Anda di halaman 1dari 16

CARA PENGELOLAAN SPESIMEN DI LABORATORIUM

OLEH :
NI KADEK LULUS SARASWATI

(P07134013007)

NI LUH PUTU YOGA ARSANI

(P07134013014)

BENNY TRESNANDA

(P07134013027)

NI MADE ITA PURNAMADEWI

(P07134013048)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN D III ANALIS KESEHATAN
TAHUN AKADEMIK 2013/2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha
Esa atas karunia-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya, sesuai
dengan rencana yang nantinya dapat dipergunakan sebagai pedoman. Makalah ini diharapkan
dapat berguna bagi para pembaca. Namun di balik itu mengingat masih banyak kelemahan dan
kekurangan yang ada pada makalah ini, maka melalui kesempatan ini, kami sangat
mengharapkan saran-sarannya guna dapat menyempurnakan isi dari makalah ini. Sehingga
nantinya dapat berguna bagi masyarakat pada umumnya.
Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak memperoleh bimbingan, pengarahan,
bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak. Dengan segala kerendahan hati, melalui kesempatan
ini, penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu yang ikut memberikan masukan dan saran dalam rangka perampungan penulisan
makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam proses pembelajaran di masyarakat.

Denpasar, 15 September 2013

Penulis

ii

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang............................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................1
1.3 Tujuan.........................................................................................................................1
1.4 Manfaat.......................................................................................................................1
BABII PEMBAHASAN...........................................................................................................3
2.1 Spesimen dan Laboratorium......................................................................................3
2.2 Macam Macam Spesimen..........................................................................................3
2.3 Cara Pengelolaan Spesimen di Laboratorium........................................................4

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan.........................................................................................................................11
3.2 Saran...................................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sekarang ini, banyak penyakit yang bertambah dan merajalela dalam kehidupan
masyarakat. Akan tetapi, penyakit infeksi tetap menjadi primadona penyakit yang paling
sering menyerang manusia.
Penyakit infeksi yang ditimbul sering diakibatkan mikroorganisme yang bersifat patogen.
Dalam pemeriksaan penyakit infeksi, biasanya dilakukan pemeriksaan fisik dan anamnese
guna menemukan etimologi penyakit. Cara lain dalam menegakkan diagnosa guna
menemukan mikroorganisme apa yang menjadi penyebab suatu penyakit adalah dengan cara
pemeriksaan spesimen.
Oleh karena itu, bagi orang yang berprofesi dalam bidang kesehatan harus mengetahui
dan memahami betul cara pengelolaan spesimen klinik. Sebagai seorang analis kesehatan,
tentunya juga harus memahami betul cara pengelolaan atau penanganan spesimen. Salah satu
kontribusi perawat dalam pengkajian status kesehatan adalah mengambil spesimen dan cairan
tubuh untuk pemeriksaan. Tujuan pemeriksaan spesimen adalah menetapkan diagnosa
masalah dan menilai respon klien terhadap terapi yang telah dijalani.
Yang harus diperhatikan dalam hal pengelolaan spesimen adalah cara pengambilan,
penyimpanan, dan pengiriman spesimen. Adapun tujuan dari pemahaman cara pengelolaan
spesimen tersebut adalah agar spesimen dapat memberikan hasil yang akurat dalam
pemeriksaan secara makroskopis/mikroskopis dan spesimen tidak rusak dalam rentang waktu
pengiriman ke laboratorium.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan spesimen dan laboratorium ?
1.2.2 Apa saja macam macam spesimen yang dikelola di laboratorium ?
1.2.3 Bagaimanakah cara pengelolaan spesimen di laboratorium ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui spesimen dan laboratorium.
1.3.2 Untuk mengetahui macam macam spesimen yang di kelola di laboratorium.
1
1.3.3 Untuk mengetahui cara pengelolaan spesimen di laboratorium.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Masyarakat dapat mengetahui spesimen dan laboratorium.
1.4.2 Masyarakat dapat mengetahui macam macam spesimen yang dikelola di
1.4.3

laboratorium.
Masyarakat dapat mengetahui cara pengelolaan spesimen di laboratorium.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Spesimen dan Laboratorium
Spesimen merupakan sebagian dari jenis atau sebagian dari kelompok benda yang sama
untuk dijadikan contoh.
Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun
pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan

dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. Laboratorium ilmiah biasanya


dibedakan menurut disiplin ilmunya, misalnya laboratorium fisika, laboratorium kimia,
laboratorium biokimia, laboratorium komputer, dan laboratorium bahasa.
2.2 Macam Macam Spesimen
Berdasarkan asal spesimen, spesimen dibagi atas spesimen yang berasal dari manusia dan
spesimen yang bukan berasal dari manusia.
1. Spesimen yang berasal dari tubuh manusia :
a. Darah (darah lengkap, serum, plasma, sel darah, dan lain-lain), urine, tinja.
b. Sekret atau ekskreset dan hapusan
1. Biasan bronchus
13. Kerokan kulit
2. Biasan endometrium
14. Nanah / pus
3. Biasan lambung
15. Sekret gental
4. Dahak
16. Sekret mata
5. Apusan hidung / nasophaynx
17. Sekret telinga
6. Apusan mulut-gigi
18. Sikatan bronchus
7. Apusan rectal
19. Sikatan endometrium
8. Apusan serviks
20. Sikatan serviks
9. Apusan tenggorokkan
21. Sikatan vagina
10. Apusan kulit
22. Sikatan vulva
11. Apusan tangan jasa boga
23. Rambut
12. Reitz serum
3
c. Cairan tubuh
1. Air ketuban
Cairan sendi
2. Air liur
15. Cairan serebrospinal
3. Air mani
16. Transudat/eksudat
4. Cairan ascites
17. Batu (empedu, ginjal, saluran kemih)
5. Cairan duodenum
18. Jaringan autopsy
6. Cairan keringat
19. Jaringan biopsy eksisi
7. Cairan empedu
20. Jaringan biopsy aspirasi
8. Cairan Krista ovarium
21. Jaringan operasi tunggal
9. Cairan kista payudara
22. Jaringan operasi multiple
10. Cairan kista tiroid
23. Muntahan
11. Cairan kista perikard
24.Nafas / breath
12. Cairan peritoneum
25. Cairan pleura
13. Cairan puting susu
26. dll
14. Sumsum tulang
2. Spesimen yang berasal bukan dari manusia :
a. Air baku air minum
b. Air bersih
c. Air kolam
d. Air laut
e. Air limbah / air buangan
f. Air untuk pemandian

g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.

Air untuk perikanan / peternakan


Air untuk pertanian / industry, PLTA
Makanan dan minuman (termasuk bahan dan sisa)
Sayuran / buah
Usapan alat makan dan minum
Usapan peralatan medik
Usapan peralatan non medic
Kemasan obat
4
o. Kemasan makan dan minuman
p. Binatang (organ)
q. Biota
r. Tanah
s. Udara
t. Ruang perawatan
u. Dan lain-lain
2.3 Cara Pengelolaan Spesimen di Laboratorium
1. Pengambilan Spesimen
Hal-hal yang harus diperhatikan pada pengambilan spesimen adalah :
a. Tehnik atau cara pengambilan. Pengambilan spesimen harus dilakukan dengan
benar sesuai dengan standard operating procedure (SOP) yang ada.
b. Cara menampung spesimen dalam wadah/penampung.
1.

Seluruh sampel harus masuk ke dalam wadah (sesuai kapasitas), jangan ada yang
menempel pada bagian luar tabung untuk menghindari bahaya infeksi.

2.

Wadah harus dapat ditutup rapat dan diletakkan dalam posisi berdiri untuk
mencegah spesimen tumpah.

Untuk memindahkan spesimen darah dari syringe harus memperhatikan hal-hal seperti
berikut :
a.

Darah harus segera dimasukkan dalam tabung setelah sampling.

b.

Lepaskan jarum, alirkan darah lewat dinding tabung perlahan-lahan agar


tidak terjadi hemolisis.

c.

Untuk pemeriksaan kultur kuman dan sensitivitas, pemindahan sampel ke


dalam media dilakukan dengan cara aseptik.

d.

Pastikan jenis antikoagulan dan volume darah yang ditambahkan tidak


keliru.

e.

Segera homogenisasi

darah yang menggunakan antikoagulan dengan

lembut perlahan-lahan. Jangan mengkocok tabung keras-keras agar tidak


hemolisis.

5
Sumber-sumber kesalahan pada pengambilan spesimen darah :
a. Pemasangan turniquet terlalu lama dapat menyebabkan :

Protein (termasuk enzim) , Ca2+, laktat , fosfat, dan Mg2+ meningkat

pH menurun, hemokonsentrasi

PPT dan APTT mungkin memendek karena pelepasan tromboplastin jaringan ke


dalam sirkulasi darah .

b. Pemompaan menyebabkan kalium, laktat, glukosa, dan Mg2+ meningkat, sedangkan


pH menurun
c. Pengambilan darah terlalu lama (tidak sekali tusuk kena) dapat menyebabkan :

trombosit dan fibrinogen menurun; PPT dan APTT memanjang.

kalium, LDH dan SGPT/ALT meningkat.

d. Pengambilan darah pada jalur infus dapat menyebabkan :

natrium meningkat pada infus saline.

kalium meningkat pada infus KCl.

glukosa meningkat pada infus dextrose.

PPT, APTT memanjang pada infus heparine.

kreatinin, fosfat, LDH, SGOT, SGPT, Hb, Hmt, lekosit, trombosit, eritrosit
menurun pada semua jenis infus.

e. Homogenisasi darah dengan antikoagulan yang tidak sempurna atau keterlambatan


homogenisasi menyebabkan terbentuknya bekuan darah.
f.

Hemolisis dapat menyebabkan peningkatan K+, Mg2+, fosfat, aminotransferase,


LDH, fosfatase asam total.
Untuk menampung spesimen urine yakni :
a. Sediakan wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan apapun,
mudah dibuka, mudah ditutup, dan bermulut lebar.
b. Sebaiknya pasien diinstruksikan membuang urine yang mula-mula keluar sebelum
mengumpulkan urine untuk diperiksa.

6
c. Untuk mendapatkan specimen clean catch diperlukan cara pembersihan lebih
sempurna :
1.

Mulut

uretra

dibersihkan

dengan

sabun

dan

kemudian

membilasnya sampai bersih.


2.

Penderita wanita harus lebih dulu membersihkan labia minora, lalu


harus merenggangkannya pada waktu kencing.
a) Perempuan yang sedang menstruasi atau yang mengeluarkan
banyak secret vagina, sebaiknya memasukkan tampon sebelum
mengumpulkan specimen.

3. Bagian luar wadah urine harus dibilas dan dikeringkan setelah spesimen didapat
dan keterangan tentang pemeriksaan harus jelas dicantumkan.
Untuk menampung spesimen tinja :
a. Sampel tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan. Jika sangat diperlukan,
sampel tinja juga dapat diperoleh dari pemeriksaan colok dubur.

b. Masukkan sampel ke dalam wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi


oleh bahan apapun, dapat ditutup rapat, dapat dibuka dengan mudah dan
bermulut lebar.
Untuk menampung spesimen dahak penting untuk mendapatkan sekret bronkial
dan bukan ludah atau sekret hidung.
a. Sediakan wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan apapun,
mudah dibuka, mudah ditutup, dan bermulut lebar.
b. Untuk pewarnaan BTA, jangan gunakan wadah yang mengandung bercak lilin
atau minyak, sebab zat ini dapat dilihat sebagai bintik-bintik tahan asam dan
dapat menyulitkan penafsiran.Sebelum pengambilan spesimen, penderita
diminta berkumur dengan air, bila mungkin gosok gigi terlebih dulu. Bila
memakai gigi palsu, sebaiknya dilepas dulu.
7
c. Pada saat pengambilan spesimen, penderita berdiri tegak atau duduk tegak
d. Penderita diminta untuk menarik nafas dalam 2 3 kali kemudian keluarkan
nafas bersamaan dengan batuk yang kuat dan berulang kali sampai dahak
keluar.
e. Dahak yang dikeluarkan langsung ditampung dalam wadah dengan cara
mendekatkan wadah ke mulut.
f. Amati keadaan dahak. Dahak yang memenuhi syarat pemeriksaan akan tampak
kental purulen dengan volume cukup ( 3 5 ml )
g. Tutup wadah dengan rapat untuk menghindari kontaminasi dari udara dan
secepatnya dikirim ke laboratorium.
2. Penyimpanan Spesimen
a. Penyimpanan spesimen dilakukan jika pemeriksaan ditunda atau spesimen akan

dikirim ke laboratorium lain.


b. Lama penyimpanan harus memperhatikan, jenis pemeriksaan, wadah dan

stabilitasnya .
c. Hindari penyimpanan whole blood di refrigerator.

d. Sampel yang dicairkan (setelah dibekukan) harus dibolak-balik beberapa kali dan
terlarut sempurna. Hindari terjadinya busa.

e. Simpan sampel untuk keperluan pemeriksaan konfirmasi / pengulangan.

f. Menyimpan spesimen dalam lemari es dengan suhu 2-8C, suhu kamar, suhu
-20C, -70C atau -120C jangan sampai terjadi beku ulang.
g. Untuk jenis pemeriksaan yang menggunakan spesimen plasma atau serum, maka
plasma atau serum dipisahkan dulu baru kemudian disimpan.
h. Memberi bahan pengawet pada spesimen.
i.

Menyimpan formulir permintaan lab di tempat tersendiri.

Waktu penyimpanan spesimen dan suhu yang disarankan :


a. Kimia klinik : 1 minggu dalam refrigerator.
b. Imunologi : 1 minggu dalam refrigerator.
c. Hematologi : 2 hari pada suhu kamar.
d. Koagulasi : 1 hari dalam refrigerator
8
e. Toksikologi : 6 minggu dalam refrigerator
f. Blood grouping : 1 minggu dalam refrigerator
3. Pengiriman Spesimen
a. Sebelum mengirim spesimen ke laboratorium, pastikan bahwa spesimen telah
memenuhi persyaratan seperti yang tertera dalam persyaratan masing-masing
pemeriksaan.
b. Apabila spesimen tidak memenuhi syarat agar diambil / dikirim ulang.
c. Pengiriman spesimen disertai formulir permintaan yang diisi data yang lengkap.
Pastikan bahwa identitas pasien pada label dan formulir permintaan sudah sama.
d. Secepatnya spesimen dikirim ke laboratorium. Penundaan pengiriman spesimen
ke laboratorium dapat dilakukan selambat-lambatnya 2 jam setelah pengambilan
spesimen. Penundaan terlalu lama akan menyebabkan perubahan fisik dan
kimiawi yang dapat menjadi sumber kesalahan dalam pemeriksaan, seperti :
1. Penurunan kadar natrium ( Na+ ), glukosa darah, angka lekosit, angka
trombosit.
2. Perubahan morfologi sel darah pada pemeriksaan mikroskopik.

3. PPT / APTT memanjang.


4. Peningkatan kadar kalium ( K+ ), phosphate, LDH, SGPT.

5. Lisisnya sel pada sample LCS, transudat, eksudat.


6. Perkembangbiakan bakteri
7. Penundaan pengiriman sampel urine :

Unsur-unsur yang berbentuk dalam urine (sediment), terutama sel-sel

eritrosit, lekosit, sel epitel dan silinder mulai rusak dalam waktu 2 jam.
Urat dan fosfat yang semula larut akan mengendap, sehingga

menyulitkan pemeriksaan mikroskopik atas unsur-unsur lain.


Bilirubin dan urobilinogen teroksidasi bila berkepanjangan terkena sinar

matahari.
Bakteri-bakteri akan berkembang biak yang akan menyebabkan
terganggunya pemeriksaan bakteriologis dan pH.

9
Jamur akan berkembang biak
Kadar glukosa mungkin menurun dan kalau semula ada, zat-zat keton
dapat menghilang.Apabila akan ditunda pengirimannya dalam waktu
yang lama spesimen harus disimpan dalam refrigerator/almari es pada
suhu 2 8 oC paling lama 8 jam.

4. Pengiriman sampel sebaiknya menggunakan wadah khusus, misalnya berupa


kotak atau tas khusus yang tebuat dari bahan plastik, gabus (styro-foam) yang
dapat ditutup rapat dan mudah dibawa.

10
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.

Spesimen merupakan sebagian dari jenis atau sebagian dari kelompok benda yang
sama untuk dijadikan contoh. Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset
ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan.

2.

Macam-macam spesimen yang dikelola di laboratorium adalah spesimen yang


berasal dari tubuh manusia seperti darah, sekret, dan cairan tubuh dan spesimen yang
berasal bukan dari tubuh manusia.

3.

Cara pengelolaan spesimen di laboratorium :


a) Pengambilan Spesimen
Hal-hal yang harus diperhatikan pada pengambilan spesimen adalah :
a. Tehnik atau cara pengambilan
b. Cara menampung spesimen dalam wadah/penampung.
b) Penyimpanan Spesimen

Penyimpanan spesimen dilakukan jika pemeriksaan ditunda atau spesimen akan


dikirim ke laboratorium lain.
c) Pengiriman Spesimen
1.

Sebelum mengirim spesimen ke laboratorium, pastikan bahwa spesimen


telah memenuhi persyaratan seperti yang tertera dalam persyaratan masingmasing pemeriksaan.

2.

Apabila spesimen tidak memenuhi syarat agar diambil / dikirim ulang.

3.

Pengiriman spesimen disertai formulir permintaan yang diisi data yang


lengkap. Pastikan bahwa identitas pasien pada label dan formulir permintaan
sudah sama.

4.

Secepatnya spesimen dikirim ke laboratorium.

11
3.2 Saran
Pengertian spesimen dan laboratorium lebih dimengerti lagi oleh

1.

seorang analis kesehatan


Seorang analis kesehatan mampu memeriksa spesimen dan

2.

perbedaan macam-macam spesimen.


seorang analis kesehatan harus mampu mengelola spesimen di

3.

laboratorium.

12
DAFTAR PUSTAKA
Riswanto. 2010. Pemantapan Mutu Pra-analitik Pemeriksaan Laboratorium.
http://labkesehatan.blogspot.com/2010/07/pemantapan-mutu-pra-analitik.html.Diakses
pada 10 September 2013.
Artikel Non Personal. 2013. Laboratorium. http://id.wikipedia.org/wiki/Laboratorium.
Diakses pada 10 September 2013.
Fikri, Ramdhan. 2011. Makalah Media Pembelajaran Menggunakan
Specimen. http://sains-biology.blogspot.com/2011/11/makalah-media-pembelajaranmenggunakan_08.html. Diakses pada 10 September 2013.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Pedoman Klasifikasi dan Kodifikasi Jenis
Pemeriksaan,Spesimen,Metode PemeriksaanLaboratorium.[pdf].
http:/hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK%2520No.%25201224%2520ttg
%2520Pedoman%2520Klasifikasi%2520dan%2520Kodifikasi%2520Jenis
%2520Pemeriksaan,%2520Spesimen,%2520Metode%2520Pemeriksaan%2520Lab
%2520Kes.pdf+&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id. Diakses pada 10 September 2013.