Anda di halaman 1dari 22

Canting Gus Dur, 19 Juni 2016/14 Romadhan 1437 H.

Suatu ketika KH. Zainal Arifin, pengasuh PP. Al- Arifiyyah Medono Kota Pekalongan, diminta tolong
oleh panitia untuk menjemput Al-Maghfurlah KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur untuk mengisi sebuah
acara akbar di Kota Pekalongan. Waktu itu panitia minta didampingi Kiai Zainal untuk menjemput Gus Dur
yang sedang mengisi acara pengajian di Semarang Jawa Tengah. Seusai acara dan ramah-tamah dengan
para tamu, Gus Dur memutuskan untuk ikut rombongan Kiai Zainal dan Panitia ke Pekalongan.
Waktu itu kurang lebih pukul 01.00 atau 02.00 dinihari. Kiai Zainal dan Panitia, setelah berbincang
secukupnya dengan Gus Dur, tahu diri mempersilahkan Gus Dur untuk istirahat di mobil yang melaju dengan
tenang. Maklum, jalur pantura pada jam segitu juga sudah lengang. Kita tahu Gus Dur kondisi fisiknya
terbatas, kesehatannya juga mulai menurun, serta jadwal juga padat. Tentu saja sesuai logika normal, aktivitas
ini akan menguras tenaga dan pikiran Gus Dur. Tapi, alih-alih istirahat di dalam mobil yang melaju dengan
tenang tersebut, Gus Dur malah masih membaca Al-Quran dengan hafalan (Bil Ghoib).
Sementara itu, Kiai Zainal dan panitia yang jelas secara fisik lebih sehat 100% dibanding Gus Dur
sudah kecapekan dan hampir terlelap, kaget ketika mendengar Gus Dur dengan suara lamat-lamat
menderes Al-Quran secara hafalan.
Kontan rasa kantuk Kiai Zainal dkk hilang. Dengan penasaran Kiai Zainal dkk menyimak hafalan Gus
dur. Tak terasa 1 jam lewat. Sampailah rombongan itu di Pekalongan. Air mata Kiai Zainal dkk tumpah ruah. Ia
membayangkan orang yang selama ini sering disalahpahami berbagai pihak, dicaci-maki, dikutuk, dikafirkan,
difitnah, dicemooh dan seterusnya, malam itu dengan kondisi fisik dan kesehatan yang sangat terbatas, dan
kelelahan yang luar biasa setelah hampir sehari semalam beraktifitas penuh dengan berbagai kegiatan,
malam itu dalam waktu 1 jam perjalanan Semarang-Pekalongan ternyata masih menyempatkan membaca AlQuran dengan hafalan sampai 5 juz lebih!
Apakah mereka yang mengkafir-kafirkan beliau sanggup melakukan hal demikian? Subhanallah.
Ternyata ini salah satu kebiasaan Gus Dur jika berada di dalam perjalanan. Bukan seperti kita, alih-alih baca
Al-Quran, berdoa saja kadang lupa, malah mendengarkan musik. Entahlah, saya tak tahu kebiasaan mereka
yang merasa lebih Islami dari Gus Dur.
di Ceritakan Oleh: Tuan Guru KH.Zimam Hanifun Nusuk (Gus Nif) Pekalongan Jawa
Tengah

Salah satu ilmu agama yang nyaris tidak pernah disinggung para ustadz di TV dan sinetron spesial
ramadhan, entah karena memang tidak tahu atau apa, ialah Ibadah yang bersifat sosial jauh lebih utama
daripada ibadah yang bersifat individuMakanya saya sering bilang kalau sholat tarawih, one day one juz, dan
semacamnya, yang bersifat ibadah individual, itu biasa saja. Tidak istimewa.
Istimewa adalah Ketika kamu bisa rajin ibadah yang bersifat individu setelah melakukan ibadah yang
bersifat sosial. Keliru adalah Ketika kamu sangat rajin ibadah yang bersifat individu tapi mengabaikan ibadah
yang bersifat sosial. Inilah kenapa barokah untuk bangsa Indonesia tidak pernah turun dari langit. Selalu
tertahan.
Hasilnya ya cuma seperti ini. Bangsa yang mayoritasnya adalah umat Islam, tapi korupsi sudah merata
di semua lini, dan kesenjangan sosial ada dimana-mana. Seperti tidak ada agama Islam di Indonesia.
Sebab apa? Barokah untuk bangsa Indonesia selalu tertahan di antara langit dan bumi.

Jumlah orang yang rajin ibadah di Indonesia itu banyak sekali, tapi sedikit sekali yang dapat ridha Allah. Sebab
apa? Sebab ibadah yang sangat-sangat banyak itu masih mengandung unsur keegoisan diri.
Pokoknya aku masuk surga, istriku berjilbab, aku berbuka puasa pakai kurma madinah yang mahal, aku bisa
one day one juz, aku, aku, dan aku Pokoknya serba aku!
Istimewa adalah Ketika kamu bisa rajin ibadah yang bersifat individu setelah melakukan ibadah yang
bersifat sosial. Saya tidak anti sholat tarawih dan one day one juz lho. Saya cuma mengingatkan bahwa; keliru
adalah Ketika kamu sangat rajin ibadah yang bersifat individu tap mengabaikan ibadah yang bersifat sosial.
Saya tidak anti melihat orang beribadah yang bersifat individu. Saya malah salut. Saya hanya ingin umat
Islam di Indonesia mau belajar dari orang-orang sholeh, semisal almarhum Gus Dur, tentang caranya beribadah.
Agar tidak keliru-keliru, agar bangsa ini boleh ditaburi barokahNya, dan agar negara ini segera
diselamatkanNya.
Gus Dur adalah seorang penghapal Al-Quran dan seseorang yang rajin membaca Al-Quran. Bedanya
beliau dengan kita-kita ini adalah Beliau sanggup sehari membaca lima juz Quran, dengan ingatan, dan tidak
merasa bangga. Sedangkan kita sebaliknya. Hanya maksimal satu juz Quran, dengan membaca, dan merasa
luar biasa bangga.
Dan, almarhum terkadang melakukannya di dalam mobil, setelah melayani hajat banyak orang-orang
yang teraniaya
Tidak seperti kita, yang mengkhususkan diri masuk kamar, membaca Al-Quran dengan target pahala, justru di
jam-jam produktif untuk menolong orang lain, lalu istirahat kalau capek. Tidur. Menunggu adzan maghrib. Lalu
berbuka puasa. Lalu semakin merasa jadi orang sholeh ketika mampu berangkat sholat tarawih.
Sebab Gus Dur adalah Pokoknya kalian, kalian, dan kalian, kalau aku gampanglah Gitu aja kok repot!
Maka, wajar bila beliau sanggup berpikir waras, tidak keliru dalam beribadah; baru mau beibadah yang bersifat
individu setelah melakukan ibadah yang bersifat sosial.
Oleh: Doni Febriando
Duduk di depan makam Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) dan tokoh-tokoh Tebuireng, Kiai sepuh
kharismatik, KH. Maemoen Zubair yang malam itu hadir bersama nyai dalam acara 40 hari wafat...

Gus Dur dan Gus Mus, dua tokoh besar Nusantara


by Fiqh Menjawab 16 Maret 2016

Duduk di depan makam Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) dan tokoh-tokoh
Tebuireng, Kiai sepuh kharismatik, KH. Maemoen Zubair yang malam itu hadir bersama
nyai dalam acara 40 hari wafat Gus Dur di Tebuireng, sempat bertanya seolah-olah
kepada dirimengenai fenomena presiden keempat itu. Pertanyaan yang juga mengusik
pikiran saya dan mungkin banyak orang yang lain. Amaliah Gus Dur apa kira-kira yang
membuat cucu Hadhratussyeikh KHM. Hasyim Asyari dan KH. Bisri Sansuri itu dihargai
dan dihormati orang sedemikian rupa setelah kemangkatannya. Penghormatan yang
belum pernah terjadi pada orang lain, termasuk presiden maupun kiai.
Pers dunia tidak hanya memberitakan kewafatannya, tapi menulis tentang diri Gus
Dur. Di saat pemakaman, keluarga ; masyarakat; dan pemerintah; seperti berebut
merasa paling berhak menghormatinya. Dan ternyata pemakaman Kiai Bangsa ini
bukanlah penghormatan terakhir. Rombongan demi rombongan dari berbagai pelosok
tanah air, setiap hari berdatangan di makamnya. Bahkan banyak peziarah yang
memerlukan datang dari luar negeri. Mereka semua datang dengan tulus menangisi dan
mendoakannya. Sebagian malah ada yang memohon maaf kepada Gus Dur atas
kesalahannya; termasuk seorang ibu yang menangis memohon maaf karena tahun 2004
tidak memilih PKB.
Di samping acara-acara doa bersama untuk Gus Dur, berbagai acara untuk
mengenang dan menghormati almarhum diselenggarakan dimana-mana. Ada yang
bersifat ritual keagamaan; ada yang dikemas dalam bentuk pengajian umum, saresehan,
kesenian, dlsb. Acara-acara itu tidak hanya diselenggarakan oleh kalangan Pesantren,
Nahdliyin, kaum muslimin; tapi juga oleh kalangan agama-agama dan etnis lain. Dalam
rangka peringatan 40 hari wafatnya, di mana-mana pun orang menyelenggarakan acara

khusus. Tidak hanya di Tebuireng dan Ciganjur Saya sendiri dapat sembilan undangan
dalam rangka yang sama.
Saya mendatangi undangan Gus Sholahuddin Wahid dan keluarga Bani Wahid di
Tebuireng. Menyaksikan ribuan warga masyarakat yang mulai pagi hari sudah berdatangan menuju
komplek Pesantren dimana terletak makam Gus Dur. Rahmat Allah berupa hujan, mengguyur Tebuireng dan
sekitarnya. Saya menyaksikan sekian banyak orang ber-basah-basah berjalan dari tempat-tempat kendaraan
mereka di parkir yang jaraknya berkisar antara 3 sampai 5 kmmenuju ke makam. Saya menyaksikan di
samping tempat-tempat parkiran, tukang-tukang ojek dadakan, juga warung-warung baru. Semuanya itu tentu
untuk melayani para peziarah.
Dan malam itu, ribuan umat duduk khidmat di sekitar makam untuk berdzikir dan berdoa. Renyai hujan
seolah-olah ikut mengamini doa mereka. Saya mendengar kabar, hal yang kurang lebih sama juga terjadi di
Ciganjur.
Kembali ke pertanyaan Kiai Maemoen di atas. Ketika Gus Dur ke rumah saya di Rembang, seminggu
sebelum wafat, beliau ada menceritakan mimpi saudaranya. Mimpi, yang menurut saudaranya itu, aneh dan
ingin ditolaknya. Saudaranya itu bermimpi berada dalam jamaah salat. Termasuk yang ikut menjadi makmum
adalah Hadhratussyeikh KHM. Hasyim Asyari dan yang menjadi imam Gus Dur.
Barangkali untuk menghilangkan kekecewaan saudaranya yang tampak kurang senang Mbah Hasyim kok
makmun Gus Dur meski hanya dalam mimpi, Gus Dur pun berkata menafsiri mimpinya itu: Ya kalau soal
akhlak dan agama, imamnya memang harus Hadhratussyeikh; tapi kalau soal politik, imamnya ya saya.
Tapi tentu saja bukan karena politiknya, Gus Dur mendapat penghargaan dan penghormatan yang
begitu fenomenal dari umat. Apalagi pada saat dunia politik cemar dan memuakkan seperti sekarang ini. Lalu,
apakah karena amaliyah pluraliyah-nya? Tentu bukan juga. Sebab kalau karena ini, bagaimana kita
menjelaskan tentang banyaknya kiai yang juga merasa sangat kehilangan dengan wafatnya Gus Dur dan dengan
tulus mendoakannya, padahal mereka tidak paham atau tidak setuju pluralisme?
Ataukah fenomena itu hanya sekedar pengejawentahan dari rasa kesal masyarakat terhadap umumnya
pemimpin yang masih hidup, yang tidak jujur (lain di mulut, lain di perbutan), dan tidak konsisten memikirkan
dan berpihak kepada rakyat?
Menurut saya sendiri; Gus Dur dihargai dan dicintai beragam orang, karena Gus Dur menghargai
keberagaman dan mencintai beragam orang. Gus Dur dihormati orang secara tulus, karena Gus Dur tulus
menghormati orang. Gus Dur bersemayam di hati orang banyak, karena orang banyak selalu berada di hati Gus
Dur. Gus Dur, setahu saya, sering dan banyak berbeda dengan orang, tapi tidak pernah benci kepada mereka
yang berbeda, bahkan kepada yang membencinya sekalipin. Gus Dur tidak hanya mengenal persaudaraan
kepartaian; persaudaraan ke-NU-an; persaudaraan keIslaman; persaudaraan keseimanan; persaudaraan
keIndonesiaan; tapi lebih dari itu juga persaudaraan kemanusiaan. Dan itu amaliyah. Bukan sekedar ucapan.
Wallahu alam.
Sumber: Catatan Gus Mus
Gus Dur itu sekuler? Ya. Benar. Gus Dur itu sekuler. Saking sekulernya, waktu
beliau menjadi Presiden, selama bulan Ramadhan semua siswa diliburkan supaya bisa
beribadah dengan tenang.
Gus Dur itu antek Zionist? Ya. Benar. Gus Dur itu antek Zionist. Jaman Ehud Barak
menjadi Perdana Menteri Israel, Gus Dur pernah berkunjung ke sana. Pak Ehud bertanya,
bagaimana cara menghentikan perlawanan rakyat Palestina, maka Gus Dur menjawab

dengan lantang, Gampang sekali. Beri kemerdekaan rakyat Palestina sekarang juga.
Pak Ehud terhenyak dengan muka merah padam.
Gus Dur itu antek Amerika? Ya. Benar. Gus Dur itu antek Amerika. Saking setianya
dengan Amerika, sesaat setelah beliau dilantik menjadi Presiden, beliau langsung
kerkunjung kemana? Ke China!!! Setelah itu kemana? Ke India. Kemudian kemana? Ke
Timur Tengah Lalu kemana? Ke Eropa dan terakhir baru ke Amerika. Puas?
Gus Dur itu sesat? Ya. Benar. Gus Dur itu sesat. Saking sesatnya, dikisahkan dalam
berbagai perjalanan, di saat semua orang tertidur pulas, beliau selalu menyempatkan
waktu untuk nderes bacaan Al Quran bisa mencapai 5 juz dengan bacaan bilghoib
(melantunkan bacaan Al Quran tanpa melihat teksnya).
Gus Dur itu liberal? Ya . Benar. Gus Dur itu liberal. Saking liberalnya, beliau bisa
menjelaskan dengan sangat detail jika ditanya tentang dalil-dalil dari Quran, Hadits,
Ijma, dan Ijtihad, serta tak ketinggalan Qoul Ulama Besar atas semua pendapat dan
tindakan beliau.
Gus Dur itu suka klenik. Ya. Benar. Gus Dur itu suka klenik. Saking sukanya beliau
dengan klenik, maka banyak sekali makam wali yang terpendam dan dibuat hal yang
tidak benar secara syariat, akan dikunjungi beliau. Kemudian makam itu diziarahi oleh
kaum muslimin sehingga habislah praktek klenik dan praktek yang tidak dibenarkan
tersebut, menjadi kunjungan ziarah yang dipenuhi dengan bacaan Kitab Suci Al Quran,
Sholawat dan dzikir.
Gus Dur itu tidak pro rakyat. Ya. Benar. Gus Dur itu tidak pro rakyat. Sehingga beliau di
saat menjadi Presiden menolak impor beras dari luar negeri, karena sangat tahu bahwa
stok di dalam negeri sangat cukup. Impor hanya menguntungkan orang tertentu yang
ikut tandatangan, dan akan memukul harga di tingkat petani lokal.
Gus Dur itu tidak paham cara membangun negara. Ya. Benar. Saking gak fahamnya,
beliau menolak campur tangan IMF dan menolak perintah untuk menjual aset-aset
penting Nasional seperti Indosat, Texmaco, dll dan menolak pencabutan subsidi pupuk
bagi petani. Sehingga IMF menunda pengucuran bantuannya selama masa
pemerintahan beliau. Owh iya, beliau mau menego ulang keberadaan dan bagi hasil
dengan Freeport.
Gus Dur itu penganut Syiah. Ya. Benar. Saking setianya, beliau begitu mengidolakan
Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, dan Sayyidina Utsman. Juga begitu mengagumi
sosok wanita mulia Siti Aisyah, dan Siti Hafshoh. Beliau juga sangat menguasai madzhab
Syafii. Menguasai Kitab Hikam dengan sangat baik, dan berbagai kitab ulama Aswaja,
dan hampir tidak pernah mengutip nash dari Kitab-kitab Syiah sebagai rujukannya.
Gus Dur itu Komunis. Ya. Benar. Gus Dur itu Komunis. Saking Komunisnya, Gus Dur
sangat terbuka dengan pihak manapun yang hendak turut membangun bangsa ini.
Beliau malah membuka keran demokrasi seluas-luasanya sehingga siapapun boleh
mengungkapkan pendapatnya dengan bebas. Beliau membubarkan Departemen
Penerangan yang dianggap hanya jadi corong legitimasi pemerintah. Bahkan organisasi
masyarakat tidak dibatasi, baik berbasis agama, sosial, politik, ekonomi, kesukuan, dll

Gus Dur itu buta hatinya. Ya. Benar. Gus Dur itu buta hatinya. Saking buta hatinya,
dimanapun beliau berada, akan disambut dengan gegap gempita oleh seluruh lapisan
masyarakat, yang mengagumi kejernihan hati beliau. Berbondong-bondong masyarakat
dari berbagai kalangan dari masyarakat biasa hingga ulama untuk mencium tangan
beliau. Ketika beliau wafat, terlalu banyak orang yang sangat kehilangan. Dan setelah
itu, mereka menceritakan karomah-karomah beliau. Ulama besarpun menceritakan
kehebatan Gus Dur dengan memberikan ciri-ciri kewalian yang ada di dalam beliau, tapi
tidak berani manyatakan Gus Dur itu wali, dengan ketawadlukan bahwa yang tahu wali
hanyalah wali. Dan beberapa diantara para panutan umat dengan lugas menyatakan
bahwa Gus Dur itu Wali.

iqhmenjawab.net ~ KH. Nurcholis Madjid (Cak Nur) sambil bercanda pernah berkata: Hal yang misterius dan
hanya Tuhan yang tahu, selain jodoh, maut, dan rezeki, adalah Gus Dur. Gus Dur memang...

by Fiqh Menjawab 7 Juni 2016


fiqhmenjawab.net ~ KH. Nurcholis Madjid (Cak Nur) sambil bercanda pernah berkata: Hal yang
misterius dan hanya Tuhan yang tahu, selain jodoh, maut, dan rezeki, adalah Gus Dur.
Gus Dur memang begitu misterius, hingga sikap, ucapan dan kebijakan beliau sering disalah pahami
orang lain, bahkan oleh sebagian warga Nahdhiyin (NU) sendiri. Apalagi musuh-musuh beliau menilai
bahwa ucapan dan sikap beliau tidak masuk akal, malah mereka men-cap beliau sebagai orang
gila.
Namun belakangan terlebih setelah Gus Dur wafat, sikap dan ucapan beliau yang dianggap tidak
masuk akal ternyata terbukti benar. Seperti yang diceritakan para tokoh Vatikan, saat Gus Dur
menjabat sebagai ketua PBNU, beliau mengunjungi Vatikan. Dan sambil guyon Gus Dur berkata
bahwa beliau akan datang lagi ke Vatikan tapi tidak sebagai ketua PBNU tapi sebagai seorang

Presiden. Ucapan Gus Dur hanya dianggap candaan oleh para tokoh Vatikan. Dan ternyata pada
kunjungan selanjutnya membuat tokoh Vatikan terkaget-kaget, Gus Dur memang datang sebagai
seorang Presiden. Itulah mengapa beliau dijuluki SANTO oleh para tokoh Vatikan.
Saat Gus Dur diminta pertanggung jawaban oleh DPR, dengan gagah berani beliau datang ke
gedung bundar dan menghadapi anggota DPR. Dihadapan mereka semua dengan lantang Gus Dur
mengatakan bahwa DPR seperti Taman Kanak-kanak.
Saat itu banyak anggota DPR yang tersinggung dan menuding Gus Dur gila. Tapi pada
kenyataan yang kita lihat, ternyata benar apa yang dikatakan Gus Dur. Anggota DPR
senang ketika jalan-jalan dan tidur ketika sidang, senang rebutan proyek, hobbynya
meminta-minta dari
Pak Sutarman adalah ajudan Gus Dur, dan Gus Dur pernah berkata pada Pak Sutarman:
Nanti Pak Tarman akan jadi Kapolda Metro setelah itu Pak Tarman akan menjadi
Kapolri. Pada saat itu Pak Sutarman hanya tertawa karena mengganggap itu tidak akan
terjadi, bahkan bermimpi menjadi Kapolri-pun belum pernah. Dan tepat pada tanggal 23
Oktober 2013, Pak Sutarman resmi dilantik menjadi Kapolri oleh Presiden SBY.
Pada 8 Januari 2006, Gus Dur pernah mampir ke rumah dinas walikota Solo untuk
bertemu dengan beberapa tokoh agama. Saat itu Jokowi baru 6 bulan menjabat walikota.
Dan pada hari itu Gus Dur berkata: Siapapun yang dikehendaki rakyat, termasuk Pak
Jokowi ini, kalau dia jadi Wali Kota yang bagus, kelak juga bisa jadi presiden. Jokowi
hanya senyam-senyum pada waktu itu.
Di pagi hari, Gus Dur meminta Kang Said (KH. Aqil Siradj) untuk menyediakan air putih
dan roti tawar untuk sarapan. Lalu Gus Dur meminta Kang Said untuk membacakan kitab
Ihya Ulumuddin. Baru dibacakan dua paragraf Gus Dur sudah mendengkur. Lima menit
kemudian beliau terbangun dan berkata pada Kang Said: Sampean akan menjadi ketua
PBNU di atas usia 55 tahun. Pada Muktamar NU ke 30, Kang Said diusia 46 tahun
mencalonkan diri menjadi ketua PBNU bersaing dengan KH. Hasyim Muzadi. Dan yang
terpilih pada saat itu adalah KH. Hasyim. Dan pada muktamar NU ke 32, Kang Said
mencalonkan diri lagi menjadi ketua PBNU dan beliau terpilih tepat diusia 56 tahun.
Setelah gagal menjadi gubernur Bangka Belitung, Koh Ahok bertemu Gus Dur dan Gus
Dur berkata: Kamu akan menjadi gubernur.
Departemen Kehutanan di era Gus Dur. Di ruang ICCU berapa hari sebelum Gus Dur
wafat, Gus Dur berkata pada Pak Hardi: Pak Hardi saya titip bangsa ini. Tolong ikut
dikawal Pansus Century di DPR. Besok Kamis saya akan pulang ke Tebuireng dengan
diantar banyak orang. Saya sudah ditunggu ayah saya di sana,
Dan masih banyak lagi kisah misterius tentang Gus Dur. Dan yang membuatku tertawa
adalah perkataan Gus Dur pada Fidel Castro: Saya menjadi presiden dipilih oleh orangorang gila. Sekarang kita saksikan sendiri bagaimana perilaku mereka yang memilih
Gus Dur pada masa itu.
ni kasus yang cukup membingungkan kepala. Kala itu KH. Abdurrahman Wahid masih menjabat
sebagai presiden Republik Indonesia. Beliaulah orang yang meresmikan dan melegalkan
Konghucu menjadi agama yang sah dan resmi di Indonesia. Padahal sebelumnya, selama rezim

orde baru berdiri di atas negeri ini, kaum Tionghoa tidak bisa bergerak bebas. Begitu terkekang
dan serba terbatas dalam melakukan gerak gerik. Ada sebuah rahasia menarik yang kita,
manusia biasa tidak akan menyadarinya, dan hanya manusia super cerdas seperti Gus Dur-lah
yang bisa melakukannya.
KH. Marzuki Mustamar memulai kisahnya dari maraknya Kristenisasi yang terjadi kala itu. Kaum
missionaris bergerak mengkristenkan umat Islam yang fakir. Mereka membeli imannya hanya
dengan makanan dan materi. Para missionaris itu bisa memiliki kuasa atas keimanan para
fuqara tersebut lantaran banyaknya uang yang tersumbang kedalam gereja. Dana terbesar dari
gereja bersumber dari sumbangan bos-bos Tionghoa, seperti bos pemilik Djarum, bos
Sampoerna, dan lain sebagainya, karena mereka semua agamanya Kristen, padahal etnis
mereka dari Tionghoa. Singkat cerita, ketika Gus Dur menjadi Presiden RI, beliau membuka dan
meresmikan agama Konghucu di Indonesia. Imbasnya, pemasukan gereja pun berkurang drastis.
Disebabkan para bos-bos Tionghoa berpindah aliran, dari Kristen menjadi Konghucu. Akhirnya
arus deras Kristenisasi bisa diredam sejenak oleh Gus Dur. Subhanallah!
Fakta menarik lainnya, di dataran Cina sudah terdapat banyak penduduk Muslim. Konon
penduduk Muslim tersebut sudah mencapai 10%. Kita ambil contoh, apabila jumlah penduduk
Cina mencapai 1,3 milyar jiwa, bisa anda bayangkan berapa jiwa jumlah penduduk Muslim dari
10%-nya! Mirisnya, saudara-saudara kita yang ada di Cina tidak bisa bebas beribadah seperti
kita disini, karena pemerintahan mereka adalah komunis. Untuk pergi Haji ke Baitullah,
merupakan hal yang mustahil bagi warga Muslim di Cina. Dan Gus Dur tahu ada banyak Muslim
disana! Subhanallah. Kemudian Gus Dur melobi pemerintahan RRC, Hei, etnismu Tionghoa disini
sudah kami bebaskan dalam beragama dan menganut kepercayaannya. Sekarang kami minta
timbal balik yang pantas. Bebaskan saudara-saudara seiman kami disana dalam beribadah!
begitu kira-kira. (Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan tadzim, penulis mohon maaf atas
bahasa yang kurang sopan, karena sebatas ini penulis bisa memberikan gambaran yang kami
tangkap) Maka pemerintah Cina pun mengabulkan permintaan dari Gus Dur. Jumlah penganut
kepercayaan Konghucu tidak lebih dari 3 juta jiwa. Berarti, 130 juta jiwa ditukar dengan 3 juta
jiwa, bukankah kyai kita ini super cerdas? Hanya kitalah yang terlalu bodoh sehingga menuduh
yang tidak-tidak kepada beliau. (Dukung NU Mendirikan TV NU Nusantara)

Sembilan tahun lalu, paruh pertama tahun 2007, almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus
Dur) mendoakan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur. Ketika itu, jalan terjal
sedang menghadang Ahok. Tepat ketika ia maju sebagai calon Gubernur Bangka Belitung
berpasangan dengan Dr. Ir Eko Cahyono. Pada awalnya dalam perhitungan suara
sementara, 22 Februari 2007, Ahok melesat jauh meninggalkan pesaingnya. Namun, di
tikungan terakhir, konon ia dicurangi lawan politiknya.
Ahok tidak terima, ia mengadu ke Mahkamah Agung (MA). Usahanya buntu, Ahok gagal
jadi Gubernur Bangka Belitung. Pada waktu itu, Gus Dur dengan gigih membela Ahok.
Gus Dur bahkan ikut kampanye dan mendukung Ahok dalam proses akhir penyelesaian
di pengadilan. Ketika Ahok hampir putus asa, Gus Dur mendoakan Ahok jadi gubernur,
bahkan presiden.
Dukungan Gus Dur ini menjadi kisah menarik, karena belum banyak warga Tionghoa
yang maju sebagai politisi dan kepala daerah. Meski Ahok tidak berhasil menjadi
Gubernur Bangka Belitung, akan tetapi ia selalu ingat petuah dari Gus Dur. Menurut
Ahok, Gus Dur pernah meramalkan dirinya akan menjadi Gubenur bahkan pemimpin
bangsa.

Siapa bilang orang turunan Tionghoa belum bisa jadi Gubernur? Jadi presiden, kamu aja
bisa! ungkap Ahok menirukan perkataan Gus Dur. Ahok mengulang ucapan ini, dalam
testimoni pada Haul ke-4 Gus Dur di Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa, 28
Desember 2013.
Nyatanya, Joko Widodo (Jokowi) berpasangan dengan Ahok sebagai Gubernur dan Wakil
Gubernur DKI Jakarta pada 2012. Dua tahun kemudian, Jokowi terpilih sebagai presiden
pada pemilu 2014, berpasangan dengan Wapres Jusuf Kalla (JK). Ahok yang sebelumnya
menjadi Wakil Gubernur, ditetapkan sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Kenapa Dukung Ahok?
Dukungan Gus Dur terhadap kelompok minoritas tidak hanya berhenti pada perbicangan
dan wilayah konseptual semata. Untuk mendukung warga Tionghoa agar mendapat hak
politiknya, Gus Dur turun gunung melakukan pembelaan. Ketika menjabat sebagai
presiden, Gus Dur menerapkan kebijakan menghapus diskriminasi orang Tionghoa
mencabut Inpres No 14/1967 dan meneken Keppres No 6 Tahun 2001. Intinya, Gus Dur
menjadikan warga Tionghoa mendapatkan hak politik dan sosialnya. Orang-orang
Tionghoa Indonesia sangat berterima kasih pada Gus Dur, dengan menyebutnya sebagai
Bapak Tionghoa Indonesia.
Dukungan Gus Dur terhadap Ahok, merupakan konsekuensi dari sikap konsisten Gus Dur
dalam membela minoritas. Ahok juga sangat berterima kasih kepada Gus Dur, karena
dukungan Gus Dur tidak hanya dimaknai sebagai dukungan politik, namun juga
dukungan moral untuk memberi ruang bagi kaum minoritas tampil sebagai eksekutif di
wilayah politik. Gus Dur lah yang mendukung Ahok agar terus berjuang sebagai politisi,
yang mampu memberikan kontribusi positif bagi warga negeri ini. Dukungan Gus Dur
kepada Ahok bukan tanpa alasan.
Pada orasi kampanye di Bangka Belitung, Gus Dur menegaskan bahwa bangsa Indonesia
harus siap menjadi bangsa yang besar, dengan memberi ruang pada minoritas. Gus Dur
menekankan bahwa mendukung Ahok karena cinta.
Gus Dur menyitir ayat al-Quran yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia
berupa laki-laki dan perempuan, untuk berpasang-pasangan. Juga, dengan berbangsa
dan suku bangsa, agar saling mengetahui, saling mengenal. Kalau sudah mengenal,
akan menjadi cinta. Kenapa memilih Ahok? Karena cinta! Kita semua akan memilih Ahok
karena cinta, ungkap Gus Dur.
Selain itu, Gus Dur memperjuangkan minoritas karena cita-cita kebangsaan. Inilah nilainilai keindonesia yang menjadi prinsip dasar, sebagai pencarian harmoni. Sejauh yang
dipahami Gus Dur, yang paling Indonesia di antara semua nilai yang diikuti oleh warga
bangsa ini adalah pencarian tak berkesudahan akan sebuah perubahan sosial tanpa
memutuskan sama sekali ikatan dengan masa lampau.
Kita dapat menamainya sebagai pencarian harmoni, walaupun dengan begitu bersikap
tidak adil pada pencarian besar dengan peranan dinamisnya dalam pengembangan cara
hidup bangsa dan menyalurkannnya ke jalan baru tanpa menghancurkan jalan lama,
semuanya dalam proses yang berurutan (Abdurrahman Wahid, 2007: 163).
Pernah suatu kali, ketika sedang berkompetisi sebagai calon Gubernur Bangka, tim
sukses Ahok menyarankan agar dia berpindah agama menjadi mualaf. Namun, Gus Dur
mengatakan sebaliknya. Timses saya pernah menyuruh untuk jadi mualaf agar dapat

suara banyak. Tapi Gus Dur bilang enggak boleh. Beliau contoh yang tidak pernah
menggadaikan agama demi sebuah jabatan politik, ungkap Ahok, sebagaimana arsip
media (Kompas, 29/12/2013).
Selain itu, ungkapan-ungkapan Gus Dur juga memotivasi Ahok untuk konsisten dalam
melayani kepentingan rakyat, meski banyak kritik dan penolakan dari mereka yang
berpandangan sempit. Hal ini terjadi ketika Ahok ditolak masuk ke sebuah mesjid di
Jakarta.
Kalo kata Gus Dur, orang yang menolak itu adalah orang yang pengalaman Islamnya
sempit. Udah biaran saja, nggak ngerti mereka. Jadi banyak orang nggak ngerti ajaran
sebetulnya. Karena Islam itu kan rahmatan lil alamin, rahmat buat seluruh ummat,
ungkap Ahok menirukan petuah Gus Dur.
Visi Gus Dur, Misi Ahok?
Kini, menjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2017, karir politik Ahok sedang
dipertaruhkan. Ia nekad memilih jalur perseorangan dengan menggandeng Heru Budi
Hartono (Kepala Badan Pengelola Keuangan Aset Daerah DKI Jakarta). Relawan
#TemanAhok dengan gigih mendukung pasangan ini, dengan menggalang simpati dan
mengumpulan KTP. Menjelang 2017, Ahok sedang dalam pertaruhan politik. Beberapa
parpol masih dalam perhitungan antara mendukung Ahok atau mengusung calon lain.
Sebagai murid Gus Dur, masihkan Ahok memperjuangkan gagasan-gagasan Sang Kiai?
Jika menganggap dirinya sebagai murid Gus Dur, masihkan Ahok meneruskan
perjuangan Gus Dur yang belum tuntas? Bagaimana ramalan Gus Dur tentang Ahok
sebagai Presiden?
Saya kira, kelak, sejarah yang akan menjawabnya. []
Oleh: Munawir Aziz adalah peneliti dan editor penerbitan. Alumnus Pascasarjana UGM.
Bisa ditemui di @MunawirAziz
Sumber: islami.co
Pada tahun 80-an, Gus Dur pernah bikin Presiden Iran Rafsanjani tertawa terbahak-bahak. Pada tahun
80-an juga, Gus Dur pernah bikin Kanselir Jerman Barat Helmut Schmidt tertawa ngakak, kali ini yang cerita
almarhum Nurcholis Madjid.
Gus Dur juga pernah bikin Presiden Clinton terbahak-bahak hingga kepalanya mendongak ke atas. Presiden
Prancis Jacques Chirac pernah tertawa juga mendengar Gus Dur bercerita tentang Anggur Mukti Ali. Ratu
Beatrix juga pernah dibikin ketawa oleh Gus Dur.
Bahkan, kata Gus Mus, Gus Dur berhasil membuat Raja Saudi yang terkenal serius dan pelit senyum,
tertawa hingga kelihatan giginya. Melemper guyon pada Presiden Soeharto dan penggantinya, Habibie, juga
Megawati, sudah biasa dilakukan Gus Dur.
Dan Shimon Peres, tak luput diberi guyonan oleh Gus Dur. Sebenarnya Gus Dur menyindir Israel, tapi Peres
tertawa hingga terbatuk-batuk, cerita sastrawan Ahmad Tohari.
Pak Peres, negeri Anda akan kaya raya jika mau mengimpor kutang dari Prancis, usul Gus Dur pada Shimon
Peres.

Kenapa, Gus? tanya Peres penasaran.


Imporlah kutang dari Prancis. Sesampai di Israel, kutang itu dipotong jadi dua, Gus Dur menjelaskan. Peres
makin penasaran.
Nah, setelah dipotong jadi dua, baru dijual. Kutang yang aslinya hanya bisa dipakai satu orang, di Israel bisa
dipakai dua orang, asal dipotong dulu. Dan itu artinya bisa mendatangkan untung lipat dua. Jangan lupa, talitali pengikatnya dibuang dulu, jelas Gus Dur tambah panjang.
Mana bisa kutang dipotong jadi dua dan mendatangkan untung berlipat??? tanya Peres. Rasa penasarannya
makin menjadi-jadi.
Ya kan kalau sudah jadi dua, namanya bukan kutang lagi. Kalian bisa memakai kutang sebagai topi untuk
pergi ke tembok ratapan, terang Gus Dur enteng.
Hahahahahahahahaha hahahaha kali ini Peres paham, dan langsung tertawa terpingkal-pingkal.
Topi Yahudi bernama Kipah. Bentuknya bulat. Dipakai di atas ubun-ubun, agak ke bawah sedikit.
Sumber: merdeka.com

Cerita FATIMAH PUTRI RASULULLAH SAW.


fiqhmenjawab.net ~ 29 Maret 2016 (20 Jumadil Akhir) adalah tepat hari lahirnya wanita idola, wanita
teladan, wanita tercinta, wanita pemimpin yaitu Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW.Salah seorang darah
keturunan manusia mulia dan salah seorang yang paling cinta dan dicintai manusia mulia.
Wahai Ummu Abihaa..
Aidil Milad wahai Ummi, wahai Sayyidatina Fatimah
Izinkan kami yang penuh dosa mengucapkan salam cinta kepadamu
Izinkan kami mengucapkan dan memberi kado untukmu.
Wahai Ummu Abiha..
Izinkan kami agar kami tetap bertahan dijalanmu
Izinkan kami membuatmu tersenyum karena akhlaq kami.Wahai Sayyidah
Semoga para wanita kami menjadi wanita akhir zaman yang dapat meneladanimu
Dapat menjadi barisanmu di Syurga nanti.Sayidatuna Aisyah putri Sayidina Abu Bakar Ashiddiq RA
menuturkan Sungguh aku belum pernah melihat seorang manusiapun yang cara bicaranya dan penuturannya
paling mirip dengan Rasulullah melebihi Fathimah
Wahai Putri tercinta Rasulullah SAW
Semoga seiring cinta kami kepadamu
Kami dicintai pula oleh ayahmu Rasulullah SAW
Semoga Allah ridha akan kami.
Sumber: Cerita Para Wali
Hari ketiga Ramadan adalah hari wafatnya anak kesayangan baginda Nabi Muhammad SAW, Fatimah
Az-Zahra. Fatimah yang juga istri Ali bin Abu Thalib, ini wafat pada 3 Ramadan tahun 11 Hijriah atau 23

November 632 Masehi. Dia dimakamkan pemakaman Baqi, Madinah.Kepergian ibu dari Hasan dan Husein
sungguh menyayat hati dan mengharu biru. Fatimah sebenarnya sudah tahu kapan dirinya akan dipanggil Ilahi.
Alkisah saat Rasulullah terbaring sakit, Fatimah tak henti-hentinya bersedih. Rasulullah pun
membisikkan sesuatu ke telinga anaknya.
Aku akan pergi tetapi engkau pertama yang akan menyusul, ujar Rasulullah.
Sontak raut muka Fatimah menjadi senang karena keriduannya kepada ayahanda pasti segera tertambat. Banyak
yang ingin tahu apa yang Rasulullah bisikkan kepada Fatimah, namun ditanya berapa kalipun Fatimah
bergeming.
Fatimah menyadari ajalnya makin dekat, saat itu dia menemui ayahnya dalam mimpi.
Wahai Fatimah! aku datang untuk memberi kabar gembira kepadamu. Telah datang saat terputusnya takdir
kehidupannya di dunia ini, putriku. Tiba sudah saatnya untuk kembali ke alam akhirat! Wahai Fatimah
bagaimana kalau besok malam kamu menjadi tamuku?
Sebelum meninggal, Fatimah berlaku tidak biasa di dalam rumah dia menyisir Hasan dan Husein dengan
air mawar dan hati terus bergetar karena tahu dia akan meninggalkan dua buah hatinya. Dia dekap Hasan dan
Husein dan diciuminya dalam-dalam.
Ali termenung dan terus memandangi belahan hatinya tersebut. lantas Fatimah berkata, Wahai Ali.
Bersabarlah untuk deritamu yang pertama dan bertahanlah untuk deritamu yang kedua! Jangan engkau
melupakan diriku. Ingatlah diriku selalu mencintaimu dengan sepenuh jiwa. Engkau kekasihku, suamiku, teman
hidupku yang terbaik, teman diriku berbagi derita dan teman perjalananku
Lalu keempat orang itu menangis dan berpelukan. Fatimah lalu meminta kedua anaknya berziarah ke
pemakaman Baki. Anak-anaknya menurut. Untuk terakhir kali Fatimah memandang Ali Halal semua atasku
wahai cahaya kedua mataku, ujar Fatimah memohon maaf.
Fatimah berbaring dan menyuruh Asma binti Umais menyiapkan keperluan dan makanan. Tak disangka
beberapa waktu sebelum ditariknya nyawa Fatimah, dua anaknya kembali ke rumah. Fatimah pun menyuruh
lagi keduanya pergi ke Raudah, dia tidak ingin anaknya sedih melihatnya menghadap Ilahi.
Dalam kesakitannya, Fatimah berbisik kepada Ali. Dia menitipkan wasiat kepada Ali, yaitu permohonan
maaf kepada Ali, meminta Ali mencintai kedua anaknya, meminta dirinya dimakamkan pada malam hari agar
saat dikebumikan tidak banyak dilihat manusia, dan meminta Ali untuk sering mengunjungi makamnya.
Saat menitipkan wasiat, tiba-tiba dua anaknya kembali dari Raudah. Sadar kondisi ibunya, mereka mendekap
Fatimah erat-erat. Fatimah meminta keduanya agar jangan berpaling di jalan Al-Quran, jalan Rasulullah dan
melawan ayahnya.Fatimah meminta semua orang keluar dari kamarnya, dia hendak menyendiri dan ingin
bersama tuhannya. Fatimah berpesan jika tidak ada lagi sahutan dari dalam kamar maka jiwanya telah hilang.
Dalam sekejap Madinah telah kehilangan mawarnya saat Fatimah kembali keharibaan tuhan.
Sumber: Cerita Para Wali (FP)
KISAH TENTANG KHADIJAH ISTRI RASULULLAH SAW,
fiqhmenjawab.net ~ Bangsa arab dikenal sebagai bangsa yang buta huruf, tidak
pandai baca dan tulis. Akan tetapi, di kalangan suku Qurays pada waktu itu terdapat
seorang wanita bernama Khadijah, ia pintar membaca, ia bisa membaca kitab Taurat
dan Injil bahkan ia juga tekun mengkaji dan menelusuri makna-makna di dalam kedua

kitab tersebut. Sehingga ketika ia berusia dewasa antara 27 dan 28 tahun hatinya
menjadi gandrung dengan kitab Taurat, Injil dan sifat-sifat Nabi akhir zaman.
Khadijah mempunyai seorang guru yang bernama Waraqah bin Naufal. Waraqah
adalah seorang alim yang menunggu kedatangan Nabi akhir zaman. Di dalam sejarah
diterangkan bahwa seluruh penduduk Mekkah adalah penduduk yang buta huruf tetapi
tidak ada orang yang cerdik, pandai dan pintar dalam kitab-kitab kuno seperti Waraqah
bin naufal yang memiliki murid bernama Khadijah.
Ketika khadijah berusia 28 tahun Waraqah bin Naufal pernah menyatakan
kepadanya bahwa seakan-akan Nabi akhir zaman itu sudah lahir. Kemudian Khadijah
berkata :
Demi Allah, aku tidak akan menikah selamanya sehingga yang menikahiku adalah Nabi
akhir zaman.
Ketika berumur 30 tahun Khadijah berdagang. Ia mulai mengetahui bahwa ciri-ciri
Nabi akhir zaman itu terdapat di dalam diri Muhammad yang berasal dari keluarga Bani
Hasyim dan Bani Mutthalib. Akan tetapi Khadijah merasa ada yang masih belum pas
dengan ciri-ciri tersebut karena menurutnya belum ada kesinambungan antara
Muhammad dan Nabi-nabi sebelumnya.
Sepengetahuan Khadijah di dalam kitab Taurat dan Injil seorang Nabi setelah Nabi
Ibrahim sampai Nabi Isa itu pasti pernah melewati daerah Turisina, inilah menurut
Khadijah yang disebut sebuah kesinambungan. Tetapi, Muhammad yang ia tunggutunggu sebagai seorang Nabi akhir zaman itu belum pernah melintasi Turisina. Akhirnya,
Khadijah pun menunggu momen tersebut hingga di usianya yang ke 35 banyak laki-laki
yang meminangnya tapi ia menolak.
Tidak disangka-sangka, ketika Muhammad berusia 25 tahun beliau ingin
berdagang ke kota Syam. beliau menghampiri Khadijah untuk menjalin kesepakatan
dagang. Ketika itu Khadijah berusia 40 tahun, kemudian dalam dirinya Khadijah berkata
bahwa Muhammad benar-benar seorang Nabi, karena seseorang yang pergi dari Mekkah
menuju Syam itu pasti akan melalui daerah Turisina.
Khadijah menjalin kesepakatan dengan Muhammad, akad apakah perdagangan ini,
apakah akad peminjaman uang atau akad syirkah dagang. Kemudian Khadijah
meluruskan bahwa akad tersebut hendaknya disepakati sebagai akad syirkah dagang
saja, hal ini ia lakukan agar ia bisa mengawasi perjalanan Muhammad. Tapi Khadijah
sadar bahwa ia tidak bisa mengikuti rihlah dagang Muhammad ke kota Syam karena ia
seorang wanita. Ia pun mengutus seorang laki-laki kepercayaanya bernama Maisarah
untuk menemani Muhammad dan ia juga berpesan kepada Maisarah agar mencatat
seluruh perjalananya dengan Muhammad.
Maisarah mencatat semuanya, mulai dari adanya awan yang selalu mengikuti
Muhammad dan melindungi beliau dari panas matahari sampai pada hal terbesar yang
terjadi ketika ia dan Muhammad berada di kota Busra, tepatnya di Gereja Batu. Gereja
yang dihuni oleh seorang pendeta bernama Nestur.
Pada waktu itu pendeta Nestur melihat dua orang laki-laki yang singgah di depan
gerejanya. Ia mengamatinya dan ia tersadar bahwasanya salah satu diantaranya adalah

cikal bakal seorang Nabi akhir zaman setelah ia melihat tanda merah-merah di mata
Muhammad. Pendeta Nestur pun mengingatkan Maisarah untuk berhati-hati karena
orang yang berdagang bersamanya itu adalah seorang cikal bakal Nabi akhir zaman
karena terdapat tanda merah-merah di matanya.
Sepulangnya dari Syam Maisarah menceritakan kejadian yang ia alami kepada
Khadijah. Tapi, tanpa laporan dari Maisarahpun sebenarnya dalam hati Khadijah sudah
yakin bahwa Muhammad adalah seorang Nabi karena ia telah melewati daerah
Turisina.Setelah itu Khadijah melamar Muhammad, yang pada waktu itu merupakan
sebuah pemandangan langka di dataran arab, seorang wanita melamar laki-laki.
Pernikahan tersebut berlangsung dengan mahar sebanyak 100 onta. Allah Swt
berfirman,

Dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Kitab (Al-Quran) itulah yang
benar, dengan membenarkan kitab-kitab sebelumnya.
Perkara yang diwahyukan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad itu adalah perkara
haq yang bisa dibuktikan sesuai dengan kabar-kabar yang ada di dalam kitab-kitab
sebelumnya, dan Khadijah adalah seorang wanita yang mengetahui hal itu semua,
sebuah bukti bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang sangat alim.Oleh karena itu,
Khadijah merupakan pusat dan pokok dalam keimanan. Siapa saja yang beriman tidak
lepas dari orang-orang yang berada di bawah genggaman Khadijah. Abu Bakar beriman
karena beliau adalah orang terdekat sekaligus sekretaris Khadijah. Nabi Muhammad
pernah berkata, Wahai Abu Bakar, aku adalah kau, kau adalah aku. Nabi berkata
demikian karena beliau dan Abu Bakar sama-sama dekat dengan Khadijah. Ali bin Abi
Thalib dan Zaid beriman karena mereka berdua adalah anak angkat Khadijah. Bahkan,
Bilal bin Rabbah ketika dibebaskan oleh Abu Bakar uang yang digunakan juga tidak luput
dari uang Khadijah.
Artikel ini disarikan dari ceramah KH. Maimoen Zubair di Muryolobo
Dokter Fahmi Djakfar Saifuddin, Allah yarham, kakak kandung Mas Luqman yang saat ini Menteri Agama,
seorang dokter dan sahabat yang paling gemati (penuh perhatian) terhadap Gus Dur. .
Pak Fahmi telaten memberi perhatian pada pekerjaan Gus Dur, kegiatan sehari-harinya, keluarganya, bahkan
penampilannya. Apakah karena ia begitu terpesona oleh kehebatan Gus Dur hingga tergila-gila padanya?

dr. H. Fahmi Djakfar Saifuddin (kanan) bersama K.H. Achmad Shiddiq

Tidak. Pak Fahmi seorang dokter profesional yang sudah tidak gampang dibikin gumun oleh segala gejala
makhluk hidup. Kecerdasan Gus Dur yang jauh diatas rata-rata, buat dokter Fahmi normal saja, mengingat latar
belakang genetiknya. Keuletan Gus Dur yang tak tertandingi, buat dokter Fahmi cuma hasil logis dari sejarah
hidupnya.
Pak Fahmi habis-habisan menggemateni Gus Dur karena Pak Fahmi teramat mencintai Indonesia.
Demi Indonesia itu Pak Fahmi yakin harus mengelola NU. Karena skala NU adalah skala Indonesia.
Mengatur NU sama halnya mengatur Indonesia. Memperbaiki NU berarti memperbaiki Indonesia! begitu
kredonya.
Karena Gus Dur ada di pusat NU, maka ia pun di mata Pak Fahmi ada di pusat Indonesia. Dan demi
Indonesia itu, Pak Fahmi harus menelateni Gus Dur. Sebelum terbetik di benak siapa pun, Pak Fahmi termasuk
yang paling awal meyakini bahwa Gus Dur akan dan harus memimpin Indonesia.
Pak Fahmi melobi kesana-kemari agar Gus Dur sesudah terpilih sebagai Ketua Umum PBNU bisa masuk
menjadi salah satu anggota MPR-RI. Gus Mus memprotes upayanya,
Gus Dur cuma seorang diri apa bisa mempengaruhi anggota MPR ratusan begitu? Salah-salah malah dia yang
ketularan.
Justru maksudku supaya dia ketularan! Pak Fahmi ngotot, aku pengen dia itu paling tidak ketularan bisa
pakai jas dan sepatu. Karena suatu saat nanti dia akan membutuhkannya!
Sebagai dokter, Pak Fahmi tahu betul bahwa anak dan keluarga merupakan faktor pendukung penting bagi
kapasitas seorang pemimpin. Belum lagi kalau memikirkan kebutuhan regenerasi. Maka ketika Alissa, puteri
pertama Gus Dur, masuk Fakultas Psikologi UGM, Pak Fahmi tak membiarkannya luput dari perhatian.
Lisa masuk Psikologi itu idenya siapa? Proyeksi kedepannya bagaimana? Sampeyan mengharapkan dia nanti
jadi apa? Pak Fahmi mencecar Gus Dur dengan pertanyaan-pertanyaan tak habis-habisnya.
Gus Dur pun jadi risih campur geli,
Wong aku yang punya anak kok kamu yang repot to Miii Mi!
Sudah pasti perhatian Pak Fahmi kepada NU jauh lebih besar lagi. Selain bertungkus-lumus dengan urusan
PBNU, Pak Fahmi berkeliling Indonesia menemui kyai-kyai satu per satu, meniris segala pemikiran para kyai
itu tentang NU, ingatan mereka tentang sejarahnya, kegelisahan mereka, harapan-harapan mereka, gagasangagasan mereka. Setiap obrolan direkam penuh dalam tape-recorder untuk kemudian didokumentasikan rapi
sekali. Pak Fahmi punya satu kamar penuh di rumahnya berisi perpustakaan kaset rekaman pembicaraan para
kyai itu.
Selain orang-orang NU yang biasa-biasa saja di sembarang tempat, saat ini ada dua jenis orang NU yang agak
langka, Gus Dur berkata didepan orang banyak suatu kali, Yang pertama, NU GILA. Yaitu saya sendiri,
karena sering bikin pusing orang banyak. Yang kedua, GILA NU. Begitu tergila-gilanya pada NU sampaisampai hidupnya itu yang dipikir NUuuuuuu terus! Ini lho orangnya!
Gus Dur menunjuk dokter Fahmi.
Oleh : KH. Yahya Cholil Staquf
Mantan Jubir Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Katib Syuriah PBNU dan Pengasuh Pondok
Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang.

Oleh KH Mustofa Bisri


DutaIslam.Com - Seorang kawan budayawan dari satu daerah di Jawa Tengah yang biasanya hanya SMS-an
dengan saya, tiba-tiba siang itu menelpon. Dengan nada khawatir, dia melaporkan kondisi kemasyarakatan dan
keagamaan di kampungnya.
Keluhnya antara lain,Kalau ada kekerasan di Jakarta oleh kelompok warga yang mengaku muslim terhadap
saudara-saudaranya sebangsa yang mereka anggap kurang menghargai Islam, mungkin itu politis masalahnya.

Tapi ini di kampung, Gus, sudah ada kelompok yang sikapnya seperti paling Islam sendiri. Mereka dengan
semangat jihad, memaksakan pahamnya ke masyarakat. Sasarannya jamaah-jamaah di masjid dan surau. Rakyat
pada takut. Bahkan, naudzu billah, Gus, saking takutnya ada yang sampai keluar dari Islam. Ini bagaimana?
Harus ada yang mengawani masyarakat, Gus. NU dan Muhammadiyah kok diam saja ya?
Kondisi yang dilaporkan kawan saya itu bukanlah satu-satunya laporan yang saya terima. Ya, akhir-akhir ini
sikap perilaku keberagamaan yang keras model zaman Jahiliyah semakin merebak. Hujjah-nya, tidak tanggungtanggung seperti membela Islam, menegakkan syariat, amar makruf nahi munkar, memurnikan agama, dsb.
Cirinya yang menonjol : sikap merasa benar sendiri dan karenanya bila bicara suka menghina dan melecehkan
mereka yang tidak sepaham. Suka memaksa dan bertindak keras dan kasar kepada golongan lain yang mereka
anggap sesat. Seandainya kita tidak melihat mereka berpakaian Arab dan sering meneriakkan Allahu Akbar!,
kita sulit mengatakan mereka itu orang-orang Islam. Apalagi bila kita sudah mengenal pemimpin tertinggi dan
panutan kaum muslimin, Nabi Muhmmad SAW.
Seperti kita ketahui, Nabi kita yang diutus Allah menyampaikan firman-Nya kepada hamba-hamba-Nya, adalah
contoh manusia paling manusia. Manusia yang mengerti manusia dan memanusiakan manusia. Rasulullah SAW
seperti bisa dengan mudah kita kenal melalui sirah dan sejarah kehidupannya, adalah pribadi yang sangat
lembut, ramah dan menarik.
Diam dan bicaranya menyejukkan dan menyenangkan. Beliau tidak pernah bertindak atau berbicara kasar.

:

Duta Islam: http://www.dutaislam.com/2016/06/antara-dakwah-dan-menakuti.html#ixzz4Bz5mFYmi
Sahabat Anas r.a yang lama melayani Rasulullah SAW, seperti diriwayatkan imam Bukhari, menuturkan bahwa
Rasulullah SAW bukanlah pencaci, bukan orang yang suka mencela, dan bukan orang yang kasar.

:

Sementara menurut riwayat Imam Turmudzi, dari sahabat Abu Hurairah r.a: Rasulullah SAW pribadinya tidak
kasar, tidak keji, dan tidak suka berteriak-teriak di pasar.
Ini sesuai dengan firman Allah sendiri kepada Rasulullah SAW di Q. 3: 159, Fabima rahmatin minallaahi linta
lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhalqalbi lanfadhdhuu min haulika , Maka disebabkan rahmat dari
Alllah, kamu lemah lembut kepada mereka. Seandainya kamu berperangai keras berhati kasar, niscaya mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu
Jadi, kita tidak bisa mengerti bila ada umat Nabi Muhammad SAW, berlaku kasar, keras dan kejam. Ataukah
mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka yang begitu berbudi, lemah- lembut dan menyenangkan; atau
mereka mempunyai panutan lain dengan doktrin lain.

Atau mungkin sikap mereka yang demikian itu merupakan reaksi belaka dari kezaliman Amerika dan
Yahudi/Israel. Kalau memang ya, bukankah kitab suci kita al-Quran sudah mewanti-wanti, berpesan dengan
sangat agar kita tidak terseret oleh kebencian kita kepada suatu kaum untuk berlaku tidak adil.
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena Allah (bukan karena yang
lain-lain!), menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum
mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah
kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (Baca Q. 5: 9).
Hampir semua orang Islam mengetahui bahwa Rasulullah SAW diutus utamanya untuk menyempurnakan budi
pekerti. Karena itu, Rasulullah SAW sendiri budi pekertinya sangat luhur (Q. 68: 4). Mencontohkan dan
mengajarkan keluhuran budi. Sehingga semua orang tertarik . Ini sekaligus merupakan pelaksanaan perintah
Allah untuk berdakwah. Berdakwah adalah menarik orang bukan membuat orang lari. (Baca lagi Q. 3: 159!).
Bagaimana orang tertarik dengan agama yang dai-dainya sangar dan bertindak kasar tidak berbudi?
Melihat perilaku mereka yang bicara kasar dan tengik, bertindak brutal sewenang-wenang sambil membawabawa simbol-simbol Islam, saya kadang-kadang curiga, jangan-jangan mereka ini antek-antek Yahudi yang
ditugasi mencemarkan agama Islam dengan berkedok Islam.
Kalau tidak, bagaimana ada orang Islam, apalagi sudah dipanggil ustadz, begitu bodoh: tidak bisa membedakan
antara dakwah yang mengajak orang dengan menakut-nakuti yang membuat orang lari. Bagaimana mengajak
orang mengikuti Rasulullah SAW dengan sikap dan kelakuan yang berlawanan dengan sikap dan perilaku
Rasulullah SAW? [dutaislam.com/ ab]
Source: KBAswaja
Duta Islam: http://www.dutaislam.com/2016/06/antara-dakwah-dan-menakuti.html#ixzz4Bz5Nm0hg
Nikmati Syiir Tanpo Weton. Ketik *121*26# Call

Kamis, 19 Me 2016

Berikut aku turunkan


Pengantarku atas
Biografi salah
seorang tokoh
idolaku, Almarhum
walmaghfur lah KH.
Hamid Pasuruan;
barangkali ada yang
membaca buku
Biografi tersebut.
Semoga manfaat.

KataBuku

Oleh KH A. Mustofa

Bisri

Mungkin banyak
yang tidak tahu
shahabat Umar Ibn
Khatthab (40 S.H.
itu faqih mujtahid
fatwa-fatwanya
dibukukan orang dan
dikenal sebagai fiqh
Mungkin juga tak
banyak yang tahu
khalifah kedua ini
muhdats
(gampangnya, wali
menurut istilah di kita
sekarang).

orang
bahwa

A.
belum

23 H.)
dan
Umar.
bahwa
besar

Beliau pernah
mengomando
pasukan muslimin
yang
berada di luar negeri cukup dari mimbar mesjid di Madinah; pernah menyurati dan mengancam sungai Nil di
Mesir yang banyak tingkah, hingga nurut memberi manfaat manusia tanpa minta imbalan korban perawan
seperti semula-- sampai sekarang ini; sering dengan firasatnya, shahabat Umar menyelamatkan orang. Bahkan
khalifah yang pertama-tama dijuluki Amirul mukminin ini, pendapatnya sering selaras dengan wahyu yang
turun kemudian kepada Rasulullah SAW (Misalnya pendapat beliau tentang tawanan Badr, tentang pelarangan
khamr, tentang adzan, dsb.).
Namun manaqibnya jarang atau mungkin malah tidak pernah dibaca orang. Umumnya orang hanya mengenal
beliau sebagai pemimpin yang al-Qawwiyul Amien, yang kuat dan amanah. Pemimpin kelas dunia (bahkan
Michael Hart memasukkan beliau dalam 100 tokoh paling berpengaruh di dunia) yang sering di elu-elukan
sebagai Bapak Demokrasi yang penuh toleransi.
Boleh jadi juga banyak yang tidak tahu bahwa sahabat Abu Bakar Siddieq (51 S.H. 13 H.) adalah waliyullah
paling besar sepanjang zaman. Kebesarannya tampak sekali saat Rasulullah SAW wafat. Ketika semua orang,
bahkan shahabat Umar yang perkasa, terpukul dan panik penuh ketidakpercayaan, Sahabat Abu Bakar yang
pasti paling sedih dan paling merasa kehilangan dengan wafatnya sang kekasih agung itusedikit pun tidak
kelihatan guncang, apalagi kehilangan keseimbangan.

Sahabat nomor wahid itu bahkan masih sempat mengingatkan shahabat Umar dan yang lain tentang firman
Allah, Wamaa Muhammadun illa Rasuul qad khalat min qablihir rusul yaitu bahwa betapa pun besarnya
Muhammad SAW dia tetap manusia yang bisa mati. Hanya Allah yang hidup dan tak mati. Man kaana
yabudu Muhammadan fainna Muhammadan qad maat; waman yabuduLlaaha fainnaLlaha Hayyun la
yamuut; kata beliau saat itu menyadarkan shahabat Umar dan yang lain.
Wali mana yang lebih besar dari orang yang disebut Rasulullah SAW sebagai kekasihnya, Abu Bakar Shiddiq
ini? Sebagaimana shahabat Umar, juga jarang yang mengingat bahwa shahabat Abu Bakar juga mujtahid dalam
arti yang sesungguhnya. Umumnya orang hanya mengenal shahabat abu Bakar sebagai shahabat yang mulia
budi bahasanya, negarawan dan khalifah pertama Khulafa-ur Rasyidien.
Demikian pula shahabat-shahabat besar yang lain seperti sayyidina Utsman Ibn Affan (47 S.H. 35 H.) dan
sayyidina Ali Ibn Abi Thalib (W. 40 H.), kebanyakan orang hanya mengenal sebagian dari sosok mereka yang
paling menonjol; sehingga sisi-sisi kelebihan yang lain bahkan sering terlupakan. Dalam kitabnya Thabaqaat
al-Fuqahaa, imam Abu Ishaq as-Syairazy menempatkan Khulafa-ur Rasyidien secara berurutan-- di deretan
pertama tokoh-tokoh faqih dunia. Tapi siapakah yang tersadar bahwa tokoh-tokoh khulafa itu ahli fiqh juga?
Hal yang sama, dengan pencitraan yang berbeda-beda, terjadi pada tokoh-tokoh berikutnya. Imam Syafii (150
H.- 204 H.) misalnya, karena sudah terlanjur beken di bidang fiqh, apalagi menciptakan kaidah fiqh yang
sangat jenius dan spektakuler, banyak orang yang lupa bahwa beliau sebenarnya juga menguasai ilmu hadis dan
sastrawan yang handal; beliau mempunyai antologi puisi yang kemudian dikenal dengan Diewan Asy-Syafii.
Lebih sedikit lagi yang tahu bahwa Muhammad Ibn Idris ini juga mengerti tentang musik. Setiap orang
berbicara tentang imam Syafii boleh dikata hanya sebagai sosok faqih mujtahid belaka.
Lebih malang lagi adalah imam Ibn Taimiyah yang hanya gara-gara kemononjolannya dalam hal menentang
tawassul, oleh sebagian banyak orang khususnya pengagum Imam Ghazalyditolak seluruh pemikirannya
dan tidak dianggap sebagai imam yang alim dan mumpuni.
Syeikh Abdul Qadir Jailany (atau Jiely atau Kailany, 470-561 H. ) yang dijuluki Sulthaanul Auliyaa, Raja Para
Wali, barangkali tak banyak yang mengetahui bahwa beliau sebenarnya menguasai tidak kurang dari 12 ilmu.
Beliau mengajar ilmu-ilmu Qira'ah, Tafsir, Hadis, Perbandingan madzhab, Ushuluddin, Ushul Fiqh, Nahwu,
dlsb. Belia berfatwa menurut madzhab Syafii dan Hanbali. Namun karena orang melihat sosok akhlaknya yang
sangat menonjol, maka orang pun hanya melihatnya sebagai seorang sufi atau wali besar.
Demikianlah umumnya tokoh besar, sering divonis harus menjadi hanya sebagai atau dikurangi
kebesarannya oleh citra kebesarannya sendiri yang menonjol. Masyarakat tentu sulit diharapkan akan dapat
melihat kebesaran seseorang tokoh secara utuh, paripurna; karena justru masyarakatlah yang pertama-tama
terperangkap dalam sisi kebesaran yang menonjol dari sang tokoh dan kemudian tidak bisa melepaskan diri.
Karena bagi mereka cukuplah apa yang mereka ketahui dari sang tokoh itu sebagai keutuhan kebesarannya.
Barangkali disinilah pentingnya buku biografi seperti yang sekarang ada di tangan Anda. Biografi Almarhum
wal maghfurlah Kiai Haji Abdul Hamid yang dikenal dengan Kiai Hamid Pasuruan ini.
***
Saya mengenal secara pribadi sosok Kiai Abdul Hamid, ketika saya masih tergolong remaja, sekitar tahun 60an. Ketika itu saya dibawa ayah saya, KH Bisri Mustofa, ke suatu acara di Lasem. Memang sudah menjadi
kebiasaan ayah, bila bertemu atau akan bertemu kiai-kiai, sedapat mungkin mengajak anak-anaknya untuk
diperkenalkan dan dimintakan doa-restu. Saya kira ini memang merupakan kebiasaan setiap kiai tempo doeloe.
Waktu itu, di samping Kiai Hamid, ada Mbah Baidlawi, Mbah Maksum, dan kiai-kiai sepuh lain. Dengan mbah
Baidlawi dan mbah Maksum, saya sudah sering ketemu, ketika beliau-beliau itu tindak Rembang, atau saya

dibawa ayah sowan ke Lasem. Dengan kiai Hamid baru ketika itulah saya melihatnya. Wajahnya sangat
rupawan. Seperti banyak kiai, ada rona ke-Arab-an dalam wajah rupawan itu. Matanya yang teduh bagai telaga
dan mulutnya yang seperti senantiasa tersenyum, menebarkan pengaruh kedamaian kepada siapa pun yang
memandangnya.
Ayah saya berkata kepada Kiai Hamid, Ini anak saya Mustofa, Sampeyan suwuk! Dan tanpa terduga-duga,
tiba-tiba, kiai kharismatik itu mencengkeram dada saya sambil mengulang-ulang dengan suara lembut:
Waladush-shalih, shalih! Waladush-shalih, shalih!. Telinga saya menangkap ucapan itu bukan sebagai suwuk,
tapi cambuk yang terus terngiang; persis seperti tulisan ayah saya sendiri di notes saya: Liyakun waladul asadi
syiblan laa hirratan. (Anak singa seharusnya singa, bukan kucing!). Apalagi dalam beberapa kali petemuan
selanjutnya, cengkeraman pada dada dan ucapan lembut itu selalu beliau ulang-ulang. Tapi dalam hati, diamdiam saya selalu berharap cambuk itu benar-benar mengandung suwuk, doa restu.
Kemudian ketika saya sering berjumpa dalam berbagai kesempatan, apalagi setelah saya mulai mengenal
putera-putera beliau Gus Numan, Gus Nasih, dan Gus Idris , Kiai Hamid pun menjadi salah satu tokoh
idola saya yang istimewa. Pengertian idola ini, boleh jadi tidak sama persis dengan apa yang dipahami
kebanyakan orang yang mengidolakan beliau. Biasanya orang hanya membicarakan dan mengagumi karomah
beliau lalu dari sana, mereka mengharap berkah. Seolah-olah kehadiran Kiai Hamid Allah yunawwir dhariihah
hanyalah sebagai pemberi berkah kepada mereka yang menghajatkan berkah. Lalu beliau pun dijadikan
inspirasi banyak santri muda yang melihat dan mendengar karomah beliau-- ingin menjadi wali dengan jalan
pintas. Padahal berkah beliau, paling tidak menurut saya dengan alasan-alasan yang akan saya kemukakan
melalui kisah-kisah di belakanglebih dari itu.
Pernah suatu hari saya sowan ke kediaman beliau di Pasuruan. Berkat kolusi dengan Gus Numan, saya bisa
menghadap langsung empat mata di bagian dalam ndalem. Saya melihat manusia yang sangat manusia yang
menghargai manusia sebagai manusia. Bayangkan saja; waktu itu ibaratnya beliau sudah merupakan punjer-nya
tanah Jawa, dan beliau mentasyjie saya agar tidak sungkan duduk sebangku dengan beliau.
Ketawaduan, keramahan, dan kebapakan beliau, membuat kesungkanan saya sedikit demi sedikit mencair.
Beliau bertanya tentang Rembang dan kabar orang-orang Rembang yang beliau kenal. Tak ada fatwa-fatwa atau
nasihat-nasihat secara langsung, tapi saya mendapatkan banyak fatwa dan nasihat dalam pertemuan hampir satu
jam itu, melalui sikap dan cerita-cerita beliau. Misalnya, beliau menghajar nafsu tamak saya dengan terus
menerus merogoh saku-saku beliau dan mengeluarkan uang seolah-olah siap memberikannya kepada saya
(Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa salah satu hoby Kiai Hamid adalah membagi-bagikan uang). Atau
ketika beliau bercerita tentang kawan Rembang-nya yang dapat saya tangkap intinya: setiap manusia
mempunyai kelebihan di samping kekurangannya.
Ketika krisis melanda NU di tahun 80-an, saya nderekke para rais NU Wilayah Jawa Tengah, Almarhum Kiai
Ahmad Abdul Hamid Kendal, Almarhum Kiai A. Malik Demak, dan Kiai Sahal Machfudz Kajen, sowan ke
kediaman kiai saya, Kiai Ali Maksum Krapyak Yogya Allah yarhamuhyang waktu itu Rais Am. Kebetulan
pada waktu itu Kiai Hamid sudah ada disana.
Seperti biasa dengan nada berkelakar, Pak Ali demikian santri-santri Kiai Ali selalu memanggil beliau
berkata kepada Kiai Hamid: Iki lho, Mustofa kandani, seneni! (Ini lho Mustofa dinasihati, marahi!).
Memang ketika itu saya sedang ada polemik dengan kiai saya yang liberal itu. Sekali lagi saya saksikan Kiai
Hamid dalam memenuhi permintaan sahabat-karibnya itudengan kelembutannya yang khas, hanya bercerita.
Saya tidak bisa bernasihat; mau menasihati apa? Tapi saya ingat dulu Syaikhuna demikian beliau memulai.
Dan, masya Allah, dari cerita beliau, semua yang hadir merasa mendapat petuah yang sangat berharga;
khususnya bagi kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat. Prinsip-prinsip penting organisasi, beliau
sampaikan --dengan metode cerita sama sekali tanpa nada indoktrinasi atau briefing; apalagi menggurui. Luar
biasa!
Sengaja saya ceritakan beberapa pengalaman pertemuan saya dengan Kiai Hamid di atas, selain sebagai

tahadduts bin-nimah, saya ingin menunjukkan bahwa beliau memiliki karomah yang lain, yang lain dari yang
dipahami banyak orang. Sebenarnya buku yang sekarang ada di tangan Anda, sudah cukup memberikan
gambaran agak utuh tentang sosok beliau; khususnya yang berkaitan dengan sifat-sifat keteladanan beliau.
Tentang penguasaan ilmu, akhlak, dan perhatian beliau terhadap umat. Pendek kata tentang hal-hal yang di
masa kini sudah terbilang langka.
Yang kiranya masih perlu dibeber lebih luas adalah proses yang berlangsung, yang membentuk seorang santri
Abdul Muthi menjadi Kiai Abdul Hamid. Tentang ketekunan beliau mengasah pikir dengan menimba ilmu;
tentang perjuangan beliau mencemerlangkan batin dengan penerapan ilmu dalam amal dan mujahadah; dan
kesabaran beliau dalam mencapai kearifan dengan terus belajar dari pergaulan yang luas dan pengalaman yang
terhayati. Sehingga menjadi kiai yang mutabahhir, yang karenanya penuh kearifan, pengertian, dan tidak
kagetan.
Kiai Hamid bukanlah Wali Tiban. Wali Tiban, kalau memang ada, tentu berpotensi kontroversial dalam
masyarakat. Kiai Hamid tidak demikian. Beliau dianggap wali secara muttafaq alaih. Bahkan ayah saya,
Kiai Bisri Mustofa dan guru saya Kiai Ali Maksum keduanya adalah kawan-karib Kiai Hamid-- yang paling
sulit mempercayai adanya wali di zaman ini, harus mengakui, meskipun sebelumnya sering meledek kewalian
kawan-karib mereka ini.
Banyak orang alim yang tidak mengajarkan secara tekun ilmunya dan tidak sedikit yang bahkan tidak
mengamalkan ilmunya. Lebih banyak lagi orang yang tidak secara maksimal mengajarkan dan atau
mengamalkan ilmunya. Sebagai contoh, banyak kiai yang menguasai ilmu bahasa dan sastra (Nahwu, sharaf,
Balaghah, Arudl, dsb.), namun jarang di antara mereka yang mengamalkannya bagi memproduksi karya
sastra.
Kebanyakan mereka yang memiliki ilmu bahasa dan sastra itu menggunakannya hanya untuk membaca kitab
dan mengapresiasi, menghayati keindahan, kitab suci Al-Quran. Tentu tak banyak yang mengetahui bahwa salah
satu peninggalan Kiai Hamid rahimahuLlahadalah naskah lengkap berupa antologi puisi.
Banyak kiai yang karena ke-amanah-annya mendidik santri, sering melupakan anak-anak mereka sendiri. Kiai
Hamid, seperti bisa dibaca di buku biografi ini, bukan saja mendidik santri dan masyarakat, tapi juga sekaligus
keluarganya sendiri.
Dari sosok yang sudah jadi Kiai Hamid, kita bisa menduga bahwa penghayatan dan pengamalan ilmu itu sudah
beliau latih sejak masih nyantri. Demikian pula pergaulan luas yang membangun pribadi beliau, sudah beliau
jalani sejak muda, sehingga beliau menjadi manusia utuh yang menghargai manusia sebagai manusia; bukan
karena atribut tempelannya. Dan kesemuanya itu melahirkan kearifan yang dewasa ini sangat sulit dijumpai di
kalangan tokoh-tokoh yang alim.
Wabadu; sebelum saya menulis pengantar ini, saya sudah salat sunah dua rakaat; namun saya masih tetap
merasa tidak sopan dan tidak sepantasnya berbicara tentang Kiai Hamid seperti ini dan khawatir kalau-kalau
beliau sendiri tidak berkenan. Kelembutan dan kearifan beliau seperti yang saya kenallah yang membuat saya
berani menuruti permintaan Gus Idris dan pihak Yayasan Mahad As-Saafiyah Pasuruan untuk menulis.
Semoga tulisan saya ini termasuk menuturkan kemuliaan orang salih yang dapat menurunkan rahmat Allah. Idz
bidzikrihim tatanazalur rahamaat. Dan mudah-mudahan masyarakat tidak hanya mendapat berkah dari manakib
beliau ini, tapi lebih jauh dapat menyerap suri tauladan mulia dari sierah dan perilaku beliau. Allahumma
nfanaa biuluumihil qayyimah wa akhlaaqihil kariemah. Amin.
Rembang, 1 Shafar 1424

Duta Islam: http://www.dutaislam.com/2016/05/kh-abdul-hamid-pasuruan-bukan-walitiban.html#ixzz4Bz6g6tfz