Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS

SELULITIS

Pembimbing :
Dr. Afaf Agil Al Munawar, Sp.KK

Disusun Oleh :
Yessy Paramita
2011730116

SMF KULIT DAN KELAMIN RS ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH


FAKULTAS KEDOKTERAN & KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

Penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus, Streptococcus, atau oleh


keduanya disebut pioderma. Penyebab utamanya ialah Staphylococcus aureus dan
Streptococcus B hemolyticus, sedangkan Staphylococcus epidermidis merupakan
penghuni normal di kulit dan jarang menyerang infeksi. Faktor predisposisi pioderma
adalah higiene yang kurang, menurunnya daya tahan tubuh, dan telah ada penyakit lain di
kulit. Salah satu bentuk pioderma adalah selulitis yang akan dibahas pada laporan kasus
ini.1
Selulitis adalah peradangan akut terutama menyerang jaringan dermis dan
subkutis. Faktor risiko untuk terjadinya infeksi ini adalah trauma lokal (robekan kulit),
luka terbuka di kulit atau gangguan pembuluh vena maupun pembuluh getah bening. 2
Lebih dari 40% penderita selulitis memiliki penyakit sistemik. Penyakit ini biasanya
didahului trauma, karena itu tempat predileksinya di tungkai bawah.1 Gejala prodormal
selulitis adalah demam dan malaise, kemudian diikuti tanda-tanda peradangan yaitu rubor
(eritema), color (hangat), dolor (nyeri) dan tumor (pembengkakan). Lesi tampak merah
gelap, tidak berbatas tegas pada tepi lesi tidak dapat diraba atau tidak meninggi.1

BAB II
LAPORAN KASUS

II

IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Usia
Alamat
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Tanggal Pemeriksaan

: Ny. Y
: Perempuan
: 57 Tahun
: Cempaka Putih
: Islam
: SMA
: Ibu Rumah Tangga
: 27 Mei 2016

ANAMNESIS
Autoanamnesis pada tanggal 27 Mei 2016
Keluhan Utama
Terdapat bercak kemerahan disertai nyeri dan bengkak di pangkal paha sejak 1 hari

SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke Poli Klinik Kulit dan Kelamin dengan keluhan terdapat bercak
kemerahan disertai bengkak di pangkal sebelah kanan sejak 1 hari SMRS.

Pasien

mengaku awalnya 2 hari SMRS hanya timbul berupa bintik kecil yang dirasakan perih
dan tidak diserai rasa gatal pada pangkal paha kanan.
1 hari SMRS, pasien merasa semakin nyeri pada daerah sekitar paha kanan
hingga membuat pasien tidak dapat berjalan. Pasien mengaku mengoleskan salep hitam
di sekitar pangkal pahan kanan tetapi keluhan tidak berkurang. Malam harinya pasien
merasakan demam tapi tidak mengukur suhu tubuh saat itu. Dan disekitar bintik terasa
bengkak dan berwarna merah. Pasien merasakan nyeri semakin hebat.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien mengaku mempunyai riwayat Diabetes Melitus, terkontrol.
Pasien menyangkal pernah mengalami gejala yang sama sebelumnya.
Riwayat Alergi
Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat.

Riwayat Pengobatan
Pasien mengaku belum pernah berobat sebelumnya.
Riwayat Psikososial
Pasien mengaku mandi teratur 2x sehari, pagi dan sore hari dengan menggunakan sabun
mandi. Pasien juga mengganti pakaiannya setiap akan shalat dan setelah mandi.
III

STATUS GENERALIS
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Composmentis

Tanda-tanda vital
Tekanan darah

: 140/80mmHg

Nadi

: 88 x/menit, reguler

Pernapasan

: 20 x/menit, reguler

Suhu

: 37,2

Kepala

: Normochepal

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Hidung

: Normonasi, secret (-/-)

IV

Telinga

: Normotia, serumen (-/-)

Mulut

: Mukosa basah (+), sianosis (-), lidah kotor (-)

Leher

: Pembesaran KGB (-)

Thorax

Inspeksi

: Bentuk normal, gerak nafas simetris.

Palpasi

: Tidak dilakukan

Perkusi

: Tidak dilakukan

Auskultasi

Jantung

: BJ1 BJ2 reguler, murmur (-), gallop (-)

Paru

: Vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-

Abdomen

: Bising usus (+) normal

Ekstremitas

: Akral hangat (+), RCT <2 detik (+), edema (+),sianosis (-)

STATUS DERMATOLOGI
Lokasi

: Regio inguinalis dextra

Distribusi

: Regional, unilateral

Eflorensensi : Tampak patch eritematous, berjumlah satu, ukuran plakat, difus, bentuk
tidak teratur. Pada bagian tengah tampak sebagian hiperpigmentasi disertai skuama.
Tampak papul eritematous, berjumlah satu, ukuran linier.

RESUME

Ny. Y, 59 tahun datang ke Poli Klinik Kulit dan Kelamin dengan keluhan bercak
kemerahan disertai nyeri dan bengkak di pangkal paha sejak 1 hari SMRS. Awalnya
terdapat bintik berukuran kecil pada pangkal paha sebelah kanan sejak 2 hari SMRS.
Bintik dirasakan timbul mendadak yang terasa panas dan nyeri hebat, pasien telah
memberikan salep pada daerah tersebut. Status generalis : Tekanan darah 140/80mmHg,
nadi 88x/menit, nafas 20x/menit, suhu 37,2

. Status dermatologikus ditemukan

pada regio inguinalis dextra, tampak patch eritematous, berjumlah satu, ukuran plakat,
difus, bentuk tidak teratur. Pada bagian tengah tampak sebagian hiperpigmentasi disertai
skuama. Tampak papul eritematous, berjumlah satu, ukuran linier.

VI

DIAGNOSIS BANDING
Selulitis

VII

RENCANA
A Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan
B Tatalaksana
1 Edukasi untuk menjaga kebersihan luka agar infeksi tidak bertambah berat
2 Istirahat yang cukup
3 Topikal : lakukan kompres terbuka dengan NaCl 0,9% yang dilakukan selama 2x1
hari
Salep Bacitrasin 5g, 1-4 kali sehari
Sistemik :
a Asam mefenamat 3x500 mg, 5 hari
b Cefadroxil 2x500 mg

VIII

PROGNOSIS
Quo Ad Vitam

: Ad Bonam

Quo Ad Fungsionam

: Ad Bonam

Quo Ad Sanationam

: Ad Bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Selulitis merupakan infeksi bakterial akut pada kulit. Infeksi yang terjadi
menyebar ke dalam hingga ke lapisan dermis dan sub kutis. Infeksi ini biasanya didahului

luka atau trauma dengan penyebab tersering Streptococcus beta hemolitikus dan
Staphylococcus aureus.1,2

Gambar 1. Anatomi kulit dan jaringan3


II

EPIDEMIOLOGI
Prevalensi selulitis di seluruh dunia tidak diketahui secara pasti. Beserta dengan
pyoderma, selulitis dan erysipelas, merupakan bentuk infeksi kulit dan jaringan lunak non
nekrosis, dengan jumlah 7%-10% yang dirawat di Amerika Utara. Selama dua dekade
lebih, insiden ini meningkatlebih cepat dibanding insiden infeksi akut lainnya, secara
paralel meningkatkan rata-rata resistensi methicillin terhadap Staphylococcus aureus.2
Selulitis dapat terjadi di semua usia, tersering pada usia di bawah 3 tahun dan
usia dekade keempat dan kelima. Insidensi pada laki-laki lebih besar daripada perempuan
dalam beberapa studi epidemiologi. Insidensi selulitis ekstremitas masih menduduki
peringkat pertama. Terjadi peningkatan resiko selulitis seiring meningkatnya usia, tetapi
tidak ada hubungan dengan jenis kelamin.5

III

ETIOLOGI
Selulitis dan erysipelas biasanya disebabkan oleh Streptococcus

-hemolitikus

dan Staphylococcus aureus. Faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi

kulit dan jaringan lunak termasuk paparan organisme patogen, usia, diabetes, obesitas,
fungsi lokal pertahanan kulit, imunokopromis, obesitas dan gangguan peredaran darah.2

Tabel 2. Etiologi infeksi jaringan lunak.2


IV

PATOGENESIS
Bakteri patogen yang menembus lapisan luar memiliki mekanisme yang efektif
untuk melewati sistem kekebalan tubuh dan menimbulkan infeksi pada permukaan kulit
atau menimbulkan peradangan. Penyakit infeksi sering berjangkit pada orang gemuk,
rendah gizi, orang tua dan pada orang yang menderita diabetes melitus yang
pengobatannya tidak adekuat.2
Setelah menembus lapisan luar kulit, infeksi akan menyebar ke jaringan-jaringan
dan menghancurkannya, hyaluronidase memecah substansi polisakarida, fibrinolysin
mencerna barrier fibrin, dan lecithinase menghancurkan membran sel.2

Bakteri patogen (streptokokus piogenes, streptokokus grup A,


stapilokokus aureus)
Menyerang kulit dan jaringan subkutan
Meluas ke jaringan yang lebih dalam
Menyebar secara sistemik

Terjadi peradangan akut


Eritema lokal pada kulit

Edema kemerahan

Lesi

Nyeri tekan

Kerusakan Integritas kulit


Bagan 1.

Gangguan rasa nyaman dan


nyeri

Patogenesis.2
V

FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor predisposisi erisepelas dan selulitis adalah: diabetes melitus, malnutrisi,
penggunaan narkoba, alkoholisme, dan keadaan yang dapat menurunkan daya tahan
tubuh terutama bila diseratai higiene yang jelek. Selulitis umumnya terjadi akibat
komplikasi suatu luka atau ulkus atau lesi kulit yang lain, namun dapat terjadi secara
mendadak pada kulit yang normal terutama pada pasien dengan kondisi edema limfatik,
penyakit ginjal kronik atau hipostatik. 2

VI

MANIFESTASI KLINIS
Selulitis biasanya didahului oleh gejala sistemik seperti demam, menggigil, dan
malaise. Daerah yang terkena, terdapat tanda peradangan yaitu rubor (eritema), color
(hangat), dolor (nyeri) dan tumor (pembengkakan) merupakan bentuk dari masuknya
kuman. Lesi tampak merah gelap, tidak berbatas tegas pada tepi lesi tidak dapat diraba
atau tidak meninggi. Pada infeksi yang berat dapat ditemukan pula vesikel, bula, pustul,
atau jaringan neurotik. Ditemukan pembesaran kelenjar getah bening regional dan
limfangitis ascenden. Pada pemeriksaan darah tepi biasanya ditemukan leukositosis.4,5
VII
PREDILEKSI
- Tungkai bawah paling sering
- Lengan : Pada laki-laki muda, dengan pengguna narkoba suntik; pada
-

wanita, post mastektomi


Badan : Bekas operasi

Wajah : Rhinitis, konjungtivitis, faringitis; berhubungan dengan kolonisasi


S. aureus.4

VIII

DIAGNOSIS
Diagnosis selulitis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis.

Pada pemeriksaan klinis selulitis ditemukan makula eritematous, tepi tidak meninggi,
batas tidak jelas, edema, infiltrat dan teraba panas, dapat disertai limfangitis dan
limfadenitis. Penderita biasanya demam dan dapat menjadi septikemia.4
Selulitis yang disebabkan oleh H. Influenza tampak sakit berat, toksik dan sering
disertai gejala infeksi traktus respiratorius bagian atas. Lesi kulit berwarna merah keabuabuan, merah kebiru-biruan atau merah keunguan. Lesi kebiru-biruan dapat juga
ditemukan pada selulitis yang disebabkan oleh Streptokokus pneumonia. Pada
pemeriksaan darah tepi selulitis terdapat leukositosis (15.000-400.000) dengan hitung
jenis bergeser ke kiri.4

IX

DIAGNOSIS BANDING
Para dermatologi sering di panggil untuk membedakan antara selulitis dan
beberapa kondisi lain yang gejala klinisnya sama, termasuk yang infeksi dan non infeksi
selulitis. 2

Tabel 2. Diagnosis banding dari Erysipelas dan Selulitis.2

TERAPI

Terapi yang dilakukan pada pasien dengan selulitis adalah istirahat dan tungkai
bawah dan kaki yang diserang ditinggikan (elevasi), sedikit lebih tinggi dari pada letak
jantung. Pengobatan sistemtik adalah antibiotik; topical diberikan setelah dilakukan
kompres terbuka dengan larutan antiseptik. Jika terdapat edema diberikan diuretik. 5
Tindakan operatif tidak diperlukan untuk erysipelas dan selulitis kecuali dicurigai adanya
abses atau nekrosis.2

Tabel 3. Pengobatan antibiotic (Erysipelas dan Selulitis).2

XI

PROGNOSIS
Selulitis akut dengan atau tanpa abses, memiliki kecenderungan untuk menyebar

melalui aliran darah dan system limf dan mungkin menjadi penyakit serius, jika tidak
diobati sedini mungkin. Pada pasien dengan edema kronis, penyebaran akan sangat cepat
dan penyembuhan akan lebih lama meskipun drainase dan sterilisasi dari lesi oleh
antibiotik. Selulitis dan erysipelas cenderung kambuh di daerah yang sama, mungkin
sebagai akibat obstruksi kronik system limfatik dan edema persisten.2

DAFTAR PUSTAKA

Budianti WK, Pioderma, in : Menaldi SLSW, Bramono K, Indriatmi W. Ilmu Penyakit


Kulit dan Kelamin. Edisi Ketujuh. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2016. 71-75

Lipworth AD, Saavendra AP, Weinberg AN, Johnson RA. Non-Necrotizing Infection of
the Dermis and Subcutaneous Fat : Cellulitis and Erysipelas, in : Lowell AG, Stephen
IK, Barbara AG, et al., editors. Fitzpatricks Dermatology In General Medicine. Eight
Edition. United States: McGraw-Hill Companies; 2012. 2160-2168

Herchilne TE, Chandrasekar PH, Swaminathan S, Bronze MS, Brenner BE. Cellulitis.
[internet].

Emedicine:

Medscape;

Aug

2015.

Available

from

http://emedicine.medscape.com/article/214222-overview
4

James WD, Berger TG, Elston DM. Bacterial Infections, in Elston DM, Domonkos AN.
Andrews Diseases of the Skin Clinical Dermatology. Eleven Edition. United State :
Elsevier; 2011. 263-264

Wolff K, Johnson RA, Saavedra AP. Bacterial Colonizations and Infections of Skin and
Soft Tissue, in Stephen IK, Saavendra AP. Fitzpatricks Color Atlas and Syynopsis of
Clinical Dermatology. Seven Edition. United States: McGraw-Hill Companies; 2013.
534-542

Pada regio inguinalis dextra, tampak


patch eritematous, berjumlah satu,
ukuran plakat, difus, bentuk tidak
teratur. Pada bagian tengah tampak
sebagian hiperpigmentasi disertai
skuama. Tampak papul eritematous,
berjumlah satu, ukuran linier.