
Bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan kurangnya
pengetahuan ibu dapat menyebabkan bayi mengalami marasmus.
3. Tahap Post Natal

Asupan nutrisi seperti pemberian ASI eksklusif dan nutrisi lainnya


setelah ASI eksklusif dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan
nutrisi bayi baru lahir.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat penyakit keluarga sebagian besar tidak berpengaruh, karena
marasmus bukan penyakit genetik, namun kebanyakan karena anak
mengalami malnutrisi karena kekurangan asupan makanan yang bergizi.
6. Riwayat Nutrisi
Anak yang mengalami marasmus biasanya dikarenakan malnutrisi
terutama defisiensi protein dan kalori. Selain itu, anak juga kekurangan
asupan karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral yang penting bagi tubuh.
7. Riwayat Tingkat Perkembangan
Anak yang mengalami marasmus mengalami keterlambatan pertumbuhan
karena kurangnya asupan protein dan kalori. Kecerdasan anak juga
menurun

karena

adanya

keterbelakangan

pertumbungan

dan

perkembangan tersebut
6. Pengkajian pola fungsi kesehatan
a. Pola nutrisi: klien mengalami penurunan nafsu makan dan mual muntah.
b. Pola eliminasi: klien biasanya mengalami diare.
c. Pola aktivitas dan integritas ego: klien biasanya mengalami gangguan
aktifitas karena mengalami kelemahan tubuh yang disebabkan oleh gangguan
metabolism.
d. Pola istirahat dan tidur: klien sering rewel karena selalu merasa lapar
meskipun sudah diberi makan sehingga sering terbangun pada malam hari.
e. Pola higiene: kebersihan diri klien kurang, kulit tampak kusam, rambut
kemerahan.
f. Pola pernapasan: adanya suara whezzing dan ronkhi akibat adanya penyakit
penyerta seperti bronkopneumonia.
g. Pola keamanan: klien sangat rentan untuk terjangkit infeksi karena system
imun yang menurun.
h. Pola seksualitas: tidak mengalami gangguan.
7. Pengkajian Fisik
Meliputi pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas,
pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota
keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan,

persepsi keluarga tentang penyakit pasien dan lain-lain.Pengkajian secara umum


dilakukan dengan metode head to toe yang meliputi: keadaan umum dan status
kesadaran, tanda-tanda vital, area kepala dan wajah, dada, abdomen, ekstremitas
dan genito-urinaria.
8. Pengkajian fisik dengan metode head to toe
1. Keadaan umum klien, meliputi: kesadaran composmentis: lemah, rewel,
kebersihan kurang, berat badan kurang, tinggi badan, nadi cepat dan lemah, suhu
meningkat, dan pernapasan takipneu.
2. Kepala: lingkar kepala klien biasanya lebih kecil dari normal, warna rambut
kusam.
3. Muka: tampak seperti wajah orang tua.
4. Mata: konjungtiva anemis.
5. Hidung: biasanya terdapat sekret dan terpasang selang NGT untuk memenuhi
intake nutrisi.
6. Mulut: biasanya terdapat lesi, mukosa bibir kering dan bibir pecah-pecah.
7. Leher: biasanya mengalami kaku duduk.
8. Torax : adanya tarikan dada saat bernapas
9. Abdomen: perut cekung, terdapat ascites, bising usus meningkat, suara
hipertimpani.
10. Ekstremitas atas: lingkar atas abnormal, akral dingin dan pucat.
11. Ektremitas bawah: terjadi edema tungkai.
12. Kulit : keadaan turgor kulit menurun, kulit keriput, CRT: > 3 detik,
(Capernito,2000).
9. Pemeriksaan fisik abdomen antara lain:
1. Inspeksi
a) klien tampak kurus, ada edema pada muka dan kaki;
b) warna rambut kemerahan, kering dan mudah patah/dicabut;
c) mata terlihat cekung dan pucat;
d) terlihat pergerakan usus;
e) ada pembesaran/edema pada tungkai.
2. Auskultasi
a) bunyi peristaltik usus meningkat;
b) bunyi paru-paru wheezing dan ronchi.
3. Perkusi
a) terdengar adanya shifting dullnees;
b) terdengar bunyi hipertimpani.
4. Palpasi
hati: terjadi pembesaran hati.
10. Pemeriksaaan fisik untuk pertumbuhan anak.
1. Mengukur tinggi badan dan berat badan anak

2.

Menghitung indeks massa tubuh, yaitu berat badan (dalam kilogram) dibagi

dengan tinggi badan (dalam meter)


3. Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan
trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat
diukur, biasanya dangan menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak
dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal
sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.
4. Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur lingkar lengan atas (LLA)
untuk memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa, massa
tubuh yang tidak berlemak).
12. Pemeriksaan Laboratorium
1.

Biokimia: Hb anemia karena kurangnya konsumsi makanan yang

mengandung zat besi, asam folat dan berbagai vitamin, kadar albumin yang
rendah karena kurangnya konsumsi protein, kadar globumin normal atau sedikit
tinggi, kadar asam amino esensial dalam plasma relatif lebih rendah daripada
asam amino non esensial.
2. Biopsi: ditemukan perlemakan ringan sampai berat, fibrosis, nekrosis dan
infiltrasi sel mononuklear. Pada perlemakan berat hampir semua sel hati
mengandung vakual lemak yang besar.
3. Autopsi: menunjukkan kelainan pada hampir semua organ tubuh, seperti
degenerasi otot jantung, osteoporosis tulang, atrofi virus usus, detrofi sistem
limfold dan atrofi kelenjar timus.
Fokus pengkajian pada anak dengan Marasmus adalah pengukuran antropometri
(berat badan, tinggi badan, lingkaran lengan atas dan tebal lipatan kulit).
Tanda dan gejala yang mungkin didapatkan adalah:
1.
Penurunan ukuran antropometri.
2.
Perubahan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan mudah
dicabut).
3.
Gambaran wajah seperti orang tua (kehilangan lemak pipi), edema palpebra.
4.
Tanda-tanda gangguan sistem pernapasan (batuk, sesak, ronchi, retraksi otot
intercostal).
5.
Perut tampak buncit, hati teraba membesar, bising usus dapat meningkat bila
terjadi diare.
6.
Edema tungkai.

7.

Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik dan adanya crazy pavement

dermatosis terutama pada bagian tubuh yang sering tertekan (bokong, fosa
popliteal, lulut, ruas jari kaki, paha dan lipat paha)
B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan
2.
3.
4.
5.

tidak adekuat (nafsu makan berkurang).


Defisit volume cairan berhubungan dengan diare.
Keterlambatan tumbuh kembang berhubungan dengan malnutrisi
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status metabolik.
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh

BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN MARASMUS BERDASARKAN SKENARIO KASUS
A. Skenario kasus
An. Z (laki-laki) usia 2 tahun dirawat di Ruang anak RS Raden Mattaher Jambi
karena kurang gizi ( KKP). Klien tampak lemah, rambut tipis kecoklatan, mata cekung,
mukosa mulut kering, wajah keriput tampak seperti orang tua, tulang iga tampak jelas,
retraksi dinding dada, perut buncit, turgor kulit kering, akral klien teraba dingin dan
pucat, pantat atropi, belum bisa berjalan, duduk harus dibantu dan bicara belum jelas.
An.Z anak ke lima dari keluarga yang kurang mampu, hanya minum ASI, ibu An. Z umur
40 tahun, TB 150 cm, BB 40 kg, dari pemeriksaan BB An. Z 8 kg.
B. Pengkajian
Tanggal pengkajian
Ruang
Waktu pengkajian
a. Identitas klien
1. Nama
2. Umur
3. Jenis Kelamin
4. Agama
5. Pendidikan
6. Pekerjaan

: 15 Juni 2016
: Bangsal Dahlia
: 11.00 WIB
: An. Z
: 2 tahun
: Laki-laki
: Islam
::-

7. Suku bangsa
8. Alamat
9. No.RM
10. Tanggal masuk RS
11. Dx. Medis

b. Identitas penanggung jawab


1. Nama
2. Umur
3. Jenis Kelamin
4. Agama
5. Pendidikan
6. Pekerjaan
7. Alamat
8. Hubungan dengan klien

: Jawa
: Tanjung Pinang
: 20605
: 13 Juni 2016
: Marasmus

pukul 09.30 WIB

: Ny.N
: 40 tahun
: Perempuan
: Islam
: SD
: Ibu rumah tangga
: Tanjung Pinang
: Ibu

c. Riwayat kesehatan
1. Keluhan Utama :
Ibu klien mengatakan An. Z tampak lemah
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Ibu klien mengatakan klien tampak lemah, badannya sangat kurus, kemudian
diperiksakan di puskemas, menurut hasil dari pemeriksaan, klien didiagnosa Gizi
buruk sehingga klien harus menjalani pengobatan dan dokter menganjurkan agar
klien dibawa ke Raden Mattaher. Pada tanggal 13 Juni 2016 pukul 09.30 WIB
oleh keluarga klien dibawa ke IGD RS Raden Mattaher. Ibu klien mengatakan
tampak lemah, badannya sangat kurus, perut buncit, tangan dan kakinya tampak
teraba dingin dan pucat, belum bisa berjalan, duduk harus dibantu dan bicara
belum jelas. Di IGD TTV ; TD : 80/60 mmHg, Nadi : 80 x/menit, Suhu : 37C,
dan RR : 24 x/menit. Terapi : infus RL 45 tpm. Saat dikaji pada tanggal 13 Juni
2016 pukul 11.00 WIB Ibu klien mengatakan tampak lemah, klien hanya di beri
ASI karena keluarga klien tidak mampu membeli susu formula , badannya sangat
kurus, perut buncit, tangan dan kakinya tampak dingin dan pucat ,belum bisa
berjalan, duduk harus dibantu dan bicara belum jelas.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Ibu klien mengatakan kemarin klien sering diare, tetapi klien tidak di bawa ke
balai puskemas ataupun RS.
4. Riwayat kesehatan keluarga

Ibu klien mengatakan keluarga tidak ada yang mengalami sakit seperti klien. Dan
keluarga tidak ada yang mengalami penyakit seperti TBC, DM, hipertensi
maupun penyakit serius lainnya
5. Riwayat kehamilan
Anak laki laki dari ibu G5 P5 A0. Selama kehamilan klien, ibu klien mengatakan
tidak mempunyai masalah khusus, paling hanya mual-mual.
6. Riwayat Persalinan
Ibu klien mengatakan klien lahir secara normal dan spontan, tidak ada kelainan
bawaan dan tidak mempunyai gangguan selama proses persalinan. Klien lahir
secara prematur yaitu hamil usia 35 minggu, presentasi bawah kepala. BBL : 3200
gram.
7. Riwayat imunisasi
Klien mendapat imunisasi BCG dan Polio.
8. Riwayat tumbuh kembang
Ibu klien mengatakan klien mengalami keterlambatan dalm proses tumbuh
kembang.
9. Perkembangan motorik : klien belum bisa berjalan, dan duduk harus dibantu.
10. Perkembangan bahasa: bicara klien belum jelas
11. Kebutuhan cairan
Kebutuhan cairan klien
= 100 cc/ kgBB/ hari
= 100 x 8 = 800 ml
12. Kebutuhan kalori
Kebutuha kalori klien
= 1000 kalori + (100 x usia dalam tahun)
= 1000 + (100 x 2) = 1000 + 20 = 1200 kalori/hari
d. Pola Pengkajian Menurut Gordon
1. Pola Persepsi kesehatan atau penanganan kesehatan
Sebelum sakit : ibu klien memgatakan klien tinggal di daerah yang jauh dari
puskemas, dan klien dari keluarga yang tidak mampu.
Saat sakit : Ibu klien mengatakan sekarang klien mendapatkan perawatan setelah
di bantu ketua rt.
2. Pola Nutrisi / Metabolik
Sebelum sakit : Ibu klien mengatakan klien selama ini hanya minum ASI yaitu 45 kali/hari. BB: tidak tahu.
Saat dikaji : Klien minum ASI 3-4 kali/hari. Dan makan pendamping ASI 2 kali
sesuai diit dari RS tetapi tidak habis. Minum air putih 1 gelas per hari. BB: 8 kg.
3. Pola Eliminasi
Sebelum sakit : BAB sering mengalami diare warna kuning, tidak ada darah,
BAK : 3-4 kali/hari, warna kuning jernih.
Saat dikaji : Klien belum BAB 1x lembek, kuning, BAK 2x/hari, warna kuning
berbau khas.

4. Pola aktivitas / latihan


Sebelum sakit : Klien dapat beraktifitas sesuai kemampuan.
Saat dikaji : Klien hanya terlihat berbaring ditempat tidur.
5. Pola Istirahat / tidur
Sebelum sakit : Klien tidur 9 jam sehari, tidur siang kurang lebih 2 jam.
Saat dikaji : Klien susah tidur dan sering terbangun pada malam hari.Lama tidur
7 jam sehari.
6. Pola perseptif kognitif
Sebelum sakit : Klien dapat melihat dengan normal dan bisa mendengarkan
dengan jelas, dalam pengecapan klien tidak ada masalah, klien bisa mengecap
makanan dengan baik.
Saat dikaji
: Klien dapat melihat dengan normal dan bisa mendengarkan
dengan jelas, dalam pengecapan klien tidak ada masalah, klien bisa mengecap
makanan dengan baik.
7. Pola koping/toleransi stres
Sebelum sakit : Ibu klien mengatakan jika klien merasa tidak nyaman klien
menangis.
Saat dikaji : Klien hanya tiduran dan apabila klien kesakitan klien menangis dan
rewel.
8. Pola Konsep diri
Tidak terkaji
9. Pola Seksual dan Reproduksi
Klien berjenis kelamin laki-laki, dan tidak ada masalah dalam sistem reproduksi
klien.
10. Pola peran / hubungan
Sebelum sakit : Hubungan klien dengan orangtua dan keluarga baik.
Saat dikaji : Klien lebih nyaman ditemani oleh ibunya.
11. Pola nilai / kepercayaan
Sebelum sakit : Ibu klien mengatakan klien belum melakukan ibadah.
Saat dikaji : Ibu klien mengatakan klien belum melakukan ibadah
e. Pemeriksaan Fisik
1.
TTV
TD
Nadi
Suhu
RR
2.
Antropometri
Lingkar Kepala
Lingkar Lengan atas
BB
TB

:
: 80/60 mmHg
: 70 x/menit
: 36,5 C
: 22 x/menit
:
: 48 cm
: 12 cm
: 8 Kg
: 84 cm

3.
4.
5.

Kepala
Wajah
Mata

: mesosepal, rambut tipis kecoklatan


: tampak keriput , tampak seperti orang tua
: konjungtiva anemis, sklera Anikterik, reflek terhadap

cahaya pupil isokhor, mata cekung


6.
Hidung
: Terpasang Ngt untuk memenuhi nutrisi
7.
Mulut
: bibir terlihat pucat dan kering
8.
Telinga
: normal, tidak ada sekret dan darah
9.
Leher
: Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe
10. Dada
:
Paru
Inspeksi
: tulang iga tampak jelas, tidak ada otot bantu pernafasan
Palpasi
: retraksi dinding dada sama kanan dan kiri, terdapat vocal
fomitus kanan kiri
Perkusi
: sonor
Auskultasi
: bunyi vesikuler
Jantung
Inspeksi
: tidak tampak ictus cordis
Palpasi
: tidak terdapat pembesaran jantung
Perkusi
: pekak
Auskultasi
: S1 dan S2 bunyi regular
Abdomen
:
Inspeksi
: bentuk buncit
Auskultasi
: bising usus 10 x/menit
Palpasi
: tidak ada nyeri tekan, cubitan perut lambat
Perkusi
: timpani
11. Genetalia
: laki laki, tidak terpasang DC
12. Anus
: tidak ada lesi, pantat atropi
13. Ekstremitas
:
Atas
: akral dingin dan pucat, CRT : 4 detik, terpasang infus RL
20 tpm, terdapat edema
Bawah
: lemah, terdapat edema
14. Kulit
: turgor kulit kering
f. Pemeriksaan Penunjang
Terapi
VFD RL = 45 tetes/menit
L-Bio 2sac
Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin
g. Pemeriksaan laboratorium
Jenis
Pemeriksaan
Hemoglobin

Hasil
9 gr/dl

Nilai Normal
Pria : 13-18 g/dl, wanita 11.516.5 g/dl. Wanita hamil: 1116.5 g/dl. Anak : 12-34 g/dl

Hematokrit
Leukosit
Eritrosit
Diffferent count

L 40
14.5
4.1
0.10/1.40/49.60/40.50/0.4
0

MCV
MCH
MCHC

75#
26
35 g/dl

%
10^3/Ul
10^6 /Ul
Basofil : 0-2 %, eosinofil : 13%, netrofil batang : 1-6%,
netrofil segmen: 4-6 %,
limfosit 20- 40 %, monosit: 18%
24-102#
Pg
20-32 g/dl

h. Analisa Data
No
1.

Data
DS :
1. Ibu klien mengatakan
klien hanya minum ASI
karena keluarga klien
tidak mampu untuk
membelikannya susu
formula.

Etiologi
Penurunan asuapan

Masalah
Kekurangan volume

peroral

cairan

Asupan yang tidak

Ketidakseimbangan

adekuat

nutrisi kurang dari

DO :
1. Klien tampak lemah
2. Mata cekung
3. Mukosa mulut
kering
4. Wajah keriput
5. Turgor kulit kering
6. Nadi : 80 x/menit
7. Hematokrit : 40 %
2.

DS :
1. Ibu klien mengatakan
klien badannya sangat
kurus, tidak mau makan
makanan pendamping
ASI

DO :

kebutuhan tubuh

1.
2.
3.
4.
5.
6.
3.

Klien tampak lemah


Tulang iga tampak jelas
Perut buncit
Pantat atropi
BB nomal : 12 kg
BB An. Z : 8 kg

DS :
1. Ibu klien mengatakan
klien
2. belum bisa
berjalan danduduk harus
dibantu
3. Ibu klien mengatakan
klien hanya minum ASI

Asupan kalori dan

Keterlambatan

protein yang tidak

pertumbuhan dan

adekuat

perkermbangan

DO :
1. BB : 8 Kg, BB normal :
12 kg
2. TB : 84 , TB normal : 90
cm
3. LILA: 12 cm, LILA
normal : 16 cm
4. Klien tampak lesu

i. Diagnosa keperawatan
1. Kekurangan volume cairan b.d penurunan asuapan peroral
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d asupan yang tidak
adekuat
3. Keterlambatan pertumbuhan dan perkermbangan b.d asupan kalori dan protein
yang tidak adekuat
j. Intervensi keperawatan
N

Nanda

Noc

Nic

Aktivitas

o
1

Kekurangan

Setelah dilakukan

volume cairan b.d

tindakan keperawatan 1

Managem

penurunan asuapan

x 24 jam di harapkan

ent

peroral

kebutuhan cairan dan

Fluid

Fluid
Management
1. Timbang popok /
pembalut jika

elektrolit adekuat

diperlukan
2. Pertahankan

dibuktikan dengan :

catatatn intake dan


output yang akurat
3. Monitor status

Kriteria Hasil
Mempertahanka

hidrasi
4. Monitor vital sign
5. Monitor masukan

n urine output
sesuai dengan

makanan / cairan

usia dan BB, BJ

dan itung intake

urine normal,

kalori harian
6. Kolaborasikan

HTT normal
TD, nadi, SB

pembarian cairan

dalam batas

IV
7. Monitor status

normal
Tidak ada tanda

nutrisi
8. Berikan cairan IV

tanda
dehidrasi,

pada suhu ruangan


9. Dorong masukan

elastisitas

oral
10. Dorong keluarga

turgorkulit baik,
membrane

untuk membatu

mukosa lembab,

pasien makan
11. Kolaborasi dengan

tidak ada rasa


haus yang

dokter
12. Atur kemungkinan

berlebihan

transfuse
13. Monitor tingkat Hb
dan hematoktrit
14. Monitor BB
2.

Ketidakseimbanga

Setelah dilakukan

n nutrisi kurang

tindakan keperwatan 1

dari kebutuhan

x 24 jam diharapkan

tubuh b.d asupan

kebutuhan nutrisi

yang tidak adekuat

terpenuhi dengan

Nutrition
Manageme
nt
Monitoring
Nutrition

Nutrition
Management
1. Kaji adanya alergi
makanan
2. Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk

tingkatan adekuat

menentukan jumlah

dibuktikan dengan :

kalori dan nutrisi


yang dibutuhkan

Kriteria Hasil :
Adanya

pasien.
3. Anjurkan pasien

peningkatan BB

untuk

sesuai dengan

meningkatkan

tujuan
BB ideal sesuai
dengan tinggi
badan
Mampu
mengidentifikas

intake Fe
4. Anjurkan pasien
untuk
meningkatkan
protein dan vitamin

i kebutuhan

C
5. Berikan substansi

nutrisi
Tidak ada tanda

gula
6. Berikan makanan

tanda
malnutrisi
Menunjukkan
peningkatan
fungsi
pengecapan dari
menelan
Tidak terjadi
penurunan BB
yang berarti

yang terpilih
( sudah
dikonsultasikan
dengan ahli gizi)
7. Ajarkan pasien
bagaimana
membuat catatan
makanan harian.
8. Monitor jumlah
nutrisi dan
kandungan kalori
9. Berikan informasi
tentang kebutuhan
nutrisi
10. Kaji kemampuan
pasien untuk
mendapatkan
nutrisi yang

dibutuhkan
Monitoring
Nutrition
1. BBpasien dalam
batas normal
2. Monitor adanya
penurunan berat
badan
3. Monitor tipe dan
jumlah aktivitas
yang biasa
dilakukan
4. Monitor interaksi
anak atau orangtua
selama makan
5. Monitor lingkungan
selama makan
6. Monitor kulit
kering dan
perubahan
pigmentasi
7. Monitor turgor kulit
8. Monitor
kekeringan, rambut
kusam, dan mudah
patah
9. Monitor mual dan
muntah
10. Monitor kadar
albumin, total
protein, Hb, dan
kadar Ht
11. Monitor makanan
kesukaan
12. Monitor

pertumbuhan dan
perkembangan
13. Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
Monitor kalori dan
3.

Keterlambatan
pertumbuhan dan
perkermbangan b.d
asupan kalori dan
protein yang tidak
adekuat

Setelah dilakukan
tindakan keperawatan 2
x 24 jam diharapakan

Teaching :
disease
process
Managem
ent
behavior

intake nuntrisi
Teaching : disease
process
1. Berikan penilaian
tentang tingkat
pengetahuan pasien
tentang proses
penyakit yang
spesifik
2. Jelaskan
patofisiologi dari
penyakit dan
bagaimana hal ini
berhubungan
dengan anatomi dan
fisiologi, dengan
cara yang tepat
3. Gambarkan tanda
dan gejala yang
biasa muncul pada
penyakit dengan
cara yang tepat
4. Gambarkan proses
penyakit dengan
cara yang tepat
5. Sediakan informasi
pada pasien tentang

kondisi, dengan
6.

cara yang tepat


Sediakan bagi
keluarga informasi
tentang kemajuan
pasien dengan cara

yang tepat
7. Diskusikan
perubahan gaya
hidup yang
mungkin diperlukan
untuk mencegah
komplikasi dimasa
yang akan datang
8. Diskusikan pilihan
terapi atau
penanganan
Management
behavior
1. Gunakan suara
yang lembut dan
pelan dalam
berbicara dengan
pasien.
2. Tingkatkan
aktivitas fisik
sesuai dengan
kemampuan.
3. Diskusikan dengan
keluarga untuk
membuat dasar
kognitif prainjury.
4. Buat rutinitas untuk
pasien.

5. Hindari untuk
menyudutkan
pasien.
6. Hindari untuk
membantah pasien.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Marasmus adalah suatu penyakit malnutrisi energi protein berat akibat dari kurang
mendapat masukan makanan sumber energi (kalori) dalam waktu lama yang ditandai
dengan penurunan berat badan dan atropi jaringan tubuh secara bertahap terutama
subkutan sehingga anak tampak lebih tua dengan kulit keriput dan turgor kulit
menurun. Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai
pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya
atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain
seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi,
gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat.
Saran
Untuk pembuatan makalah ini kami menyadari masih banyak kekurangan, oleh
karena itu saran maupun kritik yang bersifat membangun sangat kami harapakan
demi penulisan makalah ini. Kami ucapkan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer,Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 2. Jakarta: Media
Aescullapius.
Ngastiyah, 2005. Perawatan Anak Sakit, Edisi . Jakarta : EGC
No Name. 2008. Marasmus. http://www.dokterfoto.com. diperoleh tanggal 4 Juni 2008
Staf pengajar ilmu keperawatan anak. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta :
FKUI.
Behrman, R. E. 1999. Ilmu Kesehatan Anak:Nelson, Edisi 15, vol 1. Jakarta:EGC
Almatsier, S. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Behrman, et all. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Vol. 1. E/15. Alih bahasa oleh
Wahab. Jakarta: EGC.
Arief, M, Suproharta, Wahyu J.K. Wlewik S. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, ED : 3
jilid : 1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.
NANDA .2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006: Definisi &
Klasifikasi, Alih Bahasa: Budi Santoso. Prima Medika
Almatsier, S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Penerbit PT Gramedia Pustaka
Utama.
Lubis, N. U. 2002. Penatalaksanaan Busung Lapar Pada Balita. http://www.cermin dunia
kedokteran.com. diperoleh tanggal 4 Juni 2008