Anda di halaman 1dari 58

STRATEGI OPERASIONAL

ADVOKASI DAN KIE


PROGRAM KEPENDUDUKAN DAN KB

1. Berkat usaha keras Pemerintah, bersama-sama bersama


dengan LSM, Org. Prof, Toma/Toga/Todat serta komponen
masy. Lainnya berhasil mengajak PUS menjadi Peserta KB;
2. Indonesia mendapat penghargaan tertinggi bidang
kependudukan (Population Award PBB, 8 Juli 1987), Negara
Center of Exellence bersama Thailand, Meksiko dan Tunisia
(UNFPA, 1994), karena berhasil dalam penyelenggaraan KIE
dan community partisipation prog kpddk dan KB;
3. Indonesia tempat belajar 97 negara maju dan berkembang dan
4.100 peserta dari benua Asia, Afrika, Amerika dan Eropa ; dan
menjadi tenaga konsultan di negara-negara Asia dan Afrika;
4. LPP telah berhasil ditekan dari 1,98% (1980-1990) menjadi
1,49% (1990-2000), tapi krn jumlah penduduk yang besar msh
bertambah sekitar 3,2 jt jiwa per tahun, atau sama dengan jlh
pddk negara Singapura ;

1.

2.

3.

Total Fertility Rate (TFR) atau rata-rata anak yang dimiliki


WUS sudah turun dari 2,78 per WUS menjadi 2,6 per WUS
(1997), namun untuk PUS yang berpendidikan dan status
ekonomi rendah masih disekitar 3 atau lebih;
Proyeksi BAPPENAS pada tahun 2005 bahwa jumlah pddk
Indonesia pada tahun 2015 menjadi 273 jt, dan pada tahun
2050 (opulation Reference Bureau PRB, Amerika Serikat),
namun angka itu mungkin akan lebih meningkat lagi bila
intensitas dan frekuensi pengelolaan program KB menurun;
tetapi Indonesia akan tetap berada pada urutan keempat
setelah India, Cina dan AS, dan yang berubah posisi adalah
India menjadi 1,6 m di urutan pertama dan Cina menjadi 1,4 m
di urutan kedua;
Pengendalian kelahuran melalui program KB memiliki
implikasi luas terhdp sektor pemb angunan lainnya
(pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, perumahan) bahkan
subsidi BBM . Konstentrasi terhadap penanganan prog KB akan
meringankan persoalan bangsa di kemudian hari;

1.

2.

Ekonomi Senior Widjoyo Nitisastro pada HUT IPADI,


mengemukakan bhw perhatian terhadap pengangguran dan
kemiskinan harus dirubah ke arah penanganan LPP,
urbanisasi, dan pertumbuhan angkatan kerja, supaya predikat
Indonesia tempat belajar banyak negara akan dapat
dipertahankan;
Tiga skenario proyeksi kependudukan Indonesia pada tahun
2015:
Pertama: bila CPR meningkat 1% per tahun, menjadi 238,7 jt;
Kedua : bila CPR tetap/konstan per tahun, menjadi 255,5 jt;
ketiga : bila CPR turun 0,5% per tahun, menjadi 264,4 jt;
bila yang kedua dan ketiga terjadi maka akan menjadi 260 jt,
akan mengalami kesulitan lagi karena harsu mengurus
penduduk miskin (17,75% = 37,75 jt pada tahun 2006, BPS)
yang akan semakin bertambah jumlahnya karena tidak dapat
memutus rantai kemiskinan, karena kelompok miskin ini
rendah partisipasi ber KB nya dan akan melahirkan generasi

1.

2.

3.

United Nation Development Programs (UNDP), melaporkan


bahwa IPM (Indeks Pembangunan Manusia) atau HDI (Human
Development Index) Indonesia berada pada urutan 111dari 182
negara yang di survey dan urutan 6 di 10 negara di ASEAN;
Pemecahan pengendalian kelahiran melalui program KB
merupakan masalah pokok kependudukan; pertumb ekonomi
tdk akan berjalan tanpa SDM yang memadai dan pemb SDM tdk
akan tercapai tanpa pertumb ekonomi. Pertum ekonomi dan
pemb SDM sulit terlaksana tanpa pengendalian jumlah pddk;
maka KB memegang peranan penting dalam pembangunan
kesejahteraan bangsa dan negara kita kedepan;
Dengan program KB kita dapat mencapai bonus demografi,
dimana tingkat ketergantungan mengecil krn pddk usia
produktif relatif lebih besar dari pddk yang merupakan beban
(usia muda dan tua), inilah kesempatan emas yang amat
berharga, kita isi dengan program-program yang cemerlang.

P E R K E MB A N G A N P E N DU DU K IN DO N E S IA
1600 2000
225.00

205.8

200.00
175.00
150.00
125.00
100.00
75.00

40.2

50.00
25.00

10.8

14.2

18.3

0.00

1600

1700

1800

1900

2 x lipat

2000

5 x lipat

P E R K E MB A N G A N P E N DU DU K IN DO N E S IA
330 JUTA
(J U T A )
300.00

285 JUTA

275.00

KELAHIRAN
TERCEGAH
80 JUTA

250.00
225.00
200.00

230 JT
205 JT

175.00
150.00
125.00
100.00
75.00

40.2

50.00
25.00

10.8

14.2

18.3

0.00

1600

1700

1800

1900

2000

2009

KELAHIRAN
TERCEGAH
100 JUTA

PERKEMBANGAN PENDUDUK INDONESIA


1950 - 2005
250.00
225.00
200.00

248

234
219

PENDUDUK LIPAT DUA


DALAM 30 40 TAHUN

206
180

175.00
148

150.00

100.00

PDDK LIPAT DUA DLM:


70
TAHUN
LPP

119

125.00
97
77

75.00
50.00
25.00
0.00
1950

1961

1971

1980

1990

2000

Sumber: Hasil Sensus & Supas, BPS

2005

2010

2015

PROYEKSI

BILA LPP STAGNAN PADA 1,3%


PENDUDUK LIPAT DUA SETIAP 50 TAHUN
3760
JUTA
3000

P
E
N
D
U
D
U
K

2500

1880

2000
1500

940

1000

470
500

235

2010

2060

2110
TAHUN

2160

2210

SDM

PEMBANGUNAN
SEBAGAI PRASYARAT
KEMAJUAN BANGSA

KUALITAS SDM DAN KEMAJUAN


BANGSA
PELAYANAN
SOSIAL
DASAR:
Pendidikan
Kesehatan

KUALITAS
SDM

KEMAJUAN
SUATU BANGSA

(80%?)

KB
KEMAJUAN BANGSA DI
MASA DEPAN DITENTUKAN OLEH
KUALITAS SDM, DAN BUKAN OLEH
MELIMPAHNYA SDA
MEMPUNYAI PERAN
PENTING DALAM PEMB.

KB

SDM

KEKAYAAN
SDA

(20%?)

GRAFIK PERTUMBUHAN OTAK ANAK SAMPAI USIA 5 TH


Investasi terlambat, hasil
tidak optimal

Investasi tepat waktu


100%

Pertumbuhan otak

80%

loss generation

Sumber:

Ascobatg/2000

lahir

2 th

Sumber: Prof. Ascobat Gani

5 th

umur

PERAN KB DALAM PENINGKATAN IPM


MMR
IMR

KESEHATAN

GIZI ANAK

KECERDASAN

KB

PARTISIPASI SKLH

PENDIDIKAN

PEDKN LEBIH TINGGI

PUBLIC SAVING
PRIVATE SAVING
MUTU TENAGA KERJA

EKONOMI

IPM

BESAR +
BERKUALITAS

BESAR +
TIDAK BERKUALITAS

MODAL PEMBANGUNAN

BEBAN PEMBANGUNAN

Indonesia:
Penduduk besar Ranking 4
IPM rendah Ranking 111
(dari 182 negara)

Peringkat 10 Negara ASEAN


Berdasarkan HDI, Tahun 2009
NEGARA

ASEAN

DUNIA (182)

Singapura

23

Brunai Darussalam

30

Malaysia

66

Thailand

87

Filipina

105

Indonesia

111

Vietnam

116

Laos

133

Kamboja

137

Myanmar

10

138

Sumber : Human Development Report, UNDP (2009)

KB MEMPUNYAI PERAN PENTING


DALAM PENINGKATAN KUALITAS SDM

MEMUTUS LINGKARAN SETAN


KEMISKINAN (POVERTY TRAP)
MISKIN ANAK BANYAK MISKIN

Apa yang telah dicapai?

PERSENTASE PESERTA KB
80
70

57 %

60

60 %

61 %

48 %

50
40
26 %

30
20

5 % (?)

10
0

1970 1980 1987 1997 2002 2007

PESERTA KB (CPR /ALL METHODS)


MENURUT PROVINSI, HASIL SDKI 2007
BENGKU
LAMPUNG
BALI
SULUT
BABEL
DIY
KALTENG
JATIM
JAMBI
SUMSEL
KALSEL
JATENG
SULTENG
KALBAR
JABAR
GRTL
DKI
SUMBAR
KALTIM
KEPRI
BANTEN
RIAU
NTB
SUMUT
SULSEL
SULTRA
MALUT
NAD
SULBAR
NTT
PABAR
PAPUA
MALUKU

73.9
71
69.4
69.2
67.8
66.9
66.5
66.1
65.1
64.8
64.4
63.7
63.6
62.7
61.1
60.2
60.1
59.9
59.3
57.6
57.2
56.7
54.9
54.2
53.4
50.7
49.4
47.9
45.4
42.2
39.1
37.2
33.9

61,3

Rata2 Nasional = 61,3

DIBAWAH RATA2 NASIONAL


DIATAS RATA2 NASIONAL

KEINGINAN BER-KB TAK TERPENUHI

UNMET NEED
15.0
12.5
10.0

12.7 %
10.6 %
9.2 %

8.6 %

9.1 %

7.5
5.0
2.5
0

1994
1997
2007
1991
2002/03
SURVEI DEMOGRAFI DAN KESEHATAN INDONESIA

PERSEBARAN UNMET NEED


MENURUT PROVINSI, HASIL SDKI 2007

Rata2 Nasional = 9,1


RPJMN = 6,0

DIATAS RATA2 NASIONAL


RATA2 NASIONAL
DIBAWAH RATA2 NASIONAL

21

7
6
5
4
3

5.61
4.68
3.39

3.02

2.86

2.78

2.60 2.60

2
1
0

1971 1980 1987 1990 1994 1997 2002 2007

PERSEBARAN TFR
MENURUT PROVINSI, HASIL SDKI 2007
NTT
MALUKU
SUMUT
SULBAR
SUMBAR
PAPBAR
SULTENG
SULTRA
MALUT
KEPRI
NAD
KALTEN
PAPUA
SULUT
JAMBI
KALBAR
NTB
SULSEL
SUMSEL
KALTIM
RIAU
BANTEN
KALSEL
JABAR
GORTAL
LAMPUN
BABEL
BNGKLU
JATENG
BALI
JATIM
DKI
DIY

1.8
0

3.5
3.4
3.4
3.3
3.3
3.2
3.1
3.1
3.0
2.9
2.8
2.8
2.8
2.8
2.8
2.7
2.7
2.7
2.7
2.6
2.6
2.6
2.5
2.5
2.4
2.3
2.1
2.1
2.1

3.9
3.8

4.2

Rata2 Nasional = 2,6


RPJMN = 2,2

DIATAS RATA2 NASIONAL


RATA2 NASIONAL
DIBAWAH RATA2 NASIONAL

2,6

ANGKA PERTUMBUHAN PENDUDUK


3
2,5
2
1,5

2.32 %

1.98 %
1.47 %
1.30 % (?)

1
0,5
0
1971-1980 1980-1990 1990-2000 2005-2010

POPULATION PYRAMIDS INDONESIA

POTENSIAL
BABY
BOOM

118 juta

220 juta

DEMOGRAPHIC BONUS
Suatu fenomena dimana struktur penduduk sangat
menguntungkan dari sisi pembangunan oleh karena jumlah
penduduk usia produktif (15 64 tahun) sangat besar
jumlahnya proporsi penduduk usia muda
sudah semakin kecil, sedangkan proporsi
yang berusia lanjut belum begitu besar

ANGKA BEBAN KETERGANTUNGAN


(DEPENDENCY RATIO) RENDAH

BONUS DEMOGRAFI

Dikaitkan dengan munculnya suatu


kesempatan, the window of opportunity
yang dapat dimanfaatkan untuk menaikkan
kesejahteraan masyarakat

THE WINDOW OF OPPORTUNITY


(JENDELA PELUANG)

The window of opportunity terjadi tahun


2020-2030 dimana dependency ratio
mencapai titik terendah, yaitu 44 per 100;

Meningkat lagi sesudah 2030 karena


meningkatnya proporsi penduduk lansia;

Hanya terjadi satu kali dalam sejarah suatu


penduduk;

Bonus Demografi dan Jendela Peluang


90
Angka
Ketergantungan

80
70
60

Jendela peluang

Muda

50
40

20

Lansia

10

Sumber: Prof. Sri Moertiningsih

Tahun

5
0
2

5
4
0
2

4
0
2

5
3
0
2

3
0
2

5
0
2

0
2

5
1
0
2

1
0
2

5
0
2

0
2

5
9
1

0
9
1

5
8
9
1

0
8
9
1

5
7
9
1

0
7
9
1

5
6
9
1

0
6
9
1

5
9
1

0
0
5
9
1

ta
ersn
P

30

BONUS DEMOGRAFI LANDASAN


PERTUMBUHAN EKONOMI

Suplai tenaga kerja yang besar


meningkatkan pendapatan per kapita apabila
tersedia lapangan kerja produktif;;
Jumlah anak sedikit memungkinkan
perempuan memasuki pasar kerja, membantu
peningkatan pendapatan;
Tabungan masyarakat yang besar dan
diinvestasikan secara produktif;

MASALAH YANG PERLU DIATASI

Unmet Need tinggi;


KB tradisional tinggi;
Non-MKJP tinggi dengan angka kelangsungan
rendah;
PUS tua dengan paritas tinggi;
Banyak daerah miskin dengan CPR rendah;
Banyak daerah galciltas dengan CPR rendah;
Usia Kawin Pertama (UKP) rendah;
Dan lain-lain;

STRATEGI ADVOKASI DAN KIE


PROGRAM KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA

BAGAN DESIGN STRATEGI ADVOKASI DAN


KIE
PROGRAM KEPENDUDUKAN DAN KB
PROGRAM

PENDEKATAN
Advokasi

KIE
Strategi
Advokasi
dan KIE
Social
Mobilization

BCC

SASARAN

KEGIATAN

TUJUAN

Pembuat
Kebijakan
Publik

Lobby
Audiensi

Kebijakan
Publik
Mendukung

Masyarakat

Sosialisasi
Melalui
media

Toma
Toga
Org
Profesi
Swasta
Provider

PUS

Road show
Sarasehan
Capacity
building
Komunikasi
Interpersonal
Konseling

Partisipasi
Masyarakat
meningkat

Dukungan
Moral dan
operasiona
meningkat

PUS
menjadi
Peserta KB

OUTPUT

DAMPAK

PA/PB
Mening
kat

LPP dan
TFR turun

1. Tingkat pengetahuan masy thdp alokon sudah mencapai 95% ,


menggunakan 60,3% , alokon modern 56,7%, jalur swasta 63% dengan
membayar sendiri, sisanya disubsidi pemerintah.
3. Unmet need 8,6% karena alasan ingin punya anak.
5. TFR 2,6 anak per ibu, namun dikhawatirkan meningkat (keluarga ingin
rata-rata 2,9 anak dan remaja jika menikah ingin 3,1 anak).
7. Kebanyakan menggunakan metode jangka pendek dan metode jangka
panjang makin berkurang.
9. Jumlah penduduk sekitar 220 juta dengan laju pertumbuhan penduduk
sekitar 1,49% per tahun, sehingga pertambahan penduduk sekitar 3
sampai 4 juta setiap tahun.

1. Kel miskin memiliki TFR > 3, anak banyak, rendah penggunaan Alokon
3. Rendahnya jumlah keluarga yg mengikuti keg klp BKB/ BKR/ BKL (15%).
5. Pem sdh menyediakan alokon khusus utk kel miskin (30% dari PUS).
7. BKKBN data primer ttg kel termasuk Kel Pra S dan KS I
9. Aksi konkret dr Gub, Bupati/Walikota dan DPRD perlu ditingkatkan krn
kurang memahami kaitan antara KB dan keberhasilan pembangunan.
11. Msh ada sbgn Politisi dan pimpinan daerah yg msh pro-natalis sehingga
blm menilai pentingnya prog KB.
13. Sbgn public figure cenderung memp anak banyak, padahal mereka
menjadi contoh bg masy.

1. Kelembagaan KB di Kab/Kota bervariasi dan lemah.


3. MEKOP prog KB tdk berjalan di sbgn besar wilayah.
5. Mobilitas pelayanan provider perlu ditingkatkan.
7. Motivasi utk menjadi kader dan upaya penguatan/dukungan menurun;
9. Isu KB tdk popular dibandingkan isu lain (politik, criminal, ekonomi, dsb).
11. PPM Peserta KB Baru (PB) tdk tercapai.
13. Pelayanan dan alokon gratis bg kel miskin masih bayar/membeli alokon.
15. Alokon gratis utk kel miskin, sbgn kel mampu yg mendapatkannya gratis.

1. Komitmen Pres, DPR, Gub dan DPR/DPRD sangat tinggi terhdp prog.
3. Komitmen Bupati/Walikota dan DPRD Kab/Kota bervariasi.
5. Duk moral dr sbgn toga dan toma tinggi. Hanya ada bbrp tokoh dan public
figure yg msh pro-natalis.
7. Satus kelembagaan KB di sbgn besar Kab/Kota bervariasi, yg lainnya
bahkan blm terbentuk.
9. Jumlah Penyuluh KB berkurang krn banyak beralih fungsi, sehingga
cakupan wilayah kerja terlampau luas. Idealnya seorang Penyuluh KB
memiliki wilayah kerja satu sampai dua desa/kelurahan.

1. Pelaks forum kom dan keg pemb terutama thdp klpk KB/IMP di lini lap
kurang berjalan, sehingga pembi peserta KB kurang efektif.
3. Mobilitas pelayanan provider perlu ditingkatkan.
5. Keg pel KB di RS, klinik dan pkm menurun, frekuensi dan intensitasnya.
7. Potensi Kader di lini lap tinggi namun frek dan intensitasnya menurun.
9. Banyak muncul isu yg menarik, sehingga isu KB kurang mendpt
perhatian.
11. Kompetisi antar media makin meningkat, sehingga mereka berpacu pada
peningkatan pada kualitas informasi.
13. Kegiatan pelayanan KB di lini lapangan.

Dalam menyelenggarakan setiap kegiatan advokasi dan KIE, hendaknya


memperhatikan kuadran Total Fertility Rate (TFR) dan Jumlah Anak Ideal UAI) yang
diinginkan. Bagi daerah yang TFR dan JAI-nya masih di atas rata-rata nasional, maka
fokus kegiatan advokasi dan KIE lebih diarahkan pada:
1. Peningkatan pemahaman dan penerimaan konsep kel uarga keci I berkual itas.
2. Peningkatan kesertaan PUS menjadi peserta KB.
Bagi daerah TFR-nya di bawah rata-rata nasional, tetapi JAI yang diinginkan di atas
rata-rata nasional, maka fokus kegiatan advokasi dan KIE lebih diarahkan pada:
1. Peningkatan pemahaman dan penerimaan konsep kel uarga keci I berkual itas.
2. Pemantapan kesertaan PUS ber-KB.

Bagi daerah yang TFR-nya di atas rata-rata nasional, tetapi JAI yang diinginkan di
bawah rata-rata nasional, maka fokus kegiatan advokasi dan KIE lebih diarahkan
pada:
1. Pemantapan pemahaman dan penerimaan konsep kel uarga keci I berkual itas.
2. Peningkatan kesertaan PUS menjadi peserta KB.
Bagi daerah yang TFR dan JAI yang diinginkan sudah berada di bawah rata-rata
nasional, maka fokus kegiatan advokasi dan KIE lebih diarahkan pada:
1. Pemantapan pemahaman daFl penerimaan konsep keluarga kecil berkualitas.
2. Pemantapan kesertaan PUS ber-KB.

ANALISIS SEDERHANA
DAN PLAN OF ACTION?

TFR

Aceh
Sumut
Sumbar
Riau
Kepri
Banten
NTT
NTB

Kaltim
Sulsel
Sultera
Sulbar
Maluku
Maluku Utara
Papua
Papua Barat

CPR DAN TFR


SDKI 2007
Jambi
Sumsel
Kalbar
Sulut
Sulteng

CPR rendah
TFR tinggi

CPR tinggi
TFR tinggi

2,6
Babel
Jateng
Lampung Jatim
Bengkulu
Jabar
Bali
Gorontalo

DKI Jakarta
DIY
CPR rendah
TFR rendah

57%

CPR = KONTR. MODERN

CPR tinggi
TFR rendah

CPR

MASALAH
CPR rendah
& TFR tinggi

UNMET
NEED & KB
tradisional
tinggi

KEMUNGKINAN
PENYEBAB MASALAH
Demand rendah
(Pengetahuan KB
terbatas);
Akses pelayanan
terbatas;
Takut efek samping;
Akses pelayanan
terbatas;

PRIORITAS ACTION PLAN


Create demand ADV &
KIE besar2an;
Perkuat SDP;
Dekatkan pelayanan
mobile;
KIE KIP/Konseling;
Perkuat SDP;
Dekatkan pelayanan
mobile;
Perhatikan daerah
galciltas;

MASALAH
CPR tinggi,
tapi TFR juga
tinggi

CPR rendah,
tapi TFR juga
rendah

KEMUNGKINAN
PENYEBAB MASALAH

PRIORITAS ACTION PLAN

Peserta KB kebanyakan Segmentasi sasaran


usia tua dengan paritas
arahkan peserta KB ke
tinggi;
PUS Mupar;
Banyak KB tradisional;
Konversi ke KB modern
Non-MKJP dgn angka
KIP/Konseling dan akses
kelangsungan rendah;
pelayanan;
Pembinaan PA/konversi
ke MKJP;
Ada faktor lain yang
Create demand;
berperan UKP tinggi, Perkuat jaringan
aborsi, post partum
pelayanan;
infecundability;

MASALAH

KEMUNGKINAN
PENYEBAB MASALAH

PPM-PB
tercapai, tapi
CPR tetap
rendah/tidak
naik;

Banyak peserta KB
ganti cara (konversi) yg
dilaporkan sebagai
Peserta KB Baru
jalan di tempat, poco2;

CPR naik,
tapi TFR juga
naik;

Peserta KB kebanyakan Segmentasi sasaran


usia tua dengan paritas
arahkan peserta KB ke
tinggi;
PUS Mupar;
Banyak KB tradisional;
Konversi ke KB modern
Non-MKJP dengan
KIP/Konseling dan akses
disiplin/kelangsungan
pelayanan;
Pembinaan PA/konversi
rendah;
ke MKJP;

PRIORITAS ACTION PLAN


Create demand;
Perkuat jaringan
pelayanan;
Disiplin pelaporan;

MASALAH

KEMUNGKINAN
PENYEBAB MASALAH

PRIORITAS ACTION PLAN

CPR turun,
tapi TFR
juga turun;

Ada faktor lain yang


berperan:
UKP meningkat;
Aborsi meningkat;
Post partum infecund.;

Create demand;
Perkuat jaringan
pelayanan;

CPR turun
dan TFR
naik;

Program KB mengendor!

Create demand;
Perkuat jaringan
pelayanan;

* UKP = Usia Kawin Pertama

MASALAH YANG PERLU DIATASI

Unmet Need tinggi;


KB tradisional tinggi;
Non-MKJP tinggi dengan angka kelangsungan
rendah;
PUS tua dengan paritas tinggi;
Banyak daerah miskin dengan CPR rendah;
Banyak daerah galciltas dengan CPR rendah;
Usia Kawin Pertama (UKP) rendah;
Dan lain-lain;

STRATEGY MAP INISIATIF STRATEGIS KEGIATAN PRIORITAS

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Meningkatnya prevalensi peserta KB aktif 1% per tahun.


Menurunnya unmet need menjadi 5%.
Meningkatnya peserta KB pria menjadi 4,5%.
Meningkatnya penggunaan alokon efektif dan efisien.
Meningkatnya akses remaja thdp informasi KRR.
Semakin aktifnya klpk KB/IMP dlm keg KB di lini lap.
Semakin tinggi partisipasi kel miskin dalam keg klpk UPPKS.
Menurunnya TFR menjadi 2,1 anak per ibu.
Menurunnya Laju LPP menjadi 1,1% per tahun.
Meningkatnya rata-rata UKP perempuan menjadi 21 thn.
Terkendalinya jumlah pddk menjadi 245 juta jiwa pd thn 2015.
Meningkatnya kel dlm keg BKB, BKR, BKL.

a. Target Khalayak :
Pembuat kebijakan publik di semua tingkatan mulai dari
pusat samapai dengan lini lapangan;
Pembuat opini baik oleh toma, toga, pakar, dsb;
LSOM, Org. Profesi, Swasta;
Provider;
Remaja, PUS, Keluarga.
b. Khalayak Sasaran:
Demografi (umur, jenis kelamin, tempat tinggal dll);
Psikografi (interest, opini, aktivitas);
Media habit (media dan format; frekuensi dan intensitas);
Product habit(produk dan jenis; frekuensi dan intensitas);
Strategi Pengembangan Pesan (Pesan inti, slogan, penetrasi);
Positioning (agar program diingat oleh masy luas).

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Menurunkan LPP menjadi 1,1% per tahun.


Menurunnya TFR menjadi 2,1 per wanita usia subur.
Menurunnya Unmet need menjadi 5%.
Meningkatnya peserta KB pria menjadi 4,5%.
Meningkatnya penggunaan metoda kontrasepsi efektif dan efisien.
Meningkatnya rata-rata UKP perempuan menjadi 21 tahun.
Meningkatnya partisipasi kel dlm pembinaan tumbuh kembang anak .
Meningkatnya jumlah Kel Pra S dan KS I yang berusaha dan ber KB .
Meningkatnya jumlah IMP dlm penyelenggaraan pel KB dan KR.
KOGNISI

AFEKSI

KONASI

a. Above the line media:


Televisi;
Radio;
Surat kabar, Majalah, Tabloid;
Situs Berita Kpddk dan KB (BKKBN on line:
www.bkkbn.go.id).
b. Below the line media:
Printed Materials (leaflet, booklet, lembar balik, fact sheet,
journal, folder, ucapan selamat dan terima kasih);
Electronic Materials (CD Rooms, Kasete Aodio, Kaset Video).
c. Through the line media:
Transit media di Halte, Stasiun atau terminal;
Mobile Media pada Bus Kota, Bus Antar Kota atau Angk Kota;
Neon sign, poster, billboard, spanduk, umbul-umbul;
Mobil Unit Penerangan.

MEKANISME IMPLEMENTASI ADVOKASI DAN KIE


PROGRAM KEPENDUDUKAN DAN KB
TINGKAT

PUSAT

PROVINSI

KAB/KOTA

RANAH
PRIORITAS

KOGNISI

AFEKSI

KONASI

MEDIA
PRIORITAS

MEDIA
PENDUKUNG

ABOVE
THE LINE

THROUGH THE
LINE, BELOW
THE LINE

THROUGH
THE LINE

BELOW
THE LINE

ABOVE THE
LINE, BELOW
THE LINE

ABOVE THE
LINE, THROUGH
THE LINE

SALURAN
KOMUNIKASI

MASSA

MASSA
KOMUNITAS
KELOMPOK

KOMUNITAS
KELOMPOK
INTER
PERSONAL
KONSELING

MATERI

KONSEP

TEKNIS

PRAKTIS

a. Above the line media:


Televisi: (frek x media)
Spot
Talk show
Berita
Radio: (frek x media)
Spot
Talk show
Berita
Surat kabar, Majalah, Tabloid: (frek x media)
Advetorial
PSA
Rubrik
Berita

b. Through the line media: (buah)

Bilboard

Poster

Spanduk

Umbul-umbul

Mobile Media

Transit Media
c. Below the line media: (frek x buah)

Leaflet

Folder

Fact sheet

Booklet

KIE Kit

d. Operasional Kemitraan: (frek x forum/mitra)


Tokoh Agama
Tokoh Masyarakat
Tenaga Kesehatan (Dokter & Bidan)
PKK
Kader
IMP
b. Behavior Change Communication: (frek x forum/gerak)
Pertemuan Kelompok
Komunikasi Interpersonal
Kunjungan Rumah
Konseling