Anda di halaman 1dari 20

BAB I

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Endoftalmitis didefinisikan sebagai suatu peradangan pada struktur bagian dalam bola
mata, seperti uvea dan retina yang terkait dengan adanya eksudat di vitreus humor, kamera
okuli anterior atau pada kamera okuli posterior. Endoftalmitis merupakan kejadian yang
jarang, namun merupakan komplikasi yang membahayakan. Endoftalmitis sering terjadi
setelah trauma pada mata termasuk setelah dilakukannya operasi mata yang merupakan faktor
risiko masuknya mikroorganisme ke dalam mata. Mikroorganisme ini menyebabkan infeksi
intraokuler yang disebut endoftalmitis.
Modalitas utama seorang dokter umum dalam menegakkan diagnosis endoftalmitis
adalah dengan anamnesis keluhan pasien dan dengan pemeriksaan fisik mata secara umum.
Endoftalmitis biasanya ditandai dengan edema palpebra, kongesti konjungtiva, dan hipopion
atau eksudat pada COA. Pada pasien dengan endoftalmitis, terjadi penurunan visus bahkan
dapat menghilang. Prognosis penglihatan menjadi jelek pada pasien-pasien dengan
endoftalmitis. Karena hasil pengobatan akhir sangat tergantung pada diagnosis awal, maka
penting untuk melakukan diagnosis sedini mungkin. Penelitian tentang endoftalmitis pada
beberapa tahun terakhir telah menunjukkan beberapa cara sebagai profilaksis yang terjadinya
endoftalmitis. Berikut akan diuraikan lebih jauh mengenai endoftalmitis.

1.2 Rumusan Masalah


I.2.1 Bagaimana etiologi dan patofisiologi endoftalmitis?
I.2.2 Bagaimana diagnosis dan penatalaksanaan endoftalmitis?

1.3 Tujuan
I.3.1 Mengetahui etiologi dan patofisiologi endoftalmitis.
I.3.2 Mengetahui cara mendiagnosis dan penatalaksanaan endoftalmitis.

1.4 Manfaat
I.4.1

Menambah wawasan mengenai ilmu kedokteran pada umumnya, dan ilmu


penyakit mata pada khususnya.

I.4.2

Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti


kepaniteraan klinik bagian ilmu penyakit mata.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Mata
Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata dibagian
depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan
kelengkungan yang berbeda. Bola mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan, yaitu:1
1. Sklera, yang merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata,
merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan sklera disebut
kornea yang bersifat transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata.
2. Jaringan uvea, yang merupakan jaringan vaskular, yang terdiri atas iris, badan siliar dan
koroid. Pada iris didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar
masuk ke dalam bola mata, yaitu otot dapat mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola
mata, yaitu otot dilatator, sfingter iris dan otot siliar. Badan siliar yang terletak di belakang
iris menghasilkan cairan bilik mata (akuos humor), yang dikeluarkan melalui trabekulum
yang terletak pada pangkal iris di batas kornea dan sklera.
3. Lapis ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan mempunyai susunan
lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis membran neurosensoris yang akan merubah
sinar menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak.
Sklera merupakan bagian putih bola mata yang bersama-sama dengan kornea
merupakan pembungkus dan pelindung isi bola mata. Sklera berhubungan erat dengan kornea
dalam bentuk lingkaran yang disebut limbus. Sklera berjalan dari papil saraf optik sampai
kornea. Sklera anterior ditutupi 3 lapis jaringan ikat vaskuler. Sklera mempunyai kekakuan
tertentu sehingga mempengaruhi pengukuran tekanan bola mata. Kekakuan sklera dapat
meninggi pada pasien diabetes melitus, atau merendah pada eksoftalmus goiter, miotika, dan
minum air banyak.1
Jaringan uvea meliputi lapisan bagian tengah yang bervaskuler dari bola mata. Dari
anterior hingga posterior dapat dibagi menjadi 3 bagian, iris, badan siliar dan koroid. Akan
tetapi traktus uvea secara keseluruhan, pengembangan, struktural dan fungsional adalah satu
bagian yang tak terpisahkan. Iris adalah bagian paling anterior dari traktus uvea, berbentuk
cakram seperti diafragma kamera. Di tengahnya merupakan apertura dengan diameter sekitar
4 mm yang dinamakan pupil yang berfungsi untuk mengatur cahaya yang masuk ke retina.
Pada perifer iris, melekatlah permukaan anterior dari badan siliar. Iris memisahkan kornea dan
lensa menjadi bilik mata depan dan bilik mata belakang. Badan siliar adalah bagian depan dari
koroid pada ora serrata. Pada bagian anterior terdapat prosesus siliaris yang disebut pars
2

plicata dan pars plana. Fungsi badan siliar adalah untuk memproduksi aqueous humor dan
untuk membantu proses akomodasi. Koroid adalah bagian paling posterior dari lapisan
vaskular dari bola mata, dimulai dari diskus optikus kemudian memanjang sampai ora serrata.
Bagian dalamnya halus, berwarna coklat dan berlekatan dengan epitel pigmen retina. Bagian
luarnya keras dan berlekatan dengan sklera.1

Gambar 1. Anatomi penampang sagital bola mata


https://www.google.co.id/imgres?
imgurl=http://3.bp.blogspot.com/ch3RufdSNLE/T7X9somIVbI/AAAAAAAAAG0/9k2KRK
9fvIg/s1600/bola
%252Bmata.jpg&imgrefurl=http://catatanmahasiswafk.blogspot.com/2012/06/anatomimahU
KEwjl7_mdpcrKAhVDcI4KHRXvDEUQ
Koroid terdiri dari 3 lapisan yakni suprakoroid lamina, stroma dari koroid dan basal
lamina.2
1. Lamina suprakoroidal merupakan membran yang terbentuk dari kolagen, melanosit
dan fibroblas yang terkondensasi. Ia berkelanjutan secara anterior dengan lamina
suprasiliar. Ruang potensial antara membran ini dan sklera dinamakan ruang
suprakoroidal yang berisi arteri dan nervus siliaris posterior longus dan brevis.
2. Stroma dari koroid yang meliputi jaringan kolagen longgar dengan beberapa serat
elastik dan retikulum. Stroma juga berisi sel pigmen dan sel plasma. Lapisan
pembuluh darah adalah lapisan yang berkontribusi paling banyak terhadap ketebalan
stroma. 3 lapisan tersebut dari dalam keluar ialah Hallers layer yakni lapisan
pembuluh besar, Sattlers layer yakni lapisan pembuluh sedang dan lapisan
koriokapilaris yang menutrisi lapisan luar retina.

3. Lamina basalis yang juga disebut sebagai membrana Bruch dan melapisi lapisan
koriokapilaris. Lamina basalis terletak di sebelah epitel pigmen retina.
Koroid diperdarahi oleh 10-20 arteri siliar posterior brevis yang menembus sklera di
sekitar tempat masuk saraf optik dan memperdarahi koroid secara segmental. Pembuluh darah
balik bergabung menjadi 4 vena vortikosa yang menembus sklera dan bergabung menjadi
vena oftalmika lalu masuk ke dalam sinus kavernosa.2
Retina adalah lembaran jaringan saraf berlapis tipis dan sepi transparan yang melapisi
bagian dalam dua pertiga anterior dinding bola mata. Retina membentang ke anterior hampir
sejauh korpus siliar dan berakhir pada ora serrata dengan tepi yang tidak rata. Lapisan-lapisan
retina mulai dari sisi dalamnya adalah sebagai berikut: (1) membran limitans interna; (2)
lapisan serat saraf yang mengandung akson-akson sel ganglion; (3) lapisan sel ganglion; (4)
lapisan pleksiform dalam; (5) lapisan inti dala; (6) lapisan pleksiform luar; (7) lapisan inti luar
sel reseptor; (8) membran limitans eksterna; (9) lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar
batang dan kerucut; (10) epitel pigmen retina.2
Vitreus atau suatu badan gelatin yang jernih dan avaskular yang membentuk dua
pertiga volume dan berat mata. Struktur ini merupakan gel transparan yang terdiri atas air
(lebih kurang 99%), sedikit kolagen, dan molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi.
Badan vitreus mengandung sangat sedikit sel yang mensintesis kolagen dan asam hialuronat.
Berfungsi mengisi ruang untuk meneruskan sinar dari lensa. Kebeningan badan vitreus
disebabkan karena tidak terdapatnya pembuluh darah dan sel. Pada pemeriksaan tidak
terdapatnya kekeruhan badan vitreus

akan memudahkan melihat bagian retina pada

pemeriksaan oftamoskopi.2

2.2 Definisi Endoftalmitis


Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata akibat infeksi setelah
trauma atau bedah, atau endogen akibat sepsis. Berbentuk radang supuratif didalam rongga
mata dan struktur dalamnya. Peradangan supuratif didalam bola mata akan memberikan abses
di dalam badan kaca. Penyebab endoftalmitis supuratif adalah kuman dan jamur yang masuk
bersama trauma tembus (eksogen) atau sistemik melalui peredaran darah (endogen).1

2.3 Etiologi Endoftalmitis


Berdasarkan etiologinya endoftalmitis eksogen dapat terjadi akibat trauma tembus atau
infeksi sekunder pada tindakan pembedahan yang membuka bola mata. Endoftalmitis
endogen terjadi akibat penyebaran bakteri, jamur, ataupun parasit dari fokus infeksi di dalam
tubuh. Bakteri yang paling sering merupakan penyebab adalah stafilokok, streptokok,
pneumokok, pseudomonas, bacilus species. Sedangkan jamur yang sering mengakibatkan
4

endoftalmitis supuratif adalah akinomises, aspergilus, phitomikosis sporothrix dan


kokidioides. Endoftalmisis yang disebabkan oleh jamur memiliki masa inkubasi lambat,
kadang-kadang sampai 14 hari setelah infeksi dengan gejala mata merah dan sakit.
Endoftalmitis fakoanafilaktik merupakan endoftalmitis unilateral ataupun bilateral yang
merupakan reaksi uvea granulomaosa terhadap lensa yang mengalami ruptur. Endoftalmitis
fakoanafilaktik merupakan suatu penyakit autoimun terhadap jaringan tubuh (lensa) sendiri,
akibat jaringan tubuh tidak mengenali jaringan lensa yang tidak terletak di dalam kapsul. Pada
tubuh terbentuk antibodi terhadap lensa sehingga terjadi reaksi antigen antibodi yang akan
menimbulkan gejala endoftalmitis fakoanafilaktik.1

2.4 Epidemiologi Endoftalmitis


Endoftalmitis endogen jarang terjadi, hanya terjadi pada 2-15% dari semua kasus
endoftalmitis. Kejadian rata-rata tahunan adalah sekitar 5 per 10.000 pasien yang dirawat.
Sebagian besar kasus endoftalmitis eksogen (sekitar 60%) terjadi setelah operasi intraokular.
Ketika operasi merupakan penyebab timbulnya infeksi, endoftalmitis biasanya dimulai dalam
waktu 1 minggu setelah operasi. Angka kejadian endoftalmitis, setelah operasi terbuka bola
mata di Amerika adalah 5-14% dari semua kasus endoftalmitis. Sedangkan endoftalmitis yang
disebabkan oleh trauma sekitar 10-30%, dan endoftalmitis yang disebabkan oleh reaksi
antibodi terhadap pemasangan lensa yang dianggap sebagai benda asing oleh tubuh adalah 731%. Insiden endoftalmitis dengan cedera yang menyebabkan perforasi pada bola mata di
pedesaan lebih tinggi bila dibandingkan dengan daerah perkotaan. Keterlambatan dalam
perbaikan luka tembus pada bola mata berkorelasi dengan peningkatan resiko berkembangnya
endoftalmitis. 3

2.5 Patofisiologi Endoftalmitis


Secara rinci, patofisiologi dari endoftalmitis dapat diakibatkan dengan mekanisme
sebagai berikut:
1. Endoftalmitis eksogen
Melalui perforasi bulbus okuli, akibat luka kecelakaan atau operasi, dimana sterilitas
kamar, alat, tangan dokter, tidak diperhatikan atau lupa memeriksa keadaan saluran keluar air
mata, sebelum mengadakan operasi. Juga dapat melalui ulkus kornea perforata, leukoma
adherens yang tipis, dan fistula kornea.4 Organisme yang biasanya terdapat pada konjungtiva,
palpebra atau pada alis mata biasanya merupakan penyabab pada endoftalmitis post-operatif.
Sebagian besar kasus dari endoftalmitis eksogen terjadi paska operasi atau setelah trauma
terhadap mata. Bakteri gram positif merupakan penyabab utama, dengan angka kejadian
hampir 90% dari setiap kasus dan merupakan flora normal dari konjungtiva.
5

2. Endoftalmitis endogen
Merupakan metastase hematogen dari suatu tempat ditubuh.4 Mikroorganisme yang
melalui darah (terlihat pada pasien yang bakteremik dalam situasi seperti endokarditis)
menembus sawar darah mata baik oleh invasi langsung (misalnya, emboli septik) atau oleh
perubahan dalam endotelium vaskular yang disebabkan oleh substrat yang dilepaskan selama
infeksi. Hal-hal bakteremia tersebut dapat terjadi pula pada infeksi karies gigi dan perferal
sepsis. Individu yang mempunyai faktor resiko menjadi endoftalmitis endogen biasanya
memiliki faktor komorbid seperi diabetes mellitus, gagal ginjal gangguan katup jantung, SLE,
AIDS, leukemia dan kondisi keganasan lainya. Prosedur invasif dapat menyebabkan
bakteremia seperti hemodialisis, kateter urin, endoskopi gastrointestinal, tindakan kedokteran
gigi juga dapat menyebabkan endoftalmitis.
3.

Per-kontinuitatum

Hal demikian sangat jarang terjadi, namun dalam beberapa kasus inflamasi purulen
intraokuler diikuti oleh infeksi lain seperti pada kasus keratitis atau selulitis, yang menjalar ke
daerah yang lebih dalam dari mata.4

2.6 Gejala dan Tanda Endoftalmitis 5,6


Dalam menegakkan diagnosis, anamnesis dan pemeriksaan fisik merupakan modal utama
bagi seorang dokter umum untuk meneggak diagnosis. Pada anamnesis, dapat ditemukan
gejala sebagai keluhan yang biasanya disampaikan adalah pasien terlihat sakit disertai dengan
demam, dan pada mata timbul gejala berupa mata sakit, merah, kelopak bengkak, edema
kornea, keratik presipitat, disertai hipopion, refleks fundus hilang akibat adanya nanah di
dalam badan kaca. Tajam penglihatan dapat menurun. Tekanan bola mata sangat merendah
dan kadang-kadang meninggi akibat massa supuratif yang tertumpuk di dalam bola mata.

Gambar 2. Gejala dan tanda endoftalmitis


https://www.google.co.id/imgres?
imgurl=http://&h=269&w=584&tbnid=GUVyBSj6vRr_oM:&docid=sEwfTVVJYOebrM&ei
6

=QuGoVo66F9KeugTanbGgBw&tbm=isch&ved=0ahUKEwiO47y5psrKAhVSj44KHdpODH
QQMwgdKAQwBA
Pedoman diagnostik endoftalmitis akut virulen (ESCRS Multisenter Study,2007)6
Curigai pasien dengan keluhan nyeri, kabur, kelopak mata bengkak, adanya radang pada
konjungtiva, sekret konjungtiva, kornea edema kadang dengan infiltrat atau abses cincin, bilik
mata depan yang berkabut penuh dengan sel, hipopion atau klot fibrin, APD (afferent
pupillary defect), vitreus berkabut (vitritis), keterlibatan segmen posterior dengan retinitis, ada
atau retinal periplebitis, retina edem dan edem papil. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tidak
adanya reflek fundus merupakan penanda buruk untuk keadaan vitreus, dimana kekeruhan
anterior merupakan tanda proses awal adanya inflamasi. Bila pada pemeriksaan pupil dengan
transluminasi sklera, adanya reflek fundus dapat menjadi petunjuk yang lebih baik pada kasus
ini. Cek dengan USG B scan untuk melihat adanya vitritis dan ablasio retina. Buat diagnostik
klinis endoftalmitis. Waspadai keterlambatan diagnostik dengan mencoba tetes kotikosteroid.
Sadari bahwa hal ini adalah keadaan gawat darurat. Lakukan pengambilan cairan intravitreal
dalam satu jam, kirim cairan akuos dan vitreus untuk pemeriksaan gram, kultur dan PCR.
Gunakan antibiotik secara empiris dan deksametason.
Pedoman diagnostik endoftalmitis kronik (ESCRS Multisenter Study,2007)6
Curigai penderita dengan keluhan nyeri, kabur, kamera okuli anterior berkabut penuh
dengan sel, rekuren hipopion uveitis yang gagal dengan steroid, plak pada kapsular (sakular
atau granulomatous endoftalmitis), vitreus berkabut (vitritis). Cek USG B scan untuk melihat
adanya vitritis atau ablasio retina. Buat diagnosis klinis endoftalmitis kronik. Ambil cairan
aquous dan vitreus untuk pemeriksaan mikrobiologi. Jika keputusannya adalah pengambilan
IOL, kirim fragmen kapsul untuk pemeriksaan mikrobiologi dan histopatologi untuk
mengetahui ada tidaknya bakteri intraseluler.

2.7 Klasifikasi Endoftalmitis:7


I.

Endoftalmitis Eksogen
1. Post-operatif akut
2. Post-operatif kronis
3. Post-traumatik endoftalmitis

II.

Endogenus endoftalmitis
1. Bakterial
2. Fungi / Jamur

2.7.1 Endoftalmitis Eksogen

Endoftalmitis post operasi dapat terjadi pada setiap operasi intraokuler. Angka
kejadian endoftalmitis post operasi katarak dengan EKEK berkisar antara 0.07% sampai
0.21%, sedangkan impantasi sekunder lebih tinggi yaitu 0,4%. Insiden endoftalmitis post
operasi keratoplasi 0,11% sampai dengan 0,18%, sedangkan operasi post vitrektomi cukup
rendah yaitu 0,046% sampai dengan 0,07%. Infeksi ini biasanya disebabkan oleh
mikroorganisme yang berada pada bagian luar mata, seperti kelopak mata, sakus lakrimal, dan
konjungtiva. Mikroorganisme tersebut terdiri atas bakteri gram positif aerob (90%), bakteri
gram negatif (7%) dan jamur (3%).
I.

Endoftalmitis Post-operatif akut :7


Merupakan endoftalmitis yang timbul sebelum 6 minggu post operasi, biasanya dalam 1-

14 hari setelah operasi. Untuk tujuan prognostik dan terapeutik, endoftalmitif akut post
operasi ini dibedakan antara yang ringan dan berat. Untuk kasus yang ringan dapat tidak
disertai rasa nyeri, visus 20/400 atau lebih baik, dan timbul pada hari ke 7-14 post operasi.
Organisme yang sering didapatkan dari kultur adalah Staphylococcus epidermidis dan
Staphylococcus koagulasi negatif yang lain. Endoftalmitis akut post operasi yang berat terjadi
1-4 hari setelah operasi. Visus biasanya lebih buruk dari 20/400, dan penderita mengeluh
nyeri. Sering disertai vitritis dan detail fundus tidak terlihat. Bakteri virulen yang sering
didapatkan pada kultur adalah Staphylococcus aureus, Streptococcus spp, dan organisme
gram negatif seperti Serratia marcescens, Proteus, dan Pseudomonas spp. Diperlukan
pengenalan dan pengelolaan dini untuk kasus ini sehingga dapat membatasi kerusakan
intraokuler yang lebih berat.

Gambar 3. Endoftalmitis akut pasca bedah katarak


https://www.google.co.id/imgres?
imgurl=https://dokterbagus.files.wordpress.com/2015/10/5.png&imgrefurl=https://dokterbagu
8

s.wordpress.com/2015/10/14/endoftalmitis/&h=146&w=236&tbnid=yyCuGIpEmx51YM:&d
ocid=hQEy3AxPubcDJM&ei=nOKoVtTABcGsuQTBmIOQDA&tbm=isch&ved=0ahUKEwj
U_qjep8rKAhVBVo4KHUHMAMIQMwgZKAAwAA
II.

Endoftalmitis Post-operatif kronis :7


Adalah endoftalmitis post operasi yang terjadi setelah 6 minggu post operasi, dapat

terlihat beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian. Gejala klinis tipikal dengan gambaran
uveitis ringan yang awalnya responsif terhadap streroid. Biasanya tidak disertai sakit yang
nyata. Gambaran hipopion tidak selalu ada, kadang-kadang baru terlihat dengan pemeriksaan
gonioskopi. Peradangan intra okular yang terjadi pada endoftalmitis onset lambat cenderung
terlokalisir dimana terdapat plak berwarna putih pada kapsul posterior dan pada permukaan
IOL. Kadang-kadang plak terletak di perifer, yang dapat diketahui apabila pupil dilebarkan
(midriasis). Plak ini berisikan campuran sisa masa lensa dan mikroorganisme (bakteri atau
jamur).

Gambar 4. Endoftalmitis pseudofaki kronik


https://www.google.co.id/imgres?
imgurl=https://dokterbagus.files.wordpress.com/2015/10/51.png&imgrefurl=https://dokterbag
us.wordpress.com/2015/10/14/endoftalmitis/&h=238&w=8&tbnid=NiX08D_Qipp2nM:&doc
id=hQEy3AxPubcDJM&ei=HOoVvu8IoOVuQTyoGIDA&tbm=isch&ved=0ahUKEwi7yIGd
qMrKAhWDSo4KHX5lAMQMwh3KE8wTw
III.

Endoftalmitis Post-traumatik
Insiden endoftalmitis post trauma tembus mata adalah 7% dimana apabila disertai adanya

benda asing intraokuler insidennya berkisar antara 6,9% sampai dengan 26%. Visus akhir
endoftalmitis post trauma biasanya lebih buruk daripada post perasi hanya 30% kasus
mencapai visus lebih dari 20/400. Hal ini diakibatkan oleh kerusakan jaringan merupakan
9

kombinasi trauma mata, spektrum kuman yang berbeda, dan terlambatnya pengobatan akibat
kesalahan diagnosis. Mikroorganisme yang paling sering menjadi penyebab endoftalitis post
trauma adalah Staphylococcus epidermidis dan Bacillus cereus. Mikroorganisme lain yang
juga sering ditemukan adalah Streptococcus spp, Staphylococcus aureus dan jamur.
Pengambilan sisa benda asing intraokuler dalam 24 jam setelah trauma dapat menurunkan
resiko endoftalmitis.7
2.7.2 Endoftalmitis Endogen
Merupakan hasil penyebaran bakteri atau jamur melalui darah selama terjadi
septikemia. Sumber non okuler memalui jalur intravena dari organ yang terinfeksi seperti
endokarditis, penyakit gastrointestinal, pyelonefritis, meningitis atau osteomyelitis dapat
menjadi tempat adal infeksi. Karakteristik gejalanya adalah onsetnya akut dengan disertai rasa
nyeri, penurunan visus, hipopion, dan vitritis. Kadang-kadang kedua mata dapat terkena
secara simultan. Jenis bakteri yang pernah dilaporkan pada endoftalmitis endogen bervariasi,
yang sering dijumpai adalah Streptococcus spp (endokarditis), Staphylococcus aureus (infeksi
kulit), Bacillus spp (pengguna obat melalui intravena), Neisseria meningitidis, Haemophylus
influenzae, Escherichia coli dan Klebsiella. Sedangkan untuk jenis jamur, yang paling sering
dijumpai adalah Candida albicans.7

Gambar 5. Endoftalmitis endogen


https://www.google.co.id/imgres?
imgurl=http://articulos.sld.cu/oftalmologia/files/2011/04/endof.jpg&imgrefurl=http://articulos
.sld.cu/oftalmologia/?p
%3D843&h=322&w=402&tbnid=ia_wtj9BvpH5yM:&docid=dQq_AdYAwsPfyM&ei=EuSo
Vs2UDYePuASzooeIDw&tbm=isch&ved=0ahUKEwjN5duQqcrKAhWHB44KHTPRAfEQ
MwgaKAEwAQ

2.8 Diagnosa Banding


Endoftalmitis yang disebabkan oleh bakteri dan jamur seringkali sulit untuk dibedakan
dengan peradangan intraokular lainnya. Peradangan berlebihan tanpa endoftalmitis sering
ditemui paska operasi yang rumit, uveitis yang sudah ada sebelumnya dan keratitis, diabetes,
terapi glaukoma, dan bedah sebelumnya. Toxic anterior segment syndrome (TASS) juga
termasuk dalam diagnosis diferensial endoftalmitis. TASS disebabkan oleh pengenalan
10

substansi zat beracun selama operasi yang umumnya disebabkan oleh instrumen, cairan, atau
lensa intraokular. Pada TASS, awitan dimulai pada 12-24 jam post-operasi,gejala TASS pada
umumnya adalah penglihatan kabur, edema kornea, penginkatan tekanan intraokuler dan pada
kultur ataupun pewarnaan Gram didapatkan negatif. Keratitis dan infeksi pasca operasi sering
disertai dengan hipopion tanpa infeksi intraokular. Sel tumor dari limfoma mungkin
menumpuk di vitreus, atau sel retinoblastoma dapat terakumulasi di ruang depan, simulasi
peradangan intraokular. Pada retinoblastoma intraokular biopsi merupakan kontraindikasi.
karakteristik yang paling membantu untuk membedakan endoftalmitis yang benar adalah
bahwa vitritis ini progresif dan keluar dari proporsi lain temuan segmen anterior. Jika ragu,
dokter harus menangani kondisi ini sebagai suatu proses infeksi.1,4

Gambar 6. TASS (Tosic Anterior Segmen Syndrom)


https://www.google.co.id/imgres?
imgurl=http://www.eyeworld.org/images/New_Articles/2006/07/05.gif&imgrefurl=http://ww
w.eyeworld.org/article.php?sid
%3D3255&h=239&w=529&tbnid=rQmjXUZW5aM:&docid=h_xFELKC_beM2M&ei=BuW
oVsaWBI2zuQTim7_4Bw&tbm=isch&ved=0ahUKEwjGsfEqsrKAhWNWY4KHeLND38QMwgiKAkwCQ

11

Gambar 7. Tanda retinoblastoma


https://www.google.co.id/imgres?
imgurl=https://littlefighterscancertrust.files.wordpress.com/2015/05/retinoblastomasymptoms.
png%253Fw%253D604%2526h
%253D523&imgrefurl=https://littlefighterscancertrust.wordpress.com/tag/retinoblastoma/&h
=524&w=604&tbnid=lvug6RYNMIcRmM:&docid=Xvyl3-uGd-dmQM&ei=qWoVrHEEMGcugS

2.9 Pemeriksaan Penunjang3,6


Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang paling penting dalam endoftalmitis adalah pewarnaan gram
dan kultur dari akuos humor atau vitreus humor yang dilakukan oleh spesialis mata
o Endoftalmitis eksogen: sampel vitreus (vitreus tap) diambil untuk diteliti mikroorganisme
penyebab dari endoftalmitis.
o Endoftalmitis endogen:
1. Cek darah lengkap dengan hitung jenis sel darah putoh untuk mengevaluasi tanda dari
infeksi
2. Laju Endap Darah ( Erythrocyte Sedimentation Rate) : mengevaluasi adakah tandatanda keganasan atau infeksi kronis. Pada umumnya LED normal pada kasus
endoftalmitis.
3. Kimia darah, seperti kreatinin dan kadar ureum darah untuk mengevaluasi adanya
gangguan ginjal yang menjadi faktor resiko terjadinya endoftalmitis endogen.
Radiologi / Studi Pencitraan

B-scan (USG): tentukan apakah ada keterlibatan peradangan vitreus. Hal ini juga
penting untuk mengetahui dari ablasi retina dan koroid, yang nantinya penting dalam
pengelolaan dan prognosis.

Chest x-ray - Mengevaluasi untuk sumber infeksi

USG Jantung - Mengevaluasi untuk endokarditis sebagai sumber infeksi

12

Gambar 8. Gambaran USG B-scan


https://www.google.co.id/imgres?
imgurl=http://img.medscapestatic.com/pi/meds/ckb/60/7460tn.jpg&imgrefurl=http://emedicin
e.medscape.com/article/1228865overview&h=285&w=380&tbnid=neulIjKnw1jINM:&docid
=_tISUpSnMzNKFM&ei=peaoVvaiG86RuASgpaWIB
Prosedur Diagnosa (evaluasi ophtalmologi)

Periksa visus

Slit lamp

Tekanan intraokular

Melebar funduskopi

Ultrasonografi

2.10 Terapi
Pengobatan tergantung pada penyebab yang mendasari endoftalmitis. Hasil akhir ini sangat
tergantung pada penegakan diagnosis dan pengobatan tepat waktu. Tujuan dari terapi
endoftalmitis adalah untuk mensterilkan mata, mengurangi kerusakan jaringan dari produk
bakteri dan peradangan, dan mempertahankan penglihatan. Dalam kebanyakan kasus terapi
yang diberikan adalah antimikroba intravitreal, periokular, dan topikal. Sedangkan dalam
kasus yang parah, dilakukan vitrektomi, antibiotik di endoftalmitis.
2.10.1 Non Farmakologi
13

Menjelaskan bahwa penyakit yang diderita memiliki prognosa yang buruk yang
mengancam bola mata dan nyawa apabila tidak tertangani. Penyakit tersebut dapat mengenai
mata satunya, sehingga perlu dilakukan pengawasan yang ketat tentang adanya tanda-tanda
inflamasi pada mata seperti mata merah, bengkak, turunnya tajam penglihatan, kotoran pada
mata untuk segera untuk diperiksakan ke dokter mata. Pada penderita menderita diabetes yang
memerlukan pengontrolan yang ketat baik secara diet maupun medikamentosa. Hal ini
disebabkan oleh karena kondisi hiperglikemia akan meningkatkan resiko terjadinya
bakteriemi yang dapat menyerang mata satunya, atau bahkan dapat berakibat fatal jika
menyebar ke otak. Perlu menjaga kebersihan gigi mulut, sistem saluran kencing yang
memungkinkan menjadi fokal infeksi dari endoftalmitis endogen.
2.10.2 Farmakologi
1. Antibiotik
Keadaan visus yang buruk pada endoftalmitis, dikarenakan virulensi mikroorganisme
penyebab yang memiliki enzim proteolitik dan produk toksin yang dapat merusak retina, serta
kemampuan multiplikasi yang cepat, juga jarak antara ditegakkannya diagnosis sampai pada
saat terapi diberikan. Oleh karena itu pengobatan ditujukan bukan untuk memperbaiki visus,
tapi untuk mengatasi proses inflamasi yang terjadi, serta membatasi infeksi agar tidak terjadi
penyulit dan keadaan yang lebih berat. Teknik pengobatan pada endoftalmitis adalah dengan
secepatnya memulai pemberian antibiotik empiris yang sudah terbukti efektif terhadap
organisme spesifik yang diduga secara intravitreal dengan dosis dan toksisitas yang diketahui.
Intravitreal antibiotik
Pemberian antibiotik intravitreal sebaiknya diberikan sedini mungkin. Prosedur ini
dilakukan secara transkonjungtiva dengan anastesi lokal dari area pars plana (4-5 mm dari
limbus). Pemberian tersebut (vitreus tap) menggunakan jarum berukuran 23. Pada umumnya
penggunakan kombinasi dua obat diberikan, pertama untuk mengatasi bakteri gram positif
dengan koagulasi negatif dan bakteri gram negatif.
Pilihan pertama : Vankomisin 1 mg dalam 0.1 ml + ceftazidine 2.25 mg dalam 0.1ml
Pilihan kedua : Vankomisin 1 mg dalam 0.1ml + amikasin 0.4 mg dalam 0.1 ml
Pilihan ketiga : Vankomisin 1 mg dalam 0.1ml + gentamisin 0.2 mg dalam 0.1 ml

14

Gambar 9. Pemberian antibiotik intravitreal


https://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.microvision.net/images/image_page.j
&imgrefurl=http://www.microvision.net/&h=281&w=222&tbnid=XSTzSYCNMrEdUM:&dc
id=6ufgLA_FoTilNM&ei=ruioVvDaJMmfugSv05fIAw&tbm=isch&ved=0ahUKEwjw6cj
crKAhXJj44KHa_pBTkQMwhqKEkwSQ
Antibiotik topikal
Vankomisin (50 mg/ml) atau cefazolin (50 mg/ml), dan
Amikasin (20 mg/ml) atau tobramysin (15mg %)
Antibiotik sistemik (jarang).
Ciprofloxacin intravena 200 mg selama 2-3hari, diikuti 500 mg oral selama 6-7 hari, atau
Vankomisin 1 g IV dan ceftazidim 2g IV setiap 8 jam
Tabel 1. Dosis Antibiotik Okular
Antibiotik
PENICILIN
Ampicilin
Carbenicillin
Dicloxacilin
Metchicilin
Nafcilin
Oxacilin
Penicilin G
Piperacilin
Ticarcilin
CEPHALOSPORIN
Cefamandole
Cefazoline
Cefatoxime
Cefsulodin
Ceftazidime
Ceftriaxone
Chepalothin
Moxalactam
AMINOGLIKSODA
Amikacin
Gentamicin
Netilmicin

Sistemik (mg)

Topikal (%)

Subkonjungtiva
(mg)

Intravitreal
(mg)

150-200mg/kg/hr IV
400-600mg/kg/hr IV
0.124-0.5g/6j PO/IM
1-2g/4j IV/IM
1-2g/4j IV/IM
1-2g/4j IV/IM
2-4jtU/4-6j IV
200-500m/kg/hr IV/IM
250-300mg/kg/hr

10
10
6.6
0.1
5-10
5-10

100
100
100
100
50,000-1 jt IU
100-150

5
0.5-2.0
2
0.5
1.5
3

0.5g/6j-2g/4j IM/IV
0.25g/8jam-2g/4j IM/IV
1g/8j-2g/4j IM/IV
1-1.5g/6j IV
1-2g/8-12j IM/IV
1-2G/12-24J IM/IV
0.5g/6-2j IM/IV
1g/8j-2g/4j IM/IV

5-10
5-10
5
10

12.5
50-100
100
100
125
100
50-125
100

0.5-2
0.4
2
2
2
1.25-2

15mg/hrjarak 8-12j IM/IV


3-5mg/hrjarak8j IM/IV
4-6.5mg/hrjarak 8j IM/IV

0.5-1.5
0.3-1.5
-

25
10-40
-

0.4
0.2
0.25

15

Tobramycin
Neomycin
MICELLANEOUS
Aztreonam
Bacitracin
Ciprofloxasin
Clindamycin
Chloramphenicol
Cotrimoxazole
Asam Fusidic
Imipenem
Metronidazole
Teicoplanin
Vancomycin

3-5mg/hr jarak 8j IM/IV


-

0.3-1.5
0.3-3.3

20-40
-

1g/8j-2g/j IV
250-750mg/12 j PO
150-450mg/6j PO
150-900mg/8j IV/IM
0.25-0.75g/6j PO
50mg/kg/hr IM/IV
2.5-5mg/kg/6j IV
500mg PO/IV
0.5-1.0g/6j IVAM
7.5mg/kg/6j IV
200mg/hr IV/IM
1g/12j/V

10,000 U/ml
1-5

0.1
1
50-100

0.2
2

TMP1.6

TMP16SM280
5
-

67
25

0.5
0.75
1

Biasanya endoftalmitis fungal terdiagnosis bila respon pasien setelah pemberian


antibiotik dosis tunggal atau kombinasi tidak ada. Ataupun ditemukan faktor-faktor
predisposisi seperti, pasien sedang dalam pengobatan antibiotik spektrum luas dalam jangka
waktu lama, pasien menderita keganasan ataupun dalam keadaan imunitas yang buruk. Obatobatan yang dapat diberikan antara lain:
Tabel 2. Dosis Antifungi Okular
Antibiotik
Amtoferisin B
Econazol
Clotrimazol
Fluconazol
Flucitosin
Itrakonazol
Ketokonazol
Terconazol

Sistemik (mg)
0.25-0.5 mg/kg/hr IV
30mg/kg/hr IV 200mg PO
60-100mg/kg/hrPO
50-400mg/kg/hrPO/IV
0.125-0.5g/6jPO/IM
50-150mg/kg/hrPO
200-1200mg/hrPO
-

Topikal (%)
0.1-5.0
1
1
1
1
-

Subkonjungtiva
(mg)
0.75
5-10
5

Intravitreal
(mg)
0.005-0.01
0.1
0.1
0.001
0.54
10

2. Terapi steroid
Terapi steroid pada penyakit mata adalah untuk mengurangi inflamasi yang disertai
eksudat dan untuk mengurangi granulasi jaringan. Kedua efek ini penting untuk endoftalmitis,
karena dasar dari endoftalmitis adalah inflamasi, dimana prognosis visusnya dipengaruhi oleh
inflamasi yang terus berlanjut. Sampai saat ini pemberian kortikosteroid pada endoftalmitis
masih kontroversi walaupun sudah banyak penelitian menunjukkan hasil yang memuaskan
dari pemberian deksametason dalam menghambat reaksi inflamasi dan reaksi imun abnormal
yang dapat menimbulkan kerusakan luas pada mata.
Pemberian steroid berguna untuk membatasi kerusakan jaringan akibat proses inflaamasi.

Deksametason intravitreal 0.4 mg dalam 0.1 ml


16

Deksametason 4 mg (1 ml) selama 5 7 hari

Steroid sistemik. Terapi harian dengan prednisolon 60 mg diikuti dengan 50 mg, 40


mg, 30 mg, 20 mg, dan 10 mg selama 2 hari.

3. Terapi suportif
Siklopegik. Disarankan tetes mata atropin 1% atau bisa juga hematropin 2% 2 3 hari
sekali. Pemberian sikloplegik dapat diberikan untuk mengurangi rasa nyeri, stabilisasi
aliran darah pada mata, mencegah dan melepas sineksia serta mengistirahatkan iris dan
benda siliar yang sedang mengalami infeksi.
Obat-obat antiglaukoma disarankan untuk pasien dengan peningkatan tekanan
intraokular. Asetazolamide (3 x 250 mg) atau Timolol (0.5 %) 2 kali sehari

Gambar 10. Vitrektomi


https://www.google.co.id/imgres?
imgurl=http://www.microvision.net/images/image_page.jpg&imgrefurl=http://www.mic
rovision.net/&h=281&w=222&tbnid=XSTzSYCNMrEdUM:&docid=6ufgLA_FoTilN
M&ei=ruioVvDaJMmfugSv05fIAw&tbm=isch&ved=0ahUKEwjw6cjDrcrKAhXJj44K
Ha_pBTkQMwhqKEkwSQ
2.10.3 Operatif
Vitrektomi adalah tindakan bedah dalam terapi endoftalmitis. Bedah debridemen
rongga vitreus terinfeksi menghilangkan bakteri, sel-sel inflamasi, dan zat beracun lainnya
untuk memfasilitasi difusi vitreal, untuk menghapus membran vitreus yang dapat
menyebabkan ablasio retina, dan membantu pemulihan penglihatan. Endophthalmitis
17

vitrectomy Study (EVS) menunjukkan bahwa di mata dengan akut endoftalmitis operasi
postkatarak dan lebih baik dari visi persepsi cahaya. Vitrektomi juga memainkan peran
penting

dalam

pengelolaan

endoftalmitis

yang

tidak

responsif

terhadap

terapi

medikamentosa.2,6

2.11 Pencegahan
1. Identifikasi keadaan pasien yang memiliki faktor resiko sebelum operasi (blefaritis,
kelainan drainase lakrimal, adanya infeksi yg aktif)
2. Persiapan operasi, termasuk :
Povidon Iodine 5-10%
Sarung tangan steril
Profilaksis topikal / periokular antibiotik
Profilaksis intravitreal (pada kasus kasus trauma)

Gambar 11. Tindakan operasi


https://www.google.co.id/imgres?
imgurl=http://www.rumahgreenworld.com/wpcontent/uploads/2015/02/operasikatarak300x20
0.jpg&imgrefurl=http://www.rumahgreenworld.com/tagasikatarakgagal/&h=200&w=300&tbnid=81MkdHyvDWn5M:&docid=Ni5e76fz5zEpAM&ei=
CoVvLCAo6JuATbxp6IBQ&tbm=isch&ved=0ahUKEwiy9NvprsrKAhWOBI4KHVujB1EM
wgnKAcwB

2.12 Prognosis
Prognosis dari endoftalmitis sendiri bergantung durasi dari endoftalmitis, jangka
waktu infeksi sampai penatalaksanaan. Virulensi bakteri dan keparahan dari trauma. Bila
18

sudah terlihat hipopion, dapat diambil kesimpulan bahwa keadaan endoftalmitis sudah lanjut
sehingga prognosa lebih buruk. Diagnosa yang tepat dalam waktu cepat dengan tatalaksana
yang tepat mampu meningkatkan angka kesembuhan endoftalmitis.
BAB III

Penutup
3.1 Kesimpulan
Endoftalmitis adalah peradangan berat yang terjadi pada seluruh jaringan intraokular,
yang mengenai dua dinding bola mata, yaitu retina dan koroid tanpa melibatkan sklera, dan
kapsula tenon. Endoftalmitis dapat diklasfikasikan menjadi supuratif, non supuratif dan
endoftalmitis fakoanafilaktik. Penyebab endoftalmitis dapat di kelompokkan menjadi dua
bagian besar, yaitu infeksi yang dapat bersifat endogen dan eksogen serta yang disebabkan
oleh imunologis. Gejala subjektif antara lain adalah nyeri pada bola mata, penurun tajam
penglihatan, nyeri kepala, mata terasa bengkak kelopak mata merah, bengkak kadang sulit
dibuka. Sedangkan dari pemeriksaan fisik didapatkan oedem pada palpebra superior, reaksi
konjungtiva berupa: hiperemis dan kemosis, oedem pada kornea. Pemeriksaan penunjang
yang penting adalah kultur. Pengobatan pasien endoftalmitis adalah dengan antibiotik atau
antifungi, yang diberikan secepatnya secara intravitreal. Sedangkan pemberian steroid masih
kontroversi walaupun terbukti bermanfaat. Kadang dapat diberikan pula sikloplegik. Bila
dengan pengobatan malah terjadi perburukan, tindakan, vitrektomi harus dilakukan.

Daftar Pustaka
1. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-5. Jakarta: Badan Penerbit FKUI;
2014.
2. Eva PR, Whitcher JP. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta: EGC;
2009.
19

3. Ilyas S, Mailangkay TH. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter dan Mahasiswa
Kedokteran. Edisi ke-2. Jakarta: CV. Sagung Seto; 2002.
4. Wijana N. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Abdi Tegal; 1993.
5. Garcia DP, Garcia RA, Martinez RR, Rodriguez JA. Endoftalmitis Traumatica. Revista
Cubana de Oftalmogia. 2012; 25(2).
6. Suhardjo SU, Hartono. Ilmu Kesehatan Mata. Yogyakarta: Bagian Ilmu Kesehatan
Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada; 2012.
7. Prasetya H. Kontaminasi Bakteri di Bilik Mata Depan pada Operasi Katarak Disertai
Pemasangan Lensa Tanam di RSUP Dokter Kariadi Semarang. Semarang: Universitas
Diponegoro; 2003.

20