Anda di halaman 1dari 30

Metode titrasi langsung dinamakan iodimetri mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar

.Sedangkan metode titrasi tak langsung dinamakan iodometri adalah berkenaan dengan titrasi dari iod
yang dibebaskan dalam reaksi kimia. Dalam kebanyakan titrasi langsung dengan iod ,digunakan suatu
larutan iod dalam kalium iodide, dan karena itu spesi reaktifnya adalah ion triiodida. Zat-zat pereduksi
yang kuat ( zat-zat dengan potensial yang jauh lebih rendah), seperti timah(II)klorida, asam sulfat,
hydrogen sulfida, dan natrium tiosulfat bereaksi lengkap dan cepat dengan iod, bahkan dalam larutan
asam. Dengan zat pereduksi yang agak lemah, misal arsen trivalent, atau stibium trivalent, reaksi yang
lengkap hanya akan terjadi bila larutan dijaga tetap netral atau sangat sedikit suasana asam. Pada kondisi
ini potensial reduksi dari zat pereduksi adalah minimum, atau daya mereduksinya adalah maksimum
(Sinaga, 2011). Metode pengukuran konsentrasi larutan menggunakan metode titrasi yaitu suatu
penambahan indikator warna pada larutan yang diuji, kemudian ditetesi dengan larutan yang merupakan
kebalikan sifat larutan yang diuji. Pengukuran kadar Vitamin C dengan reaksi redoks yaitu menggunakan
larutan iodin (I
2
) sebagai titran dan larutan kanji sebagai indikator. Pada proses titrasi, setelah semua Vitamin C bereaksi
dengan Iodin, maka kelebihan iodin akan dideteksi oleh kanji yang menjadikan larutan berwarna biru
gelap (Pratama, 2011). Iod dalam jumlah kecil dapat diperoleh dari ganggang laut yang dikeringkan,
karena beberapa tanaman laut dapat meneyerap dan memekatkan I-, secara selektif dari kehadiran Cl- dan
Br-. Dari sumber ini oksidasi I- dengan bermacam pengoksidasi dimungkinkan.dari segi komersial , iod
kurang penting dari brom dan klor sekalipun senyawanya dapat diterapkan sebagai katalis (petrucci,
1987 : 53).
ALAT dan BAHAN
alat yang digunakan pada pratikum adalah: Lumpang alu Kaca arloji Neraca analitik Gelas kimia Gelas
ukur Labu Erlenmeyer Corong Buret Statif klem Bahan yang digunkan pada praktikum adalah: Vitamin
C Aquades H2SO4 10 % Indikator amilum 1 % Larutan Iodin 0,1 M

LANGKAH KERJA
Langkah kerja yang dilakukan yaitu: 1.
Menghaluskan vitamin C menggunakan lumpang alu 2.
Menimbang 0,5 gram dan melarutkan dengan 100 ml aquades 3.
Mengambil 25 ml sampel dan masukkan ke dalam labu Erlenmeyer 4.
Menambahkan dengan 5 ml H2SO4 10 % dan 6 tetes indikator amilum 1 % 5.
Menitrasi dengan larutan iodin 0,1 M hingga terbentuk warna biru. Melakukan titrasi secara duplo.
HASIL PENGAMATAN dan PEMBAHASAN
Data hasil pengamatan: Perlakuan Pengamatan Vitamin C 0,5 gram + 100 ml aquades Larutan jernih agak
kekuningan. 25 ml larutan vit. C + H2SO4 5 ml 10 % Larutan tetap jernih kekuningan + 20 tetes indikator
amilum Larutan menjadi putih Titrasi dengan iodin Warna larutan ungu Volume iodin pada titasi 1 : 0,8
mL Volume iodin pada titrasi 2 : 0,5 mL Volume iodin rata-rata : 0,65 mL Perhitungan: M Iodin x V iodin
= M sampel X Vsampel 0,1 M X 0,65 ml = M sampel x 25 ml M sampel = 0,0026 M M
vit C
xV
vit C

=M
iodin
xV
iodin


xV
vit C
=M
iodin
xV
iodin
gr
vit C
= (M
iodin
xV
iodin
) x BM
vit C
gr
vit C
= (0,1 M x 0,65 mL) x 176,13 gr
vit C
= 11,44 gram Persamaan reaksi: C
6
H
8
O
6
+I
2
C
6
H
6
O
6
+ 2I
+ 2H
+
Kadar vitamin C ditetapkan berdasarkan prinsip reduksi oksidasi yaitu dengan menggunakan titrasi
iodimetri atau titrasi langsung. Dalam hal ini I2 atau iod adalah sebagai titrant. Prinsip titrasi ini adalah
analat atau contoh dioksidasi oleh I2 sehingga I2 tereduksi menjadi ion iodida. I2 merupakan oksidator
yang tidak terlalu kuat sehingga hanya zat-zat yang merupakan reduktor yang cukup kuat yang dapat
dititrasi. Indikator yang digunakan adalah amilum dengan perubahan warna dari tak berwarna menjadi

biru. Iod sebagai zat padat sukar larut dalam air tetapi sangat mudah larut dalam larutan KI karena
membentuk I
3. Larutan iod dibuat dengan KI sebagai pelarut. Larutan iod ini bersifat tidak stabil sehingga perlu
distandarisasi berulangkali terutama apabila akan dipakai sebagai titrant. Ketidakstabilan larutan iod
disebabkan oleh penguapan iod, reaksi iod dengan karet, gabus dan bahan organic lain yang mungkin
masuk dalam larutan lewat debu dan asap, serta disebabkan oleh oksidasi olleh udara pada pH rendah.
Oksidasi ini dipercepat oeh cahaya dan panas. Maka hendaknya larutan ini disimpan pada tempat yang
sejuk dengan botol berwarna gelap. Selain itu juga harus dihindarkan kontak dengan bahan organic
maupun gas mereduksi seperti SO2 dan H2S. Bahan baku primer yang digunakan untuk menstandarisasi
iod adalah Na2S2O3 dan As2O3. Penetapan kadar vitamin C dilakukan dengan terlebih dahulu
melakukan preparasi sampel. Preparasi sampel dilakukan dengan cara menghaluskan sampel dengan
menggunakan mortar, selanjutnya menimbang 5 g sampel yang telah dihaluskan lalu memasukkannya
dalam labu erlenmeyer 100 mL. Diencerkan dengan aquadest sampai tanda tera. Tujuan dari pengenceran
ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi analat yang sekecil mungkin. Kocok agar larutan homogen.
Pipet sebanyak 25 mL larutan sampel kedalam Erlenmeyer. Tambahkan 1 mL indikator amilum 1%
kemudian dititrasi dengan larutan iodium 0,1 M. Titrasi dilakukan hingga tercapai titik akhir titrasi yang
ditandai dengan perubahan warna biru kehitaman.

Laporan Kimia Analisis - Penetapan Kadar Vitamin C

PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS I


PERCOBAAN IV
PENETAPAN KADAR VITAMIN C

OLEH :
NAMA

: APRYLLIA NANDA TUMANAN

NIM

: F1F1 13 132

KELOMPOK

: III (TIGA)

KELAS

: C

ASISTEN

: MUH. JEFRIYANTO B.

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2014

PENENTUAN KADAR VITAMIN C


A.

TUJUAN
Tujuan dalam percobaan ini adalah untuk menetapkan kadar vitamin C (asam askorbat)

secara iodimetri.
B.

LANDASAN TEORI
Analisis kuantitatif merupakan analisis yang berkaitan dengan penetapan berapa banyak

suatu zat tertentu yang terkandung dalam suatu sampel. Zat yang ditetapkan tersebut, disebut
sebagai konstituen atau analit, menyusun entah sebagian kecil atau sebagian besar sampel yang
dianalisis. Jika zat yang dianalisa menyusun lebih dari 1 % dari sampel, maka analit ini dianggap
sebagai konstituen utama. Suatu zat dianggap sebagai konstituen minor jika jumlahnya antara
0,01 % hingga 1 % dari sampel (Underwood, 2002).
Analisa volumetri merupakan salah satu metode analisa kuantitatif, yang sangat penting
penggunaannya dalam menentukan konsentrasi zat yang ada dalam larutan.keberhasilan analisa
volumetri ini sangat ditentukan oleh adanya indikator yang tepat sehingga mampu menunjukkan
titik akhir titrasi yang tepat (Harjanti, 2008).

Iodimetri adalah analisa titrimetri untuk zat-zat reduktor seperti natrium tiosulfat, arsenat
dengan menggunakan larutan iodin baku secara langsung. Iodometri adalah analisa titrimetri
untuk zat-zat reduktor dengan penambahan dengan penambahan larutan iodin baku berlebihan
dan kelebihannya dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat baku. Pada titrasi iodimetri titrasi
oksidasi reduksinya menggunakan larutan iodum. Artinya titrasi iodometri suatu larutan
oksidator ditambahkan dengan kalium iodida berlebih dan iodium yang dilepaskan (setara
dengan jumlah oksidator) ditirasi dengan larutan baku natrium tiosulfat (Irjawati, 2012).
Vitamin C atau asam L-asam askorbat merupakan senyawa yang bersifat asam dengan
rumus empiris molekul = 176,13. Vitamin C digunakan sebagai anti oksidan untuk membentuk
kolagen serta membantu memelihara pembuluh kapiler, tulang dan gigi. Kadar vitamin C dalam
larutan menggunakan titrasi redoks iodimetri dengaqn mengunakan larutan indicator kanji
(starch) yaitu dengan menambahkan sedikit demi sedikit larutan iodin (I2) yang diketahui
molaritasnya sampai mencapai titik keseimbangan yang ditandai dengan perubahan warna
larutan menjadi biru pekat (Pratama dkk, 2011).
Vitamin C (asam oskorbat) merupakan salah satu vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh
manusia. Kekurangan vitamin C telah dikenal sebagai penyakit sariawan dengan gejala seperti
gusi berdarah, sakit lidah, nyeri otot dan sendi, berat badan berkurang, lesu dan lain-lain. Vitamin
C mempunyai peranan yang penting bagi tubuh manusia seperti dalam sintesis kolagen,
pembentukan camitime, terlibat dalam metabolism kolesterol menjadi asam empedu dan juga
berperan dalam pembentukan neurotransmitter norepinefrin. Vitamin C mempunyai sifat
antioksidan yang dapat melindungi molekul-molekul yang sangat diperlukan oleh tubuh, seperti
protein, lipid, karbohidrat dam asam nukleat dari kerusakan oleh radikal bebas dan reaktif
oksigen spesies (Arifin dkk, 2007).

Vitamin C mudah teroksidasi jika terkena udara dan proses ini dipercepat oleh panas,
sinar, alkali, enzim, oksaidator, serta katalis tembaga (Cu) dan besi (Fe). Hal-hal tersebut
menimbulkan masalah apakah ada pengaruh suhu dan waktu penyimpanan terhadap vitamin C
dalam jambu biji. Untuk itu perlu dibuktikan dengan suatu penelitian tentang penentuan kadar
vitamin C dalam jambu biji yang disimpan dalam buah jambu biji yang disimpan dalam jangka
waktu tertentu dan pada suhu yang berbeda (Masfufatun dkk, 2009).
Asam L-askorbat dengan adanya enzim asam askorbat oksidase akan teroksidasi menjadi
asam L-dehidroaskorbat. Asam ini secara kimia juga sangat labil dan mengalami perubahan lebih
lanjut menjadi asam L-diketogulonat yang tidak lagi memiliki keaktifan sebagai vitamin C.
Suasana basa menyebabkan asam Ldiketogulonat teroksidasi menjadi asam oksalat dan asam Ltreonat (Safaryani dkk, 2007).

C.
1.

ALAT DAN BAHAN

Alat
Alat yang dugunakan dalam percobaan ini adalah :

2.

Bahan

Batang pengaduk
Buret 50 ml
Gelas kimia 100 ml
Gelas kimia 100 ml
Hot plate
Labu Erlenmeyer 250 ml
Pipet tetes
Statif dan klem
Timbangan analitik
Filler

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :


Aquades
Asam sulfat encer (H2SO4)
Larutan Iodium (I2) 0,1 N
Larutan Kanji 0,5%
Vitacimin

D.

PROSEDUR KERJA
Vitacimin

Digerus hingga halus


Ditimbang sebanyak 0,4 gram
Diencerkan dengan aquades
Ditambahkan asam sulfat encer 5 tetes
Larutan Vitacimin

Diambil 5 ml
Dimasukkan kedalam Erlenmeyer 250 ml
Ditambahkan 5 tetes indicator kanji
Dititrasi dengan larutan iodium hingga berubah warna

Hasil Pengamatan

E.
1.

HASIL PENGAMATAN

Data Pengamatan
No

Perlakuan

Hasil

2.

1.

Sampel + H2SO4 encer + air

2.

Dititrasi denga KI 0,1 N

Data perhitungan
Kadar vitacimin
Dik : VI2 = 9 ml
BE = 8,806 mg
Mg sampel : 400 mg
NI2 = 0,1 N

Larutan bening
Larutan biru

Dit : Kadar Vitamin C = ..?


Penyelesaian :
Kadar Vitamin C

= VI2xNI2xBE
mg sampel
= x 100%
= x 100
= 1,98%

F.

PEMBAHASAN
Iodimetri merupakan titrasi dengan I2 sebagai peniter. Dalam reaksi redoks harus selalu

ada oksidator (yang mengalami reduksi) dan reduktor (yang mengalami oksidasi). Sebab bila
suatu unsur bertambah bilangan oksidasinya (melepaskan e -) maka harus ada suatu unsur
berkurang bilangan oksidasinya (menangkap e-). Jadi tidak mungkin hanya ada oksidator saja
ataupun reduktor saja.
Pada percobaan ini, adalah penetapan kadar Vitamin C dengan metode iodimetri yang
menggunakan indikator kanji. Indicator kanji lebih lazim digunakan, karena warna biru tua
kompleks pati-iod berperan sebagai uji kepekaan terhadap iod. Kanji bereaksi dengan iod,
dengan adanya iodide membentuk suatu kompleks yang berwarna biru kuat, yang akan terlihat
pada konsentrasi-konsentrasi iod yang sangat rendah.
Kanji tidak dapat digunakan dalam medium yang sangat asam karena akan terjadi
hidrolisis pada kanji itu sendiri. Keunggulan pada pemakaian kanji ini yaitu bahwa harganya
murah, namun terdapat kelemahan-kelemahan yaitu bersifat tidak dapat larut dalam air dingin,
ketidak stabilan suspensinya dalam air dan dengan iod memberi suatu kompleks yang tak dapat
larut dalam air, sehingga kanji tidak boleh ditambahkan terlalu dini dalam titrasi (karena itu,

dalam titrasiiod larutan kanji hendaknya tak ditambahkan sampai tepat sebelum titik akhir, ketika
warna mulai memudar).
Iod merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat (lemah) , sehingga hanya zat-zat yang
merupakan reduktor kuat yang dapat dititrasi. Indikator yang digunakan adalah amilum yang
akan memberikan warna biru pada titik akhir titrasi. Larutan I2 dibuat dengan melarutkan I2
murni selanjutnya distandarisasi dengan Na-tiosulfat. dilarutkan dalam natrium hidroksida dan
kemudian dinetralkan dengan penambahan asam. Disebabkan kelarutan iodine dalam air nilainya
kecil maka larutan I2 dibuat dengan melarutkan I2 dalam larutan KI, dengan demikian dalam
keadaan sebenarnya yang dipakai untuk titrasi adalah larutan I3. Pada saat reaksi oksidasi, iodium
akan di reduksi menjadi iodide sesuai dengan rekasi:
I2 + 2e

2I

Pada perlakuan yang kami lakukan adalah penetapan kadar senyawa asam askorbat pada
sediaan Vitacimin. 0,2 gram sampel ditambah dengan aquades dan asam sulfat encer 5 tetes.
Asam sulfat encer yang berfungsi sebagai katalisator yang untuk mempercepat reaksi tanpa ikut
bereaksi dalam sampel sehingga terjadi hasil reaksi yang murni antara asam askorbat dan iodium
beserta indicator. Setelah ditambahkan indikator kanji sebanyak 5 tetes dan dititrasi dengan
larutan baku standar I2 0,1 N tetes demi tetes. Hasil yang didapatkan pada titik akhir titrasi adalah
larutan sampel yang semula berwarna kuning setelah ditambahkan I2 0,1 N berubah menjadi biru
tua. Dengan reaksi yang terjadi antara asam askorbat dan I2 yaitu:

Dari data hasil perhitungan kadar senyawa asam askorbat dalam sampel Vitacimin C
diperoleh hasil. Kadar asam askorbat pada sediaan Vitacimin C sebesar 43,14%.

G.

KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : Penetapan kadar

Vitamin C dengan metode iodimetri pada sediaan Vitacimin C adalah sebesar 1,98%

LAPORAN KULIAH : PENETAPAN KADAR VITAMIN C

LABORATORIUM KIMIA ANALISIS FARMASI


FAKULTAS FARMASI

PENETAPAN KADAR VITAMIN C

OLEH :
NAMA
NIM
KELAS

: INES SEPTIANI PRATIWI


: F1F1 12 035
:A

LABORATORIUM KIMIA ANALISIS FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2013

PENETAPAN KADAR VITAMIN C

A. TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menetapkan kadar vitamin C (asam askorbat)
secara iodimetri
B.

LANDASAN TEORI
Titrasi redoks adalah titrasi yang melibatkan proses oksidasi dan reduksi. Kedua proses
ini selalu terjadi secara bersamaan. Dalam titrasi redoks biasanya menggunakan potensiometri
untuk mendeteksi titik akhir. Untuk mengetahui kadar vitamin C metode titrasi redoks yang
digunakan adalah titrasi langsung yang menggunakan iodium. Iodium akan mengoksidasi
senyawa-senyawa yang mempunyai potensial reduksi yang lebih kecil dibanding iodium.
Vitamin C mempunyai potensial reduksi yang lebih kecil daripada iodium sehingga dapat
dilakukan titrasi langsung dengan iodium. Pendeteksian titik akhir pada titrasi iodimetri ini
adalah dilakukan dengan menggunakan indikator amilum yang akan memberikan warna biru
pada saat tercapainya titik akhir (Gandjar, dkk., 2007).
Vitamin C disebut juga asam askorbat, struktur kimianya terdiri dari rantai 6 atom C dan
kedudukannya tidak stabil (C6H8O6), karena mudah bereaksi dengan O2 di udara menjadi asam
dehidroaskorbat merupakan vitamin yang paling sederhana. Sifat vitamin C adalah mudah
berubah akibat oksidasi namun stabil jika merupakan kristal (murni). mudah berubah akibat
oksidasi, tetapi amat berguna bagi manusia (Safaryani, dkk., 2007).
Vitamin C adalah salah satu vitamin yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Vitamin C
mempunyai peranan yang penting bagi tubuh. Vitamin C mempunyai sifat sebagai antioksidan
yang dapat melindungi molekul-molekul yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Vitamin C juga
mempunyai peranan yang penting bagi tubuh manusia seperti dalam sintesis kolagen,

pembentukan carnitine, terlibat dalam metabolism kolesterol menjadi asam empedu dan juga
berperan dalam pembentukan neurotransmitter norepinefrin. (Arifin, dkk., 2007).
Pemberian kombinasi vitamin C dengan bioflavonoid dapat menghalangi dan
menghentikan pembentukkan superoksida dan hydrogen peroksida, sehingga dapat mencegah
terjadinya kerusakan jaringan akibat oksidan. Suplemen vitamin C diantaranya adalah kombinasi
vitamin C dan bioflavonoid, dipasaran diantaranya adalah Ester C . Bioflavonoid berfungsi
meningkatkan efektivitas kerja vitamin C sehingga dapat mengurangi konversi asam askorbat
menjadi dehidroaskorbat. Vitamin C juga mengandung likopen, likopen merupakan senyawa
potensial untuk antikanker dan mempunyai aktifitas antioksidan dua kali lebih kuat dari beta
karoten (Wahyuni, dkk., 2008).
Asam askorbat terbukti berkemampuan memerankan fungsi sebagai inhibitor. Kristal
asam askorbat ini memiliki sifat stabil di udara, tetapi cepat teroksidasi dalam larutan dan dengan
perlahan-lahan berdekomposisi menjadi dehydro-ascorbic acid (DAA). Selanjutnya secara
berurutan akan berdekomposisi lagi menjadi beberapa molekul asam dalam larutan sampai
menjadi asam oksalat (oxalic acid) dengan pH di atas 4. Pengaruh perubahan lingkungan asam
askorbat tertentu tidak berfungsi sebagai inhibitor (Tjitro, dkk., 2000).

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
2.

Buret
Lumpang dan alu
Statif dan klem
Labu takar
Erlenmeyer
Gelas kimia
Pipet tetes
Botol semprot
Timbangan analitik
Sendok tanduk
Hot plate
Batang pengaduk
Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:

Vitamin C
Larutan iodium
Larutan kanji
Aquades
H2SO4
D. URAIAN BAHAN
1. Vitamin C (Dirjen POM, 1979).
Sinonim
: asam askorbat
Berat molekul : 176,13
Rumus molekul
: C6H8O6
Kelarutan
: mudah larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol
(95%); praktis tidak larut dalam kloroform, dalam eter dan
dalam benzen
Pemerian
: serbuk atau hablur; putih atau agak kuning; tidak berbau;

2.

rasa asam
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
Kegunaan
: sebagai sampel
Aquades (Dirjen POM, 1979).
Sinonim
: aqua destillata
Berat molekul : 18,02
Rumus molekul
: H2O

Pemerian

3.

4.

mempunyai rasa
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Kegunaan
: sebagai pengencer
Kanji (Dirjen POM, 1979).
Sinonim
: amylum manihot
Kelarutan
: larut dalam air panas, membentuk atau menghasilkan
larutan agak keruh
Pemerian
: serbuk putih, hablur
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, di tempat sejuk dan kering
Kegunaan
: sebagai indikator
Iodium (Dirjen POM, 1995).
Sinonim
: iodium
Berat molekul : 126,91
Rumus molekul
: I2
Kelarutan
: keping atau butir, mengkilat seperti logam, hitam kelabu,
Pemerian

5.

: cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak

bau khas
: sukar larut dalam air, mudah larut dalam garam iodida,

mudah larut dalam etanol 95%


Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan
: sebagai larutan baku
Asam sulfat (Dirjen POM, 1979).
Sinonim
: acidum sulfuricum
Berat molekul : 98,07
Rumus molekul
: H2SO4
Pemerian
: cairan kental seperti minyak, korosif, tidak berwarna; jika
ditambahkan ke dalam air menimbulkan panas
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan
: sebagai zat tambahan

E.
1.

PROSEDUR KERJA
Kanji
Pembuatan larutan kanji

- ditimbang 0,1 g
diencerkan dengan aquades dalam gelas kimia hingga 50 ml
dipanaskan hingga terbentuk larutan kanji yang agak bening
Indikator kanji 0,5%

2.
VitaminC
Penetapan kadar vitamin C

digerus dan ditimbang 0,05g

Larutanvitamin C
diencerkan dengan aquades dalam labu takar 100 ml sampai tanda tera
-

- dipipet sebanyak 5 ml ke dalam Erlenmeyer


diteteskan dengan larutan kanji 0,5% sebanyak 10 tetes
dititrasi dengan larutan I2
Larutan berwarna biru

F. HASIL PENGAMATAN
Diketahui
: VI2
= 0,5 ml
BE
= 8,806 mg
mg sampel = 0,05 g = 50 mg
Ditanyakan : Kadar vitamin C = ?
Penyelesaian :
Kadar vitamin C
= VI2 x BE
x 100%
mg sampel
= 0,5 ml x 8,806 mg
x 100%
50 mg
= 4,403
x 100%
50
= 8,806%

G. PEMBAHASAN
Pada percobaan ini, dilakukan penetapan kadar vitamin C dengan metode iodimetri.
Iodimetri adalah titrasi langsung dan merupakan metode penentuan atau penetapan kuantitatif
yang dasar penentuannya adalah jumlah I 2 yang bereaksi dengan sampel atau terbentuk dari hasil
reaksi antara sampel dengan ion iodida. Iodimetri adalah titrasi redoks dengan I 2 sebagai
pentiternya. Dalam reaksi redoks harus selalu ada oksidator dan reduktor , sebab bila suatu unsur
bertambah bilangan oksidasinya (melepaskan elektron), maka harus ada suatu unsur yang
bilangan oksidasinya berkurang atau turun (menangkap elektron). Dalam bidang farmasi
penetapan ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui kadar yang terkandung di dalam suatu
sediaan, apakah sudah sesuai dengan aturan atau tidak.
Sampel yang digunakan dalam percobaan ini adalah vitamin C dengan merek vitacimin.
Indikator yang digunakan adalah indikator kanji. Kanji digunakan karena akan membentuk
kompleks iod amilum yang berwarna biru tua meskipun konsentrasi I 2 sangat kecil dan molekul
iod terikat kuat pada permukaan beta amilosa seperti amilum. Indikator kanji yang digunakan
harus dalam keadaan panas agar mendapatkan hasil titrasi yang maksimal dan juga karena kanji
tidak dapat larut jika tidak dipanaskan. Tetapi, dalam pemanasannya harus diperhatikan agar
larutan kanji tersebut tidak berubah menjadi encer.
Sebelum melakukan pentitrasian vitamin C yang telah digerus dan diencerkan, terlebih
dahulu dicampur dengan larutan asam pekat. asam pekat yang digunakan disini adalah asam
sulfat encer (H2SO4). Hal ini dilakukan karena vitamin C yang telah diencerkan dengan aquades,
kadar keasamannya akan menurun, sehingga harus ditambahkan dengan larutan asam agar
vitamin C selalu berada dalam keadaan asam, sebab jika tidak maka hasil titrasi tidak akan
maksimal.

Kemudian larutan vitamin C dititrasi secara perlahan-lahan dengan larutan iodium.


Ketika akan mencapai batas akhir titrasi larutan vitamin C terkadang menimbulkan warna biru
akan tetapi warna biru tersebut hilang lagi. Hal ini dikarenakan masih ada vitamin C yang belum
bereaksi dengan larutan iodium. Setelah beberapa saat maka didapatkanlah hasil larutan yang
berwarna biru mantap. Hal ini menandakan bahwa vitamin C telah habis bereaksi dan titik akhir
titrasi telah tercapai. Warna biru terbentuk karena dalam larutan pati, terdapat unti-unit glukosa
membentuk rantai heliks karena adanya ikatan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini
menyebabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium yang dapat masuk ke
dalam spiralnya., sehingga menyebabkan warna biru tua pada kompleks tersebut. Berikut ini
reaksi yang terjadi antara vitamin C dengan iodium :
C6H8O6 + I2

C6H6O6 + 2I- + 2H+

Konsentrasi larutan iodium yang digunakan untuk mencapai titik akhir titrasi tersebut
adalah sebesar 0,1N. Dalam titrasi ini, tidak dapat diketahui titik equivalennya, sehingga untuk
menentukannya dapat dilihat dari hantaran listrik, potensial, ataupun dengan menggunakan pH.
Kemudian setelah itu dihitung kadar vitamin C yang terkandung di dalam sampel dan didapatkan
hasil jika kadar sampel tersebut adalah sebesar 8,806%.

H. KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar vitamin C
yang terkandung dalam sampel adalah sebesar 8,806%

Laporan Penentuan Kadar Vitamin C - Iodometri

PERCOBAAN I
VITAMIN C DALAM JUS BUAH
A.
TUJUAN PERCOBAAN
1. Mempelajari cara analisa kadar vitamin C
2. Menghitung kadar vitamin C pada berbagai sampel

B.

DASAR TEORI
Vitamin adalah senyawa-senyawa organik tertentu yang diperlukan dalam jumlah kecil dalam
diet seseorang tetapi esensial untuk reaksi metabolisme dalam sel dan penting

untuk

melangsungkan pertumbuhan normal serta memelihara kesehatan.


Vitamin dibagi ke dalam dua golongan. Golongan pertama oleh Kodicek (1971) disebut
prakoenzim (procoenzyme), dan bersifat larut dalam air, tidak disimpan oleh tubuh, tidak
beracun, diekskresi dalam urine. Yang termasuk golongan ini adalah tiamin, riboflavin, asam
nikotinat, piridoksin, asam kolat, biotin, asam pantotenat, vitamin B 12 (disebut golongan vitamin
B) dan vitamin C. Golongan kedua yang larut dalam lemak disebutnya alosterin, dan dapat
disimpan dalam tubuh. Apabila vitamin ini terlalu banyak dimakan, akan tersimpan dalam tubuh,
dan memberikan gejala penyakit tertentu (hipervitaminosis), yang juga membahayakan.
Kekurangan vitamin mengakibatkan terjadinya penyakit difisiensi, tetapi biasanya gejala
penyakit akan hilang kembali apabila kecukupan vitamin tersebut sudah terpenuhi (Poedjiadi,
1994).
Vitamin C atau asam askorbat mempunyai berat molekul 178 dengan rumus molekul C 6H8O6.
Dalam bentuk kristal tidak berwarna, titik cair 190 192oC. Bersifat larut dalam air, sedikit larut

dalam aseton atau alcohol yang mempunyai berat molekul rendah. Vitamin C sukar larut dalam
chloroform, ether, dan benzene. Dengan logam membentuk garam. Pada pH rendah vitamin C
lebih stabil daripada pH tinggi. Vitamin C mudah teroksidasi, lebih-lebih apabila terdapat
katalisator Fe, Cu, enzim askorbat aksidase, sinar, dan temperature yang tinggi. Larutan encer
vitamin C pada pH kurang dari 7,5 masih stabil apabila tidak ada katalisator seperti di atas.
Oksidasi vitamin C akan terbentuk asam dihidroaskorbat (Sudarmadji, 1989).

Asam askorbat sangat mudah teroksidasi menjadi asam dihidroaskorbat yang masih
mempunyai keaktifan sebagai vitamin C. Asam dihidroaskorbat secara kimia sangat labil dan
dapat mengalami perubahan lebih lanjut menjadi asam diketogulonat yang tidak memiliki
keaktifan sebagai vitamin C lagi.
Dalam larutan air vitamin C mudah dioksidasi, terutama apabila dipanaskan. Oksidasi
dipercepat apabila ada tembaga atau suasana alkalis. Kehilangan vitamin C sering terjadi pada
pengolahan, pengeringan, dan cahaya. Vitamin C penting dalam pembuatan zat-zat interseluler,
kolagen. Vitamin ini tersebar keseluruh tubuh dalam jaringan ikat, rangka, matriks, dan lain-lain.
Vitamin C berperan penting dalam hidroksilasi prolin dan lisin menjadi hidroksiprolin dan
hidroksilisin yang merupakan bahan pembentukan kalogen tersebut (Poedjiadi, 1994).
Vitamin C mudah larut dalam air sehingga apabila vitamin C yang dikonsumsi melebihi yang
dibutuhkan, kelebihan tersebut akan dibuang dalam urine. Karena tidak disimpan dalam tubuh,
vitamin C sebaiknya dikonsumsi setiap hari. Dosis rata-rata yang dibutuhkan bagi orang dewasa
adalah 60-90 mg/hari. Tetapi masih bisa melebihi dosis yang dianjurkan, tergantung pada kondisi
tubuh dan daya tahan tubuh masing-masing orang yang berbeda-beda (Sudarmadji, 1989).
Sumber vitamin C adalah sayuran berwarna hijau dan buah-buahan. Vitamin C dapat hilang
karena hal-hal seperti :

1.
2.
3.
4.

Pemanasan, yang menyebabkan rusak/berbahayanya struktur,


Pencucian sayur setelah dipotong-potong terlebih dahulu,
Adanya alkali atau suasana basa selama pengolahan, dan
Membuka tempat berisi vitamin C sebab oleh udara akan terjadi oksidasi yang tidak reversible
(Poedjiadi, 1994).
Penentuan vitamin C dapat dikerjakan dengan titrasi iodimetri. Titrasi iodimetri merupakan
titrasi langsung berdasarkan reaksi redoks yang menggunakan larutan baku I 2 untuk
mengoksidasi analatnya.
AReduksi + I2 AOksidasi + IIod merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat, sehingga hanya zat-zat yang merupakan
reduktor yang cukup kuat dapat dititrasi. Indikator yang digunakan ialah amilum, dengan
perubahan dari tak berwarna menjadi biru.
Harga vitamin C (asam askorbat) sering ditentukan kadarnya dengan titrasi ini. Vitamin C
dengan iod akan membentuk ikatan dengan atom C nomer 2 dan 3 sehingga ikatan rangkap
hilang (Harjadi,1990).

C.

ALAT DAN BAHAN


A. Alat Yang Digunakan
1. Buret 50ml
2. Klem
3. Statif
4. Corong
5. Labu takar 100ml
6. Labu takar 250 ml
7. Batang pengaduk
8. Gelas beaker 100ml
9. Erlenmeyer 250ml
10. Pipet gondok 10ml
11. Pipet tetes
12. Mortar
13. Alu
B. Bahan Yang Digunakan

1. Larutan I2 0,01M
2. Larutan Kanji
3. Sampel Vitamin C (Nutrisari, You C 1000, Vitacimin)
4. Aquades
D.
A.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
E.

CARA KERJA
Sampel Jus Jeruk
Ditimbang kurang lebih 25ml sampel jus jeruk
Catat sebagai berat mula-mula
Diencerkan dengan aquades didalam labu ukur 100ml hingga tera
Dipipet 10ml sampel, kemudian dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250ml
Ditambahkan 2 tetes larutan kanji
Sampel dititrasi dengan larutan I2 sampai berubah warna menjadi biru violet
Catat volume I2 yang digunakan
Sampel Tablet Vitamin C
Ditimbang kurang lebih 0,1 gram tablet vitamin C yang sudah digerus
Catat sebagai berat mula-mula
Diencerkan dengan aquades didalam labu ukur 250 ml hingga tera
Dipipet 10ml sampel, kemudian diencerkan sampai volume 30ml ke dalam erlenmeyer
Ditambahkan 2 tetes larutan kanji
Sampel dititrasi dengan larutan I2 sampai berubah warna menjadi biru violet
Catat volume I2 yang digunakan

DATA PERCOBAAN

Tabel I.I Volume Titrasi Larutan I2


Sampel
Data Pengamatan

Nutrisari

You C

You C
Lemon
I

II

III

Vitacimin

II

Orange
I

Berat sampel mula-mula (gr)

25

25

25,11

25

0,1

0,1

0,1

Volume sampel (ml)

10

10

10

10

10

10

10

0,5

0,6

14,60

13,45

0,7

1,8

2,05

14,60

13,45

Volume I2 yang digunakan


(ml)
Volume I2 rata-rata (ml)

0,55

1,517

Tabel I.II Kadar Vitamin C dalam Sampel


Data Pengamatan

Sampel
Nutrisari

Vitacimin

You C Orange

You C Lemon

Berat sampel mula-mula (gr)


Berat vitamin C pada sampel
(mg)
Berat vitamin C dalam
sampel (%)

2,25

0,05

25,11

25

4,84

33,374

128,48

118,36

0,21

66,75

0,51

0,47

Tabel I.III Kebutuhan Sampel per hari (untuk mendapatkan 60 mg Vitamin C)


Data Pengamatan
Berat vitamin C dalam
kemasan (mg)
Jumlah yang dibutuhkan per
hari (gr)
F.

PERHITUNGAN

Sampel
Nutrisari

Vitacimin

You C Orange

You C Lemon

90

500

1000

1000

0,0024

0,6

0,0024

0,0024

G. PEMBAHASAN
Penentuan kadar vitamin C dilakukan dengan menggunakan larutan I2 sebagai larutan
peniter. Hal pertama yang dilakukan ialah membuat larutan I2 0,01 M dengan menimbang
sejumlah 0,245gr ke dalam 100 ml aquades. Dengan perhitungan :

Dalam pembuatan larutan baku I2, padatan I2 yang ditimbang tidak larut sempurna pada
saat dipanaskan sehingga dilakukan pengenceran untuk mendapatkan larutan I2 0,01M dari
larutan I2 0,05M ke dalam labu ukur 100ml. Dengan perhitungan:

Penentuan vitamin C (asam askorbat) dilakukan dengan titrasi iodimetri (titrasi langsung).
Hal ini berdasarkan sifat bahwa vitamin C dapat bereaksi dengan I2.
Reaksi :

Percobaan penetapan kadar vitamin C pada praktikum kali ini menggunakan sampel yang
mengandung vitamin C dari beberapa merk dagang. Prosedur pertama yang dilakukan ialah
menimbang sejumlah sampel kemudian dilarutakan dengan aquades ke dalam labu takar 100 ml
untuk sampel cair dan labu takar 250 ml untuk sampel padatan. Selanjutnya sampel dipipet
sebanyak 10 ml dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer, kemudian ditambahkan larutan kanji
sebagai indikator. Setelah itu dititrasi dengan larutan I2 0,01M. Proses titrasi dilakukan sampai
larutan dalam erlenmeyer berubah warna dari larutan bening menjadi biru violet. Warna biru
violet yang dihasilkan merupakan reaksi antara iod dengan amilum menjadi iod-amilum yang
menandakan bahwa proses titrasi telah mencapai titik akhir.
Fungsi larutan iod ialah pereaksi untuk memperlihatkan jumlah vitamin C yang terdapat
dalam sampel menjadi senyawa dihidroaskorbat sehingga akan berwarna biru karena pereaksi
yang berlebih. Sebelum dititrasi, sampel ditambahkan 2 tetes larutan kanji yang berperan
sebagai indikator. Kanji bereaksi dengan iod, dengan adanya iodida membentuk suatu kompleks
yang berwarna biru yang akan terlihat pada konsentrasi iod yang sangat rendah. Larutan kanji
tidak boleh ditambahkan tepat sebelum titik akhir dicapai. Jika larutan kanji ditambahkan ketika
konsentrasi iod tinggi, sedikit iod akan tetap teradsorpsi bahan pada titik akhir titrasi.
Penyakit-penyakit yang terjadi akibat kekurangan vitamin C antara lain sariawan,
penurunan tingkat penyembuhan luka, anemia, kulit kering dan bersisik, radang gusi, kerusakan
pada jaringan jantung, dan lai-lain.
Dampak kelebihan vitamin C bagi orang yang mengkonsumsi vitamin C dosis tinggi ialah
sakit kepala, gangguan pencernaan, bahkan dapat membuat usus kram. Selain itu juga dapat
memperberat kinerja ginjal. Vitamin C yang mudah larut dalam air akan membuat pengeluaran
urine yang mengandung vitamin C meningkat dibandingkan biasanya dan dapat membuat

terbentuknya batu ginjal dengan mudah. Menghilangkan kelebihan vitamin C ini dapat dilakukan
dengan mengkonsumsi air putih secara rutin.
Standar jumlah yang dibutuhkan tubuh sudah dibuat oleh USA Academy of Sciences.
Jumlah kebutuhan vitamin ini berbeda-beda menurut umur dan jenis kelaminnya. Kebutuhan
harian vitamin C bagi orang dewasa adalah sekitar 60 mg, untuk wanita hamil 95 mg, anak-anak
45 mg, dan bayi 35 mg. Namun karena banyaknya polusi di lingkungan antara lain oleh adanya
asap-asap kendaraan bermotor dan asap rokok maka penggunaan vitamin C perlu ditingkatkan
hingga dua kali lipat yaitu 120 mg.
H.
1.

KESIMPULAN
Penentuan kadar vitamin C dilakukan dengan titrasi iodimetri ( titrasi langsung) yang
menggunakan larutan I2 sebagai larutan baku dan larutan kanji sebagai indikator. Sampel yang
digunakan ialah sampel dari beberapa merk dagang yang mengandung vitamin C, yaitu Nutrisari,

2.
1.
2.
3.
4.

You C 1000, dan Vitacimin.


Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan data kadar vitamin C sebagai berikut :
Nutrisari
= 0,21 %
You C Orange
= 0,51 %
You C Lemon
= 0,47 %
Vitacimin
= 66,75 %

Anda mungkin juga menyukai